Anda di halaman 1dari 20

PERKEMBANGAN MORAL DAN PENGHAYATAN

KEAGAMAAN

PADA REMAJA

A. PENDAHULUAN

1. Pengertian Perkembangan

Istilah “perkembangan” (development) dalam psikologi merupakan


konsep yang cukup rumit dan kompleks. Di dalamnya tekandung banyak
dimensi. Oleh sebab itu perlu difahami terlebih dahulu pengertian
perkembangan. Berikut kami uaraikan beberapa pendapat ahli tentang
perkembangan.

Secara singkat, perkembangan (development) adalah proses atau


tahapan pertumbuhan ke arah yang lebih maju (Mcload,1989). Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) “perkembangan” adalah perihal
berkembang. Selanjutnya, kata “berkembang” berarti mekar terbuka
atau membentang; menjadi besar, luas dan banyak, serta menjadi
bertambah sempurna dalam hal kepribadian, fikiran, pengetahuan, dan
sebagainya.

Perkembangan menurut Seifert & Hofnung (1994) mendefinisikan


perkembangan sebagai “long-term changes in a person’s growth,
feelings, patterns of thinking, social relationship, and motor
skills”(perubahan jangka panjang yang berlangsung pada pertumbuhan
individu, perasaan-perasaan, kerangka berfikir, hubungan sosial dan
kemampuan motorik).

Menurut F.J Monks, dkk., (2002) pengertian perkembangan


menunjuk kepada “suatu proses ke arah yang lebih sempurna dan tidak
dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang
bersifat tetap dan tidak dapat diputar kembali”.

1
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
Santrock (1996) menjelaskan perkembangan sebagai berikut:
“development is a pattern of changes that begins at conception and
continous through life span. Most development involves growth,
although it includes decay (as in death and dying). The pattern of
movement is complex because it is product of several processes-
biological, cognitive, and socioemotional.”

Dari berbagai definisi di atas, maka kita akan dapat mengambil


kesimpulan bahwa perkembangan memiliki karakteristik sebagai
berikut:

a. Bersifat tetap dan berkesinambungan


b. Berlangsung sepanjang hayat
c. Tidak berulang-ulang untuk setiap fase yang dilalui
d. Menuju ke arah yang lebih baik dan sempurna
e. Bersifat kualitatif dan kuantitatif

2. Batasan Usia Remaja

Remaja sebagai suatu periode tertentu dari kehidupan manusia


merupakan konsep yang relatif baru dalam kajian psikologi. Di negara-
negara Barat, istilah remaja dikenal dengan “adolescence” yang berasal
dari kata dalam bahasa latin “adolescere” yang berarti tumbuh menjadi
dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa.

Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah
antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya
dibedakan atas tiga, yaitu:

a. Masa remaja awal (12 – 15 tahun)


b. Masa remaja pertengahan (15 – 18 tahun)
c. Masa remaja akhir (18 – 21 tahun)

Tetapi, Monks, knoers & Haditono (2001) membedakan masa


remaja atas empat bagian, yaitu:

2
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
a. Masa pra remaja atau pra pubertas (10 – 12 tahun)
b. Masa remaja awal atau pubertas (12 – 15tahun)
c. Masa remaja pertengahan (15 – 18 tahun)
d. Masa remaja akhir (18 – 21 tahun)

Terlepas dari perbedaan penentuan batasan usia remaja yang


dikemukakan oleh para ahli psikologi ini, Semua ahli sepakat bahwa
masa remaja adalah masa transisi dalam fase perkembangan individu
dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Oleh karena itu, masa
remaja sangat urgen untuk dibahas mengingat masa ini akan
menentukan keberhasilan individu mencapai keberhasilan dan
kesempurnaan dalam memenuhi tugas perkembangannya.

B. PERKEMBANGAN MORAL REMAJA

Istilah moral berasal dari kata Latin "mos" (Moris), yang berarti adat
istiadat, kebiasaan, peraturan/niali-nilai atau tata cara kehidupan.
Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan
melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Nilai-nilai
moral itu, seperti:

1. Seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban


dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang
lain, dan
2. Larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum-minuman keras
dan berjudi.

Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang


tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh
kelompok sosialnya. Sehingga tugas penting yang harus dikuasai remaja
adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompok daripadanya
dan kemudian mau membentuk perilakunya agar sesuai dengan
harapan sosial tanpa terus dibimbing, diawasi, didorong, dan diancam
hukuman seperti yang dialami waktu anak-anak.

3
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
1. Tahapan-Tahapan Perkembangan Moral Pada Remaja

Pendekatan terhadap perkembangan moral dalam aliran psikologi


kognitif lebih banyak dilakukan oleh Lawrence Kohlberg daripada oleh
piaget sendiri selaku tokoh utama psikologi ini. Tetapi keduanya sama-
sama menekankan bahwa pemikiran moral individu ditentukan oleh
kematangan (maturation) kapasitas kognitifnya. Bahkan Kohlberg
menempatkan moral sebagai bagian dari penalaran (rasioning) sehingga
ia menamakannya dengan penalaran moral (moral rasioning). Karena
lebih bersifat penalaran, maka perkembangan moral menurutnya sejalan
dengan perkembangan kognitif seperti yang dikemukakan oleh Piaget.
Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menurut tahap-tahap
perkembangan Piaget tersebut, makin tinggi pula tingkatan moralnya.
Sesuai dengan tahap-tahap perkembangan moral menurut kohlberg,
tingkat penalaran moral remaja berada pada tahap konvensional.

Berdasarkan penelitian empiris yang dilakukan Kohlberg pada


tahun 1958, sekaligus menjadi disertasi doktornya dengan judul The
Developmental of Model of Moral Think and Choice in the Years 10 to 16,
seperti tertuang dalam buku Tahap-tahap Perkembangan Moral (1995).

Pada tingkat ini individu hanya menuruti harapan keluarga,


kelompok atau bangsa. Anak memandang bahwa hal tersebut bernilai
bagi dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata.
Sikapnya bukan hanya konformitas terhadap harapan pribadi dan tata
tertib sosial, melainkan juga loyal (setia) terhadapnya dan secara aktif
mempertahankan, mendukung dan membenarkan seluruh tata-tertib
atau norma-norma tersebut serta mengidentifikasikan diri dengan orang
tua atau kelompok yang terlibat di dalamnya. Tingkatan pada fase
konvensional ini memiliki dua tahap sebagai berikut:

a. Tahap 1 : Orientasi kesepakatan antara pribadi atau orientasi


“anak manis” (The interpersonal concordance orientation)

4
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
Pada fase ini, anak atau remaja berperilaku sesuai dengan
aturan dan patokan moral agar memperolah persetujuan orang
dewasa, bukan untuk menghindari hukuman lagi seperti pada
tahap pre konvensional atau tahap anak-anak. Ia juga menilai
bahwa perbuatan baik dan buruk dinilai berdasarkan tujuannya,
jadi ia sudah memiliki kesadaran terhadap perlunya aturan.

Bagi remaja Perilaku yang baik adalah yang menyenangkan


dan membantu orang lain serta yang disetujui oleh mereka. Pada
tahap remaja menilai perbuatan baik adalah yang memenuhi
otoritas atau komunitasnya yang mayoritas. Perilaku juga sering
dinilai menurut niatnya, ungkapan “dia bermaksud baik” untuk
pertama kalinya menjadi penting. Remaja sangat ingin
memperlihatkan citranya sebagai “anak baik”.

b. Tahap 2 : Orientasi hukuman dan ketertiban (authority and social


order maintaining orientation)

Pada tahap ini remaja sudah memiliki sikap pasti terhadap


wewenang dan aturan, Perilaku yang baik adalah semata-mata
melakukan kewajiban sendiri, menghormati otoritas dan menjaga
tata tertib sosial yang ada, sebagai yang bernilai dalam dirinya
sendiri. Ia juga memahami bahwa hukum dan aturan sangat
mengikat dan harus ditaati oleh semua orang

Tidak kalah pentingnya, sekarang remaja harus mengendalikan


perilakunya sendiri, yang sebelumnya menjadi tanggung jawab orang
tua dan guru. Mitchell telah meringkaskan lima perubahan dasar dalam
moral yang harus dilakukan oleh remaja yaitu:

1. Pandangan moral individu semakin lama semakin menjadi lebih


abstrak dan kurang konkret.
2. Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang
pada apa yang salah. Keadilan muncul sebagai kekuatan moral yang
dominan.

