Anda di halaman 1dari 45

Penetapan Waktu Pengambilan Cuplikan dan Asumsi Model

Kompartemen serta Pemilihan Dosis dalam Farmakokinetik


I. TUJUAN
1. Agar mahasiswa mampu memperkirakan model kompartemen berdasarkan kurva
semilogaritmik kadar obat dalam darah/plasma lawan waktu.
2. Agar mahasiswa mampu menetapkan jadwal dan pencuplikan untuk pengukuran
parameter farmakokinetik berdasarkan model kompartemen suatu obat.
3. Agar mahasiswa mampu menggunakan dosis yang tepat untuk subyek uji.
II. DASAR TEORI
Konsentrasi obat dalam bak setelah pemberian suatu dosis ditentukan oleh dua
parameter :
1. Volume cairan bak
2. Eliminasi obat persatuan waktu
Konsentrasi obat bergantung pada waktu, yang disebut sebagai variable
tergantung dan bebas. Dari data ini dapat diperkirakan model farmakokinetik yang
kemudian diuji kebenarannya, dan selanjutnya diperoleh parameter farmakokinetiknya.
(Shargel, 1988)
Model farmakokinetik adalah suatu hubungan matematik yang menggambarkan
perubahan konsentrasi terhadap waktu dalam sistem yang diperiksa. (Mutschler, 1991)
Metode analisis kompartemental digunakan untuk memperkirakan dan menentukan secara
kuantitatif apa yang terjadi terhadap obat sebagai fungsi waktu dari saat diberikan sampai
waktu dimana obat tersebut sudah tidak ada lagi di dalam tubuh. Sehingga salah satu
masalah yang muncul dalam menentukan dosage regimen yang lebih akurat atau dalam
hal interpretasi yang lebih tepat terhadap respons biologis terhadap dosis yang diberikan
adalah sulitnya menentukan konsentrasi obat pada tempat aktifnya dapat diatasi.
Model farmakokinetik berguna untuk :
1. Memperkirakan kadar obat dalam plasma, jaringan, dan urin pada berbagai
pengaturan dosis.
2. Menghitung pemgaturan dosis optimum untuk setiap penderita secara individual.
3. Memperkirakan kemungkinan akumulasi obat dan atau metabolit-metabolitnya.
4.

Menghubungkan konsentrasi obat dengan aktivitas farmakologik atau toksikologik.

5.

Menilai perbedaan laju atau tingkat availabilitas antar formulasi (bioekivalensi).

6.

Menggambarkan perubahan faal atau penyakit yang mempengaruhi absorpsi,


distribusi atau eliminasi obat.

7.

Menjelaskan interaksi obat. (Shargel, 1988)


Suatu kompartemen bukan suatu daerah fisiologik atau anatomik yang nyata, tapi

dianggap sebagai suatu jaringan atau kelompok yang mempunyai aliran darah dan afinitas
obat yang sama. Pencampuran obat dalam suatu kompartemen terjadi secara cepat dan
homogen sehingga kadar obat mewakili konsentrasi rata-rata dan tiap-tiap molekul obat
mempunyai kemungkinan yang sama untuk meninggalkan kompartemen.
MACAM-MACAM MODEL KOMPARTEMEN
Obat dalam tubuh berada dalam keadaan dinamik dan mengalami berbagai proses
kinetik secara serentak. Untuk mempermudah memperkirakan aksi obat, maka dibuat
penyederhanaan suatu anggapan mengenai pergerakan obat dalam sebuah model yang
menggambarkan sistem biologis dalam istilah matematik. Model ini dirancang untuk
meniru proses laju absorbsi, distribusi, dan eliminasi obat yang memungkinkan
pengembangan persamaan untuk menggambarkan konsentrasi obat dalam tubuh sebagai
fungsi waktu.
1. Model Mammilary
Model Mammillary merupakan model kompartemen yang paling umum digunakan
dalam farmakokinetika. Model ini terdiri atas satu atau lebih kompartemen perifer
yang dihubungkan dalam satu kompartemen sentral. Kompartemen senntral mewakili
plasma

dan

jaringan-jaringan

yang

perfusinya

tinggi

dan

secara

cepat

berkesetimbangan dengan obat. Model Mammillary dapat dianggap sebagai suatu


sistem yang berhubungan secara erat, karena jumlah obat dalam setiap kompartemen
dalam sistem tersebut dapat diperkirakan setelah obat dimasukkan ke dalam suatu
kompartemen tertentu. Bila suatu obat diberikan secara intravena (i.v.), maka obat
secara langsung akan masuk ke dalam kompartemen sentral. Eliminasi obat dari
kompartemen sentral terjadi karena organ-organ yang terlibat dalam eliminasi obat,
terutama ginjal dan hati, merupakan jaringan yang diperfusi secara baik.
Terdapat beberapa model kompartemen :
Model satu kompartemen terbuka, menganggap bahwa berbagai perubahan
kadar obat dalam plasma mencerminkan perubahan yang sebanding dengan
kadar obat dalam jaringan. Tetapi, model ini tidak menganggap bahwa

konsentrasi obat dalam tiap jaringan tersebut adalah sama dalam berbagai
waktu.

Model dua kompartemen terbuka, dianggap bahwa obat terdistribusi dalam


dua kompartemen. Kompartemen pertama dikenal sebagai kompartemen
sentral yaitu darah, cairan ekstravaskuler, dan jaringan-jaringan dengan perfusi
tinggi, kompartemen ini secara cepat terdifusi oleh obat. Kompartemen kedua
merupakan kompartemen jaringan yang berisi jaringan-jaringan yang
berkesetimbangan secara lambat dengan obat. Metode ini menganggap obat
tereliminasi dari kompartemen sentral.

Model tiga kompartemen terbuka, adalah suatu perluasan dari model dua
kompartemen, dengan tambahan kompartemen jaringan dalam. Suatu obat
yang menunjukan perlunya model tiga kompartemen terbuka didistribusi
secara cepat dalam kompartemen sentral dengan perfusi tinggi, kurang cepat
ke dalam kompartemen kedua atau jaringan, dan sangat lambat pada
kompartemen ketiga atau jaringan dalam, yang terdiri dari jaringan yang

rendah perfusinya seperti tulang dan lemak. Kompartemen jaringan dalam,


mungkin juga memerankan ikatan obat yang kuat dalam jaringan tersebut.

k
Model 1
Model satu kompartemen terbuka, injeksi intravena (i.v)

Ka

Model 2

Model satu kompartemen terbuka dengan absorbsi orde pertama

K12

K21
Model 3
Model dua kompartemen terbuka, injeksi intravena (i.v)

K12

Ka

K21
Model 4

Model dua kompartemen terbuka dengan absorbsi orde pertama


( Shargel, 1988 )
2. Model Caternary
Model ini terdiri atas kompartemen-kompartemen yang bergabung jadi satu dengan
yang lain menjadi satu deretan kompartemen. Oleh karena model carternary tidak
dapat dipakai pada sebagian besar organ yang fungsional dalam tubuh yang secara
langsung berhubungan dalam plasma, maka model ini tidak digunakan sesering model
mammillary.
3. Model Fisiologik (model aliran darah atau perfusi)
Model ini merupakan model farmakokinetik yang didasarkan atas data anatomik dan
fisiologik yang diketahui perbedaan utama antara model perfusi dan model
kompartemen yang lazim adalah :
1) Pertama, tidak dibutuhkan data yang tepat dalam model perfusi. Konsentrasi
obat dalam berbagai jaringan diperkirakan melalui ukuran jaringan organ,
aliran darah, dan melalui percobaan ditentukan perbandingan obat dalam
jaringan darah.

