Anda di halaman 1dari 31

Culture Bound Syndrome

By: Darundiyo Pandupitoyo, S. Sos. and Friends

Abstraksi

Budaya sebagai seperangkat sistem pengetahuan masyarakat dalam beradaptasi

dengan lingkungannya, terkadang memberikan efek negatif pada para

penganutnya. Konsekuensi hidup dalam suatu kebudayaan yang telah turun

temurun kuat dipegang oleh masyarakatnya, adalah harus menaati setiap tata

aturan dan adat istiadat sebagai cerminan dari budaya masyarakat. Individu atau

kelompok yang mempunyai suatu tujuan dalam hidupnya, tentu akan terus

memperjuangkan sampai tujuan tersebut terwujud. Namun, bila budaya lewat

aturan-aturannya “menyetujuinya”, maka individu tersebut akan melakukan suatu

resistensi. Posisi resistensi dalam hal ini adalah response, dimana stimulusnya

adalah penolakan budaya terhadap cita-citanya. Apabila resistensi tersebut

gagal, atau hanya mengendap dalam pikirannya, maka secara akumulatif

perasaan ketidaksetujuan tersebut akan berubah menjadi Psychopathologic

dissorder atau gangguan pada kejiwaan. Dalam antropologi, kami mencoba

mengklasifikasikan gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh tekanan-tekanan

budaya tersebut dalam golongan “Culture bound syndrome”. Gangguan kejiwaan

ini banyak terjadi pada masyarakat yang kuat dalam memeluk adat istiadatnya,

seperti contohnya di Indonesia. Culture bound syndrome mempunyai beberapa

varian dan nama bergantung pada daerah terjadinya. Dalam jurnal ilmiah ini,

penulis akan membahas masalah culture bound syndrome yang terjadi di

Indonesia, dan sedikit pula menyinggung masalah culture bound syndrome yang

terjadi di luar Indonesia.

1
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Parsudi Suparlan (2005;129) dalam bukunya yang berjudul Suku Bangsa

dan Hubungan Antar Suku Bangsa memberi penjelasan bahwa Kebudayaan

memeberi kita suatu kumpulan pedoman atau pegangan yang kegunaanannya

operasional dalam hal manusia mengadaptasikan diri terhadap lingkungan-

lingkungan tertentu (fisik, sosial dan kebudayaan). Namun, kebudayaan terkadang

juga memberikan tekanan-tekanan tertentu pada para penganutnya.

Kebudayaan bersifat pattern for behaviour1, maka terdapat aturan-aturan

di dalamnya yang mengatur pola perilaku manusia. Karena setiap manusia relatif

berbeda dalam segala hal, aturan-aturan dari budaya itu sendiri tidak selalu dapat

“match” dengan sifat manusia. Menurut Halowell dalam Arianto (2004;11)

Budaya diperkirakan mempengaruhi gangguan psikiatrik melalui tipe–tipe sanksi

dan restriksi pada perilaku yang diterima.

Bila hal tersebut terjadi, maka akan timbul semacam perlawanan dari

dalam diri manusia, perlawanan-perlawanan yang tidak terealisasikan dan

mengalami akumulasi dari waktu ke waktu akan mengganggu keseimbangan

psikologis manusia dan akhirnya terjadi gangguan jiwa.

Hal inilah yang kami pelajari dalam dalam mata kuliah Biologi sosial

maupun antropologi psikiatri. Kami mencoba mencari benang merah antara kasus-

kasus gangguan jiwa yang dialami oleh masyarakat dengan keadaan lingkungan

1
Budaya sebagai pattern for behaviour artinya adalah budaya sebagai pola untuk mengatur
perilaku para penganutnya dalam kehidupan barmasyarakat

2
sosio-kultural. Maslim dalam Arianto (2004) menulis bahwa pemikiran terhadap

budaya sebagai salah satu faktor etiologik2 gangguan jiwa berdasar penemuan

adanya perbedaan distribusi dan praevalensi gangguan jiwa pada masyarakat

dengan budaya yang berbeda.

Klasifikasi WHO tidak menyebut adanya gangguan jiwa yang khusus

terikat pada budaya, sedangkan klasifikasi Indonesia memasukkan gangguan jiwa

yang terikat pada budaya ke dalam kelompok khusus No. 317 ( PPDGI I – 1973 ).

Kelompok diagnostik gangguan jiwa yang berasal dari tekanan-tekanan budaya

lazimnya disebut dengan culture bound syndrome. Penyakit kejiwaan ini sangat

beragam jenisnya dan mempunyai nama yang sangat variatif berdasarkan atas

tempat terjadinya. Contoh dari culture bound syndrome di Indonesia adalah

kesurupan, gemblak, ludruk.

Namun culture bound syndrome di Indonesia diiringi oleh kurangnya

pengetahuan masyarakat di bidang medis. Banyak penderita culture bound

syndrome harus mengalami pengucilan dalam masyarakat dan juga penanganan

yang kurang tepat dari keluarganya. Contoh yang paling tepat adalah masih

adanya keluarga penderita kesurupan dan sejenis amok yang terjadi di desa-desa

pedalaman Jawa Timur yang memasung anggota keluaranya yang menderita

culture bound syndrome seperti yang penulis temukan pada saat penelitian

lapangan di Desa Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.

2
faktor yang menjadi penyebab penyakit

3
I.2 Rumusan Masalah

Bagaimanakah bentuk culture bound syndrome yang ada di dunia

khususnya di Indonesia dan apa sajakah faktor-faktor yang menyebabkan

terjadinya culture bound syndrome tersebut?

