Anda di halaman 1dari 5

1

MATRIKS REFORMASI KEBIJAKAN SUMBERDAYA AIR DAN IRIGASI


Tujuan 1: Memperbaiki Kerangka Kebijakan Kelembagaan untuk Pembangunan dan Pengelolaan Sumberdaya Air
Tujuan Pokok
1.1

1.2

Menetapkan Kerangka
Koordinasi Pengelolaan
Sumberdaya Air Nasional

Menerapkan Kebijakan
Nasional Pengelolaan
Sumberdaya Air

Agenda Pembaharuan

Tolok Ukur

a.

Membentuk Tim Koordinasi antar-departemen yang merumuskan


kebijakan sumberdaya air, pedoman, rencana strategis, koordinasi antar
instansi dan pemecahan persoalan antar sektor.

(i)

b.

Membentuk sekretariat teknis di bawah Direktorat Jenderal untuk


mendukung Tim Koordinasi.

(i)

a.

Kebijakan Nasional Sumberdaya Air (KN-SDA) serta rencana implementasi


untuk diterapkan secara formal oleh Pemerintah melalui seluruh
departemen serta kelembagaan lain yang memiliki fungsi pengelolaan
sumberdaya air (termasuk pengelolaan kualitas air permukaan dan air
tanah dari wilayah hulu sampai dengan hilir dan area pantai).

(i)
(ii)

(iii)

b.

Mengubah Undang-undang No. 11 tahun 1974 tentang Pengairan serta


Peraturan Pemerintah yang terkait untuk: (i) menyelaraskan dengan
perubahan administrasi dan keuangan di daerah; (ii) implementasi
perubahan sektor sumberdaya air termasuk ketentuan Dewan Pengelolaan
Sumberdaya Air pada tingkat nasional dan (iii) memfasilitasi pelaksanaan
rencana implementasi KN-SDA.

(i)

(ii)

(iii)

(iv)

c.

Mengubah Peraturan dan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum terkait


yang selaras dengan administrasi daerah dan pembaharuan pada sektor
terkait.

(i)

Penetapan Keputusan Presiden No. 9 Tahun 1999 tentang Tim


Koordinasi Kebijakan Pendayagunaan dan Pengelolaan Daerah
Aliran Sungai pada tanggal 14 Januari 1999.
Selanjutnya Tim Koordinasi disempurnakan melalui Keputusan
Presiden No. 123 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi
Pengelolaan
Sumberdaya
Air
sebagaimana
telah
disempurnakan dengan Keputusan Presiden No. 83 Tahun
2002.
Penetapan Keputusan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi,
Keuangan, dan Industri No. 34/M.EKUIN/07/2000 tentang
Pembentukan Kelompok Kerja Reformasi Kebijakan Sektor
Pengairan yang telah disempurnakan dengan Keputusan 6.
Keputusan
Menteri
Koordinator
Perekonomian
No.
15/M.EKON/12/2001 tentang Pembentukan Sekretariat Tim
Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air dan Keputusan
Menteri Koordinator Perekonomian No. 39/M.EKON/09/2002.
Pencantuman rencana implementasi KN-SDA dalam Propenas
2000-2005 (Undang-Undang No. 25 Tahun 2000).
Prinsip KN-SDA menjadi bagian dari Keputusan Presiden No.
123 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Pengelolaan
Sumberdaya Air
Penetapan KN-SDA oleh Menko Perekonomian selaku Ketua
Tim Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air
Penetapan perubahan UU No. 11 Tahun 1974 dan perubahan
Peraturan Pemerintah (PP) pendukungnya meliputi: PP 6/81,
PP 22/82, PP 23/82, PP 14/87, PP 6/88, PP 5/90, PP 42/90, PP
28/91, dan PP 35/91.
Penetapan Keputusan Presiden tentang Pembentukan Tim
Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Air (TKPSDA) dengan
melibatkan seluruh stakeholder, sebagai lembaga awal
pembentukan Dewan Nasional Pengelolaan Sumberdaya Air
Keputusan Menko Perekonomian selaku Ketua Tim Koordinasi
Pengelolaan Sumberdaya Air tentang Pembentukan Sekretariat
TKPSDA yang susunan Tim Kerja sebagaimana ditetapkan oleh
Keputusan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan,
dan Industri No. 34/M.EKUIN/07/2000
Pelaksanaan tugas Dewan Nasional Pengelolaan Sumberdaya
Air dengan menggunakan struktur organisasi TKPSDA dan
melibatkan perwakilan stakeholder secara struktural
Penetapan revisi Peraturan Menteri Pekerjaan Umum meliputi
57/PRT/87, 58/PRT/87, 39/PRT/89, 45/PRT/90. 48/PRT/90,
49/PRT/90, 52/PRT/90 dan 67/PRT/93

2
Tujuan 1: Memperbaiki Kerangka Kebijakan Kelembagaan untuk Pembangunan dan Pengelolaan Sumberdaya Air
Tujuan Pokok

1.3

1.4

1.5

Agenda Pembaharuan

Tolok Ukur

d.

