Anda di halaman 1dari 14

Analisis Kualitas Air Danau UNJA dan Limbah Tahu

dengan Alat Pasco Xplorer GLX

I. PENDAHULUAN:
Lingkungan perairan merupakan ekosistem yang penting bagi keberlangsungan
hidup manusia, hewan, dan tumbuhan. Bagi manusia, di sanalah sumber segala aktivitas
seperti untuk mengambil air, mencari ikan, sumber energy PLTA, dan lain-lain. Namun
tidak sedikit pula manusia yang menggunakannya sebagai tempat pembuangan. Segala
macam aktivitas sehari-hari berakhir di wilayah perairan sehingga mengurangi kualitas
air tersebut.
Air yang sehat tentu baik untuk habitat makhluk hidup air maupun sekitar. Air
yang berkualitas memiliki kriteria tertentu secara umum yaitu jernih, tidak berwarna,
tidak berbau, pH netral, tidak beracun, dll. Namun telah ditetapkan beberapa parameter
yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menganalisis kualitas air seperti parameter
secara kimia, fisika, dan biologi. Parameter fisika dilihat dari sifat fisiknya seperti
warna, suhu, kecerahan, dll. Parameter kimia dilihat dari sifat dan kandungan kimia di
dalamnya seperti pH, oksigen terlarut, amoniak, turbiditas, TSS, TDS, dll. Sedangkan
parameter biologi ditinjau dari adanya bakteri, plankton, dan microorganism perairan
lainnya.
Di sini kami melakukan analisis pada air danau UNJA dan limbah dari pabrik
tahu untuk dilihat kualitasnya menggunakan parameter kimia yang dibatasi yaitu pH,
dissolve oxygen, dan turbiditas. Hal ini ditujukan untuk:
1. Untuk mengetahui cara penggunaan alat Pasco Xplorer GLX.
2. Untuk mengetahui kualitas air danau UNJA.
3. Untuk menganalisis dengan berbagai variasi kedalaman air danau.
4. Untuk mengukur DO, pH, dan turbiditas limbah tahu.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1

Air Kolam
Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan,
terutama penyakit perut. Peningkatan kualitas air minum dengan jalan mengadakan
pengelolaan terhadap air yang akan diperlukan sebagai air minum dengan mutlak
diperlukan. Oleh karena itu dalam praktek sehari-hari maka pengolahan air adalah
menjadi pertimbangan yang utama untuk menentukan apakah sumber tersebut bisa
dipakai sebagai sumber persediaan atau tidak.
Pada prinsipnya, jumlah air di alam ini tetap dan mengikuti suatu aliran yang
dinamakan Cyclus Hydrologie. Dengan adanya penyinaran matahari, maka semua air
yang ada di permukaan bumi akan bersatu dan berada ditempat yang tinggi yang sering
dikenal dengan nama awan. Oleh angin, awan ini akan terbawa makin lama makin
tinggi dimana temperatur diatas semakin rendah, yang menyebabkan titik-titik air dan
jatuh kebumi sebagai hujan. Air hujan ini sebagian mengalir kedalam tanah, jika
menjumpai lapisan rapat air, maka perserapan akan berkurang, dan sebagian air akan
mengalir diatas lapisan rapat air ini. Jika air ini keluar pada permukaan bumi, umumnya
berbentuk sungai-sungai dan jika melalui suatu tempat rendah (cekung) maka air akan
berkumpal, membentuk suatu danau atau telaga. Tetapi banyak diantaranya yang
mengalir ke laut kembali dan kemudian akan mengikuti siklus hidrologi ini (Sutrisno,
1994).
Saat ini, masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air meliputi kuantitas air
yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas air
untuk keperluan domestik yang semakin turun. Kegiatan industri, domestik, dan
kegiatan yang lain berdampak negatif terhadap sumber daya air, menyebabkan
penurunan kualitas air. Kondisi ini menimbulkan gangguan, kerusakan, dan bahaya bagi
semua makhluk hidup yang bergantung pada sumber daya air. Oleh karena itu,
pengolahan sumber daya air sangat penting agar dimanfaatkan secara berkelanjutan
dengan tingkat mutu yang diinginkan. Salah satu langkah pengelolaan yang dilakukan
adalah pemantauan dan interprestasi data kualitas air, mencakup kualitas fisika, kimia,
dan biologi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 tahun 1990
tentang Pengendalian Pencemaran Air mendefenisikan kualiatas air sebagai sifat air dan

