Anda di halaman 1dari 17

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Hematemesis adalah muntah darah yang berwarna hitam yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Melena yaitu buang
air besar berwarna hitam ter yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Yang dimaksud dengan saluran cerna bagian atas
adalah saluran cerna di atas (proksimal) dari ligamentumTrei t z, mulai dari jejenum proksimal, duodenum, gaster dan
esofagus.
B. EPIDEMIOLOGI
Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) merupakan keadaan gawat darurat yang sering dijumpai di tiap rumah sakit
di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Perdarahan dapat terjadi um. Delapan puluh persen dari angka kematian akibat
perdarahan SCBA antara lain karena pecahnya varises esofagus, gastritis erosif, atau ulkus peptikdi bagian Ilmu Penyakit
Dalam FKUI/RSCM berasal dari pecahnya varises esofagus akibat penyakit sirosis hati dan hepatoma.
Berdasarkan laporan di SMF Penyakit Dalam RSU dr. Sutomo Surabaya, dari 1673 kasus perdarahan SCBA, penyebab
terbanyak adalah 76,9% pecahnya varises esofagus, 19,2% gastritis erosif, 1,0% tukak peptikum, 0,6% kanker lambung
dan 2,6% karena sebab- sebab lain. Laporan dari RS Pemerintah di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta urutan 3 penyebab
terbanyak perdarahan SCBA sama dengan di RSU dr. Sutomo. Sedangkan laporan dari RS Pemerintah di Ujung Pandang
menyebutkan tukak peptikum menempati urutan pertama penyebab SCBA. Laporan kasus di RS Swasta yakni RS Darmo
Surabaya perdarahan karena tukak peptikum 51,2%, gastritis erosif 11,7%, varises esofagus 10,9%, keganasan 9,8%,
esofagitis 5,3%, sindrom Mallori-Weiss 1,4%, tidak diketahui 7%, dan penyebab-penyebab lain 2,7%. Di negara barat
tukak peptikum menempati urutan pertama penyebab perdarahan SCBA dengan frekuensi sekitar 50%.
C. DIAGNOSIS
Perdarahan saluran cerna bagian atas dapat bermanifestasi sebagai hematemesis, melena atau keduanya. Dalam

anamnesis yang perlu ditekankan adalah : 1). Sejak kapan terjadinya perdarahan
dan berapa perkiraan darah yang keluar, 2). Riwayat perdarahan sebelumnya, 3).
Riwayat perdarahan dalam keluarga, 4). Ada tidaknya perdarahan di bagian tubuh
lain, 5). Riwayat penggunaan obat-obatan NSAIDs dan anti koagulan, 6). Kebiasaan
minum alkohol, 7). Mencari kemungkinan adanya penyakit hati kronik, demam
berdarah, demam tifoid, gagal ginjal kronik, diabetes melitus, hipertensi, alergi
obat-obatan, 8). Riwayat transfusi sebelumnya.

Pemeriksaan fisik dapat memperlihatkan stigmata penyebab perdarahan, seperti stigmata sirosis,
anemia, akral dingin dan sebagainya. Status hemodinamik saat masuk ditentukan dan dipantau
karena hal ini akan mempengaruhi prognosis.
untuk keperluan klinik, maka harus dibedakan apakah perdarahan beeasal dari varises esofagus
dan non-varises, karena antara keduanya terdapat ketidaksamaan dalam pengelolaan dan
prognosisnya. Untuk membedakan apakah perdarahan yang terjadi berasal dari saluran cerna
bagian atas atau bawah dapat dilakukan cara praktis yaitu sebagai berikut.
Tabel 1. Perbedaan perdarahan SMB dan SMBB

Manifestasi
umumnya

klinik

Perdarahan SCBA
pada Hematemesis dan/melena

Perdarahan SCBB
Hematokesia

Aspirasi nasogastrik

Berdarah

jernih

Rasio (BUN/Kreatinin)

Meningkat > 35

< 35

Aukultasi usus

Hiperaktif

Normal

D. SARANA DIAGNOSTIK
Sarana diagnostik yang biasa digunakan pada kasus perdarahan saluran cerna ialah endoskopi
gastrointestinal, radiografi dengan barium, radionuklir, dan angiografi. Pada semua pasien
dengan tanda-tanda perdarahan saluran cerna bagian atas atau yang asal perdarahannya masih
meragukan pemeriksaan endoskopi SCBA merupakan prosedur pilihan. Dengan pemeriksan ini
sebagian besar kasus diagnosis penyebab perdarahan bisa ditegakkan. Selain itu dengan
endoskopi bisa juga dilakukan upaya terapeutik. Bila perdarahan masih tetap berlanjut atau asal
perdarahan sulit dididentifikasi perlu pertimbangan pemeriksaan dengan radionuklir atau
angiografi yang sekaligus bisa digunakan untuk menghentikan perdarahan.

