Anda di halaman 1dari 11

Gelanggang 1

Oleh : Imron Rosidin 2

Habitus berdasarkan Bourdieu (1962), memerankan fungsi


pada kehidupan sosial untuk menjelmakan aspirasi serta
harapan agen manusia maupun –struktur- sosial menuju sebuah sumber daya
(capital) dengan mengubah kebutuhan-kebutuhan (necessity) menjadi sebuah hal
yang utama (virtue) dengan memandu agen-agen manusia pada sebuah tatanan
(order). Habitus ini yang kemudian membangun apa yang kemudian disebut oleh
Bourdieu sebagai gelanggang (field); sebuah jaringan, atau konfigurasi, sebuah
hubungan objektif antara posisi-posisi agen-agen yang bergerak dengan aturan-
aturan dan keutamaan-keutamaannya sendiri. Para agen yang ada, dengan segala
posisi beserta habitusnya, tidak demikian saja patuh pada aturan-aturan atau
norma yang ada untuk berstrategi dalam interaksi sosial namun sebaliknya
menggunakan aturan atau norma sebagai sumber untuk melakukan strategi.
“Balibo Five” adalah nama gelanggang yang dimaksud makalah ini, sebuah film
mengenai tragedi terbunuhnya lima wartawan; Gary Cunningham, Gregory
Shackleton, Tony Stewart, Brian Peters and Malcolm Renie yang bekerja untuk
pemerintah Australia pada 16 Oktober 1975 di Balibo, saat invasi Indonesia
terhadap Timor Leste. Gelanggang ini populer kembali bukan saja sebab di putar
di Festival Film Internasional Melbourne dan Brisbane 2009, tetapi juga sebab
munculnya keputusan Pengadilan Glebe Coroners New South Wales (NSW) dan
Polisi Federal Australia (AFP) pada 8 September 2009 yang memutuskan untuk
menyelidiki tuduhan kejahatan perang. Makalah ini tidak ditujukan untuk
membicarakan perihal kedaulatan negara, tidak juga untuk melakukan justifikasi
atas tragedi yang terjadi, tidak. Makalah ini dimaksudkan sebagai usaha akademis
mengurai jejaring interaksi para agen dalam gelanggang visual berbentuk film.
Tujuan utamanya adalah untuk lebih memahami permasalahan- etika dalam
pembangunan.
Kata kunci: good (kebaikan), virtue(keutamaan), freedom (kebebasan),
utilitarianisme, culture relativisme.

1
Ditulis sebagai tugas akhir semester mata kuliah etika dan pembangunan (6115). Studi
Pembangunan – SAPPK, Institut Teknologi Bandung. 14 Muharram 1431 Hijriah.
2
NIM 24009022. cakra_sr@yahoo.com, bagaskarakawuryan.wordpress.com
Gelangang-gelanggang (fields) 3
Ini bukan kali pertama film produksi asing dilarang beredar dan diputar di
Indonesia dengan alasan kemanusiaan, keamanan nasional, hubungan bilateral dan
rasa keadilan. Balibo Five menambah rangkaian panjang catatan film-film
terlarang putar di Indonesia. Ia ditengarai akan menyebabkan hubungan
kenegaraan Indonesia dan Australia akan ‘memanas’ kembali akibat tragaedi
jurnalisme yang di representasikan dalam sebuah tayangan visual.
Jakarta dalam hal ini tentu saja merasa sangat berkeberatan dengan materi yang
diangkatnya, bagaimana kemudian Balibo Five dianggap akan memicu
pengungkapan ‘dosa’ lama yang oleh karena mekanisme keadilan telah
dikangkangi oleh kepentingan politik yang tidak mampu menghadirkan kebenaran
–fakta- sejarah untuk memenuhi rasa keadilan bersama. Demikian pula sikap
Canberra pasca keputusan pengadilan Glebe Coroners New South Wales (NSW)
dan Polisi Federal Australia (AFP), begitu tampak ‘lepas’ dan terkesan tidak
berkeinginan untuk mencampuri putusan peradilan.
Kedua negara tampak berhati-hati mensikapi kehadiran Balibo Five dalam
interrelasi sosialnya, keduanya menanggapi dengan serius kemungkinan-
kemungkinan dampaknya dan lantas memikirkan bagaimana dampak-dampak
sosial dari kehadirannya mampu dikendalikan sehingga tidak memungkinkan
terganggunya hubungan kedua negara yang memang selama ini bagaikan api
dalam sekam. Hubungan kedua negara sewaktu-waktu dapat saja berubah menjadi
permasalahan kedaulatan dan keamanan negara masing-masing bila saja tuntutan
atas kebenaran sejarah demi pemenuhan rasa keadilan meretas jalannya melalui
Balibo Five.
Terlepas dari dilema dan paradoks keadilan yang dihasilkan dari hubungan
bilateral antara Jakarta dan Canberra, Balibo Five dihadirkan oleh pekerja seni
visual (sineas) sebagai apresiasi bebas manusia untuk mengartikulasikan tuntutan
kebenaran dan pemenuhan rasa keadilan yang menurutnya terlelap sangat nyenyak

