Anda di halaman 1dari 18

Ileus Obstruktif

Meidalena Anggresia Bahen


102010056
E5

10 Mei 2012

Ileus Obstruktif
Meidalena Anggresia Bahen*

Pendahuluan
Abdomen akut ialah kondisi dimana gejala utamanya nyeri di perut, terjadi secara tibatiba dan untuk penanggulangannya tindakan pembedahan dilakukan. Penatalaksanan pasien
dengan nyeri abdomen akut bukanlah hal yang mudah, merupakan tantangan bagi seorang dokter
untuk dapat menegakkan diagnosis penyebab abdomen akut. Keputusan untuk tindakan
pembedahan harus segera ditegakkan karena setiap keterlambatan yang terjadi dapat
menimbulkan penyulit yang berakibat meningginya angka morbiditas dan mortalitas.
Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung kepada kemampuan menentukan
analisis yang baik dari data anamnesis, pemeriksaan penunjang yang diperoleh. Pengetahuan
mengenai anatomi dan fisiologi abdomen beserta isinya sangat menentukan dalam
menyingkirkan satu demi satu dari sekian banyak kemungkinan yang menjadi penyebab nyeri
perut akut.
Keluhan yang menonjol dari pasien abdomen akut ialah nyeri perut. Rasa nyeri perut
dapat disebabkan oleh kelainan-kelainan di abdomen atau di luar abdomen seperti oragan-organ
di rongga toraks. Diagnosis banding nyeri perut akut banyak sekali seperti kolesistisis akut,
pancreatitis akut, apendisitis akut, dan lain-lain. Dibedakan dua jenis nyeri pada perut yaitu nyeri
visceral dan dan nyeri somatic. Nyeri visceral terjadi karena rangsangan pada peritoneum yang
meliputi organ intraperitoneal yang dipersarafi oleh susunan saraf pusat otonom, sedangkan nyeri
somatic terjadi karena rangsangan pada peritoneum parietale yang dipersarafi oleh saraf tepi
diteruskan ke susunan saraf pusat.1

*Alamat korespondensi :
Meidalena Anggresia Bahen, Mahasiswa semester 3 Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana Jl.Arjuna Utara No 6, Jakarta Barat 11510
Email : meidalenaanggresia@yahoo.co.id

Anamnesis
Anamnesis yaitu tahap awal dari rangkaian pemeriksaan pemeriksaan pasien, secara
langsung pada pasien atau secara tidak langsung melalui kelurga atau relasi terdekat. Tujuan
anamnesis adalah untuk mendapatkan informasi menyeluruh dari dari pasien yang
bersangkutan.2
Hal- hal yang bersangkutan dengan anamnesis yaitu
1. Identitas pasien seperti nama,tempat/ tanggal lahir, status perkawinan, pekerjaan, jenis
kelamin, suku bangsa, agama, pendidikan dan alamat tempat tinggal.
2. Pernyataan dalam bahasa pasien tentang permasalahan yang sedang dihadapinya.
3. Riwayat penyakit sekarang (RPS): jelaskan penyakitnya berdasarkan kualitas,
kuantitas, latar belakang, waktu termasuk kapan penyakitnya dirasakan, faktor-faktor
apa yang membuat penyakitnya membaik, memburuk, tetap, apakah keluhan konstan,
intermitten. Informasi harus dalam susunan yang kronologis, termasuk test diagnostik
yang dilakukan sebelum kunjungan pasien. Riwayat penyakit dan pemeriksaan apakah
ada demam, nyeri perut, pusing, muntah, mual.
4. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD): Pernahkah pasien mengalami malaria sebelumnya.
5. Riwayat Keluarga: umur, status anggota keluarga (hidup, mati) dan masalah kesehatan
pada anggota keluarga.
6. Riwayat psychosocial (sosial): stressor (lingkungan kerja atau sekolah, tempat
tinggal), faktor resiko gaya hidup (makan makanan sembarangan).2