I.3 Tujuan Penelitian

mendeskripsikan bentuk culture bound syndrome yang ada di dunia

khususnya di Indonesia dan menjelaskan apa sajakah faktor-faktor yang

menyebabkan terjadinya culture bound syndrome tersebut

I.4 Kerangka Teori

Konsepsi Gangguan Jiwa

Menurut Kiev dalam Arianto (2004), gejala–gejala sekunder gangguan

jiwa seperti isi dan simbol–simbol dari waham–waham dan halusinasi ditentukan

oleh efek–efek patoplastik atau kompensatoir budaya–budaya tertentu. Demikian

pula budaya mempengaruhi corak pertahanan psikologis, kriteria dalam memasuki

peranan sakit dan sikap terhadap gejala–gejala spesifik.

Devereux juga berpendapat, bahwa gejala–gejala primer suatu gangguan

jiwa, seperti : menjadi longgarnya assosiasi fikir, berkabutnya kesadaran, efek

yang bervariasi secara diurnal3 rupa–rupanya tidak dipengaruhi oleh budaya

maupun motivasi individu. Menurut Devereux dan Linton gejala–gejala sekunder

mungkin disesuaikan dengan harapan–harapan budayanya.

3
berulang harian

4
Menurut Linton, dengan menjadi seorang yang gila, individu akan

menerima dan mendapatkan berbagai keuntungan dari peranan sakitnya. Bagi

Devereux, dengan sakit jiwanya, individu bisa menarik perhatian dari

lingkungannya. Peran sosial seperti itu sama dengan apa yang dijelaskan dalam

Foster dan Anderson (1986:176):

“Konvensi-konvensi budaya menekankan bahwa orang sakit harus menerima


perhatian khusus: pertanyaan-pertanyaan yang ramah dan sopan, yang penuh
harapan tentang apa yang dirasakan pasien, makanan khusus, botol pemanas,
bantal yang dirapikan dan punggung yang digosok. Bagi orang-orang yang
kesepian dan tidak yakin akan penerimaan orang lain atas dirinya, yang
merasa tersisih, penyakit merupakan sarana yang menarik untuk
memperoleh perhatian”.
Menurut Devereux dan Kiev, bila gejala–gejala ditolerir, diperkuat,

diijinkan oleh lingkungan, si sakit tidak akan menderita karenanya dan malahan

tidak dianggap “sakit “.

Kompendium4 yang paling baik dari Leighton dan Hughes mengenai

pengaruh budaya terhadap gangguan mental dengan memakai konsep pengertian

budaya menurut Hallowell sebagai realita psikologis dari corak dan emosi yang

dianut bersama (shared), dapat dikemukakan berikut ini.

1. Budaya bisa memberi corak pada gangguan–gangguan.

2. Budaya bisa menciptakan tipe–tipe kepribadian yang khusus rentan

terhadap gangguan–gangguan tertentu.

3. Beberapa budaya diperkirakan menciptakan lebih banyak kasus-kasus

dalam suatu gangguan psikiatrik tertentu karena praktek–praktek

membesarkan anak-anaknya (child rearing).

4
ringkasan

5
4. Budaya diperkirakan mempengaruhi gangguan psikiatrik melalui tipe–tipe

sanksi dan restriksi pada perilaku yagn diterima.

5. Budaya bisa membiarkan “malfunctioning” dengan memberinya peranan–

peranan yang penting (perstigeful). (Devereux, Kroeber dan Kluckkhon).

6. Budaya diperkirakan menciptakan gangguan psikiatrik yang berbeda

dalam tingkatan penduduk melalui peranan–peranan yang mempunyai

daya tekanan (stressful) batin yang tinggi ( Linton ).

7. Budaya bisa diperkirakan menciptakan gangguan psikiatrik melalui

indoktrinasi dari anggota–anggotanya dengan suatu sentimen tertentu

(Leighton).

8. Budaya yang kompleks sendiri, diperkirakan menciptakan gangguan

psikiatrik (Freud: Civilization and its Discontents).

9. Budaya mempengaruhi corak–corak kesopan-santunan peraturan

perkawinan secara selektif (Laubscher mendiskusikan perkawinan antar

kemenakan dan timbulnya skizofrenia).

10. Budaya melalui corak–corak hygine yang salah, bisa menimbulkan

keadaan toksik dan defisiensi nutrisi yang mempengaruhi fungsi mental.

Berbicara mengenai “sindroma–sindroma yang terikat pada budaya “, ada

timbul beberapa gagasan, terutama mengenai “keterikatannya pada budaya”,

antara lain:

1. Gejala–gejala sekunder suatu gangguan jiwa biasanya sangat dpengaruhi oleh

budaya/kepercayaan budaya. Adakah keterikatan dengan budaya penderita

tersebut, selalu ada pada tiap gangguan jiwa?

6
2. Seorang penderita disuatu kota kecil di Jawa Timur buang air kecl dibawah

pohon waringin di alun–alun kota tersebut. Sesudah selesai, kawannya

memberitahu bahwa waringin tersebut sangat keramat, mengapa ia berani

buang air kecil dibawahnya? orang yang buang air kecil tadi jatuh pengsan.

Ini merupakan suatu contoh gangguan yang terikat pada kepercayaan budaya.

