Anda di halaman 1dari 162

RENCANA AKSI NASIONAL

PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA

Draft Perpres RAN-GRK versi Desember 2010

-2-

Draft, 8 Desember 2010

RANCANGAN
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR ..... TAHUN 2010
TENTANG
RENCANA AKSI NASIONAL PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang

a.

bahwa hak setiap orang untuk mendapatkan lingkungan hidup yang


baik dan sehat merupakan amanat UUD 1945 yang perlindungan dan
pemenuhannya harus senantiasa diupayakan oleh pemerintah;

b.

bahwa dalam rangka menindaklanjuti kesepakatan Copenhagen Accord


hasil The Conference of Parties ke-15 (COP-15) di Copenhagen dan
memenuhi komitmen Pemerintah Indonesia dalam pertemuan G-20
Pittsburg menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 26% dengan
usaha sendiri dan mencapai 41% jika mendapat bantuan internasional
pada tahun 2020 dari kondisi tanpa adanya rencana aksi (business as
usual/BAU), perlu disusun langkah-langkah untuk menurunkan Emisi
Gas Rumah Kaca (GRK);

c.

bahwa posisi geografis Indonesia sangat rentan terhadap dampak dari


perubahan iklim sehingga
perlu dilakukan upaya untuk
menanggulangi dampak tersebut melalui upaya mitigasi perubahan
iklim bersama masyarakat global;

d.

bahwa upaya penurunan emisi gas rumah kaca sebagaimana dimaksud


dalam huruf b dan c dilaksanakan oleh Pemerintah, Pemerintah
Daerah pelaku ekonomi dan masyarakat sebagai upaya untuk mitigasi
perubahan iklim di Indonesia, baik menggunakan pendanaan yang
bersumber dari dalam negeri maupun dari luar negeri;

e.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam


huruf d perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Rencana Aksi
Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK);

-3-

Mengingat

1.

Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia


Tahun 1945;

2.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United


Nations Framework Convention on Climate Change (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 42, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3557);

3.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

4.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan


Protokol Kyoto atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsabangsa tentang Perubahan Iklim (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4403);

5.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4421);

6.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana


Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP) Tahun 2005 2025
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

7.

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi,


Klimatologi dan Geofisika (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia nomor 5058);

8.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan


Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia nomor 5059);

9.

Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara


Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan
Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2006 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4597);

10.

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana


Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010
2014;

-4-

MEMUTUSKAN :
Menetapkan

PERATURAN PRESIDEN TENTANG RENCANA AKSI


NASIONAL PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA (RANGRK).

Pasal 1
Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan:

1.

Perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan langsung


atau tidak langsung oleh aktivitas manusia sehingga menyebabkan
perubahan komposisi dan konsentrasi GRK di atmosfer secara global
dan selain itu juga berupa perubahan variabilitas iklim alamiah yang
teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.

2.

Mitigasi perubahan iklim adalah usaha pengendalian untuk


mengurangi risiko akibat perubahan iklim melalui kegiatan yang dapat
menurunkan emisi/meningkatkan penyerapan gas rumah kaca dari
berbagai sumber emisi.

3.

Gas Rumah Kaca (GRK) adalah gas yang terkandung dalam atmosfer
baik alami maupun antropogenik, yang menyerap dan memancarkan
kembali radiasi inframerah

4.

Serapan Gas Rumah Kaca adalah diserapnya gas rumah kaca yang ada
di atmosfer kembali ke dan disimpan di sistem lahan

5.

Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RANGRK) adalah dokumen kerja yang menyediakan landasan bagi
Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat serta pelaku ekonomi
untuk pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara langsung dan tidak
langsung menurunkan emisi Gas Rumah Kaca dalam periode 20102020 yang sesuai dengan target pembangunan nasional.

6.

Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RADGRK) adalah dokumen kerja yang menyediakan landasan bagi
Pemerintah Daerah, masyarakat dan pelaku ekonomi untuk
pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara langsung dan tidak
langsung menurunkan emisi Gas Rumah Kaca dalam periode 20102020 yang sesuai dengan target pembangunan daerah.

7.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, selanjutnya disebut


APBN, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang
disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

8.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, selanjutnya disebut


APBD, adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang
disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

-5-

9.

Inventarisasi GRK adalah kegiatan untuk memantau dan menghitung


tingkat dan status gas rumah kaca dari berbagai sumber emisi (sources)
dan penyerapnya (sink) akibat kegiatan manusia (antropogenik).

10.

Emisi GRK adalah lepasnya GRK ke atmosfer pada suatu area dalam
jangka waktu tertentu.

11.

Tingkat emisi GRK adalah tingkat konsentrasi dan komposisi emisi


GRK pada satu waktu tertentu.

12.

Terukur (Measurable) adalah tindakan/kegiatan untuk melihat


pencapaian status emisi atau peningkatan serapan GRK yang
dihasilkan dari kegiatan mitigasi perubahan iklim yang bersifat nyata
dan dapat diukur besarannya.

13.

Terlaporkan (Reportable) adalah tindakan/kegiatan pelaporan dari


besaran emisi yang diukur dari pelaksanaan kegiatan mitigasi sesuai
dengan format pelaporan yang dilengkapi dengan daftar dokumendokumen pendukung terkait kegiatan mitigasi yang dilakukan
diantaranya bentuk kegiatan mitigasi, teknologi dan sumber
pendanaan yang digunakan guna keperluan proses verifikasi.

14.

Terverifikasi (Verifiable) adalah tindakan/kegiatan pengujian terhadap


besaran emisi yang dilaporkan dari pelaksanaan kegiatan mitigasi yang
didukung oleh tersedianya dokumen-dokumen pendukung yang
diperlukan untuk verifikasi.

15. Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan yang


berprinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan
pemenuhan kebutuhan generasi masa depan.
16.

Kegiatan inti adalah kegiatan yang berdampak langsung pada


penurunan emisi GRK dan penyerapan GRK

17.

Kegiatan pendukung dalah kegiatan yang tidak berdampak langsung


pada penurunan emisi GRK tapi mendukung pelaksanaan kegiatan
inti

Pasal 2

(1)

Menetapkan Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah


Kaca selanjutnya disebut RAN-GRK, yang merupakan dokumen
perencanaan untuk penurunan emisi GRK sebesar 26% dalam
periode tahun 2010-2020 dan sesuai dengan Rencana Pembangunan
Jangka Panjang (RPJP 2005-2025) dan Rencana Pembangunan
Jangan Menengah (RPJM) pada periode tersebut.

(2)

RAN-GRK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam


Lampiran Peraturan Presiden ini yang merupakan satu kesatuan dan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini.

-6-

(3)

Lampiran peraturan presiden ini terdiri atas dua lampiran:


a. Lampiran 1 : Matriks Kegiatan Inti
b. Lampiran 2 : Matriks Kegiatan Pendukung

Pasal 3
(1)

Kegiatan dalam RAN-GRK sebagaimana dimaksud dalam pasal 2


ayat (2) mencangkup bidang-bidang sebagai berikut:
a. Bidang Pertanian, Kehutanan dan Lahan Gambut;
b. Bidang Energi, Industri dan Transportasi;
c. Bidang Pengelolaan Limbah.

(2)

Kegiatan-kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun


berdasarkan kriteria:
a. secara langsung menurunkan emisi GRK melalui penghitungan
yang dapat diukur, dilaporkan dan diverifikasi, dan/atau
merupakan prasyarat bagi pelaksanaan kegiatan yang menurunkan
emisi GRK;
b. menghasilkan penurunan emisi GRK dengan biaya satuan
termurah dan/atau merupakan kegiatan yang terintegrasi untuk
mencapai sasaran prioritas pembangunan secara berkelanjutan (cobenefit);
c. Secara tidak langsung menurunkan emisi GRK, baik berupa
kebijakan, peningkatan kapasitas manusia dan kelembagaan,
sosialisasi, penelitian tentang potensi penurunan GRK dan
kegiatan lain yang mempunyai andil dalam penurunan GRK;
d. Dalam
bidang Kehutanan dan Lahan Gambut perlu
diprioritaskan pada kegiatan pengurangan emisi dari pencegahan
deforestasi dan degradasi hutan, konservasi serta kegiatankegiatan lain yang mendukung potensi penurunan dan
penyerapan emisi GRK;
e. Diprioritaskan pada kegiatan-kegiatan yang menunjang upaya
pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon.

-7-

Pasal 4
(1)

RAN-GRK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) menjadi


acuan bagi Pemerintah, Pemerintah Daerah, masyarakat dan pelaku
ekonomi dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan, serta
monitoring dan evaluasi rencana aksi penurunan emisi GRK.

(2)

Untuk mendukung pelaksanaan RAN-GRK, Kementerian/Lembaga


terkait dan Pemerintah Daerah harus melakukan inventarisasi GRK
di bidang atau wilayah masing-masing.

(3)

RAN-GRK dapat dikaji ulang (review) secara berkala sesuai dengan


kebutuhan nasional dan perkembangan dinamika global terkini.

(4)

Hasil kaji ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dijadikan
rekomendasi untuk penyesuaian matriks kegiatan terhadap lampiran
Peraturan Presiden ini.

(5)

Perubahan atas Matriks Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)


ditetapkan oleh Menteri Koordinator Perekonomian

Pasal 5
RAN-GRK merupakan acuan dalam penyusunan RAD-GRK.

Pasal 6
Pendanaan RAN-GRK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2)
bersumber dari APBN, APBD dan sumber-sumber lain yang sah dan tidak
mengikat sesuai peraturan perundang-undangan.

Pasal 7
Untuk mendukung pelaksanaan RAN-GRK:
(1)

Menteri Koordinator Perekonomian bertugas:


a. melakukan koordinasi pelaksanaan dan pemantauan RAN-GRK
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) dengan melibatkan
para Menteri dan Gubernur yang terkait dengan upaya
penurunan Emisi GRK.
b.

melaporkan pelaksanaan RAN-GRK yang terintegrasi kepada


Presiden paling sedikit 1 tahun sekali.

-8-

(2)

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat bersama dengan Menteri


Koordinator Perekonomian bertugas melakukan koordinasi
pelaksanaan dan pemantauan RAN-GRK dalam proses inventarisasi
GRK dan penyusunan pedoman dan metodologi MRV (Measurable,
Reportable Verifiable)

(3)

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas


bertugas:
a. Mengkoordinasikan evaluasi dan kaji ulang RAN-GRK yang
terintegrasi sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (3) di atas
dan melaporkan hasil evaluasi kepada Menteri Koordinator
Perekonomian
b. Menyusun pedoman RAD-GRK yang akan diintegrasikan dalam
upaya pencapaian target nasional penurunan emisi GRK.

(4)

Menteri Lingkungan Hidup bertugas:


a. Mengkoordinasikan inventarisasi GRK yang dilakukan oleh
masing-masing Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah
dan melaporkan hasil inventarisasi GRK tersebut kepada Menteri
Koordinator Perekonomian.
b. Menyusun pedoman dan metodologi MRV (Measurable Reportable
Verifiable

(5)

Menteri Dalam Negeri bertugas memfasilitasi penyusunan RADGRK bersama-sama dengan Menteri Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Lingkungan Hidup.

(6)

Kementerian/Lembaga bertugas:
a. Melaksanakan RAN-GRK dan inventarisasi GRK pada
Kementerian/Lembaga masing-masing.
b. Memantau pelaksanaan RAN-GRK sebagaimana yang telah
diatur dalam Perpres ini secara berkala.
c. Melaporkan pelaksanaan kegiatan RAN-GRK yang telah
terverifikasi kepada Menteri Koordinator Perekonomian,
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas,
dan Menteri Lingkungan Hidup secara berkala, minimal satu
tahun sekali.

Pasal 8

(1)

Pemerintah Provinsi harus menyusun Rencana Aksi Daerah


Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) yang mengacu pada
RAN-GRK dan sesuai dengan prioritas pembangunan daerah
berdasarkan kemampuan APBD dan masyarakat.

(2)

Penyusunan RAD-GRK wajib diselesaikan paling lambat 12 (dua


belas) bulan sejak berlakunya Peraturan Presiden ini.

-9-

(3)

RAD-GRK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan


Peraturan Gubernur.

(4)

Gubernur menyampaikan RAD-GRK kepada Menteri Dalam Negeri


dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas
untuk diintegrasikan dalam upaya pencapaian target nasional
penurunan emisi GRK sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (3)
di atas .

Pasal 9
Ketentuan lebih lanjut tentang pelaksanaan RAN-GRK pada masingmasing Kementerian/Lembaga diatur oleh Menteri/Pimpinan Lembaga,
sesuai dengan tugas dan kewenangannya masing-masing.

Pasal 10
Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal .. Desember, 2010

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA


DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

- 10 -

Draft ke 26
03/10/2010

NASKAH AKADEMIS

RENCANA AKSI NASIONAL


PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA (GRK)
2010-2020

REPUBLIK INDONESIA
September, 2010

- 11 -

DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Visi Misi RAN-GRK
1.3 Tujuan dan Sasaran RAN-GRK
1.4 Kerangka Hukum dan Institusi
1.5 Rencana Aksi Penurunan Emisi GRK dan Perencanaan Pembangunan
2. ANALISIS KONDISI SAAT INI DAN PERMASALAHAN
2.1 Kondisi saat ini
2.2 Permasalahan
3. KERANGKA KEBIJAKAN DAN RUANG LINGKUP
3.1 Kerangka Kebijakan RAN-GRK
3.2 Metodologi Penetapan Kegiatan dan Target Penurunan Emisi
3.3 Prinsip-prinsip RAN-GRK
3.4 Ruang Lingkup RAN-GRK
3.5 Pengembangan RAN-GRK menuju NAMAs
4. STRATEGI NASIONAL PENURUNAN GAS RUMAH KACA
4.1 Arah Kebijakan Umum (cross cutting)
4.2 Arah Kebijakan dan Rencana Aksi Per Bidang
4.2.1 Bidang Kehutanan dan Pengelolaan Lahan Gambut
4.2.1.1 Arah Kebijakan
4.2.1.2 Rencana Aksi
4.2.2 Bidang Pertanian
4.2.2.1 Arah Kebijakan
4.2.2.2 Rencana Aksi
4.2.3 Bidang Energi dan Transportasi
4.2.3.1 Arah Kebijakan
4.2.3.2 Rencana Aksi
4.2.4 Bidang Industri
4.2.4.1 Arah Kebijakan
4.2.4.2 Rencana Aksi
4.2.5 Pengelolaan Limbah
4.2.5.1 Arah Kebijakan
4.2.5.2 Rencana Aksi
5. PENDANAAN
5.1 Kebijakan Pendanaan
5.2 Sumber Pendanaan
5.3 Mekanisme Pendanaan
6. MONITORING, EVALUASI, KAJI ULANG dan PELAPORAN
7. PENYUSUNAN RAD-GRK
8. PENUTUP

- 12 -

1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rencana Aksi

Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) ini merupakan

dokumen kerja yang menyediakan landasan bagi berbagai Kementerian/Lembaga serta


Pemerintah Daerah untuk pelaksanaan berbagai kegiatan yang secara langsung dan tidak
langsung akan menurunkan emisi gas rumah kaca dalam kerangka penurunan laju perubahan
iklim global. Emisi gas rumah kaca (GRK) sendiri dihasilkan dari alam dan berbagai kegiatan
pembangunan terutama dari kegiatan di bidang kehutanan, lahan gambut, limbah, pertanian,
transportasi, industri dan energi. Hal ini telah menjadi perhatian banyak pihak terkait dengan
terjadinya perubahan iklim global yang gejala dan dampaknya telah dirasakan oleh berbagai
negara di dunia termasuk Indonesia.
Dokumen ini disusun sebagai bagian dari rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) dan
menengah (RPJM) dalam kerangka kebijakan pembangunan berkelanjutan untuk menanggulangi
dampak perubahan iklim, khususnya untuk menurunkan emisi GRK, terutama untuk beberapa
bidang pembangunan yang prioritas. Penyusunan dokumen ini juga merupakan tindak lanjut dari
komitmen Indonesia terhadap penanggulangan permasalahan perubahan iklim global, yang
disampaikan oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dalam pidatonya di depan pemimpin
negara G-20 pada pertemuan di Pittsburgh, Amerika Serikat, 25 September 2009. Berdasarkan
skenario SNC (Second National Communication) tingkat emisi di Indonesia diperkirakan akan
meningkat dari 1,72 Gton CO2e pada tahun 2000 (KLH, 2009) menjadi 2,95 Gton CO2e pada
tahun 2020 (KLH 2009). Perhitungan tersebut akan ditinjau kembali secara periodik dengan
menggunakan metodologi, data dan informasi yang lebih baik. Peningkatan emisi tersebut,
sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan atau aktivitas di bidang kehutanan dan lahan gambut,
pertanian, energi, industri dan transportasi, serta limbah.

- 13 -

Gambar 1.1 Skenario SNC Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) 2000-2020
Berdasarkan kondisi tersebut, secara sukarela Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan
emisi GRK sebesar 26 persen pada tahun 2020 dari tingkat emisi BAU (Bussiness as Usual/Tanpa
Rencana Aksi). Bila digunakan skenario SNC target penurunan emisi GRK pada tahun 2020
sebesar 26% adalah 0,767 Gton CO2e, dan kemungkinan tambahan sebesar 15 persen (0,477
Gton CO2e) menjadi 41 persen apabila ada dukungan pendanaan internasional. Besaran angkaangka penurunan emisi GRK ini juga masih akan diperhitungkan kembali secara lebih akurat
dengan menggunakan metodologi, data dan informasi yang lebih baik.
Dokumen ini diharapkan menjadi rencana aksi yang bersifat terintegrasi, konkrit, terukur dan
dapat diimplementasikan untuk jangka waktu 2010-2020. Selain itu, rencana aksi ini disusun
berdasarkan prinsip terukur, dapat dilaporkan dan dapat diverifikasi (measurable, reportable and
verifiable/MRV), agar dapat dipertanggung jawabkan hasilnya, sesuai dengan prinsip yang akan
diterapkan oleh UNFCCC untuk kegiatan mitigasi perubahan iklim yang dilakukan oleh negara
para pihak.
Untuk merealisasikan tujuan dan target di atas perlu disusun berbagai intervensi dan rencana aksi
yang disesuaikan dengan kebijakan program mitigasi perubahan iklim yang dilaksanakan dan
didukung oleh berbagai Kementerian/Lembaga, antara lain meliputi Kementerian Koordinator
Perekonomian, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Kementerian
Dalam Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Kementerian
Pertanian, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Badan
Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika serta Pemerintah Daerah.

- 14 -

Dokumen ini berisikan berbagai intervensi kegiatan strategis yang disusun berdasarkan Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) terutama Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional tahun 2010-2014 dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) tahun 2005-2025.
Kegiatan penurunan emisi GRK dalam rencana aksi ini disusun dengan memperhatikan sumber
pendanaan dan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk pelaksanaannya, sehingga diharapkan
rencana aksi ini akan dapat dilaksanakan (doable) dan terencana dengan baik. Pembiayaan tahun
2010-2014 didasarkan pada pendanaan yang tercantum dalam RPJMN 2010-2014, sedangkan
pembiayaan antara tahun 2015-2020 didasarkan pada perkiraan biaya yang diperlukan dalam
kegiatan penurunan emisi GRK tersebut.
Berdasarkan Copenhagen Accord dalam rangkaian kegiatan COP15 UNFCCC di Copenhagen bulan
Desember 2009 lalu, disepakati bahwa dibutuhkan upaya mitigasi global (global coherent mitigation
actions) untuk membatasi peningkatan suhu global 2oC di bawah tingkat pra-industri pada tahun
2050. Untuk itu, diperlukan penurunan emisi GRK baik oleh negara maju (dengan kontribusi
yang signifikan) maupun negara berkembang. Walaupun Copenhagen Accord bukan merupakan
kesepakatan yang mengikat (legally binding), namun Indonesia secara sukarela turut berkontribusi
dalam penurunan emisi GRK. Dalam konteks UNFCCC, rencana aksi ini dipandang sebagai
suatu upaya sukarela Indonesia dalam penurunan emisi GRK dan diharapkan menjadi pendorong
bagi negara-negara lain terutama negara maju untuk menurunkan emisinya.
1.2 VISI MISI
Pada tanggal 5 Februari 2007, pemerintah Indonesia menerbitkan UU No. 17 tahun 2007
tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) periode 2005-2025. Misi keenam yang tertera pada dokumen tersebut akan menjadi visi dalam RAN-GRK ini yaitu untuk:
Mewujudkan Indonesia asri dan lestari. Misi tersebut menekankan pada upaya untuk
adalah memperbaiki pengelolaan pelaksanaan pembangunan yang dapat menjaga keseimbangan
antara pemanfaatan, keberlanjutan, keberadaan, dan kegunaan sumber daya alam dan lingkungan
hidup dengan tetap menjaga fungsi, daya dukung, dan kenyamanan dalam kehidupan pada masa
kini dan masa depan, melalui pemanfaatan ruang yang serasi antara penggunaan untuk
permukiman, kegiatan sosial ekonomi, dan upaya konservasi; meningkatkan pemanfaatan
ekonomi sumber daya alam dan lingkungan yang berkesinambungan; memperbaiki pengelolaan
sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk mendukung kualitas kehidupan; memberikan
keindahan dan kenyamanan kehidupan; serta meningkatkan pemeliharaan dan pemanfaatan
keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan.

- 15 -

Untuk dapat mencapai visi pembangunan yang berkelanjutan, pemerintah Indonesia mengambil
kesepakatan bahwa "pembangunan keberlanjutan jangka panjang akan menghadapi tantangan
berupa perubahan iklim dan pemanasan global yang mempengaruhi kehidupan dan kegiatan
manusia ".
Untuk mencapai visi tersebut dilaksanakan dengan misi sebagai berikut:
1. Mempertajam upaya inventarisasi emisi CO2 dan target pengurangan emisi yang akan
disesuaikan pada tahun 2015.
2. Memperkuat kapasitas kelembagaan untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim
terhadap Kementerian dan instansi pemerintah pada 2015 dan mencapai tujuan dari
climate-proofing national policies and regulations pada 2020.
3. Menjadikan RAN GRK sebagai panduan kebijakan untuk menurunkan emisi gas rumah
kaca dari skenario business-as-usual sebesar 26% pada 2020, dengan memanfaatkan
sumber daya lokal hingga 41% dari skenario business-as-usual jika bantuan internasional
tersedia.
4. Mewujudkan keberhasilan implementasi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim untuk
membantu mencapai tujuan pembangunan nasional pada 2025.
Meningkatkan sumber energi alternatif, sementara penggunaan energi tak terbaharukan
akan dikurangi secara bertahap pada periode waktu tersebut.
5. Mengurangi risiko secara nyata atas dampak negatif perubahan iklim terhadap berbagai
sektor pembangunan pada tahun 2030 melalui peningkatan kesadaran masyarakat,
penguatan kapasitas masyarakat lokal, peningkatan manajamen pengetahuan, dan
pemanfaatan teknologi yang adaptif.
6. Memastikan bahwa semua sektor yang menyumbangkan emisi gas rumah kaca akan
mengadopsi strategi pembangunan rendah emisi karbon dan menerapkannya dengan
cara-cara yang menunjang aspek pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

1.3 Tujuan dan Sasaran RAN-GRK


Tujuan dari RAN-GRK ini adalah:
1. Merancang program/kegiatan dalam rangka menurunkan emisi GRK terutama di bidang
kehutanan dan lahan gambut, pertanian, energi, industri dan transportasi, serta limbah
dalam skala nasional dan daerah dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan.

- 16 -

2. Memberikan gambaran potensi kegiatan mitigasi nasional dalam rangka menurunkan


emisi GRK yang berkontribusi pada aksi mitigasi global sejalan dengan prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan.
Rencana Aksi ini disusun dengan pembiayaan yang terintegrasi antara Kementerian/Lembaga
pemerintah pusat dan daerah, dan terukur serta dapat diimplementasikan dalam jangka waktu
2010-2020.
Sasaran dari RAN-GRK ini adalah:
1. Sebagai acuan pelaksanaan penurunan emisi GRK oleh bidang-bidang prioritas di tingkat
nasional dan daerah;
2. Sebagai acuan investasi terkait penurunan emisi GRK yang terkoordinasi pada tingkat
nasional dan daerah;
3. Sebagai acuan pengembangan strategi dan rencana aksi penurunan emisi GRK oleh
daerah-daerah di Indonesia.
1.4 Kerangka Hukum dan Institusi
Dasar Hukum yang digunakan untuk penyusunan RAN-GRK terdiri dari:
1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Framework
Convention on Climate Change;
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan Protokol Kyoto atas
Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Perubahan Iklim;
5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional;
6. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
(RPJP) Tahun 2005-2025;
7. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2010-2014;
Dalam pelaksanaan RAN-GRK ini, perlu diatur tentang peran berbagai institusi yang
bertanggung jawab untuk kegiatan penurunan emisi GRK di masing-masing bidang serta insitusi
yang bertanggung jawab terhadap kegiatan pendukung penurunan emisi GRK. Selain itu,
diperlukan pula penetapan institusi yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan berbagai

- 17 -

hal di dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi rencana aksi ini. Untuk itu,
pembagian tugas RAN-GRK adalah sebagai berikut:
1. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian mengkoordinasikan pelaksanaan dan
pemantauan RAN-GRK dengan melibatkan para Menteri dan Gubernur yang terkait
dengan upaya penurunan Emisi GRK, serta melaporkan pelaksanaan RAN-GRK yang
terintegrasi kepada Presiden paling sedikit 1 tahun sekali
2. Menteri PPN/Kepala Bappenas bertugas mengkoordinasikan evaluasi dan kaji ulang
RAN-GRK yang terintegrasi, serta menyusun pedoman RAD-GRK yang akan
diintegrasikan dalam upaya pencapaian target nasional penurunan emisi GRK.
3. Menteri Dalam Negeri bertugas memfasilitasi penyusunan RAD-GRK bersama Menteri
PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Lingkungan Hidup.
4. Menteri Lingkungan Hidup bertugas mengkoordinasikan inventarisasi GRK serta
penyusunan pedoman dan metodologi MRV (Measurment, Reporting and Verification) yang
dilakukan oleh masing-masing Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah.
5. Kementerian/Lembaga lainnya sesuai tupoksi masing-masing bertugas untuk menjalankan
RAN-GRK sehingga dapat diukur, dilaporkan, diverifikasi, baik dengan pendanaan sendiri
maupun kerjasama dengan dunia internasional, serta melakukan pemantauan pelaksanaan
RAN-GRK dan melaporkan hasilnya secara berkala kepada Menteri Koordinator
Perekonomian, Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Lingkungan Hidup.
6. Pemerintah Provinsi wajib menyusun Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas
Rumah Kaca (RAD-GRK) yang mengacu pada RAN-GRK dan sesuai dengan prioritas
pembangunan daerah berdasarkan kemampuan APBD dan masyarakat.
7. Gubernur menyampaikan RAD-GRK kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri
PPN/Kepala Bappenas untuk diintegrasikan dalam upaya pencapaian target nasional
penurunan emisi GRK.
Untuk pelaksanaan penurunan emisi GRK di daerah perlu disusun Rencana Aksi Daerah
Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) di tingkat Provinsi yang penyusunannya
merupakan tanggung jawab daerah masing-masing dengan koordinasi dari Kementerian Dalam
Negeri. RAD-GRK disusun dengan melibatkan dinas teknis terkait dan ditetapkan dengan
Peraturan Gubernur masing-masing sesuai dengan prioritas pembangunan daerah berdasarkan
kemampuan APBD dan masyarakat.

- 18 -

1.5 RAN-GRK dalam Sistem Perencanaan Pembangunan


Rencana Aksi ini disusun berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN 20102014) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJPN 2005-2025). Gambar 1.2 berikut
menunjukkan hubungan antara RAN-GRK dengan sistem perencanaan pembangunan baik
nasional dan daerah.

