Anda di halaman 1dari 17

LINGKUNGAN

Home Link 1 Link 2 Link 3

Pengelolaan LH

Kondisi Obyektif Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kalimantan Selatan

Pendahuluan
Gambaran Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kalimantan Selatan
Pengelolaan Sektor Tambang
Pengelolaan Sektor Kehutanan
Penutup

“Bumi bisa mencukupi kebutuhan setiap orang (semua orang di muka bumi), tapi tak
bisa mencukupi orang-orang (sebagian orang) yang rakus.”

– Mahatma Ghandi

”Jika pohon terakhir telah ditebang, jika sungai terakhir telah tercemar, jika ikan
terakhir telah ditangkap, baru manusia akan sadar bahwa mereka tidak akan bisa
makan uang.”

– Green Peace

Pendahuluan

Lingkungan hidup, menurut UU No. 23 tahun 1997, didefinisikan sebagai kesatuan


ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia
dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan
manusia serta makhluk hidup. Dalam pengelolaan lingkungan hidup, manusia
mempunyai peranan yang sangat penting. Karena pengelolaan lingkungan hidup itu
sendiri, pada akhirnya ditujukan buat keberlangsungan kehidupan manusia di muka
bumi ini.

Lingkungan hidup menyediakan kebutuhan-kebutuhan hidup manusia. Begitupun


sebaliknya, kehidupan manusia sangat tergantung pada tersedianya sumberdaya alam
yang memadai dalam lingkungan hidup. Persoalan lingkungan hidup mulai menjadi
topik dunia ketika manusia mulai tersentak bahwa bumi sudah tidak ramah lagi dan
mulai merasakan dampaknya yang semakin meluas akibat berbagai aktivitas manusia
itu sendiri. Pertumbuhan penduduk dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi semakin meningkatkan aktivitas eksploitasi terhadap alam oleh manusia
sehingga membuat alam tidak mampu lagi memperbaiki dirinya sendiri secara alami.
Dengan kondisi seperti ini, lingkungan hidup perlu diatur dan dikelola dengan baik
sehingga dapat memberikan manfaat yang optimal, mencukupi kebutuhan kehidupan
generasi saat ini tanpa harus mengurangi kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan
kehidupan generasi yang akan datang.

Menurut A. Sony Keraf (2002) sejak tahun 1980-an, agenda politik lingkungan hidup
mulai dipusatkan pada paradigma pembangunan berkelanjutan. Mula pertama, istilah
ini muncul dalam World Conservation Strategi dari International Union for the
Conservation of Nature (1980), lalu dipakai oleh Lester R. Brouwn dalam bukunya
Building a Sustainable Society (1981). Istilah tersebut kemudian menjadi sangat
populer melalui Laporan Brundtland, Our Common Future (1987). Akhirnya, pada
tahun 1992, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro, Brasil,
paradigma pembangunan berkelanjutan diterima sebagai sebuah agenda politik
pembangunan untuk semua negara di dunia. Hanya, hingga kini paradigma tersebut
tidak banyak diimplementasikan, bahkan masih belum luas dipahami dan diketahui.
Krisis ekologi masih saja terjadi, penghancuran dan pengrusakan lingkungan hidup
terus berlangsung dan bahkan kian tidak terkendali. Artinya, paradigma pembangunan
berkelanjutan belum mampu menjawab berbagai persoalan lingkungan hidup.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Sony Keraf (2002) mengatakan bahwa paradigma
pembangunan berkelanjutan tersebut sebenarnya kembali menegaskan ideologi
developmentalisme. Apa yang dicapai di KTT bumi di Rio de Janeiro pada tahun
1992 yang lalu, tidak lain adalah sebuah kompromi yang mengunggulkan kembali
pembangunan, dengan fokus utamanya berupa pertumbuhan ekonomi. Selain itu,
menurut Ridha Saleh (2004), krisis ekologi diakibatkan karena agenda pembangunan
sumberdaya alam yang telah dijalankan saat ini, tidak melalui pendekatan paradigma
pembaruan lingkungan hidup yang meletakkan prinsipnya pada nilai-nilai
keberlanjutan kehidupan (keberlanjutan ekologi) maupun jaminan pada hak atas
lingkungan hidup sebagai sumber-sumber kehidupan dan asasi rakyat.

Gambaran Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup di Kalimantan Selatan

Kalimantan Selatan, karakteristik wilayahnya dibagi dua oleh Pegunungan Meratus,


merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya.
Selain hutan dengan potensi kayu dan keanekaragaman hayati yang tinggi, juga
mengandung potensi berbagai sumber daya mineral yang cukup besar, seperti minyak
bumi dan gas, emas, intan, batubara, uranium, bijih besi, dan lainnya.

Dari kawasan Pegunungan Meratus, mengalir ratusan sungai yang menuju ke segala
penjuru wilayah Kalimantan Selatan, di mana sebagian besar kebutuhan masyarakat
akan air besih bergantung pada pasokan air sungai tersebut. Idealnya, pengelolaan
sumberdaya alam tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dengan tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan (kemampuan daya dukung
lingkungan) dan keberlanjutan. Hanya disayangkan, sepanjang 30 tahun terakhir,
kekayaan alam tersebut tidak dikelola dengan baik dan benar secara terpadu.
Kebijakan pengelolaan sumber daya alam tidak mengindahkan kaidah dan prinsip-
prinsip lingkungan, hak asasi manusia (HAM), dan keadilan. Pembangunan
lingkungan hidup masih bersifat sektoral dan belum memiliki perspektif jangka
panjang. Kekayaan alam terus dibabat dan dikeruk tanpa terkendali, baik legal
maupun ilegal, aktivitasnya terus berlangsung tanpa ada kontrol yang baik dari
pemerintah. Hanya menguntungkan segelintir orang dan tanpa memperhitungkan
dampak yang ditimbulkannya bagi masyarakat luas.

