Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
DEMOKRASI

Dosen Pengampu: Ir. Imam Prayogo R., MS.

Oleh:
Kelompok IV
1. Pitriani

115040200111021

2. Afrizal Rahardyan P

115040200111025

3. Inggil Luji Pangestu

115040200111028

4. Andi Syaifur Rochman

115040200111030

5. Anam Rifai

115040200111033

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT yang
telah melimpahkan rahmat, taufiq serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan Laporan Akhir Teknologi Pupuk dan Pemupukan dengan baik dan
lancar.
Selama kami menyelesaikan laporan ini, kami banyak menerima bantuan
baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, kami tidak lupa
mengucapkan terimakasih kepada :
1. Ir. Imam Prayogo R., MS., selaku dosen pengampu matakuliah Pendidikan
Kewarganegaraan.
2. Serta semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan laporan ini.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih terdapat


banyak kesalahan dan jauh dari kata sempurna, untuk itu kritik dan saran yang
bersifat membangun dan mendidik sangat kami harapkan.

Malang, 3 Juli 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................1
1.1Latar Belakang.................................................................................1
1.2 Tujuan........................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................... 3
2.1Filsafat demokrasi.............................................................................3
2.1.1 Pengertian Demokrasi..................................................................3
2.2.1 Pemikiran dan Teori-Teori Demokrasi..............................................6
2.2Sejarah Munculnya Demokrasi...................................................11
2.2.1 Dalam pandangan Sejarah Dunia..................................................11
2.2.2 Hilang dan munculnya kembali paham demokrasi Baron de La Brde et de
Montesquieu (18 Januari 1689 10 Februari 1755)..........................12
2.2.3 Perkembangan Demokrasi di Indonesia..........................................13
2.3 Demokrasi Permusyawaratan (Desen....................................16
BAB III PENUTUP.................................................................................... 17
3.1Kesimpulan.................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 18

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara
sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk
dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias
politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif)
untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan
berada dalam peringkat yang sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga
jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi
dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.
Ketiga jenis lembaga-lembaga negara tersebut adalah lembaga-lembaga pemerintah
yang memiliki kewenangan untuk mewujudkan dan melaksanakan kewenangan eksekutif,
lembaga-lembaga pengadilan yang berwenang menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan
lembaga-lembaga perwakilan rakyat (DPR, untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan
menjalankan kekuasaan legislatif. Di bawah sistem ini, keputusan legislatif dibuat oleh
masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak sesuai aspirasi masyarakat
yang diwakilinya (konstituen) dan yang memilihnya melalui proses pemilihan umum
legislatif, selain sesuai hukum dan peraturan.
Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau hasil-hasil penting,
misalnya pemilihan presiden suatu negara, diperoleh melalui pemilihan umum. Pemilihan
umum tidak wajib atau tidak mesti diikuti oleh seluruh warganegara, namun oleh sebagian
warga yang berhak dan secara sukarela mengikuti pemilihan umum. Sebagai tambahan,
tidak semua warga negara berhak untuk memilih (mempunyai hak pilih).
Kedaulatan rakyat yang dimaksud di sini bukan dalam arti hanya kedaulatan
memilih presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung, tetapi dalam arti yang
lebih luas. Suatu pemilihan presiden atau anggota-anggota parlemen secara langsung tidak
menjamin negara tersebut sebagai negara demokrasi sebab kedaulatan rakyat memilih
sendiri secara langsung presiden hanyalah sedikit dari sekian banyak kedaulatan rakyat.
Walapun perannya dalam sistem demokrasi tidak besar, suatu pemilihan umum sering
dijuluki pesta demokrasi. Ini adalah akibat cara berpikir lama dari sebagian masyarakat
1

yang masih terlalu tinggi meletakkan tokoh idola, bukan sistem pemerintahan yang bagus,
sebagai tokoh impian ratu adil. Padahal sebaik apa pun seorang pemimpin negara, masa
hidupnya akan jauh lebih pendek daripada masa hidup suatu sistem yang sudah teruji
mampu membangun negara. Banyak negara demokrasi hanya memberikan hak pilih
kepada warga yang telah melewati umur tertentu, misalnya umur 18 tahun, dan yang tak
memiliki catatan kriminal (misal, narapidana atau bekas narapidana). Dan pada makalah
ini akan dikaji lebih dalam tentang demokrasi.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan memahami filsafat demokrasi
2. Untuk mengetahui sejarah dan perkembangan demokrasi
3. Untuk mengetahui demokrasi-bent

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Filsafat demokrasi
2.1.1 Pengertian Demokrasi
Demokrasi terdiri atas dua kata berasal dari bahasa Yunani, yaitu Demos berarti
rakyat atau penduduk dan Cratein atau Cratos berarti kekuasaan atau kedaulatan. Dari
dua kata tersebut terbentuklah suatu istilah demoscratein atau demokratia yang berarti
negara dalam sistem pemerintahannya kedaulatan berada di tangan rakyat, kekuasaan
tertinggi berada dalam keputusan bersama rakyat, pemerintahan rakyat dan kekuasaan oleh
rakyat, atau pemerintahan negara rakyat yang berkuasa.
Secara terminologi demokrasi adalah sebagai berikut.
1)

Joseph A. Schmeter mengatakan, demokrasi merupakan suatu perencaan instutisional


untuk mencapai keputusan politik di mana individu-individu memperoleh kekuasaan

2)

untuk memutuskan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat.


Sidney Hook berpendapat, demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana

3)

keputusan-keputusan pemerintahyang penting secara bebas dari rakyat biasa.


Philippe C. Schmitter, demokrasi merupakan sebagai suatu sistem pemerintahan di
mana pemerintah dimintai tanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka di wilayah
publik oleh warga negara, yang bertindak secara tidak langsung melalui kompetisi

4)

dan kerja sama dengan para wakil mereka yang telah terpilih.
Henry B. Mayo mengatakan, demokrasi sebagai sistem politik merupakan suatu
sistem yang menunjukkan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas
wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan
berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam

5)

suasana terjaminnnya kebebasan politik.


Menurut Harris Soche, demokrasi adalah bentuk pemerintahan rakyat, karena itu
kekuasaan pemerintahan itu melekat pada diri rakyat diri orang banyak dan
merupakan hak bagi rakyat atau orang banyak untuk menagtur, mempertahankan dan
melindungi dirinya dari paksaan dan pemerkosaan orang lain atau badan yang

6)

diserahi untuk memerintah.


