Anda di halaman 1dari 40

Sunan Bonang: Pemuka Agama Islam dan Legenda Kabupaten Tuban

By: Darundiyo Pandupitoyo, S. Sos.

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Sunan Bonang merupakan salah satu wali songo (sembilan wali)

yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Pengaruhnya begitu besar baik di

kalangan internal para wali, maupun di lingkungan sosial kemasyarakatan

pada saat itu. Ajarannya tersebar luas di hampir seluruh pelosok tanah

Jawa, khususnya di Kabupaten Tuban, tempatnya mendirikan pondok

pesantren

yang

menjadi

pusat

dakwah

Sunan

Bonang.

Beliau

mendakwahkan Islam bersamaan dengan pengembaraannya di tanah

Jawa, sampai hatinya tertambat pada Kabupaten Tuban yang kelak

menjadi tempat peristirahatan terakhir beliau. Semasa hidupnya, Sunan

Bonang menjadi panutan bagi masyarakat dan para wali lain dalam

bertindak maupun berdakwah, karena keimanan dan kesalehannya yang

dinilai tinggi.

Pengaruh ajarannya tersebut bertambah melekat di hati rakyat

dengan adanya murid Sunan Bonang yang cukup legendaris, yaitu Sunan

Kalijaga

yang

memperkenalkan

metode

dakwah

Islam

melalui

percampuran dengan tradisi lokal masyarakat Jawa. Perkembangan Islam

di Tuban cukup pesat dengan adanya kedua wali ini, bahkan Tuban

sempat

menjadi

daerah

Islam

yang

cukup

diperhitungkan

di

era

Kesultanan

Demak.

Pengaruh

Sunan

Bonang

masih

terasa

hingga

sekarang, ajaran serta makamnya masih banyak diminati oleh umat

1

Pengaruh Sunan Bonang masih terasa hingga sekarang, ajaran serta makamnya masih banyak diminati oleh umat 1

Folklore

Folklore muslim dari seluruh penjuru pulau Jawa. Peziarah makam Sunan Bonang datang dengan berbagai macam tujuan
Folklore muslim dari seluruh penjuru pulau Jawa. Peziarah makam Sunan Bonang datang dengan berbagai macam tujuan

muslim dari seluruh penjuru pulau Jawa. Peziarah makam Sunan Bonang

datang dengan berbagai macam tujuan dari yang bersifat sakral maupun

profan. Semua datang berduyun-dutun untuk meminta berkah di makam

Sunan bonang, sembari berharap keinginannya dapat dikabulkan oleh

Allah SWT melalui Sunan Bonang.

Banyaknya peziarah yang datang ke makam Sunan Bonang tidak

hanya menjadikan makam Sunan Bonang sebagai lahan basah bagi

pemerintah daerah, namun juga oleh masyarakat sekitar yang mampu

melihat kesempatan mengais rezeki dari banyaknya peziarah makam

Sunan Bonang. Berbagai macam persepsi muncul dari masyarakat lokal

terhadap peziarah makam Sunan Bonang.

Penelitian

penulis

kali

ini,

berusaha

memunculkan

beberapa

persepsi masyarakat lokal mengenai ribuan peziarah yang datang ke

makam Sunan Bonang. Pada penelitian antropologis ini akan nampak,

bagaimana masyarakat menaggapi fakta tentang banyaknya peziarah

yang

datang

ke

makam

dengan

berbagai

macam

tujuan.

penilaian

masyarakat lokal ini tentu berkaitan dengan pengetahuan tentang tujuan

para peziarah dan tersebar melalui gosip di kalangan masyarakat lokal

Tuban.

Ilmu

gosip

inilah

yang

harus

diperhatikan

perkembangnnya,

karena gosip adalah bagian dari komunikasi dan komunikasi merupakan

unsur dari budaya.

2

diperhatikan perkembangnnya, karena gosip adalah bagian dari komunikasi dan komunikasi merupakan unsur dari budaya. 2

I.2 Rumusan Masalah

Folklore

I.2 Rumusan Masalah Folklore Persepsi apa sajakah yang muncul di kalangan masyarakat lokal Tuban tentang para

Persepsi apa sajakah yang muncul di kalangan masyarakat lokal

Tuban tentang para peziarah yang datang untuk mengunjungi makam

Sunan Bonang di Kabupaten Tuban? Karena persepsi lokal nantinya akan

berpengaruh pada penerimaan masyarakat Tuban terhadap para peziarah

yang datang ke makam Sunan Bonang

I.3 Tujuan Penelitian

Penelitian penulis kali ini bertujuan untuk menelaah persepsi

apa sajakah yang muncul di kalangan masyarakat lokal Tuban tentang

para peziarah yang datang untuk mengunjungi makam Sunan Bonang di

Kabupaten Tuban.

I.4 Kerangka Teori

1.4.1 Folklore Sebagai Ilmu Gosip

Persepsi penduduk merupakan hasil pengamatan terhadap tingkah

laku atau kebendaan dan diolah dalam sistem kognisi mereka sehingga

menhasilkan penjelasan dari pandangan mereka sendiri. Persepsi ini

muncul dan menyebar dari mulut ke mulut sebagai gosip. Persepsi

masyarakat lokal yang diturunkan dari mulut ke mulut, dari satu generasi

ke generasi lain mempunyai ciri yang bisa dimasukkan ke dalam kategori

folklore seperti yang diungkap oleh Danandjaja (1994:3), bahwa salah

3

ciri yang bisa dimasukkan ke dalam kategori folklore seperti yang diungkap oleh Danandjaja (1994:3), bahwa salah

Folklore

Folklore satu ciri folklore adalah penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan dari
Folklore satu ciri folklore adalah penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yaitu disebarkan dari

satu ciri folklore adalah penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan

secara lisan, yaitu disebarkan dari mulut ke mulut (atau dengan

suatu

contoh yang disertai gerak isyarat dan alat pembantu pengingat) dari satu

generasi ke generasi lainnya.

Definisi folklore sendiri menurut Danandjaja (1994:2), adalah:

sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan turun temurun diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertau dengan gerakan isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device)

Menurut

Danandjaja

(1994:21-22),

Folklore

dibagi

menjadi

tiga

bagian penting yaitu folklore lisan (verbal folklore) yaitu folklore yang

bentuknya murni lisan seperti misalnya bahasa rakyat seperti logat dan

dialek. Kedua, folklore sebagian lisan (partly verbal lisan) yaitu campuran

antar unsur lisan dan unsur non lisan, semisal kepercayaan rakyat, pesta

rakyat, adat istiadat. Ketiga adalah folklore bukan lisan (non verbal lisan),

yaitu folklore yang bentuknya bukan lisan atau dalam bentuk cerita seperti

misalnya gerak isyarat tradisional, musik rakyat. Kepercayaan rakyat

terhadap makam Sunan Bonang juga termasuk dalam kategori folklore

sebagian lisan. Kepercayaan ini berkaitan dengan keyakinan masyarakat

jawa bahwa roh orang yang sakti dan taat beragama selalu dekat dengan

sang Maha Pencipta, maka apabila manusia berdoa dan meminta sesuatu

lewat perantara roh tersebut, permintaan tersebut mudah dikabulkan.

4

maka apabila manusia berdoa dan meminta sesuatu lewat perantara roh tersebut, permintaan tersebut mudah dikabulkan. 4

1.4.2 Pandangan hidup Jawa

Folklore

1.4.2 Pandangan hidup Jawa Folklore Istilah “ Pandangan Hidup Jawa “ di sini mempergunakan pengertian yang

Istilah “ Pandangan Hidup Jawa “ di sini mempergunakan pengertian

yang longgar, jadi istilah ini dapat saja diganti dengan istilah-istilah lain

yang mempunyai arti yang kurang lebih sama, seperti “ Filsafat Jawa “ (

Abdulah Ciptoprawiro ) “ Filsafah Kejawen “ atau istilah lain lagi. Tetapi

pandangan hidup Jawa, ini tidaklah identik dengan “ Aliran Kepercayaan

Terhadap Tuhan Yang Maha Esa “ atau “ Islam Abangan “ atau “ Mistik

Jawa “ dan lebih-lebih dengan “ ilmu-ilmu klenik “. Sementara itu beberapa

istilah lain seperti “ Agama Jawa “atau “ Agama Jawi “ ( Koentjaraningrat )

“ the religion of jawa “

( Clifford Geertz ) dan lain-lain, itu tidak identik

dengan “ Pandangan Hidup Jawa “ sekalipun terlihat adanya beberapa

segi persamaan.

C. Geertz dalam bukunya

the religion of java

(1960), 1 suatu

deskripsi

mengenai

agama,

orang

jawa

harus

membedakan

dua

meanifestasi dari agama islam jawa yang cukup banyak berbeda, yaitu

agama jawi dan agama islam santri.

Pandangan

hidup

Jawa

bukanlah

suatu

agama,

tetapi

suatu

pandangan hidup dalam arti yang luas, yang meliputi pandangan terhadap

Tuhan

dan

alam

semesta

ciptaanNYA

beserta

posisi

dan

peranan

manusia di dalamnya. Ini meliputi pula pandangan terhadap segala aspek

kehidupan manusia, termasuk pula pandangan terhadap kebudayaan

manusia beserta agama-agama yang ada.

1 Buku C. Geertz mengenai agama orang jawa itu mengandung deskripsi pertama yang pernah dibuat oleh seorang ahli mengenai kedua varian agama islam di Jawa.

