Anda di halaman 1dari 12

TUGAS

FILSAFAT ILMU

A PRIORI KNOWLEDGE

Oleh:

Kelompok 2
PUTU DIAH SAVITRI
(1391662016/ 11)
NI PUTU NONIK HARIASIH
(1391662017/ 12)

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2014
0

A PRIORI KNOWLEDGE
1.

Pengetahuan, Penalaran dan Pengalaman


Pengetahuan yang hanya bisa dijustifikasi dengan pengalaman disebut a posteriori
atau pengetahuan empirisme. Pengetahuan yang dimana pengalaman tidak bisa dijustifikasi
disebut a priori knowledge (pengetahuan apriori). Beberapa filsuf yang mengatakan
pengetahuan tidak memerlukan pengalaman, antara lain: (a) contoh perhitungan
matematika yang sederhana seperti 2 + 2 = 4 adalah benar dan contoh yang lebih rumit
seperti teori Pythagoras yaitu jumlah dari dua sisi yang lebih pendek sama dengan besarnya
sisi yang lebih panjang; (b) kebenaran dari suatu definisi, contohnya bujangan adalah lakilaki yang belum menikah; (c) metafisik menyebutkan bahwa tidak ada seluruhnya yang
berwarna merah dan hijau, semua hal pasti ada penyebabnya dan Tuhan itu ada; dan (d)
kebenaran dari etika moral contohnya pembunuhan itu salah.
Ada perasaan dimana pengalaman berkaitan dengan semua keyakinan. Untuk
mengetahui bahwa bujangan adalah laki-laki yang belum menikah, saya perlu tahu arti dari
kata bujangan, belum menikah dan laki-laki, untuk dapat memahami arti dari kata tersebut
dapat diperoleh melalui pelajaran dan instruksi serta praktek-praktek yang melibatkan
beberapa jenis pengalaman. Pengalaman tidak berperan dalam a priori knowledge, hal itu
berkaitan dengan pemahaman bahasa mengenai pengucapan arti dari kata tersebut. Apakah
pengalaman diharuskan untuk terjustifikasi dalam mempercayai arti kata bujangan dan
laki-laki yang belum menikah tersebut adalah satu tipe orang yang sama, dan menerima
bahwa kita harus memiliki pengalaman untuk dapat memahami konsep dari arti kata
tersebut. Jawabannya adalah tidak, kita tidak perlu meminta teman kita yang masih
bujangan untuk menjelaskan bahwa apakah dia sudah menikah, kita terjustifikasi dalam
mempercayai bahwa mereka belum menikah.

2.

Rasionalisme dan Empirisme


Orang-orang yang rasionalis lebih menekankan pada pentingnya a priori knowledge
(Pengetahuan apriori) dan hal tersebut akan berguna untuk memperkenalkan kunci
rasionalis dari seorang pemikir dan melihat peran apriori dalam epistemologinya. Descartes
adalah seseorang epistemologi yang paling berpengaruh terhadap Filsafat Barat. Dia yang