5
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
3. Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Ia mendorong remaja lebih
berani menganalisis kode sosial dan kode pribadi dari pada masa
anak-anak dan berani mengambil keputusan terhadap berbagai
masalah moral yang dihadapinya.
4. Penilaian moral menjadi kurang egosentris.
5. Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti
bahwa penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan
ketegangan psikologis.

Pada masa remaja, laki-laki dan perempuan telah mencapai apa


yang oleh Piaget disebut tahap pelaksanaan formal dalam kemampuan
kognitif. Sekarang remaja mampu mempertimbangkan semua
kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan
mempertanggungjawabkannya berdasarkan suatu hipotesis atau
proporsi. Jadi ia dapat memandang masalahnya dari berbagai sisi dan
menyelesaikannya dengan mengambil banyak faktor sebagai dasar
pertimbangan.

Menurut Kohlberg, tahap perkembangan moral ketiga, yaitu moral


moralitas pasca konvensional harus dicapai selama masa remaja. Tahap
ini merupakan tahap menerima sendiri sejumlah prinsip dan terdiri dari
dua tahap. Dalam tahap pertama individu yakin bahwa harus ada
kelenturan dalam keyakinan moral sehingga dimungkinkan adanya
perbaikan dan perubahan standar apabila hal ini menguntungkan
anggota-anggota kelompok secara keseluruhan. Dalam tahap kedua
individu menyesuaikan dengan standar sosial dan ideal yang
diinternalisasi lebih untuk menghindari hukuman terhadap diri sendiri
daripada sensor sosial. Dalam tahap ini, moralitas didasarkan pada rasa
hormat kepada orang-orang lain dan bukan pada keinginan yang
bersifat pribadi.

2. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Moral Remaja

6
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
Dunia remaja merupakan suatu tahap yang kritikal didalam
kehidupan manusia, yaitu peralihan dari dunia anak-anak menuju ke
dunia dewasa. Di tahapan ini seseorang memulai untuk mencari
identitas dan penampilan diri. Bahkan pakar psikologi mengistilahkan
dunia remaja sebagai “emotional age” (umur emosi). Tetapi faktor yang
bisa mempengaruhi moral remaja juga mempengaruhi ketika dia
menginjak dewasa.

Berikut ini beberapa faktor yang dapat mempengaruhi


perkembangan moral dikalangan para remaja:

1. Kurangnya perhatian dan pendidikan agama oleh keluarga

Bagaimanapun juga kematangan moral individu erat kaitannya


dengan kecerdasan spiritual keagamaan. Tugas orang tua dan
keluarga dalam mendidik remaja di keluarganya menjadi sangat
penting. Jika satu keluarga bersikap apatis terhadap pendidikan
agama dan mengarahkan anaknya pada pola hidup yang materialistik
permissive, maka perkembangan moral anak remaja akan lamban
mencapai kesempurnaan atau pada tahap normal yang diharapkan.

2. Pengaruh lingkungan yang tidak baik

Kebanyakan remaja yang tinggal di kota besar menjalankan


kehidupan yang individualistik dan materialistik. Sehingga kadang
kala didalam mengejar kemewahan tersebut mereka sanggup
berbuat apa saja tanpa menghiraukan hal itu bertentangan dengan
norma atau tidak, baik atau buruk.

3. Tekanan psikologi yang dialami remaja

Beberapa remaja mengalami tekanan psikologi ketika di rumah


diakibarkan adanya perceraian atau pertengkaran orang tua yang
menyebabkan si anak tidak betah di rumah dan menyebabkan dia
mencari pelampiasan.

7
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
4. Gagal dalam studi/pendidikan

Remaja yang gagal dalam pendidikan atau tidak mendapat


pendidikan, mempunyai waktu senggang yang banyak, jika waktu itu
tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, bisa menjadi hal yang buruk
ketika dia berkenalan dengan hal-hal yang tidak baik untuk mengisi
kekosongan waktunya.

5. Peranan Media Massa

Remaja adalah kelompok atau golongan yang mudah dipengaruhi,


karena remaja sedang mencari identitas diri sehingga mereka
dengan mudah untuk meniru atau mencontoh apa yang dia lihat,
seperti pada film atau berita yang sifatnya kekerasan, dan
sebagainya. Apalagi azas kebebasan pers dan penyiaran menjadikan
media membabi buta mengekspos prilaku-prilaku menyimpang yang
“layak jual” untuk dikonsumsi khalayak luas termasuk diantaranya
remaja. Hal ini diperparah dengan banyaknya statiun TV swasta yang
berdiri dan menjual program-program yang tidak mendidik.