kandungan makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain didalam air. Kualitas air
dinyatakan dengan beberapa parameter, yaitu parameter fisika (suhu, kekeruhan,
padatan terlarut dan sebagainya), parameter kimia (pH, BOD, COD, kadar logam, dan
sebagainya). Dan parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri, dan sebagainya).
Kolam merupakan salah satu bentuk ekosistem buatan yang berfungsi untuk
pemeliharaan ikan meliputi faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik dan abiotik ini dapat
digunakan sebagai indikator kualitas perairan tersebut. Menurut Atmadja (1975), kolam
merupakan perairan menggenang yang kegunaannya sangat tergantung pada kualitas
dan kuantitas airnya. Sehingga kualitas air yang baik akan menentukan pula
kelangsungan hidup organisme-organisme didalamnya
2.2

Limbah Tahu
Menurut Undang-undang Republik Indonesia (UU RI) No. 32 Tahun 2009 tentang

Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), definisi limbah adalah sisa
suatu usaha dan/atau kegiatan. Definisi secara umum, limbah adalah bahan sisa atau
buangan yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala
rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat
berupa gas dan debu, cair atau padat. Di antara berbagai jenis limbah ini ada yang
bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun (Limbah B3).
Jenis-jenis limbah dari bentuk fisiknya adalah:
1. Limbah padat, yang lebih dikenal sebagai sampah. Bentuk fisiknya padat. Definisi
menurut UU No. 18 Tahun 2008, sampah adalah sisa kegiatan seharihari dan/atau
proses alam yang berbentuk padat. Contoh: sisa-sisa organisme, barang dari plastik,
kaleng, botol, dll.
2. Limbah cair. Bentuk fisiknya cair. Contoh: air buangan rumahtangga, buangan
industri, dll.
3. Limbah gas dan partikel. Bentuk fisiknya gas atau partikel halus (debu). Contoh: gas
buangan kendaraan (dari knalpot), buangan pembakaran industri. (Murni. 2011)
Limbah cair pada proses produksi tahu berasal dari proses perendaman, pencucian
kedelai, pencucian peralatan proses produksi tahu, penyaringan dan pengepresan/
pencetakan tahu. Jumlah kebutuhan air proses dan jumlah limbah cair yang dihasilkan
dilaporkan berturut-turut sebesar 45 dan 43,5 liter untuk tiap kilogram bahan baku

kacang kedelai. Pada beberapa industri tahu, sebagian kecil dari limbah cair tersebut
(khususnya air dadih) dimanfaatkan kembali sebagai bahan penggumpal. Sebagian besar
limbah cair yang dihasilkan oleh industri pembuatan tahu adalah cairan kental yang
terpisah dari gumpalan tahu yang disebut dengan air dadih (whey).
Limbah cair industri tahu mengandung bahan-bahan organik kompleks yang
tinggi terutama protein dan asam-asam amino dalam bentuk padatan tersuspensi
maupun terlarut. Adanya senyawa-senyawa organik tersebut menyebabkan limbah cair
industri tahu mengandung BOD, COD dan TSS yang tinggi. Limbah ini sering dibuang
secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu sehingga menghasilkan bau busuk
dan mencemari lingkungan.
Herlambang (2002) menuliskan dampak yang ditimbulkan oleh pencemaran
bahan organik limbah industri tahu adalah gangguan terhadap kehidupan biotik.
Turunnya kualitas air perairan akibat meningkatnya kandungan bahan organik. Aktivitas
organisme dapat memecah molekul organik yang kompleks menjadi molekul organik
yang sederhana. Bahan anorganik seperti ion fosfat dan nitrat dapat dipakai sebagai
makanan oleh tumbuhan yang melakukan fotosintesis.
Selama proses metabolisme oksigen banyak dikonsumsi, sehingga apabila bahan
organik dalam air sedikit, oksigen yang hilang dari air akan segera diganti oleh oksigen
hasil proses fotosintesis dan oleh reaerasi dari udara. Sebaliknya jika konsentrasi beban
organik terlalu tinggi, maka akan tercipta kondisi anaerobik yang menghasilkan produk
dekomposisi berupa amonia, karbondioksida, asam asetat, hirogen sulfida, dan metana.
Senyawa-senyawa tersebut sangat toksik bagi sebagian besar hewan air, dan akan
menimbulkan gangguan terhadap keindahan (gangguan estetika) yang berupa rasa tidak
nyaman dan menimbulkan bau. (Kaswinarni, 2007)
Karakteristik buangan industri tahu meliputi dua hal, yaitu karakteristik fisika dan
kimia. Karakteristik Fisika meliputi padatan total, padatan tersuspensi, suhu, warna, dan
bau. Karakteristik kimia meliputi bahan organik, bahan anorganik dan gas. Suhu air
limbah tahu berkisar 37-45C, kekeruhan 535-585 FTU, warna 2.225-2.250 Pt.Co,
amonia 23,3-23,5 mg/1, BOD5 6.000-8.000 mg/1 dan COD 7.500-14.000 mg/1.
Suhu buangan industri tahu berasal dari proses pemasakan kedelai. Suhu limbah
cair tahu pada umumnya lebih tinggi dari air bakunya, yaitu 400C-460C. Suhu yang
meningkat di lingkungan perairan akan mempengaruhi kehidupan biologis, kelarutan