5

jawa itu mengandung deskripsi pertama yang pernah dibuat oleh seorang ahli mengenai kedua varian agama islam

Folklore

Folklore Berbeda dengan pendapat sementara pakar yang menyimpulkan bahwa ciri karakteristik regiositas Jawa dan pandangan
Folklore Berbeda dengan pendapat sementara pakar yang menyimpulkan bahwa ciri karakteristik regiositas Jawa dan pandangan

Berbeda dengan pendapat sementara pakar yang menyimpulkan

bahwa ciri karakteristik regiositas Jawa dan pandangan hidup Jawa

bukanlah

sinkretisme

tetapi

suatu

semangat

yang

saya

beri

nama

tantularisme. Saya namakan demikian karena semangat ini bertumpu

pada atau memancar dari ajaran Empu Tantular lewat kalimat kakawin

Sutasoma :

….Budaya Jawa dan pandangan hidup Jawa memang telah dan akan selalu mengalami perubahan dan pergeseran sesuai dengan perkembangan jaman. Tetapi sejarah telah membuktikan bahwa perubahan-perubahan itu selama tidak sampai mencabut pandangan hidup Jawa dari akar dan sumber kekuatannya, yaitu tantularisme, yang adalah juga merupakan kristalisai dari proses sejarah yang amat panjang. Disinilah letak kekuatan budaya Jawa yang harus tetap dipertahankan dengan sadar. Semangat tantularisme yang merupakan sumber kekuatan Jawa itu sebenarnya bukan hanya cocok untuk orang Jawa. Ia bersifat universal. Oleh karena itu tantularisme juga merupakan sumbangan yang sebenarnya amat diperlukan oleh umat manusia sekarang ini….

Permusuhan dan perang antar etnik; persaingan, kebencian dan

kecemburuan antar pemeluk agama yang telah mengorbankan beribu-ribu

nyawa manusia yang senantiasa terjadi sampai sekarang ini, semuanya

akan dapat diredam oleh semangat tantularisme yang damai, sejuk dan

bernafaskan asih ing sasami. Tantularisme memancarkan cinta kasih

kepada sesama, yang juga diajarkan oleh semua agama yang dipeluk

oleh orang-orang yang membenci itu! Islam, Kristen, Hindu, Budha, Sikh,

dan

lain-lain,

semuanya

mengajarkan

cinta

ironisnya

sementara

ini

banyak

pemeluknya

bermusuhan! Atas nama agama ?

6

kasih

saling

kepada

sesama;

membenci

dan

sementara ini banyak pemeluknya bermusuhan! Atas nama agama ? 6 kasih saling kepada sesama; membenci dan

1.4.2 Sinkretisme Jawa

Pakar

dan

pengamat

budaya

Folklore

Jawa

berpendapat

bahwa

Pakar dan pengamat budaya Folklore Jawa berpendapat bahwa ciri karakteristik pandangan Jawa adalah sinkretisme. Namun

ciri

karakteristik pandangan Jawa adalah sinkretisme. Namun cukup banyak

pula

pengamat

yang

semacam itu.

tajam

penglihatannya,

meragukan

kesimpulan

Pengamatan yang tajam akan dapat melihat bahwa kecenderungan

yang paling menonjol dalam budaya Jawa bukanlah kecenderungan

sinkretik yang berupa kecenderungan atau semangat untuk membangun

suatu

sistem

kepercayaan

(termasuk

agama)

baru

dengan

menggabungkan

unsur-unsur

yang

berasal

dari

system

-

sistem

kepercayaan yang telah ada.

Para pengamat yang menyangkal sinkretisme sebagai ciri karektistik

pandangan Jawa itu, mencoba mencari istilah-istilah lain yang dianggap

lebih tepat, seperti istilah mosaik ( Abdulah Ciptoprawiro ), coalition (

Gonda ) atau sekedar “ Percampuran “ atau Vermenging ( Kern ) istilah-

istilah lain lagi yang juga dipakai oleh sementara pakar sebagai pengganti

istilah “ sinkretisme “ adalah amalgamtion, blending, fusi atau fusion (

peleburan ) dan lain-lain.

Memang dalam pengamatan sinkretisme bukanlah ciri karaktistik

pandangan Jawa, gejala sinkretisme dapat kita temui dimana-mana. Juga

dalam berbagai agama yang kita kenal sekarang ini, bahkan dalam A

Distionary Of Comparative Religion dinyatakan bahwa hanya sedikit saja

agama

yang

benar-benar

bebas

dari

7

sinkretisme.

Di

kalangan

Religion dinyatakan bahwa hanya sedikit saja agama yang benar-benar bebas dari 7 sinkretisme. Di kalangan

Folklore

Folklore masyarakata Jawa, kecenderungan sinkretisme memang ada kecenderungan itu cukup besar,
Folklore masyarakata Jawa, kecenderungan sinkretisme memang ada kecenderungan itu cukup besar,

masyarakata

Jawa,

kecenderungan

sinkretisme

memang

ada

kecenderungan

itu

cukup

besar,

tetapi

adalah

tidak

benar

kalau

disimpulkan

bahwa

sinkretisme

adalah

merupakan

ciri

karaktistik

pandangan

hidup

Jawa,

yang

betul-betul

merupakan

ciri

karaktistik

menurut penghayatan saya adalah semangat tantularisme itu.

Istilah “ tantulisme “ ini masih baru dan tentunya masih asing bagi

para pakar budaya Jawa. Sekalipun istilahnya baru, tetapi sebenarnya

tuntalisme adalah semangat yang sudah sejak jaman dahulu tumbuh

subur dikalangan masyarakat Jawa. Berbagai istilah alternatif terhadap

sinkretisme tersebut bisa dipersepsikan semangat yang terdapat di dalam

dan

merupakan

ciri

karetistik

pandangan

Jawa.Istilah-istilah

tersebut

terkesan hanya menunjuk pada bentuk dan proses yang terjadi, bukan

pada

semangat.

Istililah-istilah tersebut juga tidak mampu

menunjuk

secara tegas perbedaan yang mendasar dengan sinkretisme

 

Prof.

J.H.C

Kern

telah

menuangkan

pendapatnya

melalui

karangannya “ Over de Vermenging Van Civaisme en Buddhisme op Java,

Naar aanleiding van het Oudjavaasch gedicht Sutasoma “ hanya terpukau

pada proses

percampuran atau vermenging antar

dua agama yang

menjadi obyek penelitiannya, yaitu Civaisme ( Hindu ) dan Buddhisme.

Kebudayaan

Jawa

sebagai

subkultur

Kebudayaan

Nasional

Indonesia, telah mengakar bertahun-tahun menjadi Pandangan Hidup dan

Sikap Hidup orang Jawa. Sikap hidup masyarakat Jawa, memiliki identitas

dan karakter yang menonjol yang dilandasi dengan nasehat-nasehat

8

Jawa. Sikap hidup masyarakat Jawa, memiliki identitas dan karakter yang menonjol yang dilandasi dengan nasehat-nasehat 8

Folklore

Folklore nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta berbagai perlambang dalam ungkapan Jawa, menjadi
Folklore nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta berbagai perlambang dalam ungkapan Jawa, menjadi

nenek moyang sampai turun temurun, hormat kepada sesama serta

berbagai perlambang dalam ungkapan Jawa, menjadi jiwa seni dan

budaya Jawa.

Prinsip

pengendalian

diri

dengan

"Mulat

Sarisa"

suatu

sikap

bijaksana untuk selalu berusaha tidak menyakiti perasaan orang lain, serta

" Aja Dumeh " adalah peringatan kepada kita bahwa jangan takabur dan

jangan sombong, tidak mementingkan diri sendiri dan lain sebagainya

yang masih mempunyai arti yang sangat luas.

Kepercayaan

terhadap

roh

nenek

moyang,

menyatu

dengan

kepercayaan

terhadap

kekuatan

alam

yang

mempunyai

pengaruh

terhadap kehidupan manusia, menjadi ciri utama bahkan memberi warna

khusus dalam kehidupan religiusitas serta adat istiadat masyarakat Jawa.

Yaitu : Sinkretisme, Tantularisme dan Kejawen yang bersifat Toleran,

Akomodatif serta Optimistik.

Berbagai

perlambang

dan

ungkapan

Jawa,

merupakan

cara

penyampaian terselubung yang bermakna " Piwulang " atau pendidikan

moral, karena adanya pertalian budi pekerti dengan kehidupan spiritual,

menjadi petunjuk jalan dan arah terhadap kehidupan sejati. Terkemas

hampir sempurna dalam seni budaya gamelan dan gending-gending serta

kesenian wayang kulit purwa yang perkembanganya mempunyai warna

yang unik, yaitu dari akar yang kuat, berpegang pada kepercayaan

terhadap roh nenek moyang, kemudian bertambah maju setelah mengenal

serta

menggabungkan

segala

bentuk

9

kesenian

dari

India

dan

dan

roh nenek moyang, kemudian bertambah maju setelah mengenal serta menggabungkan segala bentuk 9 kesenian dari India

Folklore

Folklore kesenian asli Jawa serta menjadi sempurna dengan menambahkan ajaran Islami di pulau Jawa. Paham mistik
Folklore kesenian asli Jawa serta menjadi sempurna dengan menambahkan ajaran Islami di pulau Jawa. Paham mistik

kesenian asli Jawa serta menjadi sempurna dengan menambahkan

ajaran Islami di pulau Jawa.

Paham mistik yang berpokok " Manunggaling Kawula Gusti " (

persatuan manusia dengan Tuhan ) dan " Sangkan Paraning Dumadi " (

asal dan tujuan ciptaan ) bersumber pada pengalaman religius. Berawal

dari

sana,

manusia

rindu

untuk

bersatu

dengan

yang

Illahi,

ingin

menelusuri arus kehidupan sampai ke sumber dan muaranya. Perumusan

pengalaman religius Jawa dalam sejarahnya tidak lepas dari pengaruh

agama-agama besar seperti Hindu, Budha dan Islam beserta dengan

mistiknya yang khas, seperti terlihat dalam kitab-kitab Tutur, Kidung dan

Suluk.

I.5 Metode Penelitian

Metode

penelitian

ini

dipilih

dengan

mempertimbangkan

kesesuaian antara obyek yang diteliti serta studi ilmu yang bersangkutan.

Untuk mendeskripsikan secara mendalam fenomena budaya antropologi

industri khususnya mengenai sismbiosis mutualisme karyawan dengan

pihak pabrik, maka penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dengan

metode

ini

diharapkan

temuan-temuan

empiris

dapat

dideskripsikan

secara lebih rinci, lebih jelas dan lebih akurat, terutama berbagai hal yang

berkaitan dengan antropologi industri khususnya mengenai sismbiosis

mutualisme karyawan dengan pihak pabrik.

Salah satu pendekatan dari metode kualitatif yang tepat digunakan

pada

penelitian

ini

adalah etnometodologi yang menghasilkan

karya

10

dari metode kualitatif yang tepat digunakan pada penelitian ini adalah etnometodologi yang menghasilkan karya 10

etnografi.