3
Bourdie defines a field as a network, or configuration, of objective relations between posititions.
These positions are objectively defined, in their existence and in the determinations they impose
upon their occupants, agents or institutions, by their present and potential situations (situs) in the
stucture of distribution of species of power (or capital) whose posession commands acces to the
the specific profit that are at stake in the field, as well as by their objective raltions to other
positions (dominations, subordination, homology, etc.)

2
dalam hangat dan gelap sebuah ruang abu-abu yang diselimuti oleh tebalnya
kabut-kabut retorika politik hubungan antara Jakarta dan Canberra. Bagi Robert
Connely film, sebuah rumah produksi film yang berkantor di Australia, membuat
film adalah permasalahan kebebasan mengekspresikan diri sebagai manusia dan
sebagai warga negara yang memuarakan pertanyaan-pertanyaan keadilan dan
jaminan keselamatan jiwa serta seluruh hajat hidupnya kepada negara. Balibo Five
seolah-olah mewakili Brian Peters; salah seorang kerabat korban yang kembali
mengajukan tuntutan atas kematian keluarganya, berharap kematian kerabatnya
tidak lagi diselimuti oleh kegelapan sejarah dan hilang begitu saja tanpa
keterangan apapun.
Adalah Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia yang selama ini di daulat oleh
pemerintah Indonesia untuk melakukan ‘verifikasi’ terhadap film-film yang akan
diputar edarkan di Indonesia, menilai Balibo Five memiliki muatan materi yang
berkemampuan untuk, pertama, meresahkan kehidupan sosial masyarakat
Indonesia atas kedaulatan negaranya. Keresahan ini muncul setidaknya
disebabkan oleh pertanyaan benarkah Indonesia melakukan apa yang ditampilkan
oleh Balibo Five?, atau, untuk yang yakin atas apa yang ditawar-tayangkan Balibo
Five, pertanyaannya adalah mengapa kebenaran selalu ditutupi untuk menjaga
nama baik (kedaulatan) negara, bukankah kebenaran dan pemenuhan rasa
keadilan merupakan tujuan dari bernegara?. Untuk penikmat film yang memiliki
nasionalisme dan berpihak penuh terhadap kedaulatan negara Indonesia, tentu saja
akan menunjuk Balibo Five sebagai fitnah Australia, sebuah bentuk propaganda
dan agitasi murahan untuk merekrut dukungan simpati dunia yang selanjutnya
akan menyudutkan posisi tawar Indonesia sehingga terdesak melakukan
pengakuan kepada khalayak (public confession) atas ‘dosa-dosa sejarahnya’.
‘Verifikasi’ yang dilakukan oleh LSF mewakili Indonesia, artinya mewakili nilai-
nilai keutamaan (virtue), nilai kebaikan (good) dan nilai keburukan (evil) seluruh
masyarakat Indonesia. Negara adalah mandataris masyarakat; agen-agen manusia
untuk melakukan pengelolaan pembangunan, atas nama mandata itu negara
berhak menentukan mana yang baik dan buruk bagi masyarakat. Nilai kebaikan
dan keburukan, keutamaan dan susila agen-agen manusia dalam negara dianggap

