Anda di halaman 1dari 144

STATUS DAN RENCANA PENGEMBANGAN GEOPARK

INDONESIA
SEGI KONSERVASI WARISAN GEOLOGI
oleh:

Oman Abdurahman
Ketua Tim Geopark Jawa Barat 2013/ Kepala Bagian Rencana dan Laporan/
Pemimpin Redaksi GEOMAGZ, Majalah Geologi Populer Badan Geologi

FGD Pariwisata - Geopark Forum FGD ITB81

Menarah MTH, Jl. Letjen MT Harjono Kav 23, Tebet, Jakarta


04 November 2014
11/18/2014

Badan Geologi
1
KESDM

DAFTAR ISI
I.
II.
III.
IV.
V.

11/18/2014

MELIHAT KELUAR MENATAP KE DALAM


STATUS GEOPARK INDONESIA DAN PROFIL SINGKAT
STUDI KASUS PENGEMBANGAN GEOPARK DI JAWA BARAT
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN PENGEMBANGAN GEOPARK
RENCANA PENGEMBANGAN GEOPARK INDONESIA
(PANDANGAN SEGI WARISAN GEOLOGI)
LAMPIRAN: GEOPARK DALAM FOTO

1. MELIHAT KE LUAR MENATAP KE DALAM

11/18/2014

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

PULAU JEJU, KOREA SELATAN (3)

Pemegang Lima Mahkota Pengelolaan Lingkungan yang Menguntungkan

HAENYEO dulu, diabadikan di Museum HAENYEO:

Its
better to
be born
as cattle
than
as a
woman
11/18/2014

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

PULAU JEJU, KOREA SELATAN (1)

Pemegang Lima Mahkota Pengelolaan Lingkungan yang Menguntungkan

SAMDADO

: terdapat Bebatuan, Angin dan Perempuan


yang Berlimpah
SAMMOODO: tidak ada pencuri, tidak ada pemulung dan
tidak ada pintu gerbang depan.

Seongsan Ilchulbong, Geopark Jeju


(Courtesy: Oki Oktariadi, 2013)

Pulau Jeju:
Ibu kota : Jeju-si
Status
: Provinsi dgn otonomi khusus
Luas total : 1.825 km2 (1/19 luas Jawa Barat)
Penduduk: 560.000 jiwa

11/18/2014

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

PULAU JEJU, KOREA SELATAN (2)

Pemegang Lima Mahkota Pengelolaan Lingkungan yang Menguntungkan

Seongsan Ilchulbong, Geopark Jeju


(Courtesy: Oki Oktariadi, 2013)

Halasan Mount, Geopark Jeju


(Courtsey: Oki Oktariadi, 2013)

WCC International Union for Conservation of Nature (2012)


New 7 wonders of Nature (2011)
UNSECO Global Geopark Network (2010)
UNESCO Natural Heritage Site (2007)
UNESCO Biosphere Reserve (2002)

11/18/2014

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

PULAU JEJU, KOREA SELATAN (3)

Pemegang Lima Mahkota Pengelolaan Lingkungan yang Menguntungkan

HAENYEO dulu, bagian dari yukgoyeok ("enam jenis pekerja keras):

Its better to be born as cattle than as a woman


Lebih baik lahir sebagai anak sapi dari pada sebagai perempuan
11/18/2014

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

PULAU JEJU, KOREA SELATAN (5)

Pemegang Lima Mahkota Pengelolaan Lingkungan yang Menguntungkan

PEREMPUAN JEJU, menjadi HAENYEO (sekarang):


Pendapatan
terbesar masyarakat
Jeju berasal dari
sektor pariwisata :
7 juta wisman pada
2011 (Jabar dengan
luas 19 kali Jeju
mendapat wisaman
700.000 orang pada
tahun yang sama)
Mereka masih menyelam, ringan, sebagai
atraksi wisata yang dibayar mahal
11/18/2014

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

PULAU JEJU, KOREA SELATAN (6)

Pemegang Lima Mahkota Pengelolaan Lingkungan yang Menguntungkan

Seongsan Ilchulbong, Geopark Jeju

11/18/2014

Praktek geowisata
geotrek di
Seongsan
Ilchubong, Geopark
Jeju, selalu ada:
Daya tarik
atraksi alam
Fasilitas untuk
geowisata
Pendidikan
(interpretator,
papan
penjelasan, dll)
9

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

PULAU JEJU, KOREA SELATAN (7)

Pemegang Lima Mahkota Pengelolaan Lingkungan yang Menguntungkan

Jungmun, Geopark Jeju

Para pengunjung berjubel, tapi tak


khawatir karena fasilitasnya kokoh
11/18/2014

10

11
33
41
53
138
140
142

GEOPARK NASIONAL
GEOPARK NASIONAL
GEOPARK NASIONAL
GEOPARK NASIONAL
GEOPARK NASIONAL
GEOPARK NASIONAL
GEOPARK NASIONAL

TAHUN
TAHUN
TAHUN
TAHUN
TAHUN
TAHUN
TAHUN

2000
2001
2004
2005
2011
2013
2014

TOTAL ADA 142 GEOPARK NASIONAL, 31 DIANTARANYA


TERMASUK DALAM JARINGAN GEOPARK DUNIA (GGN)
UNESCO
11/18/2014

11

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

INDONESIA?
Untaian Zamrud di Khatulistiwa? Sudahkah tercermin
dalam geopark? Masihkah sepotong surga di ekuator?
Di beberapa tempat: Leuweung ruksak, Cai beak, Hirup
balangsak (Hutan rusak, Air habis, Hidup sengsara)
Di banyak tempat: Lahan dan sumber daya lainnya rusak
karena pertambangan yang tak terkendali. Contoh di
Jabar: Kerugian akibat penambangan pasir besi (di pantai
selatan
Jabar)
mencapai
8
Trilyun,
(http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-barat-nasional/13/07/09/mpnzv1-

Sementara
itu,
pemasukan Pemerintah dari pertambangan tersebuta
kurang dari 1 milyar. Kalimantan? Sumatera?
kerugian-akibat-kerusakan-pasir-besi-capai-rp-8-triliun).

11/18/2014

12

JANGAN SAMPAI JADI:

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

FOTO: MH. SOEDJONO/ LEX/ 2002

NEGERI BENCANA
SUPARDIYONO/ DPKLTS/BPLHD/ 2002

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

Geopark
merupakan
salah
satu
bentuk
pembangunan berkelanjutan yang menerapkan
paradigma baru dalam pembangunan SDA, yaitu
menjadikan SDA sebagai sumber pertumbuhan.
Secara manajemen, konsep geopark merupakan
pengembangan kawasan secara berkelanjutan yang
memadu-serasikan
tiga
keragaman,
yaitu:
keragaman geologi (geodiversity), keragaman hayati
(biodiversity), dan variasi atau keragaman budaya
(cultural diversity).

11/18/2014

14

TIGA PILAR

PENGEMBANGAN GEOPARK

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

11/18/2014

15

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

Dasar Hukum di Indonesia (1)


Undang- undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Undang- undang Nomor 10 Tahun 2007 tentang Kepariwisataan
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan
Undang- undang Nomor 26 Tahun 2008 tentang Penataan Ruang
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan
Jenis Flora dan Fauna
Peraturan pemerintah Nomor 18 Tahun 1994 tentang
Pengusahaan Pariwisata Alam di Zona Pemanfaatan Taman
Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam
Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan
Suaka Alam dan Pelestarian Alam
11/18/2014

16

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

Dasar Hukum di Indonesia (2)


Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN)
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 2 Tahun 2002
tentang Perlindungan Lingkungan Geologi
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 446/Kpts-II/1996 tentang
Tata Cara Permohonan, Pemberian dan Pencabutan Izin
Pengusaha Pariwisata Alam
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 390/Kpt II/2003 tentang
Tata Cara Kerjasama di Bidang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya
Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2004 tentang
Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Suaka Alam & Cagar Alam
11/18/2014

17

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

PERAN BADAN GEOLOGI


UUD 45

Kebijakan
Nasional
Mandat Undang Undang:
Panas Bumi,
Migas, Pertambangan
Mineral dan Batubara, Energi,
Sumber Daya Air,

Penataan Ruang,
Kebencanaan,
Pengelolaan Lingkungan

SUMBER DAYA
GEOLOGI

Informasi sektor ESDM

BENCANA
GEOLOGI

SAINS
GEOLOGI
LINGKUNGAN
GEOLOGI

Tantangan dan isu strategis


Nasional dan Global

Neraca Sumber Daya


Mineral

Mitigasi Bencana
Geologi
Informasi geologi
untuk sektor PU,

Penataan Ruang,
LH dan Kebencanaan,
Kesehatan, Pertanian
dan Pariwisata

1. Melihat Keluar Menatap ke Dalam

PENTAHAPAN PEMANFAATAN POTENSI FENOMENA GEOLOGI


BAGI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

POTENSI
UMUM

SUMBER DAYA FENOMENA


GEOLOGI

K
a

Inventarisasi & Identifikasi Awal

B
G

GEODIVERSITY

POTENSI
SPESIFIK

E
S

Identifikasi Terperinci &


Karakterisasi

GEOHERITAGE
Seleksi berdasarkan kriteria
Pembangunan

Pemanfaatan dalam
PEMANFAATAN pembangunan berkelanjutan
11/18/2014

(Yunus Kusumahbrata, 2013)

M
E
S
D
M

MULTI STAKEHOLDER
PEMDA, PAREKRAF, LH, PU,
KESDM DLL.
19

2. STATUS GEOPARK INDONESIA DAN


PROFIL SINGKAT
11/18/2014

20

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

MENGAPA INDONESIA PERLU GEOPARK? (1)


Negara wajib melindungi segenap tumpah darahnya
(Pembukaan UUD 45), termasuk perlindungan dari
kerusakan sumber daya, sedemikian sehingga tidak lagi
memberikan kesejahteraan bagi warganya;
Pengembangan geopark akan sangat mendukung visi
dibentukna negara kesatuan NKRI sebagaimana dalam
Pembukaan UUD 45
Menerapkan berbagai peraturan perundang-undangan
tentang perlindungan lingkungan atau konservasi yang
teritegrasi dengan pendidikan dan pemberdayaan
ekonomi setempat
11/18/2014

21

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

MENGAPA INDONESIA PERLU GEOPARK? (2)


Indonesia baru sedikit memiliki destinasi wisata
internasional. Diantara yang sedikir: Bali, Rajaampat,
Pulau Komodo, dll;
Diantara yang sedikit kelas dunia pun, kunjungan
wisatawan mancanegara masih sedikit lihat data BPS
Mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan
keragaman geologi yang tinggi, demikian pula
keragaman hayati dan budaya; yang melakukan
konservasi untuk semua keragaman tsb.
Dapat menjadi model penerapan paradigma baru
penggunaan sumber daya alam dan lingkungannya yang
menjadikan sumber daya untuk pertumbuhan.
11/18/2014
22

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

Fakta Posisi Geopark Indonesia di Tataran Global


Indonesia hanya memiliki satu buah geopark anggota
GGN Global Geopark Network) UNESCO, yaitu: Geopark
Batur (Batur Global Geopark) di Bali. Sedangkan di
tingkat global ada 111 geopark GGN (31 diantaranya
berada/milik China); dan di Asia Tenggara terdapat 3
geopark GGN, termasuk Geopark Global Batur;
Selian Batur, Indonesia memiliki 4 geopark nasional: 1)
Merangin, Jambi; 2) Gunungsewu, DIY-Jateng-Jatim; 3)
Rinjani, Lombok, NTB; dan 4) Kaldera Toba, Sumut
Geopark Nasional Indonesia perlu menjadi anggota dari
GGN karena sejumlah pertimbangan dan keuntungan
11/18/2014

23

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

Peta Indeks Geopark Indonesia status s.d 2014:


1. Geopark Global Batur, Bangli, Bali
2. Geopark Nasional Merangin, Jambi
3. Geopark Nasional Gunungsewu, DIY-Jawa Tengah- Jawa Timur
4. Geopark Nasional Rinjani, Lombok, Nusatenggara Barat
5. Geopark Nasional Kaldera Toba, Sumatera Utara

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

Profil Singkat Geopark Indonesia (1)


Geopark

1. Batur
(2012)

Lokasi (admin)

Kec. Kintamani,
Kab. Bali.