Kondisi ini dimungkinkan, karena masih adanya mental korup dari para pejabat,
kebijakan yang eksploitatif (ekonomi jangka pendek) dan masih belum berpihak pada
lingkungan dan rakyat, dan lemahnya penegakan hukum. Bahkan, hal ini diperparah
dengan adanya keterlibatan TNI-POLRI dalam bisnis eksploitasi sumber daya alam
ini, baik secara langsung, melalui berbagai yayasan atau koperasi yang mereka miliki
ataupun, secara tidak langsung, melalui para oknumnya. Kalau dilihat dengan
kacamata global, persoalan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup di Kalimantan
Selatan juga tidak lepas dari adanya sistem ekonomi kapitalis dunia yang
memanfaatkan kelemahan negara-negara berkembang, seperti Indonesia, untuk
memenuhi kebutuhan dan gaya hidup mereka yang konsumtif. Sebagaimana pula
ditegaskan oleh Salahudin Djalal Tanjung (1992) bahwa negara-negara maju dengan
pola konsumsi tinggi dan boros, menggunakan lebih besar sumberdaya alam daripada
negara-negara berkembang itu sendiri, dengan sistem ekonomi akumulatif itu,
penduduk negara-negara maju yang jumlahnya hanya 1/3 dari total penduduk dunia
telah mengkonsumsi sekitar 87% - 90% sumberdaya dunia. Sedangkan, penduduk
negara-negara berkembang yang jumlahnya dua kali lipat, hanya mengonsumsi 10%
sumber daya dunia.

Di daerah perkotaan, seperti Banjarmasin, permasalahan pengelolaan lingkungan


hidup semakin berkembang dan kompleks. Pertumbuhan penduduk dan urbanisasi
menyebabkan meningkatnya permintaan akan ruang dan penggunaan sumber daya
alam, yang pada gilirannya, mempengaruhi ketersediaan sumberdaya alam itu sendiri
dan mengganggu keseimbangan lingkungan. Pertumbuhan kawasan kota yang begitu
pesat tanpa dibarengi dengan penataan tata kota yang baik, menyebabkan semakin
semrawutnya kota. Kawasan kumuh, drainase, sampah, polusi udara, rusaknya sungai,
pencemaran air, merupakan momok bagi pengelolaan kota Banjarmasin yang sampai
saat ini masih belum dapat diselesaikan dengan baik.

Pengelolaan Sektor Tambang

Masih berlakunya kebijakan pemerintah propinsi dalam hal penggunaan beberapa


ruas jalan umum untuk angkutan batubara, jelas-jelas telah menggangu kepentingan
masyarakat banyak. Aktivitas ini sangat menggangu pengguna jalan lainnya,
menimbulkan banyak kecelakaan, meningkatkan biaya pemeliharaan jalan, bahkan
debunya telah mencemari lingkungan sekitar sepanjang jalan yang dilewati.
Kebijakan yang membolehkan angkutan batubara lewat jalan umum ini, juga telah
melanggar ketentuan perundangan tentang pertambangan yang mewajibkan
perusahaan tambang wajib memiliki sarana dan prasarana sendiri termasuk jalan.
Kasus lingkungan dan konflik lahan pertambangan terjadi tanpa adanya penanganan
yang cukup serius dari pemerintah. Lambannya penanganan berbagai kasus dan
bahkan masih banyak yang sampai saat ini belum selesai dituntaskan sehingga
menimbulkan gejolak massa.

Penanganan kasus masih bercampur baur dengan adanya kepentingan


perorangan/kelompok dari pemerintah dan aparat keamanan di sektor ini.
Kecenderungan pemerintah dan aparat keamanan yang berpihak kepada pengusaha
dalam menangani kasus-kasus lingkungan dan konflik lahan dengan masyarakat
masih sangat kental. Berbagai kasus yang terjadi dan buruknya penanganan kasus
tersebut tercermin dari berbagai kejadian selama ini, seperti penanganan kasus
sengketa lahan milik warga dengan PT. Adaro, di mana diduga ada permainan
perusahaan dengan Polres dan Kejari Tabalong; penanganan kasus pengalihan pasar,
dermaga, dan sungai Kanibungan di Pulau Sebuku yang tidak transparan; kasus PT
Arutmin yang diduga melakukan penambangan di luar PKP2B di Desa Mantewe
Tanah Bumbu; keluhan warga desa Teluk Kepayang Kusan Hulu yang menyatakan
tanahnya diserobot oleh Arutmin sebanyak 200 Ha; di Banjarbaru, penertiban truk
batubara tidak serius, masih banyak terlihat truk batubara yang kelebihan muatan,
aparat menutup mata akan hal tersebut dan penertiban hanya dilakukan secara
musiman; kasus pendangkalan sungai Asam-Asam Pelaihari akibat aktivitas
penambangan batubara yang dilakukan oleh PT Jorong Barutama Greston; tuntutan
warga Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, meminta kepada Manajemen PT
Arutmin Indonesia (AI) tambang Satui agar membuat jalan alternatif pengangkutan
batubara dari tambang ke lokasi penumpukan karena warga menganggap aktivitas PT
AI mengganggu lalu lintas umum; sejumlah warga Desa Batu Laki Kecamatan
Padang Betung Kandangan mengeluh karena selama ini limbah bekas batubara yang
turun ke Sungai Pangkulan mencemari sungai tersebut dan menyebabkan air menjadi
keruh dan terasa asam dan kalat; pencemaran air laut dan pantai di sekitar lokasi
tambang perusahaan PT Jorong Barutama Grenston yang sebenarnya dapat dibuktikan
dengan adanya endapan debu batubara di pantai tersebut yang mengakibatkan warna
air laut hitam; kasus tambang ilegal tidak ditangani secara benar dan serius, dilihat
berdasarkan kepentingan dan bahkan cenderung dilegalkan, seperti kasus tambang
ilegal di Tanah Bumbu yang dilegalkan melalui berbagai yayasan dan koperasinya
institusi TNI-POLRI; dan berbagai kasus-kasus lingkungan dan konflik lahan lainnya
yang terjadi di hampir seluruh daerah pertambangan di Kalimantan Selatan.

Pencemaran lingkungan akibat aktivitas pertambangan, seperti debu, rembesan air


asam tambang, dan limbah pencuciannya, terjadi hampir di semua lokasi
pertambangan dan bahkan mencemari air/sungai yang dimanfaatkan oleh warga. Di
Kotabaru, misalnya, ratusan warga Desa Gosong Panjang, Kecamatan Pulau Laut
Barat, mempersoalkan pencemaran debu batubara yang ditimbulkan oleh kegiatan PT
Indonesia Bulk Terminal (PT. IBT). Masyarakat minta tinjau ulang batas aman 529
meter hasil penelitian PPLH Unlam.

Eksploitasi yang dilakukan sebagian besar tidak memberikan dampak kesejahteraan


yang nyata di masyarakat. Hal ini dapat terlihat di mana kehidupan masyarakat lokal
sekitar tambang tidak mengalami kemajuan yang berarti dan bahkan sebagian besar
masih terpinggirkan dalam segala hal baik di bidang ekonomi, sosial, dan budaya,
termasuk pendidikan. Misalnya, warga di pinggiran Sungai Sampanahan, Kotabaru,
tetap miskin walaupun di kawasan ini terdapat usaha pertambangan besar, baik legal
maupun ilegal, masyarakat hanya diwarisi lingkungan yang telah rusak; adanya
ratusan warga Desa Swarangan, Kecamatan Jorong, kembali mendatangi kantor PT
Jorong Barutama Greston (PT JBG), mereka mendesak perusahaan tambang batubara
tersebut, secepatnya merealisasikan tuntutan warga untuk segera merehabilitasi
sekolah dasar, penerangan (listrik), dan transportasi anak sekolah.