Pada anamnesis ileus obstruktif usus halus biasanya sering dapat ditemukan
penyebabnya, misalnya berupa adhesi dalam perut karena pernah dioperasi sebelumnya atau
terdapat hernia (Sjamsuhudajat & Jong, 2004). Pada ileus obstruktif usus halus kolik dirasakan di
sekitar umbilkus, sedangkan pada ileus obstruktif usus besar kolik dirasakan di sekitar
suprapubik. Muntah pada ileus obstruktif usus halus berwarna kehijaun dan pada ileus obstruktif
usus besar onset muntah lama.3

Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi, yang mencakup kehilangan
turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. Pada abdomen harus dilihat adanya
distensi, parut abdomen, hernia dan massa abdomen. Inspeksi pada penderita yang
kurus/sedang juga dapat ditemukan darm contour (gambaran kontur usus) maupun
darm steifung (gambaran gerakan usus), biasanya nampak jelas pada saat penderita
mendapat serangan kolik yang disertai mual dan muntah dan juga pada ileus obstruksi
yang berat. Penderita tampak gelisah dan menggeliat sewaktu serangan kolik.

Gambar 1. Gerakan Peristaltik Usus (Sumber : Faradilla, 2009)


b. Palpasi dan perkusi
Pada palpasi didapatkan distensi abdomen dan perkusi tympani yang menandakan
adanya obstruksi. Palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun
atau nyeri tekan, yang mencakup defance musculair involunter atau rebound dan
pembengkakan atau massa yang abnormal.
c. Auskultasi
Pada ileus obstruktif pada auskultasi terdengar kehadiran episodik gemerincing logam
bernada tinggi dan gelora (rush) diantara masa tenang. Tetapi setelah beberapa hari
4

dalam perjalanan penyakit dan usus di atas telah berdilatasi, maka aktivitas peristaltik
(sehingga juga bising usus) bisa tidak ada atau menurun parah. Tidak adanya nyeri
usus bisa juga ditemukan dalam ileus paralitikus atau ileus obstruktif strangulata.
Bagian akhir yang diharuskan dari pemeriksaan adalah pemeriksaan rectum dan
pelvis. Pada pemeriksaan colok dubur akan didapatkan tonus sfingter ani biasanya cukup
namun ampula recti sering ditemukan kolaps terutama apabila telah terjadi perforasi
akibat obstruksi. Mukosa rectum dapat ditemukan licin dan apabila penyebab obstruksi
merupakan massa atau tumor pada bagian anorectum maka akan teraba benjolan yang
harus kita nilai ukuran, jumlah, permukaan, konsistensi, serta jaraknya dari anus dan
perkiraan diameter lumen yang dapat dilewati oleh jari. Nyeri tekan dapat ditemukan
pada lokal maupun general misalnya pada keadaan peritonitis. Kita juga menilai ada
tidaknya feses di dalam kubah rektum. Pada ileus obstruktif usus feses tidak teraba pada
colok dubur dan tidak dapat ditemukan pada sarung tangan. Pada sarung tangan dapat
ditemukan darah apabila penyebab ileus obstruktif adalah lesi intrinsik di dalam usus.3
Diagnosis harus terfokus pada membedakan antara obtruksi mekanik dengan
ileus; menentukan etiologi dari obstruksi; membedakan antara obstruksi parsial atau
komplit dan membedakan obstruksi sederhana dengan strangulasi. Hal penting yang
harus diketahui saat anamnesis adalah riwayat operasi abdomen (curiga akan adanya
adhesi) dan adanya kelainan abdomen lainnya (karsinoma intraabdomen atau sindroma
iritasi usus) yang dapat membantu kita menentukan etiologi terjadinya obstruksi.
Pemeriksaan yang teliti untuk hernia harus dilakukan. Feses juga harus diperiksa untuk
melihat adanya darah atau tidak, kehadiran darah menuntun kita ke arah strangulasi.