Keterangan

11/18/2014

Global geopark, 2012


Geoheritage: kaldera, 4 periode letusan,
lava-lava yang unik, termasuk lava tube,
danau kaldera (Badan Batur) , scanic view
Daerah wisata yg telah berlangsung
(existing)
Tradisi: Trunyan, tari khas Bali, dll perlu
Geowisata: geotrack ke puncak Batur,
menyusuri tepian Danau Batur, dan
geosite-geosite yang telah disiapkan
Sudah ada kenaikan nilai ekonomi antara
sebelum geopark vs sesudah berstatus
geopark
Masih ada masalah pertambangan (vis a
vis konservasi)
Ada potensi longsor di beberapa tempat
25

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

Profil Singkat Geopark Indonesia (2)


Geopark

Lokasi (admin)

2. Merangin Kab. Merangin


& Kab. Kerinci,
(2013)

Keterangan
-

Jambi
-

11/18/2014

Geopark nasional, 2013


Geoheritage: Fosil Flora Jambi, Sungai
Merangin dengan singkapan granitnya, dll,
graben (kompleks sesar turun/tektonik),
danau tektonik)
Tradisi: Tariaan, dll
Flora & fauna khas
Geowisata:
geotrack
(berperahu)
menyusuri Sungai Merangin melihat fosil
Flora Jambi dan singkapan granit
Sudah terbentuk lembaga pengelolaan
bottom up, sudah terbentuk masyarakat /
anak muda yg sadar geopark, & dukungan
pemerintah setempat cukup kuat
Masalah utama: infrastruktur (Merangin
berada di daerah cukup remote)
26

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

Profil Singkat Geopark Indonesia (3)


Geopark

3. Gunung
Sewu
(2013)

Lokasi (admin)
Kab. Gunung
Kidul (DIY),
Wonogiri (Jawa
Tengah), Kab.
Pacitan (Jawa
Timur)

Keterangan
-

11/18/2014

Geopark nasional, 2013


Geoheritage: Karst khas, gua-gua, sungai
bawah tanah (dalam gua), yang berkaitan
dengan situs arkeologi, pantai, dll
Tradisi: Tarian, dll
Flora & fauna khas gua/ luweng masih
perlu dirumuskan
Geowisata: geotrack gua dan kawasan
karst sampai ke pantai
Terdapat Museum Karst di Wonogiri, satusatunya di Indonesia
Sudah terbentuk masyarakat pengelola,
dukungan Pemerintah setempat kuat
Masalah utama: luasan kawasan terlalu
luas untuk status pengelola saat ini
Masih ada penambangan
27

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

Profil Singkat Geopark Indonesia (4)


Geopark

4. Rinjani
(2014)

Lokasi (admin)
Pulau Lombok,
Prov. NTB

Keterangan
-

11/18/2014

Geopark nasional, 2014


Geoheritage: Kaldera cukup luas, sisa
letusan dahsyat, a.l puncak Samalas; air
terjun, lava, dll
Tradisi: tradisi khas Lombok
Flora & fauna khas kaldera
Geowisata: geotrack ke puncak Rinjani
Sudah terbentuk masyarakat pengelola,
dukungan Pemerintah setempat kuat,
geotrack ke puncak Rinjani sudah
terkelola cukup baik
Masalah utama: masih perlu kelengkapan
geopark, masih perlu peningkatan
kapasitas pengelola
28

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

Profil Singkat Geopark Indonesia (4)


Geopark

5. Toba
(2014)

Lokasi (admin)

Keterangan

7 kabupaten di Provinsi
Sumatera Utara
-

11/18/2014

Geopark nasional, 2014


Geoheritage: Kaldera besar, danau
volkanik terbesar di dunia, pulau di atas
pulau, danau di atas danau; sejarah
letusan dan evolusi manusia (75.000 tyl)
Tradisi: tradisi khas Tapanuli/Toba/dll,
pengobatan tradisional masih perlu
perumusan
Flora & fauna khas Danau Toba? perlu
dirumuskan
Geowisata: geotrack keliling Toba, Pulau
Samosir, dan sekitarnya
Masalah utama: lokasi termsuk/ dimiliki
oleh 7 pemerintah kabupaten; belum
terbentuk lembaga pengelola, masih perlu
kelengkapan geopark, masih perlu
29
peningkatan kapasitas pengelola

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

GEOPARK TIDAK HANYA GEOLOGI!,


melainkan
- plus KERAGAMAN HAYATI (BIODIVERSITY)
Indonesia sangat kaya, tapi, apakah tidak mulai
banyak yang punah? Mengapa?
- plus VARIASI BUDAYA (CULTURAL DIVERSITY)
Indonesia sangat kaya, tapi, masihkah
bertenaga? Mengapa?

11/18/2014

30

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

TAHURA, BANDUNG (Courtesy: DPKLTS, 2002)

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

Rusa di Pangandaran (Cervus timorensis)


11/18/2014

32

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

Rusa di Pangandaran (Cervus timorensis)


11/18/2014

Kampung Adat Ciptagelar, Banten

33

2. Status Geopark Indonesia dan Profil Singkat

FOTO: DENI SUGANDI

PANTAI KARANG HAWU,


PELABUHAN RATU

SISINGAAN, SUBANG, CONTOH KERAGAMAN BUDAYA

CURUG CIWEUNI, SAGARANTEN,


SUKABUMI
11/18/2014

HELARAN PESTA PANEN, DUSUN BANCEUY,


34
JALAN CAGAK, KAB. SUBANG

3. STUDI KASUS PENGEMBANGAN


GEOPARK DI JAWA BARAT
11/18/2014

35

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

(Courtesy: Adjat Sudradjat, 2013)

PRIANGAN SI JELITA, masihkah jelita?

11/18/2014

Provinsi Jawa Barat


Ibu kota: Bandung
Kabupaten/ Kota: 26
Luas total: 35.222,18 km2
Penduduk: 43.053.732 (2010)
Courtesy: Budi Brahmantyo 2013

36

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Identifikasi Keragaman Geologi dan Potensi Geopark Jabar


Gambar Zona Geowisata
di Jawa Barat
Keterangan: Pembagian
wilayah geowisata Jawa
bagian Barat menjadi 10
1
4
3
zona dengan 6 Zona
diantaranya berada di
Jawa Barat. Keenam zona
5
2
tersebut adalah : (1)
Gunung
Salak
dan
6
sekitarnya
(Bogor

Sukabumi Utara Cianjur


Utara); (2) Sukabumi Selatan-Cianjur Selatan, (3) Priangan (Bandung-SumedangSubang-Purwakarta-Karawang); (4) Ciayumajak (Cirebon-Indramayu-MajalengkaKuningan); (5) Priangan Timur (Garut Utara Tasik Utara Ciamis-Banjar); dan
(6) Priangan Selatan (Pangandaran-Tasiklamaya Selatan Garut Selatan).
(Sumber: Budi Brahmantyo (2013) dengan perubahan oleh penulis)
37

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Penzonasian Geopark Jabar (sementara)


- Mulai : 2013.
- Status saat ini: dalam proses pengusulan gepark nasional
Kriteria:
Keunggulan geologi (geodiversity, geoheritage)
Pariwisata (alam) yang telah berkembang
Infrastruktur yang sudah ada

3 Zona/Lokasi Geopark Jabar yang diusulkan:


1. Pelabuhanratu-Ciletuh-Cikaso
2. Tangkubanparahu-Citatah-Saguling
3. Tasikmalaya Selatan-Pangandaran
11/18/2014

38

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Peta Indikasi Tiga Zona (geo-area) Geopark di Jawa Barat (Geopark


Parahiyangan, Jawa Barat) yang Diusulkan 2013-2018

Geo-area 2: Tangkubanparahu-Citatah-Saguling

Geo-area 1: Palabuhanratu-Ciletuh-Cikaso

Geo-area 3: Tasikmalaya Selatan - Pangandaran

Pembagian Fisiografi
Van Bemmelen, 1949

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Pelabuhanratu-Ciletuh-Cikaso (1)


> Batas Zona:
- Utara: Kec. Nanggung, Kec.Cibungbulang (Bogor); Kec. Kalapanunggal, Kec.
Parakan-salak, dan Kec. Parungkuda (Kab. Sukabumi)
- Timur: Kec. Cibadak, Kec. Cisaat, Kec. Nyalindung, Kec. Baros, Kec.
Sagaranten, Kec. Tegalbuleud (Kab. Sukabumi), & Kec. Takokak (Kab. Cianjur)
- Selatan: Samudera Indonesia
- Barat: Kec. Bayah, Kec. Cibeber, Kec. Cilograng (Prov. Banten)
> Cakupan wilayah administratif: Kec. Cisolok, Kec. Cikakak, Kec. Pelabuhanratu,
Kec. Cikidang, Kec. Warungkiara, Kec. Lengkong, Kec. Jampang Tengah, Kec.
Jampang-kulon, Kec. Cikembar, Kec. Kalibunder, Kec. Kabandungan, Kec.
Pabuaran, Kec. Simpenan, Kec. Ciemas, Kec. Waluran, Kec. Surade, Kec.
Jampangkulon, Kec. Ciracap, Kab. Sukabumi
> Zona Inti (geosite): Ujunggenteng-Pangumbahan, Kec. Ciracap (pantai,
keragaman-hayati, dll); Cikaso, Kec. Surade (air terjun, singkapan sedimen);
Ciletuh, Kec. Ciemas (bentang alam amfiteater, Batuan Melange, dll); Cengkuk,
Kec. Cikakak (tinggalan purbakala); Cisolok (mata air panas) dan Sirnaresmi
(Kampung Adat dan tradisi), Kec. Cisolok; dan Kec. Pelabuhanratu dan
sekitarnya (morfologi pantai, dll)
40

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Pelabuhanratu Ciletuh Cikaso (2)


Karakteristik kawasan
Kawasan Ciletuh memilik keragaman geologi yang unik dan umurnya paling
tua di Jawa Barat. Geologinya merupakan hasil dari tumbukan dua lempeng
yang berbeda, yaitu: Lempeng Eurasia (lempeng benua) yang berkomposisi
granit (asam), dan Lempeng Indo-Australia (lempeng samudera) yang
berkomposisi basal (basa), yang menghasilkan batuan sedimen laut dalam
(pelagic sediment), batuan metamorfik (batuan ubahan), dan batuan beku
basa hingga ultra basa; kesemuanya sangat menarik untuk dipelajari.
Berbagai jenis batuan yang bercampur di dalam palung ini dinamakan
batuan bancuh (batuan campur aduk) atau dikenal sebagai melange yang
merupakan kelompok batuan tertua (Pra Tersier) yang tersingkap di
permukaan daratan Pulau Jawa, dengan umur berkisar 120 65 juta tahun.
Akibat proses tektonik yang terus berlangsung hingga saat ini, seluruh
batuan tersebut telah mengalami pengangkatan, pelipatan dan pensesaran.
Keunikan lain: seluruh singkapan batuan berada di dalam suatu lembah
besar menyerupai amfiteater berbentuk tapal kuda yang terbuka ke arah
Samudra Hindia.
11/18/2014
41

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Pelabuhanratu Ciletuh Cikaso (3)


Karakteristik kawasan (lanjutan)
Selain disusun oleh batuan Pra-Tersier berupa batuan beku basa (gabro)
hingga ultra basa (peridotit), Ciletuh juga disusun oleh batuan sedimen
berumur lebih muda, Paleogen, terdiri atas batupasir greywacke, tuf,
batupasir kuarsa dan konglomerat.
Morfologi kawasan Ciletuh juga sangat menarik. Lembah Ciletuh dibatasi
oleh dataran tinggi Jampang (Plateau Jampang) dengan kemiringan lereng
yang sangat terjal hingga mendekati vertikal. Di atas dataran tinggi ini, kita
dapat menikmati pemandangan lembah Ciletuh yang indah dengan latar
belakang Samudra Hindia dengan pulau-pulau kecil di sekitar pantainya.
Di dalam lembah Ciletuh akan tampak rangkaian bukit-bukit kecil dan bukit
soliter yang batuannya disusun oleh batuan Pra-Tersier & sedimen Paleogen
Keragaman bentukan bumi dengan kehidupan yang terdapat di atasnya
flora, fauna dan manusia dengan budayanya menjadikan kawasan Ciletuh
sebagai tempat pembelajaran tentang ilmu kebumian bagi seluruh kalangan,
mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
11/18/2014

42

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Pelabuhanratu Ciletuh Cikaso (4)

Beberapa geodiversity geoheritage


(1) Lanskap pantai Palabuhanratu dan pantai Karanghawu. Lanskap ini
akan semakin indah jika dilihat dari Bukit Habibie (Kp. Pasir Suren arah
ke Cibareno)
(2) Kompleks batuan bancuh (melange): kerabat ofiolit (kelompok batuan
ultra basa: peridotit, gabro, lava bantal basalt), kelompok batuan
metamorfik (serpentinit, filit, skis), kelompok batuan sedimen laut
dalam (serpih hitam, greywacke, lempung merah), dan kelompok
batuan sedimen benua (konglomerat, batugamping nummulite,
batuan vulkanik). Batuan unik dan langka tersebut tersebar di
Batununggul, Sodong, Cikepuh, Citisuk, Citirem, Pulau Mandra, Pulau
Kunti, dll); kawasan Ciletuh. Karena kelangkaannya dan posisinya yang
unik, batuan-batuan yang terdapat di Ciletuh ini berpotensi untuk
ditetapkan sebagai geoheritage.
(3) Fosil Numulites yang termasuk langka dan merupakan fosil penciri
untuk lingkungan pengendapan palung laut dan fosil penting sebagai
petunjuk umur zaman Kapur.

11/18/2014

43

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Pelabuhanratu Ciletuh Cikaso (5)

Beberapa geodiversity geoheritage (lanjutan)


(4) Lanskap atau bentang alam amfiteater raksasa Ciletuh yang yang
membuka ke arah Samudera Indonesia, merupakan bagian dari
patahan Plato Jampang, membentang mulai dari Panenjoan hingga ke
Teluk Ciletuh di Kec. Ciemas;
(5) Air terjun (curug) yang menghiasi dinding barat (sebelah kanan jika kita
menghadap ke laut dari Panenjoan) amfiteater Ciletuh yang indah,
jarak 1 2 km satu-lainnya: Curug Cimarinjung, & Curug Cikanteh
(6) Air terjun lainnya yang tidak kalah indahnya, yaitu: Curug Cikaso di
Cikaso dan Curug Awang atau Curug Cigangsa di Surade, Kec. Surade;
dan deretan tiga air terjun di Sungai Ciletuh, yaitu Curug Awang, Curug
Tengah, dan Curug Puncak Manik di Desa Tamanjaya, Kec. Ciemas;
(7) Singkapan Batupasir Formasi Ciletuh di Sungai Ciletuh di bawah dan di
sekitar jembatan antara Surade Ciwaru, Kec. Ciemas ;
(8) Gua dan kawasan karst Sukabumi Selatan yg masih perlu diverifikasi
(9) Jalur Sesar Cimandiri (Pelabuhanratu Jampangtengah Gegerbitung)
yang juga masih perlu diverifikasi data lapangannya

11/18/2014

44

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Pelabuhanratu Ciletuh Cikaso (6)

Keragaman Hayati dan Keragaman Budaya Terpilih


(1) FLORA: i) Setigi (Paemis acydula), ii) Kepuh (Sterculia foetida), iii)
Butun (Barringtonia alatica), iv) Nyamplung (Callophyillum
inophyllum), v) Haur gereng (Bambusa spinosa). Lainnya perlu
verifikasi.
(2) FAUNA: i) Penyu hijau (Chelonia midas), ii) Elang Laut (Haliaeetus
leucogaster), iii) Elang (Hallastur indus), iv) Rajaudang (Alcedo sp), dan
v) Elang ruguk/Brontok (Spiaetus cirhatus). Lainnya perlu verifikasi.
(3) TINGGALAN BUDAYA: i) Tugu Gede Cengkuk, Cikakak; ii) Situs punden
berundak Pangguyangan, Cikakak, dan iii) Situs batu masjid di curug
Cigangsa, Surade. Lainnya masih perlu verifikasi.
(4) TRADISI YANG TUMBUH: i) Upacara Adat Seren Taun, Sirnaresmi dan
Ciptagelar; ii) Upacara Adat Nyalin (panen padi perdana) di Sirnaresmi
dan Ciptagelar, Cisolok; dan iii) Hajat Laut di Palabuhanratu dan
Cisolok. Lainnya masih perlu diverifikasi.
(5) GENRE SENI: i) Rengkong, ii) Angklung Gubrag, iii) Angklung Buhun, iv)
Lais, v) Dogdog lojor, vi) Jipeng, vii) Pantun Gede. dll.