3. Sering sekali, terutama sesudah suatu kebakaran dilingkungannya, bisa terjadi

suatu gangguan kolektif. Pada suatu hari ada kebakaran besar di Gang

Amfiun, dekat Asrama Akademi Perawat RSCM. Sesudah padam terjadi

gangguan yang menular dari satu siswa ke siswa lainnya sampai 6 orang

terkena gangguan tersebut. Pada umumnya mereka berhalusinasi visual

melihat orang–orang dengan “lion’s face”. Asrama tersebut bekas klinik lepra

RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, DKI Jakarta) dan pasien–pasien

yang meninggal karena tidak ada keluarga yang mengambil jenasahnya, di

kebumikan di dekat klinik tersebut. Ada yang ditarik rambutnya, yang

badannya disandari badan penderita lepra, yang berteriak–teriak saja, yang

tidak bisa bergerak karena karena dipegang oleh penderita lepra, dan lain–lain

gejala. Sesudah seorang dukun datang dan membakar kemenyan dan

menaburkan kembang guna mengusir roh-roh penderita lepra, maka gejala

semakin mereda dan akhirnya lenyap sama sekali. Siswa–siswa yang

menderita gangguan tersebut tidak ada satupun yang gangguannya menetap.

Ini merupakan suatu contoh dari suatu “histeria kolektif“ yang sangat terikat

pada budaya.

7
1.5 Metode Penulisan

Penulisan didasarkan pada metode telaah pustaka denga memperhatikan

beberapa literatur yang berkaitan dengan fenomena culture bound syndrome yang

ada di masyarakat. Data-data yang didapat dari literatur tersebut diolah dan

dianalisis dengan menggunakan teori –teori dari antropologi psikologi,

antropologi psikiatri maupun teori dari disiplin ilmu lain yang masih memiliki

relasi dengan tema yang ditulis.

8
BAB II
CULTURE BOUND SYNDROME

II.1 Stress budaya: awal terbentuknya culture bound syndrome

Stress budaya dapat dialami individu atau kelompok dalam masyarakat,

saat kebudayaan memberikan tekanan-tekanan baik secara langsung maupun tidak

langsung. Seperti yang telah penulis jelaskan tadi bahwa kebudayaan melalui

aturan-aturan serta sangsi-sangsinya membuat para penganutnya terikat kedalam

dan tidak memungkinkan penganutnya untuk bertindak di luar form baku yang

telah ditetapkan.

Dalam menghadapi stress, individu selain mengerahkan pertahanan

psikologis (psychological defenses), juga mengerahkan pertahanan budayanya

(culture defenses) yaitu dalam bentuk “sistem kepercayaan”, dalam upaya

adaptasinya. Misalnya, terbentuknya organisasi dari suku-budaya tertentu di kota-

kota besar atau timbulnya kelompok aliran agama dan kepercayaan baru,

merupakan cara budaya untuk menolong individu yang mengalami konflik dan

stress.

Adanya kepercayaan dan ritual budaya untuk mengurangi ketegangan

merupakan faktor penting dalam menentukan berapa besarnya stress budaya

tersebut. Jelaslah bahwa berbagai budaya menyokong atau memperkuat berbagai

corak psikopatologik5 dan menyediakan berbagai peranan untuk

mengekspresikannya.

Sumber stress budaya dapat berupa: (1) perubahan budaya yang cepat dan

5
penyakit kejiwaan

9
kehilangan budaya lama, misalnya pada urbanisasi dan modernisasi, dan (2)

kontak dan interaksi antar budaya, misalnya kawin antar suku, agama, ataupun

transmigrasi. Beberapa penemuan dalam studi Etnopsikiatri6 di Indonesia

berkaitan dengan stres budaya dapat dikemukakan sebagai berikut.

a. Gunawan dan Banunaek (1968) melaporkan bahwa pada tahun 1964, sebanyak

10,14% pengunjung poliklinik psikiatri di RSCM Jakarta berasal dari suku

Minangkabau, dengan psikoneurosis 45,48% dan psikosomatik 15,80%.

Berdasarkan kasus ini dapat disimpulkan adanya stres budaya dalam 3 bentuk,

yaitu: (1) pertentangan antara generasi tua (nilai lama) dengan generasi muda

(nilai baru), (2) pertentangan antara agama dan adat dengan pendidikan dan

pandangan modern, dan (3) pertentangan antara adat yang dibawa dengan adat

yang didatangi.

b. Harahap (1969) melakukan penelitian komparatif mengenai kasus Etnopsikiatri

di RSCM Jakarta antara suku Minangkabau dan Batak. Ia melaporkan bahwa

pada suku Batak, kasus kebanyakan adalah laki-laki, sedangkan pada suku

Minangkabau kasus kebanyakan adalah wanita. Menurutnya, hal ini berkaitan

erat dengan peranan laki-laki dalam kebudayaan Batak (patrilineal) dan

peranan wanita dalam kebudayaan Minangkabau (matrilineal), yang merupakan

sumber stress.

c. Atmodirjo dan Salam (1969) mendeskripsikan mengenai kasus psikosis (acute

schizoprenic reaction) pada seorang wanita suku Batak yang berusia 21 tahun,

yang baru menjalani kawin paksa menurut adat Tapanuli dengan seorang anak

6
kajian mengenai gangguan kejiwaan pada suku-suku bangsa

10
laki-laki dari saudara perempuan ayahnya (asymmetric cross cousin marriage

system). Kepatuhan pada adat menimbulkan stres bagi wanita tersebut sampai

pada taraf psikotik. Dengan pendekatan “socio-cultural action” ternyata dapat

menanggulangi kasus tersebut.

d. Sukirno (1973) melaporkan tiga kasus dari keturunan Arab yang mengalami

stres budaya dan memunculkan gangguan jiwa, yaitu dalam bentuk: anxiety-

depressive reaction, psychotic reaction, dan depressive reaction. Keturunan

Arab di Indonesia telah mengalami akulturasi, namun masih kuat memegang

adat-istiadat atau budaya asalnya.

e. Gunawan (1980) telah mengidentifikasi beberapa kasus stress budaya pada

masyarakat Irian Jaya, yang dapat memunculkan berbagai gangguan jiwa,

yaitu: (1) urbanisasi (perubahan pola hidup), (2) perbedaan budaya antara

penduduk pendatang dan asli, (3) suami-istri dengan tingkat pendidikan dan

latar belakang sosio-budaya yang berbeda, (4) konflik antara generasi tua dan

muda, (5) pelanggaran terhadap adat (tabu), dan (6) kepercayaan terhadap ilmu

hitam.