Tujuan

pemeriksaan endoskopi selain menemukan penyebab serta asal perdarahan, juga


untuk menentukan aktivitas perdarahan. Forest membuat klasifikasi perdarahan

tukak peptikum atas dasar temuan endoskopi yang bermanfaat untuk menentukan
tindakan selanjutnya.

Tabel 2. Klasifikasi Aktivitas Perdarahan tukak Peptik Menurut Forest


Aktivitas Perdarahan
Forest 1a : perdarahan aktif

Kriteri Endoskopis
Perdarahan arteri menyembur

Forest 1b : perdarhan aktif

Perdarahan merembes

Forest 1c : perdarahan berhenti dan masih Gumpalan darah pada dasar tukak atau terlihat
terdapat sisa-sisa perdarahan

pembuluh darah

Forest 1d : perdarahan berhenti tanpa sisa-sisa Lesi tanpa tanda sisa perdarahan
perdarahan

Terapi endoskopi dibagi atas modalitas, yaitu terapi topikal, terapi mekanik, terapi injeksi, dan
terapi termal. Pada terapi mekanik digunakan hemoklip untuk menjepit tempat perdarahan atau
melalui kabel elektrokauter. Teknik pengikatan dengan rubber band banyak digunakan dalam
proses pengikatan varises.
E. PENATALAKSANAAN
Langkah resusitasi berupa pemasangan jalur intravena dengan cairan fisiologis, bila perlu
transfusi PRC, darah lengkap (whole blood), packed red cell, dan FFP.
Tindakan yang paling sederhana untuk menghentikan perdarahan saluran cerna bagian atas
adalah bilas lambung dengan air es melalui pipa nasogastrik. Pemasangan pipa nasogastrik
dikerjakan melalui lubang hidung pasien, kemudian dilakukan aspirasi isi lambung. Bila pada
aspirasi terdapat darah, selanjutnya dilakukan bilas lambung dengan air es sampai isi lambung
tampak bersih dari darah atau tampak lebih jernih warnanya. Tindakan tersebut disebut gastric
spooling. Ada 5 manfaat dari tindakan ini, yaitu :
1. Tindakan diagnostik dan pemantauan apakah perdarahan masih berlangsung terus atau
tidak.
2. Menghentikan perdarahan (efek vasokontriksi dari es)

3. Memudahkan pemberian obat-obatan oral ke dalam lambung.


4. Membersihkan darah dari lambung untuk mencegah koma hepatik.
5. Persiapan endoskopi
Bilas lambung juga dapat dilakukan dengan menggunakan air suhu kamar. Berdasarkan
percobaan pada hewan, kumbah lambung dengan air es kurang menguntungkan, waktu
perdarahan jadi memanjang, perfusi dinding lambung menurun, dan bisa timbul ulserasi pada
mukosa lambung.
Pada perdarahan saluran cerna ini dianggap terdapat gangguan hemostasis berupa defisiensi
kompleks protrombin sehingga diberikan vitamin K parenteral dan bila diduga terdapat
fibrinolisis sekunder dapat diberikan asam traneksamat parenteral.
Produksi asam lambung yang meningkat karena stress fisik maupun psikis ditekan dengan
pemberian antasida dan antagonis reseptor H2 (ranitidine, famotidine, atau roksatidine). Antasid
diharapkan bermanfaat untuk menekan asam lambung yang sudah berada di lambung sedangkan
antagonis reseptor H2 untuk menekan produksi asam lambung. Selain itu dengan pertimbangan
bahwa proses koagulasi atau pembentukan fibrin akan terganggu oleh suasana asam, maka
diberikan antisekresi asam lambung, mulai dari antagonis reseptor H2 sampai penghambat
pompa proton (omeprazole, lansoprazole, pantoprazole). Di samping itu terdapat obat-obatan
yang bersifat meningkatkan defense mukosa (sukralfat) yang dapat dipakai sebagai regimen
alternatif.
Pemberian obat yang bersifat vasoaktif akan mengurangi aliran darah splanknikus sehingga
diharapkan proses perdarahan berkurang atau berhenti. Dapat dipakai vasopresin, somatostatin,
atau okreotid. Vasopresin bekerja sebagai vasokonstriktor pembuluh splanknik, sedangkan
somatostatin dan okreotid melalui efek menghambat sekresi asam lambung dan pepsin,
menurunkan aliran darah di lambung dan merangsang sekresi mukus lambung.2
Pemasangan Sengstaken-Blakemore tube (SBtube) dapat dikerjakan pada kasus yang diduga
terdapat varises esofagus. SBtube terdiri dari 2 balon (lambung dan esopfagus). Balon lambung
berfungsi sebagai jangkar agar SBtube tidak keluar saat balon esofagus dikembangkan. Balon
esofagus tersebut secara mekanik menekan langsung pembuluh darah varises yang robek dan