11/18/2014

45

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Pelabuhanratu Ciletuh Cikaso

Teluk Palabuhanratu (Budi


Brahmantyo)

Batu Nunggul, Ciletuh


(Oman Abdurahman)

Curug Cikaso (Dedi Suhendra, Curug Luhur, Surade (Oman


Abdurahman)
Geomagz V2/N2)

11/18/2014

46

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Dari kiri ke kanan


searah jarum jam:
- Bukit batupasir
Graywacke
- Bentangalam
amfiteater Ciletuh
- Singkapan lava
bantal (pillow lava)
- Singkapan batuan
beku Gabro
(Foto:
Oman Abdurahman)

11/18/2014

47

FOTO: OMAN ABDURAHMAN

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

11/18/2014

48

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tangkubanparahu Citatah Saguling (1)

Batas Zona:
- Utara: Kec. Tanjungkerta, Kec. Cijambe, Kec. Subang, Kec. Kalijati, dan Kec.
Cipeundeuy (Kab. Subang), Kec. Sumedang Utara (Kab. Sumedang)
- Timur: Kec. Cimanggung, Kec. Sumedang Selatan (Kab. Sumedang); Kec.
Cibiru, Kec. Cicadas, Kec. Arcamanik, Kec. Rancaekek (Kab. Bdg), &
Kec.Cileunyi (Kota Bdg). Selatan: Kota Bandung .
- Barat: Kec. Manis, Kec. Jatiluhur, Kec. Plered, Kec. Purwakarta, Kec. Campaka
(Kab. Purwakarta), Kec. Cibeber, Kec. Ciranjang, Kec. Sukaluyu, Kec. Mande,
Kec. Cikalongkulon (Kab. Cianjur); Kec. Gunung Halu, Kec. Cipongkor, Kec.
Batujajar, Kec. Cimahi Selatan, Ke. Cimahi Tengah, Kec. Cimahi Utara (KBB)
Cakupan wilayah administratif: Kec. Tanjungsiang, Kec. Cisalak, Kec. Jalan
Cagak, Kec. Kasomalang, Kec. Ciater, Kec. Sagalaherang, Kec. Serangpanjang
(Kab. Subang); Kec. Lembang, Kec. Parongpong, Kec. Cisarua, Kota Cimahi, Kec.
Ngamprah, Kec. Padalarang, Kec. Cipatat, Kec. Cipeundeuy, Kec. Cikalongwetan
(KBB); Kec. Cimenyan, Kec. Cilengkrang (Kab. Bandung); Kec. Cikeruh, Kec.
Tanjungsari, Kec. Rancakalong (Kab. Sumedang); Kec. Sukatani, Kec.
Darangdan, Kec. Bojong, Kec. Wanayasa, Kec. Pasawahan (Kab. Purwakarta),
dan Kec. Bojongpicung (Kab. Cianjur).
11/18/2014

49

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tangkubanparahu Citatah Saguling (2)


Zona Inti (geosite): (1) Kompleks Gn. Tangkubanparahu-Gn Burangrang-Gn
Sunda, Kab. Subang (Kawah Ratu, Kawah Upas, Kawah Domas; panorama ke
cekungan Bandung-perbukitan di Utara, dan gunung-gunung yang
mengelilinginya); (2) Panaruban Cijalu, Kec. Sagalaherang, Subang (air
terjun, lava di sungai, dll); (3) Ciater Kasomalang - Kec. Cisalak, Subang
(Mataair panas Ciater, air terjun Cileat, mataair dari lava vesikuler
Cigayonggong, Kasomalang); (4) Ranggawulung - Cicabe, Kec. Subang,
Subang (tektit dan jejak tumbukan meteor (?) di Ranggawulung, fosil
vertebrata di Cicabe); (5) Kec. Padalarang dan Kec. Cipatat, Kab. Bandung
Barat (Kars Citatah, Sanghiyang Tikoro, Bendungan Saguling, dll); (6)
Lembang, Cibodas, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat hingga Dago, Kota
Bandung (Sesar Lembang di Gn. Batu dan Cibodas, Mataair panas dan Curug
Omas, Maribaya, Gn. Bukittunggul; dan lava pahoehoe di THR Juanda,
Curug Dago); (7) Parongpong Cisarua Ngamprah - Padalarang (Endapan
Piroklastik Gn. Sunda dan Gn. T. Parahu di Prongpong, Curug Aleh, Curug
Cimahi, Cisarua, dan Mataair asin Ciuyah); (8) lokasi lain: mataair panas
berdekatan (fenomena gasbumi di Serangpanjang, Subang, dll;) dan (9)
Bandung Selatan & Bandung Timur yang belum diperinci.
11/18/2014

50

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tangkubanparahu Citatah Saguling (3)


Karakteristik kawasan
Kompleks Gunung Tangkubanparahu dan sekitarnya yang meliputi Gunung
(Gn.) Burangrang di sebelah Barat, Gn. Bukittunggul di sebelah Timur, Gn.
Puteri, lembah Kota Lembang, Bukit Gunungbatu, matair panas Maribaya di
sebelah Selatan merupakan laboratorium alam tempat banyak fenomena
geologi yang penting untuk kajian gejala dan perkembangan gunungapi,
geologi Kuarter, dan bahaya geologi (letusan gunungapi, sesar);
Gn. Tangkubanparahu yang aktif, sangat khas, merupakan gunungapi yang
tumbuh dari kaldera Gn. Sunda, kl. 90.000 tahun yang lalu (tyl). Gn. Sunda
sendiri merupakan gunungapi yanh tumbuh dari kaldera raksasa (luas sekitar
48 km2) gunungapi Pra Sunda, pada sekita 210.000-105.000 tyl; dan Gn. Pra
Sunda terbentuk pada sekitar 560.000 500.000 tyl;
Danau Bandung purba, yang saat ini telah menjadi Kota Bandung, ibu kota
Provinsi Jawa Barat, merupakan fenomena geologi yang unik. Danau tersebut
terbentuk oleh karena Letusan Gn. Sunda membendung Sungai Ci Tarum
yang mengalir di lembah Bandung purba. Lokasi pengeringan danau tersebut
menarik untuk terus dipelajari.
11/18/2014

51

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tangkubanparahu Citatah Saguling (4)


Karakteristik kawasan (lanjutan)
Jalur Sesar Lembang sangat penting untuk terus dipantau dan dipelajari,
dapat dilihat dengan jelas dari tepi kawah Tangkubanparahu. Demikian pula
deretan gunung Tampomas, Canggak, dan Cireme di sebelah Utara; dan
Mandalawangi, Malabar, dan Cikuray di Sebelah Selatan, merupakan
panorama yang indah dan khas. Sesar Lembang, aliran lava dan lahar Gn. T.
Parahu dan gunungapi pendahulunya penting untuk kajian kebencanaan;
Karst Citatah sangat khas karena merupakan kawasan karst yang terdapat
pada lokasi yang cukup tinggi (kl 700-900 m dpl) dan sangat dekat dengan
perkotaan, berumur Oligosen-Miosen menunjukkan pernah hadirnya
lingkungan laut pada lokasi tersebut, sehingga cocok sebagai laboratorium
alam. Ditambah lagi pada gua Pawon di kawasan ini pernah ditemukan fosil
manusia purba;
Kawasan Saguling selain tempat lokasi bendungan besar Saguling-satu dari
tiga bendungan besar di Sungai Ci Tarum- juga merupakan tempat
dijumpainya fenomena geologi menarik lainnya (Sanghiyangtikoro,
Sanghiyang Heuleut, dll).
11/18/2014

52

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tangkubanparahu Citatah Saguling (5)

Beberapa geodiversity geoheritage


(1) Kompleks Kawah Gunung Tangkubanparahu (Kawah Ratu, Kawah
Domas, dll) sebagai gunungapi yg lahir dari kaldera raksasa Gn Sunda,
Kab. Subang
(2) Lanskap Cekungan Bandung dan deretan gunung yang mengelilinginya
sebagaimana tampak dari Kawah Tangkubanparahu (Utara Barat, a.l:
TampomasCareme Canggak Bukittunggul Pulosari Manglayang
Mandalawangi Cikuray Malabar - Burangrang), Kab. Subang
(3) Gn. Burangrang & Gn. Sunda (kecil) sebagai sisa Gn. Sunda (dinding
kaldera gunungapi raksasa, Gn. Sunda, kl. 4.000 m dpl), Kab. Subang
(4) Air terjun, singkapan lava di sungai, dinding sesar, dll di Panaruban,
Cijalu dan sekitarnya, Sagalaherang; dan Cileat, Cisalak, Kab. Subang
(5) Mataair panas & endapan Jarosit, Ciater; mataair dingin lava vesikuler
di Cigayonggong, Kasomalang; dll mataair sumber, & pembangkit listrik
tenaga air mikro (PLTMH) tua di Tambaksari, Kab. Subang
(6) Tektit di Ranggawulung dan fossil vertebrata (Gajah purba, dll) di
Cicabe, Kec. Subang, Kab. Subang

11/18/2014

53

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tangkubanparahu Citatah Saguling (6)

Beberapa geodiversity geoheritage (lanjutan - 1)


(7) Lava di hulu Sungai Ciasem, batugamping langka di Sungai Cinangka, &
mataair panas di Curug Agung/Batu Kapur, Sagalaherang, Kab. Subang;
(8) Mataair panas - fenomena gasbumi,Kec. Serangpanjang, Kab. Subang
(9) Sesar Lembang di Gn. Batu dan Cibodas; mataair panas & Curug Omas,
Maribaya, dan Gn. Bukittunggul, Lembang, Kab. Bandung Barat (KBB)
(10) Lava pahoehoe di THR Juanda dan Curug Dago, Kota Bandung
(11) Endapan Piroklastik Gn. Sunda dan Gn. T. Parahu , Prongpong, KBB
(12) Curug Aleh dan Curug Cimahi, Situ Lembang, Cisarua, KBB
(13) Mataair asin Ciuyah di Padalarang, KBB
(14) Karst Citatah, Padalarang - Bendungan Saguling, Rajamandala, KBB
(Catatan: dengan syarat penambangan di lokasi ini dihentikan): a)
Gunung Hawu, b) Pasir Pabeasan, c) Taman Batu (Stone Garden) di
Puncak Pawon, d) Tanjakan Frustasi, e) Gua Pawon dan situs fosil
manusia purba, f) Cibukur, g) Pasir Kolecer, Padalarang; h) Jembatan
Cimeta, i) Sanghiangtikor dan Power House PLTA Saguling, j) Gua
Sanghiyang Poek, k) Cipanas dan Puncak Pasir Tikukur, l) Cikuda,
11/18/2014 Jembatan Citarum, dan m) Bendungan Saguling, Rajamandala
54

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tangkubanparahu Citatah Saguling (7)

Beberapa geodiversity geoheritage (lanjutan - 2)


(15) Bandung Selatan (Catatan: Jika zona diperluas ke Bandung Selatan): a)
Pasir Salam, Lagadar dan Curug Jompong, Margaasih; b) Cimanis dan
Gunung Halu, Cililin; c) Bongkah-bongkah batu dasitis yang bersifat
magnetis di Gunung Sadu, Soreang, d) Lembah Sungai Ci Widey
Jembatan KA Tua, Ciwidey, e) Kawah Putih, Gunung Patuha, Ciwidey, f)
sisa-sisa gunung purba dan mataair panas di Cimanggu-Ranca Upas
dan Ranca Walini, Ciwidey, g) Perkebunan Teh Rancabali dan kawah
purba Situ Patengan, Ciwidey; h) Argasari, Pacet; i) Ci Santi, Mataair
hulu Ci Tarum, dan j) Lapangan panasbumi Wayang- Windu, Malabar,
Pangalengan; dan lereng Gn. Puntang, di Cimaung Pacet;
(16) Bandung Timur (Catatan: Jika zona diperluas ke Bandung Timur): a)
Batuan Gunungapi Tua yang terpotong jalan Bandung-Garut/
Tasikmalaya, Cicalengka, b) Welded tuff (abu gunungapi yg terelaskan),
Obsidian dan batupasir, di Kendan, Nagreg, c) Curug Sindulang,
Cicalengka, d) Gn. Geulis & Gn. Bukitjarian, Rancaekek-Jatinangor, d)
Lembah kaki Gn. Manglayang & jembatan KA Tua, Jatinangor.