3
telah terwakili oleh keputusan-keputusan yang diambil oleh Lembaga Sensor Film
dalam mensikapi Balibo Five.
Kedua, Balibo Five dikhawatirkan dapat mengganggu hubungan antara Jakarta
dan Canberra yang sudah menjadi pengetahuan bersama, sangat rentan terhadap
konflik. Nilai kebenaran (truth) yang membawa kebaikan (good) atau sebaliknya
keburukan (evil) bagi semua pihak menjadi pertanyaan besar dan penuh dilema
yang dipertontonkan oleh sebuah pagelaran teknologi visual bernama Balibo Five.
Konflik yang muncul disebabkan adanya nilai keutamaan, kebaikan dan
keburukan serta susila yang berbeda untuk meretas jalan menuju terpenuhinya
rasa keadilan yang berbeda antara Jakarta dan Canberra. Jakarta melalui Lembaga
Sensor Film telah mengambil keputusan, tentunya kondisi seperti ini tidak hadir
dan menjadi pemahaman bagi Australia dan warganya. Kehadiran Balibo Five di
ajang Festival Film Internasional Melbourne dan Brisbane 2009 menunjukan
betapa apresiasi dan dukungan masyarakat Australia bukan saja perihal apresiasi
seni visual namun juga terhadap materi yang ditawarkan oleh Balibo Five. Balibo
Five sebagai sebuah film tidak saja bernilai keindahan (estethic) olehnya, film
merupakan suara susila (ethic) yang mewakili aspirasi khalayak terhadap kondisi
sosial yang terjadi. Perbedaan nilai (kebaikan, keburukan, keutamaan dan
kebebasan) merupakan kata kunci untuk memahami kemungkinan-kemungkinan
konflik yang dalam bahasa latin sendiri memiliki arti saling memukul-sebab
adanya perbedaan (Galtung, 1975).
Ketiga, hubungan negara dan industri film yang selama ini memang menjadi
fenomena sosial tersendiri dalam kondisi –politik- tertentu bisa saling menguatkan
namun dalam kondisi yang sama bisa saja saling melemahkan. Hubungan
keduanya seakan mempertemukan gagasan negara dan kebebasan manusia,
hubungan keduanya seakan mempertemukan gagasan-gagasan kebudayaan
(culture) yang berhadapan dengan gagasan-gagasan struktur-lembaga sosial
(structuralis). Di tengah-tengah hubungan keduanya, logika kekuasaan sebagai
kekuatan (power) dan perwakilan (represent) cukup beralasan digunakan sebagai
pendekatan untuk mengurai hubungan keduanya. Negara memerlukan citra dalam
pengelolaan pembangunan, industri film adalah salah satu wahana yang
menyediakan citra untuk kepentingan apapun. Sisi lainnya, industri film

4
memerlukan kekuatan hukum dan sosial untuk memproduksi citra-citra yang
dikemasnya untuk mewakilkan kenyataan-kenyataan yang ingin dibangun dalam
kehidupan sosial. Keduanya merupakan gelanggang yang sangat berperan dalam
proses menghadirkan dan menolak Balibo Five.
Dapat terlihat jelas adanya gelanggang-gelanggang (Bourdie, 1962) yang
memengaruhi satu sama lain berdasarkan aturan-aturan dan norma yang telah ada
yang digunakan untuk keperluannya masing-masing dalam bentuk aksi dan
strategi dalam sebuah habitus 4 menuju pencapaian sumber daya (capital).
Gelanggang-gelanggang yang dimaksud bersamaan dengan kehadiran Balibo Five
adalah :
1. Gelanggang yang mempertemukan agen-agen manusia dan negara (field of
state and human agent). sebuah hubungan yang dasarnya jauh menyentuh
kepada permasalahan-permasalahan etika, kebebasan dan keutamaaan
2. Gelanggang negara-negara (field of nations). Gelanggang ini menunjuk
interrelasi negara-negara dalam bentuk hubungan diplomatik maupun
kerjasama lainnya
3. Gelanggang industri film dan negara (field of simulation 5 ), dimana keduanya
memuat nilai keterwakilan agen-agen manusia.

Utilitarian pada gelanggang


Gelanggang itu bernama Balibo Five, yang menjadi pertemuan dari gelanggang-
gelanggang agen manusia, agen negara dan agen simulasi. Gelanggang itu
bernama Balibo Five, dimana keutamaan, kebaikan, keburukan dan kebebasan
merupakan sesuatu yang tidak begitu saja dapat dikatakan salah dan menyalahi –
misalnya- kedaulatan dan keamanan sebuah negara sebab menuntut kehadiran
kebenaran dan terpenuhinya rasa keadilan.