2) Kedua, aliran darah, ukuran jaringan, dan perbandingan obat dalam jaringan
darah dapat berbeda sehubungan dengan kondisi patofisiologik tertentu.
3) Ketiga, model ini dapat diterapkan pada beberapa spesies dan dengan beberapa
data obat pada manusia dapat diekstrapolasikan.
Jumlah kompartemen jaringan, dalam satu model perfusi berbeda-beda
tergantung dari obatnya. Sebagai ciri khas, jaringan atau organ yang tidak ditembus oleh
obat dikeluarkan dari model ini. Dengan demikian, organ-organ seperti otak, tulangtulang, dan bagian-bagian lain sistem saraf pusat sering tidak dimasukan dalam model,
karena hampir semua obat mempunyai daya tembus yang kecil ke dalam organ-organ
tersebut. (Shargel, 1988)

Satu Kompartemen

Dua Kompartemen

Intravaskuler

Ekstravaskuler

Obat mempunyai model satu kompartemen jika setelah diberikan obat segera
terdistribusi dalam ruang distribusi yang dapat dilalui dengan merata. Jika mungkin
terjadi proses eliminasi, model satu kompartemen disebut satu kompartemen terbuka.
Kinetika obat dikatakan mengikuti model satu kompartemen jika kurva yang didapat
menunjukkan kurva berupa garis lurus (monofase).
Pada model dua atau lebih kompartemern terjadi distribusi obat ke dalam ruangan
distribusi yang dapat dilewatinya dengan kecepatan yang berbeda-beda. Sehingga dapat
dibedakan antara kompartemen pusat dan kompartemen perifer. Apabila pertukaran zat
antara kompartemen perifer dan kompartemen pusat sangat lambat disebut kompartemen
dalam. Model dua kompartemen kurva yang terjadi berbentuk lengkungan (bifase).

Salah satu faktor penting untuk mencapai keberhasilan terapi selain dosis dan
frekuensi pemberian, adalah cara pemberian obat yang tepat karena sangat berpengaruh
terhadap kadar obat dalam darah (Rowland & Tozer, 1980).
Waktu pengambilan obat dalam media cairan hayati (sampling time) dan perkiraan
model kompartemen memiliki hubungan keterkaitan. Untuk menghindari kesalahan
dalam penetapan model farmakokinetik, terutama untuk obat yang diberikan secara i.v,
waktu sampling hendaknya dilakukan sedini mungkin sesudah pemberian obat. Analisis
model kompartemen dikerjakan mengikuti metode plot kurva semilogaritmik antara kadar
obat vs waktu dan atau dihitung secara matematika. Jika kinetika obat setelah pemberian
ekstravaskuler mengikuti model dua kompartemen terbuka, dianjurkan pada waktu
pencuplikan adalah tiga titik pada tiap tahap absorbsi, sekitar puncak, distribusi, dan
eliminasi. Pencuplikan pada tahap distribusi tidak diperlukan jika kinetiknya mengikuti
model satu kompartemen terbuka.
Lama pengambilan cuplikan juga perlu diperhatikan. Jika sebagai cuplikan
digunakan darah, pencuplikan dilakukan 3 5 kali T eliminasi obat karena diasumsikan
kadar obat yang dapat dianalisis pada waktu tersebut mencapai 90-95% kadar obat total.
Jika digunakan urin, pencuplikan dilakukan 7 10 T eliminasi berdasarkan asumsi
bahwa pada waktu tersebut kadar obat yang diekskresikan sudah mencapai 99% kadar
obat total.
Dosis yang akan diberikan pada subyek uji harus diketahui terlebih dahulu.
Pemilihan dosis dapat mengacu pada LD 50 obat yang akan diuji. Perbandingan harga LD50
oral

lawan intra vena dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang

absorbabilitas obat sebagai fungsi dari pemberian peroral. Jika informasi ini tidak tersedia
dapat digunakan dosis awal sebesar 5-10 % dari LD50 intravena. (Kaplan,1973) Pemilihan
dosis juga harus memperhatikan adanya fenomena kinetika yang tergantung dosis, yaitu
fenomena yang menunjukkan adanya perubahan parameter farmakokinetika obat bila
dosisnya berubah. Keadaan ini berkaitan dengan asumsi orde kinetika obat tersebut.
Kinetika diasumsikan mengikuti orde nol bila menunjukkan fenomena tergantung
dosis. Tapi bila parameter farmakokinetika obat tidak dipengaruhi oleh perubahan dosis,
maka dianggap mengikuti orde pertama. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan
harga waktu paruh eliminasi (T) obat setelah pemberian beberapa dosis yang berbeda.
Jika harga T yang diperoleh berbeda akibat perbedaan dosis yang diberikan, maka
kinetika obat tersebut menunjukkan fenomena tergantung dosis.

III. ALAT DAN BAHAN


1. Alat :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Labu takar 100 ml


Tabung reaksi
Mikropipet
Spektrofotometer dan kuvet
Vortex-mixer
Alat timbang
Skalpel/silet

h. Pipet volume 0.1ml; 0.2 ml; 1,2 ml


i. Mouth block
j. Prototip
k. Sentrifuge
l. Stopwatch
m. kalkulator
n. Ependorf

2. Bahan :
a. Asam Trikloroasetat (TCA) 20%
b. Natrium nitrit 0,1%
c. Amonium Sulfamat 0.5%
d. N (1-Naftil ) Etilen diamin 0.1%
e. Sulfametoxazol 50mg/ml dan 25mg/ml
f. Heparin
g.

Darah Tikus Winstar

h. Darah kelinci
i. Aquadest Stock Sulfametoksazol 40 mg/ml
IV. CARA KERJA
Buat Stock
seri kadar
5, 10, 25, 50, 100, dan 200 g/ml
1. Pembuatan
Sulfametoxazol
Timbang larutan Sulfametoxazol
Ambil 250 g/ml darah blanko+250 g/ml aquadest +
0.2 ml TCA10%
Tambah NaOH 1N
Vortex selama 30 detik
Encerkan dengan aquadest hingga kadar 200 mg/ kg BB
Sentrifuge 2500 rpm 10 menit
2. Penentuan Kurva Baku

Beningan diambil 1,5 ml dan


encerkan aquadest ad 2,0 ml
Tambah 0.1 ml larutan NaNO2 0,1%

Diamkan selama 3 menit

Tambah 0,2 ml larutan Amonium Sulfamat 0.5 %

Diamkan selama 2 menit

Tambah 0,2 ml N (1-Naftil ) Etilendiamin


0,1% untuk tikus dan 300
Stock SMZ 30 mg/ml
mg/ml untuk kelinci
Diamkan selama 5 menit di
Buat kadar75 mg/kgBB untuk tikus dan 100 mg/kgBB untuk kelinci
tempat gelap
Berikan pada tikus secara peroral sedangkan kelinci secara vena
Baca absorbansinya pada 545 nm
Dan buat Kurva bakunya
Ambil
darah
melalui vena
lateralis
pada ekor (tikus
tikus dan kelinci)
3. Penetapan Kadar Obat tikus
dan Penentuan
Model
Kompartemen
sebanyak 0,2 ml dan kelinci pada vena marginalis
sebanyak 0,5 ml
pada menit ke : 5,10 15,30, 45, 60, 75, 90, 120
Tambah dengan Heparin
Tambah 0.2 ml larutan TCA 10% , lalu
divortex 30 detik
Sentrifuge pada 2500 rpm selama 10 menit

Beningan diambil 0.2 ml


Tambah 0.5 ml larutan NaNO2
Diamkan selama 5 menit

Tambah 0.5 ml larutan Amonium


Sulfamat 0.5 %
Diamkan selama 5
menit
Tambah 2 ml N (1-Naftil )
Etilendiamin 0,1%

Diamkan
selama 5
menit
Baca absorbansinya dengan
spektrofotometer pada 540 nm
Analisis model kompartemen
dan hitung kadarnya

V. DATA DAN PERHITUNGAN


1. Hewan Uji Tikus
Perhitungan volume kurva baku
V1.M1 = V2.M2, V1=
V1= Volume Sulfametoksazol
M1=Kadar stoksulfametokdsazol
V2= Volume injeksi
M2= kadarsulfametoksazol yang diinginkan
(g/ml)
(g/ml)
5
10
25
50
100
200

(ml)
5
5
5
5
5
5

1000
1000
1000
1000
1000
1000

(l)
25
50
125
250
500
1000

Kurva baku tikus


kadar

Absorbansi

sulfa

(Y)

(g/ml)

Data
a.