pertama kali menimbulkan keraguan skeptis menyatakan bahwa kita tidak mungkin
memiliki pengetahuan tentang dunia sama sekali. Kemudian dia menggunakan seluruh
pemikiran apriori dengan mencoba untuk membuktikan bahwa Tuhan itu juga ada. Tuhan
adalah sesuatu hal yang baik, hal itu merupakan sesuatu yang kita bisa tahu dari apriori,
secara epistemis Tuhan tidak akan membiarkan kita untuk menjadi makhluk yang miskin
dan dengan demikian kita memiliki keyakinan dibenarkan tertentu tentang dunia empiris.
Dalam a priori knowledge, memperoleh suatu pembenaran mengenai keyakinan empiris.
Empiris menerima bahwa beberapa kebenaran dapat diketahui apriori, tetapi seperti
kebenaran tidak menarik, informatif, atau tautologousPara empiris untuk mengetahui
bahwa bujangan adalah laki-laki yang belum menikah, kita tidak hanya belajar sesuatu
tentang arti dari kata-kata bujangan memiliki arti yang sama sebagai laki-laki yang belum
menikah. Pengetahuan ini disebut apriori karena dapat diperoleh kebenaran hanya dengan
memahami konsep-konsep yang relevan, anda tidak perlu mengalami semua kejadian yang
ada didunia. Para empiris menyatakan bahwa semua kebenaran apriori disebut analitik
(menurut Immanuel Kant). Kebenaran yang analitik berbeda dengan kebenaran yang
sintetik. Kebenaran yang sintetik tidak hanya tergantung pada apa yang kita maksud, tetapi
juga kita juga harus memahami bagaimana hal itu bisa terjadi. Jenis koala pemakan daun
eucalyptus bukanlah bagian dari jenis Koala. Namun hal ini suatu kebenaran dikarenakan
kami menemukan apa yang dilakukan oleh koala tersebut. Hal itu merupakan kebenaran
yang sintetik. Kami seharusnya tidak menyamakan perbedaan antara empiris dan apriori
dengan analitik dan sintetik. Perbedaan epistemologis yang pertama adalah hal itu berfokus
pada sumber untuk membenarkan keyakinan kita. Perbedaan yang terakhir adalah hal itu
berfokus pada suatu kebenaran yang memiliki arti dari konsep yang relevan. Meskipun
perbedaan dari suatu pembenaran dan arti adalah dua hal yang berbeda aspek dari segi
bahasa dan pemikiran, para empiris menyatakan bahwa mereka membagi pengetahuan
mereka dengan cara yang sama dan semua hanya pengetahuan empiris kita adalah sintetik.
3.

Sintetis Apriori
Saya tahu bahwa 'jika ada sesuatu yang seluruhnya merah, maka tidak bisa menjadi
seluruhnya hijau', dan untuk mengetahui hal ini saya tidak harus mengamati benda berbagai
warna, atau mencoba untuk melukis hal-hal yang berwarna merah dan hijau. Saya bisa tahu

bahwa pernyataan ini benar hanya dengan berfikir tentang hal itu. Hal ini merupakan
kebenaran apriori. Dengan demikian klaim kita mempertimbangkan menjadi sebuah
kebenaran sintetik apriori. Kebenaran matematika tidak analitik: itu bukan bagian dari
makna 12 yang sama dengan 7+5. Jika demikian, maka 12 juga berarti 6+6, dan dan jumlah
tak terbatas dari kombinasi seperti yang lainnya. Ini tidak masuk akal bahwa kita harus
memahami seperti satu set kebenaran matematika untuk memahami '12'. Meskipun sifat
apriori matematika bisa ditantang. John Stuart Mill berpendapat bahwa itu adalah disiplin
empiris dan karena itu dia senang menerima bahwa hal itu memberikan kita kebenaran
sintetik (Mill, 1884). Hal ini karena matematika adalah apriori.
Sintetik-apriori menarik dan kontroversial karena melalui penalaran saja kita bisa
mengetahui kebenaran tentang sifat matematika, moralitas, dan dunia. Para rasionalis
menyatakan bahwa kita tidak hanya memiliki pemahaman apriori ketika itu benar untuk
menerapkan konsep-konsep kita, tetapi juga pikiran itu sendiri dapat memberikan kita
wawasan tentang sifat dari dunia. Wawasan ke dalam sifat penting dari hal-hal atau situasi
dari jenis yang relevan, dalam cara bahwa realitas dalam hal tersebut harus (Bonjour,
2005). Argumen rasionalis menggunakan penalaran deduktif untuk menarik kesimpulan
tentang dunia dapat diketahui secara benar berdasarkan pengalaman. Kesimpulannya hal ini
dengan sendirinya merupakan apriori. Melalui intuisi dan penalaran rasionalis memperoleh
pengetahuan, antara lain, metafisika, moralitas dan Tuhan.
Para empirisis menawarkan salah satu dari dua interpretasi alternatif item dugaan
pengetahuan apriori. Mereka juga mengklaim bahwa pengetahuan tersebut tidak apriori,
dan karena itu harus dibenarkan oleh pengalaman, atau bahwa pengetahuan apriori kita
peroleh hanya menyangkut arti dari konsep kita, sesuatu yang masuk akal berdasarkan dari
pengalaman
4.