oksigen dan gas lain, kerapatan air, viskositas, dan tegangan permukaan. Bahan-bahan
organik yang terkandung di dalam buangan industri tahu pada umumnya sangat tinggi.
Senyawa-senyawa organik di dalam air buangan tersebut dapat berupa protein,
karbohidrat, lemak dan minyak. Diantara senyawa-senyawa tersebut, protein dan lemak
adalah yang jumlahnya paling besar. Protein mencapai 40-60%, karbohidrat 25-50%
dan lemak 10%. Air buangan industri tahu kualitasnya bergantung dari proses yang
digunakan. Apabila air prosesnya baik, maka kandungan bahan organik pada air
buangannya biasanya rendah. Komponen terbesar dari limbah cair tahu yaitu protein (N
total) sebesar 226,06-434,78 mg/l, sehingga masuknya limbah cair tahu ke lingkungan
perairan akan meningkatkan total nitrogen di perairan tersebut .
Gas-gas yang biasa ditemukan dalam limbah tahu adalah gas nitrogen (N2).
Oksigen (O2), hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3), karbondioksida (CO2) dan metana
(CH4). Gas-gas tersebut berasal dari dekomposisi bahan-bahan organik yang terdapat di
dalam air buangan (Herlambang, 2002).

III. METODE PENELITIAN:


A. Alat dan Bahan
Di sini kami menggunakan alat untuk pengukuran yaitu seperangkat alat Pasco
Xplorer GLX, alat tulis untuk mencatat data, alat untuk mengambil sampel air danau
(botol, tali, batu bata sebagai beban, karet gelang, dan plastik penutup botol).
Sedangkan bahan yang digunakan adalah sampel air danau UNJA yang diambil dengan
kedalaman bervariasi dan juga air limbah tahu, serta akuades.
B. Prosedur Kerja
1) Cara Pengambilan Sampel
Sampel diambil dari air danau yang terletak di kampus Universitas Jambi. Sampel
diambil pada pagi hari jam 7.30 dengan memvariasikan kedalaman, yaitu dengan
kedalaman 0; 0,5; dan 1 meter. Sampel diambil dengan menggunakan alat yang
dirancang khusus agar sampai ke kedalaman yang diinginkan. Alat dibuat dengan
memodifikasi botol plastik bekas ukuran 750 ml yang diikat dengan tali rafia (untuk
menarik botol dan menandai kedalaman air) pada bagian leher. Kemudian diberi beban
yang diikatkan pada badan botol agar botol dapat tenggelam sampai kedalaman yang
diinginkan.

Pengambilan sampel dimulai dengan melemparkan botol ke danau sampai tanda


batas kedalaman. Untuk kedalaman 0,5 meter tali diulur hingga batas 0,5 meter, begitu
pula untuk kedalaman 1 meter. Sedangkan untuk kedalaman 0 meter hanya diambil di
permukaan. Setelah botol terisi (ditandai dengan adanya gelembung yang naik) tali
ditarik yang kemudian dianalisis dengan alat Pasco Xplorer GLX.
2) Cara Pengoperasian Alat Pasco Xplorer GLX:
2.1 Menghidupkan Alat
Sambungkan adaptor AC ke power sisi kana alat
Colokkan adaptor ke listrik ( ketika dihubungkan ke listrik alat akan hidup secara
otomatis)
Pertama kali menggunakan alat, biarkan alat terpasang ke listrik selama satu malam.
2.2 Penggunaan Multi-Sensor, Interface PASPORT dan Probe
Hubungkan multi-sensor ke interface pasport
Hubungkan salah satu probe ke salah satu multi-sensor yang akan digunakan
2.3 Penggunaan interface pasport
Pada saat pertama kali dihidupkan, akan muncul pemilihan pengukuran.
Untuk memilih pengukuran klik tombol

pada alat, kemudian diarahkan ke kotak

pemilihan pengukuran yang akan dibaca dengan menggunakan tombol arah


klik tombol

lalu

. Pilih komponen pengukuran pH, turbidity, dan dissolve oxygen.