Di berbagai daerah, warga menuntut adanya pemberian jaminan (fee) atas dampak
yang mereka terima dari kerusakan lingkungan dan diambil alihnya wilayah kelola
mereka yang dulunya telah mereka garap secara turun-temurun, seperti tuntuan warga
Hampang, Sungai Danau, Pulau Sebuku, dan lain-lain. Pembuatan AMDAL hanya
sebatas formalitas belaka, hanya untuk memenuhi ketentuan dan persyaratan resmi
atau hanya sebatas kepatuhan dan ketaatan formal bukan atas kesadaran akan
pentingnya lingkungan dan keberlanjutan sistem kehidupan yang ada. Seperti
AMDAL pemindahan sungai Kanibungan PT Bahari Cakrawala yang dibuat setelah
aktivitas pemindahan sungai Kanibungan tersebut dilakukan. Maraknya aktivitas
illegal mining saat ini, tidak lepas dari ketidakmampuan pemerintah dan aparat
keamanan dalam melakukan penertiban dan menata persoalan pertambangan di sektor
ini. Tim penertiban yang beberapa kali dibentuk juga belum mampu menyelesaikan
persoalan dan bahkan menimbulkan berbagai persoalan baru dengan adanya isu KKN
di tubuh tim. Ketidakmampuan dalam menangani persoalan illegal logging ini
menunjukkan lemahnya penegakan hukum dan komitmen pemerintah dalam
melakukan pemberantasan illegal mining di Kalimantan Selatan.

Faktor lainnya yang menimbulkan maraknya illegal mining saat ini adalah: masih
tersedianya bahan baku yang mudah diakses; tersedianya pasar; terbukanya jalur
perdagangan; tersedianya teknologi; dan birokrasi perizinan; serta adanya keterlibatan
aparat pemerintah dan penegak hukum. Monopoli penguasaan lahan tambang, juga
merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya illegal mining.

Kebijakan pemerintah pusat sebelumnya, yang memberikan konsesi yang begitu luas
kepada beberapa perusahaan tambang (investasi asing) menimbulkan ketimpangan
penguasaan dan konflik lahan dengan pengusaha-pengusaha lokal yang ada saat ini.
Terjadi tumpang tindih lahan akibat banyaknya Kuasa Pertambangan (KP) yang
diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten. Kebijakan Bupati Hulu Sungai Selatan yang
melakukan penutupan tambang PT. Antang Gunung Meratus (PT. AGM) dan
kemudian mendapat dukungan dari kelompok masyarakat dan kalangan ORNOP di
Kalimantan Selatan, ternyata tidak benar-benar didasari oleh adanya kepentingan
lingkungan dan rakyat tetapi lebih dikarenakan kepentingan pemerintah sendiri. Hal
ini dapat dilihat dari beroperasinya kembali PT. AGM yang saat ini justru bekerja
sama dengan pemerintah kabupaten HSS tanpa didahului kajian kembali secara
komprehensif dan penyelesaian kasus secara tuntas. Di tengah buruknya pengelolaan
tambang yang ada, pemerintah pusat justru mendesakkan investasi asing yang akan
melakukan eksploitasi pertambangan di kawasan hutan lindung Pegunungan Meratus.

Upaya ini terus dilakukan dengan berbagai cara, walau hal ini jelas-jelas bertentangan
dengan UU Kehutanan No.41 tahun 1999 dan banyak ditentang oleh berbagai pihak
termasuk Gubernur dan DPRD Kalimantan Selatan. Celakanya, kecenderungan
kebijakan membolehkan pertambangan di kawasan hutan lindung yang dilakukan oleh
pemerintah pusat juga diikuti oleh pemerintah kabupaten Tabalong melalui keputusan
Bupati yang mengizinkan 4 perusahan tambang melakukan eksplorasi.

Pengelolaan Sektor Kehutanan

Kerusakan hutan Kalimantan Selatan terus berlangsung, dari data Citra Lansat
Departemen Kehutanan luas Areal Berhutan 987.041,14 Ha (2001) dan 935.900,00
(2002) hutan Kalimantan Selatan telah berkurang 51.141 Ha atau setiap harinya, kita
kehilangan 140 ha luasan hutan atau 141 kali luas lapangan sepak bola. Dengan
asumsi angka yang sama juga terjadi pada tahun 2003, maka luasan hutan yang tersisa
berkisar 884.758,86 ha.
Fakta di lapangan kemungkinan menunjukkan angka yang lebih parah lagi, mengingat
semakin maraknya praktek illegal logging dan penghancuran hutan oleh industri
tambang. Kerusakan hutan ini akan terus berlangsung bahkan semakin parah
mengingat kebutuhan industri kayu legal di Kalimantan Selatan 3.800.000 juta
m3/tahun sementara kemampuan pasok hutan alam yang dianggap lestari versi
Menhut 66.000 m3 (kebijakan kuota tebang) pada tahun 2003. Kebijakan Menhut
tentu saja menimbulkan defisit kebutuhan kayu sebesar 3.734.000 m3/tahun. Jika
seluruh kekurangan itu diambil dari hutan Kalimatan Selatan dengan asumsi 44 m3/ha
(hutan kerapatan sedang), dapat dipastikan 10 tahun kita tidak memiliki hutan sedikit
pun.

Kondisi ketersediaan bahan baku yang tidak seimbang dengan kebutuhan industri
kehutanan di Kalimantan Selatan ini diperburuk dengan adanya rencana pendirian
industri pulp dengan kapasitas 600 ribu – 1 juta ton per tahun. Ini sebuah mimpi
buruk dan ancaman bagi lingkungan. Ancaman kerusakan hutan dari aktivitas ilegal,
menurut sebuah sumber yang dapat dipercaya, mempunyai perbandingan 60:40 antara
ilegal dan legal merusak hutan.