Bukti Diri dan Kepastian


Dalam bagian ini kita akan mengeksplorasi dua bagian yang secara tradisional telah
diambil sebagai karakteristik a priori knowledge (pengetahuan apriori), karakteristik yang
membedakan pengetahuan tersebut dari yang bersifat empiris. Pertama, a priori knowledge
adalah bukti diri (self-evident), ada aspek pengalaman dan kepercayaan untuk ini. Ada
perasaan tertentu atau fenomenologi terkait dengan penangkapan kebenaran tersebut, ada

suatu kejelasan maupun kebenaran akan hal tersebut. Filsuf telah mencoba untuk
menangkap aspek kami berpikir apriori menggunakan metafora visual. Kebenaran tersebut
memiliki kejelasan dan kecerahan bagi pikiran penuh perhatian (Locke) atau mereka
merasa jelas dan tegas melalui alasan alami (Descartes). Pengertian epistemologis diklaim
harus jelas bahwa kita dibenarkan untuk dmeyakini mereka hanya dalam kebaikan
memahami klaim tersebut. Apabila kita memahami klaim tidak ada yang merah diseluruh
dan hijau, maka itu adalah semua yang diperlukan bagi kita untuk dibenarkan dalam
memiliki keyakinan seperti itu. Kebenaran empiris tertentu mungkin terlihat jelas
-misalnya, bahwa Birmingham adalah utara London- tapi lebih dari pemahaman tentang
pernyataan ini diperlukan untuk percaya. Selain itu juga harus memiliki beberapa bukti
empiris untuk mendukung klaim ini. Namun, ada beberapa dari kebenaran apriori yang
tidak memerlukan bukti yang jelas, sebagai contoh mari kita berpikir tentang teorema
Pythagoras. Saya tidak memiliki rasa bahwa ini adalah jelas benar. Ini bisa diklaim. Bagian
kedua, sebagai karakteristik a priori knowledge adalah kepastian (certainty): kita tidak
hanya percaya bahwa klaim apriori benar. Saya percaya cangkir saya berwarna kuning atau
2+2=4 dan semuanya itu benar. Namun ada masalah dalam membedakan klaim apriori
dengan cara ini, jika kita salah dalam penalaran apriori akan membuat klaim empiris kita
tentang dunia bisa keliru.
5.

Innate Knowledge (Pengetahuan yang dibawa sejak lahir)


Para rasionalis mengklaim bahwa beberapa dari pengetahuan kita adalah bawaan
lahir, yaitu bahwa hal tersebut tidak didapat melalui pengalaman dan hal tersebut dimiliki
sejak lahir. Plato beragumen bahwa kita memiliki innate knowlegde (pengetahuan yang
dibawa sejak lahir) mengenai kebajikan dan keadilan, dan Descartes mengklaim bahwa kita
memiliki innate knowledge mengenai Tuhan. Namun, para empiris berargumen bahwa
semua pengetahuan kita mengenai dunia seharusnya didapat melalui pengalaman dan
sebelum mengalaminya pikiran kita ada sebuah kertas kosong.
John Locke menawarkan sebuah argumen untuk penyelesaian ini, jika kita memiliki
innate knowledge, dan fakta yang relevan bisa diketahui oleh semua orang, ini jelas bahwa
hal tersebut bukan innate knowledge. Banyak anak kecil, orang idiot, anak liar, dan orang