Kemudian pegukuran dapat dimulai dengan menekan tombol start

pH/ISE/ORP
Input pH/ ISE/ ORP multi-sensor adalah sensor tegangan khusus. Konektor BNC
menerima elektroda pH, serta elektroda ISE dan ORP. Pengukuran sensor tegangan
yang dihasilkan oleh elektroda tersebut. Ketika digunakan dengan pemeriksaan pH,
sensor juga menghitung pH berdasarkan tegangan yang diukur. Hubungkan elektroda
pH (atau elektroda lainnya) dengan pH / ISE / port ORP dan mulai ukur data yang
dikoleksi. Pada komputer Anda atau interface, menampilkan pengukuran ISE Voltage
(ini pengukuran berlaku untuk pH dan ORP elektroda serta ISE) atau pengukuran pH
untuk menghitung pH (dengan asumsi bahwa elektroda pH terhubung).
Mengukur pH

PH elektroda menghasilkan tegangan sebanding dengan pH larutan yang ada di


dalamnya. Tegangan ini diukur dengan multi-sensor, yang menghitung pH.
Buka dan lepas tutup botol dari elektroda (hati-hati untuk tidak membocorkan
larutan yang tersimpan). Dorong O-ring dan tutup botol sampai pegangan elektroda.
Bilas ujung elektroda dengan air suling. Jika Anda melihat gelembung dalam bohlam
mengguncang termometer). Mulai pengumpulan data. Tempatkan ujung elektroda
dalam larutan yang akan diukur dan tunggu bacaan pada komputer Anda atau
antarmuka untuk menstabilkan.
Oksigen terlarut (Dissolve Oxygen)
Ikuti petunjuk di atas untuk mengisi probe dengan larutan elektrolit dan
kalibrasi pengukuran. Mulai pengumpulan data. Lepaskan botol penyimpanan dari
probe. Benamkan ujung probe dalam larutan yang akan diukur. Dengan lembut aduk
probe atau aduk larutan untuk mencegah penipisan oksigen lokal di probe akhir.
Tunggu membaca untuk menstabilkan. Bilas elektroda dengan akuades untuk
mengukur larutan berbeda.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Data pengukuran
a. Saat kondisi hujan
No.

Larutan

pH

DO (mg/l)

Turbidity (NTU)

Aquades

6,5

18,6

Air danau (h = 0 m)

5,86

15

Air danau (h = 0.5 m)

5,96

16,9

Air danau (h = 1 m)

6,14

13

Air limbah tahu

7,44

13

pH

DO (mg/l)

Turbidity (NTU)

b. Saat cuaca cerah


No.

Larutan

Aquades

7,22

20

Air danau (h = 0 m)

7,38

19,5

Air danau (h = 0.5 m)

7,31

19,7

Air danau (h = 1 m)

7,61

19

Air limbah tahu

7,6

15,5

91,9

pH

DO (mg/l)

Turbidity (NTU)

c. Saat cuaca cerah (pengulangan pengukuran)


No.

Larutan

Aquades

7,01

20

Air danau (h = 0 m)

7,35

19,4

Air danau (h = 0.5 m)

7,15

19,7

Air danau (h = 1 m)

7,17

18,5

Air limbah tahu

7,5

14,5

96,5

Parameter kualitas air mempunyai peranan yang sangat penting. Hal ini
dikarenakan nilai kualitas air dapat menunjukkan apakah air tersebut layak atau tidak
untuk keberlangsungan hidup mikroorganisme. Selain itu, parameter kualitas air juga
mampu mendeteksi tingkat kesuburan perairan. Parameter kualitas air dibagi menjadi
tiga, yaitu parameter fisika, parameter kimia, dan parameter biologi. Namun kami di sini
hanya membahas beberapa parameter kimia nya seperti oksigen terlarut (DO), pH, dan
turbiditas.
Parameter kimia adalah parameter yang sangat penting untuk menentukan air
tersebut dikatakan baik atau tidak dalam budidaya perikanan dll. Parameter kimia
meliputi DO, pH, amoniak, nitrat, nitrit, TAN, TOM, fosfor, BOD, COD, alkalinitas,
kesadahan, CO2 dan lain-lain.