6. Perkembangan teknologi modern

Dengan perkembangan teknologi modern saat ini seperti


mengakses informasi dengan cepat, mudah dan tanpa batas juga
memudahkan remaja untuk mendapatkan hiburan yang tidak sesuai
dengan mereka.

3. Masalah-Masalah Yang Timbul

a. Kenakalan remaja (juvenile deliquency)

Keterikatan hidup dalam gang (peers group) atau komunitas dan


kelompok serta prinsip menjungjung tinggi solidaritas dan loyalitas pada
kelompoknya mudah menimbulkan kenakalan remaja yang berbentuk

8
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
perkelahian antar kelompok, pencurian, tindak kekerasan, prostitusi,
pencurian, perampokan dan bentuk-bentuk perilaku antisosial lainnya.

b. Konflik dengan orang tua

Anak atau remaja yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang


tidak harmonis serta buruknya jalinan komunikasi antara orang tua dan
anak dapat memicu konflik yang mengakibatkan remaja tidak betah dan
tidak merasa nyaman di dalam rumah. Maka ia akan mencari pelarian,
tentunya komunitas yang dapat menerimanya sebagai anak yang
“broken home”. Ia akan melakukan apa saja hanya untuk mendapat
pengakuan dan perlindungan, hal yang tidak ia temukan dalam
keluarganya sendiri, sungguh ironi.

c. Prilaku menyimpang

Kurangnya bimbingan dan perhatian dari orang tua, atau


perhatian orang tua yang sebatas pada hal-hal yang bersifat fisik dan
tidak menyentuh dimensi moral-emosional, menyebabkan remaja
cenderung melakukan prilaku yang menyimpang yang bertentangan
dengan norma keagamaan seperti seks bebas, menghisap ganja,
nakrkotika dan sebagainya.

4. Implikasi Proses Perkembangan Moral Remaja Terhadap


Pendidikan

Untuk memahami dan mengurangi kemungkinan timbulnya


permasalahan pada perkembangan moral remaja, maka perlu dilakukan
langkah-langkah nyata untuk membentuk dan membimbing remaja
menuju tahap dewasa. Berikut implikasinya terhadap pendidikan.

a. Menciptakan suasana dan fasilitas yang memungkinkan


terbentuknya kelompok-kelompok perkumpulan remaja yang
mempunyai tujuan-tujuan yang positif konstruktif berdasarkan
minat, seperti keolahragaan, kesenian, keagamaan, hobi,

9
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
kelompok belajar atau diskusi, yang diorganisasikan oleh
mereka sendiri dengan bimbingan dan monitoring dari para
pendidik.
b. Menciptakan hubungan rumah dengan sekolah (parent teacher
association) untuk saling mendekatkan dan menyelaraskan
sistem nilai yang dikembangkan dan pendekatan terhadap
siswa remaja serta sikap dan tindakan perlakuan layanan yang
diberikan dalam pembinaannya.
c. Suatu keluarga harus memiliki standar moral yang jelas. Semua
anggota keluarga wajib mentaati “undang-undang” yang telah
diketahui dan disepakati.
d. Membangun komunikasi yang aktif dari dua arah antara orang
tua dan anak. Orang tua memang memiliki otoritas terhadap
anaknya, tapi sikap otoriter memiliki dampak negatif terhadap
perkembangan remaja, karena mereka sudah memiliki sikap
kritis sesuai dengan perkembangan kognitifnya.
e. Remaja dibimbing untuk menemukan idolanya yang dapat
memberi pengaruh positif baginya. Tentunya bagi umat Islam,
orang tua dan para pendidik wajib mengenalkan mereka pada
tokoh Rasulullah Saw., tentang akhlaknya, keteladanannya,
kejujurannya serta kecintaan dan kerinduan Nabi terhadap
umatnya yang tidak pernah bertemu dengannya. Karena nilai-
nilai ini sangatlah sulit diperolah anak di tempat yang lain.
f. Rumah sebagai al-Madrosatul Ula (sekolah pertama) harus
difungsikan dengan baik sehingga remaja dapat merasakan
kenyamanan dan ketentraman ketika berada di dalam rumah.
Sehingga jika anak menemukan permasalahan, maka ia tidak
akan mencarinya di tempat yang lain.