Menurut C.F Strong, demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan dalam mana
mayoritas anggota dewasa dari masyarakat politik ikut serta dalam atas dasar sistem

perwakilan yang menjamin bahwa pemerintah akhirna mempertanggung jawabkan


tindakan- tindakan kepada mayoritas itu.1[1]
Demokrasi oleh para filsuf dievaluasi secara berbeda-beda:
1. Plato memandang demokrasi dekat dengan tirani, dan cenderung menuju tirani. Ia
juga berpendapat bahwa demokrasi merupakan yang terburuk dari semua
pemerintahan yang berdasarkan hukum dan yang terbaik dari semua pemerintahan
yang tidak mengenal hukum.
2. Aristoteles melihat demokrasi sebagai bentuk kemunduran politeia, dan yang
paling dapat ditolerir dari ketiga bentuk pemerintahan yang merosot; dua yang lain
adalah tirani dan oligarki.
3. Sesudah Renaissance berkembanglah ide kedaulatan, teori kontrak sosial, dan
doktrin hak-hak alamiah. Perkembangan ini mendukung berkembangnya
demokrasi. Namun demikian, banyak pendukung , termasuk Locke sendiri, tetap
menganut monarki terbatas.
4. Spinoza menganggap demokrasi lebih baik daripada monarki. Soalnya
kemerdekaan bagi warga negara mesti ada jaminannya. Demokrasi lebih klop
dengan kemerdekaan seperti itu.
5. Montesquieu, perintis ajaran tentang pemisahan kekuasaan, lebih suka monarki
konstitusional. Sebenarnya ia berkeyakinan bahwa bentuk pemerintahan ideal
adalah demokrasi klasik yang dibangun di atas kebajikan kewarganegaraan. Ia
berkeyakinan pula bahwa yang ideal itu tak akan tercapai.
6. Rousseau mendukung kebebasan dan kedaulatan manusia. Pada hematnya, bentuk
pemerintahan mesti didasarkan pada aneka macam pengkajian historis. Bersamaan
dengan itu, analisis dan penegasannya pada kebebasan menunjang pemikiran
demokratis.
7. Amerika mencoba mengambil ide-ide dari sebagian besar pandangan-pandangan
yang terurai di atas, sambil membangun sebuah demokrasi perwakilan yang
kekuasaannya berasal dari rakyat. Pemerintahan secara perwakilan tidak saja sesuai
1[1] Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi

dengan ukuran negara. Itu juga menyediakan obat pemberantas penindasan oleh
mayoritas.
8. John Stuart Mill menganjurkan pemerintahan perwakilan dan kemerdekaan bagi
warga negara sebesar-besar dan seluas-luasnya. Ia membenci dominasi mayoritas.
9. John Dewey percaya demokrasi sebagai suatu metode pengorganisasian
masyarakat yang selaras dengan metode penelitian.
Dalam kehidupan bernegara istilah demokrasi mengandung pengertian bahwa rakyat
yang memberikan ketentuan dalam masalah-masalah menegenali kehidupannya, termasuk
menilai kebijakan negara, karena kebijakan tersebut akan menentukan kehidupan
rakyatnya.

Dengan

demikian

negara

yang

menganut

sistem

demokrasi

maka

pemerintahannya diselenggarakan atas kehendak rakyatnya.


Pemerintahan demokrasi adalah suatu pemerintahan yang melaksanakan kehendak
rakyat, akan tetapi kemudian ditafsirkan dengan suara terbanyak dari rakyat banyak. Jadi
tidak melaksanakan kehendak seluruh rakyat, karena selalu mengalahkan kehendak
golongan yang sedikit anggotanya. Dalam pemerintahan demokrasi dijamin hak-hak
kebebasan setiap orang dalam suatu negara.
Demokrasi dapat dipandang sebagai suatu mekanisme dan cita-cita hidup
berkelompok sesuai kodrat manusia hidup bersama dengan manusia lain yang disebut
kerakyatan, yaitu bersama dengan rakyat banyak atau masyarakat. Oleh karena itu,
demokrasi adalah mementingkan atau mengutamakan kehendak rakyat.
Demokrasi dapat dikatakan pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat,
yaitu adanya tuntutan atau dukungan dari rakyat sebagai masukan, kemudian tuntutan itu
dipertimbangkan dan dimusyawarahkan oleh rakyat yang duduk di lembaga legeslatif
sebagai proses konversi, dan hasilnya berupa kebijaksanaan atau aturan untuk rakyat
sebagai keluaran atau produk untuk rakyat. Hasil keluaran dapat mempengaruhi tuntutan
baru, jika tidak sesuai dengan apa yang dituntut.
Demokrasi atau kerakyatan merupakan pola hidup berkelompok didalam organisasi
negara yang sesuai dengan keinginan dan tuntutan orang hidup berkelompok. Keinginan
dan tuntutan orang-orang yang hidup berkelompok terutama ditentukan oleh pandangan
hidup (weltanschauung), filsafat hidup (filosofiche grondslag), dan ideologi bangsa yang

bersangkutan, yang menjadi aksioma kehidupan dalam bermasyarakat berbangsa dan


bernegara.2[2]
Demokrasi atau kerakyatan muncul sebagai akibat suatu sistem pemerintahan
diktator yang otoriter yang membawa akibat buruk bagi orang banyak sebagai rakyatnya.
Akibat-akibat buruk tersebut antara lain adalah:
1)

Penindasan dan eksploitasi terhadap rakyat, terutama eksploitasi tenaga dan pikiran

2)

rakyat sehingga rakyat hanya kewajiban tanpa hak.


Kondisi kehidupan masyarakat seperti diatas selalu mengakibatkan timbulnya

3)

konflik dengan korban yang lebih banyak dipihak rakyat.


Kesejahteraan bertumpu pada para penguasa dan pemimpin sedangkan rakyat
dibiarkan hidup melarat tanpa jaminan masa depan.
Faktor-faktor diatas melatarbelakangi ide pemerintah yang demokratis untuk

menjamin kesejahteraan rakyat banyak secara merata (Sumarno dkk, 2001).