11
BAB III
JENIS-JENIS CULTURE BOUND SYNDROME

III.1 Jenis-jenis culture bound syndrome yang ada di Indonesia

WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa ciri-ciri orang

yang sehat dan kurang sehat jiwa di antaranya selalu diliputi oleh suasana

kekhawatiran dan kegelisahan. Kemudian, ia mudah marah karena hal-hal yang

sepele dan menyerang orang lain karena kemarahannya. Permusuhan, kebencian,

sukar memaafkan orang lain merupakan suatu penyakit kejiwaan. Begitupun

ketika tidak mampu menghadapi kenyataan hidup, tidak realistik, karenanya ia

sering lari dari kenyataan dengan cara selalu menyalahkan orang lain (proyeksi)

walaupun sebenarnya sumber kesalahan adalah dirinya. Tiga faktor utama yang

menjadi pencetus gangguan jiwa, yaitu:

1. genetik (internal),

2. pola asuh dan pola didik yang kurang baik (salah) karena anak

terlalu dimanja dan dikerasi (otoriter/diktator),

3. serta lingkungan sebagai stresor seperti yang dikatakan Hidayat

dalam Arianto (2004) Adanya suatu tekanan (pressure) dari

lingkungan hanya bisa diobservasi dari reaksi patologik dari pihak

individu yang bersifat biologis dan psikologis.

Jelas bahwa stressnya sendiri tidak menentukan (non-spesifik), melainkan

reaksi terhadap stress tersebut merupakan faktor penentu bagi timbulnya gangguan

jiwa seperti yang ijelaskan oleh Maslim (1987). Seperti yang telah saya jelaskan

12
diatas bahwa gangguan jiwa ini dapat berasal dari depresi akibat lingkungan sosio

kultural dimana manusia tersebut tinggal. Sumber dari stress budaya seperti yang

disebutkan Maslim (1987) dapat berupa:

(1) perubahan budaya yang cepat dan kehilangan budaya lama,

misalnya pada urbanisasi dan modernisasi,

(2) Kontak dan interaksi budaya, misalnya kawin antar suku,

agama, ataupun transmigrasi

Relativitas yang ada dalam berbagai budaya memberikan reaksi yang

berbeda pula terhadap berbagai gejala gangguan jiwa. Ada gejala yang ditoleransi,

diperkuat atau disokong, sehingga individu yang memperlihatkan gejala tersebut

tampaknya tidak menderita dan tidak dianggap “sakit”. Sebaliknya, bila gejala-

gejala tersebut dianggap menyimpang dan tidak dapat ditoleransi, individu

pembawa gejala tersebut tampak sangat menderita. Ini berarti, individu-individu

dengan gangguan jiwa yang mirip bisa diberi fungsi dan peranan yang berbeda

dalam berbagai budaya dimana mereka tinggal

Kelompok diagnostik ini lebih dikenal dengan sebutan “culture bound

syndrome”, yaitu suatu “sindroma sakit jiwa yang diakibatkan karena kondisi

lingkungan budaya dimana si penderita tinggal ” dan hanya terbatas pada budaya

tertentu serta diberi nama oleh budaya tersebut. Maslim (1987 dalam Arianto

2004:5-8) pemberian nama gangguan jiwa biasanya sesuai dengan budaya mereka

masing-masing seperti misalnya:

13
1. Kesurupan (umum)

Kesurupan berasal dari bahasa Jawa yang berarti

kemasukan sesuatu hal yang gaib. Kesurupan memang selalu

dikaitkan dengan fenomena gaib, yaitu seseorang yang kerasukan makhluk halus

sehingga manusia yang kerasukan mempunyai kepribadian ganda dan mulai

berbicara sebagai individu lain. Menurut ilmu medis modern, kondisi ini adalah

suatu keadaan perubahan kesadaran yang disertai tanda–tanda yang tergolong

dalam gangguan disosiatif atau kepribadian ganda atau dapat pula merupakan

gejala serangan akut dari gangguan psikotik schizophreniform7.

Sejauh yang penulis jumpai, khususnya di Jawa Timur, masyarakat

selalu menggunakan bantuan para dukun atau kyai dalam mengobati seseorang

yang kesurupan. Dukun atau kyai menggunakan efek-efek sound therapy dengan

membacakan suluk8 dan para kyai biasanya membacakan doa-doa dalam bahasa

arab. Menurut pandangan mereka suluk maupun doa mampu mengusir roh halus

yang masuk dan menguasai raga dari penderita kesurupan. Foster dan Anderson

(1986) menjelaskan mengenai cara pengobatan dukun (Shaman):

“…banyak komunikasi verbal yang berlangsung adalah antara penyembuh dengan


roh-roh dan bila melibatkan pasien secara langsung, komunikasi itu ditujukan
kepadanya dan tidak memerlukan suatu jawaban.. Memang ada kesamaan verbal,
tentunya, terutama yang berhubungan dengan pengakuan, yang merupakan elemen
pokok dari beberapa masyarakat non-barat…”