Pendekatan

ini

pada

awalnya

Folklore

etnografi. Pendekatan ini pada awalnya Folklore diperkenalkan oleh Harorld Garfinkel (Pendit, 2003:281). Seperti yang
etnografi. Pendekatan ini pada awalnya Folklore diperkenalkan oleh Harorld Garfinkel (Pendit, 2003:281). Seperti yang

diperkenalkan

oleh

Harorld

Garfinkel (Pendit, 2003:281). Seperti yang disarankan oleh Bogdan dan

Biklen (1982:37 dalam Dyson, 2001:117), bahwa etnometodologi tidaklah

mengacu kepada suatu model atau teknik pengumpulan data ketika

seseorang sedang melakukan suatu penelitian, tetapi lebih memberikan

arah

mengenai

masalah

apa

yang

akan

diteliti.

mendefinisikan sebagai berikut:

Moleong

(1988)

“Studi tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupannya sehari–hari. Subyek etnometodologi adalah orang–orang dalam pelbagai macam situasi dalam masyarakat kita. Etnometodologi berusaha memahami berbagai orang–orang mulai melihat, menerangkan dan menguraikan keteraturan dunia tempat mereka hidup” (Moleong,

1988:15).

 

Dengan

menggunakan

pendekatan

ini,

lebih banyak

dipelajari

suatu

fenomena

dengan

pendukung

kebudayaan

tersebut,

sehingga

peneliti dapat memahami dan mendeskripsikannya. Salah satu antropolog

kenamaan

Clifford

Geertz

yang

mendorong

para

ilmuwan

sosial

(khususnya para antropolog) agar mementingkan sisi pandang yang

diteliti. Itu sebabnya antropologi memerlukan pendekatan yang mampu

menghasilkan thick description, yaitu gambaran yang sangat kental atau

padat dan terinci. Dalam hal ini maka dalam sebuah laporan penelitian

etnografi dapat dikatakan sebuah “fiksi antropologis” (meminjam istilah

Pendit,

2003)

yang

berupaya

keras

mengungkapkan

sebuah

obyek

penelitian dari sisi pandang peneliti. Dalam hal ini dapat dikategorikan pula

sebagai penelitian eksplorasi yang bersifat emik. Jadi bukan menurut

konsep dan tafsir kami.

11

dapat dikategorikan pula sebagai penelitian eksplorasi yang bersifat emik. Jadi bukan menurut konsep dan tafsir kami.

Folklore

Folklore Salah satu kritik terhadap etnometodologi (yang ditulis kembali oleh Pendit 2003:284-285) adalah pada keengganan
Folklore Salah satu kritik terhadap etnometodologi (yang ditulis kembali oleh Pendit 2003:284-285) adalah pada keengganan

Salah satu kritik terhadap etnometodologi (yang ditulis kembali oleh

Pendit

2003:284-285)

adalah

pada

keengganan

kami

menggunakan

banyak analisis teori dengan alasan ingin mengungkapkan sisi pandang

obyek penelitian sebagaimana adanya. Dengan kata lain etnometodologi

lebih

mengutamakan

bukti-bukti

empiris

daripada

teori.

Perdebatan

tentang hal ini sampai menimbulkan tuduhan bahwa karya etnografi

adalah empirisme gaya baru saja dan memicu perdebatan baru tentang

hubungan atau pertentangan antara pengetahuan berdasarkan teori dan

pengalaman.

Terlepas dari kritik-kritik di atas, etnometodologi telah berkembang

dan diterima sebagai salah satu upaya untuk mengurangi “pengaruh ilmu

eksak” terhadap ilmu sosial. Sebagai sebuah pendekatan dalam metode

penelitian ilmiah, etnometodologi dianggap sudah dapat membantu para

ilmuwan

sosial-budaya

dalam

memahami

fenomena

di

masyarakat,

khususnya

dalam

hal

ini

fenomena

antropologi

industri

khususnya

mengenai sismbiosis mutualisme karyawan dengan pihak pabrik

I.5.1 Lokasi penelitian

Pemilihan lokasi ini dilakukan secara purposive atau sengaja.

Karena secara langsung penelitian ini berlokasi di suatu tempat yaitu di

lokasi pabrik Makam Sunan Bonang di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

12

penelitian ini berlokasi di suatu tempat yaitu di lokasi pabrik Makam Sunan Bonang di Kabupaten Tuban,

I.5.2 Teknik penentuan informan

Folklore

I.5.2 Teknik penentuan informan Folklore Untuk memperolah kedalaman materi yang disajikan serta validitas data yang
I.5.2 Teknik penentuan informan Folklore Untuk memperolah kedalaman materi yang disajikan serta validitas data yang

Untuk memperolah kedalaman materi yang disajikan serta validitas

data yang diperoleh, maka pemilihan informan menjadi sesuatu yang

sangat penting mengingat dari merekalah awal mula data diperoleh dan

dikembangkan dalam proses selanjutnya. Informan adalah orang-orang

yang pengetahuannya luas dan mendalam mengenai masalah antropologi

industri

khususnya

mengenai

persepsi

masyarakat

lokal

tergadap

peziarah makam Sunan Bonang, sehingga ikut memberikan informasi

yang

bermanfaat

(Bungin,

2001:208).

Informan

dipilih

berdasarkan

beberapa

kriteria

tertentu,

dan

pemilihan

ini

juga

dilakukan

secara

purposive

(sengaja)

berdasarkan

informasi awal

yang

kami

peroleh.

Sedangkan kriteria pemilihan informan sebagaimana dikemukakan oleh

Spreadley (1995:61-70) adalah sebagai berikut:

1. Enkulturasi penuh

studi

Enkulturasi

merupakan proses yang ada dan pasti dalam setiap

tentang

suatu

budaya

tertentu.

Informan

yang

baik

adalah

bagaimana ia mengetahui dengan jelas baik secara perilaku maupun

kognisi budaya mereka tanpa harus memikirkannya. Kriteria ini merujuk

pada para informan yang (pernah) melihat langsung atau ikut bekerja di

lahan persawahan. Sehingga informan tersebut bersedia memberikan

informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan peran dan eksistensi

fenomena yang sedang diselidiki.

13

memberikan informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan peran dan eksistensi fenomena yang sedang diselidiki. 13

2. Keterlibatan langsung

Folklore

2. Keterlibatan langsung Folklore Keterlibatan langsung serta aktif seseorang informan dalam setiap perkembangan budaya
2. Keterlibatan langsung Folklore Keterlibatan langsung serta aktif seseorang informan dalam setiap perkembangan budaya

Keterlibatan langsung serta aktif seseorang informan dalam setiap

perkembangan budaya juga merupakan hal yang cukup penting. Untuk hal

ini kami merujuk pada perorangan yang terlibat bekerja di sekitar makam

sunan Bonang dan juga masyarakat lokal Tuban pada umumnya.

3. Suasana budaya yang tidak dikenal

Dalam kondisi ini jika seorang peneliti mempelajari suatu budaya

tertentu, dimana budaya tersebut tidak dikenalnya, maka seorang peneliti

diharuskan menciptakan sebuah hubungan yang sinergis dan produktif

dengan

informan.

Sementra

itu

seorang

peneliti

juga

diharuskan

mempunyai

sensitifitas

yang

tinggi

terhadap

kemampuan

membaca

fenomena sosial yang sedang ia amati.

4. Cukup waktu

Dalam pemilihan seorang informan, maka

hal – hal yang harus

mendapat perhatian khusus adalah informan – informan yang mempunyai

cukup waktu luang dan bersedia meluangkan waktunya untuk penelitian

ini. Kemudian dalam melakukan wawancara dengan informan, idealnya

waktu-waktu yang dipilih adalah siang dan sore hari atau waktu-waktu lain

yang telah disepakati antara peneliti dengan informan.

14

yang dipilih adalah siang dan sore hari atau waktu-waktu lain yang telah disepakati antara peneliti dengan

5. Non analitik

Folklore

5. Non analitik Folklore Informan yang bagus adalah ketika ia dapat memberikan sebuah respon yang cukup
5. Non analitik Folklore Informan yang bagus adalah ketika ia dapat memberikan sebuah respon yang cukup

Informan yang bagus adalah ketika ia dapat memberikan sebuah

respon yang cukup positif terhadap setiap pertanyaan–pertanyaan yang

diajukan oleh peneliti, tanpa ia harus memberikan sebuah analisa yang

rumit terhadap pertanyaan tersebut. Sehingga informasi yang didapat

bersifat polos apa adanya. Dan akhirnya informan – informan yang dipilih

adalah informan yang memenuhi kriteria – kriteria di atas.

I.5.3 Strategi pengumpulan data

Agar

memperoleh

informasi

yang

akurat

mengenai

pola

penggarapan sawah, penelitian ini dilakukan dengan cara pengamatan

langsung dan wawancara yang disertai dengan catatan lapangan. Dimana

dengan teknik tersebut dapat menghasilkan data ilmiah yang autentik dan

validitasnya dapat dipertanggung jawabkan.

Pengamatan langsung (observasi)

Dalam penelitian ini digunakan pengamatan langsung (observasi)

dan terlibat terhadap fenomena yang terjadi pada wilayah observasi, baik

berupa budaya fisik, situasi, kondisi maupun perilaku. Sehingga dapat

diatikan

bahwa

pengamatan

langsung

dan

terlibat

adalah

suatu

pengamatan yang dibarengi interaksi antara peneliti dengan informan.

Sudikan

(2001:59)

menyarankan

dalam

pengamatan

langsung

diperlukan pendekatan antropologi visual, yaitu berupa penggunaan alat

15

(2001:59) menyarankan dalam pengamatan langsung diperlukan pendekatan antropologi visual, yaitu berupa penggunaan alat 15

Folklore

Folklore bantu seperti alat pemotret (kamera) untuk mengambil foto atau gambar hidup (sebagai dokumentasi) pada
Folklore bantu seperti alat pemotret (kamera) untuk mengambil foto atau gambar hidup (sebagai dokumentasi) pada

bantu seperti alat pemotret (kamera) untuk mengambil foto atau gambar

hidup (sebagai dokumentasi) pada obyek-obyek yang relevan dengan

tema yang hendak diteliti, serta berhubungan dengan latar belakang

etnografisnya.