berdarah. Balon SBtube memiliki 3 lumen, yaitu untuk balon lambung, balon esifagus, dan untuk
memasukkan obat-obatan atau makanan ke dalam lambung atau untuk membilas lambung
dengan air es. Komplikasi yang dapat terjadi adalah pneumonis aspirasi, kerusakan esofagus, dan
obstruksi jalan napas.
BAB I
B. IDENTITAS
Nama
: Ny. F
Jenis Kelamin
: Perempuan
Umur
: 61 th
Agama
: Islam
Suku bangsa
: Jawa
Pekerjaan
: IRT
Alamat
: Jalan karya 2 Nipah kuning
Status perkawinan
: Nikah
C. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Muntah darah
Riwayat Kronologis Penyakit
Sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS) Os mengeluh muntah darah. Muntah darah
berwarna hitam seperti kopi pekat, dengan jumlah kurang lebih 4 gelas. Sehari sebelumnya Os
mengkonsumsi jamu untuk meredakan pegel linu yang diminum sebelum tidur. Sekitar pagi hari
sebelum masuk rumah sakit, Os merasa mual-mual terus menerus yang disertai rasa sakit pada
daerah ulu hati, sakitnya terasa pedih. Kemudian muntah beberapa kali sebelum akhirnya
memuntahkan darah. Setelah memuntahkan darah Os menjadi lemah dan dibawa oleh
keluarganya ke rumah sakit. Malamnya setelah masuk rumah sakit, Os mengeluhkan BAB
berwarna hitam ter. Os baru pertama kali mengalami keluhan seperti ini.

Sejak usia 40-an tahun, Os sering mengkonsumsi jamu dan obat-obatan untuk menghilangkan
pegel linu, dan masih dikonsumsi hingga sebelum Os masuk rumah sakit.
Riwayat Penyakit Penyerta
Sejak 2 bulan terakhir, Os mengaku sering merasa sakit pada ulu hati, terasa pedih, sakitnya
hilang timbul dan sakit mereda dengan makanan. Cepat merasa kenyang dan terkadang perut
terasa kembung.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat sakit kuning (hati) di sangkal, riwayat mengkonsumsi alkohol disangkal, riwayat napas
berbunyi (asma) disangkal, riwayat hipertensi dan kencing manis disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada di keluarga yang mengalami keluhan yang serupa.
Keluhan Sistemik
a. Kulit
:
tidak ada keluhan
b. Kepala
:
sering merasa pusing
c. Mata
:
tidak ada keluhan
d. Telinga
:
tidak ada keluhan
e. Hidung
:
tidak ada keluhan
f. Mulut
:
terasa pahit
g. Tenggorok
:
tidak ada keluhan