Pemeriksaan penunjang
Tes laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam menegakkan diagnosis, tetapi
sangat membantu memberikan penilaian berat ringannya dan membantu dalam resusitasi. Pada
tahap awal, ditemukan hasil laboratorium yang normal. Selanjutnya ditemukan adanya
hemokonsentrasi, leukositosis dan nilai elektrolit yang abnormal. Peningkatan serum amilase
sering didapatkan.Leukositosis menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi, tetapi hanya
5

terjadi pada 38% - 50% obstruksi strangulasi dibandingkan 27% - 44% pada obstruksi non
strangulata. Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada dehidrasi. Selain itu dapat ditemukan
adanya gangguan elektrolit. Analisa gas darah mungkin terganggu, dengan alkalosis metabolik
bila muntah berat, dan metabolik asidosis bila ada tanda - tanda shock, dehidrasi dan ketosis
Pemeriksaan penunjang yang dapat kita lakukan antara lain :
1. pemeriksaan laboratorium darah rutin : Hb dan PCV meningkat akibat dehidrasi, leukosit normal
atau sedikit meningkat,
2. Pemerikaan status elektrolit : kadar ureum meningkat, sedangkan kadar ion Na dan Cl berkurang.
3. Pemeriksaan radiologi :
-

Foto polos abdomen tiga posisi

Pemeriksaan dengan kontras barium

Colon inloop

CT scan dan MRI. 4,5

Gejala klinis
1. Subyektif
Pasien datang dengan keluhan perut kembung, muntah, tidak bias flatus dan buang
air besar. Adanya riwayatt laparotomi sebelumnya dapat menjadi penyebab sumbatan
karena adhesi pasca laparotomi. Riwayat gangguan pola defekasi, buangair besar darah /
lender, berat badan yang menurun atau anemia dipikrkan kemungkinan sumbatan oleh
neoplasma. Riwayat pemakaian obat-obatan atau penyakit ginjal kronis

2. Obyektif
Abdomen membuncit, adanya gambaran usus atau gerakan peristaltic pada dinding
usus. Bising usus yang meninggi sampai metallic sound atau bising usus yang negative.
Pada pemeriksaan rectal / colok dubur dijumpai ampula rekti kolaps pada obstruksi
rendah atau ampula rekti yang kembung karena paralisis. Pada wanita tua jangan lupa
untuk memeriksa daerah inguinal karena sering obstruksi usus akibat hernia femoralis
inkarserata.1

Diagnosis kerja
Diagnosis obstruksi usus tidak sulit; salah satu yang hamper selalu harus ditegakkan atas

dasar klinik dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Kepercayaan atas pemeriksaan radiologi
dan pemeriksaan laboratorium harus dilihat sebagai konfirmasi dan bukan menunda mulainya
terapi yang segera.6

Diagnosis banding
1. Apendisitis akut
Keadaan ini merupakan penyebab nyeri abdomen akut yang paling sering. Deskripsi
buku ajar klasik adalah nyeri abdomen sentral, sering dengan gambaran seperti kolik, yang
berpindah setelah beberapa jam ke fossa iliaca dextra. Dapat disertai mual, muntah dan
peningkatan suhu ringan. Awalnya, terdapat nyeri tekan lokalisata dengan detens muscular di
kuadran kanan bawah. Bila peritoneum parietal di atasnya meradang, nyeri tekan dan nyeri
lepas dan detens muscular dapat dihasilkan. Sayangnya, kurang dari separuh pasien datang
dengan gejala khas ini. Sering nyeri di sisi kanan.
Bergantung pada posisi apendiks, tanda dapat paling jelas pada pemeriksaan rectal
(apendiks pelvis) atau di pinggang (apendiks retrosekal). Keterlambatan diagnosis dapat
menjadi akibatnya, dan pada kasus apendisitis obstruktif yang lumennya tersumbat oleh
fekolit, dapat terjadi perforasi bersamaan dengan peninggian tekanan intraluminal yang
menyebabkan gangren dinding apendiks. Inii akan menyebabkan pembentukan abses local,
dengan cirri massa yang nyeri tekan dan dapat diraba, atau peritonitis generalisata dengan
nyeri abdomen, kekakuan dan distensi, dan hilangnya bising usus.7