Wawancara mendalam

Dalam penelitian kualitatif, untuk mendapatkan sebuah gambaran

yang jelas mengenai pola budaya dalam suatu komunitas tertentu, Sevilla

(1992:71) menuliskan bahwa salah satu ciri penting dalam penelitian

adalah komunikasi langsung antara peneliti dengan informan yang telah

ditentukan.

Bentuk komunikasi langsung tersebut berupa wawancara terbuka

(open

interview)

dan

mendalam

(indepth

interview).

Maksud

dari

wawancara ini adalah untuk mengumpulkan seluruh keterangan tentang

antropologi industri khususnya mengenai sismbiosis mutualisme karyawan

dengan pihak pabrik. Pelaksanaan wawancara tidak hanya sekali atau dua

kali, melainkan berulang-ulang dengan intensitas yang tinggi. Sudikan

(2001:64) menambahkan, untuk memfokuskan wawancara, diperlukan

catatan daftar pokok-pokok pertanyaan yang disebut pedoman wawancara

(interview guide).

Dengan pedoman wawancara yang digunakan sebagai penuntun,

kondisi ini memungkinkan proses wawancara berlangsung dangan santai

dan tekesan akrab. Sehingga ketika proses wawancara telah menciptakan

kondisi yang intens, maka informasi yang dihasilkan akan lebih detail.

16

ketika proses wawancara telah menciptakan kondisi yang intens, maka informasi yang dihasilkan akan lebih detail. 16

I.6. Analisis data

Penelitian

masyarakat

lokal

tentang

tergadap

Folklore

data Penelitian masyarakat lokal tentang tergadap Folklore folklore khususnya peziarah makam mengenai persepsi Sunan
data Penelitian masyarakat lokal tentang tergadap Folklore folklore khususnya peziarah makam mengenai persepsi Sunan

folklore

khususnya

peziarah

makam

mengenai

persepsi

Sunan

Bonang

ini

menggunakan strategi analisis kualitatif. Strategi ini dimaksudkan bahwa

analisis bertolak dari data dan bermuara pada simpulan-simpulan umum.

Di dalam penelitian ini, kesimpulan umum itu bisa berupa kategorisasi

maupun proposisi. Untuk membangun proposisi atau teori dapat dilakukan

dengan analisis induktif.

Maka dalam penelitian ini, akan digunakan analisis induktif melalui

beberapa tahap. Setidaknya Taylor dan Bogdan (1984:127 dalam Bungin,

2001:209) adalah sebagai berikut: (a) membuat definisi umum atau

kategorisasi yang bersifat sementara tentang folklore khususnya persepsi

masyarakat

lokal

tergadap

peziarah

makam

Sunan

Bonang

(b)

merumuskan suatu hipotesis untuk menguji kategorisasi tersebut secara

triangulasi,

hal

mana

didasarkan

pada

hasil

wawancara

mendalam,

pengamatan terlibat dan dokumentasi dari berbagai sumber (informan,

waktu dan tempat) yang berbeda, (c) mempelajari satu kasus untuk

melihat kecocokan antara kategorisasi dan hipotesis, (d) bila ditemui

kasus

negatif,

kategorisasi.

diformulasikan

kembali

hipotesis

atau

didefinisikan

Dari rumusan tersebut di atas, dapatlah kita menarik garis, bahwa

analisis data pada penelitian kualitatif berfungsi untuk mengorganisasikan

17

di atas, dapatlah kita menarik garis, bahwa analisis data pada penelitian kualitatif berfungsi untuk mengorganisasikan 17

Folklore

Folklore data. Data yang tekumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan, foto dokumentasi, biografi, artikel
Folklore data. Data yang tekumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan, foto dokumentasi, biografi, artikel

data. Data yang tekumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan,

foto dokumentasi, biografi, artikel dan sebagainya. Strategi analisis data

dalam

hal

ini

ialah

mengatur,

mengkategorikannya.

mengurutkan,

mengelompokkan,

dan

Dalam analisis, data tersebut dikaitkan dengan acuan teoritik yang

relevan dan sesuai dengan masalah yang dibahas dan sesuai dengan

perkembangan di lapangan. Yaitu dengan menggambarkan, menjelaskan

dan menguraikan secara detail atau mendalam dan sistematis tentang

keadaan yang sebenarnya, yang kemudian akan ditarik suatu kesimpulan

sehingga

diperoleh

suatu

penyelesaian

masalah

penelitian

yang

memuaskan.

 

Untuk

menghindari

kesalahan-kesalahan

analisis

data,

 

maka

peneliti

menggunakan

tahap-tahap

analisis

induktif

tersebut

di

atas

dengan cara silang (Bungin, 2001:210). Maksudnya data yang diperoleh

dari responden, disilang dengan teori-teori folklore.

Akhirnya perlu dikemukakan bahwa analisis data itu dilakukan

dalam

suatu

proses.

Proses

berarti

pelaksanaannya

sudah

mulai

dilakukan

sejak

pengumpulan

data

dilakukan

dan

dikerjakan

secara

intensif, yaitu sesudah meninggalkan lokasi penelitian.

18

pengumpulan data dilakukan dan dikerjakan secara intensif, yaitu sesudah meninggalkan lokasi penelitian. 18

Folklore

Folklore BAB II SUNAN BONANG DAN PERANAN PEMIKIRAN SUFISTIKNYA II.1 Jatidiri Sunan Bonang Di kalangan ulama
Folklore BAB II SUNAN BONANG DAN PERANAN PEMIKIRAN SUFISTIKNYA II.1 Jatidiri Sunan Bonang Di kalangan ulama

BAB II SUNAN BONANG DAN PERANAN PEMIKIRAN SUFISTIKNYA

II.1 Jatidiri Sunan Bonang

Di

kalangan

ulama

tertentu

mungkin

peranan

Sunan

Bonang

dianggap tidak begitu menonjol dibanding wali-wali Jawa yang lain. Tetapi

apabila kita mencermati manuskrip-manuskrip Jawa lama peninggalan

zaman Islam yang terdapat di Museum Leiden dan Museum Batavia

(sekarang dipindah ke Perpustakaan Nasional), justru Sunan Bonang

yang meninggalkan warisan karya tulis paling banyak, berisi pemikiran

keagamaan dan budaya bercorak sufistik.

Putra Raden Rahmad alias Sunan Ampel, dan cucu Maulana Malik

Ibrahim, yang nenek moyangnya berasal dari Samarqand (sebuah kota di

Uzbekistan sekarang) ini, masih bersaudara dengan Sunan Giri, wali yang

paling berpengaruh di Jawa Timur. Kedua bersaudara ini diperkirakan lahir

pada

pertengahan

abad

ke-15

M,

diduga

lahir

pada

tahun

1465

(Wikipedia, 2005), pada saat Kerajaan Majapahit sedang di ambang

keruntuhan. Sunan Bonang (nama sebenarnya Makhdum Ibrahim bergelar

Khalifah

Asmara)

wafat

sekitar

tahun

1525

M

di

Tuban,

tempat

kegiatannya terakhir dan paling lama, pada masa jayanya Kerajaan

Demak Darussalam.

Kedua

wali itu

dikenal

sebagai

pendakwah Islam

yang gigih.

Keduanya sama-sama belajar di Malaka dan Pasai, baru kemudian

19

wali itu dikenal sebagai pendakwah Islam yang gigih. Keduanya sama-sama belajar di Malaka dan Pasai, baru

Folklore

Folklore menunaikan ibadah haji di Mekah. Bedanya, jika Sunan Giri lebih condong pada ilmu fiqih, syariah,
Folklore menunaikan ibadah haji di Mekah. Bedanya, jika Sunan Giri lebih condong pada ilmu fiqih, syariah,

menunaikan ibadah haji di Mekah. Bedanya, jika Sunan Giri lebih condong

pada ilmu fiqih, syariah, teologi, dan politik; Sunan Bonang –tanpa

mengabaikan ilmu-ilmu Islam yang lain– lebih condong pada tasawuf dan

kesusastraan. Sumber-sumber sejarah Jawa, termasuk suluk-suluknya

sendiri menyatakan bahwa ia sangat aktif dalam kegiatan sastra, mistik,

seni lakon, dan seni kriya. Dakwah melalui seni dan aktivitas budaya

merupakan

senjatanya

yang

ampuh

memeluk agama Islam.

untuk

menarik

penduduk

Jawa

Sebagai musikus dan komponis terkemuka, konon Sunan Bonang

menciptakan

beberapa

komposisi

(gending),

di

antaranya

Gending

Dharma. Gending ini dicipta berdasarkan wawasan estetik sufi, yang

memandang alunan bunyi musik tertentu dapat dijadikan sarana kenaikan

menuju alam kerohanian. Gending Darma, konon, apabila didengar orang

dapat menghanyutkan jiwa dan membawanya ke alam meditasi (tafakkur).

Penabuhan

gending

ini

pernah

menggagalkan

rencana

perampokan

gerombolan bandit di Surabaya. Manakala gending ini ditabuh oleh Sunan

Bonang, para perampok itu terhanyut ke alam meditasi dan lupa akan

rencananya melakukan perampokan. Keesokannya pemimpin bandit dan

anak buahnya menghadap Sunan Bonang, dan menyatakan diri memeluk

Islam.

Sunan

Bonang

bersama

Sunan

Kalijaga

dan

lain-lain,

jelas

bertanggung jawab bagi perubahan arah estetika Gamelan. Musik yang

semula bercorak Hindu dan ditabuh berdasarkan wawasan estetik Sufi.

20

bagi perubahan arah estetika Gamelan. Musik yang semula bercorak Hindu dan ditabuh berdasarkan wawasan estetik Sufi.

Folklore

Folklore Tidak mengherankan gamelan Jawa menjadi sangat kontemplatif dan meditatif, berbeda dengan gamelan Bali yang
Folklore Tidak mengherankan gamelan Jawa menjadi sangat kontemplatif dan meditatif, berbeda dengan gamelan Bali yang

Tidak mengherankan gamelan Jawa menjadi sangat kontemplatif dan

meditatif, berbeda dengan gamelan Bali yang merupakan warisan musik

Hindu. Warna sufistik gamelan Jawa ini lalu berpengaruh pada gamelan

Sunda dan Madura.