h. Leher
:
tidak ada keluhan
i. Respirasi
:
tidak ada keluhan
j. Kardiovaskuler :
berdebar-debar
k.Gastrointestinal :
BAB warna hitam ter, nafsu
makan menurun, mual, muntah,
l.Genitourinaria :
BAK tidak ada
keluhan.
m. Ekstremitas
:
tidak ada keluhan, nyeri sendi (-),
kaku sendi
(-)
n. Fungsi geriatri :
tidak ada keluhan, ingatan masih
baik.
D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Kesan umum : tampak lemah dan pucat
Kesadaran
: kompos mentis, GCS 15
2. Tanda Vital :
Tekanan darah
: baring = 130/60 mmHg, duduk = 120/60 mmHg.
Frekuensi nadi
: baring = 98x/menit, regular, isi cukup
Laju respirasi
: baring = 20x/menit, tipe torakoabdominal .
Suhu
: 36,4oC
3. Pemeriksaan per Organ
Kulit
: warna kulit hitam, pucat , tidak ada sianosis,
, tidak ada lesi kulit lain, tidak ada dekubitus.
Kepala
: tidak ada deformitas, tidak ada nyeri tekan, tidak ada luka
Mata
: konjungtiva pucat, sklera tidak ikterik,

Telinga
: daun telinga tidak ada kelainan, tidak ditemukan adanya tanda
radang
Hidung

:
Mulut,
Tenggorokan

tidak

sendi

rahang
:

tidak

ada

kelainan,

dan
ada

gigi
kelainan,

tidak
:
massa

terdapat

tidak
(-),

ada
tonsil

sekret
kelainan
T1-T1

Leher
: derajat gerak tidak ada hambatan. Kelenjar tiroid tidak membesar, tidak ada bekas luka operasi pada
tiroid. Massa lain tidak teraba. Kelenjar getah bening tidak teraba.
Dada
: tidak teraba massa dan tidak ada nyeri tekan.
Paru :
Inspeksi
: tidak ada kelainan bentuk, simetris, tidak ada bagian paru yang
tertinggal pada saat bernapas
Palpasi
: tidak ada kelainan, nyeri tekan (-), fremitus simetris
normal ka/ki
Perkusi
: sonor di lapang paru kiri dan kanan
Auskultasi
: suara dasar vesikuler, tidak ada suara tambahan wh -/-, rh
-/Kardiovaskuler :
Jantung
Inspeksi
: iktus kordis tidak terlihat
Palpasi
: iktus kordis teraba 2 jari di ICS V midclavikula sinistra
Perkusi

batas

jantung

jantung
kiri

atas

kanan
di

di
ICS

ICS
2

sternalis

parasternalis

dekstra,

batas

sinistra,

batas

jantung kiri bawah di ICS 5 linea midklavikula sinistra


Auskultasi : irama reguler, tunggal, M1>M2
Bising sistolik di apeks (+) ,gallop (-)
Denyut nadi periferDorsalis pedis
: kiri dan kanan teraba
Abdomen :
Inspeksi
: tidak ada kelainan kulit, tidak terdapat jaringan parut,
tidak terdapat luka bekas operasi
Palpasi
: nyeri tekan epigastrium, hati tidak teraba, lien tidak
teraba,
Perkusi : asites (-), timpani
Auskultasi
: bising usus meningkat, tidak ada bruit
Muskuloskeletal
: tidak ada deformitas, gerak tidak terbatas, tidak ada nyeri,
tidak ada benjolan/peradangan
Ekstremitas
: akral tidak dingin
Neurologik
: tidak ada kelainan
Anus/rectum dan alat kelamin tidak dilakukan pemeriksaan
E.
Status Lokalis : F.
Status Geriatri :
Status Fungsional
Assesmen aktivitas sehari-hari (activity of daily living)
Untuk melakukan aktivitas fisik seperti mandi, berpakaian, buang air besar (toilet), bergerak,
makan, berjalan, pasien tidak dapat melakukan sendiri ( dibantu orang lain).
Keterbatasan fungsional