11/18/2014

55

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tangkubanparahu Citatah Saguling (8)

Keragaman Hayati dan Keragaman Budaya Terpilih


(1) FLORA: i) Cantigi (Vaccinium varingii-folium); ii) Paku Kawah (Selliquea
feii), iii) Paku Kawat (Lycopodium cernuum)- khas kawasan Kawah Gn. T.
Parahu; iv) Jamuju (Podocarpus imbricatus), v) Rasamala (Altingia
excelsea), dan vii) Saninten (Castanea argentea) di lereng Gn. T.
Parahu; dan viii) Tangkolo (Kleinhovia hospita) di Citatah-Saguling.
Lainnya masih perlu verifikasi.
(2) FAUNA: i) Kupu-kupu (Lepidoptera: Rhopalocera) di lingkungan kawah
Gn. Tangkubanparahu, ii) Monyet ekor panjang (Maccaca sp), iii) Lutung
(Trachypythecus auratus), iv) Surili (Presbytis aygula) sangat jarang, a.l
di Bandung selatan; v) Tekukur (Strepto pellascinansip), vi) Elang Lurik
(Spiloreis cheela), dan vii) Elang Jawa (Spizaetus bartelis) di Panaruban,
Sagalaherang. Lainnya: perlu verifikasi.
(3) TINGGALAN BUDAYA: i) Gua Pawon dan site Manusia Pawon, Citatah; ii)
Punden berundak Situs Babalongan, Gn. Bukittunggul, iii) Batu Lonceng
Suntenjaya, Cibodas, iv) Goa Jepang, Maribaya, Lembang, KBB; v)
PLTMH generasi pertama, Cijambe, vi) Museum Kalijati Kab. Subang

11/18/2014

56

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tangkubanparahu Citatah Saguling (9)

Keragaman Hayati dan Keragaman Budaya Terpilih lanjutan


(3) TINGGALAN BUDAYA - lanjutan: vii) Artefak di Cikapundung: Dago
Pakar dan Prasasti Raja Thai, Curug Dago, viii) Museum Geologi, ix)
Gedung Asia-Afrika - Kota Bandung; Pasir Panyandaan, Cimenyan,
Jembatan KA Tua, Ciwidey, Situs Radio Perjuangan Malabar, Gn.
Puntang, Pacet; Parit pertahanan/alur irigasi purba Argasari, Pacet;
itus Kendan, Nagreg, Candi Bojongmenje, Rancaekek.
(4) TRADISI YANG TUMBUH : i) Cakrub Cai, ii) Ngalokat; iii) Hajat
Sungapan, iv) Hajat Lembur Cipeundeuy, v) Wuku Taun KBB, Cimahi,
Kota/Kab. Bandung; v) Hajat Lembur vi) Ngabeungkat, vii) Turun
Nyambut Ampih Pare, viii) Ngarak Beas, ix) Kuda KosongKab. Subang.
(5) GENRE SENI: i) Sasapian, ii) Pencak, iii)) Buncis, iv) Bangkong Reang, v)
Ketuk Tilu, vi) Angklung, vii) Calung, viii) Benjang, ix) Wayang Golek, x)
Tutunggulan, Kaulinan Barudak, xi) Reak , xii) KungclungKBB, Cimahi,
Kota/Kab Bandung;
xiii) Sisingaan, xiv) Doger, xv) Gembyung
Buhun,xvi) Tutunggulan, xvii) Kaulinan Barudak, xviii) Toleat, xix)
Celempung Banceuy, xx) Rudat Kab. Subang; xxi) Tarawangsa, xxii)
Tutunggulan, xxiii) Kuda Renggong Kab. Sumedang.

11/18/2014

57

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

TangkubanparahuCitatahSaguling

Peta Geologi Lembar Bandung


(Silitonga, 1972)

Air terjun Cileat,


Subang
(Budi Brahmantyo)

Geologi Lembar Cinajur (Sujatmiko, 1973)

Sangiangheuleut, Saguling
(Budi Brahmantyo)
11/18/2014

Kars Bukit Pawon ,Citatah


(Budi Brahmantyo)
58

Dari kiri ke kanan


searah jarum jam:
- Lava Pahoehoe
yang langka
- Kawah Gunung
Tangkubanparahu
- Sungai bawah tanah
Sanghiyang Tikoro
- Situs manusia
purba di Gua Pawon
(Courtesy:
Budi Brahmantyo)

11/18/2014

59

FOTO: OMAN ABDURAHMAN

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

GUNUNG TAMPOMAS SUMEDANG, GUNUNG CANGGAK, SUBANg, DAN GUNUNG CIREME, CIREBON,
TAMPAK DARI TEPI KAWAH GN. TANGKUBANPARAHU
11/18/2014

60

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tasikmalaya Selatan Pangandaran (1)

Batas Zona:
- Utara: Kec. Sukaraja, Kec. Kawalu, Kec. Cibeureum, Kec. Manonjaya (Kab.
Tasimlaya); Kec. Cijeungjing, Kec. Ciamis (Kab. Ciamis); seluruh Kota Banjar
- Timur: Batas dengan Kab. Purwokerto dan Kab. Cilacap (Prov. Jawa Tengah).
- Selatan: Samudera Indonesia.
- Barat:
Kec. Cibalong, Kec. Bantarkalong, Kec. Bojonggambir (Kab.
Tasikmalaya); Kec. Cibalong (Kab. Garut).
Cakupan wilayah administratif: Seluruh Kab. Pangandaran; Kec. Cineam, Kec.
Karangnunggal, Kec. Cipatujah, Kec. Cikatomas, Kec. Pancatengah, Kec. Salopa,
Kec. Gunungtanjung, Kec. Bojong Asih, Kec. Jatiwaras, Kec. Cikalong (Kab.
Tasikmalaya); Kec. Banjarsari, Kec. Pamarican, & Kec. Cimaragas (Kab. Ciamis)
Zona Inti (geosite): Kec. Pangandaran (Pananjung-Karang Nini), Kec. Cijulang
(Cukangtaneuh Batu Karas), Kec. Parigi (Pantai Batuhiu); Kab. Pangandaran;
Kec. Pancatengah (Kawasan Taman Jasper Merah), Kec. Cikatomas Kec.
Salopa Kec. Jatiwaras Kec. Karangnunggal Kec. Bantarkalong (Kompleks
gua-gua dan kawasan karst); Kec. Cikalong (kekar kolom Karangtawulan), Kec.
Cipatujah (morfologi pantai dan endapan pasir besi), Kabupaten Tasikmalaya.
11/18/2014

61

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tasikmalaya Selatan Pangandaran (2)


Karakteristik Kawasan
(1) Batuan Jasper atau Jaspis yang secara itu geologis merupakan batuan
jenis silika dengan mineral utama kuarsa, bersifat opak yang tidak
transparan, dan umumnya berwarna merah karenanya sering disebut
Jasper Merah ada juga yang berwarna kuning dan coklat,
berukuran mulai sekepalan tangan hingga sebesar rumah tipe 21,
berserakan di ladang, sawah, sungai (Ci Medang) bahkan pekarangan
rumah warga di Kp Pasirgintung, Ds. Cibuniasih, Kec. Pancatengah,
Kab.Tasikmalaya, merupakan fenomena geologi yang langka.
(2) Batuan Jasper merah yang asal-usul kejadiannya berkaitan dengan
gunungapi purba di bawah laut tersebut sangat penting untuk
mempelajari pembentukan mineral dari material gunungapi melalui
proses hidrotermal. Demikian pula lokasi keterdapatanya sangat
penting untuk kajian di lokasi in-situnya.
(3) Keterdapatan Jasper Merah ini dapat meluas ke kecamatan lainnya
seperti Karangnunggal hingga Cipatujah, sehingga secara keseluruhan
zona ini penting untuk dikonservsi sekaligus sebagai kawasan
pendidikan dan pengembangan ekonomi melalui geowisata.

11/18/2014

62

Zona Tasikmalaya Selatan Pangandaran (3)

Karakteristik Kawasan (lanjutan)


(4) Selain itu, kehadiran kekar kolom di tepi pantai Karangtawulan, kl 6 km
ke arah Selatan dari Pancatengah, juga menjadi penciri zona ini. Bukti
gunungapi bawah laut yang berkaitan dengan kejadian jasper merah
di bagian utaranya dapat dipelajari secara lebih intensif di kawasan ini,
sekaligus sambil menikmati panorama pantai yang luar bisa.
(5) Ke arah timur dari zona Jasper Merah, bentang alam beralih menjadi
karst dengan ciri banyak memiliki gua dan aliran sungai bawah tanah.
Tidak kurang dari 388 gua telah didata dengan 25 gua berpotensi
untuk wisata rekreasi; 48 gua untuk wisata petualangan; 28 gua untuk
wisata budaya; dan 82 gua sebagi sumber air sedang-sangat besar.
(6) Salah satu fenomena kawasan karst ini adalah ke arah Pangandaran,
tepatnya di Cijulang, yaitu kawasan Cukangtaneuh yang sangat eksotik
yang kini sudah berkembang menjadi lokasi wisata umum untuk
bagian hilirnya, dan wisata khusus di bagian hulunya.
(7) Daerah paling Timur dari zona ini adalah kawasan rekreasi umum
terkenal, Pangandaran, ciri khas: pantai Pananjung dan Batulayar.

11/18/2014

63

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tasikmalaya Selatan Pangandaran (4)

Beberapa geodiversity geoheritage


(1) Taman Jasper Merah, Ds. Cibuniasih, Kec. Pancatengah, Kab.
Tasikmalaya
(2) Gua-gua karst Tasikmalaya Selatan, a.l.: Gua Cupu Agung atau Gua
Sukarno (Ds. Linggalaksana), Gua Hulukuya dan Gua Sodong Parat (Ds.
Cogreg), Gua Nyai (Ds. Mekarsari), Kec. Cikatomas; Gua Ciodeng dan
Gua Cikaret (Ds. Mekarsari, Kec. Pancatengah); Gua Cigerendong, Gua
Curug dan Gua Surupan/Tajur (Ds. Tawang, Kec. Tawang); Gua Wadon
(Desa Mertajaya, Kec. Bojongasih); Gua Anteng (Desa Malatisuka, Kec.
Gunung Tanjung), Gua Malawang (Desa Sukawangun, Kec.
Karangnunggal), Gua Ranggawulung (Desa Setiawaras, Kec. Cibalong),
Gua Rejeng (Desa Kersagalih, Kec. Jatiwaras), gua-gua di situs religi Ds.
Pamijahan (Kec. Bantarkalong). Catatan: Gua-gua tsb bagian dari 388
gua telah didata oleh Disparbud Kab. Tasikmalaya dengan rincian: 25
gua potensi wisata rekreasi, 48 gua untuk wisata petualangan, 28 gua
untuk wisata budaya, dan 82 gua sebagai sumber air.
(3) Beberapa curug: Curug Cidendeng, Tawang, Kec. Tawang, Tasikmalaya

11/18/2014

64

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tasikmalaya Selatan Pangandaran (5)

Beberapa geodiversity geoheritage - lanjutan


(4) Kekar kolom Lava Karangtawulan, Desa Kalapagenep, Kec. Cikalong,
Kab. Tasikmalaya
(5) Endapan pasir besi di Cipatujah dan keragaman hayati Penyu Hijau di
Sindangkerta, Kec. Cipatujah, Kab. Tasikmalaya
(6) Sungai jalur body rafting dan wisata alam serta gua-gua di kawasan
karst Cukangtaneuh, Kec. Cijulang, Kab. Pangandaran
(7) Sungai dan gua-gua karst Citumang, Kec. Parigi, Kab. Pangandaran
(8) Morfologi dan abrasi serta rekreasi pantai Batukaras, Kec. Cijulang,
Kab. Pangandaran
(9) Morfologi pantai & wisata alam Batuhiu, Kec. Parigi, Kab. Pangandaran
(10) Karst dan gua-gua (Gua Jepang, Gua Parat, Gua Panggung, Gua
Lanang), scenic view pantai Pananjung, Batulayar Kec. Pangandaran,
Kab. Pangandaran
(11) Karst Karang Nini dan tinggalan sejarah terowongan KA di Karang Nini
dan sekitarnya, Kec. Pangandaran, Kab. Pangandaran
(12) Morfologi pantai Karapyak, Kec. Pangandaran, Kab. Pangandaran

11/18/2014

65

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tasikmalaya Selatan Pangandaran (6)

Keragaman Hayati dan Keragaman Budaya Terpilih


(1) FLORA: i) Laban (Vitex pubescens), ii) Kisegel (Dilenia excelsea), iii)
Kondang (Ficus variegata), iv) Teureup (Artocarpus elsatica); v) Gebang
(Curypha elata), vi) Manggis hutan (Garcinia mangostama), vii)
Burahol (Stelechocarpus burahol), viii) Raflesia Fatma (Tetrastigma
lanceolarium), ix) Nyamplung (Callophylum inophylum), x) Katapang
(Terminalia catapa) terutama di Cagar Alam (CA) Pananjung,
Pangandaran; xi) Kaboa (Dipteroearpus gracilis) xii) Palahlar
(Dipterocarpus spee.div), dan xiii) Meranti merah (Shorea sp.) di CA
Leuweung Sancang, Garut. Lainnya masih perlu verifikasi
(2) FAUNA: i) Kera abu-abu (Macaca fascicularis), ii) Lutung (Trcyphithecus
auratus), iii) Kijang (Muntiacus muntjak), iv) Kancil (Tragulus
javanicus), v) Landak (Hystrix javanica), vi) Tando (Cynocephalus
variegatus), vii) Jeralang (Ratufa bicolor), viii) Sero (Prionodon linsang),
ix) Kalong (Pteroptus vampyrus), x) Owa (Hylobates moloch), xi)
Burung Rangkong (Buceros rhinoceros), xii) Burung Kangkareng
(Anthracoceros albirostris), dan xiii) Merak (Pava mutius), terutama
11/18/2014 di CA Pananjung Pangandaran & CA Leuweung Sancang, Garut, dll.
66

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Zona Tasikmalaya Selatan Pangandaran (7)


Keragaman Hayati dan Keragaman Budaya Terpilih lanjutan
(3) TINGGALAN BUDAYA: i) Situs Batukalde, ii) Gua Situs Rangga Carita, iii)
Gua Situs Mayangsari, iv) Situs Syekh Wali Kutub Cikabuyutan, v)
Anggasinga
Wencana
Bagaspati,
PangandaranKarang
Nini,
Pangandaran; vi) Situs Bumi Rongsok, Jatiwaras; vii) Situs Joglo dan Gua
Sarongge, Bantarkalong, viii) Situs Pamijahan, Bantarkalong Tasikmalaya; ix) Situs Sancang, Cibalong, x) Situs Gn. Nagara, Cisompet;
xi) Kp. Adat Dukuh, Cikelet. Lainnya masih perlu verifikasi.
(4) TRADISI YANG TUMBUH : i) Hajat Laut Pangandaran, ii) Pesta Nelayan,
dan iii) Balap Kerbau, Cipatujah Tasikmalaya, iv) Hajat Laut,
Pameungpeuk; v) Upacara Makom Karomah, Kp Adat Dukuh, Cikelet, vi)
Upacara 12 Mulud dan Upacara 14 Mulud, di Kp Adat Dukuh, vii) Hajat
Laut Pakidulan, Cikelet Garut. Lainnya masih perlu diverifikasi.
(5) GENRE SENI: i) Ronggeng Gunung, ii) Ronggeng Amen, iii) Ebeg, iv)
Kentongan, v) Rengkong, vi) Gamelan Awi Pangandaran; vii) Calung
Tarawangsa, Cibalong, viii) Celempungan, ix) Terbang Tasikmalaya
Selatan; x) Bangkolung, xi) Rudat Hadro, Bungbulang, xii) Debus, xiii)
Rengkong, xiv) Rudat Garut Selatan.