Sunan Bonang juga menambahkan instrumen baru pada gamelan.

Yaitu

bonang

(diambil

dari

gelarnya

sebagai

wali

yang

membuka

pesantren pertama di Desa Bonang). Bonang adalah alat musik dari

Campa, yang dibawa dari Campa sebagai hadiah perkawinan Prabu

Brawijaya

dengan

Putri

Campa,

yang

juga

saudara

sepupu

Sunan

Bonang. Instrumen lain yang ditambahkan pada gamelan ialah rebab, alat

musik Arab yang memberi suasana syahdu dan harus apabila dibunyikan.

Rebab, yang tidak ada

pada gamelan Bali, sangat dominan dalam

gamelan Jawa, bahkan didudukkan sebagai raja instrumen.

Sebagai Imam pertama Masjid Demak, Sunan Bonang bersama

wali lain, terutama murid dan sahabat karibnya Sunan Kalijaga, sibuk

memberi warna lokal pada upacara-upacara keagamaan Islam seperti Idul

Fitri, perayaan Maulid Nabi, peringatan Tahun Baru Islam (1 Muharram

atau 1 Asyura) dan lain-lain. Dengan memberi warna lokal maka upacara-

upacara itu tidak asing dan akrab bagi masyarakat Jawa. Syair Islam pun

akan

mulus

dan

ajaran

Islam

mudah

diresapi.Toh,

menurut

Sunan

Bonang, kebudayaan Islam tidak mesti kearab-araban. Menutupi aurat

tidak mesti memakai baju Arab, tetapi cukup dengan memakai kebaya dan

kerudung.

21

mesti kearab-araban. Menutupi aurat tidak mesti memakai baju Arab, tetapi cukup dengan memakai kebaya dan kerudung.

Folklore

Folklore Di antara upacara keagamaan yang diberi bungkus budaya Jawa, yang sampai kini masih diselenggarakan ialah
Folklore Di antara upacara keagamaan yang diberi bungkus budaya Jawa, yang sampai kini masih diselenggarakan ialah

Di antara upacara keagamaan yang diberi bungkus budaya Jawa,

yang sampai kini masih diselenggarakan ialah upacara Sekaten dan

Grebeg Maulid. Beberapa lakon carangan pewayangan yang bernapas

Islam juga digubah oleh Sunan Bonang bersama-sama Sunan Kalijaga.

Di antaranya Petruk Jadi Raja dan Layang Kalimasada.

Setelah berselisih paham dengan Sultan Demak I, yaitu Raden

Patah, Sunan Bonang mengundurkan diri sebagai Imam Masjid Kerajaan.

Ia pindah ke desa Bonang, dekat Lasem, sebuah desa yang kering

kerontang dan miskin. Di sini ia mendirikan pesantren kecil, mendidik

murid-muridnya dalam berbagai keterampilan di samping pengetahuan

agama. Di sini pula Sunan Bonang banyak mendidik para mualaf menjadi

pemeluk

Islam

yang

teguh.

Suluk-suluknya

seperti

Suluk

Wujil,

menyebutkan bahwa ia bukan saja mengajarkan ilmu fikih dan syariat

serta teologi, melainkan juga kesenian, sastra, seni kriya, dan ilmu

tasawuf. Tasawuf diajarkan kepada siswa-siswanya yang pandai, jadi

tidak diajarkan kepada sembarangan murid.

Keahliannya

di

bidang

geologi

dipraktekkan

dengan

menggali

banyak sumber air dan sumur untuk perbekalan air penduduk dan untuk

irigasi pertanian lahan kering. Sunan Bonang juga mengajarkan cara

membuat terasi, karena di Bonang banyak terdapat udang kecil untuk

pembuatan

terasi.

Sampai

kini

terasi

Bonang

sangat

terkenal,

dan

merupakan sumber penghasilan penduduk desa yang cukup penting.

22

terasi. Sampai kini terasi Bonang sangat terkenal, dan merupakan sumber penghasilan penduduk desa yang cukup penting.

II.2 Karya dan Ajaran

Folklore

II.2 Karya dan Ajaran Folklore Karya Sunan Bonang, puisi dan prosa, cukup banyak. Di antaranya sebagaimana
II.2 Karya dan Ajaran Folklore Karya Sunan Bonang, puisi dan prosa, cukup banyak. Di antaranya sebagaimana

Karya Sunan Bonang, puisi dan prosa, cukup banyak. Di antaranya

sebagaimana disebut B Schrieke (1913), Purbatjaraka (1938), Pigeaud

(1967), Drewes (1954, 1968 dan 1978) ialah Suluk Wujil, Suluk Khalifah,

Suluk Regok, Suluk Bentur, Suluk Wasiyat, Suluk Ing Aewuh, Suluk

Pipiringan, Suluk Jebeng dan lain-lain. Satu-satunya karangan prosanya

yang dijumpai ialah Wejangan Seh Bari. Risalah tasawufnya yang ditulis

dalam

bentuk

dialog

antara

guru

tasawuf

dan

muridnya

ini

telah

ditranskripsi, mula-mula oleh Schrieke dalam buku Het Boek van Bonang

(1913) disertai pembahasan dan terjemahan dalam bahasa Belanda,

kemudian disunting lagi oleh Drewes dan disertai terjemahan dalam

bahasa Inggris yakni The Admonition of Seh Bari (1969).

Sedangkan

Suluk

Wujil

ditranskripsi

Purbatjaraka

dengan

pembahasan ringkas dalam tulisannya “Soeloek Woedjil: De Geheime leer

van Soenan Bonang” (majalah Djawa no. 3-5, 1938). Melalui karya-

karyanya itu kita dapat memetik beberapa ajarannya yang penting dan

relevan. Seluruh ajaran Tasawuf Sunan Bonang, sebagai ajaran Sufi yang

lain, berkenaan dengan metode intuitif atau jalan cinta (isyq) pemahaman

terhadap ajaran Tauhid; arti mengenal diri yang berkenaan dengan ikhtiar

pengendalian diri, jadi bertalian dengan masalah kecerdasan emosi;

masalah kemauan murni dan lain-lain.

Cinta menurut pandangan Sunan Bonang ialah kecenderungan

yang kuat kepada Yang Satu, yaitu Yang Mahaindah. Dalam pengertian ini

23

pandangan Sunan Bonang ialah kecenderungan yang kuat kepada Yang Satu, yaitu Yang Mahaindah. Dalam pengertian ini

Folklore

Folklore seseorang yang mencintai tidak memberi tempat pada yang selain Dia. Ini terkandung dalam kalimah syahadah
Folklore seseorang yang mencintai tidak memberi tempat pada yang selain Dia. Ini terkandung dalam kalimah syahadah

seseorang yang mencintai tidak memberi tempat pada yang selain Dia. Ini

terkandung dalam kalimah syahadah La ilaha illa Llah. Laba dari cinta

seperti itu ialah pengenalan yang mendalam (makrifat) tentang Yang Satu

dan perasaan haqqul yaqin (pasti) tentang kebenaran dan keberadaan-

nya. Apabila sudah demikian, maka kita dengan segala gerak-gerik hati

dan perbuatan kita, akan senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan

oleh-Nya. Kita menjadi ingat (eling) dan waspada.

Cinta merupakan, baik keadaan rohani (hal) maupun peringkat

rohani (maqam). Sebagai keadaan rohani ia diperoleh tanpa upaya,

karena

Yang

Satu

sendiri

yang

menariknya

ke

hadirat-Nya

dengan

memberikan antusiasme ketuhanan ke dalam hati si penerima keadaan

rohani itu. Sedangkan sebagai maqam atau peringkat rohani, cinta dicapai

melalui ikhtiar terus-menerus, antara lain dengan memperbanyak ibadah

dan

melakukan

mujahadah,

yaitu

perjuangan

batin

melawan

kecenderungan buruk dalam diri disebabkan ulah hawa nafsu.

Ibadah

yang

sungguh-sungguh

dan

latihan

kerohanian

dapat

membawa seseorang mengenal kehadiran rahasia Yang Satu dalam

setiap aspek kehidupan. Kemauan murni, yaitu kemauan yang tidak

dicemari sikap egosentris atau mengutamakan kepentingan hawa nafsu,

timbul dari tindakan ibadah. Kita harus menjadikan diri kita masjid yaitu,

tempat bersujud dan menghadap kiblat-Nya, dan segala perbuatan kita

pun harus dilakukan sebagai ibadah. Kemauan mempengaruhi amal

24

dan menghadap kiblat-Nya, dan segala perbuatan kita pun harus dilakukan sebagai ibadah. Kemauan mempengaruhi amal 24

Folklore

Folklore perbuatan dan perilaku kita. Kemauan baik datang dari ingatan (zikir) dan pikiran (pikir) yang baik
Folklore perbuatan dan perilaku kita. Kemauan baik datang dari ingatan (zikir) dan pikiran (pikir) yang baik

perbuatan dan perilaku kita. Kemauan baik datang dari ingatan (zikir) dan

pikiran (pikir) yang baik dan jernih tentang-Nya.

Dalam Suluk Wujil (Pambudi, 2000), yang memuat ajaran Sunan

Bonang kepada Wujil pelawak cebol terpelajar dari Majapahit yang berkat

asuhan Sunan Bonang memeluk agama Islam sang — wali bertutur:

Jangan terlalu jauh mencari keindahan Keindahan ada dalam diri Malah jagat raya terbentang dalam diri Jadikan dirimu Cinta Supaya dapat kau melihat dunia (dengan jernih) Pusatkan pikiran, heningkan cipta Siang malam, waspadalah! Segala yang terjadi di sekitarmu Adalah akibat perbuatanmu juga Kerusakan dunia ini timbul, Wujil! Karena perbuatanmu Kau harus mengenal yang tidak dapat binasa Melalui pengetahuan tentang Yang Sempurna Yang langgeng tidak lapuk Pengetahuan ini akan membawamu menuju keluasan Sehingga pada akhirnya mencapai TuhanSebab itu, Wujil! Kenali dirimu Hawa nafsumu akan terlena Apabila kau menyangkalnya Mereka yang mengenal diri Nafsunya terkendali

Kelemahan dirinya akan tampak Dan dapat memperbaikinya

Dengan menyatakan `jagat terbentang dalam diri` Sunan Bonang

ingin menyatakan betapa pentingnya manusia memperhatikan potensi

kerohaniannya. Adalah yang spiritual yang menentukan yang material,

bukan sebaliknya. Tetapi karena pikiran manusia kacau, ia menyangka

yang material semata-mata yang menentukan hidupnya. Karena potensi

kerohaiannya inilah manusia diangkat menjadi khalifah Tuhan di bumi.