Secara nasional, illegal logging mencuri hutan 30,43 juta m3/tahun angka ini lebih
besar dari Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2001 yang hanya 22,5 juta m3. Di
Kalimantan Selatan, angka illegal logging masih sulit ditentukan karena sindikat ini
bekerja mengambil konsep pembangunan nasional “dilakukan secara terpadu”. Jika
kita percaya dengan angka perbandingan itu, maka illegal logging di Kalimantan
Selatan 5.066.667m3/tahun, dan angka fantastis sekaligus menakutkan bahwa setiap
tahunnya, kayu ditebang dari hutan 8.866.667 m3/tahun. Bila memang hal ini terjadi,
maka tidak lebih dari 6 tahun ke depan, hutan alam kita akan habis tak tersisa.

Hal ini cukup beralasan karena hasil hutan khususnya kayu Kalimantan Selatan,
Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, menjadi barometer Industri kehutanan di
Indonesia mencapai 70% dari total produksi kayu nasional. Jadi, transaksi kayu di tiga
propinsi itu sangat ramai, baik legal maupun ilegal, bahkan legal dan ilegal sering
kabur/samar. Fakta di lapangan menunjukkan masih adanya aktivitas perambahan
hutan lindung yang dilakukan baik oleh masyarakat dan terutama oleh HPH yang
sebenarnya status izinnya patut dipertanyakan.

Selain itu, kerusakan hutan juga diakibatkan oleh adanya aktivitas eksploitasi
pertambangan, baik yang legal maupun yang ilegal. Banjir yang merupakan buah dari
buruknya pengelolaan SDA hutan di Kalimantan Selatan, terjadi di hampir semua
kabupaten/kota di Kalimantan Selatan, ketika datang musim hujan bulan Desember
2003 lalu. Saat itu, daerah yang paling parah terjadi di Kabupaten Banjar yang telah
merendam beberapa kampung, menenggelamkan, dan merusak areal pertanian
masyarakat. Pada bulan Juli 2004, yang mestinya musim kering, banjir besar melanda
Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, dan menenggelamkan ribuan rumah di
enam desa dan sejumlah sekolah serta fasilitas umum lainnya.

Sedikitnya 3000 kepala keluarga mengamankan harta benda dan menyelamatkan


ternak mereka. Dua buah jembatan rusak parah, ratusan hektar tanaman warga hancur,
ribuan ekor ayam, dan puluhan ekor kambing warga mati terendam serta terbawa arus
air. Banjir terjadi akibat hujan yang terus-menerus selama sepekan sehingga sungai
Satui meluap dan menggenangi perkampungan. Ini bukti dari terjadinya kerusakan
hutan di wilayah hulu yang mestinya berfungsi sebagai kawasan penyangga dan
resapan air dan rusaknya kawasan hilir, seperti hutan rawa yang mestinya dapat
berfungsi sebagai tandon air yang dapat menyerap air di musim hujan dan
mengeluarkannya secara perlahan di musim kemarau. Selain itu, hal ini juga
menunjukkan adanya perubahan iklim yang tidak menentu akibat terjadinya
pemanasan global buah dari pencemaran udara dan hancurnya kawasan hutan yang
juga berfungsi sebagai penyerap karbon.

Kebakaran Hutan dan Lahan, merupakan salah satu bentuk gambaran bagaimana
buruknya pengelolaan lingkungan di Kalimantan Selatan. Hal ini selalu terulang
setiap tahun tanpa pemerintah mampu mengatasinya dengan baik. Dampak negatif
yang ditimbulkannya cukup besar mencakup kerusakan ekologis, menurunnya
keanekaragaman hayati, merosotnya nilai ekonomi hutan dan produktivitas tanah,
perubahan iklim mikro maupun global, dan asapnya mengganggu kesehatan
masyarakat serta mengganggu transportasi baik darat, sungai, danau, laut, dan udara.

Berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan telah dilakukan,


termasuk mengefektifkan upaya hukum. Namun, tetap tidak membuahkan hasil yang
optimal, tidak menyentuh kepada akar permasalahan. Gerakan penanggulangan
kebakaran hutan dan lahan yang dicanangkan Gubernur Kalimantan Selatan
cenderung hanya kegiatan yang bersifat simbolik. Kebakaran hutan dan lahan masih
dan terus terjadi bahkan sebarannya semakin meluas. Kebakaran cukup besar terjadi
pada tahun 1987, 1991, 1994, 1997 hingga 2004. Pada musim kemarau tahun ini,
tercatat berdasarkan pantauan satelit NOAA yang dipublikasikan melalui website-nya
sampai bulan September, jumlah hotspot di Kalimantan Selatan mencapai 534 titik
api. Di mana yang terbesar ada di Kabupaten Banjar mencapai 92 lokasi, Tanah Laut
90 lokasi, Barito Kuala 75 lokasi, Kabupaten HSS terdapat 70 lokasi, Tanah Bumbu
42 lokasi, Tapin 41 lokasi, Balangan 21 lokasi, Tabalong 15 lokasi, Kotabaru 14 dan
Kabupaten HST dan HSU masing-masing 11 lokasi titik api. Menurut Ir. Sonny
Partono Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan (Suara Karya, September
2004), jumlah titik api mengalami peningkatan drastis, sebagian besar berada di luar
kawasan hutan, seperti lokasi perkebunan, semak belukar, dan padang ilalang.

Penutup

Pengelolaan lingkungan hidup di Kalimantan Selatan masih tidak dibarengi dengan


adanya penerapan standar pengelolaan lingkungan dan perhitungan daya dukung
wilayah untuk menjamin keberlangsungan ekosistem dan keberlanjutan ekonomi.
Kebijakan pengelolaan sumber daya alam masih sangat sektoral dan eksploitatif, di
mana kepentingan ekonomi jangka pendek dengan dalih peningkatan PAD masih
sangat kental.

Lemahnya penegakan hukum di bidang lingkungan dan keterlibatan aparat


pemerintah dalam berbagai kasus pengelolaan Sumber daya alam (SDA) dan
lingkungan semakin memperparah kondisi lingkungan di Kalimantan Selatan. Terjadi
pengrusakan lingkungan dan penghancuran ekosistem melalui pembabatan hutan dan
praktek pertambangan yang buruk, baik secara legal maupun ilegal. Terjadi praktek
penindasan dan pelanggaran terhadap hak-hak rakyat, perampasan sumber kehidupan,
dan penghancuran nilai-nilai dan budaya masyarakat adat/lokal. Pengelolaan
(eksploitasi SDA) yang mestinya dapat meningkatkan harkat, martabat, dan
kesejahteraan bagi rakyat Kalimantan Selatan malah justru sebaliknya menimbulkan
kerusakan lingkungan yang cukup parah, peminggiran terhadap masyarakat
lokal/adat, kemiskinan, dan kesengsaraan.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

Eko DJ
Staf Divisi Data dan Informasi WALHI Kalimantan Selatan
Email Eko DJ
Telepon kantor: +62 - 0511- 772870
Mobile:
Fax: +62 - 0511- 772870

POSTED BY Administrator ON 05.29.07 @ 7:15 am | 0 Comments

Kategori Kimia Lingkungan


Lapisan Ozon Terus Berkurang tetapi Hair Spray Masih Digunakan
Sumber: Suara Pembaruan, 26 Pebruari 2003

Coba tengok botol parfum atau hair spray yang Anda gunakan,
apakah produk tersebut menggunakan propellant aerosol atau
tidak? Jika ya, sebaiknya jangan Anda gunakan karena produk
itu bisa merusak lapisan ozon.