Gambar 1.2 Kedudukan RAN-GRK dalam Sistem Perencanaan Pembangunan


Penyusunan RAN-GRK ini tidak terlepas dari prinsip pengarus-utamaan pembangunan
berkelanjutan yang telah diamanatkan oleh RPJPN 2005-2025 dan RPJMN 2010-2014 (Buku 2
Bab 1), dimana kegiatan pembangunan harus memperhatikan tiga pilar prinsip-prinsip
pembangunan berkelanjutan yaitu terkait aspek ekonomi, aspek sosial dan aspek lingkungan
hidup.

- 19 -

RAN-GRK
2010

2020

Rencana Pembangunan
2005
2004

2009
RPJM

2025

RPJP
2014
RPJM 2

2019
RPJM 3

2025
RPJM 4

Gambar 1.3 Kerangka Waktu Pelaksanaan RAN-GRK


Pelaksanaan RAN-GRK 2010-2020 ini memenuhi tiga kerangka waktu pembangunan nasional
jangka menengah, yakni dimulai di tahun pertama pada RPJMN ke-2 (tahun 2010-2014), dan
dilanjutkan pada periode 2015-2020 yang berarti merupakan periode RPJMN ke-3 (tahun 20152019) dan periode RPJMN ke-4 (tahun 2020-2024). Adapun kebutuhan pendanaan untuk
pelaksanaan RAN-GRK tahun 2010-2014 telah dialokasikan pada RPJMN 2010-2014, sedangkan
untuk tahun selanjutnya RAN-GRK memberikan arah kebijakan bagi pemerintah dalam
pengurangan emisi GRK dengan biaya/anggaran yang masih bersifat perkiraan (lihat gambar
1.3).
2. ANALISIS KONDISI SAAT INI DAN PERMASALAHAN
2.1. Kondisi saat ini
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari lebih dari 17 ribu pulau besar dan
kecil, Indonesia mempunyai garis pantai yang sangat panjang; di satu sisi hal ini merupakan aset
nasional tetapi di sisi lainnya, khususnya dalam mengantisipasi perubahan iklim hal ini juga dapat
menjadi beban. Selain itu, karena letak geografis dan kondisi gelogisnya, Indonesia sangat rentan
terhadap berbagai bencana alam. Mata pencarian penduduk yang sebagian besar masih
menggantungkan pada pengelolaan sumber daya alam khususnya dari sektor pertanian menambah
tingkat resiko dari ancaman dampak perubahan iklim. Memperhatikan hal-hal tersebut diatas,
Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak negatif perubahan
iklim, sehingga sangat wajar jika Indonesia berada di garis depan dalam upaya-upaya internasional
untuk mengatasi dampak perubahan iklim.
Selain sebagai negara yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, Indonesia mempunyai
potensi yang besar untuk melakukan upaya mitigasi perubahan iklim. Karena itu Indonesia perlu

- 20 -

mengoptimalkan posisi strategis tersebut dalam berbagai forum di tingkat internasional. Di satu
sisi , Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu dari sepuluh penghasil emisi gas rumah kaca
terbesar, dan dengan demikian memiliki peranan yang penting dalam upaya mitigasi gas rumah
kaca secara global. Di sisi lain, kerawanan terhadap dampak perubahan iklim yang dimiliki
Indonesia menjadikan aspek adaptasi perubahan iklim sebagai salah satu prioritas nasional yang
utama. Sadar akan kedua aspek dari tantangan perubahan iklim, Indonesia menyadari bahwa
mitigasi dan adaptasi harus dijalankan secara simultan oleh semua negara. Untuk itu, Indonesia
memposisikan diri untuk bekerja sama baik secara bilateral maupun multilateral dalam berbagai
upaya internasional menghadapi perubahan iklim.
Indonesia juga menyadari bahwa penanganan perubahan iklim merupakan bagian tak terpisahkan
dari tantangan pembangunan nasional. Perencanaan atas berbagai aspek perubahan iklim
seharusnya dijalankan bersamaan dengan perencanaan pembangunan ekonomi nasional, sehingga
perencanaan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harus terintegrasi dengan perencanaan
pembangunan nasionaldan daerah (provinsi, kabupaten/kota dan lokal).

2.1 Perumusan Masalah


Indonesia memiliki potensi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan secara
kumulatif pada tahun 2020. Untuk itu, perlu diperhitungkan semua sektor dan program utama,
biaya aksi berbeda-beda antara tiap sektor, sehingga dibutuhkan pemeringkatan untuk menakar
dampak

ekonomi terhadap pencapaian dalam hal reduksi emisi gas rumah kaca; jumlah

pengurangan emisi dapat meningkat jika skenario yang berbeda digunakan. Untuk itu, diperlukan
untuk semua sektor, penyusunan sebuah inventarisasi gas rumah kaca dan sistem monitoring
merupakan sebuah prasyarat. Dalam rangka mengurangi emisi CO2 secara signifikan ini, relatif
terhadap skenario business-as-usual, sangat esensial untuk memperkuat kapasitas kelembagaan
sektoral dan sumber daya manusia yang ada di Indonesia.
Sektor kehutanan mewakili potensi terbesar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan
biaya terendah. Namun untuk memaksimalkan potensi tersebut. Berbagai kegiatan perlu
dijalankan secara tepat agar tidak terjebak dalam skenario business-as-usual.
Isu yang bersifat lintas sektoral, perlu dikaji secara lebih mendalam agar dapat menjamin
efektifitas aksi mitigasi juga secara ekonomi. Walaupun penting untuk mencapai pemahaman
yang jernih atas pengurangan biaya lintas sektor, sama pentingnya juga untuk melihat secara
seksama hambatan dalam implementasi kebijakan dalam tiap sektor. Hanya dengan landasan

- 21 -

tersebut dapat diperoleh dan dikembangkan rangkaian kebijakan yang tepat.


3. KERANGKA KEBIJAKAN DAN RUANG LINGKUP
3.1 Kerangka Kebijakan RAN-GRK

Perubahan iklim akan menghasilkan tantangan yang besar bagi pembangunan yang berkelanjutan
di Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah Indonesia menyusun Rencana Aksi
Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) untuk mencapai tujuan nasional,
target sektoral, tolok ukur serta prioritas aksi dengan mempertimbangkan masalah mitigasi
perubahan iklim bagi sektor-sektor ekonomi yang terkena dampaknya.
Lebih lanjut, RAN GRK diharapkan juga berperan sebagai panduan kebijakan terperinci untuk
implementasi strategi mitigasi perubahan iklim nasional melalui penyusunan rencana kerja
tahunan pemerintah pada periode 2010 2020 dan secara khusus untuk mencapai angka
pengurangan emisi nasional sebesar 26 % dan 41 % untuk penurunan emisi GRK.
3.2 Metodologi Penetapan Kegiatan dan Target Penurunan Emisi
RAN-GRK disusun berdasarkan program dan kegiatan dari Kementerian/Lembaga dalam
RPJMN 2010-2014 dan RPJPN 2005-2025 yang kemudian dibahas antar Kementerian/Lembaga.
Keseluruhan rencana aksi tersebut diupayakan untuk penurunan emisi GRK nasional sebesar
26% pada tahun 2020 dari total emisi bidang-bidang prioritas yang dilakukan selama ini (BAU).
Program/ kegiatan yang diprioritaskan adalah yang pelaksanaannya memakai dana sendiri
(Unilateral NAMAs) baik dari sumber APBN maupun APBD (termasuk pinjaman), swasta dan
masyarakat, berdasarkan beberapa kriteria umum sebagai berikut:
1. Sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan
2. Efektifitas penggunaan biaya dengan prinsip biaya termurah penurunan emisi GRK
secara terintegrasi;
3. Kemudahan dalam implementasi dengan mempertimbangan aspek politik, sosial dan
budaya;
4. Sejalan dengan prioritas pembangunan nasional dan daerah dimana kegiatan tersebut
dilaksanakan.
5. Berdasarkan pada asas yang saling menguntungkan dengan memprioritaskan program
pembangunan/kegiatan yang memberikan kontribusi pada penurunan emisi GRK (CoBenefit)

- 22 -

Untuk memastikan keterlibatan dan rasa kepemilikan RAN GRK oleh tiap Kementerian dan
Lembaga pemerintahan, penyusunan RAN GRK ini disusun

secara partisipatoris, dengan

melibatkan masing-masing Kementerian dan lembaga. Aksi prioritas yang dihasilkan ditampilkan
pada RAN GRK merefleksikan visi dan prioritas dari masing masing Kementerian dan
Lembaga negara. Selanjutnya Bappenas melakukan proses analisa dan pengembangan kebijakan
untuk diintegerasikan di dalam perencanaan pembangunan nasional.
Penyusunan prioritas mitigasi gas rumah kaca mengacu pada data yang disepakati dalam rapat di
Kantor Perekonomian pada bulan Desember 2009, dimana data tersebut bersumber dari
Kementerian Lingkungan Hidup. Untuk itu, data dan informasi tersebut perlu ditelaah kembali
dengan data-data terbaru dengan menggunakan metodologi yang diterima secara internasional
namun disesuaikan dengan kebutuhan nasional terkini dan perkembangan negosiasi di UNFCCC.
Ada dua skenario reduksi emisi yang dikembangkan untuk tiap sektor (kehutanan dan lahan
gambut, pertanian, industri, energi dan transportasi, serta limbah) menjadi dasar perhitungan
penurunan emisi GRK. Untuk memastikan perbandingan dan konsistensi, metodologi yang
terstandarisasi digunakan untuk mengevaluasi dampak dari rancangan upaya mitigasi di semua
sektor prioritas. Metodologi tersebut mencakup elemen berikut:
1

Tingkat emisi GRK Nasional tahun 2020 dan distribusi per sektor berdasarkan data dari KLH
yang disepakati dalam rapat di Kantor Perekonomian pada bulan Desember 2009.

Ragam skenario telah dikembangkan untuk dapat mencakup periode waktu RAN-GRK
selama 10-tahun. Pola pembangunan pada tiap sektor telah diterjemahkan ke dalam dua
lintasan emisi (penurunan 26% dan 41%)

Skenario mitigasi telah dikembangkan, termasuk intervensi kebijakan dan rencana aksi;

Skenario yang dikembangkan dibagi ke dalam dua periode waktu, masing-masing selama
5tahun: 2010 hingga 2014, dan 2015 hingga 2020;

Biaya untuk langkah aksi diperkirakan berdasarkan RPJM 2010-2014 dan Renstra K/L,
menghasilkan sebuah sistem untuk mengkalkulasi biaya pengurangan;

Reduksi emisi kumulatif dikalkulasikan dalam GCO2e;

Skenario yang dipilih ialah yang dianggap paling memungkinkan untuk mengurangi emisi
(termasuk pilihan aksi dan kebijakan), sementara juga tetap memajukan prioritas
pembangunan nasional;

- 23 -

Program sektoral dan anggaran telah disusun untuk menggambarkan skenario dan upaya
yang dilakukannya.

3.3 Prinsip-Prinsip RAN-GRK


RAN-GRK disusun berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. RAN- GRK merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Strategi Pembangunan
Nasional yang Berkelanjutan yang akan disesuaikan dengan perkembangan kebijakan;
2. RAN-GRK tidak menghambat pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan
(tetap memprioritaskan kesejahteraan rakyat) dalam mewujudkan pembangunan yang
berkelanjutan;
3. RAN-GRK merupakan rencana aksi yang terintegrasi antara satu bidang dengan bidang
yang lain dengan memperhatikan seluruh aspek pembangunan berkelanjutan seperti daya
dukung dan daya tampung lingkungan serta perencanaan tata ruang dan peruntukan
penggunaan lahan;
4. RAN-GRK merupakan komitmen Indonesia dalam mendukung kepentingan nasional
dan upaya-upaya global penurunan emisi GRK;
5. RAN-GRK berfungsi sebagai sarana koordinasi dalam usaha mengoptimalkan potensi
pendanaan internasional untuk kepentingan Indonesia;
6. RAN GRK merupakan rencana aksi dengan pendekatan baru dalam pembangunan yang
lebih memperhatikan upaya-upaya pengurangan emisi GRK.
3.4 Ruang Lingkup RAN-GRK
Berdasarkan kerangka kebijakan, prinsip serta metodologi penetapan target dan kegiatan RANGRK telah ditetapkan kegiatan-kegiatan inti dan penunjang untuk penurunan emisi gas rumah
kaca dan target per bidang. Tiga bidang utama yang tercakup adalah kehutanan dan lahan
gambut, pertanian, energi dan transportasi, industri, serta limbah. Target penurunan emisi GRK
per bidang dapat dilihat dalam Tabel 2.1, dengan catatan target angka penurunan dan kegiatan
untuk penurunan emisi GRK ini dapat dikaji ulang sesuai dengan metodologi, data dan informasi
yang lebih baik di masa datang.

- 24 -

Tabel 2.1 Target Penurunan Emisi GRK per Bidang


Dalam penetapan target penurunan emisi, perlu diperhatikan bahwa Business As Usual tingkat
emisi GRK nasional perlu diperhitungkan dengan lebih akurat, mengingat skenario tingkat emisi
Business As Usual untuk beberapa bidang masih perlu dievaluasi. Untuk itu, RAN-GRK perlu
untuk terus secara berkala ditinjau dan dilakukan pemantauan dan evaluasi berdasarkan
perkembangan terkini yang terjadi di Indonesia dan hasil negosiasi internasional di UNFCCC.
Untuk menjabarkan penambahan 15% target penurunan emisi GRK menjadi 41% (dari 26%)
dengan

dukungan

internasional

(Supported

NAMAs),

dilakukan

dengan

memilih

program/kegiatan tambahan yang pelaksanaannya tidak menggunakan sumber-sumber dana


dalam negeri seperti APBN/APBD (termasuk hutang pemerintah) serta tidak untuk penurunan
pemisi GRK yang diperdagangkan di pasar karbon. Namun penurunan emisi GRK lebih besar
dari 41%, program/kegiatan yang dilaksanakan mencakup skema mekanisme perdagangan
karbon (atau credited NAMAs).
Selanjutnya mengingat mekanisme internasional untuk program/kegiatan Reducing Emission from
Deforestation and Forest Degradation and Enhancement of Carbon Stocks (REDD+) masih dalam proses
negosiasi, maka dalam pelaksanaan perlu dicermati sumber pendanaan dari program/kegiatan
tersebut untuk menentukan pengelompokan ke dalam skema penurunan emisi GRK dengan
dana sendiri (26%/Unilateral NAMAs), dukungan internasional (41%/Supported NAMAs) atau

- 25 -

pasar karbon (atau Credited NAMAs). Sebagai gambaran, jika program/kegiatan REDD+ untuk
lokasi tertentu didanai oleh APBN/APBD (termasuk hutang pemerintah) maka termasuk dalam
komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi GRK 26%, sedangkan program/kegiatan
REDD+ yang sama dilokasi yang berbeda serta mendapat bantuan pendanaan internasional,
maka termasuk dalam skema target penurunan emisi GRK 41%. Selanjutnya, bila
program/kegiatan REDD+ yang tidak terkait dengan target penurunan emisi Indonesia 26% dan
41% dapat diperjualbelikan dalam pasar karbon.

3.5 Pengembangan RAN-GRK menuju NAMAs


Nationally Appropriate Mitigation Actions (NAMAs) adalah upaya pengurangan emisi secara sukarela
oleh negara berkembang dalam konteks pembangunan berkelanjutan, sementara kewajiban
pengurangan emisi negara industri (Annex I Countries) disebut Nationally Appropriate Mitigation
Actions or Commitments disingkat NAMAC. Alinea 1 b ii pada Keputusan 1/CP.13 (Bali Action
Plan) mencantumkan bahwa:
Nationally appropriate mitigation actions by developing country Parties in the context of sustainable
development, supported and enabled by technology, financing and capacity-building, in a measurable,
reportable and verifiable manner
NAMAs dapat didukung oleh pendanaan, alih teknologi dan penguatan kapasitas oleh negara
industri yang sifatnya terukur, dilaporkan dan diverifikasi (Measurable Reportanle and
Verifiable/MRV).
Pada dasarnya, Konvensi Perubahan Iklim pada COP 15 di Copenhagen mengenali dua jenis
NAMAs yang akan dilaporkan 2 tahun sekali melalui Nasional Komunikasi (National
Communication), yaitu:
a. NAMAs (Unilateral atau Mitigation Actions by Developing Countries): upaya mitigasi domestik
yang dilakukan dengan sumber daya sendiri. Untuk mendapat pengakuan internasional
(berdasarkan Copenhagen Accord), aksi mitigasi ini memerlukan MRV domestik dengan
konsultasi internasional dan analisis menggunakan suatu panduan yang tetap menjamin
kedaulatan nasional.
b. NAMAs (seeking international support): adalah kegiatan NAMAs yang hanya akan berjalan
bila memperoleh dukungan internasional untuk pendanaan, alih teknologi dan bantuan
peningkatan kapasitas. Aksi mitigasi ini memerlukan MRV sesuai dengan panduan yang
diadopsi oleh COP (UNFCCC). Aksi mitigasi ini akan dicatat bersamaan dengan
dukungan teknologi, finansial, dan peningkatan kapasitas yang terkait.
Untuk upaya mitigasi di luar kedua mekanisme tersebut di atas, sering dikenal sebagai Credited
NAMAs yang dapat diperjual belikan di pasar karbon.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di G20 di Pittsburg (September 2009) menyatakan bahwa
Indonesia akan menurunkan emisi GRK sebesar 26% dari BAU pada tahun 2020 dengan usaha
sendiri, dan dapat meningkat menjadi 41% dengan dukungan internasional. Komitmen ini,

- 26 -

dipertegas kembali pada pidato Presiden di COP-15 Copenhagen (Desember 2009). Untuk
mewujudkan komitmen di atas, maka disusun RAN-GRK yang prinsipnya adalah NAMAs oleh
Indonesia. RAN-GRK ini yang selanjutnya akan dievaluasi dan dikajiulang sesuai kebutuhan
nasional dan perkembangan global terkini, sehingga memenuhi persyaratan dan pengakuan
internasional (UNFCCC).
Sejalan dengan proses tersebut, DNPI sesuai dengan target Copenhagen Accord, telah
menyampaikan surat mengenai posisi Indonesia kepada UNFCCC yang memuat target
penurunan emisi tanpa memerinci aktifitas per sektornya.
Sampai saat ini belum ada kesepakatan secara internasional di UNFCCC mengenai metodologi,
definisi, scope, approach dll terkait dengan NAMAs. Akan tetapi, melihat kecenderungan hasil
negosiasi maka untuk mendapatkan pengakuan internasionl (UNFCCC) bahwa Indonesia sudah
memenuhi janjinya, maka untuk RAN GRK memenuhi standar NAMAs nantinya, Indonesia
perlu untuk membuat Nasional Baseline (akumulasi penjumlahan baseline dari setiap sektos),
skenario mitigasi dengan perhitungan abetement cost, nasional NAMAs registry dan indikator untuk
MRV.
Dalam penyusunan nasional baseline nantinya, akan ditetapkan dengan landasan yang
komprehensif seperti apa yang dapat menjustifikasi baik target nasional maupun sektoral, serta
bagaimana mekanisme dan konsep MRV yang akan digunakan. Karena kerangka waktu RANGRK bersifat jangka menengah, maka perlu disusun tahapan dan trajektori penurunan emisi
pertahun, persektor, sampai dengan tahun 2020 sehingga dapat dimonitor dan dievaluasi secara
berkala.
Diperlukannya kajian secara komprehensif tentang baseline dari emisi nasional maupun berbagai
skenario penurunan dari emisi persektornya. Dari skenario penurunan emisi persektornya
tersebut yang akan diperlukan untuk target penyusunan rencana aksi dan kegiatan-kegiatan yang
akan dimuat dalam RAN-GRK. Dalam kajian komprehensif tersebut diharapkan memberikan
gambaran tentang implikasi target penurunan GRK terhadap pertumbuhan masing-masing
sektor maupun nasional serta perhitungan cost benefitnya.
Penentuan national emissions reduction projection under BAU scenario hanya menggunakan trend
adalah tidak appropriate. CO2 yang ada di atmosphere adalah merupakan kontribusi dari activities of
the each sectors, dimana langgam-nya (its behaviour) akan tidak selalu sama dari waktu ke waktu.
Sebagai contoh di sektor ketenagalistrikan: komposisi energi primer pada tahun ini atau tahun
2005 akan jauh berbeda dengan tahun 2015 atau 2020, dan seterusnya. Langgam komposisi
energi primer ini tidak sama dari waktu ke waktu, sehingga CO2 yang dikontribusikan akan
berubah. Oleh karena itu simulasi jangka panjang perlu dilakukan tentunya dengan objective
function yang jelas dan tentunya cost effective (non-intervention scenario). Hal yang sama juga akan terjadi
di sektor transportasi, yang akan jauh lebih complex dan dapat bersifat non-linear, misalnya
perubahan mode of transportations, atau adanya constraint of transportation infrastructures. Berikut,
beberapa definisi Baseline, yang mengandung pengertian yang sama dimana tidak satupun cara
projeksi emisi CO2 under BAU scenario (Baseline) disarankan dengan menggunakan trend, sebagai
berikut:

- 27 -

Climate Change: A Glossary of Terms; 4thEdition, April 2007. IPIECA: Baseline: A projected level of
future emissions against which reductions by project activities might be determined, or the emissions that would
occur without policy intervention.
UNFCCC RESOURCE GUIDE, For Preparing the National Communications of Non-Annex I
Parties. Module 4, Measures to Mitigate Climate Change: Baseline Scenarios: Aplausible and consistent
description of how asystem might evolve in the future in the absence of explicit new GHG mitigation policies.
Baseline scenarios are the counter factual situations against which mitigation policies and measures will be
evaluated. A baseline should not beconsidered as a forecast of what will happen in the future, since the future
is in herently unpredictable and depends, in part, on planning and policy adoption. Assessment will typically
require one or more baseline scenarios as baseline are highly uncertain over the long term and may prove
controversial, particularly indeveloping countries.
CLIMATE CHANGE 2007. MITIGATION CLIMATE CHANGE; Working Group III
Contribution to the 4thAssessment Report of the IPCC, Summary for the Policymakers and Technical
Summary: Baseline: The reference for measurable quantities from which analternative outcome can be
measured, e.g. a nonintervention scenario is used as a reference in the analysis of intervention scenarios.
World Energy Outlook 2006; IEA, 2006: The Reference Scenario does not take intoconsideration possible,
potential or even likely future policy actions. Thus, the Reference Scenario projections should not beconsidered
forecasts, but rather a baseline vision of how energy markets woul devolve if governments do nothing beyond
what they have already committed themselves to influence longterm energy trends. Policy Scenario, analyses the
impact of arange of policies and measures that countries in allregions are considering adopting or might
reasonably be expected to adopt some point over the projection period.

4. STRATEGI NASIONAL PENURUNAN EMISI


4.1

Arah Kebijakan Umum (Cross-cutting)

Arah Kebijakan RAN-GRK secara umum harus memperhatikan berbagai isu yang bersifat lintas
bidang, yang dirumuskan sebagai berikut:
1

Penurunan emisi GRK dilakukan melalui: (i) penurunan emisi secara langsung dan
peningkatan kapasitas serapan GRK, dan

(ii) kegiatan yang tidak secara langsung

menurunkan emisi GRK seperti kebijakan, peningkatan kapasitas manusia dan kelembagaan,
kerangka regulasi, sosialisasi, penelitian tentang potensi penurunan GRK dan kegiatan lain
yang mempunyai andil dalam penurunan GRK;
2

Penurunan emisi GRK dilakukan melalui rehabilitasi dan konservasi sumberdaya alam,
pencegahan degradasi dan deforestasi hutan dan lahan, efisiensi penggunaan input produksi,
penggunaan dan pengembangan energi baru terbarukan, serta pemanfaatan teknologi hemat
energi dan teknologi bersih lainnya

Tidak menghambat pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan dalam mencapai


pembangunan berkelanjutan.

- 28 -

Penurunan emisi dilakukan melalui bidang kehutanan dan lahan gambut, pertanian,
energi dan transportasi, industri dan pengelolaan limbah. Pencapaian tujuan penuruan emisi
GRK yang dicapai oleh bidang tertentu tidak menimbulkan hambatan bagi pengembangan
bidang yang lainnya.