Menyiapkan Pedoman untuk (i) Peraturan Pemerintah Daerah (Perda)


dan/atau Surat Keputusan Gubernur, dan (ii) Petunjuk Pelaksanaan dan
Petunjuk Teknik (Juklak & Juknik)

(i)

Penetapan pedoman sebagai acuan penyusunan Peraturan


Daerah dan/atau Surat Keputusan Gubernur, serta Juklak dan
Juknis.

a.

Menerbitkan peraturan-peraturan Pemerintah mengenai keterlibatan


masyarakat dalam Pembangunan Sumberdaya Air (sektor swasta dan
peranserta masyarakat) dan Peraturan perundangan Pengelolaan Air
(keterlibatan stakeholder dan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya
air).

(i)

Penetapan revisi peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.


65/PRT/93 dan pedoman diterbitkan untuk membantu Gubernur
dalam memutuskan pemilihan dan peranan perwakilan
stakeholder.

b.

Menerbitkan peraturan perundangan dalam rangka: (i) melibatkan


perwakilan stakeholder dalam Lembaga Sumberdaya Air Propinsi dan
Wilayah Sungai (Dewan Sumberdaya Air Propinsi/Kabupaten dan Dewan
Sumberdaya Air Wilayah Sungai); dan (ii) Penggabungan Dewan
Sumberdaya Air Propinsi dan Panitia Irigasi Propinsi.

(i)

Penetapan revisi Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.


67/PRT/93 dan Pedoman diterbitkan menjadi keputusan
gubernur termasuk pemilihan dan penunjukan perwakilan
stakeholder.

c.

Menetapkan fungsi Dewan Sumberdaya Air Propinsi dan Dewan


Sumberdaya Air Wilayah Sungai dengan perwakilan stakeholder dalam
satuan wilayah sungai (SWS) untuk 8 propinsi.

(i)

Mengembangkan Informasi
dan
Sistem
Pendukung
Pengambilan
Keputusan
Sumberdaya Air Nasional

a.

Membentuk Sistem Pendukung Pengambilan Keputusan untuk


pengumpulan data yang diperlukan melalui jaringan sharing data antar
instansi pemerintah dengan menggunakan MIS.

(i)

Mengembangkan
Sistem
Pengumpulan
Data
dan
Pengelolaan Hidrologi serta
Kualitas Air

a.

Penetapan
Keputusan
Gubernur
tentang
keterlibatan
stakeholder dalam Dewan Sumberdaya Air Propinsi dan Dewan
Sumberdaya Air Wilayah Sungai; dan pembentukan Dewan
Sumberdaya Air Wilayah Sungai di semua wilayah sungai yang
telah maju di 8 propinsi.
Persetujuan dari seluruh instansi terkait tentang konsep
jaringan data; kerangka kerja, prosedur dan pengaturan
implementasi pengelolaan sumberdaya air.
Penetapan Keputusan Dirjen Sumberdaya Air Kimpraswil
tentang 90/KPTS/D/2001 tentang Pembentukan Unit Data dan
Informasi Sumberdaya Air pada Direktorat Jenderal
Sumberdaya Air Kimpraswil.
Penetapan Keputusan Menteri untuk pembentukan sistem
pengelolaan hidrologi nasional yang bertanggung jawab dalam
pengembangan jaringan pengumpulan data air permukaan dan
air tanah.
Penetapan
pedoman
pembuatan
Perda
untuk
pembentukan/pengembangan unit hidrologi di 8 propinsi; dan
pembentukan/pengembangan Unit Hidrologi Propinsi di 8
propinsi.

Keterlibatan Sektor Swasta


dalam Pembangunan serta
Stakeholder dalam
Pengelolaan Kebijaksanaan
dan Pengambilan Keputusan
Wilayah Sungai.

(ii)

Menetapkan kerangka institusi, organisasi, dan keuangan yang


berkelanjutan dalam rangka mengembangkan pengumpulan data hidrologi,
pemrosesan dan penyebaran informasi untuk air permukaan dan air tanah

(i)

(ii)

b.

Menetapkan jaringan pemantauan kualitas air nasional yang berkelanjutan.

(i)

Penetapan Keputusan Menteri tentang pembentukan jaringan


kerja pemantauan kualitas air nasional.