C. PERKEMBANGAN PENGHAYATAN KEAGAMAAN REMAJA.

Seperti halnya moral, agama juga merupakan fenomena kognitif.


Oleh sebab itu, beberapa ahli psikologi perkembangan menempatkan
pembahasan agama dalam kelompok bidang perkembangan kognitif.

10
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
Hal ini pun sesuai dengan isi Al-Qur’an yang menyebut manusia sebagai
individu yang berfikir (ulul Albab).

Bagi remaja agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan


moral. Bahkan sebagaimana dijelaskan oleh Adams & Gullota (1983),
agama memberikan sebuah kerangka moral sehingga membuat
seseorang dapat membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat
menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa
dan untuk apa seseorang berada di dunia ini. Agama memberikan
perlindungan dan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah
mencari eksistensi dirinya.

Dibandingkan dengan masa awal anak-anak misalnya, keyakinan


agama remaja telah mengalami perkembangan yang cukup berarti.
Kalau pada masa awal anak-anak ketika mereka baru memiliki
kemampuan berpikir simbolik. Tuhan dibayangkan sebagai person yang
berada diawan, maka pada masa remaja mereka mungkin berusaha
mencari sebuah konsep yang lebih mendalam tentang Tuhan dan
eksistensi. Perkembangan pemahaman remaja terhadap keyakinan
agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya.

Oleh karena itu meskipun pada masa awal anak-anak ia telah


diajarkan agama oleh orang tua mereka, namun karena pada masa
remaja mereka mengalami kemajuan dalam perkembangan kognitif,
mereka mungkin mempertanyakan tentang kebenaran keyakinan
agama mereka sendiri. Sehubungan dengan pengaruh perkembangan
kognitif terhadap perkembangan agama selama masa remaja ini.

1. Tahap-Tahap Perkembangan Penghayatan Keagamaan


Remaja

Dalam suatu studi yang dilakukan Goldman (1962) tentang


perkembangan pemahaman agama anak-anak dan remaja dengan latar
belakang teori perkembangan kognitif Piaget, ditemukan bahwa
perkembangan pemahaman agama remaja berada pada tahap 3, yaitu

11
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
formal operational religious thought, di mana remaja memperlihatkan
pemahaman agama yang lebih abstrak dan hipotesis. Peneliti lain juga
menemukan perubahan perkembangan yang sama, pada anak-anak dan
remaja. Oser & Gmunder, 1991 (dalam Santrock, 1998) misalnya
menemukan bahwa remaja usia sekitar 17 atau 18 tahun makin
meningkat ulasannya tentang kebebasan, pemahaman, dan
pengharapan konsep-konsep abstrak ketika membuat pertimbangan.

James Fowler (1976) mengajukan pandangan lain dalam


perkembangan konsep religius. Individuating-reflexive faith adalah
tahap yang dikemukakan Fawler, muncul pada masa remaja akhir yang
merupakan masa yang penting dalam perkembangan identitas
keagamaan. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, individu
memiliki tanggung jawab penuh atas keyakinan religius mereka.
Sebelumnya mereka mengandalkan semuanya pada keyakinan orang
tuanya.

Para ahli umumnya (Zakiah Daradjat, Starbuch, William James)


sependapat bahwa pada garis besarnya perkembangan penghayatan
keagamaan itu dapat di bagi dalam tiga tahapan yang secara kualitatif
menunjukkan karakteristik yang berbeda. Adapun tahapan penghayatan
keagamaan remaja adalah sebagai berikut:

a. Masa awal remaja (12-18 tahun) dapat dibagi ke dalam tiga sub
tahapan sebagai berikut:

1) Sikap negative (meskipun tidak selalu terang-terangan)


disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan orang-
orang beragama secara hipocrit (pura-pura) yang pengakuan dan
ucapannya tidak selalu selaras dengan perbuatannya.
2) Pandangan dalam hal ke-Tuhanannya menjadi kacau karena ia
banyak membaca atau mendengar berbagai konsep dan
pemikiran atau aliran paham banyak yang tidak cocok atau
bertentangan satu sama lain.