Gambar 2 & 3 : Apendisitis akut (Sumber : www.google.co.id)

2. Kolelitiasis
Kolelitiasis atau batu empedu merupakan gabungan dari beberapa unsur yang membentuk
suatu material yang menyerupai batu yang dapat ditemukan dalam kandung empedu
(kolesistolitiasis) atau di dalam saluran empedu (koledokolitiasis) atau pada kedua-duanya.8
Gejala utama pada kolelitiasis tanpa komplikasi adalah kolik bilier, yang disebabkan oleh
obstruksi collum kandung empedu akibat adanya batu. Terjadi nyeri hebat dan episodik yang
terletak di epigastrium atau kuadran kanan atas. Nyeri sering dirasakan pada saat makan atau
pada waktu malam. Pasien biasanya mengeluh nyerinya menjalar sampai ke punggung yang
disertai nausea dan vomiting. Apabila terjadi komplikasi kolesistitis akut, tanda awalnya
adalah kolik bilier dan terdapat nyeri kolik yang persisten pada kabdomen kuadran kanan
atas. Kadar bilirubin meningkat sampai 4 mg per desiliter pada kolelitiasis tanpa komplikasi.
Sedangkan Frank Jaundice biasanya tidak dijumpai kecuali pada keadaan terjadinya Mirizzis
syndrome (obstruksi kandung empedu akibat penekanan eksternal oleh batu dalam
gallbladder atau duktus sistikus), concomitant koledokolitiasis dan komplikasi lain sperti
perforasi gallbladder.

Gambar 4 & 5 : Kolelitiasis ( Sumber : www.google.co.id)

3. Pankreatitis akut
Keadaan ini ditandai dengan nyeri abdomen atas yang berat yang dapat menjalar ke
punggung, meskipun kehilangan cairan dapat disebabkan oleh muntah, kehilangan cairan
internal yang banyak dari pancreas yang meradang akut, dan kadang-kdang hemoragik dapat

terjadi. Selain itu terjadi pelepasan peptide vasoaktif ke dalam sirkulasi. Keadaan syok yang
berat dapat terjadi.
Pada pemeriksaan, abdomen tidak sekaku bdan senyeri tekan seperti pada peritonitis
akibat ulkus yang mengalami perforasi yang merupakan diagnosis banding utama. Perubahan
warna kebiruan di sekirtar umbilicus atau pinggang yang disebabkan oelh perdarahan
retroperitoneal jarang terjadi. Kebanyakan kasus yang teridentifikasi di Inggris disebabkan
oleh batu empedu dengan alcohol sebagai penyebab yang paling sering kedua; 20% kasus
tetap idiopatik.
Peningkatan amilase serum merupakan uji diagnostic terbaik yang tersedia, tetapi
mempunyai keterbatasan karena peningkatan juga ditemukan pada banyak penyebab lain
nyeri abdomen akut yang dibahas di atas. Peningkatan dapat bersifat transien tetapi nilai di
atas 1000 unit sangat mendukung pancreatitis akut bila batas atas normal adalah 280 unit. 7

Gambar 6 : Pankreatitis dalam pemeriksaan CT-scan


(Sumber: www.google.co.id)

4. Peritonitis
Keadaan ini merupakan komplikasi infeksi akut seperti apendisitis akut, divertikulitis
atau aborsi septic. Keadaan ini jarang menjadi gejala pertama pada situasi apapun. Penyebab
penting dan umum adalah perforasi ulkus peptikum. Sering, terdapat riwayat nyeri
epigastrum setelah makan, yang menunjukkan pasien menderita ulkus gaster. Mungkin juga,
terdapat nyeri lapar, nyeri di antara waktu makan, dan nyeri yang membangunkan pasien
saat tubuh, yang menunjukkan ulkus duodenal. Namun, dengan makin meningkatnya
penggunaan obat-obatan anti inflamasi non steroid (NSAID) untuk atritis, pasien dapat
9