25

yang menentukan hidupnya. Karena potensi kerohaiannya inilah manusia diangkat menjadi khalifah Tuhan di bumi. 25

Folklore

Folklore Dalam Suluk Kaderesan (Pambudi, 2000), Sunan Bonang menulis: Jangan meninggikan diri Berlindunglah kepada-Nya
Folklore Dalam Suluk Kaderesan (Pambudi, 2000), Sunan Bonang menulis: Jangan meninggikan diri Berlindunglah kepada-Nya

Dalam Suluk Kaderesan (Pambudi, 2000), Sunan Bonang menulis:

Jangan meninggikan diri Berlindunglah kepada-Nya Ketahuilah tempat sebenarnya jasad ialah roh Jangan bertanya Jangan memuja para nabi dan wali-wali Jangan kau mengaku Tuhan.

Dalam Suluk Ing Aewuh (Pambusi, 2000), ia menyatakan:

Perkuat dirimu dengan ikhtiar dan amal Teguhlah dalam sikap tak mementingkan dunia Namun jangan jadikan pengetahuan rohani sebagai tujuan Renungi dalam-dalam dirimu agar niatmu terkabul Kau adalah pancaran kebenaran ilahi Jalan terbaik ialah tidak mamandang selain Dia.

II.3 Relevansi dan Pengaruh

Jelas sekali bahwa Sunan Bonang mengajarkan tasawuf positif

dengan menekankan pentingnya ikhtiar dan kemauan (kehendak) dalam

mencapai cita-cita.

Pengaruh ajaran ini juga terasa pula pada pandangan hidup dan

budaya masyarakat muslim pesisir, khususnya di Jawa Timur dan Madura.

Penduduk muslim Jawa Timur dan Madura sejak lama ialah pengikut

madzab Syafii yang patuh dengan kecenderungan tasawuf yang kuat.

Namun

mereka

juga

memiliki

etos

kerja

keras

dan

akrab

dengan

budayadagang. Tasawuf yang diresapi dan dipahami ternyata bukan

tasawuf yang eskapis dan pasif.

Sebaliknya yang dihayati ialah tasawuf yang aktif dan militan; aktif

dan militan dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik, dan juga dalam

26

ialah tasawuf yang aktif dan militan; aktif dan militan dalam kehidupan sosial, ekonomi dan politik, dan

Folklore

Folklore kehidupan agama dan kebudayaan.Pengaruh penting lain ajaran Sunan Bonang ialah pada pemikiran kebudayaan termasuk
Folklore kehidupan agama dan kebudayaan.Pengaruh penting lain ajaran Sunan Bonang ialah pada pemikiran kebudayaan termasuk

kehidupan agama dan kebudayaan.Pengaruh penting lain ajaran Sunan

Bonang ialah pada pemikiran kebudayaan termasuk dalam seni atau

wawasan estetik. Sunan Bonang berpendapat bahwa agama apa pun,

termasuk

Islam,

dapat

tersebar

cepat

dan

mudah

diresapi

oleh

masyarakat, apabila unsur-unsur penting budaya masyarakat setempat

dapat diserap dan diintegrasikan ke dalam sistem nilai dan pandangan

hidup agama bersangkutan.

II.4 Kontroversi Letak Makam Sunan Bonang

Menurut Setyorini (1998:15), Sunan Bonang wafat pada tahun

1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di Desa Bonang. Namun,

yang sering diziarahi adalah makamnya di kota Tuban. Lokasi makam

Sunan Bonang ada dua karena konon, saat beliau meninggal, kabar

wafatnya

beliau

sampai

pada

seorang

muridnya

yang

berasal

dari

Madura. Sang murid sangat mengagumi beliau sampai ingin membawa

jenazah beliau ke Madura. Namun, murid tersebut tak dapat membawanya

dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian beliau. Saat

melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari

Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah

Sunan Bonang dan akhirnys mereka memperebutkannya.

27

dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang dan akhirnys mereka

Folklore

Folklore BAB III PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI SUKMO KAWEKAS SUNAN BONANG Makam Sunan Bonang merupakan magnet bagi
Folklore BAB III PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI SUKMO KAWEKAS SUNAN BONANG Makam Sunan Bonang merupakan magnet bagi

BAB III PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI SUKMO KAWEKAS SUNAN BONANG

Makam Sunan Bonang merupakan magnet bagi kaum muslim di

Indonesia karena cerita ketokohannya yang mengakar dari generasi ke

genarasi melalui folklore maupun melalui buku-buku cerita wali songo

yang banyak beredar di masyarakat. Menurut Imam (1998:13), cerita yang

paling terkenal dari sejarah hidup Sunan Bonang adalah saat beliau

meyakinkan Raden Said (Sunan Kalijaga muda) yang saat itu menjadi

perampok, tentang ketuhanan Allah SWT dengan mengubah segerombol

buah enau menjadi emas di depan mata dan kepala raden Said. Kesaktian

Sunan Bonang yang melegenda tersebut tersebar ke seluruh penjuru

tanah Jawa dan menjadikannya seorang penyebar Islam yang sangat

disegani baik tutur kata maupun tindakannya.

Stratifikasi bukan hanya ada di kalangan masyarakat umum saja

seperti misalkan kaum petani, buruh, pedagang, tentara dan lainnya.

Stratifikasi juga muncul dalam bidang spesifik dalam sistem sosial budaya

masyarakat, yaitu agama. Dalam agama kita kenal beberapa strata

fungsional seperti nabi, rasul, tokoh-tokoh spesialis pembawa agama

seperti Sunan, missionaris, pemimpin-pemimpin agama, disamping ada

pula yang berstatus sebagai umat pengikut karena pada umumnya awam

dalam pengetahuan keagamaan mereka.

28

disamping ada pula yang berstatus sebagai umat pengikut karena pada umumnya awam dalam pengetahuan keagamaan mereka.

Folklore

Folklore Agus (2006:228), menuliskan bahwa pembagian antara pemimpin dan pengikut agama didasari oleh prinsip division of
Folklore Agus (2006:228), menuliskan bahwa pembagian antara pemimpin dan pengikut agama didasari oleh prinsip division of

Agus (2006:228), menuliskan bahwa pembagian antara pemimpin

dan pengikut agama didasari oleh prinsip division of labor atau pembagian

menurut tugas yang diembannya dalam masyarakat. Pembagian antara

pemimpin agama dan pengikut beragama ini biasa ditemukan di seluruh

kalangan

umat

beragama

dunia.

Sebagaimana

masyarakat

secara

keseluruhan membutuhkan seorang pemimpin dan para spesialis, umat

beragama juga membutuhkan kaum agama yang dinamakan religious

specialist.

Para pengikut agama memerlukan kaum spesialis agama untuk

menjelaskan agama dan membimbing mereka dalam pelaksaan ibadat.

Tidak

jarang

tugas

bertumpuk-tumpuk.

yang

diemban

oleh

Biasanya diawali dari

para

spesialis

pioneer

dalam

agama

ini

penyebaran

suatu agama, lalu menjadi pemimpin dari agama tersebut pada golongan

yang menjadi objek penyebaran agamanya. Selain itu para pemimpin

agama biasanya merangkap sebagai pemimpin daerah yang ditempati

oleh agama tersebut.

Dalam sejarah Kabupaten Tuban, Sunan Bonang beserta para

muridnya yang salah satunya adalah Sunan Kalijaga membuka lahan baru

untuk pemukiman warga dan menjadikan semua warganya beragama

Islam.

Sunan

Bonang

adalah

sosok

yang

sakti

mandraguna

dan

mempunyai kharisma sebagai pemimpin kelompok. Sunan Bonang saat

itu memiliki posisi rangkap, yaitu sebagai :

1. Pembuka lahan baru di hutan Tuban

29

pemimpin kelompok. Sunan Bonang saat itu memiliki posisi rangkap, yaitu sebagai : 1. Pembuka lahan baru

Folklore

Folklore 2. Penyebar agama Islam di Kabupaten Tuban 3. Pemimpin kelompok keluarga yang tinggal di lahan
Folklore 2. Penyebar agama Islam di Kabupaten Tuban 3. Pemimpin kelompok keluarga yang tinggal di lahan

2. Penyebar agama Islam di Kabupaten Tuban

3. Pemimpin kelompok keluarga yang tinggal di lahan baru

4. Pemimpin umat Islam

Dengan ”jabatan” rangkapnya inilah, masyarakat setempat sangat

menghargai eksistensi dari Sunan Bonang yang dianggap telah berjasa

banyak bagi berdirinya Kabupaten Tuban, bahkan sampai sekarangpun

roh Sunan Bonang masih dianggap melindungi wilayah Kabupaten Tuban.

Hal

tersebut

tidak

lepas

karena

kesaktian

Sunan

Bonang

semasa

hidupnya

yang

telah

menolong

banyak

orang.

Setelah

beliau

meninggalpun,

makam

tempat

jenazahnya

dikuburkan

masih

dikeramatkan dan dijaga betul kesuciannya.

Makam Sunan Bonang dijadikan tempat untuk ritual nyadran dan

berdoa agar keinginan bisa terkabul atau hanya sekedar ritual nyadranan

bersih desa dengan menghormati makam leluhur desa tanpa ada maksud

permohonan

pribadi

apapun

dibaliknya.

Pengakuan

masyarakat

Kabupaten Tuban terhadap eksistensi makam serta tokoh Sunan Bonang

nampak dari nyadranan yang sering dilakukan masyarakat sekitar maupn

darimluar Kabupaten. Bila ada hajat atau keperluan yang nampak mustahil

dikerjakan, maka masyarakat berdoa serta memberikan sesajen di makam

Sunan Bonang.