Hakikat demokrasi

sebagai suatu sistem bermasyarakat dan bernegara serta

pemerintahan memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat baik


dalam penyelenggaraan negara maupun pemerintahan. Kekuasaan pemerintah berada di
tangan rakyat mengandung pengertian: pemerintahan dari rakyat, pemerintahan oleh
rakyat, dan pemerintahan untuk rakyat. Suatu pemerintahan dikatakan demokratis, bila
ketiga hal di atas dapat dijalankan dan ditegakkan dalam tata pemerintahan (Dede Rosyada
dkk, 2003).3[3]
2.2.1 Pemikiran dan Teori-Teori Demokrasi
Sejarah pemikiran dan praktik demokrasi bisa digambarkan dalam tiga fase utama:
Fase Klasik (Demokrasi Athena), Fase Pra-Pencerahan, Fase Modern dan Fase
Kontemporer (Paska Perang Dingin).4[6]
1. Fase Klasik
Fase Klasik ditandai dengan munculnya pemikiran-pemikiran filosofis dan praksis
politik dan ketatanegaraan sekitar abad ke 5 SM yang menjadi kebutuhan dari negara2[2] Noor Ms Bakry. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
3[3] Ibid hal 3
4[6] Budiardjo, Mirriam, 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta. Gramedia Pustaka
Utama

negara kota (city states) di Yunani, khususnya Athena. Munculnya pemikiran yang
mengedepankan demokrasi (democratia, dari demos + kratos) disebabkan gagalnya sistem
politik yang dikusai para Tyrants atau autocrats untuk memberikan jaminan
keberlangsungan terhadap Polis dan perlindungan terhadap warganya. Filsuf-filsuf seperti
Thucydides (460-499 SM), Socrates (469-399 SM), Plato (427-347SM), Aristoteles (384322 SM) merupakan beberapa tokoh terkemuka yang mengajukan pemikiran-pemikiran
mengenai bagaimana sebuah Polis seharusnya dikelola sebagai ganti dari model kekuasaan
para autocrats dan tyrants. Dari buah pikiran merekalah prinsip-prinsip dasar sistem
demokrasi,

yaitu

persamaan

(egalitarianism)

dan

kebebasan

(liberty)

individu

diperkenalkan dan dianggap sebagai dasar sistem politik yang lebih baik ketimbang yang
sudah ada waktu itu. Tentu saja para filsuf Yunani tersebut memiliki pandangan berbeda
terhadap kekuatan dan kelemahan sistem demokrasi itu sendiri. Plato, misalnya, dapat
dikatakan sebagai pengritik sistem demokrasi yang paling keras karena dianggap dapat
mendegenerasi dan mendegradasi kualitas sebuah Polis dan warganya. Kendati Plato
mendukung gagasan kebebasan individu tetapi ia lebih mendukung sebuah sistem politik
dimana kekuasaan mengatur Polis diserahkan kepada kelompok elite yang memiliki
kualitas moral, pengetahuan, dan kekuatan fisik yang terbaik atau yang dikenal dengan
nama the philosopher Kings. Sebaliknya, Aristoteles memandang justru sistem
demokrasi yang akan memberikan kemungkinan Polis berkembang dan bertahan karena
para warganya yang bebas dan egaliter dapat terlibat langsung dalam pembuatan keputusan
publik,

dan

secara

bergiliran

mereka

memegang

kekuasaan

yang

harus

dipertanggungjawabkan kepada warga.


Demokrasi klasik di Athena, baik dari dimensi pemikiran dan praksis, jelas bukan
sebuah demokrasi yang memenuhi kriteria sebagai demokrasi substantif, karena pengertian
warga (citizens) yang egaliter dan bebas pada kenyataannya sangat terbatas. Mereka
ini adalah kaum pria yang berusia di atas 20 th, bukan budak, dan bukan kaum pendatang
(imigran). Demikian pula demokrasi langsung di Athena dimungkinkan karena wilayah
dan penduduk yang kecil (60000-80000 orang). Warga yang benar-benar memiliki hak dan
berpartisipasi dalm Polis kurang dari sepertiganya dan selebihnya adalah para budak, kaum
perempuan dan anak-anak, serta pendatang atau orang asing! Demikian pula, para warga
dapat sepenuhnya berkiprah dalam proses politik karena mereka tidak tergantung secara
ekonomi, yang dijalankan sepenuhnya oleh para budak, kaum perempuan, dan imigran.
2. Fase Pencerahan (Abad 15 sampai awal 18M)

Gagasan yang mengemuka adalah gagasan alternatif terhadap sistem Monarki


Absolut yang dijalankan oleh para raja Eropa dengan legitimasi Gereja. Tokoh-tokoh
pemikir era ini antara lain adalah Niccolo Machiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes
(1588-1679), John Locke (1632-1704), dan Montesquieu (1689-1755). Era ini ditandai
dengan munculnya pemikiran Republikanisme (Machiavelli) dan liberalisme awal (Locke)
serta konsep negara yang berdaulat dan terpisah dari kekuasan eklesiastikal (Hobbes).
Lebih jauh, gagasan awal tentang sistem pemisahan kekuasaan (Montesquieu)
diperkenalkan sebagai alternative dari model absolutis. Pemikiran awal dalam sistem
demokrasi modern ini merupakan buah dari Pencerahan dan Revolusi Industri yang
mendobrak dominasi Gereja sebagai pemberi legitimasi sistem Monarki Absolut dan
mengantarkan pada dua revolusi besar yang membuka jalan bagi terbentuknya sistem
demokrasi modern, yaitu Revolusi Amerika (1776) dan Revolusi Perancis (1789). Revolusi
Amerika melahirkan sebuah sistem demokrasi liberal dan federalisme (James Madison)
sebagai bentuk negara, sedangkan Revolusi Perancis mengakhiri Monarki Absolut dan
meletakkan dasar bagi perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia secara universal.
Trias politica atau teori mengenai pemisahan kekuasaan, di latar belakangi pemikiran
bahwa kekuasaan-kekuasaan pada sebuah pemerintahan yang berdaulat tidak dapat
diserahkan kepada orang yang sama dan harus dipisahkan menjadi dua atau lebih kesatuan
kuat yang bebas untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa.
Dengan demikian diharapkan hak-hak asasi warga negara dapat lebih terjamin.
Dalam bukunya yang berjudul Lesprit des Louis Montesquieu membagi kekuatan
negara menjadi tiga kekuasaan agar kekuasaan dalam negara tidak terpusat pada tangan
seorang raja penguasa tunggal, yaitu sebagai berikut:
a)
Legislatif, yaitu kekuasaan untuk membentuk undang-undang;
b)
Eksekutif, yaitu kekuasaan untuk menjalankan undang-undang;
c)
Legislatif, yaitu kekuasaan untuk mengawasi pelaksanaan

undang-undang

(mengadili).
Ide pemisahan kekuasaan tersebut, menurut Montesquieu dimaksudkan untuk
memelihara kebebasan politik, yang tidak akan terwujud kecuali bila terdapat keamanan
masyarakat dalam negeri. Montesquieu menekankan bahwa satu orang atau lembaga akan
cenderung untuk mendominasi kekuasaan dan merusak keamanan masyarakat tersebut bila
kekuasaan terpusat padanya. Oleh karenanya, dia berpendapat bahwa agar pemusatan
kekuasaan tidak terjadi, haruslah ada pemisahan kekuasaan yang akan mencegah adanya
dominasi satu kekuasaan terhadap kekuasaan lainnya.5[7]
5[7] Ubaedillah, A, 2008. Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) Demokrasi,
Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta. Kencana Prenada Media Group