mengalami perdarahan atau perforasi ulkus tanpa didahului gejala apapun yang menunjukkan
terjadinya gangguan ini. Onset mendadak nyeri abdomen atas yang parah disertai kekakuan
dinding abdomen seperti papan yang hebat dan keengganan pasien untuk melakukan gerakan.
Muntah dapat terjadi dan menyebabkan pasien dirujuk ke rumah sakit akibat hematemesis.
Meskipun nyeri dapat mendahului pendarahan , namun umumnya nyeri jarang menetap dan
jika menetap, meningkatkan kemungkinan keadaan bahaya, tetapi ungtukngnya jarang, yaitu
kombinasi perdarahan dan perforasi. Setelah nyeri awal dan syok beberapa pasien dapat
tampak membaik selama lebih dari beberapa jam kemudian, meskipun tanda rigiditas
abdomen, takipnea dan takikardia dapat menetap. Perotonitis generalisata biasanya akan
terjadi setelah sekitar 5 tahun. Meskipun mengalami muntah sedikit pasien akan mengalami
dehidrasi dan hemokonsentrasi akibat keluarnya cairan dalam jumlah besar ke dalam ruang
peritoneal. Syok dan hipotensi yang terjadi dapat menyebabkan pasien dirawat dengan bagian
tempat tidur ayng menjadi tumpuan kaki pasien ditinggikan, yang selanjutnya akan
menyebabkan iritasi diafragma oleh eksudat radang yang mengalir ke atas. Tanda-tanda
keadaan ini adalah nyeri di ujung bahu dan sering cegukan. Foto polos abdomen pada posisi
tegak (untuk memperlihatkan udara di bawag diafragma) merupakan pemeriksaan yang
krusial.7

Gambar 7 . Peritonitis akut (Sumber : www.google.co.id)

5. Uretrolitiasis dextra
Ureterolitiasis adalah kalkulus atau batu di dalam ureter. Batu ureter pada umumnya
adalah batu yang terbentuk di dalam sistem kalik ginjal, yang turun ke ureter. Terdapat tiga
penyempitan sepanjang ureter yang biasanya menjadi tempat berhentinya batu yang turun
10

dari kalik yaitu ureteropelvic junction (UPJ), persilangan ureter dengan vasa iliaka, dan
muara ureter di dinding buli.Batu ureter mungkin dapat lewat sampai ke kandung kemih dan
kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter juga bisa sampai ke kandung kemih, kemudian
berupa nidus menjadi batu kandung kemih yang besar. Batu juga bisa tetap tinggal di ureter
sambil menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang mungkin
asimtomatik. Tidak jarang terjadi hematuria yang didahului oleh serangan kolik.
Komposisi batu ureter sama dengan komposisi batu saluran kencing pada umumnya yaitu
sebagian besar terdiri dari garam kalsium, seperti kalsium oksalat monohidrat dan kalsium
oksalat dihidrat. Sedang sebagian kecil terdiri dari batu asam urat, batu struvit dan batu
sistin.Gerakan peristaltik ureter mencoba mendorong batu ke distal, sehingga menimbulkan
kontraksi yang kuat dan dirasakan sebagai nyeri hebat (kolik). Nyeri ini dapat menjalar
hingga ke perut bagian depan, perut sebelah bawah, daerah inguinal, dan sampai ke
kemaluan. Kadang-kadang nyeri terus-menerus karena peregangan kapsul ginjal. Biasanya
nyeri dimulai didaerah pinggang kemudian menjalar ke arah testis disertai mual dan muntah,
berkeringat dingin, pucat dan dapat terjadi renjatan. Batu yang terletak di sebelah distal
ureter dirasakan oleh pasien sebagai nyeri pada saat kencing atau sering kencing. Batu yang
ukurannya kecil (<5 mm) pada umumnya dapat keluar spontan sedangkan yang lebih besar
seringkali tetap berada di ureter dan menyebabkan reaksi peradangan (periureteritis) serta
menimbulkan obstruksi kronik berupa hidroureter/hidronefrosis. Terkadang disertai
hematuria.9