Pengakuan dari umat Islam tersebut membuat makam Sunan

Bonang menjadi simbol kuatnya pengaruh Islam di tanah Jawa khususnya

Kabupaten Tuban. Sedekah bumi Kabupaten Tuban juga sering dilakukan

30

kuatnya pengaruh Islam di tanah Jawa khususnya Kabupaten Tuban. Sedekah bumi Kabupaten Tuban juga sering dilakukan

Folklore

Folklore di makam Sunan Bonang, dimana semua penduduk desa turut bergabung tanpa memandang golongan Kristen atau
Folklore di makam Sunan Bonang, dimana semua penduduk desa turut bergabung tanpa memandang golongan Kristen atau

di makam Sunan Bonang, dimana semua penduduk desa turut bergabung

tanpa memandang golongan Kristen atau Islam. Mereka berdoa bersama

demi kelanjutan hidup masyarakat Kabupaten Tubandengan memohon

perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa melalui makam Sunan Bonang.

Diluar ritual sedekah bumi yang dilaksanakan setahun sekali di

Kabupaten Tuban, makam Sunan Bonang juga sering dijadikan tempat

orang-orang yang punya hajat agar cepat dikabulkan. Menurut informan

kami, Nawawi (42), sebagain besar orang yang mempunyai hajat dan

memohon di makam Sunan Bonang adalah masyarakat Kabupaten Tuban

sendiri, sisanya adalah masyarakat dari Kabupaten sekitar Tuban.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Sunan Bonang dianggap sebagai

pemimpin yang baik dan mempunyai kesaktian tinggi oleh masyarakat

Kabupaten Tuban. Makamnya juga dianggap keramat dan memiliki daya

magis dalam mengabulkan semua permintaan Kabupaten Tuban.

Sebenarnya berdoa pada makam atau nyadran di makam bukanlah

kegiatan yang dianjurkan, bahkan dilarang oleh agama Islam. Hal tersebut

merupakan pengaruh dari kepercayaan Jawa kuno mengenai hal-hal

mistik yang mampu mengabulkan permintaan mereka. Masyarakat Jawa

tradisional masih menganggap bahwa berdoa pada makam-makam tokoh

yang dikenal memiliki kesaktian akan mempercepat terkabulnya hajat

yang

mereka

inginkan.

Menurut

informan

seorang pengurus makam Sunan Bonang:

31

penulis,

Tadji

(36),

salah

hajat yang mereka inginkan. Menurut informan seorang pengurus makam Sunan Bonang: 31 penulis, Tadji (36), salah

Folklore

Folklore ” nek sak ngertos kulo nggih katahe tiyang mriki kagem ngalap berkah mawon, sing bener-bener
Folklore ” nek sak ngertos kulo nggih katahe tiyang mriki kagem ngalap berkah mawon, sing bener-bener

nek sak ngertos kulo nggih katahe tiyang mriki kagem ngalap berkah mawon, sing bener-bener pengen ziarah kubur ndongo kagem tenange sukmonipun kanjeng Sunan mung sakipret mawon mas. Lha wong tiyang tebih-tebih saking Rembang, Semarang, Kudus, Pati sampe Jakarta nopo kok mas. Nggih mesti wonten karepe nggih to mas?”

” kalau setahu saya kebanyakan orang (peziarah) yang datang kesini untuk meminta berkah (memohon suatu permintaan) saja, yang benar- benar ingin ziarah kubur berdoa demi tenangnya roh yang mulia Sunan Bonang Cuma sedikit mas. Orang-orang datang dari jauh seperti dari rembang, Semarang, Kudus, pati sampai Jakarta. Pasti mereka punya kemauan tersendiri ya khan mas?”

Masyarakat

seakan

ingin

menggabungkan

antara

dua

bentuk

keyakinan yang berbeda, mereka ingin membuktikan bahwa ketiga bentuk

tersebut bisa bersanding dan menghasilkan sebuah harmoni inter-religi

yang sekarang ini banyak disorot oleh publik. Kesaktian Sunan Bonang

yang

sangat

tinggi

membuat

makamnya

dianggap

keramat

hingga

sekarang. Makam yang di nisannya berbentuk salib tersebut banyak

tersebar

bunga-bunga

turi

dan

mawar

segar,

berarti

hal

tersebut

mengindikasikan makam tersebut benar-benar dikeramatkan oleh warga

setempat dan masih sering dikunjungi.Warga seakan tidak mempedulikan

apakah Sunan Bonang merupakan penyebar agama Kristen yang ada di

Mojowarno atau justru penyebar agama Islam.

Dengan adanya beberapa testimoni mengenai doa-doa mereka

yang terkabul setelah berdoa di makam Sunan Bonang dan menyebar di

kalangan

masyarakat

luas

melalui

pembicaraan

serta

gosip,

maka

semakin banyak orang yang datang ke makam Sunan Bonag bukan hanya

untuk ziarah kubur melainkan untuk ngalap berkah atau yang biasa

disebut dengan meminta agar permohonannya dikabulkan lewat makam.

32

kubur melainkan untuk ngalap berkah atau yang biasa disebut dengan meminta agar permohonannya dikabulkan lewat makam.

Folklore

Folklore Dalam masyarakat Jawa tradisional terdapat satu konsep religi yang sangat populer yaitu konsep Sukmo Kawekas
Folklore Dalam masyarakat Jawa tradisional terdapat satu konsep religi yang sangat populer yaitu konsep Sukmo Kawekas

Dalam masyarakat Jawa tradisional terdapat satu konsep religi

yang sangat populer yaitu konsep Sukmo Kawekas. Konsep tersebut

menjelaskan bahwa roh seorang tokoh sakti mandraguna pada masa

hidupnya dapat dengan mudah menyampaikan keinginan-keinginan atau

doa pada Tuhan bila ada manusia di dunia yang memohon pada rohnya

dan menghargai segala peninggalannya. Seperti yang dituturkan informan

penulis, Sukman (53):

”tiyang-tiyang niku nganggepe nek ndongo ting makame kanjeng Sunan Bonang niku gampang keturutane mas, biasane niku kajat-kajat ingkang ageng utawi kajat kados ketrimo mboten ting gaweane. Soale sukmone kanjeng Sunan niku kawekas kalian gusti Allah lan saget nyampeaken dongane tiyang kathah ingkang nyuwun ting makame kanjeng Sunan”

”orang-orang itu (peziarah) menganggap kalau berdoa di makamnya Sunan Bonang mudah untuk terkabul mas, biasanya itu hajat-hajat (kemauan) yang besar atau hajat seperti keterima atau tidaknya seseorang dalam suatu pekerjaan. Karena rohnya yang mulia Sunan Bonang itu dekat dengan Allah dan bisa menyampaikan doa orang banyak yang memohon di makamnya yang mulia Sunan Bonang”

Konsep tersebut akhirnya banyak diaplikasikan oleh masyarakat

dengan memohon dan berdoa pada roh-roh orang yang dulunya dianggap

sakti

mandraguna

dan

mempunyai

kharisma

luar

biasa.

Mereka

beranggapan bahwa doa dan keinginan mereka cepat tersampai bila

disampaikan pada roh tokoh tersebut dan menyampaikannya pada Tuhan.

Roh tokoh sakti dianggap bisa menjadi mediator dalam penyampaian doa

dan keinginan kepada Tuhan.

Sunan Bonang dianggap masyarakat sebagai seorang tokoh sakti

mandraguna dan menjadi pemimpin berkharisma selama hidupnya di

Kabupaten Tuban, rohnya bisa menjadi mediator yang baik bagi doa dan

keinginan bagi siapapun yang memohon dan menghargai peniggalannya.

33

rohnya bisa menjadi mediator yang baik bagi doa dan keinginan bagi siapapun yang memohon dan menghargai

Folklore

Folklore Faktor kedua adalah Sunan Bonang tetap diakui dan dihargai karena jasa- jasanya membuka lahan baru
Folklore Faktor kedua adalah Sunan Bonang tetap diakui dan dihargai karena jasa- jasanya membuka lahan baru

Faktor kedua adalah Sunan Bonang tetap diakui dan dihargai karena jasa-

jasanya membuka lahan baru bagi masyarakat dan menyebarkan agama

Islam di Kabupaten Tuban. Sunan Bonang tidak hanya menyebarkan

Islam saja, namun juga ikut menata, memimpin serta menjaga desanya

dari gangguan pihak asing.

Testimoni-testimoni

mengenai

keberhasilan

doa-doa

penduduk

dalam memohon hajat menyebar ke seluruh penjuru pulau Jawa dan

terdengar hingga ke pelosok, sehingga membuat orang datang berduyun-

duyun untuk membuktikan keberhasilan doa. Penyebaran berita lewat

bahasa lisan masyarakat merupakan bagian dari kajian folklore yang

memang harus dipelajari lebih dalam.

Jadi,

faktor diatas yang secara langsung maupun tidak langsung

membuat makam Sunan Bonang masih tetap eksis, dihargai dan dihormati

bahkan menjadi populer sebagai tempat untuk mencari berkah.

34

Sunan Bonang masih tetap eksis, dihargai dan dihormati bahkan menjadi populer sebagai tempat untuk mencari berkah.

Folklore

Folklore BAB IV PERSEPSI EKONOMIS DARI BANYAKNYA PEZIARAH YANG DATANG Persepsi ekonomis datangnya dari masyarakat lokal
Folklore BAB IV PERSEPSI EKONOMIS DARI BANYAKNYA PEZIARAH YANG DATANG Persepsi ekonomis datangnya dari masyarakat lokal

BAB IV PERSEPSI EKONOMIS DARI BANYAKNYA PEZIARAH YANG DATANG

Persepsi ekonomis datangnya dari masyarakat lokal yang tinggal di

sekitar makam Sunan Bonang dan mempunyai jiwa oportunis dengan

memanfaatkannya

untuk

berdagang

barang-barang

religius

atau

berdagang makanan dan minuman bagi para peziarah yang datang.

Pedagang-pedagang

ini

tentunya

menaikkan

harga-harga

barang

dagangannya karena berada pada lokasi wisata dimana para peziarah

membutuhkan sesuatu yang urgent atau butuh buah tangan untuk dibawa

pulang. Menurut data yayasan Sunan Bonang (2005), jumlah pedagan

resmi yang memiliki kios di sekitar makam Sunan Bonang dan berada di

bawah binaan yayasan tersebut berjumlah 45 kios. Dari penjual barang-

barang keislaman sampai penjual buah tangan khas Tuban.