Tidak ada keterbatasan dalam melakukan pekerjaan ringan (misalnya menggeser meja,
mengangkat barang belanjaan); dan melakukan pekerjaan ringan di rumah yang biasa dilakukan;
seperti memasak.
Penapisan Depresi
Kadang-kadang OS merasa kesehatannya menghalangi kegiatannya. OS jarang sekali merasa
sedih selama bulan lalu. OS merasa tidak pernah tidak diperhatikan oleh keluarga. OS tidak
pernah selama bulan lalu merasa bahwa hidup sudah tidak ada gunanya lagi.
Berdasarkan hal-hal tersebut, curiga adanya depresi pada OS dapat disingkirkan.
Data Penunjang
Laboratorium ( hasil pemeriksaan tgl 21 Maret 2010)
Hb
: 6,7 g/dL
Jumlah leukosit
: 8100./L
Jumlah trombosit
: 178.000/L
Hematokrit
: 20,8%
Ureum
: 38 mg/dL
Kreatinin
: 1,1 mg/dL
Gula darah
: 98 mg/dl
G.
DIAGNOSA SEMENTARA
Hematemesis Melena et causa Gastritis Erosiva
H.
DIAGNOSA BANDING
Hematemesis Melena et causa Tukak Peptikum
I.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Patologi Klinis
:
Darah lengkap, hemostasis (waktu
perdarahan, pembekuan, protrombin),
elektrolit (Na, K, Cl), Fungsi hati (SGPT/SGOT, albumin, globulin)
2. Patologi Anatomi :
Pertimbangkan dilakukan biopsi lambung

3. Radiologi
:
Endoskopi SCBA, USG hati
4. Lain-lain
:
Konsul ke dokter penyakit dalam, Periksa EKG
J.
TERAPI
1. Suportif
- Tirah baring
- Infus RL 20 tts/menit, ganti dengan NaCl 0,9% apabila akan dilakukan
transfusi darah
- Transfusi PRC hingga Hb mencapai di atas 10 g/dl
2. Simptomatis
- Metoklorpramid 3x 10 mg drip iv
- Asam Traneksamat 3 x 1 g bolus iv
3. Nutrisi
- Makan- makanan yang lunak dalam porsi kecil sedikit-sedikit
- Hindari mengkonsumsi makanan yang pedas dan asam, merokok dan alkohol
4. Kausal
:
b. Medikamentosa
-

Lansoprazole

Ranitidine

Sucralfate

3
Antasid

2
2
x

30

x
1

gram
3

150
/

mg

bolus

iv

mg

bolus

iv

Misoprostol
x

x
1

200

mcg
sdt

- Vitamin K 3 x 1 amp
c.Operasi : 5. Rehabilitasi Medik
BAB III
PEMBAHASAN
Dari anamnesis diperoleh data bahwa Sejak 3 hari yang lalu OS mengeluh muntah darah.
Muntah darah berwarna hitam seperti kopi pekat, dengan jumlah kurang lebih 4 gelas. Sehari
sebelumnya OS mengkonsumsi jamu untuk meredakan pegel linu sebelum tidur. Sekitar pagi
hari sebelum masuk rumah sakit, OS merasa mual-mual terus menerus dan sakit pada daerah ulu
hati, sakitnya terasa pedih dan kemudian muntah beberapa kali sebelum akhirnya memuntahkan

darah. Malamnya setelah masuk rumah sakit, OS mengeluhkan BAB warna hitam ter. OS baru
pertama kali mengalami keluhan BAB warna hitam dan muntah darah seperti ini.
Sejak 2 bulan terakhir, OS mengaku sering merasa sakit pada ulu hati, terasa pedih, sakitnya
hilang timbul dan sakit mereda dengan makanan. Cepat merasa kenyang dan terkadang perut
terasa kembung.
Sejak usia 40-an tahun, OS sering mengkonsumsi jamu dan obat-obatan pegel linu, dan
masih dikonsumsi hingga sekarang.
Dari pemeriksaan fisik ditemukan adanya nyeri tekan pada epigastrium, dan konjungtiva
pucat.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, didapatkan diagnosa sementara yaitu
Hematemesis Melena et causa Gastritis erosif. Terdapat tanda-tanda fisis pada pasien yang
mengarahkan diagnosa pada Hematemesis Melena et causa Gastritis erosif yaitu muntah darah
yang berwarna hitam pekat seperti kopi, BAB yang berwarna hitam seperti ter, mual dan muntah,
nyeri tekan epigastrium , pernah mengalami riwayat gastritis sebelumnya, serta terdapat riwayat
pemakaian obat-obatan dan jamu untuk mengurangi pegel-pegel dalam jangka waktu yang lama.
Muntah darah yang berwarna hitam pekat seperti kopi diakibatkan oleh perdarahan yang berasal
dari saluran cerna bagian atas yaitu lambung, yang telah tercampur dengan asam lambung.
Warna darah terganung pada jumlah asam lambung yang ada dan lamanya kontak dengan darah.
Darah dapat berwarna merah segar bila tidak tercampur dengan asam lambung atau merah gelap,
coklat, ataupun hitam bila telah bercampur dengan asam lambung atau enzim pencernaan
sehingga hemoglobin mengalami proses oksidasi menjadi hematin. BAB yang berwarna hitam
seperti ter juga diakibatkan oleh tercampurnya darah dengan asam lambung. BAB hitam
(melena) baru dijumpai apabila terjadi paling sedikit perdarahan sebanyak 50-100 mL.
Perdarahan saluran cerna bagian atas juga dapat bermanifestasi sebagai hematokesia bila
perdarahan banyak dan aktif serta waktu transit saluran cerna yang cepat.
Berdasarkan anamnesis juga, diperoleh data bahwa pasien merasa sakit di daerah ulu hati. Sakit
ini sudah dirasakan sejak beberapa bulan terakhir dan hilang timbul. Sakit dirasakan seperti
menusuk-nusuk dan perih. Sakit hilang bila pasien makan. Kadang-kadang pasien merasa mual.