6. Ileus paralitik
Ileus paralitik adalah keadaan abdomen akut berupa kembung / distensi usus karena usus
tidak dapat bergerak (mengalami dismotilitas), pasien tidak dapat buang air besar. Gejala
klinis dari ileus paralitik ini adalah perut kembung (distensi), bising usus menurun dan
menghilang, muntah yang kemudian disertai dengan diare, tidak bisa buang air besar, dapat
disertai demam, keadaan umum pasien sakit ringan sampai berat , bisa disertai dengan
penurunan kesadaran, syok. Dan pada colok dubur : rectum tidak kolaps, tidak ada kontraksi.
Adanya penyakit yang meningkatkan risiko : batu empedu, trauma, tindakan bedah abdomen,
DM, hipokalemia, obat spasmolitik, pakreatitis akut, pneumonia, dan semua jenis infeksi
11

tubuh. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien sakit ringan sampai berat,
bisa disertai penurunan kesadaran, demam, tanda dehidrasi, syok. Pada pemeriksaan foto
polos abdomen didapatkan distensi, bising usus yang menurun sampai hilang.10

Gambar 8 : Pemeriksaan radiologi ileus paralitik


(Sumber : www.google.co.id)

Etiologi
Obstruksi usus mekanik dapat dibagi ke tiga kategori etiologi. Dalam urutan kemunculan,
ia mencakup (1) lesi ekstrinsik (2) lesi instrinsik, (3) obstruksi menutup.

Lesi ekstrinsik
Di antara lesi ekstrinsik, terlazim perlekatan. Ia mencakup yang bersifat kongenital dalam
pasien anak ( dan jarang dalam pasien lebih tua) serta yang menyertai malrotasi (pita Ladd) dan
kelompok perlekatan akuisita yang jauh lebih besar yang berkembang setelah operasi abdomen.
Pita demikian mengkonstriksikan usus atau meangulasinya, yang menghasilkan suatu obstruksi.
Kategori kedua yang terbesar dalam kelompok ini merupakan hernia, yang mencakup inguinalis,
femoralis, umbicalis, ventralis, insisional, atau interna (melalui cacat mesenterium atau
diaphragma). Massa ekstaintestinalis mencakup abses, pseudokista, neoplasma dan hematoma
bias menekan dan menyumbat usus. Volvulus usus juga dicakup dalam kelompok ini sebagai
sebab tambahan dan ditimbulkan oleh puntiran dalam mesenterium segmen usus.

12

Lesi intrinsik
Lesi intrinsik di dalam dinding usus bisa menyebabkan obstruksi mekanik serta sebab
kongenital mencakup atresia, duplikasi usus dan stenosi. Pada orang dewasa, striktura dinding
usus bisa disebabkan oleh keterlibatan neoplastik, penyakit usus peradangan, endometriosis atau
peradangan sekunder terhadap radiasi, divertikulitis atau menelan kalium.

Obstruksi menutup
Pada anak intususepsi (biasanya ileum terminalis) maupun sumbat mekonium tidak
jarang terjadi. Pada orang dewasa, tumor polipoid (kanker dan karsinoid) serta batu empedu yang
menyumbat di dalam ileum terminalis juga merupakan penyebab. Sumbatan sekunder terhadap
feses, barium, atau bezoar juga tidak jarang terjadi. Sebab utama obstruksi usus tetap konstan
dalam banyak dasawarsa, walaupun frekuensinya telah berubah. Pda awal abad ini, hernia
bertanggung jawab bagi sekitar 40 persen dari semua obstruksi, perlekatan paascabedah 10
sampai 15 persen dan neoplasma ganas sedikit lebih rendah. Walaupun tetap dalam ketiga,
namun posisi relatif serta persentase hernia dan perlekatan telah berubah. Ia karena praktek
perbaikan rutin hernia saat ini atas diagnosis maupun peningkatan tindakan operasi
intraabdomen.
Ileus terlihat menyertai beberapa keadaan patologi, dengan yang terlazim dalam masa
pascabedah. Motilitas usus tidak kembali normal selama beberapa hari setelah operasi abdomen.
Ia mungkin karena peningkatan tonus simpatis inhibisi terhadap usus. Distensi usus merupakan
sebab utama lain ileus dan mungkin mengikuti refleks intestino-intestinalis yang telah diuraikan
sebelumnya. Distensi struktur berdekatan (seperti ureter) bisa juga disertai engan ileus. Di
samping itu, trauma, fraktura vertebra, perdarahan retroperitoneum, hipokalemia dan insufisiensi
vaskular juga disertai dengan ileus. Peritonitis akibat sebab apapun selalu menyebabkan keadaan
ileus usus dan penelitian percobaan telah membuktikan ia dengan etiologi humoral ketimbang
tergantung atas etiologi saraf.
Pseudo-obstruksi usus idiopatik suatu kelainan menahun yang etiologinya tidak
diketahui. Tanda dan gejala obstruksi usus tanpa pembuktian obstruksi fisik dalam traktus
gastrointestinal. Berbeda pendapat tentang apakah ada kelainan dalam otot usus atau dalam
13