(X)
5
10
25
50
100
200

A = 0,0458
B = 0,0033
R = 0,993
Persamaan kurva baku : y = 0,0033x + 0,0458

0,016
0,095
0,134
0,247
0,364
0,695

Percobaan Tikus
Volume Pemberian obat Sulfametoksazol
volume
pemberian
(ml)

Tikus 1
Berat tempat

: 82 gram

Berat tempat + tikus : 204,5 gram


Berat

: 122,5 gram

Stock sulfametoksazol : 30 mg/ml


Dosis
: 75 mg/kgBB
volume pemberian (ml) =
= 0,30625 ml
Tikus 2
Tikus II (Dosis 150mg/ kgBB)
Bobot badan tikus II

: 149 gram

Dosis sulfametoksazol

: 150 mg/kg BB

Kadar larutan stock

: 30 mg/ml

Tikus 3
Bobot Tikus 3 : 117,5 gram
Dosis : 250mg/kgBB
Stok sulfametoksazol : 30mg/ml
Volume pemberian Sulfametoksazol:

0,979 ml

Berdasarkan kurva baku kadar sulfametoksazol pada darah tikus, didapat persamaan
Y=0,0033x+0,0458 dimana y adalah absorbansi dan x adalah kadar sulfametoksazol
dalam darah(g/ml). Maka dari persamaan tersebut dapat dihitung kadar
sulfametoksazol dalam darah tiap kali pengambilan cuplikan.

Adapun hasilnya sebagai berikut:

Tikus 1 (dosis 75 mg/kgBB)


menit

absorbansi Kadar

ke-

(Cp)

5
10
15
30
45
60
75
90
120

(g/ml)
2,788
1,879
3,091
15,818
16,727
32,485
23,091
5,818
27,939

0,055
0,052
0,056
0,098
0,101
0,153
0,122
0,065
0,138

Log
kadar
1,025
0,631
1,128
2,761
2,817
3,481
3,139
1,761
3,330

Menit ke 5 : kadar (

Menit ke 10: kadar (

Menit ke 15: kadar (

Menit ke 30: kadar (

Menit ke 45: kadar (

Menit ke 60: kadar (

Menit ke 75: kadar (

Menit ke 90: kadar (

Menit ke 120: kadar (

Perhitungan Parameter Farmakokinetika Sulfametoksazol(T1/2 dan AUC)


a. Fase eliminasi
Dilakukan regresi linier terhadap menit ke 60, 75 dan 90.
Y ln Cp
X waktu
a = 7,093
b = -0,057
r = -0,944
sehingga diperoleh persamaan regresi linier :
y = 7,093 0,057x
ln Cp = ln B kt
- K eliminasi = 0,057/menit
- Ln B = 7,093
B = 1203,51
b. Fase absorbsi
Menghitung Cp ekstrapolasi (Cp) dari 5 kadar memakai persamaan fase absorbsi
Ln Cp = 7,093 0,057x
Menit ke-5 :
ln Cp = 7,093 0,057(5)

Menit ke-10 :

Cp
ln Cp

Menit ke-15 :

Cp
ln Cp

Menit ke-30 :

Cp
ln Cp

Menit ke-45 :

Cp
ln Cp
Cp

T (menit)
5
10
15
30
45

Cp

= 6,808
= 905,06
= 7,093 0,057(10)
= 6,523
= 680,62
= 7,093 0,057(15)
= 6,238
= 511,83
= 7,093 0,057(30)
= 5,383
= 217,67
= 7,093 0,057(45)
= 4,528
= 92,57

Ln Cp
2,788
1,879
3,091
15,818
16,727

(g/ml)
6,808
6,523
6,238
5,383
4,528

Cp

Cr (Cp-

Ln Cr

905,06
680,62
511,83
217,67
92,57

Cp)
902,272
678,741
508,739
201,852
75,843

6,805
6,520
6,232
5,308
4,329

Dari regresi linier antara Ln Cr dan t didapat hasil :


A = 7,140
B = - 0,062
R = - 0,999
Sehingga didapat persamaan regresi linier :
Y = 7,140 0,062x
Ln Cr = ln A ka.t
Ln Cr = 7,140 0,062t
- K absorbsi = 0,062/menit
- Ln A = 7,140
A = 1261,43
c. Penentuan Model kompartemen pemberian secara per oral menggunakan
persamaan notary
i. Fase absorbsi
Pada menit ke 5, 10, 15, 30 dan 45
T (menit)
5
10
15
30
45

Ln Cr
6,805
6,520
6,232
5,308
4,329

Dari regresi linier antara Ln Cr dan t didapat hasil :

A = 7,140
B = - 0,062
R = - 0,999
Sehingga didapat persamaan regresi linier :
Y = 7,140 0,062x
Ln Cr = ln A ka.t
Ln Cr = ln A t
Ln Cr = 7,140 0,062t
Jadi = 0,062
Ln A = 7,140
A = 1261,43
ii. Fase eliminasi (menit ke- 60, 75 dan 90)
menit
ke5
10
15
30
45
60
75
90
120

Log kadar
1,025
0,631
1,128
2,761
2,817
3,481
3,139
1,761
3,330

a = 7,093
b = -0,057
r = -0,944
sehingga diperoleh persamaan regresi linier :
y = 7,093 0,057x
ln Cp = ln B kt
ln Cp = ln B t
ln Cp = 7,093 0,057t
= 0,057/menit
Ln B = 7,093
B = 1203,51
iii. Menggunakan persamaan notary
a.

b.

c.

d.
e. 20k = 20 x 0,0595 =1,19/menit
f. 20k >
artinya sulfametoksazol dalam tubuh tikus mengikuti
iv.

model 2 kompartemen.
Parameter Farmakokinetika

T max=

= 16,82 menit

Tmax=

Cp = A+ B
Cp = 1261,43 + 1203,51 = 2464,94 g/ml
Cp max
Cp max = B
= 1203,51

-A
1261,43

16,80 g/ml

Perhitungan AUC
- Metode trapezoid
)
= 0,1375 g.menit/ml
= 0,2675 g.menit/ml
= 0,27 g.menit/ml
= 1,155 g.menit/ml
= 1,4925 g.menit/ml
= 1,905 g.menit/ml

= 2,0625 g.menit/ml
= 1,4025 g.menit/ml
= 3,045g.menit/ml
=

= 2,421 g.menit/ml
= 14,159

g.menit/ml

=
=

= 768,57 g.menit/ml
Vd (Volume Distribusi)
Vd =

Cl (Clearance Total)
Cl = K elim x V =

x 0,001491L = 0,00849 L/menit

T absorbsi
T=

= 11,18 menit

T eliminasi
T=

= 12,16 menit

Tikus 2 (dosis 150mg/kgBB)


Data absorbansi darah tikus II tiap satuan waktu:
Waktu (menit)

Absorbansi

Kadar (g/ml)

ln Kadar

10

0.123

24.156

3.185

15

0.085

12.281

2.508

30

0.167

37.906

3.635

45

0.162

36.344

3.593

60

0.177

41.031

3.714

75

0.119

22.906

3.131

90

0.252

64.469

4.166

120

0.308

81.969

4.406

Persamaan regresi linear dari kurva baku:


y= 3.2x10-3 x + 0,0457
g/ml
Kadar Sulfametoksazol dalam darah (Cp) :

Menit ke 5:

Menit ke 45:

g/ml
g/ml
Nilai y tidak memenuhi sehingga kadar
= 36.344 g/ml

tidak bisa dihitung


Menit ke 10:

g/ml

g/ml

=24.156 g/ml

Menit ke 15 :

Menit ke 60:

= 41.031 g/ml
Menit ke 75 :
g/ml

= 12.281 g/ml

Menit ke 30 :

= 22.906 g/ml
Menit ke 90 :
g/ml

= 37.906 g/ml

= 64.469 g/ml
Menit ke 120 :

= 81.969 g/ml

A = 2.01
B = 0.023 k = -B = -0.023
r = 0.688
Parameter parameter farmakokinetik

t=

sehingga tidak dimungkinkan waktu paruh bernilai negatif


k eliminasi (kecepatan eliminasi) tidak dapat ditentukan karena 3 titik terakhir

= -30.13 (Tidak Memenuhi karena nilai k yang diperoleh negative

menunjukkan kadar obat menuju maksimal atau mencapai maksimal, yang


ketiganya tentu tidak bisa dianggap sebagai titik di mana diasumsikan terjadi fase
eliminasi

Bermula dari perolehan k yang bernilai negatif mengakibatkan parameter


farmakokinetik yang terkait seperti ka, t maks, cp maks, AUC(dengan rumus),
VD, k,t1/2, clearance total(ClT) pun tidak dapat ditentukan. Penentuan AUC

dengan trapezoid masih bisa ditentukan.