11/18/2014

67

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Tasikmalaya Selatan - Pangandaran

Peta Geologi Lembar Karangnunggal


(Sutrisna dkk, 1992)

Peta Geologi Lembar Pangandaran


(Simanjuntak & Surono, 1992)

Taman Jasper
Pancatengah ,
Tasikmalaya
Selatan
(Budi Brahmantyo)
11/18/2014

Lava kekar kolom,


Karangtawulan,
Kalapagenep,
Tasikmalaya Selatan
(Budi Brahmantyo)

Cukangtaneuh, Cijulang,
Pangandaran
(Budi Brahmantyo)
68

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

Dari kiri ke kanan


searah jarum jam:
- Pantai Tombolo,
Cipatujah,
Tasikmalaya Selatan
- Bongkah-bongkah
Jasper Merah di
Pancatengah,
Tasikmalaya Selatan
- Sungai Karst di
Cukangtaneuh,
Cijulang,
Pangandaran,
- Lava Kekar Kolom,
Tasikmalaya Selatan,
(Courtesy:
Budi Brahmantyo)
11/18/2014

69

FOTO: DENI SUGANDI

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

PANTAI KARANG TAWULAN, KAB. TASIKMALAYA


11/18/2014

70

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

STATUS PENGEMBANGAN GEOPARK JAWA BARAT (1)

Saat ini status geopark Jawa Barat masih dalam tahap


penyusunan proposal untuk pengajuan Ciletuh-Sukabumi
sebagai geopark Nasional pada 2015.
Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa hal yang telah
dilakukan/ telah tercapai sebagai fondasi, sbb:
1) Kebijakan pengembangan geopark di Jawa Barat telah
tercantum dalam RPJMD Jawa Barat, 2014 2018;
2) Atas dasar butir 1), beberapa kegiatan atas nama
pengembangan geopark Jawa Barat telah digulirkan oleh
Pemprov Jawa Barat yang tersebar di beberapa SKPD,
seperti di Dinas Pariwisata & Dinas ESDM, Prov. Jawa Barat;
3) Beberapa Daerah sudah mengadakan kegiatan terkait
dengan pengembangan geopark, seperti Pemeritah
Kabupaten Sukabumi;
71

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

STATUS PENGEMBANGAN GEOPARK JAWA BARAT (2)

Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa hal yang telah


dilakukan/ telah tercapai sebagai fondasi, sbb (lanjutan - 1):
4) Pemerintah Pusat sangat mendukung terbentuknya
geopark, antara lain melalui Badan Geologi telah dilakukan
kegiatan verifikasi data & informasi 3G yang dimulai 2013.
5) Pada periode 2013 telah dilakukan pula sosialisasi ke mitra
Pemprov, yaitu Bappeda Jabar, pengusulan geopark oleh
komunitas;
dan
pencantuman
payung
kebijakan
pengembangan geopark dalam RPJMD 2014 2018;
6) Saat ini Badan Geologi melalui salah satu satuan kerjanya,
yaitu Museum Geologi sedang menyusun/ membuat: (1)
Buku Master Plan Geopark Jawa Barat, (2) Buku
Pengembangan Geotrek untuk Geowisata; dan (3) Video
Geopark Jawa Barat; direncanakan selesai di akhir 2014;
72

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

STATUS PENGEMBANGAN GEOPARK JAWA BARAT (3)


Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa hal yang telah
dilakukan/ telah tercapai sebagai fondasi, sbb (lanjutan - 2) :
7) Instansi lain yang beradasarkan kewenangannya mendukung
pengusulan geopark adalah Kementerian Parekraft,
khususnya Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata.
8) Telah mengkerucut prioritas pengusulan geopark Nasional di
Jawa Barat untuk jangka pendek (1 2 tahun ke depan)
pada lokasi/kawasan Ciletuh, yang areal utamanya terdapat
di Kecematan Ciemas, Kabupaten Sukabumi
9) Geopark Nasional Ciletuh, Sukabumi diharapkan telah
mendapatkan pengukuhan/ pengakuan pada kuartal 1
tahun 2015; dan status GGN pada 2016 atau 2017;
10) Namun demikian, untuk Ciletuh ini nama resmi dan batasan
(deliniasi) cakupan kawasannya masih belum diputuskan
73

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

STATUS PENGEMBANGAN GEOPARK JAWA BARAT (4)

Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa hal yang telah


dilakukan/ telah tercapai sebagai fondasi, sbb (lanjutan - 2) :
11) Untuk pengusulan Geopark Ciletuh ini, bola telah
diambil alih secara aktif sesuai kewenangannya oleh
Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Ada pun mitra yang
mendukung dan aktif melakukan kegiatan untuk geopark
Ciletuh adalah PAPSI (Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi),
Komunitas Backpacker Sukabumi; dan PT. Biofarma;
12) Kawasan berikutnya yang cukup memiliki potensi untuk
dikembangkan menjadi geopark dalam jangka pendek
menurut pengamatan kamiadalah Kawasan Cukangtaneuh,
Cijulang, Pangandaran, karena, selain geologinya yang unik,
juga telah berkembang dengan aktif dan baik lembaga
pengelola dari masyarakat.
74

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

STATUS PENGEMBANGAN GEOPARK JAWA BARAT (5)


Salah satu yang perlu disoialisasikan adalah inisiatif masyarakat
untuk menjalankan usaha wisata berbasis geologi. Pelatihan geotrek
sudah harus mulai diperkenalkan kepada masyarakat. Sebagai
contoh, untuk kawasan keragaman geologi Bandung dan sekitarnya,
jalur geotrek berikut sebagaimana dalam buku Wisata Bumi
Bandung Cekungan Bandung, (Budi Brahmantyo & T. Bachtiar,
2009), sudah biasa dilakukan oleh beberapa komunitas:
GEOTREK 1 : (1) Kawah Ratu > (2) Kawah Upas > (3) Upas-Domas > (4)
Kawah Domas > (5) Jungle / Tea Walk >(6) Ciater
GEOTREK 2 : (1) Puncak Gunung Batu, Lembang > (2) Maribaya > (3)
Gerbang Desa Cibodas > (4) Kampung Batu Loceng > (5)
Gunung Bukit Tunggul
GEOTREK 6 : (1) Gunung Hawu > (2) PR. Pabeasan > (3) Stone Garden, Taman
Batu Puncak Pawon > (4) Tanjakan Frustasim > (5) Gua Pawon
> (6) Cibukur > (7) Pasir Kolecer

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

RENCANA PENGEMBANGAN (ROADMAP GEOPARK JABAR)

Kegiatan pengembangan 3G untuk geopark Jawa Barat di Badan


Geologi telah menghasilkan usulan indikator dan perencanaan
untuk pengembangan geopark di Jawa Barat dan :
1) Indikator Kinerja dan Sasaran Pengembangan Geopark
Parahyangan Jawa Barat
2) Roadmap Geopark di Jawa Barat
3) Rencana Tindak Lanjut (jangka pendek-jangka menengah)
Pengembangan Geopark di Jawa Barat

CATATAN:
Indikator Kinerja dan Sasaran Pengembangan Geopark di Jawa Barat ini telah
diusulkan ke Bappeda Jawa Barat pada tahun 2013;
ndikator kinerja dan sasaran serta roadmap dan rencana tindak lanjut
pengembangn geopark ini usulan dari tim kajian 3G Jawa Barat di Badan Geologi,
dan belum tentu seluruhnya diadopsi oleh Pemerintah Pem Provinsi Jawa Barat:
Mengingat perkembangan yang terjadi kemudian, roadmap dan rencana tindak
lanjut pengembangan geopark Jawa Barat tersebut perlu dikaji-ulang.
76

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

(1) INDIKATOR KINERJA PENGEMBANGAN GEOPARK JAWA BARAT 2013-2018

Indikator kinerja untuk terwujudnya geopark dalam Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2018 sbb:
1. Terwujudnya satu geopark yang diakui oleh UNESCO (GGN) di Jawa
Barat (indikator Gubernur Jawa Barat);
2. Ditetapkannya kebijakan dan atau regulasi Daerah Provinsi Jawa
Barat yang diperlukan sebagai landasan pengembangan geopark di
Jawa Barat;
3. Tercapainya riset terpadu (keragaman geologi, pusaka geologi,
keragaman hayati dan ekologinya, keragaman budaya dan
geowisata) dan deliniasi batas-batas zona (geoarea) untuk
pengusulan geopark Jawa Barat menjadi geopark Nasional dan
geopark global yang diakui UNESCO (geopark anggota GGN )
4. Tumbuhnya komunitas-komunitas yang memiliki kapasitas dalam
pengelolaan geopark Jawa Barat di wilayah provinsi Jawa Barat.
77

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

(2) SASARAN PROGRAM KEGIATAN GEOPARK JAWA BARAT 2013-2018 - 1


N
Indikator
o
Kinerja
1. Terwujudnya
satu geopark
yang diakui oleh
UNESCO (GGN
atau UGG:
Unesco Global
Geopark) di Jawa
Barat (indikator
Gubernur Jawa
Barat)

Sasaran Pencapaian Tahunan


2013
2014
2015
2016
2017
2018
Tercantumnya
1) Tercapainya 1
Tercapainya
Tercapainya
1) Dipertahankan 1) Dipertahankanarah kebijakan
(satu) lokasi
dosier
sertifikat UNESCO
-nya status
nya status
dan indikator
geopark
(proposal)
untuk satu
Parahiyangan
Parahiyangan
kinerja
National di
pendamping
geopark Jawa
West Java
West Java Global
pengembangan
Jabar
untuk
Barat
Global
Geopark sebagai
geopark Jawa
2) Ditetapkannya pengusulan
(Parahiyangan
Geopark
GGN
Barat menuju
Peraturan
geopark
West Java Global
sebagai GGN
2) Diresmikannya
geopark anggota
Gubernur yang Nasional Jawa Geopark) sebagai 2) Tercapainya
Pusat Riset
GGN (UGG)
berhubungan
Barat menjadi GGN
persiapan
Terintegrasi Geodalam RPJMD
dengan
anggota GGN
pembangunan
Bio-Eco-Culture
Provinsi Jawa
percepatan
(UGG)
Pusat Riset
kawasan geopark
Barat
perwujudan
Terintegrasi
GGN Jawa Barat
geopark di Jabar
Geo-Bio-EcoCulture
2. Ditetakannya
Tercantumnya
Ditetapkannya
Ditetapkannya
Ditetapkannya
Ditetapkannya
Ditetapkannya
kebijakan dan
kebijakan
kebijakan
kebijakan
kebijakan
kebijakan
kebijakan yang
atau regulasi
pendukung
konservasi terpadu
percepatan
penguatan
penumbuhan
terintegrasi di
Daerah Provinsi
sebagai landasan
geo-bio-ekopengembangan
fasilitas
kepedulian
bidang ekonomi,
Jawa Barat yang
percepatan
budaya/kearifan
masyarakat
pendukung dan
masyarakat dan
lingkungan dan
diperlukan
pengembangan
lokal untuk
(community
infrastruktur
pemangku
sosial budaya untuk
sebagai landasan
Geopark Jawa
pengembangan
development)
pendukung
kepentingan
peningkatan
pengembangan
Barat di dalam
Geopark Jawa
utk pengeloGeopark Jawa
untuk
pemanfaatan
geopark di Jawa
RPJMD Provinsi
Barat
laan geopark di
Barat
pengembangan
geopark di Jabar
Barat
Jawa Barat
Jawa Barat
geopark Jabar
78

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

(2) SASARAN PROGRAM KEGIATAN GEOPARK JAWA BARAT 2013-2018 - 2


N
Indikator
Sasaran Pencapaian Tahunan
o
Kinerja
2013
2014
2015
2016
1) Teridentifikasin 1) Ditetapkan-nya 1) Tercapainya
1) Terwujudnya
3. Tercapainya riset
terpadu (keragaman
ya indikasi
Deliniasi Zona/
hasil riset/
revitalisasai
geologi, pusaka
awal
Geoarea
penelitian
kebudayaan
geologi, keragaman
Zona/Geoarea
Geopark Jawa
terpadu (geolokal
hayati dan ekologinya,
Geopark Jawa
Barat, 3 lokasi
bio-ekoterutama
keragaman budaya
Barat
2) Tercapainya
budaya/
yang hampir
dan geowisata) dan
2) Teridentifikasi
hasil survei
kearifan lokal)
dilupakan
deliniasi batas-batas
dan
terpadu (geountuk
2) Dipertahank
zona (geoarea) untuk
terinventaribio-eko-budaya/
mendukung
annya
pengusulan geopark
sasinya indikasi
kearifan lokalpencapaian
kebudayaan
Jawa Barat menjadi
kekayaan
ekonomi) untuk
Geopark Jawa
dan kearifan
geopark Nasional dan
geologi,
mendukung
Barat
lokal yang
geopark global yang
biologi, ekologi
pencapaian
2) Tercapainya
telah ada di
diakui UNESCO
dan budaya
Geopark Jawa
model
kawasan
(geopark anggota
lokal di
Barat, 3 lokasi
pengembanga
GGN atau UGG)
masing-masing
n ekonomi
Zona/Geoarea
lokal berbasis
Geopark Jawa
geowisata
Barat

2017
Terwujudnya
inovasi
kegiatan
lanjutan
untuk
pembudayaan
kegiatan
penelitian
dan
kebudayaan
di kawasan
Geopark Jawa
Barat

2018
Terpeliharanya
kegiatan
penelitian
dan kegiatan
kebudayaan
yang telah
ada di
kawasan
Geopark Jawa
Barat

79

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

(2) SASARAN PROGRAM KEGIATAN GEOPARK JAWA BARAT 2013-2018 - 3


N
Indikator
o
Kinerja
4. Tumbuhnya
komunitaskomunitas yang
memiliki kapasitas
dalam
pengelolaan
geopark Jawa
Barat.