12
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
3) Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik (diliputi kewas-
wasan) sehingga banyak yang enggan melakukan berbagai
kegiatan ritual yang selama ini dilakukannya dengan kepatuhan.

b. Masa remaja akhir (18 – 21 tahun) yang ditandai antara lain oleh hal-
hal berikut ini:

1) Sikap kembali, pada umumnya kearah positif dengan tercapainya


kedewasaan intelektual, bahkan agama dapat menjadi pegangan
hidupnya menjelang dewasa.
2) Pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkannya dalam konteks
agama yang dianut dan dipilihnya.
3) Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses
identifikasi sehinnga ia dapat membedakan antara agama sebagai
doktrin atau ajaran dan manusia penganutnya, yang baik shalih)
dari yang tidak. Ia juga memahami bahwa terdapat berbagai aliran
paham dan jenis keagamaan yang penuh toleransi seyogyanya
diterima sebagai kenyataan yang hidup didunia ini.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan


Penghayatan Agama Pada Remaja

Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah Swt. Adalah


dia dianugerahi fitrah untuk mengenal Allah dan melakukan ajaran-Nya.
Fitrah beragama (insting religius) ini merupakan kemampuan dasar yang
berpeluang untuk berkembang. Namun arah dan kualitas
perkembangannya sangat bergantung pada proses pendidikan yang
diterimanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Saw.:

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya karena


orangtuanyalah, anak itu menjadi yahudi, nasrani, atau majusi.”

Hadits ini mengisyaratkan bahwa faktor lingkungan sangat


berperan dalam mempengaruhi penghayatan keagamaan remaja.

13
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
penghayatan keagamaan anak:

a. Faktor pembawaan (internal)

Kemampuan untuk menghayati keagamaan sudah diberikan Allah


SWT. Semenjak kita masih didalam rahim; Allah SWT berfirman dalam
beberapa ayat Al Quran di bawah ini :

1) “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan


anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah
aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban
kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu)
agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya
Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan Tuhan)",(Al ‘Arof ayat 172)
2) “Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama
Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah
Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahui”.(Ar Ruum ayat 30)
3) “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan
dan ketakwaannya.”(Asy Syams ayat 8)

b. Faktor Lingkungan (Eksternal)

Faktor lingkungan berperan sangat dominan bagi perkembangan


penghayatan keagamaan remaja, karena lingkungan merupakan tempat
remaja belajar dalam mencari dan mengembangkan jati dirinya,para ahli
psikologi membagi lingkungan kepada tiga bagian, yaitu :

1) Lingkungan keluarga

14
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
Lingkungan keluarga sangat menentukan bagaimana
kedewasaan dan kematangan perkembangan remaja dalam
memahami dan menghayati kaidah-kaidah agamanya serta
menerapkannya dalam mengaktualisasikan dirinya di tengah
masyarakat.

2) Lingkungan sekolah

Pergaulan remaja ketika ia berada di lingkungan sekolahnya,


teman kelasnya atau juga figur guru agama ikut menentukan
kualitas penghayatannya terhadap agamanya.

3) Lingkungan masyarakat

Masyarakat adalah tempat di mana individu menghadapi


dunianya yang nyata dan penuh dengan tantangan. Jika ia
berada dalam komunitas sosial yang menjunjung tinggi nilai-
nilai agama maka remaja akan mencapai kematangan spiritual
dengan baik. Tapi jika remaja berada dalam komunitas
masyarakat yang apatis dan permissive maka ia akan sulit
mencapai kematangan spiritual dan mengalami kebimbangan
sehingga ia akan terjebak dalam pergaulan yang buruk dan
memiliki prilaku yang negatif dan bertentangan dengan norma-
norma agama yang dianutnya.

3. Masalah-masalah yang berkaitan dengan perkembangan


penghayatan keagamaan remaja.

Masalah-masalah yang timbul dalam penghayatan keagamaan


remaja tidak jauh berbeda dengan masalah yang timbul dalam
perkembangan moral seperti yang telah dijelaskan di atas, tetapi
sebenarnya masalah yang timbul dalam penghayatan keagamaan
remaja akan lebih banyak lagi, karena banyak hal yang menurut moral
tidak dilarang, tapi secara agama merupakan satu hal yang dilarang. Hal
ini dikarenakan moral merupakan persepsi dan kaidah tentang nilai-nilai

15
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
positif menurut akal manusia, tetapi istilah akhlak dalam perspektif
agama adalah nilai-nilai abadi yang tetap berdasarkan wahyu. Contoh
sederhana, etika makan dengan tangan kiri berdasarkan nilai-nilai yang
berkembang di masyarakat bukan suatu hal yang tercela. Tetapi dalam
Islam diajarkan bahwa cara makan seperti itu tidak dibenarkan dan itu
akan berlaku selamanya.