Suluk ataupun doa yang diucapkan atau dilantunkan dengan intonasi yang baik

dan teratur merupakan sound therapy sehingga dapat menimbulkan ketenangan

7
gangguan kejiwaan seseorang denganciri banyak mendengar suara-suara atau teriakan di dlam
dirinya
8
Suluk adalah mantra yang dilantunkan dalam bentuk tembang mempunyai nada, intonasi
danritme yang teratur

14
tersendiri bagi si penderita. Kalangan bangsa Barat menyebut kesurupan dengan

nama “exorcist”. Beberapa contoh penelitian mengenai kesurupan adalah sebagai

berikut.

a. Prayitno dan Banunaek (1968) melaporkan kasus seorang wanita sekolah

perawat gigi di Jakarta yang mengalami sakit perut, pingsan, dan tidak ingat.

Sesudah sadar, ia tidak ingat kejadian tersebut dan merasa seperti dalam

keadaan tidur. Kejadian ini berulang setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat

Kliwon.

b. Djamaludin (1971) melaporkan mengenai fenomena hasolopan pada suku

Batak di Medan, yang mirip dengan kesurupan. Fenomena semacam ini lebih

sering dialami wanita dari pada pria, kebanyakan anak-anak pubertas, terjadi

pada semua strata sosial, perasaan frustasi dan depresi. Penderita seolah-olah

hidup dalam dua dunia (gaib dan nyata).

c. Manus (1971) melaporkan fenomena kesurupan yang disengaja dilakukan

oleh tonaas dengan tujuan pengobatan. Tonaas adalah orang yang dikaruniai

kemampuan yang dapat berkomunikasi dengan arwah nenek moyang (opo-

opo), yang dianggap mempunyai kekuatan magis-mistik.

Gb1.1 Penyembuhan kesurupan oleh seorang paranormal Gb.1.2 Penyembuhan oleh Kyai

2. Bebainan (Bali)

Bebainan adalah kemasukkan “bebai“, yaitu roh yang dapat menguasai

15
manusia, menyakiti, atau membunuh. Bebai diperoleh dengan pemeliharaan dari

kecil sampai dewasa, kemudian siap dipakai oleh yang memelihara. Yang dapat

mengobati bebainan adalah “balian“ (dukun). Gejalanya adalah perubahan

kesadaran, tingkah laku agitatif yang terjadi mendadak, disertai kebingungan,

halusinasi dan gejolak emosi. Episode ini cepat menghilang dan disertai periode

amnesia9. Contoh penelitian mengenai bebainan ini adalah dari Suryani (1981)

mengenai fenomena bebainan di beberapa desa di Bali. Suryani melaporkan

bahwa lebih sering wanita usia muda atau belum kawin pernah mengalami

bebainan. Hal ini disebabkan oleh pengaruh hari raya Bali dan stress emosional.

3. Cekik (Jawa Tengah)

Cekik adalah suatu histeria konversi dengan kejang–kejang seluruh badan

dan kesadaran menurun, sebelum jatuh kejang selalu menunjukkan seperti orang

tercekik lehernya. Sebagian besar mengalami halusinasi visual menjelang atau saat

serangan. Terjadi di desa Babalan, kecamatan Wedung, kabupaten Demak, Jawa

Tengah, pada setiap tahun dalam bulan puasa menjelang lebaran.

Santoso dan Pranowo menyebutnya sebagai “sindroma tekak“. Contoh

penelitian mengenai cekik ini adalah penelitian Sumitro (1981) di desa Babalan,

dan melaporkan bahwa wanita lebih sering mengalami cekik dari pada pria,

hampir merata pada umur dewasa, tingkat pendidikan dan sosial-ekonomi rendah,

serta berhubungan dengan kepercayaan mistik bahwa roh halus akan mengambil

orang-orang tertentu di desa. Ternyata epidemi ini hilang dengan sendirinya

sesudah bulan Puasa terlewati.

9
kehilangan ingatan

16
Masyarakat lokal Demak manganalisa fenomena cekik sebagai gangguan

dari hantu cekik yang muncul setahun sekali. Analisa tersebut terjadi karena

kurangnya pengetahuan masyarakat akan penyakit-penyakit gangguan kejiwaan

akibat budaya.

4. Koro (Sulawesi Selatan)

Koro adalah sindroma anxietas10 yang mendadak sampai dengan panik

disebabkan oleh adanya waham bahwa alat kelaminnya akan mengkerut masuk

dan menghilang ke dalam tubuhnya sehingga dirinya akan mati, pada umumnya

terjadi pada laki–laki. Orang itu berusaha mencegah dengan cara memegang erat–

erat alat kelaminnya atau mengikat dengan tali, kalau perlu minta bantuan orang

lain memegang alat kelaminnya secara terus menerus. Dalam keadaan koro,

orang–orang jenis kelamin berlawanan dilarang berada di sekitar pasien, oleh

karena dapat menyebabkan kematiannya. Serangan ini pada suatu saat dapat

menghilang sendiri dan pasienpun menjadi tenang kembali.