2013
2014
1) Terbentuknya
Tercapainya
organisasi
sosialisai
masyarakat yang
geopark kepada
melakukan
masyarakat yang
pengelolaan
berada di
geopark di
geoarea/zona
Zona/Geoarea
Geopark Jawa
Geopark Jabar
2)
Terlaksananya
Barat
pelatihan
pengelolaan
geopark kepada
masyarakat di
Zona/Geoarea
Geopark Jaba

Sasaran Pencapaian Tahunan


2015
2016
1) Tercapainya
Terlaksananya
inventarisasi
model
kekayaan geopengelolaan
bio-culture di
geopark oleh
setiap Zona/
komunitas/
Geoarea
organisasi
Geopark Jawa
masyarakat di
Barat oleh
organisasi
Zoba/Geo-area
masyarakat
Geopark jawa
setempat
Barat
2) Sosialisas
tentang geopark
oleh organisasi
masyarakat/kom
unitas kepada
anggota
masyarakat di
setiap Zona/
Geoarea
Geopark Jawa
Barat

2017
2018
Terlaksananya
Terpaliharanya
Kegiatankeberlangsunga
kegiatan yang
n kegiatan
dilakukan oleh masing- masing
komunitas untuk komunitas di
mengembangka Zona/geoarea
n kegiatan di
Geopark Jawa
Geopark jawa
Barat
Barat

Menuju Geopark Jawa Barat, Buku Kecil Sari Hasil Kegiatan Koordinasi dan Pengembangan Geopark

80

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

(3) PETA JALAN (ROADMAP) MENUJU TAMAN BUMI (GEOPARK)


GLOBAL, GEOPRAK PARAHYANGAN JAWA BARAT - 1
1. Januari: Inisiasi perencanaan
2. Mei: Verifikasi data geodiversitygeoheritage
3. Juli: FGD mengenai substansi kebijakan
dan kelembagaan dan kaitannya dengan
pengusulan dan pengelolaan geopark di
Jawa Barat
4. Agustus: Penetapan batas-batas serat
cakupan cluster atau zona atau geo-area
untuk geopark dan nama geoparknya
5. September: presentasi di APGN 2013
Jeju, Korsel
Evaluasi singkat: 1 dan 2: done perlu revisi, 3:
diganti dengan sosialisasi di 3 lokasi terpilih; 4:
belum terlaksana; 5: done!

1. Januari: SK Kepala BG tentang Kawasan


Cagar Alam Geologi Provinsi Jabar
2. Januari - September: Sosialisasi, FGD,
pengembangan komunitas calon
pengelola geopark
3. Februari: Perencanaan aktivitas ekonomi
4. Maret - September: Penguatan daya
dukung dan Infrasruktur untuk geopark
5. Mei: Perencanaan kebijakan yang
berkaitan pengembangan masyarakat
6. Oktober: SK Penetapan Geopark
Nasional
7. November: Presentasi Seminar
Internasional

81

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

(3) PETA JALAN (ROADMAP) MENUJU TAMAN BUMI (GEOPARK)


GLOBAL, GEOPRAK PARAHYANGAN JAWA BARAT - 2
1. Januari September: penyusunan
dosier (proposal) geopark Jawa Barat
untuk diajukan ke UNESCO
2. Januari-April: Kunjungan tim penilai
(assessor) UNESCO untuk melakukan
site visite dan advisory mission
terhadap geopark yang diusulkan
3. April: Pengembangan kebijakan
penumbuhan kepedulian masyarakat
dan pemangku kepentingan.
4. Mei-Juli: Evaluasi dan revisi dosier
5. Oktober Desember: Pengajuan
dosier ke GGN, evaluasi usulan
geopark

1. Januari- April: Proses penilaian dosier


oleh asessor GGN UNESCO
2. Februari-Mei : Evaluasi dan Revisi
hasil verifikasi tim UNESCO
3. Juli-Agustus: Field Assesment oleh
Assesor GGN UNESCO
4. September: Penetapan geopark Jabar
sebagai anggota GGGN pada Sidang
GGN UNESCO
5. Oktober Desember: Pengembangan
Kegiatan dan Program yang langung
ke sasaran Memuliakan Bumi,
Mensejahterakan Masyarakat di
geoarea geopark

82

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

(3) PETA JALAN (ROADMAP) MENUJU TAMAN BUMI (GEOPARK)


GLOBAL, GEOPRAK PARAHYANGAN JAWA BARAT - 3
1. Januari: Penerapaan DMO dalam
Pengembangan Geopark
2. Februari-Juni: Pengembangan
kebijakan pembangunan
berkelanjutan untuk Geowisata,
Geoheritage dan Geoedukasi
3. Maret Agustus : (1) Penguatan
fasilitas dan infrastruktu pendukung
kegiatan dan Daya Dukung Wilayah;
(2) Peningkatan kegiatan di kawasan
geopark
4. Maret September: Penyusunan
dosier (proposal) untuk geopark II
dan pengajuan dosier tersebut ke
GGN UNESCO;
5. Evaluasi geopark GGN yang ada

1. Januari- April: Proses penilaian oleh


asessor GGN untuk geopark II
2. Februari-Mei : Evaluasi dan Revisi
hasil verifikasi tim UNESCO geopark II
3. Juli-Agustus: Field Assesment oleh
Assesor GGN UNESCO geopark II
4. September: Penetapan geopark II
Jabar sebagai geopark GGN di Sidang
GGN UNESCO, Memuliakan Bumi,
Mensejahterakan Masyarakat
5. Oktober Desember : Evaluasi
geopark I dan perencanaan
pengembangan geopark I dan II
Jabar

83

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

(4) RENCANA TINDAK LANJUT (JANGKA PENDEK-MENENGAH)


PENGEMBANGAN GEOPARK PARAHYANGAN JAWA BARAT - 1

1.

2.

Penetapan indikator kinerja, sasaran dan perencanaan yang lebih


reliable: (1) Sinkronisasi dengan Pemprov Jabar (Bappeda dan SKPD
terkait) dan Pemkab/pemkot terkait dalam bidang Tata Ruang, konservasi,
pendidikan dan aktivitas ekonomi, penguatan infrastruktur, dll; (2)
Penyusunan Rencana Induk (master plan) Pengembangan 3G menjadi
Geopark di Jawa Barat (BG) 2014
Kebijakan dan Kelembagaan: (1) mengawal ditetapkannya SK Kepala
Badan Geologi sebagai salah satu landasan yang diperlukan untuk
mewujudkan geopark di Jawa Barat (a.l: SK tentang Kawasan Cagar Alam
Geologi Provinsi Jabar); (2) mendorong pemprov dan pemkab/ pemkot
untuk menetapkan kebijakan yang diperlukan (Tata Ruang,
pengembangan kapasitas kelembagaan di masyarakat, dll); (3) mendorong
terbentuknya task force atau pantia bersama untuk percepatan
terwujudnya Geopark Parahyangan Jawa Barat di tingkat provinsi dan
kabupaten/kota terkait; (4) mendorong terbentuknya kelembagaan yang
lebih mantap dari masyaralat di lokasi/ zona yang akang dikembangkan
menjadi geopark; (5) xxxxx (kegiatan lainnya) ? 2014 - 2015
84

3. Studi Kasus Pengembangan Geopark Jawa Barat

3.

4.

5.

(4) RENCANA TINDAK LANJUT (JANGKA PENDEK-MENENGAH)


PENGEMBANGAN GEOPARK PARAHYANGAN JAWA BARAT - 2
Status geopark: (1) penyusunan proposal (dosier) untuk penetapan
Geopark Nasional (BG); (2) penetapan (SK) Geopark Nasional untuk
Geopark Parahyangan, Jawa Barat 2014; (3) Penyusunan dosier
Geopark Parahyangan Jawa Barat untuk diajukan ke UNESCO sebagai
anggota GGN 2015; (4) mensukseskan kunjungan tim penilai (assessor)
UESCO untuk melakukan site visite dan advisory mission terhadap geopark
yang diusulkan 2016
Zonasi dan kegiatan di dalamnya: mendorong pemprov dan
pemkab/pemkot untuk: (1) menetapkan batas-batas fisik dan
administratif zona geopark yang akan diusulkan, (2) melakukan pendataan
zona geopark yang akan diusulkan dan kegiatan yang ada di dalamnya
berikut otoritas pelaku kegiatan; (3) penguatan daya dukung dan
infrastruktur 2014-2015
Sosialisasi dan publikasi: (1) pembuatan film dokumentar tentang
pengembangan 3G menjadi geopark di Jabar; (2) penyusunan buku
geowisata dan geotrek untuk pengembangan geopark Jabar (BG), (2)
keikutsertaan dalam seminar internasional (BG) --2014
85

4. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN
PENGEMBANGAN GEOPARK
11/18/2014

86

4. Identifikasi Permasalahan Pengembangan Geopark

PERMASALAHAN UMUM (1)


Permasalahan berikut, baik yang sudah atau/dihadapi saat ini maupun diperkirakan akan
muncul ke depan, teridentifikasi di zona/kawasan 3G/potensi geopark yang dikaji:
1) Pesatnya pembangunan sumber daya buatan atau lingkungan binaan menyebabkan
ancaman terhadap kelestarian lokasi/zona/kawasan pengembangan 3G (geodiversiti,
geoheritage dan geokonservasi) atau kawasan yang berpotensi menjadi geopark.
Ancaman itu a.l ditandai dengan: (1)
mulai
terjadinya
tumpang
tindih
penggunaan lahan, (2) mulai terjadinya kerusakan pada unsur geodiversiti/
geoheritage yang ada, beberapa diantaranya terancam hilang seperti jasper merah
di Tasikmalaya, (3) Unsur keragaman hayati yang sebelumnya dijumpai bersama
geodiversity/geheritage di kawasan tersebut, juga terancam hilang; bahkan
beberapa diantaranya disebut-sebut sudah punah seperti keberadaan banteng (Boss
sondaicus) di Ciletuh, (4) kegiatan penambangan, baik penambangan berizin
maupun tambang liar, mengancam keberadaan 3G atau potensi geoprak
setempat, seperti penambangan sirtu di Taman Lava Guntur, Cipanas, Garut;
penambangan emas liar di Sukabumi Selatan yang menyebabkan air terjun
Cimarinjung dan lainnya di kawasan Ciletuh keruh dan tidak lagi menarik; dan
penambangan pasir besi sepanjang pantai Selatan wilayah Tasikmalaya - Cianjur
yang menyebabkan kerusakan di sepanjang pantai tersebut.
87

4. Identifikasi Permasalahan Pengembangan Geopark

PERMASALAHAN UMUM (2)


1)

2)

3)

[lanjutan] Kegiatan pertambangan secara umum telah menyebabkan degradasi


(kerusakan) lingkungan; dan (5) perkembangan wisata umum (mass tourism) yang
tidak tertata juga dapat menurunkan kualitas lingkungan, nilai jual, daya tarik,
dan cenderung menimbulkan masalah tumpang tindih penggunaan lahan/
pengelolaan kawasan. Hal ini teridentifikasi seperti di Kawah Tangkubanparahu,
Subang; Kawah Talagabodas, Garut; pantai Pananjung, Pangandaran, dll.
Wisata umum yang berkembang pesat yang tidak diiringi dengan perhatian pada
masalah kebersihan, kesehatan dan penataan pemukiman dan lahan usaha,
telah menyebabkan masalah sampah yang berserakan di mana-mana, dan
lingkungan yang semrawut (Bhs. Sunda: sareukseuk), sehingga beberapa
lokasi/kawasan 3G atau potensi geopark menjadi tidak menarik lagi untuk
pengembangan wisata khusus seperti geowisata dalam geopark;
Infrastruktur ke lokasi/kawasan pada umumnya belum memadai. Di beberapa
tempat kondisi jalan banyak yang rusak dan tidak memungkinkan dilalui oleh
kendaraan roda empat, kecuali kendaraan double gardan (four-wheel drive/4x4).
Khususnya akses ke lokasi/ kawasan 3G / potensi geopark di Ciletuh dan sekitarnya,
Sukabumi Selatan dan Taman Jasper Merah, Tasikmalaya Selatan di beberapa ruas
masih perlu ditingkatkan; demikian pula akses ke kawasan Taman Fosil Tambaksari,
88

4. Identifikasi Permasalahan Pengembangan Geopark

PERMASALAHAN UMUM (3)


3)

(lanjutan) Ciamis. Beberapa ruas jalan penghubung di kawasan ini juga mengalami
kerusakan berat akibat adanya lalu lintas pengangkutan hasil tambang seperti di
Tasikmalaya Selatan Pangandaran tersebut.