3
Tujuan 2: Memperbaiki Kerangka Organisasi dan Administrasi untuk Pengelolaan Wilayah Sungai
Tujuan Pokok
2.1

2.2

Memperbaiki
Peraturan
perundangan tingkat Propinsi
tentang Pengelolaan Wilayah
Sungai dan Akuifer

Mengembangkan Kerangka
Pengusahaan untuk
Pengelolaan Wilayah Sungai
Strategis yang berkelanjutan

Agenda Pembaharuan
a.

Menerapkan peraturan perundangan untuk alokasi air dan pembuangan air


limbah, pengelolaan air di musim kemarau, conjunctive use pemanfaatan
air tanah dan air permukaan, pengendalian kualitas air dan pengelolaan
daerah aliran sungai secara terintegrasi.

(i)

Penetapan perubahan Keputusan Menteri, sistem administrasi


serta Juklak dan Juknis yang terkait

b.

Membentuk Unit Propinsi Pengelola Wilayah Sungai (Balai PSDA) yang


berfungsi penuh pada sungai-sungai penting di 8 propinsi.
Menetapkan kerangka organisasi, keuangan, dan pengelolaan untuk
pengusahaan pengelolaan wilayah sungai yang sesuai dengan peraturan
otonomi daerah dan mampu mandiri dalam pembiayaan.

(i)

Penetapan Peraturan Daerah dan pendirian Balai PSDA di


wilayah sungai penting di 8 propinsi.
Penetapan Peraturan Pemerintah tentang Pengusahaan
Wilayah Sungai oleh BUMN atau BUMD.
Penetapan Peraturan Menteri atau peraturan sejenis untuk
implementasi pembiayaan pengusahaan wilayah sungai dan
Badan Pengelolaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai.

b.

Memperkuat pengaturan pembiayaan badan


pelayanan air dan iuran pembuangan air limbah.

iuran

(i)

Penetapan Keputusan Menteri atau peraturan sejenis untuk


implementasi pembiayaan badan usaha pengelolaan wilayah
sungai dan Badan Pengelolaan Sumberdaya Air Wilayah
Sungai.

c.

Revisi dasar peraturan perundangan tentang PJT Brantas dan Perum


Otorita Jatiluhur (POJ / PJT II) untuk memperkuat pengelolaan keuangan
serta tugas dan fungsi propinsi dalam pengaturan badan usaha.

(i)

Penetapan perubahan PP No. 93 Tahun 1999 tentang PJT


Brantas dan PP No. 94 Tahun 1999 tentang PJT II.

a.

Tujuan Pokok

2.3

Memperkenalkan Alokasi Air


secara aman, adil dan efisien

Tolok Ukur

usaha

melalui

(i)
(ii)

Agenda Pembaharuan

Tolok Ukur

d.

Membentuk badan usaha pada 4 wilayah sungai (wilayah sungai


Bengawan Solo, Jeneberang, Jratunseluna and Serayu-Bogowonto)

(i)

a.

Menetapkan kerangka kerja nasional untuk menerapkan sistem hak guna


air untuk alokasi air permukaan dan air tanah.

(i)

(ii)

Penetapan Keputusan Presiden dan/atau Perda untuk 4 badan


pengusahaan wilayah sungai dan kelembagaan tersebut dalam
proses pendirian/pembentukan.
Pencantuman kerangka kebijakan dalam perubahan UU No. 11
Tahun 1974 atau Penetapan Perda tentang Hak Guna Air; dan
perubahan peraturan Menteri Pekerjaan Umum terkait
Penetapan pedoman untuk memperbaharui pengaturan ijin
penggunaan air propinsi dan alokasi hak guna air.

4
Tujuan 3: Memperbaiki Pengaturan Institusi Pengelolaan Kualitas Air Daerah dan Pelaksanaannya
Tujuan Pokok
3.1

3.2

Menetapkan Kerangka
Pengaturan Nasional untuk
Pengendalian Pencemaran
secara efektif dan mengikat

Pelaksanaan Pengelolaan
Kualitas Air secara
terintegrasi di 6 wilayah
sungai yang telah
berkembang

Agenda Pembaharuan
a.

Menetapkan kerangka pengaturan nasional


Pencemaran Air secara efektif dan mengikat.

Tolok Ukur
tentang

Pengendalian

(i)

Perubahan PP No 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian


Pencemaran Air dan Pengelolaan Kualitas Air.

(ii)

Penetapan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup


tentang Juklak dan Juknik dalam rangka penerapan PP tentang
Pengendalian Pencemaran Air dan Pengelolaan Kualitas Air
dan menetapkan standar kualitas air dan pencemaran air (untuk
wilayah perkotaan), serta penghitungan daya tampung beban
pencemaran air.

b.