Contoh beberapa penelitian mengenai koro ini adalah sebasgai berikut.

a. Baasir (1974) melaporkan mengenai penelitiannya di Sulawesi Selatan. Ia

berpendapat perlunya dibedakan antara “koro like symdrome” dengan

gangguan koro yang murni. Koro like syndrome merupakan tambahan gejala

dari gangguan jiwa lain, sedangkan koro murni merupakan culture bound

syndrome yang terikat pada budaya.

b. Tanumiharja (1984) melaporkan penelitiannya di Sulawesi Selatan. Ia

membantah bahwa koro hanya terjadi pada orang keturunan Cina. Koro dalam

10
gajala-gejala kegelisahan

17
budaya Bugis dianggap penyakit syaraf yang tegang, yang disebabkan oleh

kelelahan fisik dan mental (alat kelamin adalah simbol vitalitas).

5. Amok ( Umum)

Amok terjadi pada suatu episode tunggal dimana terdapat kegagalan

menekan impuls atau rangsangan, yang mengakibatkan suatu tindak kekerasan

yang ditujukan ke luar dirinya sehingga mengakibatkan malapetaka bagi orang

lain. Derajat tindak kekerasan yang terjadi sangat hebat bila dibandingkan dengan

stressor psikososial yang mendahuluinya. Setelah episode itu selesai, pasien

tenang kembali dan menyesal. Ia mengalami amnesia tentang sebagian atau

seluruh perbuatannya itu. Maretzki (1981) dalam mengulas masalah budaya dan

psikopatologi di Indonesia mengemukakan bahwa gangguan ini cukup sering

ditemukan dan mempunyai dampak sosial yang serius, gangguannya dapat dibagi

dalam lima fase, yaitu:

1. prodromal state of neurasthenic nature, chronic illness, lost of

sense of sosial order,

2. acute physical and psychological tension,

3. a state of meditation, experience of increasingly threatening

external pressure which causes fright or rage,

4. the sudden explosive amok behaviour which includes attack

and destruction of people, animals, objects and perhaps self,

5.stupor or deep sleep with a depressive after state, with amnesia

for the amok phase.

Ia menghubungkan fenomena amok ini dengan sifat orang Indonesia yang tidak

18
suka mengekspresikan emosinya, sehingga suatu saat menjadi “mata gelap“.

Menurut Arianto (2004) Amok tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan

terjadi juga di Malaysia, Singapore dan negara-negara Melayu lainnya.

6. Latah (Umum)

Latah adalah suatu keadaan yang sering timbul pada wanita setengah tua,

tidak bersuami yang biasanya berasal dari kalangan rendah dengan kehidupan dan

cara berpikir yang sederhana, gejalanya sering diawali dengan mimpi–mimpi

tentang alat kelamin laki–laki atau sesuatu yang melambangkan alat kelamin yang

bergantungan di dinding atau di dalam kamar tidurnya, dan apabila ia dikagetkan

oleh suara atau gerakan ia segera bereaksi koprolalia, echolalia11 atau echopraxia

(hiper sugestibilitas). Setelah episode ini berakhir, ia merasa malu, menyesal dan

minta maaf atau menyalahkan orang yang telah mengejutkan dirinya.

Oleh masyarakat keadaan ini tidak dianggap sebagai gangguan jiwa dan

terbanyak terdapat di pulau Jawa. Contoh penelitian mengenai latah ini adalah dari

Soestiantoro (1985) yang mengulas latah secara historis dengan mengambil kasus

di Palembang. Menurutnya, fenomena latah belum banyak diketahui, baik

mengenai mekanisme psikopatologinya maupun hubungan dengan masalah

budaya yang kompleks.

Namun akhir dekade ini latah seakan menjadi suatu trend di kalangan anak

muda, karena dianggap sebagai hal yang lucu dan gaul. Menurut analisa penulis,

fenomena trend latah ini tidak lepas dari perkembangan dunia hiburan

pertelevisian. Para public figure seakan memakai latah sebagai alat untuk melucu,

11
pengulangan kata-kata yang didengar dari orang lain

19
sehingga masyarakatpun dengan mudah meniru dan menganggap latah sebagai

“penyakit yang keren”.

Latah sendiri juga bisa terjadi dengan sengaja, saat seseorang ingin

eksistensinya diakui di masyarakat, dia berpura-pura menjadi seorang yang latah

saat dikejutkan agar dilabeli sebagai orang yang lucu dan gaul. Saat kejadian

tersebut berlangsung kontinum, maka latah dalam arti penyakit kejiwaan yang asli

akan timbul dalam individu tersebut.

7. Gemblakan (Jawa Timur)

Gemblakan adalah suatu aktivitas homoseksual di kalangan pemuda yang

diterima oleh tradisi masyarakat setempat di Ponorogo, Jawa Timur. Aktivitas ini

akan berakhir setelah mereka kawin. Contoh penelitian mengenai gemblakan

adalah dari Yusuf dan Husodo (1982) di desa Bancar, Kabupaten Ponorogo.

Mereka menemukan bahwa gemblakan tersebut mempunyai dampak

positif dalam masyarakat, dengan timbulnya rasa kekeluargaan dan gotong

royong. Karena orang yang melakukan gemblakan biasanya orang-orang

berpengaruh di kampung setempat, sehingga yang digemblak merasa bangga.

Gb.2.1 Pelaku Gemblak Gb.2.2 Representasi Gemblak dalam seni Reog

20
8. Ludruk (Jawa Timur)

Ludruk adalah kesenian panggung Jawa Timur, dahulu semua pemainnya

adalah pria, termasuk mereka yang memainkan peranan wanita, sebagian

tergolong dalam “male transvestite“, sampai-sampai dalam masyarakat Jawa

Timur, seorang pria yang berpenampilan seperti wanita disebut “wedhokan

ludruk” atau dalam bahasa Indonesia berarti wanita ludruk.