4
According Bordieu, habitus defines as a system durable, transposable dispositions, structured
structures predisposed to functions as structuring stuctures, that is as principles wich generate and
organize practices and representations that can be objectively adapted to their outcomes without
presupping a conscious aiming at ends or an express mastery of the operations necessary in order
to attain them.
5
Baudrillard (1983) menjelaskan bahwa simulasi adalah sesuatu yang tidak menduplikasi sesuatu
yang lainnya sebagai model rujukannya, tetapi menduplikasi dirinya sendiri. “…sesuatu itu
dikatakan simulasi, selama ia berlawanan dengan representasi”, demikian yang ditegaskan oleh
Baudrillard

5
Utilitarian secara sederhana dapat diartikan sebagai kebahagiaan (Kymlicka,
1997). Artinya, apapun tindakan-tindakan yang melahirkan konsekuensi hadirnya
kebahagiaan dalam kehidupan. Terbukti dan terungkapnya kebenaran,
terpenuhinya rasa keadilan, dan kebebasan untuk menentukan kehidupan
merupakan pengalaman hidup yang merupakan kebahagiaan. Oleh karena
kebutuhan akan kebenaran, keadilan, kebaikan dan kebebasan, maka masing-
masing gelanggang memandu diri –dengan habitusnya- ke arah ke-utama-an
dalam hal ini perihal-perihal yang dapat membahagiakan.
Gelanggang yang mempertemukan agen-agen manusia dan negara (field of state
and human agent) memperlihatkan bagaimana kebahagian yang dapat diraih
dengan pembuktian kebenaran, terpenuhinya rasa keadilan seseorang atau
sekelompok orang diwakili oleh negara atas nama mandat dari masyarakatnya
dalam melakukan pengelolaan kehidupan bermasyarakat. Indonesia melalui LSF
memutuskan sikapnya untuk menentukan kebaikan dan keburukan yang demikian
menjadi hal utama yang perlu dilakukan dengan melarang beredar dan diputarnya
Balibo Five. Indonesia memiliki dasar aturan dan norma yang dapat
dipertanggungjawabkan secara sosial saat menentukan sikap terbaik bagi
masyarakatnya. Tentu saja alasan kedaulatan, keutuhan negara, kepercayaan
terhadap pengelolaan pembangunan dan lain sebagainya menjadi alasan yang
masuk akal untuk melarang beredar dan diputarnya Balibo Five. Indonesia
memerlukan kepercayaan penuh masyarakat terhadap pemerintahan yang saat ini
tengah berkuasa agar proses pembangunan dapat berlangsung aman dan
terkendali. Salah satu syarat adalah kepercayaan masyarakat bahwa pemerintahan
yang tengah berlangsung sama sekali tidak terlibat dan ternodai oleh ‘warisan’
sejarah kelam pendahulunya.
Dalam pemahaman Arendt, negara dikatakan berfungsi tidak hanya pada saat
negara telah melakukan pengelolaan negara seperti apa yang terlihat oleh
kebanyakan masyarakatnya, meskipun praktek pengelolaannya bersifat represif
dan –bukan tidak mungkin- disertai intimidasi dan kekerasaan kepada warganya.
Lebih jauh Arendt menegaskan :
“To be political, to live in a polis,meant that every-thing was decided through
words and persuasion and not through force and violence”.

6
Indonesia sebagai sebuah negara dengan demikian berharap pelarangan edar dan
putar Balibo Five akan memberikan kebahagiaan bagi semua masyarakat
Indonesia, yang selanjutnya kebahagiaan dimaksud menjadi bagian untuk tetap
menjaga kepercayaan masyarakat atas keberlangsungan proses pembangunan.
Namun perlu juga difahami apa yang di maksud oleh Australia sebagai suatu ke-
utama-an, yaitu pemahaman dan praktik-praktik pengelolaan negara yang
dilakukan oleh Australia untuk menegakan kebenaran, memenuhi rasa keadilan
dan memberikan kebebasan menentukan sikap kepada warganya. Balibo Five
disikapi secara berbeda oleh Australia, peredaran dan pemutarannya justeru
diperbolehkan oleh pemerintah Australia di wilayah negaranya. Dengan demikian
Australia pun telah menentukan sikap yang terbaik bagi masyarakat dan berharap
masyarakatnya dapat merasakan bahagia dengan proses penegakkan kebenaran,
terpenuhinya rasa keadilan dan terjaminnya kebebasan berekspresi dalam seni
bagi warganya. Sama halnya dengan Indonesia, Australia pun memerlukan
kepercayaan masyarakatnya kepada pemerintahan yang saat ini tengah berkuasa,
sebuah pemerintahan yang mampu melindungi dan memberikan keamanan bagi
seluruh proses berkehidupan masyarakat. Kedua negara telah melakukan
tindakan-tindakan yang menurutnya mampu mewakili upaya-upaya pencapaian
kebahagiaan, itulah yang kemudian menjadi ke-utama-an bagi masing-masing
negara.
Gelanggang yang mempertemukan agen-agen manusia dan negara (field of state
and human agent) ini selanjutnya memiliki hubungan dengan gelanggang negara-
negara (field of nations). Dengan keutamaannya masing-masing-masing,
Indonesia dan Australia akan tetap mempertahankan apa yang menurutnya
diperlukan untuk menjamin seluruh bentuk kebahagiaan bagi masyarakatnya, dan
untuk itu semua keduanya akan menggunakan seluruh aturan dan norma yang
diyakininya sebagai sebuah strategi dalam kehidupan sosial antar negara (politik
luar negeri). Indonesia akan tetap memberlakukan pelarangan edar dan putar
Balibo Five, sebaliknya, Australia akan tetap memperbolehkan beredar dan
diputarnya Balibo Five di wilayah kedaulatannya. Kondisi ini semakin
menegaskan adanya keutamaan yang berbeda saat gelanggang agen manusia dan
negara bertemu dengan gelanggang hubungan antar negara.