Masalah menipisnya lapisan ozon di stratosfer sudah lama


dibicarakan para ahli dan pemerhati lingkungan. Bahkan,
berbagai kampanye lingkungan hidup yang berisi sosialisasi
mengenai perlunya menjaga lapisan ozon telah pula dilakukan,
tetapi masih banyak orang yang belum sadar betapa penting
menjaga lapisan ozon itu agar tidak semakin parah.

Menurut Tri Widayati, dari Bidang Atmosfer Kementerian Lingkungan Hidup (LH),
selain propellant berbagai senyawa kimia perusak ozon buatan manusia masih juga
digunakan, seperti chloroflourcarbon (CFC), halon, metil bromida, dan lain-lain.

Selama bertahun-tahun, senyawa-senyawa kimia tersebut secara luas dipakai untuk


berbagai keperluan, seperti sebagai media pendingin di lemari es, alat-alat pendingin
ruangan (air conditioner/AC), sebagai blowing agent dalam proses pembuatan foam
(busa), sebagai cairan pembersih (solvent), bahan aktif untuk pemadam kebakaran,
bahan aktif untuk fumigasi di pergudangan, pra-pengapalan, dan karantina produk-
produk pertanian dan kehutanan.

Senyawa-senyawa kimia tersebut dapat menyebabkan lapisan ozon tidak lagi mampu
melindungi bumi terhadap radiasi ultra violet (UV) dari matahari. Setiap 10 persen
penipisan lapisan ozon akan menyebabkan kenaikan radiasi UV sebesar 20 persen.
Kerusakan mata, meluasnya penyakit infeksi, dan peningkatan kasus kanker kulit
adalah sebagian dari dampak yang akan timbul, jika lapisan ozon semakin menipis.
Jika dibiarkan, radiasi UV tersebut juga akan menyebabkan vaksinasi terhadap
sejumlah penyakit menjadi kurang efektif, dan akan memicu reaksi foto kimia yang
menghasilkan asap beracun dan hujan asam.

Karena itu, kerusakan lapisan ozon tidak hanya membahayakan jiwa manusia, tetapi
juga hewan, tanaman, dan bangunan.

Radiasi UV juga menurunkan kemampuan sejumlah organisme dalam menyerap CO2.


CO2 sebagai salah satu gas rumah kaca, sehingga menyebabkan konsentrasi gas
rumah kaca di atmosfer akan meningkat dan terjadilah pemanasan global.

Untuk mengantisipasi kian parahnya lapisan ozon, dunia internasional pun sepakat
mengurangi konsumsi bahan perusak lapisan ozon (BPO) termasuk CFC secara
bertahap. Kesepakatan internasional yang diadakan di Wina, Austria pada 22 Maret
1985 dan pertemuan di Montreal, Kanada pada 16 September 1987 itu kemudian
menghasilkan Konvensi Wina dan Protokol Montreal.

Menurut Deputi Bidang Pelestarian Lingkungan Kementerian LH, Dra Liana


Bratasida, MS, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden No 23/1992
meratifikasi kedua perjanjian internasional tersebut.

"Dengan demikian, Indonesia berkewajiban ikut melaksanakan ketentuan dalam


protokol tersebut. Yaitu mengembangkan program perlindungan lapisan ozon di
tingkat nasional serta melaksanakan upaya penghapusan BPO secara bertahap sesuai
dengan ketentuan yang berlaku," jelasnya.

Dalam pelaksanaan Konvensi Wina dan Protokol Montreal, Indonesia memperoleh


bantuan dana dan teknis dari Multilateral Fund (MLF). Liana menjelaskan bantuan
MLF itu sebagian besar disalurkan ke berbagai perusahaan yang dalam proses
produksinya masih menggunakan bahan-bahan perusak ozon untuk digantikan dengan
bahan-bahan penggantinya yang tidak merusak ozon.

"Total jumlah industri yang sudah kami bantu sejak 1994-2002 adalah 210
perusahaan. Terbagi dalam industri foam, refrigerant, halon, aerosol, solvent, dan
industri tembakau. Industri tersebut tersebar di beberapa wilayah Indonesia," kata dia.

Menurut Liana, pemerintah sendiri kini berupaya menggalakkan program insentif


untuk mendukung industri yang bersedia menggunakan bahan-bahan pengganti yang
tidak merusak ozon. Salah satunya dengan tidak memungut bayaran kepada setiap
perusahaan yang bersedia menggunakan teknologi baru yang aman bagi ozon.

"Kami juga menyediakan tenaga ahli yang membantu mengoperasikan alat-alat tadi
sampai mereka bisa mengoperasikan alat itu sendiri, semua kami berikan secara
gratis," ujar Liana.

Dijelaskan, ditargetkan pada 2007 seluruh industri di Indonesia sudah mengganti


teknologinya dengan teknologi yang aman bagi ozon. "Dengan total hibah mencapai
US$ 16 juta ," ujarnya.
Pemerintah akan menyaring perusahaan-perusahaan yang akan mendapatkan program
intensif tersebut. Penyaringan itu dilakukan oleh tim berdasarkan beberapa kriteria.

"Anggota tim yang menyaring tersebut tidak hanya dari Kantor Menteri LH tetapi
juga dari World Bank, UNDP, dan UNIDO sebagai pemberi dana," katanya.

Sedangkan untuk pelaksanaan Konvensi Perubahan Iklim negara-negara berkembang


memperoleh bantuan dari Global Environment Facilities (GEF). Indonesia belum
banyak memanfaatkan bantuan tersebut tetapi baru menyusun komunikasi nasional
yang pertama. "Komunikasi Nasional tersebut terutama berisi tentang laporan hasil
inventarisasi gas-gas rumah kaca di Indonesia," jelas Liana.