Cepat merasa kenyang dan terkadang terasa kembung. Berdasarkan keterangan ini disimpulkan
bahwa pasien pernah menderita gastritis. Gastritis adalah inflamasi dari mukosa lambung.
Gambaran klinis yang ditemukan berupa dispepsia yang dikeluhkan pasien ini. Gastritis terjadi
karena terjadi gangguan keseimbangan faktor agresif dan defensif. Gastritis akut dapat
disebabkan oleh NSAIDs, alkohol, gangguan mikrosirkulasi mukosa lambung maupun stress.
Gastritis kronik disebabkan oleh Helicobacter pylori.
Kemungkinan terjadi gastritis Akut pada pasien ini karena terdapat riwayat pemakaian obat-obat
maupun jamu pereda pegel linu. Umumnya obat-obatan tersebut mengandung bahan-bahan yang
dapat mengakibatkan perangsangan asam lambung yang berlebihan ataupun menghambat serta
mengganggu dari fungsi perlindungan mukosa lambung terhadap asam lambung sehingga dapat
mengakibatkan terjadinya perdarahan lambung. Kandungan obat-obatan tersebut diantaranya
yang terbanyak adalah NSAIDs (Asam mefenamat) dan berbagai jenis steroid (prednisone,
deksametason dll).
Efek samping NSAIDs pada saluran cerna tidak terbatas pada lambung. Efek samping pada
lambung memang yang paling sering terjadi. NSAIDs merusak mukosa lambung malalui 2
mekanisme yakni : tropikal dan sistemik. Kerusakan mukosa secara tropikal terjadi karena
NSAIDs bersifat asam dan lipofilik, sehingga mempermudah trapping ion hydrogen masuk
mukosa dan menimbulkan kerusakan. Efek sistemik NSAIDs tampaknya lebih penting yaitu
kerusakan mukosa terjadi akibat produksi prostaglandin menurun, NSAIDs secara bermakna
menekan prostaglandin. Seperti diketahui prostaglandin merupakan substansi sitiprotektif yang
amat penting bagi mukosa lambung. Efek sitiproteksi itu dilakukan dengan cara menjaga aliran
darah mukosa, meningkatkan sekresi mukus, dan ion bikarbonat dan meningkatkan epithelial
defense. Aliran darah mukosa yang menurun menimbulkan adhesi neutrofil pada endotel
pembuluh darah mukosa dan memacu lebih jauh proses imunologis. Radikal bebas dan protease
yang dilepaskan akibat proses imunologis tersebut akan merusak mukosa lambung.
Berdasarkan penelitian, terbukti sebagai faktor resiko untuk mendapatkan efek samping semakin
besar dari penggunaan NSAIDs adalah digunakan secara bersama-sama dengan steroid, usia
lanjut > 60 tahun, dan masih mengkonsumsi obat-obatan tersebut walaupun telah menderita
penyakit gastritis sebelumnya tanpa diberikan obat-obatan pelindung untuk mukosa lambung.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa pasien mengalami