7
Sedikit berbeda dengan gelangang-gelanggang sebelumnya, gelanggang yang
mempertemukan industri film dan negara secara langsung terhubung dengan
gelanggang yang mempertemukan agen manusia dan negara dalam sebuah tema;
kebebasan. Industri film dan hubungan dengan negara telah membangun sebuah
gelanggang tersendiri, seperti telah disinggung sebelumnya, gelanggang ini bisa
sangat saling mendukung satu sama lain namun juga dapat menjadi saling
berlawanan.
Industri film memiliki keutamaan tersendiri berdasarkan kepuasan-kepuasan yang
mampu diraihnya dengan melakukan kegiatan-kegiatan perfilman. Film
merupakan bentuk seni yang dapat memberikan kebabahagiaan tersendiri bagi
pelaku yang terlibat dalam pembuatan sampai dengan penayangannya, oleh sebab
itu seni mendapatkan posisi tersendiri dalam ranah kebebasan manusia, bahkan
telah menjadi hak yang diyakini merupakan azasi bagi manusia untuk berekspresi.
Kemampuannya menampilkan secara visual –wakil- kenyataan (simulasi) adalah
kekuatan untuk menjaga keberadaannya (excistence), diperlukan usaha keras
dengan menggunakan seluruh potensi sekitarnya agar semua kenyataan dapat
dirangkum dalam sebuah teknologi visual. Citra yang dihasilkannya tidak hanya
menjadi kebahagiaan bagi dirinya tetapi juga untuk orang lain, bahkan
kebahagiaan atau mungkin keutamaan bagi sebuah negara. Sejarah mencatat,
dalam perjalanan kekuasaan Adolf Hitler, teknologi visual dari industri film
sangat berperan sebagai alat propaganda, agitasi dan profokasi bagi negara-negara
yang bertentangan dengannya.
Setidaknya tindakan Hitler terhadap industri film cukup mewakili hubungan-
hubungan yang berlangsung pada gelanggang industri film dan negara (field of
simulation). Kedua habitus bertumpu pada hal yang sama, yaitu keterwakilan,
negara mewakili masyarakat atas nama mandat yang diterimanya, film atas nama
seni dan kebebasan ekspresi pun memiliki kekuatan untuk mewakili kenyataan.
selain itu keduanya memerlukan citra yang dapat menjamin terpenuhinya
kebahagian bagi penikmat tontonan sebuah film dan penikmat pembangunan
sebuah negara. Keduanya mendefinisikan keutamaan-keutamaan berdasarkan
orientasi kebahagiannya masing-masing dan terus mencoba untuk memcapai batas
akhir dari sebuah kebahagiaan betapapun sumber daya yang dimiliki terbatas.