Memperbaiki kerangka kerja untuk mendorong industri-industri,


pertambangan dan kotamadya untuk memenuhi dikeluarkannya lisensi dan
standar.

(i)

Penetapan peraturan, apabila diperlukan, untuk memfasilitasi


pengenalan mekanisme pembiayaan dan/atau insentif lain
untuk investasi dalam perbaikan kualitas air di lapangan
dan/atau investasi dalam teknoogi pembersihan air.

a.

Mengimplementasikan pengendalian pencemaran air dan pengelolaan


kualitas air secara terintegrasi di 6 wilayah sungai (Bengawan Solo,
Brantas, Citarum, Jeneberang, Jratunseluna dan Serayu Bogowonto)

(i)

Penetapan pedoman untuk perijinan dan pengaturan konsesi


dari Bapedalda Propinsi dimana badan usaha wilayah sungai
dapat: mengendalikan aliran dan memantau kualitas air limbah;
mengumpulkan
iuran
pembuangan
air
limbah;
dan
melaksanakan penanaman tumbuhan untuk memperbaiki
kualitas air limbah.
Penetapan Keputusan Bapedalda I Jawa Tengah, Jawa Timur,
Sulawesi Selatan dan Jawa Barat untuk mengukur standar
kualitas air air yang dikelola oleh badan usaha wilayah sungai.
Penetapan operasionalisasi konsesi untuk 6 badan usaha
wilayah sungai.

(ii)

(iii)

5
Tujuan 4: Memperbaiki Kebijakan, Institusi, dan Peraturan Pengelolaan Irigasi
Tujuan Pokok
4.1

4.2

Meningkatkan pelaksanaan
sistem irigasi, transparansi,
dan akuntabilitas
melalui
pemberdayaan petani dan
penyerahan
kewenangan
pengelolaan.

Meningkatkan Pelayanan
Irigasi oleh Pemerintah
Daerah

Agenda Pembaharuan

Tolok Ukur

a.

Menetapkan kerangka partisipasi untuk penyerahan kewenangan


pengelolaan dan kerjasama pengelolaan berdasarkan Pembaharuan
Kebijakan Pengelolaan Irigasi (PKPI).

(i)

Pencanangan PKPI oleh Presiden Republik Indonesia pada


tanggal 13 April 1999 dan Instruksi Presiden tentang PKPI
diterbitkan pada bulan April 1999.

b.

Memperkuat kerangka pembentukan Perkumpulan Petani Pemakai Air


(P3A) dan Gabungan P3A (GP3A) secara demokratis sesuai otonomi
daerah dan kewenangan pembiayaan dalam rangka pengelolaan jaringan
irigasi yang telah diserahkan

(i)

Penetapan Keputusan Menteri Kimpraswil tentang Pedoman


Penyerahan Kewenangan Pengelolaan Irigasi berdasarkan
perubahan PP No. 23 Tahun 1982.
Penetapan Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman
Pembentukan dan Pemberdayaan P3A berdasarkan perubahan
PP No. 23 Tahun 1982.
Penetapan revisi Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1982
tentang Irigasi dan perubahan Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum no. 42/PRT/89 sesuai otonomi daerah dan PKPI.
Penetapan pedoman administrasi dan teknis untuk perubahan
organisasi instansi pengelola irigasi sesuai otonomi daerah dan
PKPI.
Pembentukan, apabila diperlukan, Forum Pengelolaan Daerah
Irigasi pada daerah irigasi sedang dan besar
Penetapan revisi peraturan perundangan (Keputusan Menteri /
Keputusan Bersama para Menteri) dan pedoman.

a.

Melaksanakan redefinisi wewenang, tugas dan tanggung jawab lembaga


pengelola irigasi di tingkat pusat, propinsi dan kabupaten/kota yang
berfokus pada pembagian air secara baik dan pasca penyerahan
kewenangan kepada P3A/GP3A.

(ii)

(i)

(ii)

(iii)
4.3

Menjamin
Kesinambungan
Pembiayaan dan Efisiensi
Operasi dan Pemeliharaan
serta Rehabilitasi Daerah
Irigasi

a.

Mengubah kerangka pembiayaan untuk operasi dan pemeliharaan irigasi


oleh P3A/GP3A, dengan hak penuh untuk mengumpulkan iuran
pengelolaan irigasi di seluruh daerah irigasi.

b.

Mengembangkan kerangka pembiayaan oleh pemerintah dalam


pembiayaan perbaikan irigasi untuk menentukan prioritas tahapan
rehabilitasi pada jaringan irigasi secara langsung dibawah pengendalian
P3A/GP3A.

(i)