pleksus saraf dinding usus. Pertanyaan hereditas sebagai faktor predisposisi telah juga
dipertimbangkan. Pada yang terkena, BER normal di dalam duodenum dan colon. Tetapi respon
kontraktil otot usus halus terhadap distensi tak ada. Pengenalan kelainan ini diharuskan karena
terapi menghilangkan operasi. Bila ada kelainan ini, maka intubasi lama dengan replesi intravena
merupakan terapi terpilih.6

Gambar 9. Etiologi ileus obstruktif (Sumber : www.google.co.id)

Patofisiologi
Obstruksi intestinal berawal dari suatu obstruksi sederhana yang menutup lumen usus,
dengan demikian cairan dengan chime akan menumpuk di proksimal tempat yang mengalami
obstruksi. Hal ini terjadi Karena adanya gangguan absorbs cairan dan elektrolit serta seksresi
intestinal yang berlebihan, sehingga akan menyebabkan tumpukan cairan di tempat tersebut.
Terhentinya substansi intestinal menyebabkan pertumbuhan bakteri yang berlebihan yang
ditandai dengan peningkatan aktivitas bakteri anaerob dalam proses fermentasi dan produksi gas.
14

Pelebaran lumen usus akibat dari akumulasi cairan dan gas akan merangsang inflamasi local dan
reflex-refleks neuroendokrin yang dimulai dengan peningkatan aktivitas enteric propulsive.
Gerakan usus berkurang akibat adanya kelelahan otot-otot intestinal secara bertahap. Pelebaran
lumen usus secara bertahap akan mengkompensasi perfusi vascular usus dengan cara
peningkatan tekanan intraluminal dan intramural.Mukosa usus sangat berisiko untuk terjadinya
iskemia apabila perfusi vascular tidak baik dan tingginya aktivitas metabolik. Pada closed-loop
obstruction, yakni segmen usus mengalami oklusi di 2 tempat, sebagai contoh adalah hernia
incarcerata, akan terjadi kompresi pada kedua ujung akibat dari pembentukan loop usus. Pada
daerah proksimal usus yang mengalami strangulasi akan mengalami distensi usus , dinding usus
radang, bengkak, berwarna merah, hingga terjadi gangren usus (berwarna biru kehitaman) dalam
jangka waktu minimal 6 jam, akibat adanya iskemia (karena oklusi) dan infark intestinal pada
daerah strangulasi.4

Gambar 10. Patofisiologi obstruksi usus (www.google.co.id)

15

Penatalaksanaan
Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan cairan,
menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi peritonitis dan syok bila
ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali
normal
1. Resusitasi
Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda - tanda vital,
dehidrasi dan syok. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami dehidrasi dan
gangguan keseimbangan ektrolit sehingga perlu diberikan cairan intravena seperti ringer
laktat. Respon terhadap terapi dapat dilihat dengan memonitor tanda - tanda vital dan jumlah
urin yang keluar. Selain pemberian cairan intravena, diperlukan juga pemasangan nasogastric
tube (NGT). NGT digunakan untuk mengosongkan lambung, mencegah aspirasi pulmonum
bila muntah dan mengurangi distensi abdomen.