dewasa yang buta huruf yang tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai kebaikan,
Tuhan atau berbagai kebenaran apriori lainnya bisa dikatakan innate (bawaan).
Para rasionalis bisa menerima bahwa beberapa orang tidak bisa mengerti secara
eksplisit suatu kebenaran, namun mereka terlihat secara tidak sadar memiliki pengetahuan
tersebut. Film LEnfant Sauvage berdasarkan kasus aktual dari seorang anak yang
dibesarkan oleh serigala. Satu bagian dari film yang memberi kesan bahwa dia memiliki
innate moral knowledge walaupun tidak di tampilkan secara eksplisit. Dia kadang-kadang
dihukum di dalam lemari. Dalam suatu kesempatan hal tersebut dilakukan pada bocah
tersebut, walaupun dia tidak melakukan kesalahan, dan ketika hal tersebut terjadi dia
berontak lebih keras daripada biasanya. Hal ini memberikan kesan bahwa anak tersebut
tahu diperlakukan tidak adil, sesuatu yang tidak dia pelajari dari alam. Innate knowledge
dimiliki dari lahir dan pendidikan yang tepat memungkinkan kita untuk menjadi sadar
memiliki pengetahuan tersebut.
Noam Chomsky (1972) meneruskan sebuah hipotesis empiris yang menekankan
pada jenis penting lainnya dari kapasitas innate (bawaan lahir). Dia mencatat bahwa anak
kecil belajar bahasa asli mereka dalam waktu yang relatif singkat mengingat kompleksitas
yang harus mereka pelajari dan terbatasnya pelajaran yang mereka dapatkan. Dia
berargumen bahwa anak kecil hanya bisa melakukan hal tersebut karena mereka sudah
mengetahui fitur tertentu dari struktural bahasa. Di sini, kita tidak boleh melupakan
perhatian utama kita yaitu pertanyaan mengenai apakah kita bisa memiliki pengetahuan
nyata

yang terjustifikasi secara independen dari pengalaman kita. Anak kecil tidak

memiliki kapasitas untuk mengekspresikan hal tersebut, dan walaupun sebagai orang
dewasa, kita tidak mampu untuk mengartikulasikan aturan dari tata bahasa universal atau
aturan dari bahasa kita sendiri (kecuali kita adalah ahli bahasa dan mempelajari hal
tersebut). Chomsky mengklaim tidak menekankan pada pengetahuan nyata. Kita bisa
berfikir mengenai perbedaan antara knowledge how dan knowledge that. Kita mungkin
memiliki kapasitas atau kemampuan bawaan lahir (tahu bagaimana) untuk berbicara dan
mengerti bahasa, tetapi kita mungkin tidak memiliki innate knowledge mengenai fakta
tertentu. Sama halnya dengan kita mungkin memiliki kemampuan innate untuk objek
individual dan untuk melihat beberapa hal seperti dibelakang atau didepan yang lainnya,
tapi saya tidak memiliki innate knowledge bahwa cangkir kopi saya di depan komputer

saya. Alam bukan memberikan kita pengetahuan, tetapi benih dari pengetahuan. (Seneca,
1925,cxx).
Hal ini penting untuk di catat bahwa masalah bawaan lahir berbeda dari apriori.
Innate tidak menekankan justifikasi, itu hanya gagasan sementara mengenai apakah
konsep-konsep, keyakinan atau kapasitas tertentu dimiliki sejak lahir. Kategori apriori
memilih kebenaran bahwa kita dibenarkan untuk meyakini tanpa memperhatikan
pengalaman kita.