Sementara untuk mengatasi permasalahan deposisi asam sejak tahun 1998 pemerintah
Indonesia beserta negara-negara Asia yang lain bergabung dalam suatu jaringan yang
disebut EANET (East Asia Network for Acid Deposition).

Fungsi EANET antara lain membantu secara teknis kepada anggota, termasuk
pelaksanaan training dan berbagai pertemuan, melakukan kegiatan quality assurance
dan quality control terhadap hasil pemantauan, dan mengumpulkan data hasil
monitoring, dan lain-lain.

Dikatakan Liana, selain memberi insentif kepada perusahaan, kantor LH juga


berupaya menyosialisasikan isu pentingnya perlindungan lapisan ozon, perubahan
iklim, dan deposisi asam kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah.

"Hal itu sejalan dengan penerapan otonomi daerah. Dengan demikian pada saatnya
nanti pemerintah daerah dan masyarakat di sanalah yang akan memperoleh manfaat
dari pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Konvensi Wina dan
Konvensi Perubahan Iklim," jelasnya. Dia juga berharap pemerintah dan masyarakat
di daerah dapat menangkap berbagai peluang yang timbul dari kedua konvensi dan
protokol tersebut. Yaitu mengadakan proyek-proyek investasi yang disalurkan ke
berbagai perusahaan untuk menggantikan teknologi dan konsumsi bahan-bahan
perusak ozon. (YC/L-2)

POSTED BY Administrator ON @ 7:12 am | 0 Comments

Pemanasan Global

Pemanasan Global terus Berlangsung

TANPA disadari oleh banyak orang, bahwa sebenarnya saat ini telah terjadi
peningkatan suhu udara dunia akibat terjadinya pemanasan global. Gejala
alam ini mulai diteliti secara aktif mulai dekade tahun 1980-an dan hasilnya
sangat mengejutkan para ahli lingkungan karena kengerian akan dampak
yang dikuatirkan muncul kemudian.

Carbon Dioksida (CO2) dan beberapa jenis gas lainnya (CH4, N2O, CFC),
sisa pembakaran bahan bakar minyak bumi ternyata telah memenuhi
atmosfer bumi dan seolah menciptakan Òdinding kacaÓ yang menjebak
panas sinar matahari tertahan di permukaan bumi, fenomena ini dikenal
sebagai efek rumah kaca.

< ?xml:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-


com:office:smarttags" />Para ahli cuaca internasional memperkirakan bahwa
planet bumi bakal mengalami kenaikan suhu rata-rata 3,5 o C memasuki
abad mendatang sebagai efek akumulasi penumpukan gas tersebut. Akibat
yang muncul cukup mencemaskan antara lain meliputi : kenaikan permukaan
laut akibat proses pencairan es di kutub; perubahan pola angin;
meningkatnya badai atmosferik; bertambahnya populasi dan jenis organisme
penyebab penyakit yang berdampak pada kesehatan; perubahan pola curah
hujan dan siklus hidrologi serta perubahan ekosistem hutan, daratan dan
ekosistem lainnya.

Para pakar lingkungan dunia selama bertahun-tahun telah mencoba


mengumpulkan bukti-bukti ilmiah yang dapat menjelaskan fenomena alam
ini, dan hasilnya cukup mengejutkan yaitu berupa : a. Iklim mulai tidak stabil
Pada Juni 1998 di Tibet terjadi gelombang udara panas, temperatur berkisar
25o C selama 23 hari, kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Kawasan Siberia, Eropa Timur dan Amerika Utara yang dikenal udaranya
sangat membekukan tulang kini mulai menghangat.

Sementara Kairo pada Agustus 1998 tercatat suhu udara menembus angka
410 C. Pada Agustus 1998 di Sidney Australia terjadi badai besar disertai
hujan dengan curah hujan mencapai tiga kali ukuran normal Sementara di
Indonesia, Meksiko dan Spanyol terjadi musim kering berkepanjangan akibat
dipicu oleh badai tropis yang berujung pada terbakarnya hutan dengan luasan
kumulatif mencapai jutaan hektar. b. Naiknya Permukaan Air Laut
Dikawasan kepulauan Bermuda Amerika Tengah dilaporkan bahwa air laut
telah meluap melampaui batas air payau dan memusnahkan areal hutan
bakau di kawasan tersebut.

Sementara di Fiji terjadi penyusutan garis pantai sepanjang 15 Cm/thn


selama 90 tahun terakhir ini. Berdasarkan hasil penelitian IPCC (1990)
permukaan air laut telah naik sekitar 10-20 Cm pada masa abad terakhir ini.
Bila angka kenaikan permukaan air laut ini sampai menyentuh kisaran angka
20-50 Cm maka habitat didaerah pantai akan mengalami gangguan bahkan
musnah.

Sedangkan peningkatan sebesar 1 meter diprediksi akan mampu menggusur


puluhan juta orang akibat terendamnya kota dan desa dikawasan pesisir,
lahan pertanian produktif akan hancur terendam dan persediaan air tawar
akan tercemar. c. Gangguan ekologis

Mempergunakan simulasi komputer, Profesor Chris Thomas dari Universitas


Leeds Inggris memperkirakan lebih dari sejuta species akan terancam punah
pada tahun 2050, sedangkan species yang masih bertahan tidak akan lagi
memiliki habitat yang nyaman, sementara sebagian lainnya harus bermigrasi
cukup jauh untuk memperoleh tempat hidup yang sesuai guna mendukung
kehidupannya. Simulasi ini diperkirakan cukup akurat mengingat sebuah
penelitian di California dilaporkan Kupu-kupu jenis Edith Checkerspot telah
mulai menghilang seiring naiknya suhu udara di kawasan tersebut.

Sementara itu populasi penguin jenis Adeline di Antartika berkurang 33 %


dalam masa 25 tahun terakhir akibat surutnya permukaan lautan es. Team
peneliti dari Kanada melaporkan bahwa jumlah rusa kutub Peary menurun
drastis jumlahnya dari 24.000 pada tahun 1961 menjadi hanya sekitar 1.000
pada tahun 1997 akibat perubahan iklim yang cukup ekstrim. d. Penyebaran
Berbagai Penyakit Peningkatan suhu udara ternyata juga mulai memicu
munculnya beberapa serangan penyakit yang sebelumnya belum pernah ada
pada daerah tertentu.

Sebut saja di kawasan pegunungan Andes Kolumbia - Amerika Tengah


dengan ketinggian 1.000 - 2.195 m dpl dilaporkan muncul nyamuk penyebab
penyakit malaria, demam berdarah dan demam kuning. Pada tahun 1997 di
Papua, penyakit malaria terdeteksi untuk pertama kalinya pada pemukiman
di ketinggian 2.100 m dpl. Meskipun dampak yang ditimbulkan akibat
pemanasan global amatlah ÒmengerikanÓ hal ini bukan berarti kita tidak
bisa berbuat sesuatu.