Karena para pedagang tahu bahwa para peziarah tidak akan mau

jauh

pergi

lagi

untuk

membeli

buah

tangan

atau

makanan,

maka

diciptakan khusus sentra pedagang di sekitar makam Sunan Bonang

dengan harga yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan harga pada

umumnya

di

Kabupaten

Tuban.

Seperti

misalnya

saat

penulis

mengadakan penelitian di warung-warung kecil sekitar makam Sunan

Bonang, penulis menemukan beberapa makanan ringan yang harganya

jauh diatas pemikiran penulis seperti misalnya rempeyek udang dengan

harga Rp.5000,- (lima ribu rupiah), harga tersebut bahkan lebih mahal dari

35

seperti misalnya rempeyek udang dengan harga Rp.5000,- (lima ribu rupiah), harga tersebut bahkan lebih mahal dari

Folklore

Folklore harga seporsi nasi pecel yang mereka tawarkan dengan harga Rp. 3000,- (Tiga ribu rupiah). Bagi
Folklore harga seporsi nasi pecel yang mereka tawarkan dengan harga Rp. 3000,- (Tiga ribu rupiah). Bagi

harga seporsi nasi pecel yang mereka tawarkan dengan harga Rp. 3000,-

(Tiga ribu rupiah).

Bagi mereka (para pedagang di sekitar makam Sunan Bonang),

kedatangan para peziarah ke makam Sunan Bonang memberikan mereka

keuntungan yang berlimpah dan menjadikan hal tersebut sebagai ladang

penghasilan

mereka.

persepsi

mereka

terhadap

para peziarah

yang

datang adalah sebagai kantong uang yang siap untuk mengeluarkan uang

mereka demi barang-barang unik yang ada di sekitar makam Sunan

Bonang. Seperti yang dituturkan oleh Abid (32), salah sorang pedagang

barang-barang Islam di sekitar makam Sunan Bonang:

”nek aku yo tambah seneng yen akeh sing teko makam Sunan Bonang, tambah akeh sing tuku. Ne pas rame asile sak dino iso sigawe mangan seminggu, nek pas sepi koyok ngene iki paling yo iso digawe mangan cuman dino iki thok. Ra peduli karepe teko iku apane ngalap berkah utowo bener-bener ndungo”

”kalau saya tambah senang bila yang berziarah ke makam banyak, jadi banyak yang membeli barang saya. Kalau lagi musim ramai, hasil berdagang sehari bisa untuk makan seminggu, tapi kalau sedang sepi, mungkin Cuma bisa untuk makan satu hari ini saja. Saya tidak peduli dengan niat para peziarah yang datang, sekedar mau memohon permintaan atau berdoa”

Para pedagang bisa saja menaikkan harga dagangan mereka

200% saat musim ramai seperti pada saat haul Sunan Bonang atau pada

saat malam satu suro saat sedekah bumi berlangsung. Seperti misal

harga untuk sebotol air mineral kemasan 1,5% yang harga biasanya

berkisar antara Rp. 1500 - Rp 2000 menjadi Rp. 5000,-. Jadi pada intinya

sudut pandang masyarakat lokal yang diwakili oleh para pedagang di

sekitar

makam

Sunan

Bonang

menganggap

bahwa

para

peziarah

merupakan

sumber

pendapatan

bagi

mereka

karena

sebagian

dari

36

36

Folklore

Folklore mereka murni menggantungkan hidupnya dari berjualan di sekita area Sunan Bonang. Mereka tidak peduli apa
Folklore mereka murni menggantungkan hidupnya dari berjualan di sekita area Sunan Bonang. Mereka tidak peduli apa

mereka murni menggantungkan hidupnya dari berjualan di sekita area

Sunan Bonang. Mereka tidak peduli apa motif atau maksud kedatangan

para peziarah datang ke makam Sunan Bonang, bagi mereka yang pasti

adalah kedatangan para peziarah salalu menjadi yang terbaik demi

kelancara penghidupan mereka.

Persepsi ekonomis juga datang dari masyarakat non-pedagang

yang berpendapat bahwa semakin banyak peziarah yang datang ke

makam Sunan Bonang, maka semakin bertambah pula PAD (Pendapatan

Asli Daerah) Kabupaten Tuban. Seperti kita ketahui bersama bahwa PAD

juga

digunakan

untuk

pembangunan

masyarakat

dan

lingkungan.

Keterangan ini, penulis peroleh dari salah seorang informan, Sukasto (47):

”lha nek katah ingkang dateng ting makam Sunan Bonang, mestine pendapatan daerah lak bertambah toh mas, nek ngoten lak pembangunan tambah rejo, rakyate makmur”

”kalau banyak yang datang ke makam Sunan Bonang, pastinya pendapatan daerah bertambah banyak khan mas, kalau begitu pembangunan tambah maju, rakyat juga tambah makmur”.

Para penduduk tidak merasa terganggu dengan kedatangan para peziarah

yang datang ke makam Sunan Bonang, namun terkadang lalu lintas di

sekitar makam Sunan Bonang (yang kebetulan adalah tepat di jantung

kota) kacau karena banyak pengemudi becak yang melanggar aturan dan

banyak peziarah yang memenuhi jalan raya.

37

jantung kota) kacau karena banyak pengemudi becak yang melanggar aturan dan banyak peziarah yang memenuhi jalan

V.1 Kesimpulan

Folklore

V.1 Kesimpulan Folklore BAB V PENUTUP Penelitian penulis kali ini berhasil menelaah beberapa persepsi masyarakat lokal
V.1 Kesimpulan Folklore BAB V PENUTUP Penelitian penulis kali ini berhasil menelaah beberapa persepsi masyarakat lokal

BAB V

PENUTUP

Penelitian penulis kali ini berhasil menelaah beberapa persepsi

masyarakat lokal mengenai peziarah makam Sunan Bonang yang datang

setiap hari. Kebanyakan dari informan yang penulis wawancarai memang

berpendapat bahwa sebagian besar peziarah yang datang ke makam

Sunan Bonang mempunyai hajat tertentu yang ingin dikabulkan.

Makam Sunan Bonang memang banyak dijadikan sebagai media

meminta permohonan untuk dikabulkan, hal ini berkiatan dengan konsep

religi masyarakat jawa pada umumnya seperti yang penulis ketahui pada

saat melakukan wawancara dengan salah seorang informan. Konsep

tersebut mereka kenal dengan nama sukmo kawekas, konsep tersebut

menjelaskan bahwa Konsep tersebut akhirnya banyak diaplikasikan oleh

masyarakat dengan memohon dan berdoa pada roh-roh orang yang

dulunya dianggap sakti mandraguna dan mempunyai kharisma luar biasa.

Mereka beranggapan bahwa doa dan keinginan mereka cepat tersampai

bila disampaikan pada roh tokoh tersebut dan menyampaikannya pada

Tuhan.

Roh

tokoh

sakti

dianggap

bisa

menjadi

mediator

dalam

penyampaian doa dan keinginan kepada Tuhan.

Sunan Bonang dianggap masyarakat sebagai seorang tokoh sakti

mandraguna dan menjadi pemimpin berkharisma selama hidupnya di

38

Bonang dianggap masyarakat sebagai seorang tokoh sakti mandraguna dan menjadi pemimpin berkharisma selama hidupnya di 38

Folklore

Folklore Kabupaten Tuban, rohnya bisa menjadi mediator yang baik bagi doa dan keinginan bagi siapapun yang
Folklore Kabupaten Tuban, rohnya bisa menjadi mediator yang baik bagi doa dan keinginan bagi siapapun yang

Kabupaten Tuban, rohnya bisa menjadi mediator yang baik bagi doa dan

keinginan bagi siapapun yang memohon dan menghargai peniggalannya.

Faktor kedua adalah Sunan Bonang tetap diakui dan dihargai karena jasa-

jasanya membuka lahan baru bagi masyarakat dan menyebarkan agama

Islam di Kabupaten Tuban. Sunan Bonang tidak hanya menyebarkan

Islam saja, namun juga ikut menata, memimpin serta menjaga desanya

dari gangguan pihak asing.

Persepsi

lain

datang

dari

masyarakat

lokal

yang

Cenderung

memilki jiwa oportunistik, dalam persepsi mereka para peziarah adalah

pohon uang yang siap dipetik buahnya. Mereka memanfaatkan lokasi

makam Sunan Bonang untuk berdagang macam-macam barang antara

lain buah tangan khas Tuban, barang-barang keislaman, makanan dan

minuman.

V.2 Saran

Dari pengamatan penulis di lapangan, makam Sunan bonang

semakin kotor dari tahun ke tahun (karena penulis merupakan warga asli

Kabupaten Tuban). Penulis berharap agar pemerintah daerah Kabupaten

Tuban peka terhadap permasalahan lingkungan di sekitar makam Sunan

Bonang, karena makam Sunan Bonang adalah salah satu ikon Kabupaten

Tuban dan dikunjungi oleh para peziarah yang banyak datang dari luar

kota.

39

Bonang adalah salah satu ikon Kabupaten Tuban dan dikunjungi oleh para peziarah yang banyak datang dari

Folklore

Folklore Selain permasalahan tersebut, terdapat juga permasalahan lain yang datang dari bidang politik. Pada tahun 2005,
Folklore Selain permasalahan tersebut, terdapat juga permasalahan lain yang datang dari bidang politik. Pada tahun 2005,

Selain permasalahan tersebut, terdapat juga permasalahan lain

yang datang dari bidang politik. Pada tahun 2005, permasalahan datang

dari

perseteruan

antara

yayasan

Sunan

Bonang

yang

selama

ini

mengelola lokasi makam Sunan Bonang dengan Pemerintah Kabupaten

Tuban, tentang hak pengelolaan makam. Sampai sekarang masalah ini

masih menggantung da belim ditemukan solusinya. Penulis berharap

bahwa diantara kedua belah pihak mampu menemukan win-win solution

yang berdampak pada kalangsungan wisata religi makam Sunan Bonang

ini.

40

belah pihak mampu menemukan win-win solution yang berdampak pada kalangsungan wisata religi makam Sunan Bonang ini.