DAFTAR PUSTAKA
OBrien, Dan. 2006. An Introduction to The Theory of Knowledge. Cambridge, UK: Polity Press

1. Di sekolah saya belajar tentang teorema pythagoras dengan memotong segitiga dan kartu

kotak keluar dari dalam rangka untuk mengukur wilayahnya.Teorema ini adalah sebuah
sebuah posteriori kebenaran, satu hal yang saya tahu pengalaman itu?
Jawaban:
Pengetahuan yang dijustifikasi dengan pengalaman disebut aposteriori atau empirical
knowledge. Pengetahuan yang dimana pengalaman tidak digunakan untuk justifikasi
disebut pengetahuan apriori. Didalam soal diatas, si subyek belajar tentang teorema
phytagoras dengan memotong segitiga dan kartu kotak dari dalam rangka untuk
mengukur wilayahnya. Hal ini termasuk kedalam aposteriori knowledge, karena si
subyek didalam soal melakukan penelitian atau mencari tahu tentang phytagoras,
sehingga pengetahuannya tentang phytagoras dijustifikasi dengan pengalamanya yaitu
dengan menyusun potongan segitiga dari kartu dan mengukur luasnya.
2. Melalui bukti yang panjang dan rumit dapat dipastikan bahwa ada jumlah tak terbatas

bilangan prima (bilangan bulat yang hanya dibagi oleh satu dan diri mereka sendiri).
Apakah ini jelas? Ini adalah sesuatu yang kita dapat mengetahui apriori? Apakah kita
yakin bahwa hal ini benar?
Jawaban:
Bilangan prima adalah bilangan asli yang lebih besar dari angka 1, yang faktor
pembaginya adalah 1 dan bilangan itu sendiri. Misal 2 dan 3 adalah bilangan prima . 4
bukan bilangan prima karena dapat dibagi 2. Sepuluh bilangan prima yang pertama
adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23 dan 29. Untuk mendapatkan kebenaran tentang hal ini
tentu saja kita memerlukan bukti yang panjang dan rumit untuk memastikan bahwa
bilangan prima adalah bilangan asli yang lebih besar dari angka 1, yang factor
pembaginya adaah 1 dan bilangan itu sendiri dengan kata lain diperlukan empirical
knowledge untuk membuktikannya. Sehingga pengetahuan tentang bilangan prima dapat
dikatakan sebagai apriori knowledge. Untuk meyakinkan bahwa hal ini benar tentu saja
perlu pengalaman atau empirical knowledge tentang bilangan prima. Apabila kita tidak
memiliki empirical knowledge tentang bilangan prima, kita tidak dapat menjustifikasi
bahwa bilangan 2 atau 3 atau 4 adalah bilangan prima.

3. Didalam sebuah episode sitcom Friends (1994-2004), disana diceritakan tentang


pertarungan antara Ross dan Chandler untuk mengetahui siapa yang terkuat. Ross
mengklaim dengan mengatakan Aku akan memperbaiki ini- aku akan memperbaiki ini
seperti teori Apakah kesalahan epistemilogi disini?
Jawaban:
Rasa epistemologi ada dimana klaim itu jelas adalah bahwa kita dibenarkan untuk
meyakini mereka ketika sudah terbukti jelas. Selain itu juga harus memiliki beberapa
bukti empiris untuk mendukung klaim ini. Didalam soal diatas si Ross mengklaim bahwa
ia akan melakukan perbaikan. Namun atas klaim tersebut si Ross belum ada bukti yang
jelas atau empiris bahwa ia melakukan perbaikan. Disinilah letak kesalahan
epistemologinya.
4. Dapatkah apriori dengan penalaran sendiri memberikan kami pengetahuan substantif

apapun tentang dunia?