AUC Metode Trapezoid
Menghitung AUC (Area Under Curve) dilakukan untuk semua data
menggunakan metoda trapezoid

AUC =
Tikus 3 (dosis 250mg/kgBB)
Perhitungan
y = 0,0033x + 0,0458
x=

g/ml

Kadar Sulfametoksazol dalam darah (Cp) :


1. Pada menit ke 5:
x=

g/ml

2. Pada menit ke 10:


x=

g/ml

x=

g/ml

x=

= 4,30 g/mL

g/ml
= 71,58 g/mL

3. Pada menit ke 15:

4. Pada menit ke 30:

x=

x=

g/ml

g/ml

g/ml

g/ml

= 100,67 g/mL

= 117,64 g/mL

5.Pada menit ke 45 :

6. Pada menit ke 60 :

x=

x=

g/ml

g/ml
= 84,61 g/mL

g/ml

g/ml

= 80,67 g/mL

7.Pada menit ke 75 :

8. Pada menit ke 90 :

x=

x=

g/ml

g/ml
= 131,27 g/mL

9.Pada menit ke 120


x=

x=

g/ml

g/ml

= 164g/mL

=
= 109,15

g/ml

g/ml

Waktu (menit ke-)


5
10
15
30
45
60
75
90
120

Absorbansi Tikus 3
0,060
0,282
0,378
0,434
0,325
0,312
0,479
0,406
0,587

Cp (g/mL)
4,30
71,58
100,67
117,64
84,61
80,67
131,27
109,15
164

Ln Cp (g/mL)
1,459
4,271
4,612
4,768
4,438
4,390
4,877
4,692
5,100

Menghitung AUC (Area Under Curve) dilakukan untuk semua data menggunakan
metoda trapezoid

AUC0-5
AUC5-10
AUC10-15 =
AUC15-30 =
AUC30-45 =
AUC45-60 =
AUC60-75 =
AUC75-90 =
AUC90-120 =
AUC = 12258,08

Penentuan Parameter Farmakokinetika


*Fase Eliminasi

Pada percobaan ini, fase eliminasi tidak dapat dihitung karena kurva kadar vs
waktu yang dihasilkan tidak menunjukkan adanya fase eliminasi (tidak ada kurva yang
menurun, kurva naik terus). Hal ini menyebabkan tidak dapat dilakukan perhitungan
regresi linear pada fase eliminasi ini untuk mendapatkan regresi linear I. Akibatnya,
parameter farmakokinetik yaitu Cl, t eliminasi, dan k tidak dapat dihitung.
*Fase Absorbsi
Oleh sebab tidak ada fase eliminasinya dan tidak dapat dilakukan perhitungan
regresi linear dari fase eliminasi, sehingga kami tidak dapat menghitung kadar
extrapolasi dan kadar residual. Akibatnya tidak dapat juga dilakukan perhitungan
regresi linear pada fase absorpsi untuk mendapatkan persamaan regresi linear II. Hal ini
menyebabkan tidak dapat ditentukannya parameter farmakokinetik yaitu tmax, Cpmax,
Ka, dan Vd.
2. Hewan uji kelinci
Perhitungan volume kurva baku
V1.M1 = V2.M2, V1=
V1= Volume Sulfametoksazol
M1= Kadar stoksulfametokdsazol
V2= Volume injeksi
M2= kadar sulfametoksazol yang diinginkan
(g/ml)
(g/ml)
5
10
25
50
100
200

(ml)
5
5
5
5
5
5

1000
1000
1000
1000
1000
1000

Kurva Baku kelinci


Kadar

Absorbansi

(g/ml)
5
10
25
50
100
200

Kelinci
0,031
0,035
0,062
0,134
0,259
0,695

(l)
25
50
125
250
500
1000

A= 0,0174
B = 0,0022
r = 0,998
y = 0,0022x + 0,0174

Data Percobaan Kelinci


a. Volume Pemberian obat Sulfametoksazol
volume pemberian (ml) =

Kelinci
Berat kelinci : 2,2 kg
Stock sulfametoksazol : 300 mg/ml
Dosis : 100 mg/kgBB
Volume pemberian=
= 0,73 ml
Berdasarkan kurva baku kadar sulfametoksazol pada darah kelinci, didapat persamaan y =
0,0022x + 0,0174 dimana y adalah absorbansi dan x adalah kadar sulfametoksazol dalam
darah(g/ml). Maka dari persamaan tersebut dapat dihitung kadar sulfametoksazol dalam
darah tiap kali pengambilan cuplikan.

Adapun hasilnya sebagai berikut:


Kelinci (dosis 100 mg/kgBB)
t

Absorbansi

Kadar (Cp Ln Cp

(menit)
5
10
15
30
45
60

kelinci
0,01
0,013
0,012
0,016
0,029
0,053

(g/ml))
0
0
0
0
5,27
16,18

1,6620
2,7837

75
90
120

0,036
0,038
0,021

8,45
9,36
1,63

Menit ke 5 : kadar (

Menit ke 10: kadar (

Menit ke 15: kadar (

Menit ke 30: kadar (

Menit ke 45: kadar (

Menit ke 60: kadar (

Menit ke 75: kadar (

Menit ke 90: kadar (

Menit ke 120: kadar (

2,1347
2,2364
0,4885

Perhitungan regresi linear

Ln Cpvs t (pada saat fase eliminasi diambil 4 titik

terakhir)
t (menit)

kadar

(g/ml))
75
8,45
90
9,36
120
1,63
Regresi Linier antara Ln Cpvs t

(Cp Ln Cp
2,1347
2,2364
0,4885

A= 5,389
B= -0,0397
r = - 0,9267
y = A + Bx
y= 5,389 0,0397x
Ln Cp= Ln Cp kt
Sehingga k=b
K (eliminasi)=0,0397/ menit
Ln b= 5,389, B=218,98
1. Fase absorbsi digunakan 4 titik pertama
y= 5,074 - 0,0366x
Ln Cp= Ln B kt
Ln Cp= 5,074-0,0366t
T= 5menit

y=5,074-0,0366 (5)
Y=Ln Cp= 4,892

T= 10menit

y=5,074-0,0366 (10)
Y=Ln Cp= 4,708

T= 15menit

y=5,074-0,0366 (15)

Y=Ln Cp= 4,525


T= 30menit

y=5,074-0,0366 (30)
Y=Ln Cp= 3,976

Ln Cp

Cp

Cp

(menit)
(g/ml)
5
4,892
133,219 -3,376 = 0
10
4,708
110,830
-2 = 0
Dari
15
4,525
92,29
-2,45 = 0
30
3,976
53,303
-0,63 = 0
regresi linier antara Ln Cr (y) dan t (x) didapathasil;

Cr
133,219
110,830
92,29
53,303

Ln Cr
4,892
4,708
4,525
3,976

A= 5,075
B= -0,0366
r= -0,999
sehingga didapat persamaan:
y = A+Bx
y = 5,075 0,0366x
ln Cr = ln Cr kt
ln Cr = ln A kt
Jadi Kabsorbsi = 0,0366/menit
Ln A = 5,075, A= 159,97
2. Penetuan Model Kompartemen Pemberian secara per oral Menggunakan
persamaan Notary
Fase Absorbsi (menit ke 5,10,15,30)
Waktu (menit)
5
10
15
30
A= 5,075

Ln Cr
4,892
4,708
4,525
3,976

B= - 0,0366
r= -0,999
sehingga didapat persamaan:
y = A+Bx
y = 5,075 0,0366x
ln Cr = ln Cr kt
ln Cr = ln A kt

ln Cr = ln kt
Jadi:
= 0,0366
Ln a = 5,075, A= 159,97

Fase eliminasi (menit ke 75, 90, 120)


Waktu

Ln cp

(menit)

(g/ml)
2,1347
2,2364
0,4885

75
90
120
A= 5,389
B= -0,0397
r = - 0,9267
y = A + Bx
y= 5,389 0,0397x
lnCp = lnCp kt
lnCp = lnB kt
ln Cr = ln kt
Jadi:
= 0,0397

