Anda di halaman 1dari 4

Panduan

Panduan DPJP
(Dokter Penanggung Jawab Pasien)

Rumah Sakit Harapan Bunda


Jl. Raya Lintas Sumatera, Seputih Jaya, Gunung Sugih
Lampung Tengah I N D O N E S I A
Telp. (0725) 26766. Fax. (0725) 25091
http://www.rshb-lampung.co.id

Lampiran
Peraturan Direktur RS Harapan Bunda
Nomor
: 06/PER/DIR/VII/2012
Tanggal

: 11 Juli 2012

PENENTUAN PEMILIHAN DPJP


(DOKTER PENANGGUNG JAWAB PASIEN)

DEFINISI
DPJP adalah dokter yang bertugas mengelola asuhan medis pada pasien di RS Harapan Bunda. DPJP
utama adalah coordinator yang memimpin proses pengelolaan asuhan medis bagi pasien yang harus
dirawat oleh lebih dari 1 dokter. DPJP tambahan adalah dokter yang ikut memberikan asuhan medis pada
seorang pasien yang oleh karena kompleksitas penyakitnya.

TUJUAN
1. Menyediakan panduan untuk rumah sakit /

fasilitas kesehatan lainnya mengenai kebijakan

manajemen penetuan Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP)


2. Membeikan pelayanan kesehatan dengan kualitas tinggi
3. Melindungi pasien dari praktek yang tidak Professional

KEBIJAKAN
1. Staf Medik Fungsional harus menunjuk salah satu dokter untuk menjadi DPJP
2. Penentuan DPJP harus dilakukan sejak pasien masuk rumah sakit (baik rawat jalan, IGD maupun
rawat inap) dengan menggunakan stempel pada berkas rekam medis
3. DPJP wajib membuat rencana pelayanan
4. DPJP wajib memberikan penjelasan secara jelas dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang
rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan
terjadinya kejadian yang tidak diinginkan.

Prosedur
Menetukan DPJP untuk melakukan asuhan medis pada pasien yang disesuaikan dengan kondisi pasien
1. Hak dan Kewajiban DPJP
a. Mengelola asuhan medisi perawatan pasien secara mandiri yang mengacu pada standar pelayanan
medis rumah sakit secara komprehensif mulai dari diagnose, terapi, tindak lanjut sampai
rehabilitasi
b. Melakukan konsultasi dengan disiplin ilmu lain yang dianggap perlu untuk meminta pendapat
atau perawatan bersama.
c. Membuat rencana pelayanan pasien dalam berkas rekam medis yang membuat segala aspek
asuhan medis yang akan dilakukan, termasuk konsultasi, rehabilitasi, dan lain-lain
d. Memberikan pendidikan/edukasi kepada pasien tentang kewajibannya terhadap dokter dan rumah
sakit yang dicatat dalam berkas rekam medis
e. Member kesempatan kepada pasien/keluarga untuk bertanya hal yang belum dimengerti

f.

Menyeleksi dan mengefisienkan pengobatan yang akan diberikan

g. Menghentikan keterlibatan DPJP lain dalam perawatan bersama apabila perannya tidak
dibutuhkan lagi
2. Klarifikasi DPJP diruang rawat
Apabila dari IGD maupun rawat jalan DPJP belum ditentukan, maka petugas ruangan wajib segera
melakukan klarifikasi tentang siapa DPJP.
3. Pola Operasional DPJP
a. Setiap pasien yang berobat di RS Harapan Bunda harus memiliki DPJP
b. Apabila pasien berobat di unit rawat jalan maka DPJP adalah dokter klinik tersebut
c. Apabila pasien berobat di IGD dan tidak di rawat, maka DPJP adalah dokter jaga pada IGD
d. Apabila pasien dirawat inap maka DPJP adalah dokter spesialis disiplin yang sesuai
e. Apabila pasien dirawat bersama oleh lebih dari 1 orang dokter spesialis, maka harus ditunjuk
seorang sebagai DPJP utama dan yang lain sebagai DPJP tambahan
4. Rawat Bersama
a. Seorang DPJP hanya memberikan pelayanan sesuai bidang disiplin dan kompetensinya saja. Bila
ditemukan penyakit yang memerlukan penanganan multi disiplin, maka perlu dilakukan rawat
bersama
b. DPJP awal akan melakukan konsultasi kepada dokter pada disiplin lain sesuai kebutuhan
c. Segera ditentukan siapa menjadi DPJP utama dengan beberapa cara antara lain :
I. Penyakit yang terberat atau penyakit yang memerlukan tindakan segera atau dokter yang
pertama mengelola pasien
II. Dalam hal rawat bersama harus ada pertemuan antara DPJP yang mengelola pasien dan
keputusan rapat dicatat dalam berkas rekam medis
5. Perubahan DPJP Utama
Untuk mencapai efektifitas pelayanan, DPJP utama dapat saja beralih dengan pertimbangan seperti
diatas atau atas keinginan pasien / keluarga atau keputusan komite medis
Perubahan DPJP utama ini harus dicatat dalam berkas rekam medis dan ditentukan sejak kapan
berlakunya
6. DPJP pasien rawat ICU
Apabila pasien dirawat di ICU, maka otomatis DPJP

ICU yang menjadi DPJP utama yang

berwenang mengendalikan pengelolaan pasien dengan tetap terkoordinasi dengan DPJP awal pasien
atau DPJP utama
7. DPJP di ruang OK
Adalah dokter operator yang melakukan operasi dan bertanggung jawab atas seluruh kegiatan
pembedahan, sedangkan dokter anestesi sebagai DPJP tambahan. Dalam melaksanakan tugas
mengikuti SPO masing-masing, akan tetapi semua harus mengikuti Save Surgery Check List
8. Pengalihan DPJP di IGD
Pada pelayanan di IGD dalam memenuhi respons time yang cepat dan demi keselamatan pasien,
maka apabila konsulen jaga ridak dapat dihubungi dapat dilakukan pengalihan DPJP

9. Koordinasi dan Transfer Informasi antar DPJP


a. Koordinasi antar DPJP tentang rencana dan pengelolaan pasien harus dilaksanakan secara
komprehensif, terpadu dan efektif serta selalu berpedoman pada standar keselamatan pasien
b. Koordinasi dan transfer dilaksanakan tertulis
c. Apabila secara tertulis dirasa belum optimal, maka harus dilakukan koordinasi langsung dengan
komunikasi pribadi
d. Koordinasi dan transfer informasi antar DPJP dalam Departemen / SMF yang sama dapat ditulis
dalam bahasa rekam medis.
e. Dalam keadaan tertentu seperti konsul diatas meja operasi, lembar konsul bisa menyusul.
f.

Konsultasi dari dokter jaga IGD kepada konsulen jaga bisa lisan pertelponan yang kemudian
ditulis dalam berkas rekam medis oleh dokter jaga.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2006, Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran. Konsil Kedokteran Indonesia. Jakarta Selatan
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 3495)
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4431)