3. Fase Modern (awal abad 18-akhir abad 20)


Menyaksikan bermunculannya berbagai pemikiran tentang demokrasi berkaitan
dengan teori-teori tentang negara, masalah kelas dan konflik kelas, nasionalisme, ideologi,
hubungan antara negara dan masyarakat dsb. Disamping itu, terjadi perkembangan dalam
sistem politik dan bermunculannya negara-negara baru sebagai akibat Perang Dunia I dan
II serta pertikaian ideologi khusunya antara kapitalisme dan komunisme.
Pemikir-pemikir demokrasi modern yang paling berpengaruh termasuk JJ Rousseau
(1712-1778), John S Mill (1806-1873), Alexis de Tocqueville (1805-1859), Karl Marx
(1818-1883), Friedrich Engels (1820-1895), Max Weber (1864-1920), dan J. Schumpeter
(1883-1946). Rousseau membuat konsepsi tentang kontrak sosial antara rakyat dan
penguasa dengan mana legitimasi pihak yang kedua akan diberikan, dan dapat dicabut
sewaktu-waktu apabila ia dianggap melakukan penyelewengan. Gagasan dan praktik
pembangkangan sipil (civil disobedience) sebagai suatu perlawanan yang sah kepada
penguasa sangat dipengaruhi oleh pemikiran Rousseau. Mill mengembangkan konsepsi
tentang kebebasan (liberty) yang menjadi landasan utama demokrasi liberal dan sistem
demokrasi perwakilan modern (Parliamentary system) di mana ia menekankan pentingnya
menjaga hak-hak individu dari intervensi negara/pemerintah. Gagasan pemerintahan yang
kecil dan terbatas merupakan inti pemikiran Mill yang kemudian berkembang di Amerika
dan Eropa Barat. De Toqcueville juga memberikan kritik terhadap kecenderungan negara
untuk intervensi dalam kehidupan sosial dan individu sehingga diperlukan kekuatan kontra
yaitu

masyarakat

sipil

yang

mandiri.

Marx dan Engels merupakan pelopor pemikir radikal dan gerakan sosialis-komunis yang
menghendaki hilangnya negara dan munculnya demokrasi langsung. Negara dianggap
sebagai panitia eksekutif kaum burjuis dan alat yang dibuat untuk melakukan kontrol
terhadap kaum proletar. Sejauh negara masih merupakan alat kelas burjuis, maka
keberadaannya haruslah dihapuskan (withering away of the state) dan digantikan dengan
suatu model pemerintahan langsung di bawah sebuah diktator proletariat. Dengan
mendasari analisa mereka mengikuti teori perjuangan kelas dan materialism dialektis,
Marx dan Engels menganggap sistem demokrasi perwakilan yang diajukan oleh kaum
liberal adalah alat mempertahankan kekuasaan kelas burjuis dan karenanya bukan sebagai
wahana politik yang murni (genuine) serta mampu mengartikulasikan kepentingan kaum
proletar. Max Weber dan Schumpeter adalah dua pemikir yang menolak gagasan demokrasi
langsung ala Marx dan lebih menonjolkan sistem demokrasi perwakilan. Mereka berdua

mengemukakan demokrasi sebagai sebuah sistem kompetisi kelompok elite dalam


masyarakat, sesuai dengan roses perubahan masyarakat modern yang semakin terpilahpilah menurut fungsi dan peran. Dengan makin berkembangnya birokrasi, ilmu
pengetahuan dan teknologi, dan sistem pembagian kerja modern, maka tidak mungkin lagi
membuat suatu sistem pemerintahan yang betul-betul mampu secara langsung
mengakomodasi kepentingan rakyat. Demokrasi yang efektif adalah melalui perwakilan
dan dijalankan oleh mereka yang memiliki kemampuan, oleh karenanya pada hakekatnya
demokrasi modern adalah kompetisi kaum elit.
4. Era Kontemporer
Perkembangan pemikiran demokrasi dan praksisnya pada era kontemporer menjadi
semakin kompleks, apalagi dengan bermunculannya negara-negara bangsa dan pertarungan
ideologis yang melahirkan blok Barat dan Timur, kapitalisme dan sosialisme/komunisme.
Demokrasi menjadi jargon bagi kedua belah pihak dan hampir semua negara dan
masyarakat pada abad keduapuluh, kenbdatipun variannya sangat besar dan bahkan
bertentangan satu dengan yang lain. Demokrasi kemudian menjadi alat legitimasi para
penguasa, baik totaliter maupun otoriter di seluruh dunia. Di negara-negara Barat seperti
Amerika dan Eropa, pemahaman demokrasi semakin mengarah kepada aspek prosedural,
khususnya tata kelola pemerintahan (governance). Pemikir seperti Robert Dahl
umpamanya menyebutkan bahwa teori demokrasi bertujuan memahami bagaimana
warganegara melakukan control terhadap para pemimpinnya. Dengan demikian focus
pemikiran dan teori demokrasi semakin tertuju pada masalah proses-proses pemilihan
umum atau kompetisi partai-partai politik, kelompok kepentingan, dan pribadi-pribadi
tertentu yan memiliki pengaruh kekuasaan. Praktik demokrasi pada fase-fase tersebut tidak
berarti selalu berjalan berkesinambungan, tetapi bisa terjadi overlapping dan bahkan
ruptures, sehingga perkembangan tersebut tidaklah berjalan linear. Demikian pula, harus
diingat bahwa selalu ada diskrepansi atau gap antara pemikiran,gagasan (ideas)
dengan praksis dan realitas yang sedang berkembang. Dengan demikian tidak berarti
bahwa dalam fase klasik realitas politik di Athena merupakan pengejawantahan total
gagasan demokrasi yang ada. Bisa jadi bahwa gagasan yang muncul pada suatu era
ternyata masih merupakan gagasan yang belum terealisasi sebelumnya, atau kalaupun
terealisasi ternyata mengalami berbagai penyimpangan atau perbedaan.