4.2 Arah Kebijakan dan Rencana Aksi Nasional Per Bidang


Penurunan emisi dilakukan melalui bidang-bidang prioritas, meliputi kehutanan dan lahan
gambut, pertanian, energi dan transportasi, industri dan pengelolaan limbah
Mengacu pada klasifikasi sektoral yang dimiliki dalam mekanisme perencanaan pembangunan
nasional, proses penyusunan RAN GRK juga menyertakan beberapa kegiatan yang dirancang
untuk membahas isu lintas sektor terkait dengan perubahan iklim. Hal yang terpenting, isu
penggunaan lahan memerlukan perhatian yang lebih besar pada masa yang akan datang jika
dilihat dari perspektif lintas sektoral mengingat konversi lahan dan tata guna lahan dibahas dalam
sektor pertanian, kehutanan, dan sektor energi. Keterkaitan antar sektor dan salingketergantungan ini akan ditindak lanjuti dalam proses RAN GRK ke depan. Langkah-langkah ke
depan akan mencakup integrasi pemanfaatan tata ruang yang memuat isu perubahan iklim,
penguatan kapasitas kelembagaan, dan pengembangan mekanisme untuk hukum dan perundangundangan.
Lingkup Regional. RAN GRK ini juga mempertimbangkan keragaman secara kondisi fisik,
ekonomi, politik dan budaya , Indonesia membutuhkan pendekatan berdasarkan aspek
kewilayahan untuk perencanaan pembangunan nasional. Tawaran kebijakan untuk masalah
perubahan iklim sebab itu dikondisikan dengan karakter khusus yang dimiliki wilayah-wilayah di
Indonesia: Sumatera, Jamali (Jawa, Madura, Bali), Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku,
dan Papua.
4.2.1 Kehutanan dan Pengelolaan Lahan Gambut
Hutan, selain merupakan sumber emisi karbon dalam konteks perubahan iklim juga merupakan
rosot karbon dan tempat penyimpanan karbon. Praktek pengelolaan hutan yang berkelanjutan
dari hutan produksi, hutan konservasi dan hutan lindung, serta pembatasan konversi lahan hutan
menjadi non-hutan dan degradasi kualitas hutan, pengelolaan hutan pada lahan gambut dan
pencegahan kebakaran hutan, berkontribusi terhadap penurunan emisi GRK. Rehabilitasi hutan
dan lahan gambut dan pembuatan/penanaman hutan produksi di lahan yang terdegradasi akan

- 29 -

meningkatkan kemampuan penyerapan karbon. Hal ini juga akan memberikan dampak positif
terhadap perlindungan keanekaragaman hayati, perlindungan sumber daya air, serta fungsi sosial
ekonomi.
Lahan gambut mempunyai potensi penyimpan karbon yang besar. Luas lahan gambut secara
keseluruhan hanya meliputi kurang lebih 3% dari luas daratan dunia, namun diindikasikan dapat
menyimpan 550 Gton C atau setara dengan dua kali simpanan karbon semua hutan di seluruh
dunia (Joosten, 2009). Bila diambil angka terendah tambatan karbon di atas permukaan gambut
yang berkisar pada angka 150 ton (dalam bentuk biomassa tanaman) per ha maka secara kasar
paling tidak lahan gambut di Indonesia menambat (menyimpan) 3.150 juta ton karbon atau setara
dengan 8,34 giga ton CO2e. Sampai dengan tahun 2005, emisi per tahun yang berasal dari lahan
gambut diperkirakan mencapai 903 juta ton CO2e dan diperkirakan dengan skenario BAU maka
emisinya berubah menjadi 1.387 juta ton CO2e pada tahun 2025.
Indonesia memiliki sekitar 21 juta hektar lahan gambut, tersebar di Provinsi NAD, Sumatera
Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan
Tengah, Kalimantan Timur, Papua, dan Papua Barat. Lahan gambut terutama di Sumatera (7,2
juta ha), Kalimantan (5,8 juta ha) dan Papua (8 juta ha) mempunyai kedalaman yang berbedabeda. Kondisi pada tahun 2006 menunjukkan lebih dari 55% lahan gambut masih berupa hutan 1,
sementara sisanya didominasi oleh lahan pertanian (14%) dan semak belukar/rumput (20%).
Pada tahun tersebut, terdapat izin kehutanan dan perkebunan untuk menggunakan lahan gambut
dengan total sekitar 5,6 juta hektar lahan gambut. Sesuai dengan data 2006 maka luas lahan
gambut yang merupakan kawasan hutan adalah seluas 12,3 juta ha terdiri dari hutan konservasi
seluas 2,34 juta ha, hutan lindung seluas 1,02 juta ha, dan hutan produksi seluas 8,95 juta ha. Luas
lahan gambut yang merupakan perkebunan seluas 1,42 juta ha, dimanfaatkan sebagai pertanian
seluas 1,23 juta ha, dan sisanya sebesar 4,66 juta ha dipergunakan untuk kegiatan lain. Untuk itu
rencana aksi penurunan emisi GRK di lahan gambut merupakan bagian tidak terpisahkan dari
penurunan emisi GRK dari bidang kehutanan.
Upaya-upaya penurunan emisi GRK di bidang kehutanan dan lahan gambut memerlukan
pengelolaan secara khusus yang terutama dilakukan melalui KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan).
Untuk itu pengembangan KPH merupakan prioritas sebagai unit pengelola dalam menjalankan
praktek manajemen hutan termasuk lahan gambut yang berkelanjutan. Emisi di bidang

Tidak berarti berada di kawasan hutan

- 30 -

kehutanan (termasuk lahan gambut) per tahun diperkirakan mencapai 1,24 giga ton CO2e,
sedangkan kemampuan menyerap karbon dari atmosfer diperkirakan hanya mencapai 0,707 giga
ton CO2e pada tahun 2020. Skenario rencana aksi bidang kehutanan disusun dengan
memperhatikan terjadinya deforestasi dan degradasi hutan. Disamping dengan melajukan
peningkatan potensi serapan karbon melalui aksi penanaman, potensi reduksi emisi melalui
praktek-praktek pengelolaan Hutan Produksi secara lestari, serta meningkatkan peran kawasan
konservasi dan hutan lindung dalam menjaga stok karbon di hutan.
Walaupun terdapat keterbatasan data dan informasi yang akurat mengenai lahan gambut,
Rencana aksi Kehutanan dan Lahan Gambut ini disusun dengan menetapkan angka deforestasi
untuk mengakomodasikan kepentingan industri kehutanan sebesar 1,125 juta ha per tahun, emisi
tahunan 1,24 giga ton CO2e, rehabilitasi hutan seluas 500.000 ha per tahun, serta penurunan hotspot sebesar 20% dari rata-rata jumlah hotspot selama 2004-2009. Untuk mendukung kegiatan
rehabilitasi hutan maka akan ditetapkan Kesatuan Pengelolaan Hutan/KPH (Forest Management
Unit) per tahun sebagai forest administration.
4.2.1.1 Arah Kebijakan
Kebijakan penurunan emisi GRK di bidang Kehutanan di arahkan dengan mensinergikan
program-program bidang kehutanan seperti: (i) mensinergikan kebijakan, perencanaan, dan
program (termasuk tata ruang dan penguatan kelembagaan) para pemangku kepentingan di
bidang kehutanan seperti dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Pemerintah Daerah (ii) mempertajam kebijakan dan
menyusun langkah-langkah pengurangan emisi karbon dari bidang kehutanan yang secara efektif
dapat menyelesaikan permasalahan yang menyebabkan deforestasi dan degradasi hutan; (iii)
mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan (sustainable forest management), (iv) merevitalisasi
ekosistem hutan yang terdegradasi dengan melibatkan masyarakat luas, (v) menekan laju
deforestasi dari berbagai gangguan seperti illegal logging, kebakaran hutan, konversi kawasan hutan
untuk kepentingan non-hutan, (vi) mengembangkan hutan tanaman untuk pemenuhan
permintaan hasil hutan kayu untuk keperluan industri kehutanan.
Sementara itu, mengingat besarnya peranan lahan gambut terhadap pemanasan global, sebaiknya
seluruh kawasan gambut dapat dikonservasi untuk menghindarkan degradasi yang akan
meningkatkan emisi karbon. Namun demikian, selama ini lahan gambut sudah digunakan untuk
berbagai kepentingan yang menyangkut masyarakat luas, maka pemerintah perlu menerapkan
kebijakan seimbang antara penggunaan untuk keperluan ekonomi dan kepentingan konservasi.
Untuk itu diperlukan kebijakan antara lain: (i) konsolidasi dan rencana terintegrasi pemangku

- 31 -

kepentingan terkait seperti aktifitas kehutanan, aktifitas pertanian, dan aktifitas infrastruktur; (ii)
review dan revisi rencana tata ruang wilayah untuk mencari kemungkinan land-use swap dari
pemanfaatan lahan gambut ke areal non lahan gambut (lahan mineral); (iii) perbaikan pengelolaan
lahan gambut yang berada dalam kawasan hutan maupun kawasan non-hutan dengan membatasi
penggunaan lahan gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter, dan pengelolaan secara terpadu
pada lahan gambut dengan kedalaman kurang dari 3 meter sesuai dengan fungsi kawasan dan
karakteristik gambut pada areal tersebut; (iv) pembukaan lahan gambut diperbolehkan, harus
dilakukan dengan metode pembukaan lahan tanpa bakar dan pengelolaan air berkelanjutan; (v)
penerapan pengelolaan tanah (soil) dan rehabilitasi lahan gambut yang mengalami kerusakan
melalui pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan, rehabilitasi dan pengelolaan lahan
gambut yang terlantar dengan pengawasan dan penegakan hukum yang ketat.
4.2.1.2 Rencana Aksi
Rencana Aksi Nasional di bidang kehutanan dan lahan gambut disusun berdasarkan RPJMN
2010-2014, RPJPN 2005-2025 dan usulan dari K/L terkait, serta perhitungan target penurunan
emisi GRK bidang kehutanan dan lahan gambut sebesar 0.672 giga ton CO2e pada tahun 2020
untuk target 26% secara Nasional.
Bentuk intervensi yang perlu ditempuh untuk mengurangi emisi yang berasal dari kehutanan dan
lahan gambut adalah: (a) mencegah dan menanggulangi kebakaran hutan dan lahan gambut, (b)
rehabilitasi hutan dan lahan gambut melalui reboisasi dan penghijauan dengan tanaman
penambat karbon tinggi, (c) pengaturan tata air pada kawasan lahan gambut secara integratif, (d)
pemanfaatan dan pengelolaan hutan dan lahan gambut yang terdegradasi, dan (e) peningkatan
upaya perlindungan dan konservasi kawasan-kawasan konservasi dan hutan lindung
Kegiatan-kegiatan dalam rencana aksi, selain kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan, untuk
meningkatkan carbon stock meliputi Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Desa, Pembangunan
Hutan Tanaman (Hutan Tanaman Industri/HTI dan Hutan Tanaman Rakyat/HTR) dan Hutan
Rakyat, pemberian HPH Restorasi Ekosistem, Hutan Rakyat Kemitraan dan Hutan Rakyat
dengan target kurang lebih 18,8 juta ha hingga tahun 2020.
Untuk menekan serendah mungkin emisi yang berasal deforestasi maka bidang kehutanan
berupaya untuk menekan perubahan kawasan hutan menjadi tidak berhutan secara permanen.

- 32 -

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan pemanfaatan kawasan hutan yang telah
dikonversi untuk kepentingan lain, khususnya perkebunan dan transmigrasi.
Mengingat hal-hal tersebut di atas dan potensi emisi dari kehutanan dan lahan gambut yang
sangat besar, maka diperlukan upaya penurunan melalui Rencana Aksi yang terintegrasi antar
K/L dan para pihak. Rencana aksi untuk kehutanan dan lahan gambut difokuskan kepada:
1. Rehabilitasi hutan, lahan gambut dan lahan kritis di DAS prioritas, fasilitasi
pengembangan hutan kota, konservasi hutan dan/lahan terdegradasi rawan terbakar
melalui pemberian insentif kepada masyarakatmelalui penanaman tanaman kayu,
2. Pengembangan perhutanan sosial melalui fasilitasi penetapan areal kerja dan pengelolaan
hutan kemasyarakatan (HKm), fasilitasi pembangunan hutan rakyat kemitraan, fasilitasi
penetapan areal kerja hutan desa,
3. Pengendalian kebakaran hutan dan pemberantasan illegal logging-pencegahan kehilangan
kayu,
4. Penanganan perambahan hutan dan lahan gambut dan penanganan konflik kawasan
lindung dan konservasi,
5. Pembangunan kesatuan pengelolaan hutan (KPH),
6. Peningkatan pengelolaan hutan alam produksi melalui pengelolaan LOA (Logged Over
Area) oleh pemegang IUPHHK (Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu) dan
pengelolaan LOA yang terdegradasi oleh IUPHHK-RE, serta peningkatan pembangunan
hutan tanaman,
7. Penerapan penyiapan lahan tanpa membakar, perbaikan tata air kawasan lahan gambut
secara integratif antar pengguna lahan gambut serta pengelolaan lahan gambut untuk
pertanian berkelanjutan,
8. Kebijakan rehabilitasi kawasan lahan gambut yang rusak melalui reboisasi dan
penghijauan, perbaikan kualitas pengelolaan lahan gambut yang rusak, dan pencegahan
dan penanggulangan kebakaran lahan gambut,
9. Peningkatan rehabilitasi dan pemeliharaan jaringan reklamasi rawa termasuk lahan
bergambut,
10. Pengendalian Tata Ruang melalui penetapan wilayah KPHK dan konsolidasi hutan yang
berada di luar kawasan hutan, meningkatkan konservasi pada lahan gambut yang belum
diberikan ijin pemanfaatan, penerapan land-swap bagi pemegang ijin/hak yang berada di
dalam kawasan lahan gambut dan belum memanfaatkannya ke lokasi lain di luar kawasan
lahan gambut (mineral soil),

- 33 -

11. Pengendalian kerusakan ekosistem lahan gambut, penyusunan kriteria baku kerusakan
gambut, dan penyusunan masterplan pengelolaan ekosistem gambut provinsi.
Rencana Aksi ini didukung oleh kegiatan:
1. Peningkatan peran serta masyarakat dalam pengendalian kerusakan ekosistem gambut,
2. Pengawasan, monitoring dan evaluasi kondisi ekosistem gambut,
3. Survey dan pengumpulan data hidrologi dan hidrogeologi pada lahan bergambut,
4. Pembentukan Tim Koordinasi dan Sekretariat Penyusunan Perencanaan Lahan Rawa
Berkelanjutan melalui kegiatan Water Management for Climate Change Mitigation and Adaptive
Development of Lowlands (WACLIMAD) yang bertujuan untuk melakukan identifikasi lahan
rawa (termasuk gambut sekitar 30%) yang dapat dibudidayakan dan yang harus
dikonservasi,
5. Penelitian sistem tata air pada lahan bergambut,
6. Penyusunan Perpres Kawasan Strategis Nasional (KSN) & Rencana Tata Ruang (RTR)
Pulau,
7. Penyusunan rencana tata ruang wilayah sungai,
8. Audit tata ruang (stock taking) wilayah provinsi,
9. Pendataan dan informasi bidang penataan ruang,
10. Monitoring evaluasi RTRW nasional dan pulau dan program infrastruktur nasional,
11. Percepatan penetapan Perda RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota berbasis Kajian
Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) di 31 Provinsi dan 497 kab/kota selama 5 tahun.
Dukungan lain untuk Rencana Aksi ini antara lain melalui:
1. Fasilitasi kemitraan di 24 propinsi,
2. Fasilitasi kelompok ijin usaha pengelolaan HKm di 24 propinsi,
3. Penurunan jumlah hotspot di Sumatra, Sulawesi dan Kalimantan sebesar 20% per tahun,
4. Peningkatan Hasil Hutan Kayu/ Bukan Kayu/ Jasa Lingkungan,
5. Peningkatan Jumlah Unit IUPHHK Bersertifikat PHPL dari Tahun 2009,
6. Peningkatan Produksi Penebangan Bersertifikat Legalitas Kayu,
7. Pembuatan Peta Areal Kerja Pencadangan (IUPHHK-HT, HA, RE, HKm, HTR dan
Hutan Desa) ,
8. Pengendalian Penggunaan Kawasan Hutan,
9. Penyelesaian permohonan Ijin Pakai pakai KH dengan kompensasi PNBP,
10. Data dan Informasi Penggunaan KH,

- 34 -

11. Kebijakan bidang Planologi Kehutanan dan Peraturan perundangan pengendalian dan
penertiban penggunaan KH tanpa ijin,
12. Pelepasan Kawasan Hutan secara hati-hati (prudensial) dan sesuai dengan RTRWP yang
berlaku,
13. Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan,
14. Data dan Informasi Geospasial dan tematik kehutanan Tingkat Nasional,
15. Data dan Informasi potensi kayu di KH Tingkat Nasional,
16. Data dan Informasi penggunaan karbon KH Tingkat Nasional,
17. Basis data spasial Sumber Daya Hutan yang terintegrasi di pusat dan daerah,
18. Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perubahan Iklim,
19. Iptek dasar dan terapan bidang landscape hutan, perubahan iklim, dan kebijakan
kehutanan,
20. Penurunan jumlah Hot spot, di P. Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan,
21. Peningkatan kapasitas Aparatur dan Masyarakat,
22. Penyelesaian kasus perambahan hutan,
23. Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP),
24. Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL),
25. Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK),
26. Peraturan perundang-undangan penyelenggaraan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH),
27. Fasilitasi dukungan kelembagaan ketahanan pangan,
28. Pengawasan pemanfaatan ruang dan evaluasi pemanfaatan ruang berdasarkan daya
dukung dan daya tampung lingkungan yang terpadu dan bersifat lintas K/L,
29. Penelitian dan pengembangan teknologi rendah emisi, metodologi MRV pada areal
pertanian di lahan gambut.
4.2.2 Bidang Pertanian
Bidang pertanian secara umum merupakan bidang yang secara significant akan terkena dampak
perubahan iklim. Namun, di sisi lain, bidang pertanian juga menghasilkan emisi GRK. Apabila
tanpa Rencana Aksi (Business As Usual/BAU) di lahan padi sawah non gambut akan
menghasilkan emisi CH4 dan N2O dalam kondisi tergenang (anaerobic), sedangkan padi sawah
di lahan gambut emisi GRK yang dikeluarkan terutama CH4. Untuk perkebunan di lahan gambut
karena kondisi yang dibutuhkan aerobic, maka emisi GRK terbesar adalah CO2.

- 35 -

Emisi kumulatif GRK di bidang pertanian apabila tanpa dilakukan rencana aksi (BAU)
diperkirakan sebesar 117 juta ton CO2e. Oleh karena itu, untuk mendukung pemenuhan target
penurunan emisi GRK Indonesia sebesar 26% atau 41% hingga tahun 2020, diperlukan beberapa
kebijakan di bidang pertanian untuk menurunkan emisi GRK.
4.2.2.1 Arah Kebijakan
Kebijakan pembangunan pertanian diarahkan untuk meminimalisasi dampak negatif dari
perubahan iklim dan berkontribusi dalam penurunan emisi GRK, yang dilakukan melalui (i)
mensinergikan dan mengintegrasikan kebijakan, perencanaan, dan program pada seluruh
pemangku kepentingan di bidang pertanian seperti, dengan Kementerian Pekerjaan Umum
(misalnya untuk ketersediaan air dan infrastruktur), Kementerian Kehutanan (misalnya untuk
REDD+), dan Pemerintah Daerah (misalnya perijinan peruntukkan lahan dan pengembangan
wilayah); (ii) mempertajam kebijakan dan menyusun langkah-langkah pengurangan emisi karbon
di bidang pertanian sesuai dengan kebutuhan Indonesia dan perkembangan global dengan tetap
memprioritaskan ketahanan pangan; (iii) meningkatkan pemahaman petani dan pelaku pertanian
lainnya dalam mengantisipasi perubahan iklim untuk menjamin pencapaian program ketahanan
pangan; (iv) meningkatkan kemampuan para pelaku usaha di bidang pertanian untuk beradaptasi
dengan perubahan iklim; (v) merakit dan menerapkan teknologi tepat guna dalam mitigasi emisi
GRK; dan (vi) meningkatkan kinerja litbang dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
4.2.2.2 Rencana Aksi
Penurunan emisi GRK pada lahan pertanian (sawah dan perkebunan) dan pemanfaatan limbah
pada sub sektor peternakan, dilakukan dengan beberapa introduksi teknologi sebagai berikut:
1. Pada lahan sawah non-gambut, teknologi reduksi emisi CH4 dilakukan antara lain melalui
penerapan System of Rice Intensification (SRI) disertai dengan sistem pengairan berselang
(intermittent irrigation), penggunaan varietas unggul baru (VUB) rendah emisi, dan berbagai
teknik budidaya lainnya seperti olah tanah minimum, sistem tebar langsung, penggunaan
herbisida dan pupuk organik. Cara ini memiliki potensi menekan emisi CH4 dari lahan
sawah berkisar antara 10-50%, dengan rata-rata tersebar pada kisaran 20%.
2. Pada lahan gambut yang digunakan untuk usaha tani perkebunan diarahkan pada lokasi
yang berasal dari lahan alang-alang dan bukan membuka hutan, dan proses penyiapan
lahannya dilakukan dengan tanpa bakar serta dilakukan penambahan bahan amelioran
(kaya kation ber-valensi tinggi) yang dapat menurunkan emisi CO2.

- 36 -

3. Teknologi mitigasi peternakan dilakukan melalui perbaikan teknologi pakan ternak


(ransum dan suplemen/konsentrat), pengelolaan kotoran ternak menjadi biogas dan
kompos, dan pemuliaan untuk memperoleh bibit ternak yang adaptif dengan fermentasi
enterik rendah emisi. Total penurunan emisi melalui perbaikan teknologi ini dapat
mencapai sekitar 4.691 ton CO2e.
Untuk itu, Rencana Aksi Nasional di bidang Pertanian yang disusun berdasarkan RPJMN 20102014, RPJPN 2005-2025, dan usulan dari K/L terkait serta perhitungan target penurunan emisi
GRK bidang Pertanian sebesar 0.008 Giga Ton CO2e pada tahun 2020 difokuskan pada kegiatan:
1. Penyiapan lahan tanpa bakar dan optimalisasi pemanfaatan lahan terutama untuk
wilayah/provinsi di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat,
Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah.
2. Penerapan teknologi budidaya tanaman untuk mengurangi gas rumah kaca (GRK).
3. Pemanfaatan pupuk organik dan bio-pestisida dalam budidaya tanaman untuk mencegah
laju peningkatan emisi GRK melalui penggunaan Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO).
4. Pengembangan areal perkebunan (sawit, karet, kakao) di lahan yang tidak berhutan/lahan
terlantar/lahan terdegradasi (APL).
5. Pemanfaatan kotoran/urine ternak dan limbah pertanian untuk biogas, biofuel dan
pupuk organik.
6. Penerapan pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) melalui pembuatan kompos, arang dan
briket arang di provinsi Riau, Sumatera Utara, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan
Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat.
7. Perbaikan dan pemeliharaan sistem irigasi.
Rencana aksi ini didukung dengan kegiatan:
1. Penelitian sistem pengelolaan air pada daerah irigasi
2. Penelitian metode pengurangan emisi gas rumah kaca di waduk
3. Penelitian dan pengembangan teknologi rendah emisi, metodologi MRV bidang
pertanian
4.2.3 Bidang Energi dan Transportasi
Bidang Energi, termasuk tenaga listrik dan transportasi, merupakan salah satu penyumbang
emisi GRK yang cukup besar dengan kecenderungan peningkatan yang cukup signifikan dari

- 37 -

tahun ke tahun. Penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik dan bahan
bakar minyak untuk transportasi menyebabkan emisi GRK dari bidang energi dan transportasi
cukup besar. Peraturan Presiden No 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional
mengamanatkan pengurangan minyak bumi dalam porto folio energi primer nasional pada tahun
2025, dan pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih ditingkatkan. Pemanfaatan energi bersih
ini diharapkan dapat menyumbang penurunan emisi GRK, disamping meningkatkan kemandirian
energi, menciptakan lapangan kerja. Pemanfaatan gas terutama dilakukan untuk pengganti BBM
pada pembangkit tenaga listrik dan pada bahan bakar kendaraan bermotor. Pemanfaatan tenaga
matahari, air, angin dan panas bumi terutama ditujukan untuk menggangti BBM dan batubara
pada pembangkit tenaga listrik. Pemanfaatan Bahan bakar berbasis nabati ditujukan untuk
mengganti bahan BBM kendaraan bermotor. Penurunan emisi GRK tidak hanya dilakukan pada
sisi penyediaan energi tetapi juga disisi pemanfataan energi, melalui pengelolaan energi yang lebih
baik dan penghematan penggunaan energi.

Potensi penghematan energi di setiap sektor

pengguna energi, seperti sektor industri, transportasi, dan rumah tangga, sukup besar.
Penurunan emisi GRK di bidang energi dilakukan melalui penerapan komitmen efisiensi
pemanfaatan energi (demand side) dan penerapan mandatori penyediaan energi baru dan
terbarukan (EBT) dan pemanfaatan teknologi pembangkit energi (listrik) yang bersih dan efisien
(supply side). Efisiensi pemanfaatan energi dapat dilakukan diberbagai proses dari rantai energi,
dimulai dari usaha pencarian sumberdaya energi, produksi, pengolahan, distribusi hingga
pemanfaatannya. Rantai energi ini dapat disederhanakan ke dalam tiga bagian utama, yaitu
kegiatan pencarian energi untuk menghasilkan energi primer, kegiatan konversi energi primer
menjadi energi yang dapat digunakan, serta pemanfaatan energi. Pemanfaatan energi meliputi
berbagai bidang, antara sebagai bahan bakar dalam pembangkit tenaga listrik, bahan baku di
sektor industri, seperti pupuk, baja, dan petrokimia, bahan bakar di sektor transportasi, rumah
tangga dan sebagainya.
Komitmen efisiensi energi sampai dengan tahun 2020 didasarkan atas kebutuhan energi tanpa
mitigasi (BAU), yakni sebesar 1.936,6 juta setara barel minyak atau SBM, yang terdiri dari
kebutuhan untuk rumah tangga (12%), transportasi (30%), industri (53%), dan komersial (4%)
(Rancangan Blue Print, Pengembangan Energi

Baru Terbarukan

dan Konservasi Energi,

ESDM, 2010). Potensi efisiensi atau penghematan dalam penggunaan energi sangat besar, sekitar
15-30% di sektor industri, 25% di sektor transportasi, dan 10-20% di sektor rumah tangga dan
komersial (Survey Potensi Konservasi Energi DJLPE, ESDM, 2008).

- 38 -

Sedangkan, penyediaan EBT masih terbatas, yakni 30,3 juta SBM dari panas bumi dan 56,5 juta
SBM dari tenaga air (BAU) (Rancangan Blue Print, Pengembangan Energi Baru Terbarukan
dan Konservasi Energi, ESDM, 2010). Potensi penyediaan EBT cukup besar dan dapat
meyumbang sekitar 20% dari kebutuhan enegi nasional secara keseluruhan. Sumber-sumber
energi dari panas bumi, nabati, hidro atau sumber energi air, nuklir, dan tenaga surya, angin,
biogas dan biomas merupakan sumber-sumber EBT yang sangat berpotensi untuk
dikembangkan. Sumber energi panas bumi dan air merupakan dua sumber EBT yang sangat
besar dalam menyumbang penyediaan energi, khsusunya untuk pembangkit tenaga listrik, dan
dalam pengurangan emisi GRK.
Penerapan teknologi energi bersih diarahkan untuk peningkatan efisiensi pemanfaatan dan
teknologi yang mengkonsumsi energi secara efisien dan menghasilkan karbon yang rendah.
Peranan teknologi bersih ini menjadi penting mengingat potensi emisi GRK dari sektor energi,
terutama listrik, cukup besar. Kenaikan ini terutama dihasilkan oleh adanya pengembangan
pengembangan tenaga listirk uap (PLTU) batubara dari program percepatan penyediaan listrik
10.000 MW tahap pertama, dan pengembangan kurang lebih 4.000 MW PLTU batubara dari
program percepatan penyediaan listrik tahap kedua. Jumlah emisi GRK tersebut digunakan
sebagai bagian dari jumlah emisi skenario (BAU) yang digunakan dalam perhitungan penurunan
emisi GRK, dengan asumsi bahwa skenario ini disusun berdasarkan tingkat proyeksi emisi masa
depan tanpa adanya intervensi kebijakan apapun terkait dengan target penurunan emisi GRK.
Emisi GRK (BAU) di sektor energi pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 1.400 juta ton
dengan potensi pengurangan emisi mencapai 166,33 juta ton (17,53%), dimana sektor
transportasi menyumbang 43,88 juta ton (21,23 %), rumah tangga 3,83 juta ton (12,11 %),
industri 54,47 juta ton (19,96 %), komersial 2,26 juta ton (6,54 %), dan pembangkitan tenaga
listrik 61,88 juta ton (15,34%) (Rancangan Blue Print, Pengembangan Energi Baru Terbarukan
dan Konservasi Energi, ESDM, 2010). Penurunan emisi GRK melaui upaya efisiensi pemanfaan
energi dilakukan dengan mengacu kepada Rencana Induk Konservasi Energi Nasional (RIKEN),
dilengkapi dengan Roadmap Konservasi Energi untuk masing-masing sektor pengguna, yang
meliputi antara lain sosialisasi dan kampanye tentang perlunya penghematan energi, pendidikan
dan pelatihan, penelitian dan pengembangan teknologi energi rendah energi. Efisiensi, disektor
industri, dilakukan dengan melakukan audit penggunaan energi, labelisasi efieisnsi, penerapan
standar konservasi energi untuk bangunan gedung, dan sebagainya, di sektor transportasi dengan
menerapkan sistem transportasi masal yang efisien, di sektor komersial dengan menerapkan
standar konservasi energi untuk bangunan gedung, dan di sektor kelistrikan dengan menerapkan
sistem pembangkitan yang efisien. Penerapan sistem pembangkit yang efsien dapat menyumbang

- 39 -

penurunan emisis GRK dengan porsi yang besar. Hal ini mengingat emisi GRK di bidang energi
umumnya berasal dari kegiatn pembangkitan listrik. Disamping itu, upaya mitigasinya dapat
dilakukan dengan relatif mudah dan cukup terukur.
Pertumbuhan konsumsi energi bidang transportasi saat ini terus meningkat dari tahun ke tahun,
sesuai dengan semakin meningkatnya laju pertumbuhan kepemilikan kendaraan pribadi,
kendaraan umum, dan pertumbuhan pergerakan (trip) penumpang dan barang, baik di daerah
perkotaan maupun perdesaan. Saat ini sektor transportasi mengkonsumsi sekitar 48% dari
konsumsi nasional energi primer, khususnya minyak bumi. Dari total konsumsi energi sektor
tansportasi ini, hampir seluruhnya (88%) diserap oleh transportasi jalan, dan sisanya diserap oleh
moda transportasi lainnya, seperti transportasi udara (7%), transportasi perkeretaapian (4%),
serta transportasi laut, sungai, danau dan penyebrangan (1%) (ICCSR, 2010).
Emisi GRK yang dihasilkan bidang transportasi tahun 2009 mencapai sekitar 67 juta ton CO2,
dan setiap tahunnya tumbuh dengan laju sekitar 8-12%. Emisi GRK ini umumnya dihasilkan dari
moda transportasi jalan, khususnya di daerah perkotaan seperti Jabodetabek, Surabaya, Medan,
Bandung dan Semarang yang memiliki tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi.