Perlu dilakukan tindakan menyeluruh disertai komitmen yang kuat untuk


menghentikan meluasnya wabah bencana ini. Secara sederhana tindakan
yang bisa dilakukan adalah : a. Pengembangan etika hemat energi & ramah
lingkungan Budaya penghematan energi terutama yang terkait dengan energi
yang dihasilkan dari bahan fosil (BBM) harus benar-benar dilaksanakan
dengan penuh kesadaran. Dalam bidang transportasi misalnya pemakaian
kendaraan bermotor yang boros bahan bakar hendaknya semakin dikurangi
yang juga dibarengi dengan upaya perancangan peraturan secara ketat untuk
mengurangi pencemaran udara dalam berbagai bentuk.

Upaya penghematan pemakaian listrik konsumsi rumah tangga perlu terus


diupayakan terutama bila pembangkit listriknya mempergunakan bahan
bakar diesel/batu bara. Sebagai konsumen kita harus kritis melakukan
penolakan untuk mepergunakan barang konsumsi dan peralatan yang masih
mempergunakan CFC dalam produknya karena saat kita memakainya tak
ubahnya kita menyediakan tali untuk menjerat leher kita sendiri dimasa
mendatang.

Bahan CFC banyak dijumpai pada peralatan pendingin (Kulkas, AC) serta
tabung penyemprot parfum. b. Substitusi Bahan Bakar Penggunaan gas alam
dalam aktivitas rumah tangga maupun industri ternyata berperan cukup nyata
dalam mengurangi tingkat emisi gas rumah kaca. Gas alam menghasilkan
CO2 ternyata 40 % lebih rendah disbanding batu bara dan 25 % lebih rendah
daripada minyak bumi sehingga dengan menukar sumber bahan bakar kita
bisa mengurangi tingkat emisi gas CO2. c.

Pelestarian Hutan & Reboisasi Keberadaan hutan ternyata berfungsi luar


biasa dalam menyerap gas CO2 sehingga dapat memperlambat penimbunan
gas-gas rumah kaca. Penelitian menunjukkan bahwa untuk menyerap 10%
emisi CO2 yang ada di atmosfer saat ini diperlukan upaya penanaman
setidaknya pada areal seluas negara Turki. Seandainya saja setiap jiwa di
Papua menaman satu batang pohon maka setidaknya ada sekitar 2.000 Ha
hutan baru yang akan mampu menyerap sekitar 200.000 ton Carbon.

Suatu jumlah yang cukup berarti bagi upaya pelestarian bumi Perlu
komitmen secara global untuk mengurangi kerusakan hutan akibat
eksploitasi hutan maupun kebakaran hutan dan menggiatkan upaya reboisasi
pada lahan kosong. Sebenarnya masih banyak langkah-langkah antisipatif
yang dapat dilakukan terutama dalam tataran kebijakan nasional (policy)
dalam rangka mencegah pemanasan global, namun semuanya berpulang
kembali kepada kesadaran kita semua selaku individu.

Kinilah saatnya berpartisipasi secara aktif bagi bumi yang telah memberikan
kehiduapan bagi kita Bumi ini hanya satu marilah kita menjaganya dan tidak
mengotorinya karena hal itu hanya akan mendatangkan bencana bagi semua
penghuninya termasuk anak cucu kita. Mari kita wariskan bumi yang bersih
dan sehat bagi generasi mendatang. (BaST)
Copy Right © 2004 CenderawasihPos dot Com. All Rights Reserved
Design by Williz, Email: Web Master
< ?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office" />

POSTED BY Administrator ON @ 7:08 am | 0 Comments

Pariwisata

BAHASAN
BMKT
Satu Lagi Daya Tarik Wisata Bawah Air

Oleh Roby Ardiwidjaja

Wilayah Indonesia dua pertiganya adalah lautan. Sebagai negara yang memiliki lebih
dari 17 ribu pulau dan dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia
punya potensi besar dalam bidang kelautan. Wisata bahari merupakan salah satu
sektor yang berpeluang dikembangkan lebih jauh. Dengan memanfaatkan potensi
yang terdapat di wilayah kelautan Indonesia seperti terumbu karang, rumput laut, ikan
hias dan biota lainnya sebagai daya tarik, wisata bahari mampu menghasilkan devisa
bagi negara.
Saat ini, wisata bawah air termasuk salah satu atraksi wisata bahari yang sedang
berkembang dengan pesat. Wisata ini dikelompokkan dalam jenis wisata minat
khusus, bagian dari ecotourism, yang aktivitasnya berkaitan dengan kelautan, baik
yang dilakukan di atas permukaan laut (marine) maupun di bawah permukaan laut
(submarine).
Sampai tahun 1995 pemberian sertifikat selam oleh PADI (The Professional
Association of Driving Instructor) di seluruh dunia meningkat pesat, hampir 2.000
kali lipat. Ini berarti pasar wisata selam mengalami pertumbuhan. Dari catatan Dewan
Perjalanan dan Pariwisata Dunia – WTTC (Word Tourism and Traveling Council)
yang menyebutkan pada tahun 1993 wisata bahari menghasilkan devisa lebih dan US
$ 3,5 triliun atau sekitar 6-7 persen dari total pendapatan kotor dunia.
Hal yang menarik wisatawan untuk meminati objek wisata bawah air adalah
keindahan panorama bawah lautnya melalui aktivitas seperti snorkeling, diving dan
glass sub bottom yang banyak diminati oleh sebagian besar wisatawan khususnya
wisatawan mancanegara.
Keanekaragaman hayati terumbu karang di Indonesia yang mencapai sekitar 600
spesies dan 40 genera, jauh lebih kaya dibanding laut merah yang konon hanya
memiliki 40 spesies dari 7 genera. Dengan potensi tersebut, Indonesia sangat
berpeluang meraup devisa dari kunjungan wisata bawah air..
BMKT (”Shipwreck”)
Sejarah membuktikan bahwa posisi geografis Kepulauan Indonesia di masa lalu
merupakan ”perempatan” jalur pelayaran internasional. Kondisi ini memberikan lagi
satu potensi kelautan, yaitu kapal tenggelam beserta benda berharga asal muatannya
(BMKT).
Di perairan kita, ditemukan banyak kapal tenggelam dengan muatannya seperti
keramik, bagian badan kapal, atau temuan lainnya oleh para nelayan. BMKT
(shipwreck) tersebut pada umumnya berasal dari masa sebelum abad XX (Perang
Dunia II). Telah terdeteksi sekurangnya 463 jumlah kapal tenggelam yang memiliki
potensi memuat benda berharga di perairan nusantara.
Bila melihat luas perairan nusantara dan keterangan dalam sejarah kemaritiman di
Indonesia, angka tersebut dianggap masih terlalu kecil. Diperkirakan jumlah kapal
tenggelam di perairan Indonesia hingga Perang Dunia II dapat mencapal ribuan kapal.