DO (Dissolve Oxygen)
Oksigen terlarut (DO) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari
fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen terlarut di suatu perairan sangat
berperan dalam proses penyerapan makanan oleh mahkluk hidup dalam air. Untuk
mengetahui kualitas air dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati
beberapa parameter kimia seperti oksigen terlarut (DO). Semakin banyak jumlah DO
(dissolved oxygen) maka kualitas air semakin baik. Satuan DO dinyatakan dalam

persentase saturasi. Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk
pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan
energi untuk pertumbuhan dan pembiakan.
Pada lapisan permukaaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses
difusi antar air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan
bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses
fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk
pernapasan dan oksidasi bahan bahan organik dan anorganik. Keadaan oksigen
terlarut berlawanan dengan keadaan BOD, semakin tinggi BOD semakin rendah
oksigen terlarut. Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam
keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun. Idealnya, kandungan
oksigen terlarut dan tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan
sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % (HUET, 1970). KLH menetapkan
bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan
biota laut (ANONIMOUS: 2004).
Pada saat kondisi hujan nilai DO pada kedalaman 0 m, 0,5 m, dan 1 m adalah 15,
16,9 dan 13 mg/L. Sedangkan pada cuaca cerah nilai DO pada kedalaman 0 m, 0,5 m,
dan 1 m adalah 19,5; 19,7; dan 19 mg/L dan pada pengukuran ke dua nilai DO masingmasingnya adalah 19,4; 19,7; dan 18,5 mg/L. Ini dikarenakan adanya pertukaran udara
yang baik, yang dilakukan pada saat air hujan masuk ke kolam, namun pada saat hujan
nilai DO menjadi rendah dibandingkan dengan nilai DO pada saat cuaca cerah. Hal ini
dikarenakan adanya sumbangan air yang membawa buangan limbah dari paritparit sekitar. Walaupun nilai DO pada saat hujan tidak terlalu baik namun relatif
mendekati ambang batas yang diperbolehkan. Selain itu nilai DO air kolam pada
kedalaman 0,5 m lebih besar daripada permukaan dan kedalaman 1 m. Seharusnya nilai
DO pada permukaan lebih besar dibandingkan di dalam air karena permukaan
merupakan tempat pertama bagi oksigen bebas (hasil fotosintesis maupun stok di
udara) untuk masuk ke dalam air. Kemungkinan hal itu terjadi karena kolam ini
merupakan perairan dangkal sehingga makhluk hidup di dalamnya lebih banyak tinggal
di dasar kolam yang tidak jauh jaraknya dari permukaan dan cukup m???/

Sedangkan nilai DO pada akuades yang merupakan blanko yaitu sebesar 18,6; 20;
dan 20 mg/l. Dan untuk air limbah tahu, nilai DO masing-masing nya adalah sebesar
13; 15,5; dan 14,5 mg/l. Nilai ini tergolongan sangat tinggi dibandingkan dengan
kandungan DO pada air limbah tahu menurut literatur yaitu di bawah 4 mg/l bahkan
tidak ada sama sekali.
Selain itu suhu juga akan mempengaruhi kadar oksigen yang terlarut dalam air
dan daya racun suatu bahan pencemar. Semakin tinggi suhu suatu perairan semakin
sedikit oksigen terlarut di dalamnya sedangkan kebutuhan oksigen setiap kenaikan suhu
10C, makhluk hidup air hampir dua kali lipat akan kebutuhan oksigennya.
Setiap organisme mempunyai persyaratan suhu maksimum, optimum dan
minimum untuk hidupnya serta mempunyai kemampuan menyesuaikan diri sampai
suhu tertentu. Suhu yang baik untuk pemeliharaan ikan berkisar antara 2531C.
Konsentrasi oksigen terlarut dalam perairan mengalami fluktuasi selama sehari
semalam (24 jam). Konsentrasi terendah terjadi pada waktu subuh (dini hari) kemudian
meningkat pada siang hari dan menurun kembali pada malam hari. Perbedaan
konsentrasi oksigen terlarut tertinggi terdapat pada perairan yang mempunyai
kepadatan planktonnya tinggi dan sebaliknya.
Kelarutan oksigen dalam air dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain suhu,
kadar garam (salinitas) perairan, pergerakan air dipermukaan air, luas daerah
permukaan perairan yang terbuka, tekanan atmosfer dan persentase oksigen
sekelilingnya. Bila pada suhu yang sama konsentrasi oksigen terlarut sama dengan
jumlah kelarutan oksigen yang ada di dalam air, maka air tersebut dapat dikatakan
sudah jenuh dengan oksigen terlarut. Bila air mengandung lebih banyak oksigen terlarut
dari pada yang seharusnya pada suhu tertentu, berarti oksigen dalam air tersebut sudah
lewat jenuh (super saturasi).
Apabila dikaitkan dengan tekanan udara dan suhu, maka kelarutan oksigen dalam
air akan menurun dengan menurunnya tekanan udara dan suhu. Pada usaha pembenihan
ikan laut di hatchery kadar oksigen terlarut dapat dioptimalkan dengan bantuan aerasi.
Oksigen terlarut diukur dengan dua cara yaitu dengan DO meter dan metode modifikasi
azida. dilaboratorium. Kisaran DO yang baik minimal 3 ppm, dan optimum 4-7 ppm.