4.2.3.1 Arah Kebijakan


Penurunan GRK dilakukan dengan tetap menitikberatkan adanya penjaminan ketersediaan energi
guna memenuhi kebutuhan energi secara nasional. Oleh sebab itu upaya penurunan GRK
difokuskan

terhadap

upaya

memaksimalkan

efisiensi

dan/atau

konservasi

energi,

mengoptimalkan penyediaan dan mengutamakan pemanfaatan EBT, dan menerapkan teknologi


energi bersih, serta pengembangan penelitian pemanfaatan teknologi nuklir dan Carbon Capture
Storage (CCS). Komitmen efisiensi dalam pemanfaatan energi diterapkan pada seluruh sektor
pengguna energi, yakni sektor transportasi, industri, rumah tangga, dan komersial. Pemanfaatan
EBT dilakukan melalui penerapaan mandatori penyediaan dan pemanfaatan EBT sebesar 20%
dalam bauran energi nasional. Sedangkan penerapan teknologi bersih terutama dilakukan dalam
proses konversi energi dari energi primer ke listrik pembangkit tenaga listrik.
Kebijakan penurunan emisi GRK di bidang energi dikelompokkan pada tiga kebijakan utama,
yaitu: (i) konservasi energi yang dilakukan dengan meningkatkan efisiensi pemakaian energi mulai
dari sisi hulu sampai hilir; (ii) diversifikasi energi yang dilakukan untuk meningkatkan pangsa
penggunaan EBT; dan (iii) fuel switching dengan memanfaatkan bahan bakar yang lebih bersih
terutama untuk rumah tangga dan transportasi. Peningkatan efisiensi energi terutama
dilaksanakan dengan menerapkan manajemen atau pengelolaan energi yang lebih baik,

- 40 -

menggunakan teknologi/sistem yang lebih efisien, menerapkan standarisasi unjuk kerja peralatan,
labeling, dan komitmen efisiensi energi. Insentif diperkenalkan kepada masyarakat, terutama
kepada pelaku penyedia energi, untuk dapat melakukan efisiensi, menggunakan teknologi energi
bersih, dan memanfaatkan energi baru terbarukan. Fuel switching dilakukan dengan mensubtitusi
bahan bakar nilai karbon tinggi dengan bahan bakar karbon rendah, seperti Compressed Natural
Gas (CNG) untuk sektor transportasi dan Liquified Petroleu Gas (LPG) untuk rumah tangga.
Untuk melaksanakan langkah-langkah kebijakan tersebut, bebagai kegiatan pendukung perlu
dilakukan, antara lain penerapan skim insentif dan disinsentive untuk penggunaan teknologi
bersih, dan teknologi yang berkaitan dengan energi baru dan terbarukan, sistem pricing (feed-in
tariff, green energy certificate) untuk memperhitungkan biaya eksternal energi seperti biaya lingkungan,
carbon tax, biaya pengganti (avoidance costs), dan sebagainya.
Dengan terkonsentrasinya emisi GRK di sektor transportasi jalan di daerah perkotaan, maka
upaya pengurangan emisi GRK dilakukan dengan beberapa pendekatan sebagai berikut: a)
(Avoidance) pengurangan kebutuhan akan perjalanan terutama daerah perkotaan (trip demand
management) melalui penata-gunaan lahan di daerah perkotaan dan dalam jangka panjang melalui
pola pembangunan perkotaan yang memungkinkan masyarakat mengakses sarana prasarana
esensial tanpa melakukan perjalanan yang berlebihan; b) (Shifting) pergeseran pola penggunaan
kendaran pribadi (sarana transportasi dengan konsumsi energi yang tinggi) ke pola transportasi
rendah karbon seperti, sarana transportasi tidak bermotor, transportasi publik, transportasi air,
dan sebagainya c) (Improvement) peningkatan efisiensi energi dan pengurangan pengeluaran
karbon pada kendaraan bermotor melalui pengembangan teknologi kendaraan bermotor dan
penggunaan bahan bakar rendah emisi; dan d) (green tranport) melakukan penghijauan di
sepanjang jalan.

4.2.3.2 Rencana Aksi


Rencana Aksi Nasional di bidang energi dan transportasi disusun dengan mengacu kepada
RPJMN 2010-2014, RPJPN 2005-2025 dan usulan dari Kementrian/Lembaga terkait serta
perhitungan target penurunan emisi GRK bidang energi dan transportasi sebesar 0.038 giga ton
CO2e (0.03 giga ton CO2e dari bidang energi dan 0.008 giga ton CO2e dari bidang transportasi)
pada tahun 2020. Rencana aksi penurunan emisi di bidang energi dan transportasi difokuskan
pada upaya-upaya (i) efisiensi energi, sebagai upaya untuk mengurangi pemakaian energi demi
mengurangi emisi. Efisiensi dilakukan melalui penggunaan teknologi yang lebih efisien maupun
pengurangan konsumsi energi; (ii) fuel switching melalui penggunaan energi yang lebih bersih,

- 41 -

seperti gas (CNG dan LPG); dan (iii) peningkatan penggunaan energi EBT; (iv) Reklamasi lahan
pasca tambang; (v) pengurangan penggunaan kendaraan pribadi dan peningkatan penggunaan
angkutan umum melalui Transportation Demand Management (TDM), Traffic Impact Control (TIC) dan
mengurangi kemacetan lalu lintas melalui Intelligent Transport System (ITS) (vi) penggunaan
transportasi tidak bermotor (vii) peningkatan efisiensi penggunaan bahan bakar fosil melalui
perbaikan sistem transportasi massal (MRT, BRT dan sistem transit) dan perbaikan teknologi
kendaraan bermotor.
Untuk memenuhi target penurunan emisi GRK tersebut, RAN-GRK bidang energi dan
transportasi difokuskan kedalam rencana aksi sebagai berikut :
1.

Peningkatan efisiensi energi


a. Audit energi pada 1003 objek pada tahun 2010-2014 dan pada 5910 objek
(gedung dan industri)
b. Program lampu hemat energi

2.

Pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT)


a. Penyediaan dan pengelolaan energi baru terbarukan dan konservasi energi

3.

Penerapan Fuel Switching


a. Pemanfaatan biogas
b. Penggunaan gas alam sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan
c. Peningkatan sambungan rumah yang teraliri gas bumi melalui pipa
d. Pembangunan kilang mini plant LPG

4.

Reklamasi lahan pasca tambang

5.

Pemanfaatan sistem transportasi pintar (intelligent transportation system - ITS),


a. Pembangunan ITS Jabodetabek
b. Pembangunan ITS di kota Medan, Bandung, Surabaya, Makassar, Palembang,
Semarang,

Balikpapan,

Denpasar,

Yogyakarta,

Padang,

Pekanbaru

dan

Banjarmasin
6.

Pengembangan sistem transportasi yang ramah lingkungan,


a. Penerapan pengendalian dampak lalu lintas (traffic impact control/ TIC)
b. Manajemen parkir
c. Congestion Charging dan Road Pricing (dikombinasikan dengan angkutan umum
massal cepat)
d. Reformasi sistem transit (Bus Rapid Transit (BRT)/ Semi BRT)
e. Peremajaan armada angkutan umum
f. Pemasangan Converter Kit (gasifikasi angkutan umum)

- 42 -

g. Program pelatihan dan sosialisasi smart driving (eco-driving)


h. Non-motorized transport (pedestian dan jalur sepeda)
7.

Pembangunan KA listrik (railway electrification);


a. Pengembangan KA Perkotaan Bandung (jalur ganda elektrifikasi, pengadaan
KRL)
b. Pembangunan double-double track Manggarai-Cikarang, DKI Jakarta
c. Pengadaan Kereta Api Listrik (KRL)
d. Pembangunan jalur KA Bandara Soekarno-Hatta

8.

Pengembangan sistem transportasi masal perkotaan, seperti Bus Rapid Transit (BRT), Mass
Rapid Transit (MRT) dan pembangunan monorail Jakarta

Rencana aksi tersebut didukung oleh kegiatan :


1.

Monitoring pasokan gas bumi untuk konsumen hulu, dan penyiapan rekomendasi alokasi
gas bumi

2.

Pemantauan implementasi kebijakan pengurangan volume pembakaran gas flare

3.

Penyediaan dan pengelolaan energi baru terbarukan dan konservasi energi

4.

Penyediaan 50 regulasi panas bumi dan air tanah

5.

Penyusunan klasifikasi data potensi dan cadangan panas bumi untuk ketenagalistrikan
dan pemanfaatan langsung energi panas bumi

6.

Penetapan Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) panas bumi

7.

Penetapan prosentase penggunaan BBN dalam pemakaian bahan bakar total

8.

Penetapan prosentase pengalihan pemakaian minyak tanah ke LPG

9.

Penelitian sistem pembangkit listrik tenaga gelombang dan arus laut

10. Pengujian seluruh kendaraan bermotor termasuk kendaraan pribadi dan sepeda motor
11. Penetapan standar emisi CO2 untuk mobil penumpang
12. Penetapan standar emisi CO2 untuk sepeda motor
13. Pengembangan sistem logistik modern
14. Car Labelling (pemasangan label emisi pada kendaraan)
15. Melaksanakan pembatasan kecepatan pada jalan tol
16. Pengaturan pajak dan harga bahan bakar
17. Pengaturan pajak kendaraan (berdasarkan emisi CO2)
18. Peningkatan kualitas kebersihan daratan dan perairan kolam pelabuhan dari sampah,
sanitary dan B3 (termasuk minyak)
19. Peningkatan kebersihan, keteduhan dan keasrian lingkungan dalam kawasan pelabuhan

- 43 -

20. Peningkatan kapasitas kelembagaan pengelola lingkungan kawasan pelabuhan


21. Implementasi eco-airport
22. Penelitian sistem pembangkit listrik tenaga gelombang dan arus laut
23. Penanaman pohon di sepanjang jalan
24. Pembangunan/peningkatan dan preservasi jalan
4.2.4

Bidang Industri

Industri merupakan sektor penyumbang emisi GRK yang berasal dari 3 sumber (IPCC) yaitu dari
penggunaan energi, proses produksi dan limbah. Industri mengkonsumsi energi sebesar 47.2%
dari seluruh total konsumsi energi final dalam tahun 2008 (Pusdatin ESDM 2008). Dalam tahun
2000 emisi GRK yang dihasilkan oleh industri manufaktur dari penggunaan energinya
merupakan sumber terbesar ke-9 dari total emisi GRK di Indonesia (diluar emisi dari sektor
LULUCF).
Indonesia merupakan produser semen terbesar ke-10 di dunia (tahun 2005) dan memproduksi 37
juta ton semen per tahun. Industri semen merupakan sumber emisi GRK terbesar dari subsektor industri karena menghasilkan GRK dari 2 sumber yaitu penggunaan energi dan proses
kalsinasi dalam produksinya dan merupakan sumber emisi terbesar ke-10 dari sumber emisi GRK
Indonesia (SNC, 2009) diluar emisi dari Land Use Change and Forestry (LUCF).
Berdasarkan Keputusan Presiden no. 28/2008 sasaran kebijakan nasional untuk pertumbuhan
ekonomi bidang industri ditetapkan menjadi 7.5% pada 2025, sedangkan pihak perusahaan
semen memperkirakan pertumbuhan industri semen sebesar 5% - 8% p.a. pada 2025.
Pemerintah Indonesia memprediksikan bahwa GDP akan tumbuh sebesar 7% pertahun. Secara
umum industri semen Indonesia mempunyai intensitas emisi GRK sebesar 0,833 ton CO2/ton
semen dan rasio rerata clinker-semen diambil 0.90t clinker/t semen (2008). Di akhir September
2009, Kementerian Perindustrian telah mengeluarkan keputusan bahwa pengurangan emisi GRK
dari industri semen merupakan prioritas bagi bidang industri dalam 20 tahun ke depan.
4.2.4.1 Arah Kebijakan
Kebijakan bidang industri dalam rangka mendukung mitigasi perubahan iklim dilakukan dengan
mengarahkan agar sektor industri besar seperti semen, baja, pulp dan kertas, tekstil, dan lain-lain
dapat melakukan program penurunan emisi GRK secara bertahap melalui 3 program yaitu

- 44 -

melakukan efisiensi energi dengan menggunakan teknologi mesin yang lebih efisien,
menggunakan bahan bakar alternatif, dan melakukan efisiensi dalam proses produksi.

4.2.4.2 Rencana Aksi


Rencana Aksi Nasional di bidang industri disusun berdasarkan RPJMN 2010-2014, RPJPN 20052025 dan usulan dari K/L terkait serta perhitungan target penurunan emisi GRK bidang industri
sebesar 0.001 giga ton CO2e pada tahun 2020 dengan melakukan kegiatan pada efisiensi energi
dan penggunaan energi baru dan terbarukan. Dalam bidang ini pemerintah lebih banyak berperan
sebagai fasilitator dimana investasi penurunan emisi GRK lebih banyak dilakukan oleh pihak
swasta.
Untuk itu, rencana aksi di bidang industri difokuskan pada industri semen dan baja dengan
kegiatan:
1. Penyusunan kebijakan teknis pengurangan emisi CO2 di industri semen dan baja ;
2. Fasilitasi dan insentif pengembangan teknologi low carbon dan ramah lingkungan di
industri semen dan baja di 25 perusahaan industri;
3. Konservasi dan Audit Energi industri semen dan baja pada 50 perusahaan industri
Rencana aksi tersebut didukung dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1. Penyusunan

dan

pengembangan

roadmap/peta

jalan

Green

Industry

dan

implementasinya
2. Peningkatan capacity building bagi aparat pemerintah dan pelaku industri
3. Fasilitasi dan pemberian insentif untuk penumbuhan industri pengelolaan limbah industri
4. Implementasi standard of EURO IV untuk kendaraan bermotor baru
5. Inventori potensi emisi CO2 pada sektor industri
6. Pemantauan dan evaluasi program mitigasi pada 50 perusahaan per tahun
7. Program konservasi dan audit energi
8. Penyusunan roadmap emisi CO2 sektor industri
4.2.5 Pengelolaan Limbah
Penduduk Indonesia pada tahun 2005 berjumlah 218,8 juta (BPS, 2006) dan tingkat produksi
sampah adalah sebesar 0,6 kg/orang/hari untuk daerah perkotaan dan 0,3 kg/orang/hari untuk

- 45 -

daerah perdesaan. Jumlah sampah dari rumah tangga mencapai 33,5 juta ton per tahun dengan
proporsi sampah di perkotaan sebesar 50% dikelola oleh Pemerintah Daerah. Sedangkan
sebagian besar lainnya dikelola oleh masyarakat sendiri melalui komposting, pembakaran sampah,
open dumping dan penimbunan sampah (dikubur). Sebagian kecil lainnya (1%) dibuang ke sungai
atau tempat-tempat lainnya. Sedangkan di daerah perdesaan, hanya 20% sampah yang dikelola
oleh pemerintah daerah, 80% lainnya dikelola oleh masyarakat sendiri.
Pada kegiatan pengelolaan limbah sampah terdapat 4 komponen kegiatan utama yaitu reduksi
sampah yang dilakukan melalui penerapan 3R (Reduce, Reuse, Recycle), transportasi/pengangkutan
sampah, pemrosesan akhir, serta kegiatan pengelolaan sampah lainnya. Penyusunan RAN-GRK
untuk menghitung penurunan emisi dilakukan dengan beberapa asumsi kondisi tanpa Rencana
Aksi adalah sebagai berikut:
1. Transportasi/pengangkutan sampah pada tahun 2005 memiliki tingkat pelayanan 50%
dengan peningkatan sebesar 2,5% per tahun
2. Reduksi sampah tidak terjadi, timbulan sampah perkotaan meningkat dari 0,6
kg/orang/hari pada 2005 menjadi 1,2 kg/orang/hari tahun 2030 dan untuk sampah
perdesaan meningkat dari 0,3 kg/orang/hari pada 2005 menjadi 0,55 kg/orang/hari
3. Timbulan sampah yang dibuang di lokasi open dumping sebesar 45% dan tidak ada
konversi dari open dumping menjadi controlled atau sanitary landfill
Emisi GRK dari bidang limbah (limbah cair domestik dan sampah rumah tangga) sendiri pada
tahun 2010 diperkirakan sebesar 34.987 ribu ton CO2e, dan diperkirakan akan terus meningkat
dengan kondisi tanpa Rencana Aksi (BAU) hingga 52.381 ribu ton CO2e pada tahun 2020.

4.2.5.1

Arah Kebijakan

Kebijakan pengelolaan limbah sampah dalam rangka mitigasi perubahan iklim dilakukan dengan
pengelolaan sampah dengan penerapan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), fasilitasi prasarana
pengumpulan/pengangkutan sampah, pembangunan/ peningkatan Tempat Pemrosesan akhir
(TPA) sampah menjadi sanitary landfill dan juga pengembangan TPA yang terpadu dengan
teknologi pemanfaatan GRK untuk energi. Sementara dalam pengelolaan limbah cair domestik
dilakukan melalui pembangunan dan peningkatan pelayanan sarana dan prasarana air limbah
terpadu terutama bagi kawasan perkotaan.,

- 46 -

4.2.5.2

Rencana Aksi

Rencana Aksi Nasional di bidang limbah disusun berdasarkan RPJMN 2010-2014, RPJPN 20052025 dan usulan dari K/L terkait serta perhitungan target penurunan emisi GRK bidang limbah
sebesar 0.048 Giga Ton CO2 pada tahun 2020 dengan penekanan kegiatan pada pengelolaan
sampah dengan 3R.
Rencana Aksi di bidang limbah difokuskan pada kegiatan:
1. Pembangunan/peningkatan sarana dan prasarana air limbah dengan sistem off site dan on
site untuk 16 kota (off-site) dan 11.000 lokasi (on-site) hingga tahun 2020 yang melayani
hingga 70% penduduk
2. Pembangunan/ peningkatan TPA dan pengelolaan sampah terpadu 3R di 240 kota
3. Pemanfaatan limbah hasil pembukaan lahan sebesar 1800 Ha untuk bahan pembuatan
kompos, arang dan briket arang yang akan dilakukan di Jambi, Sumatera Selatan dan
Kalimantan Timur.
Rencana Aksi ini didukung oleh kegiatan:
1. Inventarisasi GRK khususnya di bidang limbah yang akan dilakukan dalam 372 kota
selama 5 tahun
2. Pengawasan kegiatan pembakaran terbuka sampah di 372 kota selama 10 tahun
3. Peningkatan kapasitas pengelolaan persampahan untuk 150 kab/kota, meliputi
penyusunan

NSPK

pengembangan

pengelolaan

persampahan,

penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK) yang berkaitan dengan

pendampingan
pengelolaan

persampahan, pembinaan kelembagaan dalam rangka meningkatkan kemampuan


pengelola persampahan.
5. PENDANAAN
Komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi karbon sebesar 26% secara BAU pada tahun
2020 tidak terlepas dari kemampuan pemerintah untuk memobilisasi sumber pendanaan dalam
negeri untuk melakukan kegiatan-kegiatan pembangunan dalam mendukung komitmen tersebut.
Sementara itu, pencapaian komitmen tambahan pengurangan emisi karbon hingga 41% dari
BAU memerlukan mobilisasi pendanaan yang bersumber dari luar negeri.

- 47 -

Mobilisasi sumber pendanaan tersebut didasarkan pada kebutuhan penurunan emisi gas rumah
kaca melalui kegiatan yang mendukung seperti telah diidentifikasi sebelumnya. Bab ini akan
membahas mengenai kebijakan pendanaan secara umum, pemenuhan kebutuhan pendanaan,
serta sumber dan mekanisme pembiayaan kegiatan tersebut.
5.1 Kebijakan Pendanaan
Kebijakan pendanaan untuk mendukung komitmen penurunan emisi gas rumah kaca secara
sukarela merupakan bagian dari kebijakan yang telah ditetapkan dalam menghadapi perubahan
iklim seperti yang diamanatkan di dalam RPJMN 2010-2014. Di dalam perencanaan jangka
menengah, isu perubahan iklim telah mendapatkan prioritas pendanaan melalui mekanisme
APBN. Sementara itu, untuk membantu komitmen 41%, kebijakan pendanaan diarahkan untuk
memanfaatkan sumber dana yang disalurkan baik melalui mekanisme UNFCCC maupun di luar
mekanisme UNFCCC (melalui kerja sama bilateral dan multilateral). Untuk aksi mitigasi di atas
target 41%, pendanaannya dapat menggunakan skema pasar karbon.
Di samping itu, kebijakan pendanaan perubahan iklim tidak hanya dari segi pembiayaan kegiatan,
tetapi juga dapat dilakukan dari segi kebijakan fiskal yang mendorong penurunan emisi GRK
dengan memberikan nilai terhadap karbon. Hal ini dipandang sebagai upaya kebijakan perubahan
iklim yang biayanya rendah dan menghasilkan revenue untuk jangka panjang. Kebijakan fiskal ini
dapat berupa (1) penjualan hak mengemisi (emission trading) dan (2) pajak karbon (carbon tax/levy).
Pada kebijakan pertama, pemerintah menetapkan besarnya emisi GRK yang diperkirakan akan
terjadi dan menjual hak membuang emisi kepada pihak-pihak tertentu. Sementara pada kebijakan
kedua, pemerintah menetapkan besarnya harga setiap emisi karbon beserta pajaknya.
5.2 Sumber Pendanaan
Pendanaan kegiatan penurunan emisi GRK dipenuhi dengan sumber dari dalam dan luar negeri.
Pendanaan dalam negeri yang menjadi prioritas utama dalam pendanaan RAN bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sesuai dengan rancangan RPJMN 2010-2014.
Meskipun demikian, komitmen 26% yang dilakukan dengan upaya sendiri (unilateral) tidak hanya
meliputi pendanaan pemerintah pusat, melainkan termasuk sumber pendanaan dalam negeri
lainnya, seperti APBD, hutang pemerintah, investasi swasta (perbankan dan non-perbankan),
dan corporate social responsibility (CSR).
Beberapa sumber pendanaan terkait penurunan emaisi GRK di antaranya adalah:

- 48 -

1. APBN
a. Rupiah Murni
b. Hibah Luar dan Dalam Negeri
c. Pinjaman Luar Negeri
d. Debt to Nature Swap
e. Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF)
f. Green Fund
2. Swasta Dalam Negeri
a. Perbankan
b. Non-Bank
c. Corporate Social Responsibility (CSR)
3. Dana Internasional (Global Fund)
a. Global Environment Fund
b. Copenhagen Green Climate Fund
c. Skema Fund lainnya yang dikembangkan di forum-forum internasional

- 49 -

Tabel 5.1 Perkiraan sumber pendanaan untuk penanganan perubahan iklim di


Indonesia
Sumber Dana

Pelaksana

Mekanisme
Pendanaan

Jumlah
sd 2009

Rupiah Murni

Pemerintah

APBN

1,7 Triliun Rupiah

Loan

Pemerintah

APBN

Jepang USD 400


Juta, Perancis USD
300 juta

Debt to Nature Swap

Pemerintah

APBN

US USD 19,6 juta

Potensi Jumlah

Sektor

Sesuai RPJMN 2010- Mitigation dan Adaptation


2014
Masuk ke dalam
Mitigation dan Adaptation
resource envelope K/L
EUR 20 Juta dari
Pemerintah Jerman

Kehutanan dan Konservasi


energi

SWASTA DALAM
NEGERI

APBN

Jerman EUR 25 Juta


Green Economy (BKF)

Pemerintah

APBN

Green Fund (PIP MoF)

Swasta

APBN

Grant

Pemerintah dan
Swasta

Kebijakan Fiskal
500 milyar 1 triliun 500 milyar 1 triliun
Rupiah
Rupiah

Bilateral/Multilateral

Pemerintah
dan/atau Swasta

APBN

Sesuai dengan perjanjian


hibah

ICCTF

Pemerintah dan
Swasta (melalui
pemerintah)

APBN

Perbankan

Swasta

Mengikuti mekanisme
pasar

Dana Investasi

Non-Perbankan

Swasta

Mengikuti mekanisme
pasar

Dana Investasi

CSR

Swasta

Swasta

Mitigasi dan Adaptasi

DFiD GBP 10 Juta

Jerman 10 juta Euro

Dana inovasi

Ausaid AUD 2 Juta

Belanda 40 juta Euro


DFiD GBP 50 Juta

Dana transformasi (bergulir)

Global Environment Facility

Global Fund

Dana bergulir

Copenhagen Green Climate Pemerintah dan


Fund
Swasta (NGO)

US$ 90 Juta melalui


SCCF
UNFCCC

- none -

USD 30 Miliar (2012)

Mitigasi dan Adaptasi

USD 100 Miliar (2020)

1. Sumber Dana APBN


Sumber pendanaan terkait APBN dapat berupa rupiah murni maupun PHLN. Berdasarkan
perencanaan di dalam RPJM 2010-2014 perkiraan resource envelope untuk 2010-2014 terkait
penurunan emisi GRK yang tersedia adalah sekitar Rp37,889 triliun (Buku 2 Bab I Lintas Bidang
Perubahan Iklim Kelompok Mitigasi). Melalui komitmen yang sama, pada periode 2015-2020,
pemerintah perlu menyediakan resource envelope yang cukup untuk mencapai penurunan 26%.
Pinjaman luar negeri mengikuti mekanisme yang telah diatur di dalam peraturan yang sama
seperti dalam pengelolaan hibah luar negeri. Sampai tahun 2009, pinjaman luar negeri yang telah
diterima dalam bentuk program loan untuk perubahan iklim adalah dari Pemerintah Jepang sebesar

- 50 -

US$400 juta dan Pemerintah Perancis sebesar US$300 juta. Dalam pemanfaatan sumber ini perlu
dipertimbangkan kondisi persyaratan yang ditetapkan oleh peminjam sehingga dapat mengurangi
resiko pinjaman dan biayai pinjaman (cost of borrowing). Debt to nature swap (DNS) merupakan salah
satu sumber dana yang sudah digunakan untuk membiayai pengelolaan lingkungan. Debt swap
yang telah diimplementasikan antara lain dengan Pemerintah Amerika Serikat yaitu sekitar USD
19,5 juta untuk membiayai rehabilitasi hutan. Selain itu, DNS telah diberikan oleh pemerintah
Jerman sebesar Euro 25 juta dan sekitar Euro 20 juta untuk komitmen baru. DNS diharapkan
terus berkembang di tahun-tahun mendatang, yaitu periode 2010-2014 dan 2015-2020, dan
dapat diarahkan untuk mengatasi perubahan iklim.
Hibah luar negeri merupakan sumber pendanaan yang memiliki resiko relatif rendah. Hibah luar
negeri yang telah terkumpul untuk membiayai penanganan perubahan iklim ini antara lain dari
Pemerintah Inggris (GBP 10 juta) dan Pemerintah Australia (AUD 2 juta). Sementara itu,
berbagai potensi hibah luar negeri datang dari Pemerintah Jerman dan Pemerintah Belanda
dengan total jumlah sekitar Euro 50 juta. Kedua pemerintah tersebut masih menunggu
terbentuknya trustee nasional yang mengelola trust fund khusus untuk perubahan iklim (ICCTF).
Hibah lain yang dapat dimanfaatkan untuk perubahan iklim adalah MCC, Millenium Challenge
Corporation. Hibah dari MCC bersifat competitif dan lebih banyak untuk mengurangi kemiskinan.
Oleh karena itu, hibah dari MCC harus diarahkan untuk mengurangi dampak akibat perubahan
iklim terutama di kantong-kantong kemiskinan (adaptasi) atau pengembangan teknonologi atau
sarana/prasarana ramah lingkungan yang dapat dipakai oleh masyarakat miskin.
Hibah dalam negeri dapat menjadi sumber dana yang berpotensi untuk menangani perubahan
iklim ini. Hibah dalam negeri yang dikelola pemerintah dapat mengikuti mekanisme yang selaras
dengan hibah dari luar negeri. Karena sifatnya hibah, pengaturan tersebut diharapkan tidak
memberikan terlalu banyak hambatan kepada pemberi hibah dalam penyalurannya.