Ln b= 5,389, B=218,98
Menggunakan persamaan notary:
=

=0,0379/menit

K=

=0,0383/ menit

= (+) (k+k21)
= (0,0366+0.0397) (0,0383 + 0,0379) = 0,0001/menit
+

= 0,0379/menit + 0,0001/menit = 0,038/menit

20 = 20 x 0,0383 = 0,766/ menit


20 K >

artinya sulfametoksazol dalam tubuh kelinci mengikuti model 2

kompartemen
3. Parameter Farmakokinetika

= 26,23 menit

T max =

Cp = A+ B = 159,97+218,98= 378,95 g/ml


Cp max

Cp max = B
= 218,98

-A
159,97

16,04 g/ml

Perhitungan AUC
- Metode trapezoid
)
= 0 g.menit/ml
= 0 g.menit/ml
= 0 g.menit/ml
= 0 g.menit/ml
= 39,525 g.menit/ml
= 160,875 g.menit/ml
= 184,725 g.menit/ml
= 133,575 g.menit/ml

= 218,25g.menit/ml
=

= 41,057 g.menit/ml
= 778,007 g.menit/ml

Metode residual
= B/K + A/ Ka
= (218,98/

= 0,58 ml

Cl (Clearance Total)
Cl = K elim x Vd =

x 0,58 ml =0,023 ml/menit

T absorbsi
T=

= 9886,63

g.menit/ml
Vd (Volume Distribusi)
Vd =

+ (159,97 /

=18,93 menit

T eliminasi
T=

= 17,46 menit

VI. Pembahasan
Obat berada dalam suatu keadaan dinamik dalam tubuh. Dalam suatu sistem biologis
peristiwa-peristiwa yang dialami obat sering terjadi serentak. Untuk menggambarkan sistem
biologi yang kompleks tersebut dibuat penyederhanaan anggapan mengenai pergerakkan obat
dalam tubuh dalam suatu model farmakokinetika. Model kompartemen merupakan suatu
model farmakokinetika.
Dalam percobaan ini, akan dilakukan penentuan model kompartemen sulfametoxazol
dengan pemberian secara intravena, berdasarkan kurva semilogaritma kadar obat dalam
plasma / darah versus waktu. Apabila model kompartemennya diketahui, ditentukan pula
parameter farmakokinetiknya. Selain itu, ditentukan pula dosis yang paling tepat dengan
melihat kurva yang dihasilkan oleh pemberian dosis yang berbeda.
Dalam model kompartemen, suatu kompartemen, suatu kompartmen itu bukan suatu
fisiologik atau anatomi yang nyata, tetapi dianggap sabagai suatu kelompok jaringan yang
mempunyai aliran darah dan afinitas obat yang sama serta obat terdistribusi merata. Karena
terdistribusi merata, maka konsentrasi obat dalam suatu kompartemen adalah homogen.

Untuk menganalisis model kompartemen ini, digunakan data darah selama selang waktu
tertentu. Darah merupakan pilihan utama yang sering digunakan untuk penetapan
farmakokinetika karena darah merupakan tempat yang paling cepat dicapai oleh obat dan
paling logis bagi penetapan kadar obat di dalam badan, sebab darahlah yang mengambil obat
dari tempat absorpsi, mendistribusikan ke jaringan sasaran dan juga menghantarnya ke organ
eliminasi. (Tozer, 1979)
Bagi kebanyakkan obat, senyawa yang memiliki aktivitas farmakologi adalah bentuk
obat yang tidak berubah. Karena itu, penetapan kadar obat pada cuplikan darah akan
memberikan suatu indikasi langsung betapa kadarnya yang mencapai sirkulasi.
Hewan uji yang digunakan adalah kelinci. Obat yang diuji adalah sulfametoxazol.
Ada beberap asenyawa yang terlibat dalam anlisis sulfametoxazol yaitu heparin, NaNO2,
NaOH, HCl, TCA, dan ammonium sulfamat.
Profil bahan tersebut adalah:
Sulfametoxazol(Sulfamethoxazolum)

(Farmakope Indonesia IV)

N1-(metil-3-isoksazolil)sulfanilamida
C10H11N3O3S

BM 253,28

Sulfametoksazol mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0%
C10H11N3O3S, dihitung terhadap zat yang etlah dikeringkan.
Pemerian: Serbuk hablur, putih sampai hampir putih; praktis tidak berbau
Kelarutan: Praktis tidak larut dalam air, dalam eter, dan dalam kloroform; mudah larut dalam
aseton dan dalam natrium hidroksida encer; agak sukar larut dalam etanol.
Sulfametoksazol merupakan derivat dari Sulfisoxasol yang mempunyai absorbsi dan ekskresi
yang lebih lambat. Bersifat tidak larut dalam air, tetapi larut dalam NaOH encer. Dari sifatsifat itu, larutan obat ini dibuat dengan melarutkan terlebih dahulu SMZ dalam NaOH

kemudian diencerkan dengan menggunakan aquadest hingga konsentrasi yang dikehendaki.


Obat ini biasa digunakan dalam bentuk sediaan tablet, injeksi, suspensi, tetes mata, dan salep
mata.
Waktu paruh plasma Sulfametoksazol adalah 11 jam
Sulfametoksazol: absorbsi dalam saluran cerna cepat dan sempurna dan 20 G terikat oleh
protein plasma. Dalam darah, 10-20 obat terdapat dalam bentuk terasetilasi. Kadar plasma
tertinggi dicapai dalam 4 jam setelah pemberian secara oral, dengan waktu paro 10-12 jam.
Dosis oral awal 2 g diikuti lagi 2-3 dd sampai infeksi terjadi.
Fungsi: untuk infeksi sistemik, untuk infeksi saluran seni.

Heparin
Heparin natrium adalah garam natrium dari
glioksaminoglikan

sulfat

dalam

campuran

mukopolisakarida dengan bobot molekul variasi.


Terdapat dalam jaringan tubuh manusia dan pada
umumnya diperoleh mukosa dari usus halus atau
jaringan tubuh yang lain yang sesuai dari manusia
yang dapat dimakan oleh manusia. Terdiri dari
komponen polimer dari turunan berseling Dglioksamina (N-tersulfatasi atau N-terasetilasi)
dari asam uronat (Asam L-lauronat atau asam D-glukoronat) berkaitan dengan ikatan
glikosida komponen yang akan dibebaskan dalam bagian bervariasi pada hidrolisa sempurna.
Merupakan campuran zat aktif yang mempunyai sifat memperlambat waktu jendal darah
terutama melalui pembentukan kompleks dengan protein plasma. Antitrombin III
memperkuat inaktivasi trombin dan menghambat enzim protease koagulasi. Potensi heparin
natrium terhadap zat yang telah dikeringkan tidak kurang dari 140 unit heparin FI per mg dan
tidak kurang dari 90,0% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang tertera pada etiket.
(Anonim, hal 428, 1995)

Pemerian serbuk amorf putih atau pucat tidak berbau, higroskopis. (Anonim, hal 428,
1995) Heparin mengikat antitrombin III membentuk kompleks yang berafinitas lebih besar
dari antitrombin III sendiri, terhadap beberapa faktor pembekuan darah aktif, terutama
trombin dan faktor Xa. Oleh karena itu heparin mempercepat inaktivasi faktor pembekuan
darah. (Ganiswara, hal 749, 1995)
Dosis kecil heparin dengan AT-III menginaktifasi faktor Xa dan mencegah perubahan
protrombin menjadi trombin. Heparin dengan jumlah lebih besar bersama AT-III menghambat
pembekuan dengan menginaktivasi trombin dari faktor-faktor pembekuan sebelumnya,
sehingga mencegah perubahan fibrinogen menjadi fibrin yang stabil. (Ganiswara, hal 749,
1995)
Bila ditambahkan pada darah, heparin tidak merubah hasil pemeriksaan rutin kimia darah,
tetapi heparin merubah bentuk eritrosit dan leukosit. ( Ganiswara, hal 750, 1995)
Heparin juga mempunyai kerja menjernihkan plasma yang berlipid (membebaskan
lipoproteilipase dari endotelium pembuluh yang mampu melarutkan khilomikron). Heparin
mempercepat

penguraian

histamin

dengan

membebaskan

diaminooksidase

yang

mengoksidasi histamin dan mereduksi pembentukan aldosteron.


Kerja heparin ditentukan oleh banyaknya muatan negatif dalam molekul (yang akan
meningkat jika sisa asam sulfat tinggi) dan kerja heparin dapat dihentikan spontan oleh
polikation, misalnya protamin sulfat.
Keuntungan utama penggunaan heparin adalah karena dapat bekerja langsung setelah
pemakaian.
TCA (Asam Trikloro Asetat)
C2HCl3O2

BM 163,39

Asam trikloro asetat mengandung tidak kurang dari 98,0% C2HCl3O2.