4)

Tingkat pendidikan masyarakat di lokasi/ kawasan 3G atau potensi geopark


banyak yang masih rendah dan secara umum masyarakat belum mengenal konsep
3G maupun geopark. Sementara itu, aparat Pemerintah Daerah, mulai dari rurah/
kepala desa hingga ke pemerintahan kabupaten, masih belum mengenal atau
belum memilih konsep geopark (konsep pembangunan berbasis konservasi)
sebagai pilihan pembangunan. Visi pembangunan di Daerah masih lebih dominan
berorientasi pada pembangunan berbasis eksplorasi seperti pertambangan.
Beberapa kawasan, selain kawasan Ciletuh-Cikaso-Palabuhanratu, Sukabumi
Selatan; Tangkubanparahu-Citatah-Saguling, Subang-Bandung Barat-Bandung, dan
Pancatengah, Tasikmalaya Selatan, juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai
kawasan pengembangan 3G dan geopark, namun memerlukan penelitian yang
lebih intensif. Beberapa diantaranya perlu segera memiliki ketatapan batas-batas
kawasannya untuk menghindari tumpang tindih penggunaan lahan ke depan.
Kawasan tersebut antara lain:(1) Taman fossil di Tambaksari dan sekitarnya, Ciamis

5)

89

4. Identifikasi Permasalahan Pengembangan Geopark

PERMASALAHAN UMUM (4)


5)

6)
7)
8)

(lanjutan) berupa fossil langka mamalia dan bahkan manusia purba (gigi); (2)
Gunung Careme (Ciremei) dan sekitarnya, sebagian Kab. Cirebon, Kuningan dan
Majalengka (gunungapi, mataair dan danau/telaga maar, dll); (3) Kawasan Gunung
GunturKamojangWayang Windu - Papandayan, Garut dan Bandung (proses
gunungapi Kuarter, dll).
Sebagian besar lokasi masih memerlukan survei/verifikasi data lebih lanjut/
lebih rinci dan penataan lebih lanjut untuk pengembangan 3G dan geopark
Beberapa segmen infrastruktur jalan ada yang rusak atau belum memadai sebagai
akses ke lokasi pengembangan 3G;.
Ada beberapa lokasi pengembangan 3G yang pencapaian lokasi/site-nya tidak
dapat dilakukan di sepanjang waktu, seperti ke Kawah Gn. Gede, dll.

9) Kemacetan lalu lintas masih banyak terjadi di jalur jalan menuju lokasi
pengembangan 3G
10) Banyak lokasi, seperti di Cigugur, yang bertalian dengan adat istiadat dan

kepercayaan tertentu, sehingga perlu penanganan khusus dalam


pengembangannya.
90

4. Identifikasi Permasalahan Pengembangan Geopark

PERMASALAHAN KHUSUS (1)


1)

2)

Zona Pelabuhanratu-Ciletuh-Cikaso : (1.1) Potensi tumpang tindih penggunaan


lahan dengan kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh-Citireum dan Cagar Alam
Cibanteng, dibawah pengawasan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam
(BBKSDA) Jawa Barat; (1.2) Degradasi lingkungan akibat penambangan (terutama
tambang emas) di bagian hulu, (1.3) Akses jalan yang drusak berat di beberapa
ruas (a.l ruas Surade muara Cikadal, Ciletuh; Ujunggenteng Pangumbahan);
(1.4) Infrastruktur lain (penginapan, dan fasilitas umum lainnya) masih kurang; dan
lokasi-lokasi minatan yang cukup jauh dari kota besar (relatif terpelosok); (1.5) Di
beberapa lokasi, seperti Pelabuhanratu, sudah berkembang wisata massal (mass
tourism) dan sejumlah lokasi di kawasan ini telah menjadi obyek wisata khusus
melalui jalur tidak resmi/ individu, berpotensi adanya benturan kepentingan;
Zona Tangkubanparahu-Citatah-Saguling: (2.1) Saat ini merupakan aset wisata
yang penting bagi Daerah setempat (Kabupaten Subang), jumlah pengunjung selalu
meningkat dari waktu ke waktu. Wisata yang sudah berkembang disana adalah
ekoswisata dengan nama resmi Taman Wisata Alam Gunung Tangkubanparahu
(TWA GTP). Namun, keberadaan PT. Graha Rani Putera Persada (PT. GRPP) sebagai
pengelola TWA GTP ini ditengarai menjadi/berpotensi jadi masalah besar ke
depan
91

4. Identifikasi Permasalahan Pengembangan Geopark

PERMASALAHAN KHUSUS (2)


2)

[Zona Tangkubanparahu-Citatah-Saguling lanjutan 1] Kewenangan PT. GRPP


masih dipermasalahan oleh beberapa kalangan, khususnya oleh para penggiat
tradisi, adat dan kebudayaan lokal. Adanya indikasi bahwa Pemda Kab. Subang
berkurang pendapatannya dan pungutan biaya masuk ke areal TWA GTP yang lebih
besar dari biaya masuk areal wisata jenis TWA pada umumnya, setelah kawasan itu
dikelola oleh PT. GRPP, perlu ditelusuri lebih lanjut. Sebab, hal ini menyimpan bom
waktu permasalahan yang satu waktu ke depan dapat meledak. Sebuah laporan
dari komunitas adat di Subang menyebutkan bahwa keberadaan PT. GRPP disana
adalah tidak sah karena melanggar beberapa peraturan yang berlaku. Pernyataan
ini perlu diselidiki lebih lanjut, atau paling tidak, perlu diklarifikasi lebih jauh.
Sementara itu, adalah fakta bahwa telah terjadi beberapa kali dmonstrasi oleh
masyarakat di sekitar kawasan TWA TGP dan para penggiat kebudayaan dan seni
tradisi yang menyatakan protes dan penolakan atas kehadiran PT. GRPP sebagai
pengelola TWA TGP. Ada juga laporan dari penggiat geotrek yang batal melakukan
aktivitasnya melintasi kawasan TWA TGP karena dipungut biaya yang cukup besar
oleh pihak PT. GRPP; (2.2) Aktivitas Gn. T. Parahu yang kadang meningkat dan
menimbulkan letusan freatik perlu selalu diwaspadai/ dimitigasi yang baik agar
tidak mengganggu kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung kawasan TWA TGP
92

4. Identifikasi Permasalahan Pengembangan Geopark

PERMASALAHAN KHUSUS (3)


2)

[Zona
Tangkubanparahu-Citatah-Sagulinglanjutan
2]
(2.3)
Pesatnya
pembangunan sumber daya buatan dan aktivitas wisata umum (mass tourism)
menyebabkan masalah kebersihan (sampah, dll) dan penggunaan ruang

yang kurang tertata rapih di sekitar area kawasan yang dapat mengurangi
daya tarik kawasan tersebut konteks geopark; (2.4) Kegiatan penambangan

3)

yang terus berlanjut di sekita lokasi, seperti kasus penambangan


batugamping/batu kapur di kawasan karst Citatah, menurunkan nilai kawasan/
zona untuk diusulkan menjadi geopark, dan bentuk pelanggaran terhadap
ketetapan kawasan konservasi Cagar Alam Geologi yang telah ditetapkan untuk
areal tersebut; dan (2.5) Akses jalan ke lokasi minatan pengembangan 3G/ potensi
geopark pada kawasan ini umumnya jalan raya yang sibuk dan sering macer,
sehingga masalah transportasi / akses ke lokasi ini perlu diantisipasi dicarikan solusi
pemecahan masalahnya.
Zona Tasikmalaya Selatan Pangandaran: (3.1) Kawasan Jasper Merah di
Pancatengah yang dikenal pula sebagai Taman Jasper Merah Tasikmalaya Selatan,
merupaka kawasan unik, sekaligus sangat terancam. Pencurian besar-besaran
bongkah-bongkah Jaser Merah itu untuk dijual ke Luar Negeri (Jepang dan Korea
Selatan) di masa lalu, dan secara kecil-kecilan masih mungkin terjadi hingga saat ini
mengancam kelestarian sumber daya geodiversity/ geoheritage kawasan tersebut;
93

4. Identifikasi Permasalahan Pengembangan Geopark

PERMASALAHAN KHUSUS (4)


3)

[Zona Tasikmalaya Selatan- Pangandaran - lanjutan] (3.2) Kawasan ini juga


merupakan daerah endapan Mangan yang sudah ditambang sejak Zaman Belanda
dan sekarang umumnya tambang rakyat (Karangnunggal, dll); dan di pantainya
merupakan daerah endapan pasir besi dan logam ikutannya (Cipatujah, dll) yang
sekarang banyak ditambang. Khusus berkaitan dengan penambangan pasir,
kegiatan tersebut dapat dikatakan masif, berlangsung di sepanjang pantai Selatan,
mulai dari wilayah Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cianjur hingga Sukabumi,
pada segmen-segmen pantai yang memiliki endapan pasir besi. Permasalahan
utama yang dihadapi adalah rusaknya infrastruktur jalan raya disebabkan lalu

lalang kendaraan berat yang umumnya sebagai sarana angkutan hasil


penambangan pasir besi. Hal ini dari sudut pandang pembangunan berbasi
konservai, seperti pengembangan 3G dan geopark, menjadi nilai minus kawasan
ini. Moratorium penambangan pasir yang telah diberlakukan tampak tidak terlalu
efektif dengan indikasi masih banyak dijumpainya penambangan pasir di kawasan
pantai Pangandaran Tasikmalaya Selatan; (3.3) Masalah lainnya adalah kawasan
pantai yang sudah padat dengan kegiatan wisata umum seperti di pantai
Pangandaran.
***
94

4. Identifikasi Permasalahan Pengembangan Geopark

1.

2.

3.

4.
5.

RESUME RANKING PERMASALAHAN


KEBERSIHAN dan PENATAAN kawasan yang terkesan semrawut
dan masih belum memenuhi KRITERIA wisata alam, apalagi
waisata berbasis geologi (geowisata) untuk geopark
PERAN SERTA / KETERLIBATAN masyarakat berikut
organisasinya sebagai pengelola belum banyak. Dikawasan
Gn. Tangkubanparahu Citatah Saguling, bahkan belum ada
yang menyatakan sebagai pengelola
STATUS PENGUASAAN LAHAN dan KEGIATAN, terindikasi
berpotensi TUMPANG TINDIH (sebagian, seperti kasus GRPP di
TWA Gn. Tangkubanparahu memberikan masalah tertentu
untuk pelaksanaan geopark
INFRASTRUKTUR dan SARANA lainnya masih kurang
DUKUNGAN dari mitra/ stake-holder lainnya juga kurang
(diantaranya, karena pengetahuan & pengalaman yang kurang
***

95

5.

11/18/2014

RENCANA PENGEMBANGAN GEOPARK


INDONESIA (SEGI WARISAN GEOLOGI)
DAN REKOMENDASI
96

5. Rencana Pengembangan Geopark Indonesia dan Rekomendasi

PENGEMBANGAN DARI SEGI WARISAN GEOLOGI


1. Rencana pengembangan ini hanya berdasarkan kandungan
warisan geologinya, belum mempertimbangkan segi lainnya,
seperti: kesiapan pemerintah daerah untuk mendukung,
hadirnya komunitas (bottom up) yang mau mengelola, dst.
2. Warisan geologi yang ada pun masih banyak yang perlu
diverifikasi untuk keperluan pengusulan geopark, maupun
untuk integrasinya dengan unsur geopark yang lain
(biodiversity, cultural diversity, wisata yang sudah ada, dll).

11/18/2014

97

5. Rencana Pengembangan Geopark Indonesia dan Rekomendasi

36 Lokasi Geoheritage di Indonesia (Badan Geologi, KESDM, 2011)

94
8

98

106

102

110

122

118

114

130

126

134

138

142
8

Kalimantan
Sulawesi
Maluku-Papua

P. WE

LAUT MINDANAO

LAUT CINA SELATAN


BANDA ACEH

3
3
2

SKALA (SCALE) 1 : 10 000 000

100

_
P. NATUNA

KEP. TALAUD

4
MEDAN

KEP. SANGIR

KEP. ANAMBAS

P. SIMEULEU

50

100

200

300

400 km

P. MOROTAI

LAUT NATUNA
LAUT SULAWESI
MANADO

P. NIAS

P. BINTAN
PAKANBARU

P. HALMAHERA

TERNATE

KEP. RIAU

GORONTALO

KEP. BATU

21

PONTIANAK

P. WAIGEO
KEP. TOGIAN

LAUT MALUKU

SAMARINDA

P. BACAN
PADANG

MANOKWARI

PALU

18

P. SIBERUT
JAMBI
P. BANGKA

P. SIPORA

KEP. PAGAI

LAUT CAROLINE

P. OBI
KEP. SULA

KEP. BANGAI

P. MISOOL
P. YAPEN

PALANGKARAYA

PANGKALPINANG

P. BIAK

LAUT SERAM

JAYAPURA

P. BELITUNG

22

PALEMBANG

P. SERAM

P A P U A
(IRIANJAYA)

P. BURU

BANJARMASIN

17

P. LAUT

BENGKULU

AMBON
KENDARI

TIMIKA

LAUT JAWA
P. ENGGANO

P. BUTON

MAKASSAR

BANDARLAMPUNG

KEP. ARU

16

12
94

SEMARANG

BANDUNG

Sumatera
13
11
Jawa
9
Bali-Nusa Tenggara 6
98

102

Tsunami Aceh Besar, NAD


Lut Tawar, Takengon, NAD
Kaldera Danau Toba, Sumut
Lembah Harau, Sumbar
Danau Maninjau, Sumbar
Danau Singkarak, Sumbar
Bekas Tambang Sawahlunto
Tektono-Vulkano Kerinci
Fosil Flora Merangin, Jambi
11/18/2014

KEP. TUKANGBESI

P. KABAENA

SERANG

LAUT BANDA
KEP. KAI

P. BAWEAN

JAKARTA

P. SELAYAR

LAUT FLORES

LAUT ARU

KEP. KANGEAN

P. MADURA
SURABAYA

KEP. BABAR
P. BALI

20

P. YAMDENA

P. WETAR

YOGYAKARTA

13

P. ALOR

P. SUMBAWA

P. LOMBOK

P. KOLEPOM

P. FLORES

MATARAM
DENPASAR

LAUT ARAFURA

LAUT TIMOR
P. SUMBA

+ _ + _ + _
P. TIMOR

LAUT SAWU
KUPANG
P. SAWU

P. CHRISMAST

106

P. ROTE

110

114

Bekas Tambang Rejanglebong,


Bengkulu
Danau Vulkano Ranau, Sumsel
Gunung Krakatau, Lampung
Bayah Dome, Banten
Melange Ciletuh, jabar
Pegunungan aktif Priangan
Cukangtaneuh, Pangandaran
Dataran Tinggi Dieng, Jateng

118

122

126

(Courtesy: Oki Oktariadi, 2013)

Gunung Merapi, Jateng


Karst Pegunungan Sewu
Lumpur Sidiarjo, Jatim
Komplek Gunung Bromo, Jatim
Kaldera Batur, Bali
Gunung Rinjani, Lombok
Gunungapi Purba Bawah Laut
Tanjung Aan, Lombok
Kaldera Tambora, Sumbawa

130

134

138

12
142

Gunung Kalimutu, Flores


Danau Rawa Sentarum, Kalbar
Karst Sangkurilang-Mangkaliat
Delta Mahakam
Kars Maros, SulSel
Danau Tektonik Metano, Sulsel
Kaldera Danau Tondano, Sulut
Karst Tajaampat, Papua
Taman Lorentz, Papua
98

5. Rencana Pengembangan Geopark Indonesia dan Rekomendasi

KRITERIA PENGEMBANGAN DAN LOKASI - 1


SIMBOL

11/18/2014

KRITERIA

LOKASI

Existing, global geopark, perlu 1.


dipertahankan agar tidak sampai
dicabut statusnya

Global
Bali

Statusnya sekarang sebagai


geopark
nasional
perlu
ditingkatkan menjadi geopark
global (diakui UNESCO)
Perlu
pengawasan
&
pemeliharaan atas pengelola
dan perangkat geopark yang ada
saat ini
Wisata umum dan di beberapa
lokasi sudah geowisata sudah
berlangsung

Geopark
Nasional
Merangin, Jambi
Geopark
Nasional
Gunungsewu,
DI
Yogyakarta-Jawa TengahJawa Timu
Geopark Nasional Rinjani,
Lombok,
Nusatenggara
Barat
Geopark Nasional Kaldera
Toba, Sumatera Utara

2.
3.