- 51 -

Gambar 5.1 Sumber Pendanaan APBN


2. Swasta Dalam Negeri
Sumber dana swasta dalam negeri dapat diidentifikasi untuk mendukung sumber pendanaan yang
berasal dari pemerintah. Beberapa sumber dana swasta dalam negeri yang dapat diharapkan dapat
membiayai kegiatan menurunkan emisi GRK, baik dari perbankan, non-perbankan dan CSR.
Perbankan dapat dimobilisasi untuk membiayai investasi swasta dengan financial returns yang
menguntungkan. Dana perbankan yang dapat dimobilisasi dapat berupa perbankan umum
maupun perbankan syariah. Untuk itu, perlu diterapkan kebijakan pemerintah yang memberikan
insentif bagi lembaga perbankan yang memberikan pinjaman lunak kepada industri yang
menerapkan teknologi hijau atau mendukung penurunan emisi gas rumah kaca. Dalam hal ini,
koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia diperlukan dalam menyusun kebijakan
strategis perbankan.
Non-perbankan terdiri dari sumber dana dari pasar modal dalam negeri, asuransi, lembaga
pembiayaan, maupun lembaga pensiun. Kriteria kegiatan yang dapat dibiayai relatif sama dengan
kegiatan yang dibiayai oleh perbankan, yaitu memiliki financial returns yang tinggi. Sama halnya
dengan lembaga perbankan, perlu ada koordinasi pihak terkait untuk menerapkan kebijakan

- 52 -

insentif yang tepat bagi penggunaan sumber dana dari lembaga non-bank untuk menerapkan
teknologi hijau.
Selain itu, potensi investasi swasta juga dapat dimanfaatkan melalui kebijakan insentif pada pihak
yang mendukung upaya mitigasi. Insentif dapat diberikan pada penggunaan energi yang efisien
dengan emisi karbon yang rendah, tetapi seringkali memerlukan pendanaan yang tidak sedikit
karena adanya kebutuhan teknologi rendah karbon. Potensi swasta yang dapat memanfaatkan
pasar karbon di sektor kehutanan juga mulai terbuka walaupun masih bersifat sukarela.
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan kegiatan sukarela badan usaha untuk memberikan
kontribusi positif kepada masyarakat sekitarnya. Karena sifatnya sukarela, pemerintah dapat
memberikan arahan agar penggunaan CSR dapat difokuskan kepada memberikan bantuan dalam
menangani dampak perubahan iklim. Sampai saat ini, potensi CSR diperkirakan akan besar
karena lebih banyak badan usaha yang tertarik untuk melaksanakan CSR di bidang lingkungan.
3. Sumber Dana Internasional
Sumber dana dari internasional lainnya secara luas dapat dipakai baik oleh pemerintah maupun
oleh pihak swasta. Pemakaian sumber ini sangat bergantung kepada mekanisme pengusulan yang
berlaku pada masing-masing institusi penyedia dana. Terkait perubahan iklim, mekanisme
UNFCCC membuka akses bagi negara-negara berkembang untuk mendapatkan dana dari
negara-negara maju. Global Environment Facility (GEF) ditunjuk sebagai lembaga yang mengelola
dana tersebut dan menyalurkannya melalui badan multilateral (Bank Dunia, UNDP, dan lain-lain)
yang bertindak sebagai trustee.
Dalam konteks negosiasi UNFCCC, sejak COP 13 di Bali upaya mitigasi perubahan iklim telah
memasukkan inisiatif Reducing Emission from Deforestation and Degradation (REDD) yang selanjutnya
telah berkembang menjadi REDD+.

Negosiasi ini telah membuka jalan bagi tersedianya

dukungan pendanaan internasional bagi inisiatif REDD+ dan melahirkan kesempatan bagi
negara-negara berkembang untuk mengambil peluang pendanaan internasional tersebut,
termasuk Indonesia. Namun ada beberapa prakondisi yang harus dipenuhi untuk hal ini, di
antaranya kondisi yang mendukung investasi dan mekanisme berbasis kinerja yang efektif.
Terkait dengan Copenhagen Accord, diharapkan tersedia dana sekitar USD 30 Miliar hingga
2012 dan USD 100 Miliar sampai tahun 2020 yang dapat digunakan untuk dana adaptasi,

- 53 -

mitigasi, serta mekanisme dukungan transfer teknologi dan REDD+. Walaupun Copenhagen
Accord ini juga tidak mengikat, potensi pendanaan ini dapat dijajaki. Ke depan, di dunai
internasional diperkirakan akan ada beberapa mekanisme dan institusi baru untuk mendanai aksi
mitigasi perubahan iklim.
5.3 Mekanisme Pendanaan
Sumber dana dari APBN pada umumnya akan disalurkan melalui kementerian/lembaga
pemerintah, pemerintah pusat, maupun BUMN dengan mekanisme yang telah ditetapkan.
Meskipun demikian, sumber dana dari APBN dapat disalurkan kembali kepada pihak swasta
dengan mekanisme tertentu sesuai dengan jenis sumber dananya.
Pengaturan pengelolaan hibah yang diterima dari luar negeri diatur di dalam Peraturan
Pemerintah No. 2/2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah
Luar Negeri serta Penerusan PHLN dan Peraturan Menteri No. 05/2006 tentang Tata Cara
Perencanaan dan Pengajuan Usulan serta Penilaian Kegiatan yang dibiayai dari PHLN.
Mekanisme pendanaan melalui UNFCCC yang baru masih belum ditetapkan. Meskipun dalam
Copenhagen Accord dinyatakan akan adanya Copenhagen Green Climate Fund, belum ada
kesepakatan mengenai bentuk, mekanisme penyaluran, kriteria penerimaan dan sebagainya.
6. Mekanisme Monitoring, Evaluasi, Kaji Ulang dan Pelaporan
Dalam implementasi RAN-GRK akan dibuat mekanisme monitoring, evaluasi, pelaporan dan
kaji ulang yang merupakan bagian siklus penyusunan dan pemutakhiran RAN-GRK sesuai
dengan perkembangan terkini perubahan iklim di tingkat nasional dan global.
6.1 Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan
Proses pemantauan dan evaluasi RAN-GRK diperlukan untuk memastikan pencapaian target
dan sasaran penurunan emisi yang telah ditetapkan. Proses pemantauan pelaksanaan kegiatan
RAN-GRK dilakukan oleh Kementerian/Lembaga terkait dan secara berkala dilaporkan kepada
Menteri Koordinator Perekonomian, Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Lingkungan
Hidup.

- 54 -

Kementerian Perekonomian akan melakukan koordinasi dan pelaksanaan RAN GRK dengan
melibatkan para menteri dan gubernur yang terkait dengan upaya penurunan emisi GRK, serta
melaporkan pelaksanaan RAN GRK yang terintegrasi kepada Presiden paling sedikit satu tahun
sekali.
Kementerian Lingkungan Hidup bertugas mengkoordinasikan inventarisasi GRK serta
penyusunan pedoman dan metodologi MRV (Measurement, Reporting and Verification ) yang
dilakukan oleh masing-masing Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah.

6.2 Mekanisme Kaji Ulang RAN-GRK


Penurunan

GRK

memerlukan

basis

dasar-dasar

kajian

yang

komprehensif

dengan

mempertimbangkan perkembangan dinamis yang terjadi secara global dan nasional. Selain itu
dengan adanya perkembangan iptek yang ada dimungkinkan adanya berbgai terobosan baru pada
masa mendatang yang dapat memberikan alternatif solusi terhadap pendekatan dan metodologi
perhitungan GRK serta

pelaksanaan penurunan GRK. Untuk itu dokumen Rencana Aksi

Penurunan GRK dimungkinkan untuk diperbaharui berdasarkan perkembangan yang terjadi


serta berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi yang dilakukan secara berkala.

Kementerian PPN/Bappenas akan melakukan proses evaluasi dan kaji ulang RAN GRK yang
terintegrasi secara berkala sesuai dengan kebutuhan nasional dan perkembangan global terkini.
Rekomendasi Kaji Ulang terhadap RAN-GRK akan disampaikan oleh Menteri PPN/Kepala
Bappenas kepada Menko Perekonomian yang selanjutnya akan menetapkan perubahan atas
Matriks Kegiatan RAN-GRK sebagaimana yang tercantum dalam Lampiran Perpres RAN-GRK.

7. Penyusunan RAD-GRK
RAD-GRK disusun dengan mengacu kepada RAN-GRK berdasarkan pedoman penyusunan
RAD-GRK yang penyusunannya akan dikoordinasikan oleh Kementerian PPN/Bappenas yang
dikonsultasikan dengan Kementerian Dalam Negeri dan K/L lain terkait. Selain itu RAD-GRK
disusun berdasarkan prioritas pembangunan daerah serta kemampuan dan kapasitas daerah
masing-masing.

- 55 -

Sejalan dengan kaji ulang RAN-GRK, RAD-GRK juga dapat dikaji ulang untuk menyesuaikan
dengan perkembangan terkini. Kaji ulang RAD-GRK dikoordinasikan oleh SKPD yang ditunjuk
oleh masing-masing Gubernur/Kepala Daerah. Penetapan RAD-GRK dan Revisi RAD-GRK
dilakukan

melalui

Peraturan

Gubernur

dengan

berkonsultasi

dengan

Kementerian

PPN/Bappenas dan Kementerian Dalam Negeri. RAD-GRK harus telah ditetapkan dalam
jangka waktu satu tahun sejak ditetapkannya RAN-GRK, sedangkan proses kaji ulang dan revisi
RAD-GRK dilakukan secara berkala sesuai dengan pedoman.
Gubernur menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan dan kegiatan pemantauan pelaksanaan
RAD GRK kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri PPN/Kepala Bappenas untuk
diintegrasikan dalam upaya pencapaian target nasional penurunan emisi GRK secara berkala
sesuai dengan kebutuhan nasional dan perkembangan global terkini.
8. PENUTUP
Rencana Aksi Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK) yang telah ditetapkan ini
merupakan acuan bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah, pelaku ekonomi dan masyarakat
dalam melakukan perencanaan, penyelenggaraan/pelaksanaan, pemantauan, evaluasi dan
pengendalian kegiatan penurunan emisi GRK untuk menanggulangi perubahan iklim global.
9. LAMPIRAN
Matriks Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca 2010-2020

Kegiatan Inti

Kegiatan Pendukung

BIDANG

1. KEHUTANAN DAN LAHAN GAMBUT

Target Penurunan Emisi (26%) :


Target Penurunan Emisi (41%) :

0,672 (Giga ton)


1,039 (Giga ton)

Kebijakan yang Dilaksanakan untuk Menunjang RAN-GRK :


1. Menurunkan emisi GRK dengan sekaligus meningkatkan kenyamanan lingkungan, mencegah bencana, menyerap tenaga kerja, menambah
pendapatan masyarakat dan negara
2. Pengelolaan sistem jaringan dan tata air pada rawa
3. Pemeliharaan jaringan reklamasi rawa (termasuk lahan bergambut yang sudah ada)
4. Peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi pertanian pada lahan gambut dengan emisi serendah mungkin dan mengabsorbsi CO2
secara optimal
Strategi :
1. Menekan laju deforestasi dan degradasi hutan untuk menurunkan emisi GRK
2. Meningkatkan penanaman untuk meningkatkan penyerapan GRK
3. Meningkatkan upaya pengamanan kawasan hutan dari kebakaran dan pembalakan liar dan penerapan SFM
4. Melakukan perbaikan tata air (jaringan) dan blok-blok pembagi
5. Menstabilkan elevasi muka air pada jaringan
6. Optimalisiasi sumberdaya lahan dan air secara optimal tanpa melakukan deforestasi
7. Penerapan teknologi pengelolaan lahan dan budidaya pertanian dengan emisi GRK serendah mungkin dan mengabsorbsi CO2 secara
optimal.
NO
1.

RENCANA AKSI
Rehabilitasi hutan
dan lahan kritis,
reklamasi hutan di
DAS prioritas
a. Fasilitasi
rehabilitasi

INDIKATOR
SASARAN

Penurunan
emisi: 10,826

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

295.000 ha

2010-2014

31 provinsi

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

1.475,0

APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

Kementerian
Kehutanan (PJ)

KETERANGAN

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI
RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI
hutan
mangrove,
gambut dan
rawa

2.

3.

Pengendalian Tata
Ruang
a. Penetapan
wilayah KPHK

INDIKATOR
SASARAN

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

Penurunan
emisi: 12,992
juta ton CO2e

354.000 ha

2015-2020

31 provinsi

4.025,0

APBN

Penurunan
emisi: 2,936
juta ton CO2e

400.000 ha

2010-2014

4 provinsi
(Riau, Jambi,
Sumsel, Kalteng)

28,87

APBN

Penurunan
emisi: 2.936
juta ton CO2e

400.000 ha

2015-2020

4 provinsi
(Riau, Jambi,
Sumsel, Kalteng)

28,88

APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

juta ton CO2e

Kementerian
Kehutanan (PJ)

Kementerian
Kehutanan

Peningkatan
Pengelolaan Hutan
Alam Produksi
|RAN

57

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI
a. Pengelolaan
LOA oleh
IUPHHK pada
lahan gambut

b. Pengelolaan
LOA oleh
IUPHHK-RE

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

Penurunan
emisi : 22.020
Ton CO2e

600 ha

2010-2014

4 provinsi
(Riau, Jambi,
Sumsel, Kalteng)

Penurunan
emisi: 22.020
ton CO2e

600 ha

2015-2020

4 provinsi
(Riau, Jambi,
Sumsel, Kalteng)

Penurunan
emisi: 2.7525
juta ton CO2e

2.500.000 ha

2010-2014

Penurunan
emisi: 2.7525

300.000 ha

2015-2020

12 provinsi
(Jambi, Sumbar,
Kalteng, Klbar,
Kalsel, Kaltim,
Sulbar, Sulteng,
Sultra, Sulut,
Gorontalo, Papua)
4 provinsi
(Riau, Jambi,

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)
PM
PM

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
Kehutanan

0.144
Pm

APBN dan
Swasta

Kementerian
Kehutanan

PM

PM

Kementerian
Kehutanan

PM

PM

Kementerian
Kehutanan
|RAN

KETERANGAN

58

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

juta ton CO2e


4.

Penanganan
perambahan
kawasan hutan
lahan gambut

Penurunan
emisi : 734
ribu ton CO2e
Penurunan
emisi: 734
ribu ton CO2e

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

Sumsel, Kalteng)
20.000 ha

2010-2014

20.000 ha

2015-2020

4 provinsi
(Riau, Jambi,
Sumsel, Kalteng)
4 provinsi
(Riau, Jambi,
Sumsel, Kalteng)

30,0

APBN

Kementerian
Kehutanan

Kementerian
Kehutanan

30,0
APBN

5.

Pengendalian
Kebakaran Hutan

Penurunan
emisi: 367
ribu ton CO2e

10.000 ha

2010-2014

4 provinsi
(Riau, Jambi,
Sumsel, Kalteng)

22,0

APBN

Kementerian
Kehutanan

Penurunan
emisi :367
ribu ton CO2e

10.000 ha

2015-2020

4 provinsi
(Riau, Jambi,
Sumsel, Kalteng)

22,0

APBN

Kementerian
Kehutanan

|RAN

59

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO
6.

7.

RENCANA AKSI
Demonstration
Activities

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)
AUS$ 31,5
BLN
juta
(Australia)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
Kehutanan

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

Penurunan
emisi 3,67 juta
Ton CO2e

100.000 ha

2010-2014

4 provinsi
(Riau, Jambi,
Sumsel, Kalteng)

Penurunan
emisi: 3,670
juta ton CO2e

100.000 ha

2015-2020

4 provinsi
(Riau, Jambi,
Sumsel, Kalteng)

AUS$ 31,5
juta

BLN
(Australia)

Kementerian
Kehutanan

1 (satu) buah
pedoman

2010

0,5

APBN

KLH

1 (satu) buah

2010

0,5

APBN

KLH

KETERANGAN

Pengendalian
Kerusakan
Ekosistem Gambut
Penyusunan
Pedoman:
a. Pedoman
Inventarisasi
dan Pemetaan
Kesatuan
Hidrologis
Gambut
b. Pedoman

|RAN

60

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI
RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI
Inventarisasi
Karakteristik
Ekosistem
Gambut

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

PERIODE

LOKASI

2010-2014

1,0

APBN

KLH

2010-2015

Sumatera Utara,
Riau, Jambi,
Sumatera Selatan,
Kalimantan Tengah,
Kalimantan Barat,
Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur,

10,0

APBN

KLH

pedoman

8.

Penyusunan
Kriteria Baku
Kerusakan
Ekosistem Gambut

Kriteria baku
kerusakan
kawasan
lindung kubah
gambut dan
kriteria baku
kerusakan
kawasan
budidaya
gambut

9.

Penyusunan Master
Plan Pengelolaan
Ekosistem Gambut
Provinsi. (bahan
masukan RTRWP)

Tersusunnya
Master Plan di
Wilayah
Provinsi

10 privinsi

|RAN

KETERANGAN

61

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

dan Papua, Papua


Barat
10.

Inventarisasi dan
pemetaan kesatuan
hidrologis
ekosistem gambut

Peta Kesatuan
Hidrologis
Gambut
dengan skala
sekurangkurangnya 1 :
250.000

20 Juta Ha

2010-2014

10 Provinsi
(Sumatera Utara,
Riau, Jambi,
Sumatera Selatan,
Kalimantan Tengah,
Kalimantan Barat,
Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur,
Papua dan Papua
Barat)

12,0

APBN

KLH

11.

Inventarisasi dan
pemetaan
karakteristik
ekosistem gambut.

Dokumen
data dan
informasi
Karakteristik
Ekosistem
Gambuit
Peta
Karakteristik

20 Juta Ha

2010-2014

10 Provinsi
(Sumatera Utara,
Riau, Jambi,
Sumatera Selatan,
Kalimantan Tengah,
Kalimantan Barat,
Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur,

345

APBN

KLH

|RAN

62

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

12.

RENCANA AKSI

Peningkatan,
rehabilitasi dan
pemeliharaan
jaringan reklamasi
rawa (termasuk
lahan bergambut
yang sudah ada).

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

Gambut
dengan skala
1 : 100.000
Rencana
Pembangunpenurunan
an/peningemisi CO2
katan
jaringan
masih dalam
reklamasi
proses
rawa (pada
perhitungan.
umumnya
lahan
bergambut)
seluas
10.000 Ha
Rehabilitasi
jaringan
reklamasi
rawa (pada
umumnya
lahan
bergambut)
seluas
450.000 Ha

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

Papua, dan Papua


Barat)
2010-2014

Provinsi Aceh,
Sumut, Riau,
Sumbar, Jambi,
Bengkulu, Sumsel,
Babel, Lampung,
Banten, Jabar,
Jateng, Jatim,
Kalbar, Kalteng,
Kalsel, Kaltim,
Gorontalo

60,0

APBN

Ditjen. Sumber
Daya Air,
Kementerian PU

1.700,0

|RAN

KETERANGAN

Logical
framework :
Kegiatan
peningkatan,
rehabilitasi dan
pemeliharaan
jaringan
reklamasi rawa
diharapkan
dapat
memperbaiki
sistem aliran
air pada
saluran rawa
(termasuk
lahan
bergambut),
yang dapat
turut
memberikan

63

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN
Operasi &
pemeliharaa
n jaringan
reklamasi
rawa (pada
umumnya
lahan
bergambut)
seluas 1,2
juta Ha

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

kontribusi
terhadap
pengurangan
emisi karbon.
Pembangunan/
peningkatan
jaringan
reklamasi rawa
dan bangunan
air (pintu air)
bertujuan
untuk menjaga
stabilisasi
muka air
sehingga emisi
dapat ditekan &
dihambat.
Rehabilitasi
jaringan
reklamasi rawa
akan
mengembalika
n jaringan pada

1.000,0

Total :
2.760,0

|RAN

KETERANGAN

64

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN
fungsi semula
sehingga
terbentuk
sirkulasi air
yang baik &
menghindarkan
water logging
(penimbunan
air).
Policy
framework:
Regulasi dari
pemerintah
daerah untuk
melakukan
percepatan
RTRW
Pendanaan
Peningkatan
kapasitas
masyarakat
terhadap

|RAN

65

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN
pengelolaan
jaringan
reklamasi rawa
(lahan
bergambut).

13.

Percepatan
Penetapan
Perda RTRW
Provinsi dan
Kabupaten/Kota
berbasis Kajian
Lingkungan Hidup
Strategis (KLHS)

14.

Pengelolaan lahan
gambut untuk
pertanian
berkelanjutan

Pengembangan
Pengelolaan
Lahan
Pertanian
Penelitian
dan
Pengembang

31 Perda
Provinsi dan
497 Kab/Kota

2010-2014

31 provinsi
497 Kab/Kota

325.000 ha

2010-2020

Aceh, Sumut, Riau,


Jambi, Sumsel,
Sumbar, Lampung,
Kalbar, Kalsel,
Kaltim, dan Kalteng,

279,5

APBN

Ditjen. Penataan
Ruang,
Kementerian
Pekerjaan Umum

Dalam rangka
mendukung
program-program
penurunan emisi
GRK

20102014:
2.300,0

APBN

Kementerian
Pertanian

Pengelolaan
lahan dengan
mempertahank
an tinggi muka
air tanah,
teknologi
pengelolaan
lahan,

2015-2020 :
2.400,0

|RAN

66

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

an Sumber
Daya lahan
Dukungan
Perlindungan
Perkebunan
dan
Penanganan
Gangguan
Usaha
Perkebunan
Target
penurunan
emisi :
103,975
juta Ton
CO2e/ 10
tahun

penambahan
bahan
amelioran,
kompos, pupuk
kandang dan
teknologi
lainnya
Fasilitasi
pengendalian
kebakaran
lahan, dan
insentif bagi
petani yang
menerapkan
penyiapan
lahan tanpa
bakar

|RAN

KETERANGAN

67

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO
15.

RENCANA AKSI
Rehabilitasi,
reklamasi dan
revitalisasi lahan
gambut terlantar,
terdegradasi, pada
areal pertanian

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

Dukungan
Perlindungan
Perkebunan
dan
Penanganan
Gangguan
Usaha
Perkebunan
Penguatan
perlindunga
n Tanaman
Pangan dari
Gangguan
OPT dan
DFI
Target
penurunan
emisi :
100,75 juta
Ton CO2/ 10
tahun

8 kegiatan
(250.000 ha)

PERIODE

LOKASI

2010-2020

Riau, Jambi,
Sumsel, Sumbar,
Kalbar, Kalsel,
Kaltim, dan Kalteng

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)
20102014:
APBN
600,0

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
Pertanian

2015-2020 :
600,0

|RAN

KETERANGAN
Perbaikan
kondisi bio-fisik
lahan gambut
terlantar/terdegradasi pada
areal dan calon
areal pertanian
dan penanaman
dalam rangka
meningkatkan
kapasitas
absorpsi karbon
(C) dan
menurunkan
emisi GRK

68

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

PERIODE

LOKASI

Fasilitasi dan
pelaksanaan
rehabilitasi hutan
pada DAS prioritas

Penurunan
emisi: 29,36
juta ton CO2e

800.000 ha

2010-2014

33 provinsi

4.000,0

APBN

Kementerian
Kehutanan

Penurunan
emisi: 11,9275
juta ton CO2e

325.000 ha

2015-2020

33 provinsi

4.875,0

APBN

Kementerian
Kehutanan

Fasilitasi
rehabilitasi lahan
kritis pada DAS
prioritas

Penurunan
emisi: 18,35
juta ton CO2e

500.000 ha

2010-2014

33 provinsi

2.000

APBN

Kementerian
Kehutanan

Penurunan
emisi: 22,387
juta ton CO2e

610.000 ha

2015-2020

33 provinsi

2.440,0

APBN

Kementerian
Kehutanan

16.

Rehabilitasi
hutan dan lahan
kritis, reklamasi
hutan di DAS
prioritas

16.b

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Dephut, Dirjen
RLPS (PJ)

VOLUME
KEGIATAN

RENCANA AKSI

16.a

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)
6.800
APBN

INDIKATOR
SASARAN

NO

|RAN

KETERANGAN

69

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

16.c

Fasilitasi
pengembangan
hutan kota

16.d

16.e

Konservasi hutan
dan/lahan rawan
terbakar melalui
pemberian insentif
kepada masyarakat

Rehabilitasi lahan

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)
350
APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
Kehutanan

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

Penurunan
emisi:
183.500 ton
CO2e

5.000 ha

2010-2014

33 provinsi

Penurunan
emisi:
183.500 ton
CO2e

5.000 ha

2015-2020

33 provinsi

350

APBN

Kementerian
Kehutanan

Penurunan
emisi:
220.200 ton
CO2e

6.000 ha

2010-2014

6 provinsi
(Sumut, Jambi,
Riau, Sumsel,
Kalteng, Kalbar)

300

APBN

Kemenhut (PJ)
Pelaksana KLH

Penurunan
emisi :
219.800 ton
CO2e

6.000 ha

2015-2020

6 provinsi
(Sumut, Jambi,
Riau, Sumsel,
Kalteng, Kalbar)

300

APBN

Kemenhut (PJ)
Pelaksana KLH

Penurunan

2.500 ha

2010-2014

6 provinsi

150

APBN

Kemenhut (PJ)

PERIODE

LOKASI

|RAN

KETERANGAN

70

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI
rusak rawan
terbakar melalui
penanaman
tanaman kayu

17.

Pengembangan
perhutanan
sosial

17.a

Fasilitasi penetapan
areal kerja dan
pengelolaan hutan
kemasyarakatan
(HKm)

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

emisi: 91.750
ton CO2e
Penurunan
emisi : 91.750
ton CO2e

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

(Sumut, Jambi,
Riau, Sumsel,
Kalteng, Kalbar)
2.500 ha

2015-2020

6 provinsi
(Sumut, Jambi,
Riau, Sumsel,
Kalteng, Kalbar)

150

29.051,0

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Pelaksana KLH

APBN

Kemenhut (PJ)
Pelaksana KLH

APBN

DirJen RLPS
(PJ)

Penurunan
emisi: 73,4
juta ton CO2e

2.000.000 ha

2010-2014

24 provinsi

4.600,0
Pm

APBN dan
masyarakat

Kemenhut (PJ)

Penurunan
emisi : 88,08
juta ton CO2e

2.400.000 ha

2015-2020

24 provinsi

12.600,0
Pm

APBN dan
masyarakat

Kemenhut (PJ)

|RAN

KETERANGAN

71

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO
17.b

17.c

18.