10

2.2 Sejarah Munculnya Demokrasi


2.2.1 Dalam pandangan Sejarah Dunia
Demokrasi dalam sejarah peradaban muncul sejak jamam Yunani Kuno di mana
rakyat memandang kediktatoran sebagai bentuk pemerintahan terburuk. Capaian praktis
dari pemikiran demokrasi Yunani adalah munculnya negara kota. Dengan Polis adalah
bentuk demokrasi pertama. Demokrasi berasal dari taka tain yaitu demos (rakyat) dan
kratos (pemerintahan).
Peradaban Yunani menunjukkan bahwa masyarakat Yunani dipecah menjadi kotanegara bagian yang kecil-kecil (tidak lebih dari 10.000 warga). Setiap orang menyuarakan
pendapatnya atas persoalan-persoalan pemerintahan. Istilah demokrasi sendiri pertama kali
di kemukakan pada pertengahan abad 5 M di Athena.
Dari Wikipedia :
The term democracy first appeared in ancient Greek political and philosophical
thought. The philosopher Plato contrasted democracy, the system of "rule by the
governed", with the alternative systems of monarchy (rule by one individual), oligarchy
(rule by a small lite class) and timocracy. (Political Analysis in Plato's Republic at the
Stanford Encyclopedia of Philosophy)
Although Athenian democracy is today considered by many to have been a form of
direct democracy, originally it had two distinguishing features: firstly the allotment
(selection by lot) of ordinary citizens to government offices and courts, and secondarily
the assembly of all the citizens. All the male Athenian citizens were eligible to speak and
vote in the Assembly, which set the laws of the city-state; citizenship was not granted to
women, or slaves. Of the 250,000 inhabitants only some 30,000 on average were
citizens. Of those 30,000 perhaps 5,000 might regularly attend one or more meetings of
the popular Assembly. Most of the officers and magistrates of Athenian government
were allotted; only the generals (strategoi) and a few other officers were elected.
Uraian di atas memberi gambaran terhadap kita bahwa dari semua manusia yang ada
dikerajaan itu hanya 2% yang berperan dalam menentukan pergerakan pemerintahan. Dan
diantara 2% itu hanya segelintir orang yang dapat mengakses kekuasaan.6[4]
Konsep demokrasi memang sedikit sulit untuk dipahami karena banyak memiliki
kesamaan makna yaitu variatif, evolotif dan dinamis. Untuk itu tidak begitu mudah
6[4] Ibid hal 2
11

membuat definisi yang baku tentang demokrasi. Banyak Negara yang mengklaim bahwa
negaranya merupakan negara demokrasi, walaupun nilai-nilai demokrasi dalam
pemerintahannya banyak yang dilanggar.
Demokrasi diakui banyak orang dan negara sebagai system nilai kemanusiaan yang
paling menjanjikan masa depan umat manusia di dunia. Abraham Lincoln adalah presiden
Amerika

Serikat pertama

yang

pernah mengatakan, bahwa demokrasi adalah

memerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.


2.2.2

Hilang dan munculnya kembali paham demokrasi Baron de La Brde et de


Montesquieu (18 Januari 1689 10 Februari 1755)
Demokrasi di Yunani sendiri akhirnya menghilang. Baru setelah ratusan bahkan

ribuan tahun kemudian paham demokrasi muncul kembali. Tapatnya di Perancis saat
terjadi revolosi Perancis. Ia adalah Baron de La Brde et de Montesquieu (lahir 18 Januari
1689 meninggal 10 Februari 1755) yang lebih dikenal dengan Montesquieu.
Momtesquieu terkenal dengan teorinya mengenai pemisahan kekuasaan yaitu Trias Politika
dimana kekuasaan dibagi menjadi Legeslatif, Eksekutif dan Yudikatif. Ia juga yang
mempopulerkan istilah feodalisme dan kekaisaran Bizantium.7[5]
Peristiwa diserangnya Penjara Bastille memulai runtuhnya kerajaan dan masyarakat
meruntuhkan kerajaan tersebut, melakukan rapat besar untuk membuat suatu bentuk dari
pemerintahan yang berbeda dari Kerajaan mereka mengatakan bahwa setiap orang berhak
menjadi pemimpin tidak hanya para keluarga Raja. Ide yang sangat bagus dan enak
ditelinga membuat masyarakat mendapatkan angan-angan bahwa suatu saat mereka dapat
mempunyai kesempatan menjadi penguasa layaknya raja. Akhirnya semua lapisan
masyarakat menyutujuinya dan Memilih orang-orang yang dapat berperan dalam tiga unsur
demokrasi tersebut.
Perjuangan demokrasi di Perancis sendiri juga tidak mudah karena raja tidak ingin
menyerahkan kekuasaannya begitu saja. Walau demikian perubahan di Perancis ini telah
mempengaruhi banyak Negara tetangganya.

Hingga muncullah sistem Monarki

Parlementari di Inggris, German, Italia, dan Eropa barat.


Setelah revolosi Perancis, krisis akibat perebutan kekuasaan masih terus berlangsung.
Pada akhirnya perancis kembali dengan system monarki dengan Napoleon Bonaparte
sebagai kaisarnya.
7[5] http://korandemokrasiindonesia.wordpress.com/

