Anda di halaman 1dari 2

UNIT KERJA PRESIDEN BIDANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN

SIARAN PERS #02

Regional Meeting and Stakeholder Consultation on the Post-2015 Development Agenda


Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Bali, 13-14 Desember 2012

Pasca-MDGs: Menakar-ulang Target-Target


Bali, 14 Desember 2012 Hari pertama menjadi seperti jamuan yang menghidangkan sejumlah
menu isu yang amat beragam dan bahkan dalam kontinum gagasan yang berhadap-hadapan. Inilah
yang membuatnya unik. Terlebih-lebih, Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development
Goals, MDGs) sendiri sudah unik sejak dilahirkan.
Tujuannya sukarela. Ia dirancang oleh semua bangsa, disepakati oleh semua, dan demi kebaikan
semua. Siapapun negaranya, baik yang besar, menengah, maupun kecil, dibuka perannya sebagai
pemegang saham bersama, papar Presiden Yudhoyono dalam pidato kunci pembukaan (13/12).
Para peserta terlibat aktif dan berpartisipasi sepenuhnya dalam hampir semua pertemuan dan
diskusi-diskusi. Keterbukaan menjadi value yang menonjol dan dikedepankan justru karena tidak
semata ditawarkan dalam retorika. Value itu membuat lalu-lintas isu menjadi cair dan dinamis, mulai
dari isu yang konvensional (kesempatan kerja, pendukungan bantuan, dan pengentasan
kemiskinan) hingga yang ekstrem dan bergigi.
Warga dunia sudah menanti penuh harap bagaimana tujuan baru dari Agenda Pembangunan Pasca2015. Itulah yang memotivasi kami untuk memiliki tanggung jawab bagi solusi bersama bahwa,
ketimbang membuahkan sesuatu yang biasa-biasa saja dan cenderung dapat diterima oleh semua,
kita mencoba untuk melangkah keluar, ke zona yang lebih mendasar dan menantang kendati berisiko
tidak diterima oleh semua, terang Kuntoro Mangkusubroto selaku ketua komite acara ini.
Kelestarian
Setidaknya terdapat dua isu menantang yang dicuatkan pada hari pertama. Pembangunan, terutama
menyangkut lingkungan hidup, harus berkelanjutan atau berkelestarian (sustainability). Itulah isu
pertama. Pasalnya, selama ini kita terlalu lama tersedot pada isu-isu konvensional hingga abai pada
isu kelestarian. Boleh jadi bukan sebentuk keabaian, kata Kuntoro, namun enggan mengangkatnya
karena tuntutan konsekuensi atas komitmen dan tanggung jawabnya yang memang tidak ringan.
Padahal, komitmen-komitmen inilah yang kini semakin dibutuhkan.
"Pemikiran Bapak Presiden bahwa pembangunan harus berkelanjutan dan melibatkan semua pihak
dengan memperhatikan lingkungan hidup dan pemerataan, sudah menjadi acuan kami agar
pembangunan tidak semata dinikmati oleh pihak tertentu," ujar Kuntoro.
Menurut Resina Katafono, peserta dari kawasan kepulauan Pasifik, Negara kami sangat
berkepentingan pada isu kelestarian. Setiap suhu bumi naik tiga derajat, permukaan air laut akan
naik sekitar dua meter. Bayangkan, berapa banyak pulau kami yang hilang tenggelam?
Perubahan iklim memicu bencana alam yang, menurut Presiden Yudhoyono, merupakan kontributor
signifikan bagi kemiskinan. Untuk negara yang rentan terhadap bencana alam seperti pulau-pulau di
Samudera Pasifik, penanganannya menjadi khas dan penuh tantangan.
Bencana alam bisa merusak prestasi pembangunan karena bukan hanya menimbulkan kerugian
material, namun juga korban jiwa yang signifikan. Bencana alam bisa mendorong jutaan orang
kembali ke kemiskinan, tegas salah satu co-chair dari Panel Tingkat Tinggi Para Tokoh Terkemuka
tentang Agenda Pembangunan Pasca-2015 (High-Level Panel of Eminent Persons on the Post-2015
Development Agenda, HLPEP) HLPEP itu.

UNIT KERJA PRESIDEN BIDANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN

Masalahnya sekarang adalah, sela Kuntoro, bagaimana meyakinkan dan membawa isu ini menjadi isu
yang bisa diterima oleh segenap pihak?

Tata-kepemerintahan Global
Isu kedua adalah tentang tata-kepemerintahan global (global governance). Emil Salim (Menteri
Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup era 1983-1993) menyampaikan, badanbadan internasional, terutama yang berada dalam lingkup Perserikatan Bangsa-Bangsa, dituntut
untuk mereformasi dirinya karena tantangan zaman sudah berubah drastis. Tantangan itu harus
dijawab. Salah satu caranya adalah, financial instituon dan development institution harus dilebur
menjadi satu agar nyambung (matched).
Menjelang berakhirnya acara, Emilia Perez, Menteri Keuangan Timor Leste, yang juga adalah anggota
panel, membangunkan peserta. Emilia mengingatkan bahwa, memang benar bahwa programprogram MDGs bisa dikatakan banyak yang berhasil, namun tantangan-tantangan pasca-MDGs perlu
dijawab segera secara lebih komprehensif dan dengan pendekatan yang lebih partisipatif.
Kita harus meninggalkan paradigma tata-kepemerintahan global ala donor driven atau dari atas ke
bawah (top-down) dan harus dibalik menjadi dari bawah ke atas (bottom-up) atau beneficieries
driven, tegas Emilia.
Kedua subisu tersebut, ke depan, diprediksi akan semakin mengedepan atau menjadi pokok
perdebatan, terutama pada panel ketiga HLPEP di Bali tiga bulan mendatang. Dan, untuk lebih
mengelaborasi isu yang ada, jelas Kuntoro, pada hari kedua, peserta dibagi dalam kelompokkelompok tertentu.
Inilah tujuan kami di Bali, menakar-ulang target-target untuk disesuaikan secermat-cermatnya
dengan tantangan, sebuah proses yang bermartabat dalam merumuskan sumbangan pemikiran bagi
nasib warga dunia pasca-2015 kelak, ungkap Kuntoro. ***

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:


Yanuar Nugroho (Yanuar.Nugroho@ukp.go.id, +62.81210381059)
Pradita Astarina (Pradita.Astarina@ukp.go.id, +62.85697146222)