Anda di halaman 1dari 2

ATRESIA ESOFAGUS

BAB II

ATRESIA ESOFAGUS
DEFINISI
Atresia berarti tidak ada terbentuk, atresia esophagus adalah suatu keadaan tidak adanya
lubang atau muara (buntu), pada esophagus. Pada sebagian besar kasus atresia esophagus ujung
esophagus buntu, sedangkan pada 1/4-1/3 kasus lainnya esophagus bagian bawah berhubungan dengan
trakea setinggi karina (disebut sabagai atresia esopagus dengan fistula).
Atresia esophagus termasuk kelompok kelaianan congenital yang terdiri atas gangguan
kontinuitas esophagus dengan atau tanpa hubungan persisten dengan trakea. Pada penyakit ini,
terdapat suatu keadaan dimana bagian proksimal dan distal esophagus tidak berhubungan. Pada bagian
atas esophagus mengalami dilatasi yang kemudian berkahir sebagai kantung dengan dinding muskuler
yang mengalami hipertropi yang khas memanjang sampai pada tingkat vertebra torakal segmen 2-4.
Bagian distal esophagus merupakan bagian yang mengalami atresia dengan diameter yang kecil dan
dinding muskuler yang tipis. Bagian ini meluas sampai bagian atas diafragma.
Terdapat suatu penyakit yang sering menyertai penyakit ini yakni fistula trakeoesofagus. Fistula
trakeoesofagus adalah suatu kelainan hubungan antara trakea dan esophagus. Jika berhubungan dengan
atresia esophagus biasanya fistula terdapat antara bagian distal segmen esophagus dan bagian trakea
yang letaknya di atas karina. Meskipun begitu, kedua kelainana ini dapat pula muncul pada beberapa
tingkat antara kartilago krikoid dan karina, fistula trakeoesofagus dapat juga berjalan oblik pada bagian
akhir proksimal trakea atau pada tingkat vertebra torakal segmen kedua.

Page 4

ATRESIA ESOFAGUS

Fistula dari bahasa latin yang berarti pipa adalah koneksi abnormal berjalan baik antara dua
tabung atau antara tabung dan permukaan. Dalam traceo esophageal fistula berjalan antara trakea dan
kerongkongan. Koneksi ini mungkin atau mungkin tidak memiliki rongga pusat, jika tidak maka makanan
dalam kerongkongan bisa masuk ke trakea (dan pada paru-paru) atau dengan cara lain, udara di trakea
dapat menyeberang ke kerongkongan.

EPIDEMIOLOGI
Atresia esophagus pertama kali di kemukakan oleh Hirscprung seorang ahli anak dari
Copenhagen pada abad 17 tepatnya pada tahun 1862 dengan adanya lebih kurang 14 kasus atresia
esophagus. Kelainan ini sudah diduga sebagai suatu malformasi dari traktus gastrointestinal.
Meskipun sejarah penyakit atresia esophagus dan fistula trakeoesofagus telah dimulai pada
abad 17, namun penanganan bedah terhadap anomaly tersebut tidak berubah sampai tahun 1869. Baru
pada tahun 1939, Leven dan Ladd telah berhasil menyelesaikan penanganan terhadap atresia
esophagus. Lalu di tahun 1941 seorang ahli bedah Cameron Haigjit dari Michigan telah berhasil
melakukan operasi pada atresia esophagus dan sejak itu pulalah bahwa atresia esophagus sudah
termasuk kelainan congenital yang bisa diperbaiki.
Atresia esophagus terjadi pada 1 dari 3000-4500 kelahiran hidup : sekitar sepertiga anak yang
terkena lahir prematur. Pada lebih dari 85% kasus, fistula antara trakea dan esophagus distal menyertai
atresia. Lebih jarang, atresia esophagus atau fistula trakeoesofagus terjadi sendiri-sendiri atau dengan
kombinasi yang aneh. Gangguan pembentukan dan pergerakan lipatan pasangan cranial dan satu lipatan
kaudal pada usus depan primitive menjelaskan variasi-variasi pembentukan atresia dan fistula.
Kecenderungan peningkatan jumlah kasus atresia esophagus tidak berhubungan dengan ras
tertentu. Namun dari suatu penelitian didapatkan bahwa insiden atresia esophagus paling tinggi
ditemukan pada populasi kulit putih (1 kasus per 10.000 kelahiran) dibanding dengan populasi non kulit
putih (0,55 kasus per 10.000)

Page 4