12

Kegagalan demokrasi di Perncis ternyata tidak menyurutkan keinginan sebagian


besar masyarakat di Eropa untuk menjadikan demokrasi sebagai sistem yang berkeadilan.
Setidaknya mereka ingin terbebas dari tirani gereja dan pemerintah negaranya. Dengan
ditemukannya benua Amerika, di mana di benua tersebut tidak ada kekuasaan kaisar dan
penduduk aslinyapun peradabannya dianggap masih primitive, maka masyarakat Eropa
yang ingin mendapatkan kebebasan berbondong-bondong ke Amerika untuk membangun
negara baru dengan dasar kebebasan. Perancis kemudian menghadiahkan patung Liberty
(kebebasan) yang dibangun di New York sebagai simbol penyambutan kepada para pencari
kebebasan.
2.2.3 Perkembangan Demokrasi di Indonesia
Sepanjang masa kemerdekaannya, bangsa indonesia telah mencoba menerapkan
bermacam-macam demokrasi. Dalam perkembangannya, terdapat dua aliran demokrasi,
yaitu demokrasi konstitusional dan demokrasi yang mendasarkan diri pada pada
komunisme. Kelompok pertama berkembang di negara-negara eropa dan amerika
sedangkan kelompok kedua berkembang di negara-negara berpaham komunis. Perbedaan
fundamental antara keduanya ialah bahwa demokrasi konstitusional mencita-citakan
pemerintah tyang terbatas kekuasaannya, suatu negara hukum (Rechstaat) yang tunduk
pada Rule of Low. Sebaliknya demokrasi yang mendasarkan dirinya atas komunisme
mencita-citakan pemerintahan yang tidak dibatasi kekuasaannya (machstaat) dan lebih
bersifat totaliter (Miriam Budiarjo, 1996 : 52). Sedangkan bangsa Indonesia pernah
menerapkan tiga model demokrasi, yaitu demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, dan
demokrasi pancasila. Pada setiap fase tentunya memiliki karakteristik yang merupakan ciri
khas dari pelaksanaan tiap-tiap fase demokrasi.
Dalam sejarah politik Indonesia, kita setidaknya mengenal empat macam
demokrasi, yaitu
1. Demokrasi parlementer (1945-1959)
Periode kedua pemerintahan negara Indonesia adalah tahun 1950 sampai 1959,
dengan menggunakan UUD sementara (UUDS) sebagai landasan konstitusionalnya. Pada
masa ini adalah masa kejayaan demokrasi di Indonesia, karena hampir semua elemen
demokrasi dapat ditemukan dalam perwujudan kehidupan politik di Indonesia. Lembaga
perwakilan rakyat atau parlemen memainkan peranan yang sangat tinggi dalam proses
13

politik yang berjalan. Perwujudan kekuasaan parlemen ini diperlihatkan dengan adanya
sejumlah mosi tidak percaya kepad pihak pemerintah yang mengakibatkan kabinet harus
meletakkan jabatannya. Sejumlah kasus jatuhnya kabinet dalam periode ini merupakan
contoh konkret dari tingginya akuntabilitas pemegang jabatan dan politisi. Ada hampir 40
partai yang terbentuk dengan tingkat otonomi yang tinggi dalam proses rekruitmen baik
pengurus, atau pimpinan partainya maupun para pendukungnya.
Demokrasi parlementer gagal karena (1) dominannya politik aliran, sehingga
membawa konsekuensi terhadap pengelolaan konflik; (2) basis sosial ekonomi yang masih
sangat lemah;(3) persamaan kepentingan antara presiden Soekarno dengan kalangan
Angkatan Darat, yang sama-sama tidak senang dengan proses politik yang berjalan.
2. Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Sejak berakhirnya pemillihan umum 1955, presiden Soekarno sudah menunjukkan
gejala ketidaksenangannya kepada partai-partai politik. Hal itu terjadi karena partai politik
sangat orientasi pada kepentingan ideologinya sendiri dan dan kurang memperhatikan
kepentingan politik nasional secara menyeluruh.disamping itu Soekarno melontarkan
gagasan bahwa demokrasi parlementer tidak sesuai dengan kepribadian bangsa indonesia
yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan dan gotong royong.
Politik pada masa ini diwarnai oleh tolak ukur yang sangat kuat antara ketiga
kekuatan politik yang utama pada waktu itu, yaitu: presiden Soekarno, Partai Komunis
Indonesia, dan Angkatan Darat. Karakteristik yang utama dari demokrasi terpimpin
adalah: menggabungkan sistem kepartaian, dengan terbentuknya DPR-GR peranan
lembaga legislatif dalam sistem politik nasionall menjadi sedemikian lemah, Basic Human
Right menjadi sangat lemah, masa demokrasi terpimpin adalah masa puncak dari semnagt
anti kebebasan pers, sentralisasi kekuasaan semakin dominan dalam proses hubungan
antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.
Pandangan A. Syafii Maarif, demokrasi terpimpin sebenarnya ingin menempatkan
Soekarno seagai Ayah dalam famili besar yang bernama Indonesia dengan kekuasaan
terpusat berada di tangannya. Dengan demikian, kekeliruan yang besar dalam Demokrasi
Terpimpin Soekarno adalah adanya pengingkaran terhadap nilai-nilai demokrasi yaitu
absolutisme dan terpusatnya kekuasaan hanya pada diri pemimpin. Selain itu, tidak ada
14

ruang kontrol sosial dan check and balance dari legislatif terhadap eksekutif. (Sunarso,
dkk. 2008:132-136)
3. Demokrasi Pada Masa Reformasi / Pancasila (1998 Sampai Dengan Sekarang).
Sejak runtuhnya Orde Baru yang bersamaan waktunya dengan lengsernya Presiden
Soeharto, maka NKRI memasuki suasana kehidupan kenegaraan yang baru, sebagai hasil
dari kebijakan reformasi yang dijalankan terhadap hampir semua aspek kehidupan
masyarakat dan negara yang berlaku sebelumnya. Kebijakan reformasi ini berpuncak
dengan di amandemennya UUD 1945 (bagian Batangtubuhnya) karena dianggap sebagai
sumber utama kegagalan tataan kehidupan kenegaraan di era Orde Baru.
Amandemen UUD 1945, terutama yang berkaitan dengan kelembagaan negara,
khususnya laginya perubahan terhadap aspek pembagian kekuasaan dan aspek sifat
hubungan antar lembaga-lembaga negaranya, dengan sendirinya mengakibatkan terjadinya
perubahan terhadap model demokrasi yang dilaksana-kan dibandingkan dengan model
Demokrasi Pancasila di era Orde Baru. Dalam masa pemerintahan Habibie inilah muncul
beberapa indicator kedemokrasian di Indonesia. Pertama, diberikannya ruang kebebasan
pers sebagai ruang publik untuk berpartisipasi dalam kebangsaan dan kenegaraan. Kedua,
diberlakunya system multi partai dalam pemilu tahun 1999.
Demokrasi yang diterapkan Negara kita pada era reformasi ini adalah demokresi
Pancasila, tentu saja dengan karakteristik tang berbeda dengan orde baru dan sedikit mirip
dengan demokrasi perlementer tahun 1950-1959. Pertama, Pemilu yang dilaksanakan
(1999-2004) jauh lebih demokratis dari yang sebelumnya. Kedua, ritasi kekuasaan
dilaksanakan dari mulai pemerintahan pusat sampi pada tingkat desa. Ketiga, pola
rekruitmen politik untuk pengisian jabatan politik dilakukan secara terbuka. Keempat,
sebagian besar hak dasar bisa terjamin seperti adanya kebebasan menyatakan pendapat.
Demokrasi Pancasila merupakan suatu paham demokrasi yang bersumber pada
pandangan hidup falsafat hidup bangsa Indonesia yang digali dari kepribadian rakyat
Indonesia sendiri. Dari falsafah hidup bangsa Indonesia inilah kemudian timbul dasar
falsafah negara kita bernama falsafah negara pancasila yang tercermin dan terkandung
dalam pembukaan UUD 1945. Dalam pelaksanaan demokrasi ini harus dijiwai oleh silasila yang terkandung dalam pancasila. Oleh karena itu, Demokrasi Pancasila adalah
15