Agama mempunyai peranan penting dalam pengendalian moral


seseorang. Tapi harus diingat bahwa pengertian tentang agama, tidak
otomatis sama dengan bermoral. Betapa banyak orang yang mengerti
agama, tapi moralnya merosot. Dan tidak sedikit pula orang yang tidak
mengerti agama sama sekali, tapi moralnya cukup baik.

Hanya saja ada masalah-masalah lain yang mendasar yang


berkaitan dengan penghayatan keagamaan remaja. Masalah-masalah
itu antara lain sebagai berikut:

a. Kebimbangan

Kebanyakan remaja akan mengalami kebimbangan dalam


memahami agamanya. Kebimbangan itu disebabkan kontradiksi atas
kenyataan yang dilihatnya dengan apa yang diyakininya atau dengan
pegetahuan yang dimilikinya. Pertentangan itu antara lain; ajaran
agama dengan ilmu pengetahuan; antara nilai-nilai moral dengan
kelakuan manusia dalam kenyataan hidup, antara nilai-nilai agama
dengan tindakan para tokoh agama; guru, pimpinan, orang tua dsb, hal-
hal itulah yang menyebabkan terjadinya konflik agama dalam dirinya.

Kepercayaan remaja akan hari kiamat, hari pembalasan, dimana


setiap orang akan menerima ganjaran atau siksaan sesuai dengan
perbuatannya di dunia, akan menyebabkan ragu pula akan keadilan
tuhan, apabila ia melihat adanya (banyak) orang yang terpaksa dalam
perbuatannya. Sebagai contoh seorang Gadis yang berumur 18 tahun
sebagai berikut :

16
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
“kalaupun saya akan dihukum oleh tuhan karena durhaka kepada
orang tua, apa boleh buat; tapi saya akan protes kepada-Nya, karena
saya durhaka bukan karena keinginan saya, tapi karena perlakuan
merekalah yang menyebabkan saya duraka, mereka kejam, kasar dan
sering menyakiti saya.”

Gadis yang merasa sakit hati dan tidak senang hati atas perlakuan
orang tuanya yang tidak bijaksana, merasa Tuhan tidak adil, apabila
kedurhakaannya kepada orang tuanya itu akan menyebabkannya
dihukum di akhirat nanti.

b. Tidak Percaya (cenderung pada atheis)

Hal ini dapat terjadi apabila seorang anak merasa tertekan oleh
kekuasaan atau kezaliman orang tua, maka ia telah memendam sesuatu
tantangan terhadap kekuasaan orang tua, selanjutnya terhadap
kekuasaan apapun termasuk kekuasaan Tuhan. Atau apabila remaja
telah mengetahui sedikit tentang bermacam-macam ilmu pengetahuan,
dirinya menyangka telah hebat dan mendalam ilmunya. Ilmu tersebut
kemudian digunakan untuk berdebat dan berdiskusi seolah-olah mereka
telah mengetahui dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakanya.
Filsafat dan tokoh-tokoh dpat menguasai jiwanya, sebagai pengganti
kitab suci.

c. Perasaan Agama Yang Kembar (Ambivalen)

Keyakinan akan sifat tuhan yang banyak itu berubah-ubah sesuai


dengan kondisi emosinya, dan ia mengalami keyakinan yang maju
mundur. Kadang terasa sekali olehnya keyakinan kepada tuhan, terasa
dekat, seolah-olah dia berdialog langsung keoada tuhan. Tapi terkadang
ia merasa jauh, tidak dapat memusatkan pikiran waktu berdoa atau
sembahyang. Kondisi keimanan yang yang kembar (maju-mundur) itu
adalah satu ciri khas remaja, yang sedang mengalami kegoncangan
emosi.