Cara untuk menanggulangi jika kekurangan kadar oksigen terlarut adalah dengan
cara :
1. Menurunkan suhu/temperatur air, dimana jika temperatur turun maka kadar oksigen
terlarut akan naik.
2. Mengurangi kedalaman air, dimana semakin dalam air tersebut maka semakin kadar
oksigen terlarut akan naik karena proses fotosintesis semakin meningkat.
3. Mengurangi bahan bahan organik dalam air, karena jika banyak terdapat bahan
organik dalam air maka kadar oksigen terlarutnya rendah.
4. Diusahakan agar air tersebut mengalir.

pH (Potential Hydrogen)
Derajat keasaman atau pH merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen (H+) yang
mencirikan keseimbangan asam dan basa. Derajat keasaman suatu perairan, baik
tumbuhan maupun hewan sehingga sering dipakai sebagai petunjuk untuk menyatakan
baik atau buruknya suatu perairan (Odum, 1971).
Biasanya angka pH dalam suatu perairan dapat dijadikan indikator dari adanya
keseimbangan unsur-unsur kimia dan dapat mempengaruhi ketersediaan unsur-unsur
kimia dan unsur-unsur hara yang sangat bermanfaat bagi kehidupan vegetasi akuatik.
Tinggi rendahnya pH dipengaruhi oleh fluktuasi kandungan O2 maupun CO2.
Tingkat pH lebih kecil dari 4,8 dan lebih besar dari 9,2 sudah dapat dianggap
tercemar. Perairan danau nilai pH berkisar pH 6,7 8,6 hal ini dkarenakan karena
kedalaman danau dangkal sehingga pH tanah sangat mempengaruhinya.
Nilai pH air pada saat hujan adalah sebesar 5,86 untuk permukaan, 5,96 untuk
kedalaman 0,5 m, dan 6,14 untuk kedalaman 1 m.. Nilai pH pada cuaca cerah utuk
permukaan adalah sebesar 7,38 dan 7,35. Pada kedalaman 0,5 m adalah sebesar 7,31
dan 7,15. Sedangkan pada kedalaman 1 m adalah sebesar 7,6 dan 7,5. Nilai ini berada
pada sedikit basa di atas pH netral, namun masih tergolong netral. Hal ini
diakibatkan karena dasar sungai atau tanah di kolam ini merupakan tanah gambut,
sehingga menurunkan nilai pH di perairan. Namun demikian, secara keseluruhan pH
perairan danau UNJA masih berada pada kisaran yang aman digunakan sebagai sumber