Jawaban:
Pengetahuan apriori diperoleh melalui intuisi dan penalaran. Pembenaran yang dimiliki
oleh pengetahuan tersebut tidak tergantung pada pengalaman dunia. Pada bagian terakhir
ini kita akan beralih ke klaim rasionalis bahwa beberapa pengetahuan kita merupakan
bawaan, yaitu tidak diperoleh melalui pengalaman dan hal tersebut dimiliki sejak lahir.
Banyak pemikir mengklaim bahwa kita memiliki pengetahuan seperti: Plato berpendapat
bahwa kita memiliki pengetahuan bawaan kebajikan dan keadilan, dan Descartes
mengklaim bahwa kita memiliki pengetahuan bawaan tentang Tuhan. Empiris,
bagaimanapun, berpendapat bahwa semua pengetahuan kita tentang dunia harus
diperoleh melalui pengalaman dan sebelum kita memperoleh pengalaman, pikiran kita
adalah 'halaman kosong'. Sebuah strategi rasionalis yang berbeda adalah untuk
mengklaim bahwa para pemikir memiliki disposisi bawaan untuk memperoleh beberapa
jenis pengetahuan.
Namun, klaim seperti itu perlu diuji oleh kaum empiris. Mereka semua berkomitmen
untuk mengklaim bahwa kita tidak memiliki pengetahuan bawaan saat lahir. Hal ini
konsisten dengan klaim bahwa bayi memiliki kecenderungan untuk memperoleh
beberapa jenis pengetahuan saat mereka tumbuh dewasa. Keyakinan persepsi juga dapat
dianggap karena kita memiliki kapasitas bawaan untuk mendapatkan mereka: kita
dilahirkan dengan alat sensorik dan secara genetik diberikan untuk mengembangkan
9

mekanisme persepsi dan keyakinan pembentukan tertentu. Ada juga beberapa bukti yang
menunjukkan bahwa kita memiliki kemampuan perseptual bawaan untuk objek individual
dan untuk memahami kedalaman relatif mereka dalam bidang visual kita.
5. Jelaskan bagaimana analogi berikut relevan dengan masalah bawaan pengetahuan.

Jika jiwa seperti tablet kosong kemudian kebenaran akan dalam kita sebagai bentuk
Hercules dalam sepotong marmer ketika marmer sepenuhnya netral untuk Apakah ini
mengasumsikan bentuk ini atau lainnya. Namun, jika ada vena di blok yang ditandai
keluar bentuk Hercules daripada bentuk lain, kemudian bahwa blok akan lebih bertekad
untuk yang membentuk dan Hercules akan bawaan di dalamnya, dengan cara, bahkan
melalui tenaga kerja akan diperlukan untuk mengekspos pembuluh darah dan memoles
mereka ke dalam kejelasan, menghapus segala sesuatu yang mencegah mereka terlihat.
(Leibniz, 1981,p.52). Apa jenis marmer terbaik mewakili manusia pemikir?
Jawaban :
Para rasionalis mengklaim bahwa beberapa dari pengetahuan kita adalah bawaan lahir,
yaitu bahwa hal tersebut tidak didapat melalui pengalaman dan hal tersebut dimiliki sejak
lahir. Plato beragumen bahwa kita memiliki innate knowlegde (pengetahuan yang dibawa
sejak lahir) mengenai kebajikan dan keadilan, dan Descartes mengklaim bahwa kita
memiliki innate knowledge mengenai Tuhan. Namun, para empiris berargumen bahwa
semua pengetahuan kita mengenai dunia seharusnya didapat melalui pengalaman dan
sebelum mengalaminya pikiran kita ada sebuah kertas kosong.John Locke menawarkan
sebuah argumen untuk penyelesaian ini, jika kita memiliki innate knowledge, dan fakta
yang relevan bisa diketahui oleh semua orang, ini jelas bahwa hal tersebut bukan innate
knowledge. Banyak anak kecil, orang idiot, anak liar, dan orang dewasa yang buta huruf
yang tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai kebaikan, Tuhan atau berbagai
kebenaran apriori lainnya bisa dikatakan innate (bawaan). Innate tidak menekankan
justifikasi, itu hanya gagasan sementara mengenai apakah konsep-konsep, keyakinan atau
kapasitas tertentu dimiliki sejak lahir. Kategori apriori memilih kebenaran bahwa kita
dibenarkan untuk meyakini tanpa memperhatikan pengalaman kita. Dalam soal diatas
bahwa manusia memiliki pengetahuan bawaan sejak lahir, namun diperlukan
pengetahuan tambahan atau pengetahuan empiris untuk menjustifikasi atau meyakini
kebenaran sesuatu hal.

10

11