RENCANA AKSI
Fasilitasi
pembangunan
hutan rakyat
kemitraan

Fasilitasi penetapan
areal kerja hutan
desa

Pengendalian
kebakaran hutan

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)
250,0
APBN dan
Pm
masyarakat

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kemenhut (PJ)

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

Penurunan
emisi: 9,175
juta ton CO2e

250.000 ha

2010-2014

11 provinsi

Penurunan
emisi : 11,01
juta CO2e

300.000 ha

2015-2020

11 provinsi

350,0
Pm

APBN dan
masyarakat

Kemenhut (PJ)

Penurunan
emisi: 18,35
juta ton CO2e

500.000 ha

2010-2014

20 provinsi

1.250,0

APBN dan
masyarakat

Kemenhut (PJ)

Penurunan
emisi : 22,02
juta ton CO2e

600.000 ha

2015-2020

20 provinsi

4.250,0

APBN dan
masyarakat

Kemenhut (PJ)

Penurunan
emisi:
21.772.275 ton
CO2e

50%
Penurunan
luas hutan
yang terbakar
(35.000 ha)

2010-2014

Seluruh Indonesia

77,0

APBN

Kemenhut (PJ)

|RAN

KETERANGAN

72

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

19.

20.

RENCANA AKSI

Pemberantasan
illegal logging Pencegahan
kehilangan kayu

Penanganan
Perambahan Hutan
dan Penanganan
Konflik Kawasan
Lindung dan
Konservasi

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

Penurunan
emisi :
9.316.725 ton
CO2e

50%
Penurunan
luas hutan
yang terbakar
(64.954 ha)

2015-2020

Seluruh Indonesia

23,0

APBN

Kemenhut (PJ)

Penurunan
emisi:
2.298.338 ton
CO2e

750.000 m3

2010-2014

10 Provinsi Rawan
Illegal Logging

1.000,0

APBN

Kemenhut (PJ)

Penurunan
emisi :
2.543.643ton
CO2e

830.000 m3

2015-2020

10 Provinsi Rawan
Illegal Logging

1.000,0

APBN

Kemenhut (PJ)

Penurunan
emisi:
41.501.413 ton
CO2e

80.000 ha
(12 provinsi
prioritas)

2010-2014

Prov. Sumut, Riau,


Jambi, Sumsel,
Sumbar, Lampung,
Kaltim, Kalteng,
kalsel, Kalbar, Sultra
dan Sulteng

120,0

APBN

Kemenhut (PJ)

|RAN

KETERANGAN

73

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

21.

RENCANA AKSI

Peningkatan
Kesatuan
Pengelolaan Hutan
a. Penetapan
wilayah KPHP

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

Penurunan
emisi :
34.584.511 ton
CO2e

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

PERIODE

LOKASI

118.391 ha
(12 provinsi
prioritas)

2015-2020

Prov. Sumut, Riau,


Jambi, Sumsel,
Sumbar, Lampung,
Kaltim, Kalteng,
kalsel, Kalbar, Sultra
dan Sulteng

180,0

APBN

Penurunan
emisi:
10.276.000
ton CO2e

28 provinsi
(50%
terbentuk)

2010-2014

Luar Jawa

150,0

APBN

Kemenhut (PJ)

Penurunan
emisi :
10.276.000
ton CO2e

28 provinsi
(50%
terbentuk)

2015-2020

Luar Jawa

150,0

APBN

Kemenhut (PJ)

Kemenhut (PJ)

|RAN

KETERANGAN

74

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI
b. Penetapan
wilayah KPHK

c. Penetapan
KPHL

22.

Peningkatan
Pengelolaan Hutan

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

Penurunan
emisi:
10.643.000
ton CO2e

29 provinsi
(50%
terbentuk)

2010-2014

Seluruh Indonesia

150,0

APBN

Penurunan
emisi :
13.579.000
ton CO2e

33 provinsi
(50%
terbentuk)

2015-2020

Seluruh Indonesia

150,0

APBN

Penurunan
emisi:
10.276.000
ton CO2e

28 provinsi
(50%
terbentuk)

2010-2014

Luar Jawa

100,0

APBN

Penurunan
emisi :
10.276.000
ton CO2e

28 provinsi
(50%
terbentuk)

2015-2020

Luar Jawa

100,0

APBN

Penurunan
emisi:

2.500.000 ha

2010-2014

11 Provinsi (Jambi,
Sumsel, Kalteng,

528,0

APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kemenhut (PJ)

Kemenhut (PJ)

Kemenhut (PJ)

Kemenhut (PJ)

Kemenhut (PJ)
|RAN

KETERANGAN

75

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

23.

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

Alam Produksi
Melalui SFM
a. Pengelolaan
Hutan Alam
dengan
IUPHHK-RE

52.756.250
ton CO2e

Peningkatan
Pengelolaan Hutan
Tanaman :
a. Penambahan
Areal Tanaman
HT (HTI/
HTR)

Penurunan
emisi:
97.255.000
ton CO2e

Penurunan
emisi :
49.959.710 ton
CO2e

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

Kalsel, Kalbar,
Kaltim, Sulut,
Sulteng, Sultra,
Sulbar, Gorontalo)
3.250.000 ha

2.650.000 ha

2015-2020

11 Provinsi (Jambi,
Sumsel, Kalteng,
Kalsel, Kalbar,
Kaltim, Sulut,
Sulteng, Sultra,
Sulbar, Gorontalo)

48,0

APBN

Kemenhut (PJ)

2010-2014

19 Provinsi (Sumut,
Sumbar, Riau,
Jambi, Sumsel,
Lampung, DIY,
NTT, Kaltim, Kalsel,
Kalteng, Kalbar,
Sulut, Sultra, Sulsel,
Maluku, Malut,
Papua)

150,0
Pm

APBN
Swasta/
Masyarakat

Kemenhut (PJ)

|RAN

KETERANGAN

76

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN
Penurunan
emisi :
115.635.000
ton CO2e

VOLUME
KEGIATAN
3.150.000 ha

PERIODE

LOKASI

2015-2020

19 Provinsi (Sumut,
Sumbar, Riau,
Jambi, Sumsel,
Lampung, DIY,
NTT, Kaltim, Kalsel,
Kalteng, Kalbar,
Sulut, Sultra, Sulsel,
Maluku, Malut,
Papua)

BIAYA
RP.
SUMBER
(miliar)
150
APBN
Pm
Swasta/
Masyarakat

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kemenhut (PJ)

|RAN

KETERANGAN

77

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

BIDANG

2. PERTANIAN

Target Penurunan Emisi (26%) :


Target Penurunan Emisi (41%) :

155,2 (Kilo ton)

Kebijakan yang Dilakukan untuk Menunjang RAN-GRK :


1. Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional dan Peningkatan Produksi Pertanian dengan Emisi GRK yang rendah
2. Perbaikan dan pemeliharaan sistem irigasi
Strategi :
1. Optimalisasi sumber daya lahan dan air secara optimal
2. Penerapan teknologi pengelolaan lahan dan budidaya pertanian dengan emisi GRK serendah mungkin dan mengabsorbsi CO2 secara optimal
3. Menstabilkan elevasi muka air pada jaringan
4. Memperlancar sirkulasi air pada jaringan

NO
1.

RENCANA AKSI
Perbaikan dan
pemeliharaan

INDIKATOR
SASARAN
Estimasi
penurunan

VOLUME
KEGIATAN
a. Perbaikan
jaringan irigasi

PERIODE
2010-2014

LOKASI
33 provinsi:
Aceh,Sumut,Su

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
a.18.790,0
APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Ditjen. Sumber
Daya Air,
|RAN

KETERANGAN
Logical
framework:

78

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI
sistem irigasi

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

emisi GRK
selama 10
tahun sebesar
155,2 kilo ton

seluas 1,342 juta


Ha
b.Operasional
dan
pemeliharaan
jaringan seluas
2,311 juta Ha

PERIODE

LOKASI
mbar,Bengkulu,
Jambi,Babel,Su
msel,Riau,Kepri
,Lampung,Bant
en,DKI,Jabar,Ja
teng,DIY.Jatim,
Kalbar,Kalteng.
Kalsel,Kaltim,B
ali,NTB,NTT,Su
lut,Gorontalo,S
ulteng,Sulsel,Su
lbar,Sultra,Malu
ku,Malut,Papua,
Irjabar

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
b.460,0

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
Pekerjaan Umum

Total:
19.250,0

|RAN

KETERANGAN
a.Dengan
lancarnya
sirkulasi air &
pemeliharaan
sistem irigasi
akan menjaga
elavasi
permukaan air
pada saluran
pembawa dan
agar supaya emisi
yang dihasilkan
serta bahan kimia
dapat teralirkan
b.Dengan
teraturnya
sirkulasi air &
sistem irigasi
akan terbentuk
sirkulasi yang
baik &
menghindarkan
penumpukan

79

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN
bahan kimia pada
lahan sawah
Policy framework:
a.Regulasi dari
pemerintahan
daerah untuk
melalukan
percepatan RTRW
b.Pendanaan
c.Peningkatan
kapsitas
masyarakat

2.

Penyiapan lahan
tanpa bakar dan
optimalisasi
pemanfaatan lahan

Pengembangan
pengelolaan
lahan
pertanian
Dukungan
perlindungan
perkebunan
dan
penanganan

300.500 ha

2010-2020

Sumut, Riau,
Jambi, Sumsel,
Kalbar, Kalsel,
Kaltim, Kalteng

2010-2014 :
1.206,5

APBN

Kementerian
Pertanian (PJ)

20152020 :
2.065,3

|RAN

Fasilitasi
pengendalian
kebakaran lahan,
dan insentif bagi
petani yang
menerapkan
penyiapan lahan
tanpa bakar di
lahan mineral

80

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

2.026.500 Ha

2010-2020

32 provinsi

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

gangguan
usaha
perkebunan
Target
penurunan
emisi : 4,808
juta Ton
CO2e/ 10
tahun
3.

Penerapan
teknologi budidaya
tanaman

Pengembangan
Pengelolaan
Lahan
Pertanian
Target
penurunan
emisi : 32,424
juta Ton
CO2e/ 10
tahun

2010-2014 :
720,0

APBN

Kementerian
Pertanian (PJ)

20152020 :
957,0

|RAN

Pengembangan
Sekolah Lapang
Pengelolaan
Tanaman Terpadu
(SL-PTT),
pengelolaan
lahan, air, olah
tanah minimum,
olah tanah
konservasi sesuai
tipologi lahan,
dan penggunaan
varietas unggul

81

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN
baru (VUB)
rendah emisi

4.

5.

Pemanfaatan pupuk Pengembangan


organik dan bioPengelolaan
pestisida
Lahan
Pertanian
Penguatan
perlindungan
Tanaman
Pangan dari
Gangguan OPT
dan DFI
Target
penurunan
emisi : 10 juta
Ton CO2e/ 10
tahun

Pengembangan

Peningkatan

10.000 unit
(250.000 ha)

2010-2020

33 provinsi

2010-2014 :
1.489,0

Kementerian
Pertanian (PJ)

APBN

Kementerian

Yang dibiayai

|RAN

82

20152020 :
1.980,0

Kelapa sawit

2010-2020

Sumut, Riau,

2010-2014 :

Pemakaian pupuk
organik sebanyak
1 ton/ha di areal
SLPTT
berdasarkan
kebutuhan
tanaman dan
status hara tanah.
Pemanfaatan
pupuk organik
dan bio-pestisida
hayati melalui
Sekolah Lapang
Pengendalian
Hama Terpadu
(SLPHT) dan
Sekolah Lapang
Iklim (SLI)

APBN

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

INDIKATOR
SASARAN

RENCANA AKSI
areal perkebunan
(sawit, karet, kakao)
di lahan tidak
berhutan/lahan
terlantar/lahan
terdegradasi (APL)

Produksi
Produktivitas
dan Mutu
Tanaman
Tahunan
Peningkatan
Produksi
Produktivitas
dan Mutu
Tanaman
Rempah dan
Penyegar
Target
penurunan
emisi :
1. Kelapa
sawit :
74,53 juta
Ton CO2e/
10 tahun
2. Karet: 2,38
juta Ton
CO2e/ 10

VOLUME
KEGIATAN
860.000 ha

Karet105.200 ha

Kakao 687.000
ha

PERIODE

LOKASI
Jambi, Sumsel,
Kalbar, Kalteng,
Kaltim, Kalsel,
NAD, Sumbar,
Babel,
Bengkulu,
Lampung,
Sulteng, Sulsel,
Sulbar, Sultra,
Papua, Papua
Barat

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
3.892,89

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Pertanian (PJ)

20152020 :
4.404,38

Sumut, Riau,
Sumsel,
Sumbar, Jambi,
Kalbar, Kalteng,
Kalsel, Kaltim,
Jateng, Kepri,
Bengkulu,
Lampung dan
Babel

APBN, berupa
bantuan bibit,
tetapi khusus
untuk kelapa
sawit diberikan
bagi petani di
wilayah
perbatasan, pasca
konflik dan
tertinggal seluas
50.000 ha, dan
sisanya didanai
dari masyarakat
(petani,
perbankan, dll)

Sumut, Sumbar,
|RAN

KETERANGAN

83

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

tahun
3. Kakao :
5,417 juta
Ton CO2e/
10 tahun

6.

Pemanfaatan
kotoran/urine
ternak dan limbah
pertanian untuk
biogas, biofuel dan
pupuk organik

Peningkatan
Produksi
Ternak
Ruminansia
dengan
Pendayagunaa
n Sumber Daya
Lokal
Target
penurunan
emisi : 1,012
juta Ton CO2e/
10 tahun

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

NAD, Bengkulu,
Sulbar, Sulsel,
Sultra, Sulteng,
Papua, Kaltim,
Kalbar, NTT,
Malut,
Lampung,
Jatim, Bali
1500 kelompok

2010-2020

33 provinsi

2010-2014 :
360,0

APBN

Kementerian
Pertanian (PJ)

20152020 :
479,0

|RAN

KETERANGAN

Pemanfaatan
biodekomposer,
APPO (alat
pengolah pupuk
organik), biodigester dan
konversi energi
limbah organik
oleh kelompok

84

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

7.

Penerapan
pembukaan lahan
tanpa bakar (PLTB)
melalui pembuatan
kompos, arang, dan
briket arang

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

Diterapkannya
PLTB dengan
memanfaatkan
hasil tebasan
pembukaan
lahan untuk
pertanian/perke
bunan untuk
bahan kompos,
arang dan briket
arang

1.800 Ha

2010-2020

Riau, Sumatera
Utara, Jambi,
Sumatera
Selatan,
Kalimantan
Timur,
Kalimantan
Tengah,
kalimantan
Barat

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
180,0
APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
KETERANGAN
PELAKSANA
KLH
Estimasi reduksi
(Koordinator)
emisi GRK 326
ton CO2
Dilakukan
kerjasama antar
sektor & pemda

|RAN

85

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

KEGIATANINTI

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

BIDANG

3. ENERGI DAN TRANSPORT

Target Penurunan Emisi (26%) :


Target Penurunan Emisi (41%) :

0,038 (Giga ton)


0,056 (Giga ton)

Kebijakan yang Dilaksanakan untuk Menunjang RAN-GRK :


1. Penghematan penggunaan energi final baik melalui penggunaan teknologi yang lebih efisien maupun pengurangan konsumsi energi
2. Penggunaan bahan bakar yang lebih bersih (fuel switching)
3. peningkatan penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT)
4. pemanfaatan teknologi bersih baik untuk pembangkit listrik, perkeretaapian maupun mesin kendaraan bermotor
5. pengembangan transportasi massal di daerah perkotaan
Strategi :
1. (Avoid) -pengurangan kebutuhan akan perjalanan terutama daerah perkotaan (trip demand management) melalui penata-gunaan lahan
2. (Shift) - pergeseran pola penggunaan kendaran pribadi (sarana transportasi dengan konsumsi energi yang tinggi) ke pola transportasi rendah
karbon seperti, sarana transportasi tidak bermotor, transportasi publik, transportasi air, dan sebagainya; dan
3. (Improve) - peningkatan efisiensi energi dan pengurangan pengeluaran karbon pada kendaraan bermotor melalui pengembangan teknologi
kendaraan bermotor dan penggunaan bahan bakar rendah emisi.
|RAN

86

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO
1.

RENCANA AKSI
Audit Energi

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

Penurunan emisi
2010-2014: 1,625
juta ton CO2
Penurunan emisi
2015-2020: 9,577
juta ton CO2

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
521,56
APBN,
Swasta

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
ESDM (PJ)

PERIODE

LOKASI

1003 obyek
(gedung dan
industri)

2010-2014

Seluruh
Indonesia

5910 obyek
(gedung dan
industri)

2015-2020

Seluruh
Indonesia

3.074,19

APBN,
Swasta

Kementerian
ESDM (PJ)

Penurunan emisi
2010-2014: 3,428
juta ton CO2

25 juta unit

2010-2014

Seluruh
Indonesia

375,0

APBN,
PLN,
Swasta

Kementerian
ESDM (PJ)

Penurunan emisi
2015-2020: 8,501
juta ton CO2

62 juta unit

2015-2020

Seluruh
Indonesia

930,0

APBN,
PLN,
Swasta

Kementerian
ESDM (PJ)

KETERANGAN
Termasuk
implementasi

Total: 11,202
juta ton CO2
2

Program Lampu
Hemat Energi

Total: 11,93 juta


ton CO2

|RAN

87

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO
3.

RENCANA AKSI
Penyediaan dan
pengelolaan energi
baru terbarukan dan
konservasi energi

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

Total penurunan
emisi 2010-2014
sebesar 1,27 Juta
ton CO2, terdiri
dari :
PLTMH: 0,214 juta
ton CO2

PLTMH: 46,17
MW

PLTM: 0,854 juta


ton CO2

PLTM: 182
MW

PLTS: 0,114 juta


ton CO2

PLTS: 102,1
MW

PLTB: 0,024 juta


ton CO2

PLTB: 21,67
MW

PERIODE

LOKASI

2010-2014

Tersebar
seluruh
Indonesia

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
APBN,
24.224,18
PLN, &
Terdiri dari:
Swasta

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
ESDM (PJ)

KETERANGAN

PLTMH:
2.081,1

PLTM:
6.370,0
PLTS:
14.166,52
PLTB:
1.300,20

PLT Biomassa:
0,00032 juta ton

PLT Biomassa:
0,4 MW
|RAN

88

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

CO2
DME: 0,060 juta
ton CO2

DME: 250 desa

PLTM: 2,392 juta


ton CO2
PLTS: 0,176 juta
ton CO2
PLTB: 0,042 juta

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

2015-2020

PLTMH:
84,227 MW
PLTM : 510
MW
PLTS: 224,68
MW

Tersebar
seluruh
Indonesia

55.880,41
Terdiri dari:

APBN,
PLN &
Swasta

Kementerian
ESDM (PJ)

PLTMH:
3.796,4

PLTM :
17.850,0
PLTS:
31.174,68
|RAN

KETERANGAN

DME: 300

Total Penurunan
emisi 2015-2020
sebesar 3,13 Juta
ton CO2 , terdiri
dari :
PLTMH: 0,395 juta
ton CO2

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
PLT
Biomassa:
6,40

89

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN
ton CO2
PLT Biomassa:
0,013 juta ton CO2

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

PLTB: 37,53
MW
PLT Biomassa:
16,50 MW
DME: 450 desa

Penurunan emisi
2010-2014 : 0,074
juta ton CO2

17.000 unit

2010-2014

Tersebar di
seluruh
Indonesia

DME:
540,0
141,10

Penurunan emisi
2015-2020 : 0,092
juta ton CO2

21.400 unit

2015-2020

Tersebar di
seluruh
Indonesia

Total: 4,40 juta


ton CO2
Pemanfaatan biogas

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

PLTB:
2.255,31
PLT
Biomassa:
264,0

DME: 0,117 juta ton


CO2

4.

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

177,62

Hibah+
APBN

Kementerian
ESDM (PJ)

APBN/
APBD

Kementerian
ESDM (PJ)

Total: 0,166 juta


ton CO2
|RAN

90

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

5.

Penggunaan Gas Alam


sbg bahan bakar
angkutan umum
perkotaan

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
367,2
APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
ESDM (PJ)

Penurunan emisi
2010-2014: 0,104
juta ton CO2

630 ribu
m3/hari

2010-2014

Palembang,
Surabaya ,
Denpasar

Penurunan emisi
2015-2020: 0,114
juta ton CO2

690 ribu
m3/hari

2015-2020

Medan,
Makassar,
Semarang

403,92

APBN

Kementerian
ESDM (PJ)

32,85 BCF

2010-2014

Bekasi,
Depok,
Tarakan,
Sidoarjo,
Jabodetabek
(rumah susun
& apartemen
bersubsidi),
Semarang,
Bontang,
Sengkang,

1.370,84

APBN

Kementerian
ESDM (PJ)

KETERANGAN
Substitusi
gas
untuk kendaraan
berbahan
bakar
bensin

Total: 0,218 juta


ton CO2
6.

Peningkatan
sambungan rumah
yang teraliri gas bumi
melalui pipa

Penurunan emisi
2014: 0,151 juta
ton CO2

|RAN

Substitusi LPG
untuk memasak

91

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

Bangkalan,
Balikpapan,
Prov Jambi,
Sorong,
Pekanbaru,
Subang,
Lhokseumawe
, Samarinda,
Muara Enim,
Lampung,
prabumulih
Penurunan emisi
2020: 0,166 juta
ton CO2
Total:0,316 juta
ton CO2

36,15

2015-2020

Bekasi,
Depok,
Tarakan,
Sidoarjo,
Jabodetabek
(rumah susun
& apartemen
bersubsidi),
Semarang,
Bontang,
Sengkang,

1.619,16

APBN

Kementerian
ESDM (PJ)

|RAN

92

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

7.

RENCANA AKSI

Pembangunan kilang
mini plant LPG

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

Penurunan emisi
2010-2014: 0,078
juta ton CO2

1 unit kilang
mini plant LPG
5 MMSCFD
(suplai)

2010-2014

Penurunan emisi
2010-2020: 0,078
juta ton CO2

1 unit kilang
mini plant LPG
5 MMSCFD
(suplai)

2015-2020

LOKASI
Bangkalan,
Balikpapan,
Prov Jambi,
Sorong,
Pekanbaru,
Subang,
Lhokseumawe
, Samarinda,
Muara Enim,
Lampung,
prabumulih
Musi
Banyuasin,
Sumatera
Selatan
Sumatera dan
Kalimantan

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

382,0

APBN

Kementerian
ESDM (PJ)

412,5

APBN

Kementerian
ESDM (PJ)

KETERANGAN

LPG untuk
substitusi
kerosene industri

Total: 0,156 juta


ton CO2
|RAN

93

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

8.

Reklamasi lahan pasca


tambang

INDIKATOR
SASARAN

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
3,5
APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
ESDM (PJ)

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

Penyerapan emisi
2010-2014: 0,920
juta ton CO2

31.400 Ha

2010-2014

Seluruh
Indonesia

Penyerapan emisi
2015-2020: 0,692
juta ton CO2

23.600 Ha

2015-2020

Seluruh
Indonesia

4,2

APBN

Kementerian
ESDM (PJ)

1 Paket

2010-2020

Jabodetabek

505,0

APBN

Kementerian
Perhubungan

KETERANGAN
Asumsi: hutan
produksi

Total: 1,612 juta


ton CO2
9.

Pembangunan ITS
Jabodetabek

Mengurangi
tingkat
kemacetan lalu
lintas
Meningkatkan
koordinasi antar
simpang
Memberikan
sistem prioritas
bus di
persimpangan
Modal shift dari

KB = Kota Besar

|RAN

TN = Total
Nasional
(Penjumlahan
emisi)
KM = Kota
Metropolitan

94

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

kendaraan
pribadi ke
kendaraan
massal
Target
Penurunan
Emisi CO2e
(Juta Ton):
TN = 0,71
Jabodetabek =
0,71
Asumsi :
Jika telah
terbangun secara
lengkap seluruh
Jabodetabek dan
didukung dengan
upaya lainnya
seperti TDM

|RAN

95

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

10.

Pembangunan ITS
(Inteligent Transport
System)

INDIKATOR
SASARAN
Target
Penurunan
Emisi CO2e
(Juta Ton):
TN = 1,06
KM = 0,79
KB = 0,27
Mengurangi
tingkat
kemacetan lalu
lintas dengan
koordinasi
simpang
Meningkatkan
koordinasi antar
simpang
Memberikan
sistem prioritas
bus di
persimpangan
Modal shift dari
kendaraan

VOLUME
KEGIATAN
12 paket di 12
kota (1 paket
untuk 1 kota)

PERIODE
2010-2020

LOKASI
Medan,
Bandung,
Surabaya,
Makassar,
Palembang,
Semarang,
Balikpapan,
Denpasar,
Yogyakarta,
Padang,
Pekanbaru,
dan
Banjarmasin

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
500,00
APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
Perhubungan

|RAN

KETERANGAN
Sekitar 50% dari
kota metropolitan
dan 40% dari kota
besar

96

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

pribadi ke
transportasi
massal

11.

Penerapan
Pengendalian Dampak
Lalu-Lintas (Traffic
Impact Control/TIC)

Target Penurunan
Emisi CO2 (Juta
Ton):
TN = 0,24
KM = 0,24
KB = 0,00

10 paket untuk
10 kota

2010-2020

Kota-kota
metropolitan

22,5

APBD

Dishub Propinsi/
Kota

|RAN

Mengendalikan
dampak lalu-lintas
sehingga tidak
mengurangi
kinerja sistem
transportasi

97

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

secara
keseluruhan.

Pengeluaran izin
bangunan dan
penggunaan,
termasuk analisis
dampak lalu-lintas
12.

Manajemen Parkir

Target Penurunan
Emisi CO2 (Juta
Ton):
TN = 1,07
KM = 0,79
KB = 0,27

10 paket
(1 paket/tahun
untuk kota
metropolitan
dan kota besar)

2010-2020

Kota
metropolitan,
dan kota besar

100,0

APBD/
Swasta

Dishub Propinsi/
Kota/ Kabupaten

Mengurangi
modal share di
pusat kota
Mengurangi
penggunaan
kendaraan
pribadi
Asumsi :
Sistem
|RAN

KETERANGAN

Penerapan
sistem
pengendali
parkir
Mengurangi
tempat parkir
gratis
Mengurangi
street parking
Menerapkan
kebijakan
parkir peak
pricing di
pusat kota

98

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

2 paket

2010-2020

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

elektronik untuk
mencegah
kebocoran
Digunakan TDM
13.

Congestion Charging
dan Road Pricing
(dikombinasikan
dengan angkutan
umum massal cepat)

Target
Penurunan
Emisi CO2 (Juta
Ton):
TN = 0,41
KM = 0,41

Jakarta dan
Surabaya

500,0

APBN
& LN

Kementerian
Perhubungan dan
Kementerian
Keuangan

Mengurangi
modal share
mobil di pusat
kota
Mengurangi
kemacetan di
area pembatasan
lalu lintas
Asumsi:
Areal pricing
Satu paket
|RAN

99

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

dengan
peningkatan
jumlah dan
kualitas BRT
14.

Reformasi Sistem
transit (BRT/semi
BRT)

Target
Penurunan
Emisi CO2e
(Juta Ton):
TN = 0,69
KM = 0,51
KB = 0,18

Tiap tahun
diadakan
sebanyak 43
bus

2010-2020

Kota
Metopolitan
dan Kota
Besar

2010-2020

Area kota
metropolitan
dan kota besar

800

APBN

Kementerian
Perhubungan

1800,0

Swasta

Kementerian
Perhubungan

Komposisi modal
shift: mobil 15%,
sepeda motor
25%, bus 60%

Asumsi:
Mode shift dari
mobil pribadi,
sepeda motor
dan bus yang ada
15.

Peremajaan armada
angkutan umum

Target
Penurunan
Emisi CO2 (Juta
Ton):

Peraturan
desain
kendaraan
(standar

|RAN

100

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN
TN = 0,36
Asumsi:
Bus baru akan
mereduksi
konsumsi bahan
bakar 5-7%

16.