Jadi, dalam hal ini seorang pria yang memerankan peran wanita baik

dalam karakter fisik maupun tingkah laku dengan alasan apapun juga dianggap

mempunyai sutau gangguan jiwa yang disebut dengan ludruk. Contoh penelitian

mengenai ludruk adalah dari Prasadio (1972) pada 38 pemain ludruk di Jawa

Timur.

Sekarang ini kesenian ludruk mengalami perkembangan dengan

mengambil wanita asli untuk memerankan tokoh wanita. Pemain ludruk wanita

yang terkenal saat ini adalah Kastini dari Surabaya.

Gb. 2.3 pemain ludruk pria yang berperan wanita

21
III.2 Culture bound syndrome yang ada di luar Indonesia

Tabel 1.1 Jenis culture bound syndrome di negara lain

Sindroma dan
Budaya
Psikopatologi Kebudayaan/Negara

Amok  Tiba–tiba mengamuk, Melayu (Malaysia, Singapura)

(Dennys, 1894) berteriak, merusak,

membunuh, berlarian,

tanpa sebab tapi diawali

dengan melamun dan sedih

lalu diakhiri dengan lelah,

amnesia dan kemudian

sering bunuh diri.

 Kesurupan : reaksi
disosiatif.

Koro  Sinonim : mata gelap. Melayu (Malaysia, Cina

(Wulfften–Palte,  Kecemasan yang akut Selatan (Kanton)

1934 ) bahwa penisnya masuk ke

dalam perutnya, ia akan

meninggal lalu memfiksasi

penisnya pada alat kayu,

 Kehilangan energi hidup

22
De-personalisasi, gangguan

psiko-seksual

 Sinonim : suk-yeong, jir- Melayu (Malaysia), Afrika,

yan. Siberia, Hapland, Amerika

 Ada 2 bentuk : Utara.

 Gerakan dan verbalisasi

tiba– tiba sesudah

terkejut,

 Reaksi–reaksi echo :

echolalia, echopraksia ,

kepatuhan otomatik,

koprolalia.

 Orangnya tetap sadar,


tetapi tak dapat menguasai

diri, menjadi bulan-bulanan

orang lain.

Piblokto  Kesurupan atau keadaan Eskimo

( Jusson, 1960 ) trans biasa pada pria dan

wanita.

 Agresif, berteriak,
membuka atau merusak

bajunya, berguling-guling,

23
berlarian. Sesudah 1-2 jam

normal kembali dengan

amnesia.

Wihtigo atau  Psikotik, kanibalisme, Indian (Cree, Djib Way,


Windigo Salteaux)
(Teicher, 1961) waham, eksitasi, takut.

 Kesurupan : Psikosis,

 Jadi-jadian ( monster

pemakan daging ),

 Depresi berat,

 Histerik,

 Waham dirasuki, kejang- Black Ghetto, Negro (Afrika),


Voodoo
kejang, menari histerik dan Polynesia (Haiti), ( juga

ritmik, eksitasi, keadaan ditemukan di Amerika

trans. Selatan, Australia, New

 Kesurupan : keadaan Zaeland, Kepulauan Pasifik,

histerik, keadaan psikotik. Ceylon ).

 Beranggapan bahwa roh

jahat menguasai pasien

Sumber: Bahan Ajar Antropologi Psikiatri

24
III.3 Windigo, gangguan kejiwaan dengan gejala kanibalisme diantara suku-

suku Indian Amerika Utara

Saat penyakit kejiwaan muncul pada masyarakat,

terdapat beberapa kasus yang dipengaruhi oleh tekanan-tekanan

budaya di tempat mereka tinggal. Salah satu contoh culture

bound syndrome adalah Windigo yang terdapat di komunitas

suku Indian Amerika Utara, yaitu pada suku Chippewa, Ojibwa

dan Cree yang hidup di sekitar danau-danau besar Kanada dan Amerika Serikat.

Gb 4.1 Peta lokasi suku-suku indian Chippewa, Ojibwa dan Cree

Penyakit Windigo biasanya muncul pada saat musim dingin di Amerika

Utara pada saat daerah tersebut diselimuti salju yang sangat tebal dan banyak

keluarga yang terisolasi dalam kabin mereka berbulan-bulan serta kekurangan

bahan makanan sehari-hari. Ciri-ciri dari penyakit kejiwaan ini adalah selera

makan yang hilang, mengalami halusinasi dan muntah-muntah. Kamudian

individu tersebut kehilangan jatidirinya dan berubah menjadi monster windigo,

dan memakan daging manusia.

25
Gb 4.2 gambaran setan windigo Gb 4.3 Versi lain wujud setan windigo

Individu yang mengalami gangguan jiwa ini melihat orang lain sebagai

bahan makananuntuk dirinya. Menurut diagnosa medis modern individu tersebut

individu penderita penyakit ini mengalami paranoia untuk meyiksa orang lain di

sekitarnya dan mengubah orang tersebut menjadi monster windigo seperti dirinya.

Individu penderita akan mengalami kegelisahan yang sanat ektrim dan

mempunyai kecenderungan untuk bunuh diri demi menghalangi dirinya menjadi

monster windigo.