4.

5.

Geopark

Batur,

99

5. Rencana Pengembangan Geopark Indonesia dan Rekomendasi

KRITERIA PENGEMBANGAN DAN LOKASI - 2


SIMBOL

KRITERIA
Saat ini sedang dalam proses
diusulkan,/ditargetkan untuk
menjadi geopark nasional, atau
Termasuk warisan geologi
penting
Wisata
umum
dan/atau
geowisata sudah berlangsung
di beberapa tempat
Sudah ada yang mengusulkan
ke Badan Geologi dari pihak
pemerintah
atau
mitra
setempat, baik melalui surat
resmi atau datang langsung
berkonsultasi
Proses
menjadi
geopark
diperkirakan relatif cepat

11/18/2014

LOKASI
6.
7.
8.
9.

10.
11.
12.

13.

14.

Ciletuh, Sukabumi Selatan,


Jawa Barat
Belitung, Bangka Belitung
Bromo, Jawa Timur
Merapi, DI Yogyakarta - Jawa
Tengah
Karst Maros Toraja,
Sulawesi Selatan
Karst Sangkulirang-Tarakan,
Kalimantan Timur
Bunaken Kaldera TondanoGunungapi
Bawah
Laut,
Sulawesi Utara
Kaldera Maninjau Lembah
Harau Solok, Sumatera
Barat
Tambora Satonda, NTB 100

5. Rencana Pengembangan Geopark Indonesia dan Rekomendasi

KRITERIA PENGEMBANGAN DAN LOKASI - 3


SIMBOL

11/18/2014

KRITERIA

LOKASI

Termasuk warisan geologi


penting/ sangat penting
Wisata
umum
dan/atau
geowisata sudah berlangsung
di beberapa tempat
Belum ada yang mengusulkan
dari daerah setempat
Proses
menjadi
geopark
diperkirakan relatif sulit/
lambat
Penduduk kurang/ daerah
yang
relatif
belum
berkembang

15. Pulau Komodo, NTT


16. Kelimutu, Flores, NTT
17. Danau Tektonik Metano,
Sulawesi Selatan
18. Rajaampat, Papua Barat

101

5. Rencana Pengembangan Geopark Indonesia dan Rekomendasi

PENGEMBANGAN GEOPARK INDONESIA

BADAN GEOLOGI

KEMENTRIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

5
12

11

13

7
10
6

8 1 414

17

15 16

18

5. Rencana Pengembangan Geopark Indonesia dan Rekomendasi

RANGKUMAN - 1
1. GEOPARK adalah sebuah pilihan pembangunan untuk
membangun wilayah secara berkelanjutan dengan cara
menjadikan sumber daya alam sebagai sumber
pertumbuhan dan bukannya sebagai sumber daya untuk
dieksploitasi/ dihabiskan
2. Unsur atau syarat sebuah kawasan dapat menjadi geopark
adalah pada kawasan itu terdapat : Keragaman Geologi,
Keragaman Hayati dan Keragaman Budaya dengan kriteria
pengembangan
tertentu
(minimal
lima
kriteria)
sebagaimana disarankan oleh UNESCO. Adapun kegiatan
yang harus ada pada sebuah kawasan geopark adalah: 1)
Konservasi, 2) Pendidikan, dan 3) Pengembangan ekonomi
masyarakat yang bertumpu pada geowisata;
11/18/2014

103

5. Rencana Pengembangan Geopark Indonesia dan Rekomendasi

RANGKUMAN - 2
3. Pengembangan Geopark diharapkan mampu mengintegrasikan
komponen sumber daya alam (geodiversity dan biodiversity)
serta budaya dalam suatu kawasan untuk mendukung
program konservasi, edukasi dan pemberdayaan ekonomi
masyarakat secara regional;
4. Penyelenggaraan geopark medatangkan keuntungan yang
besar dengan lingkungan tetap terpelihara (pembangunan
berkelanjutan), contoh: Cina dan Korea (Pulau Jeju) ;
5. Melihat pelaksanaan geopark di negara lain, tampak bahwa
tidak perlu / tidak ada berbenturan pelaksanaan diantara
instasi Pemerintah/ Pemerintah Daerah, misal: antara Dinas
Kehutanan dengan Dinas Pertambangan dan Energi, dan
lainnya. Yang terjadi bahkan saling mendukung karena
semuanya berpijak pada azas keuntungan bersama, baik sosial
budaya, ekonimo, maupun lingkungan;
11/18/2014

104

5. Rencana Pengembangan Geopark Indonesia dan Rekomendasi

REKOMENDASI - 1
1. Aspek yang paling utama adalah menumbuhkan BUDAYA
BERSIH (kebersihan diri dan lingkungan/ higienis dan sanitasi
lingkungan yang baik), hidup aman dan tertib, dan lingkungan
tertata. Sebab, faktor-faktor itulah yang merupakan prasyarat
masyarakat maju dan berbudaya. Untuk itu, sosialisasi , selain
diarahkan untuk mengenal geopark dan komponennya serta
keterampilan menjalankan usaha wisata (dengan berbagai
pendukungnya) berbasis geologi (geowisata), juga perlu
dibiasakan hidup bersih, tertib, aman, dan lingkungan tertata;
2. PERAN SERTA dan KETERLIBATAN MASYARAKAT harus
secepatnya ditumbuhkan. Lebih banyak anggota masyarakat
yang mengenal geopark dan berusaha ke arah
penyelenggaraannya itu lebih baik. Setiap anggota masyarakat
di lokasi zona inti geopark harus mengenal konsep tersebut
dan aktif mendukungnya. Untuk itu, pembinaan, sosialisasi dan
pelatihan aktif perlu dilakukan di lokasi target;
11/18/2014

105

5. Rencana Pengembangan Geopark Indonesia dan Rekomendasi

REKOMENDASI - 2
3. Siapa saja, baik dari Masyarakat, LSM, Swasta, dan Pemerintah
dapat (bahkan harus) berperan serta jika ingin geopark di Jawa
Barat segera terwujud. Peran serta tersebut dapat dibagi
menjadi dua bagian: 1) peran serta yang bersifat umum,
seperti menjaga kebersihan, ketertiban, keamanan dan
kenyamanan lingkungan; dan 2) peran serta bersifat
khusus, seperti: menyelenggarakan geowisata / geotrek

di lingkungan geopark, membangun galeri untuk


kelengkapan geopark, dll;
4. Untuk peran serta yang bersifat umum, dapat langsung
dilaksanakan oleh masing-masing komponen masyarakat,
swasta, dan Pemerintahan. Adapun untuk peran serta yang
bersifat khusus seharusnya dikonsultasikan dan/atau
dikoordinasikan dengan Pemerintah yang memiliki otoritas
dalam pengembangan geopark.
11/18/2014

106

5. Rencana Pengembangan Geopark Indonesia dan Rekomendasi

REKOMENDASI - 3
5. Harus segera di-DELINIASI dan diketahui STATUS LAHAN yang
akan diusulkan menjadi geopark. Sebaiknya Pemerintah/
Pemerintah Daerah menguasai lahan tersebut. Atau, menjalin
kerjasama dan kesepahaman untuk mengembangkan georpak
dengan para pihak pemilik lahan. Kemungkinan tumpan tindih
penggunaan lahan harus dihindari sejak awal;
6. INFRASTRUKTUR dan SARANA lainnya pendukung geopark
harus segera dilengkapi dengan dimotori oleh Pemerintah dan
masyarakat melalui pemerintah desa-nya masing-masing
didorong untuk swadaya melakukan perbaikan/ pelengkapan
infrastruktur dengan pendanaan dari berbagai sumber yang
dimungkinkan (CSR, dll);
7. Perlu sosialisasi dan pelatihan yang menghasilkan kemandirian
masyarakat di zona geopark dalam menjalankan usaha-usaha
yang merupakan bagian dari manajemen geopark.
11/18/2014
107
***

11/18/2014

108

LAMPIRAN FOTO-FOTO
STATUS DAN RENCANA PENGEMBANGAN GEOPARK
INDONESIA
SEGI KONSERVASI WARISAN GEOLOGI
oleh:

Oman Abdurahman
Ketua Tim Geopark Jawa Barat 2013/ Kepala Bagian Rencana dan Laporan/
Pemimpin Redaksi GEOMAGZ, Majalah Geologi Populer Badan Geologi

FGD Pariwisata - Geopark Forum FGD ITB81

Menarah MTH, Jl. Letjen MT Harjono Kav 23, Tebet, Jakarta


04 November 2014
11/18/2014

109

Peta Geologi Lembar Jampang-Balekambang (Sukamto, 1975)

Teluk Ciletuh dilihat dari Puncak Darma

Foto: Ronald Agusta

Amfiteater alam, Ciletuh, dilihat dari Panenjoan

Foto: Oman Abdurahman

Curug Awang, Sungai Ciiletuh, Ds. Tamanjaya, Kec. Ciemas

Foto: Oman
RonaldAbdurahman
Agusta

Curug Puncakmanik, Sungai Ciiletuh, Ds. Tamanjaya, Kec.


Ciemas

Foto:Ronald
Oman
RonaldAbdurahman
Agusta
Foto:
Foto: OmanAgusta
Abdurahman

Curug Cimarinjung(kiri) & di pen Curug Cimarinjung kanan), Ciemas

Foto:Ronald
Oman
RonaldAbdurahman
Agusta
Foto:
Agusta

Pulau Mandra, Ciletuh

Foto:
Oman
Ronald
Agusta
Foto:
Foto:Ronald
RonaldAbdurahman
Agusta
Agusta
Foto:
Ronald
Agusta

Lava Bantal, Pulau Kunti, Ciletuh

Foto: Oman
RonaldAbdurahman
Agusta
Foto:
Agusta
Foto: Ronald
Ronald
Agusta

FOTO: DENI SUGANDI

BATU BERBENTUK KODOK, CILETUH, SUKABUMI

Batununggal, Sodong, Ciletuh

Foto: Ronald
Oman Abdurahman
Agusta
Foto:
Foto: Ronald
Ronald Agusta
Agusta

Batu Batik, Ciitirem, Ciletuh

Foto:Ronald
Oman
Rezha
RonaldAbdurahman
Agusta
Foto:
Agusta

Geologi Lembar Cinajur (Sujatmiko, 1973)

Peta Geologi Lembar Bandung, (Silitonga, 1972)

Foto: Koleksi Budi Brahmantyo

Sesar Lembang

Foto: Koleksi Budi Brahmantyo

Sesar Lembang

Foto: Koleksi Budi Brahmantyo

Lava Pahoehoe Cikapundung: 50 ka

Foto: Koleksi Budi Brahmantyo

Curug Dago: Lava 48 ka


Foto: Koleksi Budi Brahmantyo

Gunung Hawu, Citatah


Foto: Koleksi Budi Brahmantyo

Pr. Bancana
Gunung Masigit
Pr. Pawon
Pr. Pabeasan

Foto oleh R.P. Koesoemadinata

Karang Panganten
Pasir Pawon

Foto: Koleksi Budi Brahmantyo

Ekskavasi BAB Oktober 2003

Foto: Koleksi Budi Brahmantyo

Taman Batu,
Puncak Pr. Pawon

Foto: Koleksi Budi Brahmantyo

Peta Geologi Lembar Karangnunggal (Sutrisna dkk, 1992)

Peta Geologi Lembar Pangandaran (Simanjuntak


& Surono, 1992)

Jasper Merah & Kuning, Sungai Cimedang, Tasikmalaya

Foto: Deni Sugandi

Jasper Merah & Kuning, Sungai Cimedang, Tasikmalaya

Foto: Deni Sugandi

Jasper Merah & Kuning, Sungai Cimedang, Tasikmalaya (di saat air bening)

Foto: Koleksii Deni Sugandi

Jasper Merah & Kuning, Sungai Cimedang, Tasikmalaya (di saat air bening)

Foto: Koleksii Deni Sugandi

Jasper Merah di Tengah Sawah, Pancatengah, Tasikmalaya

Foto: Deni Sugandi

Pantai Karangtawulan, Tasikmalaya

Foto: Ronald Agusta

Cukangtaneuh, Cijulang, Pangandaran

Foto: Deni Sugandi

Oray-orayan para pe-body-rafting, Cukangtaneuh,


Cijulang, Pangandaran

Foto: Deni Sugandi

Hujan abadi, Cukangtaneuh, Cijulang, Pangandaran

Foto: Deni Sugandi

Kehijauan di tengah sungai dan batukapur, Cukangtaneuh,


Cijulang, Pangandaran

Foto: Deni Sugandi

Batulayar, Pananjung, Pangandaran

Foto: Deni Sugandi

Anda mungkin juga menyukai