Hematemesis Melena et causa Gastritis Akut erosif.
Namun untuk menegakkan diagnosis secara pasti harus dilakukan pemeriksaan dengan
endoskopi. Secara endoskopi akan dijumpai kongesti mukosa, eresi-erosi kecil, dan kadangkadang disertai dengan perdarahan kecil-kecil.
Menentukan status hemodinamik pada saat pasien datang sangatlah penting karena hal ini akan
mempengaruhi prognosis. Di samping itu, tanda-tanda gangguan sirkulasi perifer juga harus
diwaspadai. Pada saat pemeriksaan , tidak didaparkan tanda-tanda hipovolemik sampai syok,
yaitu tekanan darah masih dalam batas normal, nadi dan napas juga dalam batas normal serta
akral tidak dingin. Hanya ditemukan konjungtiva pucat yang menandakan terjadi anemia, dan hal
ini dibuktikan dengan pemeriksaan Hb yang hanya 6, 7 gr/dl.
Hal ini kemungkinan dikarenakan jumlah darah yang hilang tidak teralu banyak dan pasien telah
mendapatkan penaganan sebelumnya di IGD serta telah mendapat satu kolf transfusi PRC.
Diagnosis banding pasien ini adalah Hematemesis Melena et causa Tukak Peptikum dan
Hematemesis Melena et causa varises esofagus. Berdasarkan penelitian bahwa penyebab
terbanyak dari hematemesis melena adalah diakibatkan oleh pecahnya varises esofagus, gastritis
erosif dan tukak peptikum. Gejala-gejala yang timbul hampir sama.
Pada Hematemesis Melena yang diakibatkan oleh varises esofagus terdapat riwayat penyakit
atau kelainan hati sebelumnya, dan umumnya darah yang dimuntahkan berwarna merah
segar karena berasal dari pembuluh darah esofagus yang pecah walaupun terdapat
juga warna muntahan darah berwarna hitam karena ada darah yang mengalir ke
lambung dan bercampur dengan asam lambung. Untuk ,mengetahui apakah
terdapat kelainan pada hati dapat dilakukan pemeriksaan fungsi hati seperti SGPT,
SGOT dan apabila diperlukan dapat dilakukan USG hati.

Sedangkan Hematemesis Melena yang dikibatkan oleh Tukak Peptikum, untuk membedakannya
dengan gastritis erosif dapat dilakukan pemeriksaan dengan endoskopi. Pada gastritis erosif
dapat dijumpai kongesti mukosa, eresi-erosi kecil, dan kadang- kadang disertai dengan

perdarahan kecil-kecil. Sedangkan pada tukak peptik dapat dijumpai erosi yang lebih luas dan
dalam atau luka terbuka.
Nyeri pada tukak duedonum umumnya tidak terlokalisasi, rasa sakit timbul waktu merasa lapar,
biasanya terjadi setelah 90 menit -3 jam post prandial dan nyeri dapat berkurang sementara
sesudah makan, minum susu atau minum antasida. Nyeri spesifik timbul dini hari, antara tengah
malam dan jam 3 dini hari yang dapat membangunkan pasien, dan rasa sakit terletak pada daerah
sebelah kanan garis tengah perut. Sedangkan rasa sakit pada tukak lambung timbul setelah
makan., dan terjadi pada daerah sebelah kiri dari garis tengah perut.
Pemeriksaan penunjang yang diusulkan adalah Darah lengkap, hemostasis (waktu perdarahan,
pembekuan, protrombin), elektrolit (Na, K, Cl), Fungsi hati (SGPT/SGOT, albumin, globulin),
endoskopi dan USG hati.
Pemeriksaan darah berguna untuk menilai keadaan sekaligus sebagai panduan untuk terapi.
Sebagai contohnya kadar Hb dapat digunakan untuk panduan kapan harus dilakukan tranfusi
darah. Karena pasien mengalami kehilangan darah baik melalui muntah ataupun feses, atau
perdarahan di dalam lambung maka pada pemeriksaan Hb yang diharapkan adalah terjadinya
penurunan kadar Hb. Elektrolit juga diperiksa karena ketika pasien muntah akan terjadi juga
defisit elektrolit yang hilang bersama muntahan tersebut. Defisit elektrolit ini juga harus
dikoreksi.
Pemeriksaan fungsi hati diperlukan, untuk menilai apakah telah terjadi kelainan pada hati dan
sebagai pertimbangan dalam pemberian terapi khususnya pada obat-obatan yang di metabolisme
di hati.
Endoskopi dilakukan untuk mengetahui asal tempat terjadinya sumber perdarahan, penyebab
perdarahan, aktivitas perdarahan dan sebagai diagnostik pasti. USG hati dilakukan apabila ada
indikasi untuk melihat gambaran keadaan hati.
Terapi kausal yang diberikan pada pasien ini adalah golongan obat penghambat pompa proton
seperti Lansoprazole. Mekanisme kerja PPI adalah memblokir enzim K+H+ATP ase yang akan