III.4 Jenis lain culture bound Sydrome di dunia

Denis O’neill (2006) membuat daftar jenis-jenis culture bound syndrome

yang ada di berbagai belahan dunia:

Amerika Selatan dan berbagai negara eropa yang berkebudayaan latin:

 ataque de nervios (Amerika selatan dan negara-negara di

laut Mediterania)

 mal de ojo (mata iblis) (Amerika selatan dan negara-negara

di laut mediterania)

 mal de pelea (Puerto Rico)

26
Afrika dan kebudayaan Afrika di benua Amerika:

 Ashanti (Ghana)

 boufée deliriante (Haiti dan Afrika barat)

 brain fog (Africa barat)

 falling out or blacking out (Afro-Karibia dan Amerika

serikat bagian selatan)

 rootwork (Haiti dan beberapa daerah di sub-sahara)

 sangue dormido (Cape Verde)

 spell (Amerika Serikat Tenggara)

Timur Tengah:

 zar (Afrika Utara dan Asia barat—khususnya Mesir,

Sudan, Somalia, Ethiopia, and Iran)

Asia :

 amok (running amok) or mata gelap ( Malaysia dan

Philippines)

 dhat (India)

 hsieh-ping (Taiwan)

 hwa-byung or wool-hwa-bung (Korea)

 koro, shook yang, suo yang, jinjinia bemar, or rok-joo

(China dan Asia Tenggara)

 p'a leng (China)

27
 qi-gong (China)

 shen kui (China)

 shin-byung (Korea)

 shinkeishitsu (Jepang)

 taijin kyofusho (Jepang)

 sudden death syndrome (masyarakat Hmong di Laos dan

Vietnam)

Oceania:

 cafard atau cathard (Kepulauan Polynesia)

 gururumba (Papua New Guinea)

Suku asli benua Amerika:

 ghost sickness (beberapa kebudayaan suku asli Amerika)

 grisi siknis (Indian Moskito di Nicaragua)

 hi-wa itck (Indian Mohave di California Tenggara)

 iich'aa (Indian Navajo di America Selatan)

 pibloktoq (Eskimo dam Inuit di sub-arctic)

 wacinko (Indian Oglala Sioux di Amerika Serikat bagian

utara).

28
BAB IV
PENUTUP

IV. Kesimpulan

Culture bound syndrome adalah gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh

tekanan-tekanan dari budaya dimana individu itu tinggal dan menetap. Budaya

yang diharapkan para penganutnya dapat menjadi alat dalam rangka beradaptasi

dengan lingkungan alam sekitar, malah terkadang memberikan tekanan-tekanan

kepada individu-individu atau kelompok lewat aturan-aturan dan sangsi-sangsi.

Individu atau kelompok yang mempunyai suatu tujuan dalam hidupnya akan terus

berjuang hingga tujuan tersebut tercapai, namun bila tujuan tersebut “tidak

disetujui” oleh budaya setempat, maka individu atau kelompok tersebut melakukan

resistensi pada budaya dalam bentuk apapun. Namun bila resistensi tersebut tidak

dapat terwujud, maka akan terakumulasi dalam pikiran dan menyebabkan stres

budaya yang menjadi faktor utama penyebab culture bound syndrome.

Nama dan jenis dari culture bound syndrome tergantung pada daerah

terjadinya, seperti misalkan gejala yang sama seperti kesurupan di Amerika disebut

exorcist atau Amok yang disebut Hwa-Byung di Korea, keadaan geografis ternyata

juga mempengaruhi terjadinya culture bound syndrome, seperti misalnya dalam

kasus Windigo di suku Indian Kanada. Windigo berawal dari terisolasinya seeorang

di kabin dalam waktu yang lama karena salju yang turun dengan lebatnya sampai

bahan makanan dalam kabin habis.

29
IV. Saran

Mayarakat, khususnya Indonesia sebaiknya mulai belajar mengenai

gangguan kejiwaan secara medis modern, khususnya mengenai pearawatan

penderita culture bound syndrome. Penulis berharap bahwa kasus pemasungan

Minto berulang kembali di Indonesia, karena perlakuan terhadap manusia

seharusnya tidak boleh dibedakan satu sama lain. Pasien seperti Minto seharusnya

bukan malah disekap, namun diberi terapi di bawah pengawasan ahli kejiwaan.

Pemasungan seperti yang dialami oleh Minto, bukan merupakan cara yang baik

dalam penanganan penderita culture bound syndrome, bahkan cenderung

menambah penyakit si penderita. Pemerintah dalam hal ini juga harus semakin

peka, dengan cara memberi sosialisasi pada masyarakat pedesaan tradisional dan

mendistribusikan tenaga-tanaga ahli kejiwaan ke seluruh pelosok Indonesia.

30
Daftar Pustaka

Al Barry, M. Dahlan
1994 Kamus Ilmiah Populer. Bandung: Penerbit Arkola.
Arianto, Nurcahyo Tri
2004 Bahan Ajar Antropologi Psikiatri. Manuskrip. Surabaya:
Universitas Airlangga
Dipojono, Bonakamsi
1984 ‘Pengaruh Budaya pada Gangguan Jiwa’ Majalah Jiwa 17 (2):
7-15
Foster, George M. dan Anderson, Barbara Gellatin
1985 Antropologi Kesehatan. Jakarta: UI Press
Kashiko, Team
2004 Kamus Lengkap Biologi.Bandung: Kashiko Press
Koentjaraningrat
1990 Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI Press.
Maslim, Rusdi
1986 ‘Psikiatri Budaya di Indonesia (Suatu Tinjauan Kepustakaan)’.
Majalah Jiwa 20 (3): 23-44
O’neill, Dennis
2005 ‘Culture Spesific Disease’
Pandupitoyo, Darundiyo
2006 Tugas Akhir Antropologi Psikiatri. Manuskrip. Surabaya: Universitas
Airlangga.
Suparlan, Parsudi
2006 Suku Bangsa dan Hubungan Antar Suku Bangsa. Jakarta:
Penerbit YPKIK.

31