air baku air bersih berdasarkan ambang batas baku mutu kualitas air Kelas Satu yang
mensyaratkan nilai pH antara 6-9 berada di kondisi cukup baik antara normal.
pH untuk akuades adalah sebesar 6,5; 7,22; dan 7,01 yang masih termasuk pH
netral. Dan untuk pH limbah tahu lebih tinggi disbanding dengan akuades dan air
kolam yaitu sebesar 7,44; 7,6; dan 7,4.
Besarnya pH suatu perairan adalah besarnya konsentrasi ion hidrogen yang
terdapat di dalam perairan tersebut. Dengan kata lain nilai pH suatu perairan akan
menunjukkan apakah air bereaksi asam atau basa.
Secara alamiah pH perairan dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan senyawasenyawa yang bersifat asam. Sebagai reaksinya nilai pH perairan akan berubah menjadi
rendah pada pagi hari, meningkat pada siang hari dan mencapai maksimum pada sore
hari serta akan menurun kembali pada malam hari. Oleh karena itu pengukuran pH
perairan dilakukan pada pagi dan sore hari, karena pada saat-saat tersebut pH air
mencapai puncak terendah dan tertinggi. Dalam rangka mendukung kehidupan ikan dan
kultur pakan alami (fitoplankton) nilai pH air berkisar antara 6,5 8,5.

Turbiditas
Turbiditas merupakan suatu ukuran yang menyatakan sampai seberapa jauh
cahaya mampu menembus air, dimana cahaya yang menembus air akan mengalami
pemantulan oleh bahan-bahan tersuspensi dan bahan koloidal. Satuannya adalah
Jackson Turbidity Unit (JTU), dimana 1 JTU sama dengan turbiditas yang disebabkan
oleh 1 mg/l SiO2 dalam air. Dalam danau atau perairan lainnya yang relatif tenang,
turbiditas terutama disebabkan oleh bahan koloidan dan bahan-bahan hakus yang
terdispersi dalam air. Dalam sungai yang mengalir, turbiditas terutama disebabkan oleh
bahan-bahan kasar yang terdispersi. Turbiditas penting bagi kualitas air permukaan,
terutama berkenaan dengan pertimbangan estetika, daya filter, dan disinfeksi. Pada
umumnya kalau turbiditas meningkat, nilai fisik menurun, filtrasi air lebih sulit dan
mahal, dan efektivitas desinfeksi berkurang. Turbiditas dalam perairan mungkin terjadi
karena material alamiah, atau akibat aktivitas proyek, pembuangan limbah, dan operasi
pengerukan.

Nilai turbiditas sampel air danau dan akuades adalah 0 NTU. Dibandingkan
dengan sampel standar 100 NTU, sampel memang tidak cukup keruh untuk diukur
turbiditasnya. Sedangkan dengan tiga kali pengukuran sampel air limbah tahu,
diperoleh 2 data nilai turbiditasnya yaitu sebesar 91,9 dan 96,5 NTU. Sampel air limbah
tahu mengandung koloidal-koloidal yang dapat memperkeruh penampakannya
sehingga memiliki nilai turbiditas yang cukup tinggi.
Hubungan antara pH dan DO
pH rendah (keasaman tinggi) akan menyebabkan penurunan oksigen terlarut,
konsumsi oksigen menurun, peningkatan aktivitas pernapasan, dan penurunan selera
makan. Rentang toleransi pH : 6.5 9.0. pH optimal: 7.0 8.5 Fotosintesis (siang hari)
menggunakan CO2 dan respirasi (siang malam) menghasilkan CO2 dan apabila CO2
terlarut tinggi pada malam hari maka pH cenderung rendah.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari reaksi berikuti:
CO2 + H2O H2CO3
H2CO3 H+ + HCO3H+ + HCO3- 2H+ + CO32Semakin banyak CO2 yang dihasilkan dari respirasi, maka reaksi akan bergerak ke
kanan dan pelepasan ion H+ sehingga pH air turun (cenderung asam). Sedangkan
enurunan/penggunaan CO2 dalam fotosintesis oleh fitoplankton maka pH air naik
(cenderung basa).
IV. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1) Semakin rendah pH (keasaman tinggi) maka akan menyebabkan penurunan
oksigen terlarut dalam air. Apabila CO2 terlarut tinggi pada maka pH cenderung
rendah dan kandungan oksigen juga rendah.

DAFTAR PUSTAKA

Asdak, 2007. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
Odum, E. P. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sounders Company. Philadelphia, London.
Odum E. P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi ketiga. Yogayakarta. Gajah Mada University
press.
Pescod, M. B. 1973. Investigation of Rational Effluent and Stream Standard for Tropical
Countries. AIT, London.
Ferianti FM. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta : Bumi Aksara.
Sary, 2006. Bahan Kuliah Manajemen Kualitas Air. Politehnik vedca. Cianjur

Beri Nilai