Pemerian : Hablur atau massa hablur, sangat rapuh tidak berwarna, rasa lemah atau
getir dan khas.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) dalam dalam eter
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Khasiat dan penggunaan : Kaustikum
(Anonim, hal 59, 1995)
Ammonium Sulfamat
Nama lain : Sulfamic acid mono ammonium salt; AMS; Amcidc; Ammate

Terbuat dari ammonium dan asam sulfamat


Pemerian : Kristal higroskopis
Kelarutan : Luar biasa larut dalam air, cairan ammonia, sedikit larut dalam etanol.
Cukup larut dalam gliserol, formamid, pH dari larutan 0,2 M dalam air adalah 4,9;
larutan encer stabil saat mendidih.
(Anonim, 1996)
Natrium Nitrit
Nama lain : Sodium nitrit, nitrous acid sodium salt, erinitrit, NaNO2
Pemerian : Putih atau sedikit kuning, granul higroskopis, batang atau serbuk,
sangat lambat teroksidasi menjadi nitrat di udara.
Kelarutan : Larut dalam 1,5 bagian air dingin, sedikit dalam alkohol.
Membusuk oleh asam lemah dengan evolusi dari uap coklat N2O3, larutan encer
adalah alkali, pH sekitar 9.
(Anonim, 1996)
Metode yang digunakan untuk analisis sulfametoxazol dalam darah kelinci adalah
metode Bratton-Marshal yang telah dimodifikasi. Metode ini berdasarkan prinsip kolorimetri
yaitu terbentuknya senyawa berwarna yang intensitasnya dapat ditentukan secara
spektrofotometri visibel. Metode ini melalui 2 tahap:

Diazotasi

Pada proses ini akan terbentuk garam diazonium yang dihasilkan dari reaksi antara amina
aromatik primer dengan asam nitrit HNO 2 (yang berasal dari natrium nitrit yang dilarutkan
dalam asam mineral HCl).

Kopling

Pada proses ini, garam diazonium yang sudah terbentuk segera direaksikan lebih lanjut
dengan reagen kopling membentuk senyawa kopling yang memiliki gugus kromofor yang
lebih panjang sehingga dapat dideteksi oleh spektrofotometer UV-Vis. Reagen kopling yang
khas dalam metode Bratton-Marshall adalah N-(1-Naftil) etilen diamine (NED). Tetapi dalam
percobaan ini digunakan NaOH sebagai reagen pengkopling. Penambahan NaOH pada akhir
reaksi adalah untuk memberi suasana basa. Dalam suasana basa kemungkinan diazonium
yang berikatan dengan ion Cl akan lepas dan membentuk NaCl sehingga garam diazonium
kembali terionkan. Dengan demikian terjadi pengeseran bathokromix sehingga panjang
gelombangnya menjadi lebih panjang sementara intensitas warnanya menjadi lebih tajam.
Hasilnya senyawa menjadi lebih mudah dideteksi oleh spektrofotometer UV-Vis.
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah pembuatan kurva baku
darah tikus (2 ml, @1 ml) dan kelinci (4 ml, @2,0 ml). Seri kadar yang digunakan adalah 5,
10, 25, 50, 100, dan 200 g/ml yang dibuat dengan mengencerkan stok sulfametoxazol
dengan aquades ad 5 ml. Diambil sejumlah volume larutan sulfametoxazol dimana masingmasing kadar sebanyak 50 l menggunakan pipet volume dan dimasukkan ke dalam tabung
reaksi yang telah berisi 250 l darah. Selanjutnya ditambah TCA 5% sebanyak 2,0 ml.
Setelah larutan TCA 5% ditambahkan, semua tabung reaksi divortex selama 30 detik
agar larutan tercampur homogen. Kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 2500 rpm
selama 10 menit. Diambil supernatan atau beningan pada masing-masing tabung reaksi 1,5
ml dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang bersih dan diencerkan dengan aquadest 2,0
ml. Kemudian ditambah dengan NaNO2 0,1% sebanyak 0,1 ml dan divortex lagi dan
didiamkan selama 3 menit agar terjadi reaksi diazotasi. Aquadest berfungsi sebagai donor
proton yang akan bereaksi dengan NaNO 2 yang ditambahkan pada beningan darah dan akan
menghasilkan HNO2 dan NaOH. Setelah 3 menit, kelebihan asam nitrit dihilangkan dengan
ammonium sulfamat 0,5% sebanyak 0,2 ml yang merupakan reduktor yang akan bereaksi
dengan asam nitrit kemudian divortex. Hilangnya asam nitrit ditandai dengan dengan
timbulnya gas N2 yang berupa gelembung udara. Didiamkan selama 2 menit dengan tujuan
prediksi reaksi telah bejalan sempurna. Garam diazonium yang terbentuk selanjutnya
direaksikan dengan N(1-naftil) etilendiamin (NED 0,2 ml 0,1 %) selama 5 menit ditempat
gelap, agar reaksi bisa berjalan dengan sempurna. Penambahan NED ini berfungsi untuk
memperpanjang ikatan rangkap terkonjugasi sehingga akan membentuk kompleks warna
merah-ungu yang dapat diukur absorbansinya pada panjang gelombang 545 nm untuk

mengetahui kadar obatnya. Selanjutnya diukur pada spektrofotometer Visibel ( 400-800


nm).
Tikus dan kelinci yang diketahui beratnya, dimasukkan ke dalam holder. Untuk tikus
dibersihkan bulu ekor sekitar vena lateralis, sedangkan untuk kelinci dibersihkan bulu telinga
sekitar vena marginalis. Pencukuran menggunakan skalpel bertujuan agar darah yang keluar
tidak tertahan oleh bulu-bulu yang akhirnya darah akan membeku atau menjendal di bulubulu tersebut. Jika terjadi penjendalan, maka darah yang keluar berupa serumnya, sedangkan
yang digunakan untuk pemeriksaan adalah plasma darah. Maka, jika hal ini terjadi, darah
yang menjendal dibersihkan dengan kapas kemudian ekortikus di pijat-pijat agar darah keluar
dan ditampung sampai volume yang diinginkan. Jika luka menutup, maka luka digores
kembali, bisa pada tempat yang sama atau membuat luka yang baru.
Sampel darah diambil dari vena lateralis ekor tikus dan dari vena marginalis telinga
kelinci karena bagian ini kaya akan pembuluh darah sehingga darah akan mudah didapat.
Darah tikus ini ditampung dalam eppendorf yang telah berisi heparin. Heparin dimasukkan ke
dalam eppendorf dengan menggunakan spuit injeksi dan diratakan ke seluruh dinding
eppendorf. Heparin berguna untuk mencegah koagulasi darah. Jika sampel darah mengalami
koagulasi, yang didapat setelah sentrifugasi adalah serumnya. Sedangkan yang ingin
digunakan adalah plasma darah, heparin dapat mencegah koagulasi darah selama 3-4 jam.
Heparin merupakan satu mukopolisakarida dengan berat molekul terentang mulai
6000-20000. Karena sifat keasamannya, heparin juga disebut asam heparinat. Secara kimia
senyawa ini mirip asam hialurona, kondroitin, serta kondroitin sulfat A dan B. Heparin
berfungsi sebagai antikoagulan, yaitu mencegah pengumpalan darah melalui mekanisme
penghambatan efek trombosit. Sifat koagulan diyakini akibat penghambatan pengubahan
protombin ke trombin dalam pengumpalan darah. Proses penghambatan penjendalan darah
oleh heparin ini dilakukan dengan memperpanjang waktu clothing dan menghambat
terbentuknya benang-benang fibrin. Mekanisme koagulan dapat dilihat sebagai berikut:
Heparin + antitrombin III + faktor penggumpalan

kompleks terner

Protrombin trombin
Darah yang diambil pertama kali untuk tikus sebanyak 2 ml serta untuk kelinci 4 ml.
Darah ini yang diambil ketika tikus dan kelinci belum diberi injeksi sulfametoxazol.
Kemudian tikus diberi injeksi larutan sulfametoxazol dosis 75 mg/kgBB secara oral dan
kelinci diberi injeksi larutan sulfametoxazol dosis 100 mg/kgBB secara oral, kemudian