2. Farmakologis
Pemberian obat - obat antibiotik spektrum luas dapat diberikan sebagai profilaksis.
Antiemetik dapat diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah.

3. Operatif
Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastrik untuk mencegah sepsis
sekunder. Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang
disesuaikan dengan hasil eksplorasi selama laparotomi.11

Komplikasi
Komplikasi dari ileus obstruktif adalah terjadinya nekrosis usus, perforasi usus, sepsis,
syok dehidrasi, abses Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi, neumonia
aspirasi dari proses muntah, gangguan elektrolit, bahkan bisa menyebabkan meninggal.

16

Prognosis
Pada obstruksi intestinal ada kemungkinan terjadinya kekambuhan obstruksi dalam
jangka 10 tahun karena adhesi sekitar 15-50%. Dengan adanya perkembangan teknik laparatomi
dan penunjang diagnosis, angka motalitas obstruksi intestinal menurun hingga 5%.4

Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dibahas bahwa hipotesis diterima diam seorang laki-laki
yang berumur 40 tahun mengeluh nyeri pada perut sebelah kanan, mual, muntah, tidak bisa
buang air besar sejak 4 hari yang lalu menderita ileus obstruktif. Ileus adalah gangguan pasase
isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus akut yang segera memerlukan
pertolongan atau tindakan. Ileus Obstruktif adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi
usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik. Sedangkan ileus paralitik adalah hilangnya
peristaltic usus sementara.

Daftar Pustaka
1. Reksoprodjo S, Pusponegoro AD, Kartono D, Hutagalung EU, Sumardi R, Ramli M, dkk.
Kumpulan kuliah ilmu bedah. Jakarta : FKUI; 2010. h. 51-2,
2. Abdurrahman N. Penuntun anamnesis dan pemeriksaan fisis. Ed 3. Jakarta: Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2005
3. Sjamsuhidajat R, Karnadihardja W, Prasetyono TOH, Rudiman R, editor. Buku ajar ilmu
bedah Sjamsuhidajat-de Jong. Jakarta : EGC, 2010; h. 738-46
4. Rani A, Simadibrata M, Syam AF. Buku ajar gastroenterogym. Jakarta : Penerbit Interna
Publishing. 2011. h. 79-92
5. Grace PA, Borley NR. At a glance ilmu bedah. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2007. H: 117

6. Sabiston DC, Oswari J, editor. Buku ajar bedah. Jakarta : EGC; 1995. h. 551-9

17

7. Hartanto H, Nirmala WK, Fatimatuzzuhroh, editor. Tutorial diagnosis banding. Jakarta :


EGC; 2011. h.87-9

8. Schwartz S, Shires G, Spencer F. Prinsip-prinsip Ilmu Bedah (Principles of Surgery .


Edisi 6. Jakarta: EGC; 2000. h.459-64.
9. Handayani

VP.

Kolelitiasis.

Edisi

2012.

Telah

diunduh

dari

http://www.scribd.com/doc/88426389/LP-Kolelitiasis, 11 Mei 2012


10. Rani AA, Soegondo S, Nasir AUZ, Wijaya IP,Nafrialdi, Mansjoer A. Panduan pelayanan
medik perhimpunan dokter spesialis penyakit dalam Indonesia. Jakarta : Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2006. h.311-2
11. Yates K. Bowel obstruction. In: Cameron P, Jelinek G, Kelly AM, Murray L, Brown
AFT, Heyworth T, editors. Textbook of adult emergency medicine. 2nd ed. New York:
Churchill Livingstone;2004. p.306-9.
12. Naude GP. Gastrointestinal failure in the ICU. In: Bongard FS, Sue DY, editors. A lange
medical book Current critical care diagnosis and treatment. 2nd ed. New York :
McGraw-Hill;2003. p. 383-88.

18