8
Relativitas kultural pada gelanggang
Telah disinggung pada bagian awal makalah ini, masyarakat modern penuh berisi
divisi-divisi atau bagian-bagian yang masing-masing bersifat otonom. Diferensiasi
masyarakat seperti ini bukan dalam artian pembagian kerja antardivisi yang salin
bergantung, tetapi, diferensiasi seperti ini merupakan diferensiasi ke dalam sistem
otopoietik 6 yang saling tidak tergantikan. Masing-masing sistem ini menjalankan
dan memelihara hanya satu saja fungsi kemasyarakatan. Demikian yang terjadi
pada sebuah gelanggang yang tidak lain merupakan hasil perjalanan proses
terbangunnya habitus. Dalam setiap gelanggang berlangsung pertandingan,
dimana seluruh bentuk kapital diaktifkan sebagai sumber material dan simbolis
dalam pertandingan. Gelanggang ini mengontrol dan menentukan siapa-siapa
yang masuk dan di dalamnya dan siapa-siapa yang tidak. Batas-batas suatu
gelanggang didefinisikan dalam ruang, waktu dan aktivitas sosial yang spesifik.
Para aktor yang lahir dalam suatu gelanggang akan menyerap kaidah-kaidah dan
simbol-simbol sosial yang terus menerus mengikuti dan menggunakannya.
Demikian pula yang terjadi dalam dan pada interrelasi gelanggang yang
mempertemukan agen-agen manusia dan negara (field of state and human agent),
gelanggang negara-negara (field of nations) dan gelanggang industri film dan
negara (field of simulation) kesemuanya memiliki kontrol dan ketentuan norma
sendiri yang mampu membatasi keterlibatan hal diluar dirinya. Untuk memahami
ini James Rachel menegaskan: (1) suatu sosialitas memiliki kode moral tersendiri,
(2) kode moral yang berlaku pada sebuah sosialitas menentukan mana yangbaik
bagi kehidupan sosialnya, (3) tidak rujukan obyektif yang dapat digunakan untuk
memastikan mana tindakan yang lebih baik bagi sebuah sosialitas dibandingkan
dengan sosialitas lainnya, (4) tidak ada yang khusus dari kode moral yang dimiliki
oleh sebuah kehidupan sosial, itu semua hanya satu-satunya dari sekian banyak
kode moral.

6
Konsep otopoesis merujuk pada suatu proses rekrusif yang dengan proses ini sebuah sistem
memproduksi jaringan komponennya sendiri, sehingga secara terus menerus menghasilkan
kembali organisasi dirinya. Otopoesis dipostulasikan sebagai karakteristik yang unik sistem-sistem
hidup.

9
Selanjutnya, (5) tidak ada kebenaran universal dalam etika, artinya tidak ada nilai
moral yang dapat diberlakukan kepada semua masyarakat sepanjang masa, (6)
hanya sebuah tindakan yang arogan jika mencoba untuk menghakimi masyarakat
lainnya hanya berdasarkan kode moral sebuah sosialitas. Inilah relativitas kultural
yang terjadi dalam dan pada interrelasi agen. Sehingga menjadi perlu untuk
masing-masing gelanggang melapangkan ruang dilaog untuk menemukan
kesepakatan-kesepakatan nilai, aturan dan kode moral menuju kebahagian
bersama, tidak lantas melakukan penghakiman atas keputusan berupa sikap dan
tindakan gelanggang dan menjadikannya tertuduh.
Tindakan penghakiman terhadap kode moral sebuah gelanggang berdasarkan kode
moral gelanggang lainnya dengan demikian merupakan tindakan arogansi. Dan
arogansi hanya mengindikasikan lemahnya kebenaran yang dimiliki sebuah
gelanggang sebab dengan demikian tidak berusaha untuk memperkaya kapitalnya
menuju kebahagian yang menjadi cita-cita awalnya.
Tidak ada kebenaran dan kebahagiaan absolut yang dimiliki oleh masing-masing
gelanggang dalam gelanggang bernama Balibo Five. Kebenaran, keadilan,
kebahagiaan bagi masing-masing gelanggang hanya akan dapat terpenuhi secara
penuh jika dan hanya jika masing-masing gelanggang membuka diri dan
menjadikan komunikasi jujur dalam interrelasinya.

10
Rujukan:
1. Arendt, Hanah. The Human Condition. The University of Chicago Press,
1958.
2. Baudrillard, Jean. Simulations, Semiotext(e). New York, 1983.
3. Galtung, Johan. Violence, peace, and peace research. Journal of Peace
Research, 1975.
4. Kymlicka, Will. Contemporary Political Philosophy, An introduction (Oxford:
Clarendon Press, 1997), chapter 3.
5. Nozick, Robert. Anarchy, State, and Utopia. Cambridge,Mass; The Belknap
Press of Harvard University Press and Oxford : The Clarendon Press,
Copyright 1971.
6. Rachels, James. The Elements of Moral Philosophy. Singapore: McGraw-
Hill, 1995), chapters 7 and 8.
7. Swartz, David. Culture and Power, The sociology of Pierre Bourdieu. The
University of Chicago Press. Chicago and London. 1997.
8. Yuliar, Sonny. Tata kelola teknologi, perspektif teori jaringan aktor. Institut
Teknologi Bandung, 2009.

11