Pemasangan
Converter Kit
(Gasifikasi angkutan
umum)

Emisi CO2
tereduksi hingga
25%
Pemasangan
converter kit
rata-rata 1.000
unit per tahun
Dilakukan pada
taksi dan angkot
yang
menggunakan
bensin
Sudah termasuk

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

desain yang
jelas)
Jumlah bus
baru tiap
tahun
diperkirakan
6.000 unit
untuk 40
kota.
Tiap tahun
1000 unit
converter kit

2010-2020

Bodetabek,
Surabaya,
Balikpapan,
Prabumulih,
Cirebon,
Banten,
Medan dan
Cikampek

150 miliyar

APBN

Kementerian
Perhubungan

|RAN

KETERANGAN

101

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

50.000
orang/tahun
(1 tahun 5
kota)

2010-2020

Kota
metropolitan
dan kota besar

Tiap tahun 5

2010-2020

Kota

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

dalam program
kementerian
ESDM
17.

Program pelatihan dan


sosialisasi smart
driving (eco-driving)

Target
Penurunan
Emisi CO2e
(Juta Ton):
TN = 0,002

75,00

APBN

Kementerian
Perhubungan

100

APBN

Kementerian

Asumsi:
Jumlah pengajar
mengemudi yang
terlatih
Pelatihan eco
driving
diperkirakan
menurunkan
emisi CO2
sebesar 15%
18.

Non Motorized

Target

|RAN

Pelatihan pada
kepada Pengajar,
Operator
angkutan umum,
ditambah
sosialisasi kepada
masyarakat
melalui
penyebaran
booklet

102

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI
Transport (Pedestrian
dan Jalur Sepeda)

INDIKATOR
SASARAN
Penurunan
Emisi CO2 (Juta
Ton):
TN = 0,21

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

kota

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

Metropolitan,
Kota Besar
dan Kota
Sedang

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Perhubungan (PJ)

KETERANGAN

Asumsi:
80% trotoar
untuk jalan
dalam kota
Jalur sepeda
yang ada di kotakota (Jakarta,
Yogyakarta, Solo,
Sragen,
Balikpapan,
Palembang, dll.)
19.

Pengembangan KA
Perkotaan Bandung
(jalur ganda,
elektrifikasi,
pengadaan KRL)

Prediksi pnp
sebesar 15.259
org/tahun;
Prediksi
pengurangan
konsumsi BBM

42 km

2010-2020

Provinsi Jawa
Barat
(Padalarang
Bandung
Cicalengka)

1,77

APBN

Kementerian
Perhubungan

|RAN

Pengembangan
KA Perkotaan
Bandung (jalur
ganda,
elektrifikasi,
pengadaan KRL)

103

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

untuk kendaraan
sebesar 16.022
liter/tahun;
Prediksi
pengurangan
emisi CO2
sebesar 36.219
ton
CO2/tahun.
20.

Pembangunan doubledouble track


(termasuk
elektrifikasi)

Prediksi
pengurangan
konsumsi BBM
(dari peralihan
penggunaan
KRD menjadi
KRL) sebesar
198 liter/km;
Prediksi
pengurangan
emisi CO2
sebesar 529
ton CO2/km.

34 km

2010-2014

Provinsi DKI
Jakarta
(Manggarai
Cikarang)

6,78

APBN

Kementerian
Perhubungan

|RAN

104

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

21.

Pengadaan KRL

Prediksi
pengurangan
konsumsi BBM
(dari peralihan
penggunaan
KRD menjadi
KRL) sebesar
198 liter/km;
Prediksi
pengurangan
emisi CO2
sebesar 529
ton CO2/km.

248 unit

2010-2020

Provinsi DKI
Jakarta,
Banten, Jawa
Barat, Jawa
Timur

3,27

APBN

Kementerian
Perhubungan

22.

Pembangunan MRT
Jakarta

Prediksi pnp
sebesar
112.967.500
org/tahun;
Prediksi
pengurangan
konsumsi BBM
untuk kendaraan

14 km

2010-2020
(target
operasi
2016)

Provinsi DKI
Jakarta
(Lebak Bulus
Dukuh Atas)

9,80

APBN/
APBD/
Swasta

Pemprov DKI
Jakarta

|RAN

KETERANGAN

105

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

sebesar
39.538.625
liter/tahun;
Prediksi
pengurangan
emisi CO2
sebesar
89.381.016 ton
CO2/tahun.
23.

Pembangunan jalur KA
Bandara Soekarno
Hatta

Prediksi pnp
sebesar
55.000.000
org/tahun;
Prediksi
pengurangan
konsumsi BBM
untuk kendaraan
sebesar
45.375.000
liter/tahun;
Prediksi
pengurangan

33 km

2010-2020

Provinsi DKI
Jakarta &
Banten
(Manggarai Bandara
Soekarno
Hatta)

5,00

APBN/
Swasta/

Kementerian
Perhubungan (PJ)
/ Swasta

|RAN

106

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

emisi CO2
sebesar
102.574.725
ton
CO2/tahun.
24.

Pembangunan
monorail Jakarta

25.

Penanaman pohon

Prediksi pnp
sebesar 216.360
org/tahun;
Prediksi
pengurangan
konsumsi BBM
untuk kendaraan
sebesar 129.834
liter/tahun;
Prediksi
pengurangan
emisi CO2
sebesar
293.503 ton
CO2/ tahun.

24 km

10.000 km

2010-2014

2010-2014

Provinsi DKI
Jakarta

Jalan nasional

4,80

APBN/
APBD/
Swasta

Pemprov DKI
Jakarta

5.700

APBN

Ditjen. Bina
|RAN

107

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Marga,
Kementerian
Pekerjaan Umum

182.882

Ditjen Bina
Marga,
Kementerian
Pekerjaan Umum

di seluruh
Indonesia,
terutama jalan
perkotaan
26.

Pembangunan/peningkatan dan preservasi


jalan

Logical framework:
Peningkatan
kapasitas jalan
berkorelasi
dengan
peningkatan
VCR, yang
berarti
peningkatan
kecepatan.
Preservasi
berkorelasi
dengan nilai IRI,
yang berarti
peningkatan
kecepatan
Program ini
memungkinkan

Peningkatan
kapasitas jalan:
12.000 lajurkm

2010-2014

Jalan nasional
di Indonesia

APBN

Preservasi
jalan: 5.807,28
km

|RAN

KETERANGAN

108

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

peningkatan
kecepatan ratarata kendaraan
sehingga tingkat
emisi GRK per
km/kendaraan
pada tahun 2014
menjadi
optimum (18,568
juta ton atau
berkurang 8%
dari tingkat
emisi GRK
dengan donothing scenario
pada tahun
2014).

|RAN

109

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

BIDANG

4. INDUSTRI

Target Penurunan Emisi (26%) :


Target Penurunan Emisi (41%) :

0,001 (Giga ton)


0,005 (Giga ton)

Kebijakan yang Dilakukan untuk Menunjang RAN-GRK :


1. Meningkatkan pertumbuhan industri dengan mengoptimalkan pemakaian energi
Strategi :
1. Melaksanakan audit energi khususnya pada industri-industri yang boros energi
2. Pemberian insentif pada program efisiensi energi

NO
1.

RENCANA AKSI
Penyusunan kebijakan
teknis pengurangan
emisi CO2 di industri
semen dan baja

INDIKATOR
SASARAN
Tersusunnya
kebijakan
teknis
pengurangan
emisi CO2 di
industri
semen dan

VOLUME
KEGIATAN
2 sektor industri
(semen dan
baja)

PERIODE
2010 2014
2015 2020

LOKASI
Semen :
Sumatera,
Jawa
Sulawesi,
NTT; Baja :
Sumut,
Sumsel,

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
20102014:
APBN
Swasta
350,0
Grant

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
Perindustrian

20152020:
|RAN

KETERANGAN

110

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

baja

2.

3.

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

Kalbar, Kalsel,
Sulsel, Banten,
DKI, Jabar

Fasilitasi dan insentif


pengembangan teknologi
low carbon dan ramah
lingkungan di industri
semen dan baja

Tersusunnya
kebijakan
fasilitasi dan
insentif
teknologi low
carbon di
industri
semen dan
baja

25 industri
(9 industri
semen dan 16
industri baja)

2010 2014

Konservasi dan Audit


Energi industri semen
dan baja

Terbentuknya
sistem
manajemen
energi di
industri
semen dan
baja

50 Perusahaan

2010 2014
2015 2020

2015 - 2020

Semen :
Sumatera,
Jawa
Sulawesi,
NTT; Baja :
Sumut,
Sumsel,
Kalbar, Kalsel,
Sulsel, Banten,
DKI, Jabar
Semen :
Sumatera,
Jawa
Sulawesi,
NTT; Baja :
Sumut,
Sumsel, Riau,

20102014:
200,0

APBN
(Grant dan
RM)

Kementerian
Perindustrian

20152020:
300,0

20102014:
75,0
20152020:
75,0

APBN
Swasta
Grant

Kementerian
Perindustrian

|RAN

KETERANGAN

111

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

Kalbar, Kalsel,
Sulsel, Banten,
DKI Jakarta,
Jabar, Jateng,
Jatim
Target penurunan emisi untuk ketiga rencana aksi diatas :
Tahun 2010-1014 :
Semen : 1,036 juta ton CO2e
Baja : 0,639 juta ton CO2e
Total : 1,675 juta ton CO2e
Tahun 2015-2020 :
Semen : 1,149 juta ton CO2e
Baja : 0,704 juta ton CO2e
Total : 1,853 juta ton CO2e
4.

Penghapusan Bahan
Perusak Ozon (BPO) dan
implementasinya di
industri refrigerant,
foam, chiller dan
pemadam api

100 gedung
Pemerintahan
dan 4 sektor
(refrigerant,
foam, chiller dan
pemdam api)

2010 2020

Jakarta dan
propinsi

20102014:
115,0
20152020:
90,0

APBN
(Grant dan
RM)

KLH
(125,0 M)
dan Kementerian
Perindustrian
(80,0 M)

|RAN

112

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

BIDANG

5. LIMBAH

Target Penurunan Emisi (26%) :


Target Penurunan Emisi (41%) :

0,048 (Giga ton)


0,078 (Giga ton)

Kebijakan Yang Dilaksanakan Untuk Menunjang RAN-GRK :


1. Meningkatkan pengelolaan sampah dan air limbah
Strategi :
1. Perbaikan proses pengelolaan sampah di TPA
2. Pengurangan timbulan sampah melalui 3R (reduce, reuse, recycle)
3. Pemanfaatan limbah/ sampah menjadi produksi energi yang ramah lingkungan
4. Peningkatan pengelolaan air limbah di perkotaan
5. Perluasan kelembagaan dan peraturan di daerah (Perda)
NO

RENCANA AKSI

1.

Pembangunan
sarana prasarana
air limbah dengan
system off-site dan
on-site

INDIKATOR
SASARAN
Terlayaninya
10% penduduk
melalui sistem
pengelolaan air
limbah secara

VOLUME
KEGIATAN
Terlayaninya
10% penduduk
melalui sistem
pengelolaan
limbah

PERIODE

LOKASI

2010-2014 Off-site: 16 kota,


terdiri dari:
Pengembangan:
Medan, Jakarta,

BIAYA
RP.
(Miliar)
Perkiraan
biaya dari
2010-2020:
18.248,83

SUMBER
APBN &
APBD

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Ditjen. Cipta
Karya,
Kementerian
Pekerjaan Umum
|RAN

KETERANGAN
Logical
Framework :
Dengan tertatanya
sistem
pengelolaan

113

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

off-site (dengan
5% melalui
sistem terpusat
skala kota dan
5% sistem
pengelolaan
komunal)
Potensi
penurunan
emisi CO2
2010-2020:
0,0024118
Gton CO2e

terpusat sj\kala
kota dan 5%
pengelolaan
limbah
komunal
Penyediaaan
pengelolaan
limbah on-site
bagi 90% total
penduduk
Penyediaan
sistem
pengelolaan
limbah skala
setempat
(onsite) di 210
kab/kota
Terlayaninya
30% total
penduduk,
dengan 20%
terpusat skala

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

Bandung, Cirebon,
DIY, Surakarta,
Denpasar,
Banjarmasin,
Tangerang,
Balikpapan,

limbah yang baik


di daerah secara
onsite & off-site
akan menekan
buangan emisi
dari limbah.

Pembangunan
baru:
Semarang,
Surabaya, Malang,
Makassar, Batam,
Palembang.

Policy
framework :
Perubahan
budaya
masyarakat
Penyusunan
NSPK/Peratura
n daerah
Pembinaan
pemerintah
daerah
Pendanaan
Pembinaan
bagi operator
(kelembagaan)
dan SDM yang

On-site: 11.000
lokasi di seluruh
Indonesia
2015-2020

|RAN

KETERANGAN

114

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

kota dan 10%


pengelolaan
limbah
komunal
Penyediaan
sistem
pengelolaan
limbah skala
setempat
(onsite) bagi
70% total
penduduk
2.

Pembangunan/
TPA, Pengelolaan
sampah terpadu 3R

Potensi
Pengelolaan
sampah di TPA
penurunan
sebesar 60%
emisi CO2
sebesar 0,046 Pengelolaan
sampah melalui
G ton CO2e
program
pengelolaan
sampah terpadu
pola 3R

handal
Pembangunan/
peningkatan
sarana dan
prasarana

2010-2020

240 kota:
P. Sumatera: 67
kota
P. Jawa: 61 kota
P. Kalimantan: 32
kota
P. Sulawesi: 35 kota
P. Bali dan Nusa
Tenggara: 21 kota

TPA :
22.583,0
Terdiri dari
APBN :
16.937,0
APBD
5.645,0

APBN &
APBD

Ditjen. Cipta
Karya,
Kementerian
Pekerjaan Umum

|RAN

KETERANGAN

Asumsi :
Ada sharing
dari APBD(25%
dari kebutuhan
dana)
Dana GRK
merupakan
dana on-top
Logical
Framework :
Dengan tertatanya
sistem
pengelolaan
sampah yang baik
melalui
pengurangan
timbulan sampah

115

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN
sebanyak 20%

PERIODE

LOKASI
Kep. Indonesia
Timur: 24 kota

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
3R : 2.946,0

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN
(pola 3R) dan
penganganan
timbulan sampah
(pemilahan,
pengumpulan,
pengangkutan,
pengolahan dan
pemrosesan akhir)

Total :
25.529,o

Policy framework
:
a. Perubahan
budaya
masyarakat
dalam hal cara
membuang
sampah,
b. Penyusunan
PP turunan
UU 18/2008
dan peraturan
daerah,
c. Pembinaan
|RAN

116

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN
pemerintah
daerah,
d. Pendanaan,
e. Pembinaan
bagi operator
(kelembagaan)
& SDM yang
handal.
f. Pembangunan
/peningkatan
sarana dan
prasarana
Asumsi :
Dana GRK
merupakan dana
on top dan ada
sharing dari APBD

3.

Pemanfaatan
limbah hasil
pembukaan lahan

Estimasi reduksi
emisi GRK : 118
ton CO2

1.800 Ha

2010-2020 Jambi, Sumatera


Selatan,
Kalimantan Timur

20102014:
108,0
2015-2020 :

APBN

KLH
(Koordinator)
|RAN

Dilakukan
kerjasama antar
sektor & pemda

117

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANINTI

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAH
KACA(RANGRK)

RENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA20102020

KEGIATANINTI

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

LOKASI

PERIODE

untuk bahan
pembuatan
kompos, arang, dan
briket arang

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
72,0

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

|RAN

118

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

BIDANG

1. KEHUTANAN DAN LAHAN GAMBUT

TARGET PENURUNAN EMISI (26%) :


TARGET PENURUNAN EMISI (41%) :

0,672 (Giga ton)


1,039 (Giga ton)

N
O

RENCANA
AKSI

1.

Survey dan
pengumpulan
data hidrologi
dan hidrogeologi
pada lahan
bergambut.

2.

Pembentukan
Tim Koordinasi
dan Sekretariat
Penyusunan
Perencanaan
Lahan Rawa
Berkelanjutan
melalui kegiatan
Water
Management
for Climate
Change
Mitigation and
Adaptive
Development of

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATA
N

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

PERIODE

LOKASI

Laporan
Studi
60 pos OP
untuk 5
tahun

2010-2014

5 provinsi :
Riau, Jambi,
Kalbar,
Kalteng,
Kalsel

25,0

ABPN

Laporan
indentifika
si rawa

2010-2014

Sumatera,
Kalimantan,
Papua

2 juta
USD

APBN/
Grant
Kerajaan
Belanda

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA
Ditjen.
Sumber Daya
Air,
Kementerian
PU
Kementerian
PPN/
Bappenas
(PJ),
Ditjen.
Sumber Daya
Air,
Kementerian
PU

KETERANG
AN
framework :
WACLIMAD
bertujuan
untuk
melakukan
identifikasi
lahan rawa
(termasuk
gambut
sekitar 30%)
yang dapat
dibudidayak
an dan yang
harus
dikonservasi
Identifikasi
lahan rawa
(termasuk
lahan
bergambut)
akan
mendukung

|RAN

119

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

N
O

RENCANA
AKSI
Lowlands
(WACLIMAD)
yang bertujuan
untuk
melakukan
identifikasi
lahan rawa
(termasuk
gambut sekitar
30%) yang dapat
dibudidayakan
dan yang harus
dikonservasi.

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATA
N

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA

KETERANG
AN
perencanaan
yang
terintegrasi
untuk
membangun
/
meningkatka
n,
merehabilita
si, dan
operasi serta
pemeliharaa
n jaringan
reklamasi
rawa
(termasuk
lahan
gambut).
Policy
framework:
Regulasi
dari
pemerintah
daerah
untuk
melakukan
percepatan
RTRW
Pendanaan

|RAN

120

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

KEGIATANPENDUKUNG

N
O

RENCANA
AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATA
N

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA

KETERANG
AN
Peningkatan
kapasitas
masyarakat

3.

Penelitian
sistem tata air
pada lahan
bergambut

Sistem
tata air
lahan
gambut
Prototy
pe
sistem
tata air
lahan
gambut
pada
lokasi
perconto
han.
Evaluasi
prototyp
e
Standar/
pedoma
n tata
air lahan
gambut

2010-2014

Kalimantan &
Sumatera

0,5

0,7

0,3
0,2

Total :
1,7

APBN

Puslitbang
SDA,
Kementerian
PU

Studi ini
diharapkan
dapat
menghasilka
n konsep
sistem tata
air pada
lahan
gambut yang
optimal
sehingga
dapat
mengurangi
permasalaha
n emisi Gas
Rumah
Kaca.
Pembuatan
prototipe
bertujuan
untuk
menguji
konsep dari
sistem tata
air.
|RAN

121

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

KEGIATANPENDUKUNG

N
O

RENCANA
AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATA
N

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA

KETERANG
AN
Evaluasi
prototype
dapat
mengidentifi
ka-si
kekurangan
dan
penyempurn
a-an yang
diperlukan.

4.

5.

Penyusunan
Perpres
Kawasan
Strategis
Nasional (KSN)
& Rencana Tata
Ruang (RTR)
Pulau

Penyusunan
Rencana Tata
Ruang Wilayah
Sungai

69 Perpres
KSN & 7
RTR Pulau

2010-2014

33 provinsi

204,5

APBN

Ditjen.
Penataan
Ruang,
Kementerian
Pekerjaan
Umum

69 wilayah
sungai

2010-2014

33 provinsi

85,7

APBN

Ditjen.
Penataan
Ruang,
Kementerian
Pekerjaan
Umum

Penyusunan
Rencana Tata
Ruang sesuai
dengan daya
dukung
lingkungan
Sinkronisasi
pemanfaatan
lahan agar
tidak terjadi
konflik antar
sektor.
Agar
pemanfaatan

|RAN

122

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

KEGIATANPENDUKUNG

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA
Ditjen.
Penataan
Ruang,
Kementerian
Pekerjaan
Umum

Ditjen.
Penataan
Ruang,
Kementerian
Pekerjaan
Umum

Ditjen.
Penataan
Ruang,
Kementerian
Pekerjaan
Umum

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATA
N

PERIODE

LOKASI

Audit tata ruang


(stock taking)
wilayah provinsi

18 kegiatan

2010-2014

33 provinsi

15

APBN

7.

Pendataan dan
Informasi
Bidang Penataan
Ruang

22
kegiatan

2010-2014

33 provinsi

32,5

APBN

8.

Monitoring
Evaluasi RTRW
Nasional dan
Pulau dan
Program
Infrastruktur
Nasional

26
kegiatan

2010-2014

Pusat

36,7

APBN

50 unit

2010-2014

24 provinsi

7,0

APBN

Kemenhut

140 unit

2010-2020

24 provinsi

14,0

APBN

Kemenhut

500
kelompok

2010-2014

24 provinsi

650,0

APBN

Kemenhut

N
O

RENCANA
AKSI

6.

Peningkatan Penyerapan Karbon


11. Fasilitasi
Kemitraan
12.

Fasilitasi
Kelompok/Unit

KETERANG
AN
ruang sesuai
dengan arahan
Rencana Tata
Ruang

|RAN

123

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

N
O

13.

14.

15.

16.

Ijin Usaha
Pengelolaan
HKm

1.375
kelompok

2010-2020

24 provinsi

650,0

APBN

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA
Kemenhut

Peningkatan
Hasil Hutan
Kayu/ Bukan
Kayu/ Jasa
Lingkungan

5%

2010-2014

60 kabupaten

80,0

APBN

Kemenhut

10 %

2010-2020

60 kabupaten

80,0

APBN

Kemenhut

50%

2010-2014

Seluruh
Indonesia

55,0

APBN

Kemenhut

100%

2010-2020

Seluruh
Indonesia

55,0

APBN

Kemenhut

50%

2010-2014

Seluruh
Indonesia

28,0

APBN

Kemenhut

100 %

2010-2014

Seluruh
Indonesia

125

APBN

Kemenhut

RENCANA
AKSI

Peningkatan
Jumlah Unit
IUPHHK
Bersertifikat
PHPL dari
Tahun 200
Peningkatan
Produksi
Penebangan
Bersertifikat
Legalitas Kayu

Pembuatan Peta
Areal Kerja
Pencadangan

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATA
N

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

KETERANG
AN

|RAN

124

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

N
O

17.

18.

19.

20.

125

APBN

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA
Kemenhut

2010-2014

75

APBN

Kemenhut

430.000
ha

2010-2020

75

APBN

Kemenhut

80%

2010-2014

Seluruh
Indonesia

15

APBN

Kemenhut

80%

2010-2020

Seluruh
Indonesia

15

APBN

Kemenhut

33 provinsi

2010-2014

32 provinsi

25

APBN

Kemenhut

32 provinsi

2010-2020

32 provinsi

25

APBN

Kemenhut

1 paket

2010-2014

Pusat

10

APBN

Kemenhut

1 paket

2010-2020

Pusat

10

APBN

Kemenhut

VOLUME
KEGIATA
N

PERIODE

LOKASI

(IUPHHK-HT,
HA, RE, HKm,
HTR dan Hutan
Desa)

100 %

2010-2020

Seluruh
Indonesia

Pengendalian
Penggunaan
Kawasan Hutan

200.000
ha

RENCANA
AKSI

Penyelesaian
permohonan Ijin
Pakai KH
dengan
kompensasi
PNBP
Data dan
Informasi
Penggunaan KH
Kebijakan
bidang Planologi
dan Peraturan
perundangan
pengendalian
dan penertiban
penggunaan KH

INDIKATOR
SASARAN

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

KETERANG
AN

|RAN

125

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

N
O

RENCANA
AKSI

INDIKATOR
SASARAN

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA

VOLUME
KEGIATA
N

PERIODE

LOKASI

150.000 ha

2010-2014

Seluruh
Indonesia

25

APBN

Kemenhut

305.250 ha

2010-2020

Seluruh
Indonesia

25

APBN

Kemenhut

187.000.0
00 ha

2010-2014

Seluruh
Indonesia

300

APBN

Kemenhut

187.000.0
00 ha

2010-2020

Seluruh
Indonesia

600

APBN

Kemenhut

33 Provinsi

2010-2014

Pusat

75

APBN

Kemenhut

33 Provinsi

2010-2020

Pusat

150

APBN

Kemenhut

33 Provinsi

2010-2014

Pusat

75

APBN

Kemenhut

33 Provinsi

2010-2020

Pusat

150

APBN

Kemenhut

33 Provinsi

2010-2014

Pusat

75

APBN

Kemenhut

33 Provinsi

2010-2020

Pusat

150

APBN

Kemenhut

KETERANG
AN

tanpa ijin
21.

21.
1

21.
2

22.

23.

Pelepasan
Kawasan Hutan

Inventarisasi
dan Pemantauan
SDH

Data dan
Informasi
Geospasial dan
tematik
kehutanan tk.
Nasional
Data dan
Informasi
penggunaan
karbon KH tk.
Nasional
Basis data
spasial SDH
yang terintegrasi

|RAN

126

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

N
O

RENCANA
AKSI

24.

Penelitian dan
Pengembangan
Kehutanan dan
Perubahan Iklim

25.

Iptek dasar dan


terapan bidang
landscape
hutan,
perubahan
iklim, dan
kebijakan
kehutanan

26. Penurunan
jumlah hotspot
di P. Sumatera,
Sulawesi, dan
Kalimantan

27.

Peningkatan
kapasitas
Aparatur dan
Masyarakat

28. Penyelesaian
kasus

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATA
N

2010-2014

APBN

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA
Kemenhut

2010-2020

APBN

Kemenhut

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

7 tema

2010-2014

Pusat

150

APBN

Kemenhut

7 tema

2010-2020

Pusat

300

APBN

Kemenhut

20 % per
tahun

2010-2014

Kalimantan,
Sulawesi dan
Sumatera

330

APBN

Kemenhut

20 % per
tahun

2010-2020

Kalimantan,
Sulawesi dan
Sumatera

660

APBN

Kemenhut

30 Daops

2010-2014

Seluruh
Indonesia

330

APBN

Kemenhut

30 Daops

2010-2020

Seluruh
Indonesia

660

APBN

Kemenhut

75 %

2010-2014

Penyelesaian

330

APBN

Kemenhut

KETERANG
AN

|RAN

127

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

N
O

RENCANA
AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATA
N

PERIODE

perambahan
hutan

29.

30.

31.

32.

33.

Penetapan
Wilayah KPHP

Penetapan
Wilayah KPHL

Penetapan
Wilayah KPHK

Peraturan
perundangundangan
penyelenggaraan
KPH
Fasilitasi

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA

KETERANG
AN

Kasus
perambahan
hutan
75 %

2010-2020

Penyelesaian
Kasus
perambahan
hutan

660

APBN

Kemenhut

28 Provinsi

2010-2014

28 Provinsi

38

APBN

Kemenhut

28 Provinsi

2010-2020

28 Provinsi

77

APBN

Kemenhut

28 Provinsi

2010-2014

28 Provinsi

38

APBN

Kemenhut

28 Provinsi

2010-2020

28 Provinsi

77

APBN

Kemenhut

33 Provinsi

2010-2014

33 Provinsi

38

APBN

Kemenhut

33 Provinsi

2010-2020

33 Provinsi

77

APBN

Kemenhut

1 paket

2010-2014

Pusat

38

APBN

Kemenhut

1 paket

2010-2020

Pusat

77

APBN

Kemenhut

32 provinsi

2010-2014

32 propinsi

3,2

APBN

Kemenhut
|RAN

128

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

KEGIATANPENDUKUNG

N
O

RENCANA
AKSI

INDIKATOR
SASARAN

dukungan
kelembagaan
ketahanan
pangan
34.

35.