17
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
d. Dekadensi Moral

Masalah yang banyak menghantui remaja dalam masa


perkembangannya adalah prilaku menyimpang seperti kenakalan
remaja, seks bebas, narkotika atau bahkan tindakan yang dapat
mencelakai dirinya sendiri. Dalam beberapa kasus bunuh diri, pelakunya
adalah remaja dengan latar belakang yang tidak jauh berbeda,
misalnya: himpitan ekonomi, atau depresi akibat masalah percintaan.

4. Implikasi Perkembangan Penghayatan Keagamaan Remaja


Terhadap Dunia Pendidikan.

Pada fase usia remaja ini mulai terjadi berbagai macam masalah
yang cukup menggoyahkan rasa agamanya yang telah didapatkanya
sejak anak-anak. Semakin bertambah usia, maka semakin banyak
tantangan yang harus dihadapi. Berinteraksi dengan dunia luar
merupakan jalan mudah untuk masuknya pengaruh negatif yang dapat
menguragi rasa agamanya.

Dengan adanya problem tersebut, maka perlu tindakan yang


bijaksana dan intensif agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan antara lain adalah:

a. Dirutinkannya kegiatan keagamaan di masjid-masjid yang mana


melibatkan remaja-remaja untuk ikut berpartisipasi didalamnya.
Di antaranya adalah dengan melibatkan mereka dalam
organisasi-organisasi keislaman yang dapat mewadahi serta
menyalurkan minat dan bakat mereka.
b. Adanya acara siraman rohani atau pengajian di jam sekolah-
sekolah. Seperti diadakannya mentoring bekerjasama dengan
pihak-pihak yang lain atau dilakukan oleh para senior di antara
mereka kepada para juniornya
c. Mengarahkan mereka untuk mengidolakan tokoh-tokoh yang
dapat memberikan pengaruh positif kepada perkembangan
mental mereka

18
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
d. Nasehat serta peringatan dari orang tua yang terus ditegakkan.
Dan atas dasar saling mempercayai, tidak otoriter dan saling
menghargai

D. KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan


moral dan penghayatan keagamaan pada remaja memiliki hubungan
timbal balik. Bila penghayatan keagamaannya baik maka prilaku
moralnya pun akan baik.

Baik perkembangan moral maupun penghayatan keagamaan


merupakan bagian dari perkembangan kognitif, oleh karena itu semakin
matang perkembangan kognitifnya semakin matang pula perkembangan
moral dan penghayatan keagamaannya. Tetapi dalam perjalanannya
remaja akan dipengaruhi faktor-faktor yang berpengaruh positif maupun
negatif terhadap perkembangannya. Oleh karena itu kita harus
senatiasa mengawasi, membimbing dan mengarahkan mereka agar
mereka tidak terjerumus terhadap hal-hal yang negatif. Memberikan
norma agama dan pendidikan agama sesuai dengan porsi mereka
masing-masing, akan memberikan ruang untuk tumbuh kembang anak
dan remaja dalam memaknai rasa agamanya. Oleh karena itu
pendidikan agama haruslah selalu diberikan pada mereka seiring
dengan tingkat pemahaman dan kebutuhan mereka.

Kita sebagai pendidik dan orang tua, atau calon pendidik dan
calon orang tua harus memahami mereka sebagi manusia yang berada
dalam masa transisi, dengan memberikan mereka bimbingan yang lebih
intensif serta membantu mereka untuk menemukan jati dirinya sendiri
dengan memproyeksikan dirinya sesuai dengan figur yang ideal.

19
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja
SUMBER :

Desmita, 2008, Psikologi Perkembangan, PT. Remaja Rosdakarya, ,


Bandung

Makmun, , Abin Syamsudin, 2008 Prof.Dr.MA.H. Psikologi kependidikan,


perangkat sistem pengajaran modul. PT. Remaja Rosdakarya, , Bandung

Syah, Muhibbin, 2008 M.Ed. Psikologi perkembangan, dengan


pendekatan baru, PT. Remaja Rosdakarya, , Bandung

Hamalik Oemar, 1995. Psikologi Remaja (dimensi-dimensi perkembangan), Bandung:


Maju Mundur

Samsu, Yusuf, Mpd. Psikologi perkembangan Anak dan Remaja, PT. Remaja
Rosdakarya, , Bandung

www.scribd,com

20
Perkembangan Moral dan Pengahayatan Keagamaan Pada Remaja