demokrasi yang merupakan perwujudan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat


kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan yang mengandung semangat Ketuhanan
yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2.3 Bentuk-Bentuk Demokrasi
2.3.1 Menurut Torres
Demokrasi dapat dilihat dari dua aspek yaitu yang pertama ialah, formal democracy
dankedua, substansive democracy, yaitu menunjuk pada bagaimana proses demokrasi
itudilakukan. Formal democracy menunjuk pada demokrasi dalam arti system
pemerintahan. Hal ini dapat dilihat dari dalam berbagai pelaksanaan demokrasi di berbagai
Negara. Dalam suatu Negara misalnya dapat demokrasi dengan menerapkan system
presidensial, atau system parlementer.
a) Sistem presidensial
Sistem ini menekankan pentingnya pemilihan presiden secaralangsung, sehingga
presiden terpilih mendapatkan mandate secara langsung dari rakyat.Dalam system ini
kekuasaan eksekutif sepenuhnya berada di tangan presiden. Oleh karenaitu presiden ialah
kepala eksekutif dan sekaligus menjadi kepala Negara. Presiden sebagai penguasa
sekaligus menjadi kepala Negara. Presiden sebagai penguasa sekaligus sebagaisymbol
kepemimpinan Negara. Sistem seperti ini di sebagaimana diterapkan di NegaraAmerika
dan Indonesia.
b) Sistem parlementer
Sistem ini menerapkan model yang menyatu antara kekuasaaneksekutif dan
legislatif. Kepala eksekutif adalah berada di tangan seorang perdana menteri.Adapun
kepala Negara adalah berada pada seorang ratu, misalnya di Negara Inggris atauada pula
yang berada di tangan seorang presiden misalnya di India.
Selain bentuk demokrasi sebagaimana dipahami di atas terdapat beberapa system
demokrasi yang mendasarkan pada prinsip filosofi Negara, yaitu:
1. Demokrasi Perwakilan Liberal.
Prinsip demokrasi ini didasarkan pada filsafat kenegaraan bahwa manusia adalah
mahluk individu yang bebas. Oleh karena itu dalam system dalam system demokrasi ini
kebebasanindividu sebagai dasar fundamental dalam pelaksanaan demokrasi.Menurut Held
(2004: 10), bahwa demokrasi perwakilan liberal merupakan suatu pembaharuan
kelembagaan pokok untuk mengatasi problema kesinambungan antarakekuasaan memaksa
dan kebebasan. Dalam demokrasi ini kelembagaan Negara melindungiserta menjamin atas
kebebasan secara individu dalam hidup bernegara. Rakyat harusdiberikan jaminan
kebebasan secara individual baik didalam kehidupan politik, ekonomi,social, keagamaan
bahkan kebebasan anti agama.Konsekuensi dari implementasi system dan prinsip
16

demokrasi ini adalah berkembang persaingan bebas, terutama dalam kehidupan ekonomi
sehingga akibatnya individu yangtidak mampu menghadapi persaingan tersebut akan
tenggelam. Akibatnya kekuasaankapitalislah yang menguasai kehidupan Negara, bahkan
berbagai kebijakan dalam Negarasangat ditentukan oleh kekuasaan kapital.
2. Demokrasi Satu Partai dan Komunisme
Demokrasi satu partai ini lazimnya dilaksanakan di Negara-negara
komunisseperti,Rusia,Cina,Vietnam,dan lainya, kebebasan formal berdasarkan demokrasi
liberalakan menghasilkan kesenjangan kelas yang semakin lebar dalam masyarakat, dan
akhirnyakapitalislah yang menguasai Negara.Dinamika pemerintahan Negara yang
menganut sitem partai tunggal cenderung statis (nonkompetitif) karena di haruskan
menerima pimpinan dari partai dominant. Dalam system ini tidak ditoleransi kemungkinan
adanya partai-partai lain Berdasarkan teori serta praktek demokrasi sebagaimana
dijelaskan, maka pengertian demokrasi secara filosofi menjadisemakin luas, artinya
masing-masing paham mendasarkan pengertian bahwa kekuasan ditangan rakyat.
2.3.2

Menurut Eric Hiariej

Dalam sejarah terdapat sedikitnya tiga bentuk demokrasi yang pernah dicoba:
demokrasilangsung (direct democracy/assembly democracy), demokrasi perwakilan
(representativedemocracy), demokrasi permusyawaratan(deliberative democracy). Berikut
ini adalah gambaran singkat tentang bentuk-bentuk demokrasi tersebut
a. Demokrasi Langsung
Praktik demokrasi paling tua; praktik demokrasi pada asosiasi yang berukuran
kecil.Berdasarkan pada partisipasi langsung, tanpa perwakilan dan terus menerus dari
warga desadalam membuat dan melaksankan keputusan bersamaTidak terdapat batas yang
tegas antara pemerintah dan yang diperintah, semacam systemself-government, pemerintah
dan yang diperintah adalah orang yang samaSistem kelembagaan: pertemuan warga (mass
meeting, town meeting, pertemuan RT/RW,dll), referendum.
b. Demokrasi Perwakilan
Praktik demokrasi yang paling lebih belakangan sebagai jawaban terhadap
beberapakelemahan demokrasi langsung; parktik demokrasi pada asosiasi yang berukuran
besar seperti Negara.Berdasarkan pada partisipasi yang terbatas (partisipasi warga hanya
dalam waktu yangsingkat) dan hanya dilakukan beberapa kali dalam kurun waktu tertentu
seperti dalam bentuk keikutsertaan dalam pemilihan umum.Berdasarkan pada partisipasi
yang tidak langsung (masyarakat tidak mengoperasikankekuasaan sendiri), tapi memilih
wakil yang akan membuat kebijakan atas namamasyarakat .Pemerintah dan yang
diperintah terpisah secara tegas, demokratis tidaknya demokrasi bentuk ini tergantung pada
kemampauan para wakil yang dipilih membangun danmempertahankan hubungan yang
efektif antara pemerintah dan yang diperintah .
Sistem kelembagaan:
17