dihitung sebagai menit ke-0. Pengambilan cuplikan darah dilakukan pada menit ke: 5, 10, 15,
30, 45, 60, 75, 90, 120, 150, dan 180 setelah obat diberikan.
Secara teoritis untuk percobaan pendahuluan, lama pengambilan cuplikan perlu
diperhatikan. Jika darah digunakan sebagai cuplikan, pencuplikan dilakukan sampai 3-5 x
t1/2 dari fase eliminasi. Jika digunakan urine, sampai 7-10 x t1/2 eliminasi.
Volume darah tikus diambil sebanyak 0,2 ml dari vena lateralis ekor tikus sedangkan
kelinci diambil sebanyak 0,5 ml dari vena marginalis telinga, kemudian dimasukkan ke dalam
eppendorf. Saat pengambilan darah untuk menghindari koagulasi, darah diberi heparin.
Heparin merupakan suatu polisakarida yang bermuatan sangat negatif. Heparin ini tidak
memiliki sifat anti koagulan atau bias dikatakan sifatnya sedikit sekali. Akan tetapi, jika
berikatan dengan antitrombin III yang merupakan suatu 2-globulin akan menginaktifkan
thrombin dari peredaran darah.
Dengan hilangnya trombin, maka tak ada lagi yang akan mengkatalisi spembentukan
benang-benang fibrin dari fibrinogen, sehingga tidak terjadi proses pembekuan darah. Oleh
karenaitu, kompleks heparin-anti trombin III berfungsi sebagai anti koagulan. Mekanisme
kerja heparin sebagai antikoagulan dapat dihambat dengan penambahan protamin, dimana
protamin ini akan memulihkan mekanisme pembekuan darah kembali ke keadaan normal.
Perlu diketahui bahwa protamin bermuatan positif kuat sedangkan heparin bermuatan
negative kuat. Oleh karenaitu, protamin akan berikatan dengan heparin dan kemudian akan
menonaktifkannya.
Pembekuan darah dapat terjadi secara normal pada saat terluka karena adanya
protrombin yang dibentuk terus menerus oleh hati dengan dibantu oleh vitamin K dan faktorfaktor lain. Protrombin yang berada dalam plasma darah akan berubah menjadi thrombin
dengan bantuan ion kalsium. Trombin kemudian akan mengkatalisis perubahan fibrinogen
dalam plasma menjadi benang-benang fibrin. Benang-benang fibrin inilah yang akan
menutup luka dengan bantuan ion kalsium dengan cara menjaring thrombin sel-sel darah dan
plasma hingga terjadi pembekuan darah.
Selanjutnya, darah ditambah TCA 10% sebanyak 0,5ml. Penambahan TCA bertujuan
untuk mengendapkan protein plasma yang ada dalam sampel. Denaturasi protein (presipitasi)
ini bertujuan untuk membebaskan obat-obat yang terikat dengan protein dan untuk
menghilangkan protein supaya tidak mengganggu dalam proses analisis. Pengendapan protein
terjadi karena TCA bersifat asam lemah sehingga dapat memutuskan ikatan peptida dari suatu
polipeptida albumin. Tidak digunakan asam kuat karena protein akan mengendap sekaligus
terpecah-pecah struktur primernya menjadi asam aminonya. Di sinilah kerugiannya, karena

asam amino akan banyak menyebabkan ionic strength berubah dan terjadi dehidrasi yang
akan mengubah struktur atau merusak struktur sekunder dan tersier tetapi tidak struktur
primernya. Perlu diketahui bahwa asam amino mempunyai sifat amfoter. Asam amoni yang
bermuatan negatif akan berikatan dengan muatan positif dari asam amino lain sehingga akan
terbentuk gumpalan. Karena gumpalan tersebut memiliki bobot molekul yang besar maka
protein akan mengendap. Selain itu, TCA berfungsi memberikan suasana asam pada reaksi
diazotasi dan sebagai donor proton untuk reaksi selanjutnya. Semua eppendorf divortex
selama 30 detik agar komponen di dalam larutan tersebut bercampur secara homogen.
Supaya endapan memisah dengan baik, larutan disentrifugasi dengan kecepatan 2500
rpm selama 10 menit. Sentrifugasi ini akan menyempurnakan pemisahan endapan protein
dengan supernatan yang mengandung sejumlah sulfametoxazol yang tidak ikut mengendap
bersama protein. Selain itu, sentrifugasi akan membuat senyawa yang memiliki berat jenis
yang berbeda memisah dan membentuk lapisan. Semakin besar berat jenis suatu senyawa,
maka senyawa tersebut berada di lapisan yang rendah. Supernatan yang bebas endapan
merupakan obat yang bebas dari protein plasma. Sedangkan obat yang terikat pada protein
plasma, tidak aktif secara farmakologis dan tidak memiliki efek terapetis sehingga dalam
pengambilan supernatan harus dilakukan secara hati-hati, agar jangan sampai endapannya
ikut terambil.
Pada percobaan, setelah sentrifugasi selesai akan terbentuk 2 lapisan. Lapisan atas
berupa cairan jernih dan lapisan bawah berupa endapan dari protein yang terdenaturasi.
Kemudian diambil beningan pada masing-masing eppendorf sebanyak 0,5ml dan dimasukkan
ke dalam tabung reaksi yang bersih. Bagian yang diambil hanya beningan karena yang ingin
dihitung adalah kadar obat dalam plasma.
Pada masing-masing tabung ditambah 0,2ml HCl 2N dan larutan divortex selama 30
detik supaya larutan atau campurannya homogen. Kemudian ditambah NaNO2 10% sebanyak
0,2ml dan divortex dan didiamkan 5 menit untuk menyempurnakan reaksi diazotasi yaitu
pembentukan garam diazonium yang sangat reaktif. HCl berperan dalam hidrolisis gugus
asetil sehingga didapat aminofenol dan juga berperan sebagai katalisis dalam reaksi diazotasi
dengan cara mendonorkan protonnya (ion H+).
Digunakan NaNO2 dan bukannya HNO2 lansung karena HNO2 merupakan asam
hipotetik. Secara teori, asam tersebut ada tetapi tidak dapat diisolasi karena pada suhu kamar
dapat teurai menjadi gas NO2. Dengan adanya HCl, NaNO2 akan membentuk HNO2 (asam
nitrit) dan NaCl. Lalu asam nitrit akan terurai menjadi ion nitronium (NO2-) dengan adanya
keasaman dari HCl. Ion nitronium inilah yang menyebabkan terjadinya reaksi diazotasi.

Tetapi asam nitrit juga bersifat sebagai oksidator yang dapat mengoksidasi senyawa kopling
hasil reaksi antara garam diazonium dengan NaOH sehingga terlepas sebagai gas N 2 dan
fenol.
Kelebihan asam nitrit harus dihilangkan. Caranya adalah dengan menambahkan asam
sulfamat 15% sebanyak 0,2ml dan divortex selama 5 menit. Penambahan asam sulfamat
harus dilakukan secara berhati-hati untuk menghindari pembentukan gelembung gas yang
terlalu banyak. Asam sulfamat merupakan reduktor sehingga akan bereaksi redoks dengan
asam nitrit. Hilangnya kelebihan nitrit ditandai dengan tidak adanya gas nitrogen lagi
terbentuk atau secara visual ditandai dengan hilangnya gelembung-gelembung gas.
Kemudian larutan ditambah NaOH 10% sebanyak 0,6ml dan divortex. NaOH
ditambah untuk memberikan suasana basa sehingga garam diazonium kembali terionkan dan
agar terbentuk senyawa kopling yang mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi yang lebih
panjang sehingga bisa dibaca serapannya pada panjang gelombang 235nm. Larutan
didiamkan selama 5 menit sampai gelembung tidak muncul lagi dalam larutan. Secara teoritis
syarat reaksi diazotasi adalah dilakukan pada suhu rendah sebab pada suhu tinggi senyawa
diazonium yang terbentuk tidak stabi akan terhidrolisis menjadi fenol dan gas nitrogen.
Disamping itu, pada suhu yang lebih tinggi dikhawatirkan asam nitrit akan lebih cepat terurai
sehingga reaksi menjadi tidak stoikiometris. Sedangkan waktu 5 menit merupakan operating
time dimana absorbansi sampel sudah konstan.
Pembuatan blanko dimaksudkan sebagai faktor koreksi terhadap hasil pembacaan
absorbansi larutan yang mengandung sulfametoxazol sehingga hasil pembacaan absorbansi
terhadap supernatan yang mengandung larutan obat dikurangi dahulu dengan nilai absorbansi
blanko. Pengurangan ini dilakukan secara automatis oleh spektrofotometer.
Pembacaan absorbansi dilakukan pada panjang gelombang maksimum dimana terjadi
eksitasi elektronik yang memberikan absorbansi maksimum. Hal ini disebabkan karena pada
panjang gelombang maksimum didapat tingkat sensitivitas yang tinggi, berarti perubahan
kadar yang sangat kecil akan menyebabkan perubahan absorbansi yang cukup besar, pita
serapan di sekitar panjang gelombang maksimum relatif datar dan pengukuran ulang pada
panjang gelombang maksimum menimbulkan kesalahan yang paling kecil (reprodusibilitas
tinggi). Pada percobaan ini panjang gelombang yang digunakan adalah 545nm.
Dari beberapa seri kadar Sulfametoxazol diperoleh persamaan kurva baku sampel
darah tikus y = 0,0033x + 0,0458 dan kelinci y = 0,0022x + 0,0174.
Nilai absorbansi yang terukur kemudian diplotkan ke dalam persamaan kurva baku
tersebut dan didapat kadar terukur dalam cuplikan. Setelah ditentukan model kompartemen