Bila dikaitkan dengan ketentuan yang ada, BMKT dapat dikategorikan sebagai benda
cagar budaya (BCB) bawah air yang memiliki nilai ekonomis dan budaya tinggi.
Artinya BMKT adalah suatu kapsul yang memiliki nilai antara lain sejarah, iptek,
pendidikan dan ekonomi yang tinggi.
Di satu sisi BMKT dapat digambarkan sebagai suatu kapsul yang memiliki sejarah
dan nilai ilmiah, yaitu nilai penting dari segi ilmu pengetahuan dan sejarah. Oleh
karena unsur-unsur yang terkandung di dalamnya, maka BMKT dapat ditempatkan
dalam kelompok benda cagar budaya yang perlu dilestarikan dan dikaji secara
arkeologi.
Di sisi lain BMKT sebagai harta karun, benda berharga atau sebagai kekayaan budaya
”cultural resources” memiliki nilai untuk dapat mendatangkan keuntungan ekonomi
(economic value).

Pemanfaatan BMKT
Agar keberadaan wisata bawah air khususnya wisata selam di Indonesia sebagai
negara bahari tetap ada dan berkembang, tentunya perlu dicari terobosan baru
(diversivikasi produk) serta dikembangkan alternatif yang dapat menjadi potensi daya
tarik wisata bawah air. Salah satunya potensi yang belum dikelola secara maksimal
untuk kepentingan pariwisata dan ilmu pengetahuan adalah BMKT.
BMKT merupakan aset yang memiliki daya tarik untuk dikembangkan sebagai atraksi
dalam kegiatan wisata bahari, baik yang terkait dengan aktivitas keilmuan maupun
aktivitas hiburan. Sebagai contoh suatu lokasi BMKT dapat dikemas antara lain
menjadi objek museum bawah air (underwater museum), objek wisata selam (wreck
dive), objek penelitian bawah air (underwater research), serta objek lelang bawah air
(underwater auction).
Dengan pendekatan pariwisata khususnya ekowisata bawah air (eco sub marine
tourism) yang memanfaatkan BMKT sebagai daya tarik, jenis wisata yang sedang
dikembangkan oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan ini, diharapkan dapat
berperan menunjang upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan dan kesadaran
masyarakat yang tertumpu pada kebaharian. Lebih jauh lagi pengembangan wisata
tersebut dapat menguatkan upaya konservasi lingkungan dan apresiasi masyarakat
terhadap pemanfaatan warisan budaya yang mereka miliki.
Ada sejumlah aspek yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan pemanfaatan
BMKT sebagai daya tarik objek wisata bawah air. Pertama,. pengembangan produk
tetap berpedoman pada pembangunan pariwisata berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan. Kita juga memperhitungkan interpretasi nilai keunikan BMKT yang
terkandung di dalamnya seperti sejarahnya, keanekaragaman benda berharga muatan
kapal tenggelam, jenis dan bentuk kapal, dan lainnya.
Kedua, alternatif aktivitas/atraksi yang dapat dilakukan pada kawasan suatu objek
BMKT. Ini dapat mencakup kegiatan menarik macam, snorkling, diving, penelitian
arkeologi bawah air, glass subbottom, museum bawah air dan audio visualisasi.
Secara keseluruhan kegiatan tadi pada beberapa unsur yang saling terkait antara lain
unsur hiburan, pendidikan, pelestarian dan perlindungan.
Ketiga, sarana prasarana yang terkait dengan kebutuhkan wisatawan. Sarana tersebut
dalam penyediaannya tentunya akan menyesuaikan dengan kondisi lingkungan objek.
Diharapkan, dapat dilakukan secara langsung oleh para pelaku industri pariwisata
yang antara lain akomodasi dengan makan dan minum, paket-paket wisata selam
dengan atraksi dan aktivitas yang beragam, tur operator dan instruktur selam yang
mengacu pada standar atau kualifikasi internasional, serta cinderamata yang memiliki
kekhasan atau replika maupun benda asal muatan kapal tenggelam itu sendiri.
Begitu juga dengan fasilitas penunjang, seperti peralatan kegiatan (selam, snorkeling,
Glass SB), peralatan dokumentasi bawah air, peralatan keselamatan, sarana pelatihan
merupakan sarana dan fasilitas pokok yang harus dimiliki oleh para pengusaha wisata
selam. Peralatan yang dipergunakan khususnya peralatan selam dan keselamatan
harus memenuhi kualitas dan standar yang ditentukan. Keempat, kelembagaan, SDM
dan kebijakan membutuhkan aturan-aturan jelas yang ada pada lembaga-lembaga
terkait.
Beberapa lokasi wisata selam kapal tenggelam di sekitar laut Karimun Jawa yang
dikunjungi oleh wisatawan antara lain The Wreck of Mitra, merupakan kapal
pengangkut jenis Pinisi yang tenggelam di kedalaman 26 meter. Divers mancanegara
berkomentar, ”Even Steven Spielberg could not have done it better!”.
Lain halnya dengan Torpedo Reef, merupakan hamparan terumbu karang yang dihiasi
dengan banyaknya sisa-sisa torpedo dan granat bekas kapal laut pada kedalaman 40
meter. Kemudian The Wreck of Biblis, merupakan salah satu jenis kapal yang langka
di dunia. Badan kapal lengkap dengan baling-baling tembaga yang sangat besar ini
telah banyak ditumbuhi terumbu karang di kedalaman 40 meter. Dapat dibayangkan,
masih banyak lagi lokasi kapal tenggelam yang tentunya memiliki keunikan masing-
masing.

Penulis adalah peneliti Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia

POSTED BY Administrator ON @ 7:03 am | 0 Comments

Categories
GO

Archives

Search
GO

Links
• Blogsome
• Blogsome Forums

Admin
• login
• register

Meta:
• RSS .92
• RDF 1.0
• RSS 2.0
• Atom
• Comments RSS 2.0
• Valid XHTML

May 2007
M T W T F S S
Jul »
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Get free blog up and running in minutes with Blogsome


Theme designed by Theron Parlin