memecah K+H+ATP menghasilkan energi yang akan digunakan untuk mengeluarkan enzim
HCL dari kanalikuli sel parietal ke dalam lumen lambung.
Selanjutnya diberikan obat-obatan golongan antihistamin H2 seperti Ranitidine, obat ini bekerja
dengan cara memblokir efek histamin pada sel parietal sehingga sel parietal tidak dapat
dirangsang untuk mengeluarkan asam lambung. Efek ini bersifat reversibel.
Selain itu diberikan juga obat-obatan pelindung mukosa lambung seperti sucralfate yang
mekanisme kerjanya melalui pelepasan kutub alumunium hidroksida yang berikatan dengan
kutub positif molekul protein membentuk lapisan fisiokokemikal pada daerah erosi, yang
melindunginya dari pengaruh agresif asam lambung. Atau dapat diberikan obat-obatan analog
prostaglandin seperti misoprostol yang dapat mengurangi sekresi asam lambung, menambah
sekresi mukus, bikarbonat dan meningkatkan aliran darah mukosa serta pertahanan dan
perbaikan mukosa lambung.
Selain itu diberikan juga obat-obatan antasida yang mempunyai kemampuan untuk menetralkan
asam lambung atau mengikatnya, seperti Magnesium hidroksida atau Alumunium hidroksida.
Pemberian vitamin K pada kasus-kasus perdarahan saluran cerna bagian atas diperbolahkan,
dengan peetimbangan pemberian tersebut tidak merugikan dan relatif murah. Vitamin K
bermanfaat dalam proses pembekuan darah dan dapat mengembalikan masa protrombin menjadi
normal. Faktor pembekuan darah yang bergantung pada vitamin K adalah faktor II, VII, IX, dan
X. Apabila terjadi defisiensi vitamin K maka proses pembekuan akan berlangsung lama dan
perdarahan dapat terjadi terus-menerus.
Pemberian obat-obatan antasida dan antagonis reseptor H2 tidak boleh diberikan pada waktu
yang bersamaan, karena obat-obatan antasida dapat menghambat absorbsi dari obat-obatan lain.
Pemberian dapat dilakukan dengan tenggang waktu 1-2 jam. Sebagai contoh pemberian antasida
dilakukan 1 jam sebelum makan dan obat-obatan antihistamin H2 diberikan 1 jam setelah makan.
Untuk obat-obatan antagonis H2 dan cytoprotective agent pemberiannya boleh dilakukan secara
bersama-sama. Apabila kita menggunakan sucralfate, maka pemberiannya juga jangan diberikan
bersamaan dengan antasida, karena sucralfate membutuhkan PH asam untuk aktivasi.

DAFTAR PUSTAKA
1.Sastroamoro, S dkk., 2007., Panduan Pelayanan Medis Departemen Penyakit Dalam
RSUP Nasional dr. Cipto Mangunkusumo., Jakarta
2.Mansjoer, A dkk., 2001., Hematemesis Melena dalam Kapita Selekta Kedokteran
Edisi ketiga Jilid I., Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Media Aesculapius
hal.634-636
3.Adi, P., 2006., Pengelolaan Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas dalam Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV., Pusat Penerbitan Departemen Ilmu
Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia., Jakarta., hal.289-292
4.Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia., 2008., ISO Farmakoterapi., PT.ISFI : Jakarta.
5.Mubin, AH., 2006., Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam Edisi 2 : Diagnosis dan
Terapi, EGC : Jakarta
6.Mycek, MJ., Harvey, RA., Champe, PC., 2001., Farmakologi Ulasan Bergambar
Edisi 2., Widya Medika : Jakarta