o Para wakil rakyat yang dipilh: parlemen para pejabat Negara yang dipilih: kepala
pemerintahan dan pembantu-pembantunya, judikatif, dll.
o Pemilihan umum yang adil, bebas dan berkala
o Media massa yang membuka kesempatan bagi kebebasan berpendapat dan
kebebasanmendapatkan informasi dan pengetahuan
o Sistem asosiasi yang bersifat otonom: partai politik, organisasi massa, dll. Hak pilih
bagi semua orang dewasa dan hak untuk menduduki jabatan-jabatan publik.
c. Demokrasi Permusyawaratan
o Bentuk demokrasi paling kontemporer; dipraktikan pada masyarakat yang
kompleksdan berukuran besar, bentuk demokrasi yang menggabungkan aspek
partisipasilangsung dan bentuk demokrasi perwakilan.
o Memberikan tekanan yang berbeda dalam memahami makna kedaulatan
rakyat:kedaulatan: kedaulatan berkaitan dengan keterlibatan masyarakat
dalammembicarakan, mendiskusikan dan mendebatkan isu-isu bersama atau dalam
menentukan apa yang pantas dianggap isu bersama, demokratis tidaknya
sebuahkebijakan tergantung pada apakah kebijakan tersebut sudah melalui proses
pembicaraan, diskusi dan perdebatan (baca: permusyawaratan) yang
melibatkanmasyarakat luas.
o Ada pemisahan yang tegas antara pemerintah dan yang diperintah. Tapi
pemisahanyang lebih penting adalah antara Negara dan masyarakat sipil. Negara
merupakantempat menggodok dan melaksanakan kebijakan. Masyarakat sipil
merupakan tempat berlangsungnya permusyawaratan
o Selain itu ada juga pemisahan antara wilayah public dan wilayah privat. Wilayah
public adalah wilayah permusyawaratan; wilayah privat adalah wilayah
tenpatseseorang memikirkan apa isu yang penting dan kenapa isu itu perlu
dibicarakan,didiskusikan dan didebatkan secara public
Sistem kelembagaan:
o Semua sistem kelembagaan demokrasi perwakilan
o Debat public; lewat media massa, lewat pertemuan warga yang terjadi secara
spontan ditempat-tempat public, dst.
o Dialog
2.3.3

Kelebihan Dan Kekurangan Masing-Masing Demokrasi

2.3.3.1 Kelebihan Dan Kekurangan Demokrasi Langsung

18

Kelebihan :
o Menjamin kendali warganegara terhadap kekuasaan politik
o Mendorong warganegara meningkatkan kapasitas pribadinya; misalnya
meningkatkankesadaran politik, meningkatkan pengetahuan pribadi dll
o Membuat warganegara tidak tergantung pada politisi yang memiliki kepentingan
sempit
o Masyarakat lebih mudah menerima keputusan yang sudah dibuat Masyarakat lebih
dekatdengan (konflik) politik dan karenanya berpotensi melahirkan kehidupan
bersama yangtidak stabil
Kekurangan :
o Sulit dioperasikan pada masyarakat yang berukuran besar
o Menyita terlalu banyak waktu yang diperlukan warganegara untuk melakukan halhallain; dan karenanya bisa menimbulkan apatisme
o Sulit menghindari bias kelompok dominan
2.3.3.2 Kelebihan Dan Kekurangan Dari Bentuk Demokrasi Perwakilan
Kelebihan :
o Lebih mudah diterapkan dalam amsyarakat yang lebih kompleks Jarak yang jauh
dari proses pembuatan kebijakan yang sesungguhnya bisa membuat masyarakat
bisamenolaknya ketika hendak diterapkan
o Mengurangi beban masyarakat dari tugas-tugas membuat, merumuskan dan
melaksankankebijakan bersama
o Memungkinkan fungsi-fungsi pemerintahan berada di tangan-tangan yang lebih
terlatihuntuk itu
Kekurangan :
o Mudah terjebak dalam kepentingan para wakil rakyat yang bertentangan
dengankepentingan masyarakat
o Demokrasi perwakilan menghadapi persoalan waktu dan jumlah seperti yang
dihadapidemokrasi langsung
o Cenderung menciptakan politik yang stabil karena menjauhkan masyarakat dari
(konflik) politik; dan karenanya mendorong kompormi
2.3.3.3 Kelebihan Dan Kekurangan Dari Bentuk Demokrasi Permusyawaratan
19

Kelebihan :
o Memberikan kesempatan yang lebih baik bagi masyarakat untuk terlibat dalam
proses pembuatan kebijakan; tanpa mendekatkan mereka dengan (konflik) politik
Mendorong warganegara untuk selalu memiliki kesadaran politik yang tinggi dan
selalumemperkaya diri dengan pengetahuan tentang perkembangan masyaraktnya
o Mendorong warganegara untuk selalu memikirkan kepentingan bersama
Memerlukanmasyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan sarana
komunikasi yang modern
Kekurangan :
o Dalam praktiknya permusyawaratan sulit menghindari kecenderungan elitisme
o Sulit mengharapkan setiap warganegara memiliki kepedulian politik yang sama
dansetara.

20

BAB III
KESIMPULAN

21

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous 1. [online]. http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi. Diakses 3 Juli 2013.
Anonymous 2. [online]. http://korandemokrasiindonesia.wordpress.com/. Diakses 3 Juli
2013.
Budiardjo, Mirriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
Gaffar, Afan. 2004. Politik Indonesia Transisi Menuju Demokrasi. Cetakan IV, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
Hidayat, Komaruddin dan Aryumardi Azra. 2008. Pendidikandan Kewarganegaraan.
Jakarta:ICC UIN Syarif Hidayatulloh.
Lorens Bagus. 2002. Kamus Filsafat, Gramedia: Jakarta.
Mahfud MD, Moh. 2003. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia (Studi tentang Interaksi
Politik dan Kehidupan Ketatanegaraan). Cetakan II, Rineka Cipta, Jakarta.
Murod, Mamun. 1999. Menyingkap Pemikiran Politik Gus Dur dan Amien Rais tentang
Negara. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Noor Ms Bakry. 2009. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Urofsky, M. I. 2001. Jurnal Demokrasi. Office of international Information Program, U.S.

22