akan didapat persamaan regresi linearnya, maka dapat ditentukan nilai dari parameter
farmakokinetiknya, namun dikarenakan kadar (tikus) yang diperoleh kelompok kami bernilai
negatif, maka digunakan hasil absorbansi dari golongan 2 kelompok 1 sehingga kadarnya
tidak negatif, maka dapat diperoleh sebagai berikut:
-

Volume distribusi

Volume distribusi menyatakan suatu faktor yang harus diperhitungkan dalam memperkirakan
jumlah obat dalam tubuh dari konsentrasi obat yang ditemukan dalam kompartemen cuplikan.
Volume distribusi juga merupakan parameter yang berguna untuk mengkaitkan konsentrasi
plasma dengan jumlah obat dalam tubuh. Harga Vd yang didapati adalah:
Sulfametoxazol tikus dosis 75mg / kg BB =

dan kelinci dosis 100 mg/kgBB =

0,00058L. Dari hasil percobaan diatas menunjukkan bahwa volume distribusi tikus lebih
besar daripada kelinci.
Harga Vd yang semakin besar berarti obat akan tersebar makin luas dalam tubuh.
-

Area Under the Curve

Area Under the Curve atau area di bawah kurva merupakan suatu ukuran dari bioavailabilitas
suatu obat. AUC mencerminkan jumlah total obat aktif yang mencapai sirkulasi sistemik.
Oleh karena itu, AUC sangat bermanfaat dalam studi bioekivalensi suatu formulasi. (Shargel,
1988). Nilai AUC total yang didapat dari tikus senilai 14,159 g.menit/ml dan kelinci
778,007 g.menit/ml. AUC kelinci lebih besar daripada AUC tikus.
-

Klirens (Cl)

Klirens merupakan suatu ukuran eliminasi obat dari tubuh tanpa mempermasalahkan
mekanisme prosesnya. Juga bias diartikan sebagai volume cairan yang dibersihkan dari obat
per satuan waktu. (Shargel, 1988). Sebenarnya klirens ada bermacam-macam, namun yang
dihitung dalam percobaan adalah klirens total dari suatu obat. Harga klirens yang didapat
adalah:
Sulfametoxazol untuk tikus dosis 75mg /kg BB = 0,00849 L/menit dan kelinci dosis 100
mg/kgBB = 0,000023 L/menit. Klirens tikus lebih besar daripada klirens kelinci.
Harga klirens yang semakin tinggi menunjukkan obat semakin cepat dieliminasi.
-

Waktu paro

Waktu paro menunjukkan waktu yang diperlukan oleh sejumlah obat atau konsentrasi untuk
berkurang menjadi setengahnya. Harga waktu paro pada percobaan ini adalah
Tikus : Sulfametoxazol dosis 75mg /kg BB pada fase absorpsi = 11,18 menit
Sulfametoxazol dosis 75mg /kg BB pada fase eliminasi = 12,16 menit

Kelinci: Sulfametoxazol dosis 100mg /kg BB pada fase absorpsi =18,93 menit
Sulfametoxazol dosis 100mg /kg BB pada fase absorpsi =17,46 menit
Makin kecil harga t suatu obat maka akan semakin cepat pula eliminasi obat tersebut dalam
tubuh.
VII. Kesimpulan
1. Metode penetapan kadar Sulfametoxasol dalam darah yang dilakukan pada percobaan
ini adalah metode Bratton Marshall.
2. Metode perhitungan farmakokinetika pada percobaan ini menggunakan metode
residual.
3. Harga Vd yang didapati adalah: Sulfametoxazol

tikus dosis 75mg / kg BB =

dan kelinci dosis 100 mg/kgBB = 0,00058 l. Vd tikus lebih besar daripada
Vd kelinci.
4. Area Under Curve Sulfametoxazol dari tikus senilai 14,159 g.menit/ml dan kelinci
778,007 g.menit/ml. AUC kelinci lebih besar daripada AUC tikus. AUC yang
semakin tinggi, menunjukkan bioavailabilitas yang semakin tinggi.
5. Harga klirens yang didapat adalah Sulfametoxazol dosis tikus dosis 75mg /kg BB =
0,00849 L/menit dan kelinci dosis 100 mg/kgBB = 0,000023 L/menit. Klirens tikus
lebih besar daripada klirens kelinci.
6. Makin kecil harga t suatu obat maka akan semakin cepat pula eliminasi obat
tersebut dalam tubuh.
7. Dapat diperkirakan model kompartemen berdasarkan kurva semilogaritmik kadar obat
dalam plasma/darah lawan waktu.
8. Model kompartemen dapat menentukan waktu pencuplikan.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978, Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Depkes RI, Jakarta.
Gandjar, Ibnu Gholib & Abdul Rohman, 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
Gibson, Gordon & Paul Skett, 1991, Pengantar Metabolisme Obat, UI Press, Jakarta.
Ganiswara, 1995, Farmakologi dan Terapan edisi 4, Bagian Farmakologi FKUI,
Jakarta.
Hakim, Lukman, 2011, Farmakokinetik, Bursa Ilmu, Yogyakarta.

Katzung, Bertam., 1998, Farmakologi Dasar dan Klinik, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
Mutschler, Ernest, 1995, Dinamika Obat, Penerbit ITB, Bandung.
Notari, R.E, 1980, Biopharmaceutics and Clinical Pharmakokinetics, 3rd ed., Marcel
Dekker. Inc, New York.
Shargel L, Wu Pong S, Yi ABC, 2005, Applied Biopharmaceutics and
Pharmacokinetics, 5 th ed., McGraw-Hill Medical Publishing Division,
Boston.
Siswandono & Bambang Sukarjo, 2000, Kimia Medisinal, edisi kedua, Airlangga
University Press, Surabaya.
Tanu, Ian, 1995, Farmakologi dan Terapi, edisi keempat, UI, Press.

Yogyakarta, 21 November 2012


Asisten koreksi,

Praktikan,
1. Vinni Alvionita
2. Dewi Nur Cahyaning S.
3. Laksmy Anggung L.
4. Etsha Luthfia
5. Aza Savitri

LAPORAN RESMI
FARMAKOLOGI EKSPERIMENTAL II
PENETAPAN WAKTU SAMPLING DAN ASUMSI MODEL
KOMPARTEMEN SERTA PEMILIHAN DOSIS DALAM
FARMAKOKINETIKA

Dosen pendamping

Asisten Jaga

Asisten koreksi

:
Disusun oleh :

Kelas

: B 2011

Golongan/Kelompok

1.
2.
3.
4.
5.

: I/1

Nama

NIM

Vinni Alvionita
Dewi Nur C. S.
Laksmy Anggun L.
Etsha Luthfia
Aza Savitri

FA/08674
FA/08667
FA/08670
FA/08673
FA/08676

Laboratorium Farmakologi & Toksikologi


Bagian Farmakologi dan Farmasi Klinik
Fakultas Farmasi UGM
Yogyakarta
2012

TTD