Pengawasan
pemanfaatan
ruang dan
evaluasi
pemanfaatan
ruang
berdasarkan
daya dukung
dan daya
tampung
lingkungan yang
terpadu dan
bersifat lintas
K/L

Penelitian dan
pengembangan
teknologi rendah
emisi,
metodologi MRV
pada areal
pertanian di
lahan gambut

Penelitian dan
Pengembanga
n sumber daya
lahan

VOLUME
KEGIATA
N

PERIODE

LOKASI

32 provinsi

2010-2020

32 propinsi

2010-2014

2010 : 2
provinsi

6,4

APBN

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA
Kemenhut

95,7

APBN

KLH

2010
2014: 70,0
20152020 :
80,0

APBN

Kementerian
Pertanian (PJ)

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

KETERANG
AN

2011-2014 : 33
provinsi

6
kegiatan/
12 paket
teknologi

20102020

Aceh, Sumut,
Riau, Jambi,
Sumsel,
Lampung,
Kalbar, Kalsel,
Kaltim,
Kalteng, dan
Papua

Kegiatan
pendukung:
Varietas dan
teknologi
pengelolaan
lahan/ tanah
air dan
tanaman
pangan dan
perkebunan

|RAN

129

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

N
O

RENCANA
AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATA
N

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBE
(Miliar)
R

PENANGGU
NGJAWAB
(PJ)/
PELAKSANA

KETERANG
AN
rendah emisi
Baseline
emisi GRK
berbagai
lokasi
kegiatan
mitigasi di
lahan gambut
Sosialisasi,
implementasi
dan
monitoring
emisi (dalam
rangka MRV
di lahan
gambut)

|RAN

130

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

BIDANG

2. PERTANIAN

TARGET PENURUNAN EMISI (26%) :


TARGET PENURUNAN EMISI (41%) :

0,008 (Giga ton)


0,011 (Giga ton)

NO
1.

RENCANA AKSI
Penelitian sistem
pengelolaan air
pada daerah irigasi

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN
Sistem
pengelolaan air
pada daerah
irigasi
Prototipe
sistem
pengelolaan air
pada daerah
irigasi di lokasi
percontohan
Evaluasi
prototipe
Standar/pedo
man
pengelolaan air
pada daerah
irigasi

PERIODE

LOKASI

2010-2014

Jawa Barat

BIAYA
RP.
(Miliar)
0,3

SUMBER
APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Puslibang SDA,
Kementerian PU

0,5

0,2
0,2

Total : 1, 2

|RAN

KETERANGAN
Studi ini
diharapkan
dapat
menghasilkan
konsep sistem
pengelolaan air
yang tepat
sehingga dapat
meningkatkan
efesiensi
penggunaan air
dan mengurangi
emisi GRK.
Uji coba sistem
pengelolaan air
di saluran irigasi
pada lokasi
percontohan
untuk
mengetahui
tingkat efesiensi
alokasi distribusi

131

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
(Miliar)

SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN
air.
Evaluasi
terhadap
prototipe untuk
mengidentifikasi
kekurangan dan
keperluan yang
digunakan.

2.

3.

Penelitian metode
pengurangan emisi
Gas Rumah Kaca di
Waduk

Penelitian dan
pengembangan
teknologi rendah
emisi, metodologi
MRV sektor
pertanian

Tersusunnya
teknologi rendah
emisi GRK yang
mudah
diterapkan dan
berdaya hasil
tinggi, serta
tersedianya
metodologi MRV

Nilai emisi Gas


Rumah Kaca di
Waduk
Metode
pengurangan
emisi GRK
Uji coba
metode
Pedoman
metode
pengurangan
emisi GRK di
Waduk
4 kegiatan/
12 paket
tanaman
pangan
12 paket
peternakan,
4 kegiatan/8
paket tanaman
perkebunan

2010-2014

Jawa Barat,

a. 0,5

APBN

Puslibang SDA,
Kementerian PU

Tersusunnya
teknologi rendah
emisi GRK yang
mudah
diterapkan dan
berdaya hasil
tinggi, serta
tersedianya
metodologi MRV
untuk sektor
pertanian

APBN

Kementerian
Pertanian (PJ)

Kegiatan
pendukung:
Varietas dan
teknologi
pengelolaan
lahan/ tanah air
dan tanaman
pangan rendah
emisi

Jawa Tengah,
Jawa Timur

b. 0,5

c. 0,7
d. 0,2
2010-2020

32 provinsi

Total 1,9
2010-2014 :
300,0
20152020
: 399,0

|RAN

132

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN
untuk sektor
pertanian

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
(Miliar)

SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

3 kegiatan
berkaitan MRV
sektor
pertanian

Jenis pakan dan


ternak yang
menghasilkan
kotoran dan
entericfermentat
ion rendah emisi
Teknologi
penyiapan lahan
tanpa bakar
(PLTB) dan
budidaya rendah
emisi untuk
areal
perkebunan
Baseline emisi
GRK berbagai
lokasi kegiatan
mitigasi
Pengembangan
metodologi
measurable,
reportable,
verifiable (MRV)
sektor pertanian
Sosialisasi,
implementasi
dan monitoring
emisi (dalam
rangka MRV)

|RAN

KETERANGAN

133

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

BIDANG

3. ENERGI DAN TRANSPORTASI

TARGET PENURUNAN EMISI (26%)


TARGET PENURUNAN EMISI (41%)
NO

RENCANA AKSI

1.

Monitoring pasokan
gas bumi untuk
konsumen hulu,
dan penyiapan
rekomendasi
alokasi gas bumi

2.

3.

Pemantauan
implementasi
kebijakan
pengurangan
volume pembakaran
gas flare
Penyediaan dan
pengelolaan energi
baru terbarukan
dan konservasi
energi

INDIKATOR
SASARAN

:
:

VOLUME
KEGIATAN

0,038 (Giga ton)


0,056 (Giga ton)
PERIODE

LOKASI

5 paket &
5 laporan

2010-2014

5 paket &
5 laporan

2015-2020

Jawa,
Sumatera,
Sulawesi,
Kalimantan,
Maluku,
Papua
Jawa,
Sumatera,
Sulawesi,
Kalimantan,
Maluku,
Papua

5 laporan

6 laporan

Bimtek EBT :
900 orang
Bimtek
konservasi
energi : 850
orang

BIAYA
RP. (Miiar) SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
ESDM

6,24

APBN

4,554

APBN

Kementerian
ESDM

2010-2014

4,14

APBN

Kementerian
ESDM

2015-2020

4,73

APBN

Kementerian
ESDM

2010-2014

181,38

APBN

Kementerian
ESDM

|RAN

KETERANGAN

134

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

4.

5.

RENCANA AKSI

Penyediaan regulasi
panas bumi dan air
tanah

Penyusunan
klasifikasi data
potensi dan
cadangan panas
bumi untuk
ketenagalistrikan
dan pemanfaatan
langsung energi
panas bumi

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

BIAYA
RP. (Miiar) SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

PERIODE

LOKASI

Studi
kelayakan
energi laut : 5
laporan
Pilot project
pembangkit
listrik dari
sumber energi
laut : 10
laporan
Pemanfaatan
biomassa
untuk rumah
tangga : 5
laporan
50 regulasi

2010-2014

Seluruh Indonesia

24,97

APBN

Kementerian
ESDM

20 regulasi

2015-2020

Seluruh Indonesia

10

APBN

Kementerian
ESDM

10 kegiatan

2010-2014

Seluruh Indonesia

13,87

APBN

Kementerian
ESDM

10 kegiatan

2015-2020

Seluruh Indonesia

24,50

APBN

Kementerian
ESDM

|RAN

KETERANGAN

135

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA AKSI

6.

Penetapan Wilayah
Kerja
Pertambangan
(WKP) panas bumi

7.

8.

Prosentase
penggunaan BBN
dalam pemakaian
Bahan Bakar total

Prosentase
pengalihan
pemakaian minyak
tanah ke LPG

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

30 WKP Pabum

2010-2014

20 WKP Pabum

2010-2020

30 laporan

LOKASI
Jawa, Sumatera,
Sulawesi, NTB,
NTT, Maluku,
Maluku Utara
Jawa, Sumatera,
Sulawesi, NTB,
NTT, Maluku,
Maluku Utara

BIAYA
RP. (Miiar) SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
ESDM

3,3

APBN

5,2

APBN

Kementerian
ESDM

2010-2014

115,53

APBN

Kementerian
ESDM

30 laporan

2015-2020

145,32

APBN

Kementerian
ESDM

5 laporan studi
kebijakan
penetapan harga
LPG untuk PSO
dan non PSO

2010-2014

20,11

APBN

Kementerian
ESDM

2015-2020

APBN

Kementerian
ESDM

|RAN

KETERANGAN

136

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA AKSI

9.

Penelitian sistem
pembangkit listrik
tenaga gelombang &
arus laut

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN
Sistem
pembangkit
listrik tenaga
gelombang
tenaga laut.
Pemo-delan
listrik
Prototipe
pembangkit
listrik tenaga
gelombang laut
Evaluasi
prototipe

PERIODE

LOKASI

2010-2014

Selat Bali

BIAYA
RP. (Miiar) SUMBER
0,5

APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Puslibang SDA,
Kementerian PU

0,3
0,7

0,2
Total: 1,7

|RAN

KETERANGAN
Studi ini
pembangkit
tenaga
gelombang laut
sebagai
pembangkit
alternatif.
Berdasarkan
besar energi
yang
dihasilkan,
maka dapat
dikonversi ke
pengurangan
emisi bila
menggunakan
bahan bakar
fosil.
Pemodelan
fisik dilakukan
di laboratorium
untuk
mengetahui
keadaan yang
terjadi di
lapangan
Pembangunan
prototipe
dilakukan
untuk
mengetahui

137

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP. (Miiar) SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN
keadaan di
lapangan

10.

Pengujian pada
Seluruh Kendaraan
Bermotor Termasuk
Kendaraan Pribadi
dan Sepeda Motor

Target
Penurunan
Emisi CO2e
(Juta Ton):
TN = 0,35
Asumsi:
Program
Inspection
and
Maintenance
bagi
kendaraan
pribadi

10 paket (1
tahun 1 paket)
Pembangunan
Pengujian
Kendaraan
Bermotor
(PKB) bagi
kota/kab yang
belum
memiliki unit
PKB

2010-2020

Nasional

500,0

APBN

Persiapan
Kementerian
Perhubungan (PJ) Peraturan
Perundangan
2010-2014

Seluruh
kendaraan
yang tidak
memenuhi
ambang batas
|RAN

138

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP. (Miiar) SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

emisi, tidak
dapat
beroperasi di
jalan.
10.a
.

Standar emisi CO2


untuk mobil
penumpang

Penerapan
standar emisi
CO2

Mulai untuk
diaplikasikan
pada kendaraan
baru di Indonesia

2010-2020

Nasional

APBN

Kementerian
Perhubungan/
Pemda

10.b

Standar emisi CO2


untuk sepeda motor

Penerapan
standar emisi
CO2

Mulai untuk
diaplikasikan
pada sepeda
motor baru di
Indonesia

2010-2020

Nasional

APBN

Kementerian
Perhubungan/
Pemda

2010-2020

Area metoplolitan
dan kota besar

APBN

Kementerian
Perhubungan/
Pemda

11.

Pengembangan
sistem logistik
modern

Target
Penurunan
Emisi CO2e
(Juta Ton):
TN = 0,16
Mengurangi
angka km
perjalanan

9 paket (1 tahun
1 paket)

90,0

|RAN

Mulai dibangun
tahun 2011

139

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO
12.

RENCANA AKSI
Car Labeling
(pemasangan label
emisi dan
efisiensi pada
kendaraan)

INDIKATOR
SASARAN
Target
Penurunan
Emisi CO2e
(Juta Ton):
TN = 0,31
Semua
kendaraan
baru diberi
label menurut
konsumsi
bahan bakar
(per 100km)
dan emisi CO2
(dalam g/km).
Tujuannya
adalah
mendorong
industri mobil
untuk
memproduksi
kendaraan
hemat bahan
bakar dan
rendah emisi
CO2, dll

13.

Melaksanakan
pembatasan
kecepatan pada

Target
penurunan eisi
CO2 (Juta
Ton):

VOLUME
KEGIATAN

BIAYA
RP. (Miiar) SUMBER

PERIODE

LOKASI

Untuk kendaraan
baru (kerjasama
Kementerian
Perhubungan
dengan Industri
Otomobil)

2010-2020

Nasional

50,0

APBN/
Swasta

Seluruh jalan tol

2010-2014

Nasional

50,0

BUMN

(seluruh jalan tol)

PENANGGUNG
KETERANGAN
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
Memperkenalka
n dan
Perhubungan
mendorong Car
Labeling
Mulai
diterapkan
tahun 2012

BPJT (Badan
Pengatur Jalan
Tol)
|RAN

140

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA AKSI
jalan toll

14.

Pajak dan harga


bahan bakar

INDIKATOR
SASARAN
TN = 0,07
Pembuatan
peraturan
pendukung
Target
penurunan
emisi CO2
(Juta Ton): -

VOLUME
KEGIATAN

BIAYA
RP. (Miiar) SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

PERIODE

LOKASI

Seluruh
pengguna
kendaraan
bermotor

2010-2014

Nasional

APBN

Kementerian
Keuangan

Diterapkan
pada
kendaraan
pribadi setiap 5
tahun,
diusulkan
pajak
kendaraan
bermotor
Penerimaan
pajak sepeda
motor
dapat

2010-2014

Nasional

APBN

Kementerian
Keuangan

KETERANGAN

Membuat
mekanisme untuk
meningkatkan/
menurunkan
harga bahan
bakar setiap
periode hingga
tingkat target
tercapai
15.

Pajak kendaraan
(berdasarkan emisi
CO2)

Target
penurunan
emisi CO2
(Juta Ton): -

|RAN

141

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP. (Miiar) SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

digunakan
untuk manfaat
pengembangan
sistem
angkutan
umum
16.

Peningkatan
kualitas kebersihan
daratan dan
perairan kolam
pelabuhan dari
limbah sampah,
sanitary dan B3
(termasuk minyak)

1 paket

2010-2014

Lokasi pelabuhan
ditentukan
kemudian

4,0 @per
paket periode

APBN

Kementerian
Perhubungan

17.

Peningkatan
kebersihan,
keteduhan dan
keasrian lingkungan
dalam kawasan
pelabuhan

1 paket

2010-2014

Lokasi pelabuhan
ditentukan
kemudian

1,5 @per
paket periode

APBN

Kementerian
Perhubungan

18.

Peningkatan
kapasitas
kelembagaan
pengelolaan
lingkungan
wawasan pelabuhan

1 paket

2010-2014

Lokasi pelabuhan
ditentukan
kemudian

0,05@ per
paket periode

APBN

Kementerian
Perhubungan

|RAN

142

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO
19.

RENCANA AKSI
Implementasi eco
airport

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

Tingkat
pemahaman
masyarakat
dalam
pengelolaan
lingkungan di
bandara.
Pengurangan
emisi di
bandara.
Pengelolaan
sampah yang
baik di
bandara.
Terciptanya
penghematan
energi di
bandara.
Pengelolaan
limbah cair
yang baik di
bandara.

1 paket / tahun

2010-2020

BIDANG

RENCANA AKSI

Bandar Udara
UPT dan Bandar
Udara di bawah
pengelolaan PT.
AP I dan AP II

BIAYA
RP. (Miiar) SUMBER
3,825

APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Kementerian
Perhubungan

INDIKATOR

:
:

Penghematan
energi,
Pengelolaan
kualitas udara,
Pengelolaan
sampah.
Pengelolaan
limbah cair.

VOLUME

0,001 (Giga ton)


0,005 (Giga ton)
PERIODE

LOKASI

BIAYA

PENANGGUNG
( )/
|RAN

KETERANGAN

4. INDUSTRI

TARGET PENURUNAN EMISI (26%)


TARGET PENURUNAN EMISI (41%)
NO

LOKASI

KETERANGAN

143

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

1.

Penyusunan dan
pengembangan
roadmap/peta jalan
Green Industry
dan
implementasinya.

Tersusunnya
kebijakan Peta
Jalan Green
Industry.
Terimplementasi
nya Peta Jalan
Green Industry

2.

Peningkatan
capacity building
bagi aparat
pemerintah dan
pelaku industri

Terlaksananya
peningkatan
kapasitas aparat
pemerintah dan
pelaku industri
dalam Perubahan
Iklim

3.

Fasilitasi dan
pemberian Insentif
untuk penumbuhan
Industri
Pengelolaan
Limbah Industri

4.

Implementasi
Standard of EURO
IV untuk kendaraan
bermotor baru

5 Kawasan
Industri dan 8
Sektor Industri

RP.
(Miliar)
20102014:
100
20152020:
100

SUMBER
APBN

Kementerian
Perindustrian

APBN

Kementerian
Perindustrian

APBN

Kementerian
Perindustrian

APBN

Kementerian
Perindustrian

20102014
20152020

Jawa, Sumatera,
Kalimantan,
Sulawesi, NTT

30 propinsi

20102014
20152020

30 propinsi

20102014:
150
20152020:
150

Swasta
Grant

Tersusunnya
kebijakan fasilitasi
dan insentif
pengelolaan
limbah industri

7 sektor industri
(Pulp & kertas,
Gelas & keramik,
Pupuk,
Petrokimia,
Makanan&
minuman,
Tekstil, Logam
Non Baja)

20102014
20152020

Jakarta dan
propinsi

20102014:
35
20152020:
35

Swasta
Grant

Tersusunnya
Standar
kendaran EURO
IV
Target
penurunan emisi

1 subsektor
industri Industri
Transportasi

20102014
20152020

20102014:
10
20152020:
10

Swasta
Grant

7 propinsi

Swasta
Grant

|RAN

144

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

BIAYA

PERIODE

LOKASI

RP.
(Miliar)

Jawa, Sumatera,
Kalimantan,
Sulawesi,
Maluku

20102014:
175
20152020:
175

APBN

Jawa, Sumatera,
Kalimantan,
Sulawesi,
Maluku, NTT

20102014:
75
20152020:
75

APBN

Jawa, Sumatera,
Kalimantan,
Sulawesi, NTT,

20102014:
75

APBN
Swasta

20152020:

Grant

SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

: 5%
5.

6.

7.

Inventori potensi
emisi CO2 pada
sektor industri

Tersusunnya
sistem data base
dan inventori
pengurangan emisi
CO2 di sektor
industri

8 sektor industri
(Pulp&kertas,
Gelas & keramik,
Pupuk,
Petrokimia,
Makanan&
minuman,
Tekstil, kimia
dasar, Logam
Non Baja)

20102014
20152020

Pemantauan dan
evaluasi program
mitigasi

Jumlah industri
yang melakukan
program mitigasi
sebanyak 50
perusahaan

17 industri
(Semen, Baja,
Pulp& kertas,
Gelas & keramik,
Pupuk,
Petrokimia,
Makanan &
minuman,
Tekstil, Logam
Non Baja,
transportasi ,
kimia ,
elektronika.

20102014
20152020

Program Konservasi
dan Audit Energi

Terlaksananya
manajemen energi

15 sektor industri
(Pulp& kertas,
Gelas & keramik,

20102014

Terciptanya

20152020

Grant

Kementerian
Perindustrian

Grant

Kementerian
Perindustrian

Kementerian
Perindustrian

|RAN

145

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

8.

RENCANA AKSI

Penyusunan Road
Map emisi CO2
sektor industri

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

auditor energi

Pupuk,
Petrokimia,
Makanan &
minuman,
Tekstil, Logam
Non Baja,
transportasi ,
kimia dasar,
elektronika.

Tersusunnya Peta
Jalan (Road Map)
Pengurangan
emisi CO2. pada
sektor industri.

8 sektor industri
(Pulp&kertas,
Gelas & keramik,
Pupuk,
Petrokimia,
Makanan&
minuman,
Tekstil, kimia
dasar, Logam
Non Baja,
transportasi,
kimia,
elektronika

PERIODE

LOKASI
Maluku

20102014
20152020

Jawa, Sumatera,
Kalimantan,
Sulawesi, NTT,
Maluku

BIAYA
RP.
(Miliar)
75

20102014:
175
20152020:
175

SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

APBN
Swasta

Kementerian
Perindustrian

Grant

|RAN

KETERANGAN

146

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

BIDANG

5. LIMBAH

TARGET PENURUNAN EMISI (26%) :


TARGET PENURUNAN EMISI (41%) :

0,048 (Giga ton)


0,078 (Giga ton)

NO
1.

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

Inventarisasi GRK

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

372 Kota selama


5 tahun. Dana
Rp. 500juta/ thn

2010-2020

LOKASI
11 Kota
metropolitan,
12 kota besar,
72 kota sedang,
277 kota kecil

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
2010-2014 :
APBN
558,0
APBD

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
KLH

2015-2020 :
372,0

2.

Pengawasan
kegiatan
pembakaran
terbuka (open
burning) sampah

Potensi reduksi
emisi: 31,743
Ggram CO2

372 kota selama


10 tahun dengan
dana Rp. 1M/
tahun

2010-2020

11 Kota
metropolitan,
12 kota besar,
72 kota sedang,
277 kota kecil

2010-2014 :
2.232,0
2015-2020 :
1.488,0

APBN
APBD

KLH

3.

Peningkatan
kapasitas
pengelolaan
sampah

Termanfaatkan
nya produk
pengaturan,
NSPK oleh
Pemda,
Termanfaatkan
nya hasil
bantek, bimtek,
dan
pendampingan
oleh Pemda,

Penyusunan
NSPK
pengelolan
persampahan
di 30 kab/kota
Pendampinga
n penyusunan
SSK yang
berkaitan
dengan
pengelolaan

2010-2014

150 kab / kota

286,07

APBN

Ditjen Cipta
Karya, Dep. PU

|RAN

KETERANGAN

Merupakan
kegiatan software/
non-fisik dalam
meningkatkan
kapasitas
pengelola
persampahan

147

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

Meningkatnya
kompetensi
pengelola
persampahan,
Meningkatnya
keterlibatan
masyarakat dan
swasta dalam
pengelolaan
persampahan
Meningkatnya
kinerja
pelayanan
persampahan

persampahan
di 150
kab/kota
Pembinaan
kelembagaan
(organisasi,
SDM, peran
masyarakat) di
150 kab/kota

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
(Miliar)

SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

|RAN

KETERANGAN

148

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

KEGIATAN PENDUKUNG DATA DAN INFORMASI (BMKG)


INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

Pembangunan
stasiun Global
Atmospheric Watch
(GAW)

Pengukuran
besaran ambient
kadar CO2 di
wilayah atmosfir
Indonesia

2 paket/ 2 lokasi

2010 - 2014

Palu, Papua

2.

Pembangunan
Sistem Informasi
peringatan dini
kualitas udara
terhadap tingkat
bahaya kebakaran

Pemantauan
kualitas udara
wilayah rawan
kebakaran hutan

8 paket/ 8
propinsi

2010 - 2014

Pekanbaru,
Jambi,
Palembang,
Palangkaraya,
Pontianak,
Banjarmasin,
Balikpapan,
Medan

3.

Climate Early
Warning System

Peringatan El
Nino La Nina
untuk peringatan
dini kebakaran
hutan

16 paket

2010 - 2014

Seluruh
Indonesia

NO

RENCANA AKSI

1.

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
30,0
APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Pusat Perubahan
Iklim dan Kualitas
Udara
BMKG

Informasi kadar
konsentrasi CO2
berguna untuk
klarifikasi tingkat
keberhasilan
udara bersih
Indonesia

15,0

APBN

Pusat Perubahan
Iklim dan Kualitas
Udara, BMKG

Informasi kualitas
udara wilayah
propinsi berguna
untuk klarifikasi
tingkat
keberhasilan
policy pencegahan
kebakaran hutan.

487,0

APBN

Pusat Iklim
Agroklimat dan
Iklim Maritim,
BMKG

Dengan hubungan
kuat antara
tingkat
kekeringan
regional memicu
perlunya diadakan
peringatan dini
iklim pencegahan
kebakaran hutan

|RAN

KETERANGAN

149

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
(Miliar)

SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN
dan pengeringan
lahan gambut

4.

Pengembangan Fire
Danger Rating
System (FDRS)

Pengukuran
tingkat
kebakaran dari
informasi cuaca
untuk peringatan
dini harian
kebakaran hutan

1 paket

2010 - 2014

709,5

APBN

Pusat Meterologi
Publik, BMKG

|RAN

Upaya
pencegahan
kebakaran hutan
harian dengan
informasi
peringatan dini
FDRS

150

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

KEGIATAN PENDUKUNG LINGKUNGAN HIDUP


RENCANA
AKSI

INDIKATOR
SASARAN

Menuju
Indonesia Hijau

Potensi reduksi
emisi: 2,66 juta ton
CO2 eq.

NO
1.

VOLUME
KEGIATAN
500.000 Ha
selama 10
tahun

PERIODE
2010-2020

LOKASI
Seluruh
Provinsi

BIAYA
RP. (Miliar)
SUMBER
2010-2014 :
1,2

APBN

2015-2020 :
0,8

2.

Pengelolaan
Tata
Lingkungan

Hasil pemetaan
kawasankawasan
ekosistem
penting dari
aspek lingkungan
sehingga dalam
penetapan tata
ruang wilayah
dapat
diidentifikasi
untuk tidak
dibudidayakan.
Agar di dalam
penetapan
RTRW akan
diperhatikan
daya dukung dan
daya tampung

Satu paket
kebijakan tata
lingkungan
Pemetaan
ekosistem
untuk
perencanaan
lingkungan

2010-2020

Seluruh
Provinsi

50,0

APBN

PENANGGUNG
KETERANGAN
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
nventarisasi
KLH dan
enutupan Lahan,
kabupaten
seluruh Indonesia emantauan
apangan,
engembangan
nsentif untuk
enanaman.
KLH

|RAN

Pemetaan
Ekosistem
Penting untuk
Perencanaan
Lingkungan
Penerapan
KLHS dalam
Perencanaan
Pembangunan
Wilayah
Pengawasan
Pemanfaatan
Ruang untuk
mempertahanka
n Daya Dukung
Lingkungan
Pemetaan
Valuasi Sumber
Daya Alam dan

151

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

RENCANA
AKSI

NO

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP. (Miliar)
SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

LH, kawasan
mana yang harus
dipertahankan,
tidak
dialihfungsikan,
dan diketahui
nilai moneter
dari suatu
kawasan
ekosistem.

3.

Sistem
Inventarisasi
GRK Nasional
(SIGN)
termasuk MRV
(Measurable

Lingkungan
untuk
Pertimbangan
Alih Fungsi
Lahan
Evaluasi
Rencana Alih
Fungsi Kawasan
untuk
mempertahanka
n Fungsi
Ekosistem
Penerapan
Kajian Daya
Dukung
Lingkungan
Wilayah
Perencanaan
Penataan Ruang
Berbasis
Ekosistem
untuk Daya
Dukung
Wilayah
1 paket

2010-2020

Jakarta dan
Seluruh
Provinsi di
Indonesia

2010-2014 :
120,0

APBN

KLH

2015-2020 :
80,0

|RAN

KETERANGAN

Sebagai
tindaklanjut UU
32/2009
penghitungan
emisi GRK di
tingkat

152

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

RENCANA
AKSI

NO

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP. (Miliar)
SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

Reportable
Veriable)

nasional,
propinsi, kota
/kabupaten
merupakan
kewenangan
KLH
Untuk
mengetahui
status emisi
tingkat nasional
perlu
dilaksanakan
inventori GRK
secara berkala.
Perlu unit
kelembagaan di
setiap sektor
dan daerah
untuk
menyediakan
data aktifitas
(mis: konsumsi
BBM, luas
reboisasi,
jumlah
timbulan
sampah
domestik, dll)
sebagai input
untuk SIGN.
KLH akan
|RAN

KETERANGAN

153

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

RENCANA
AKSI

NO

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP. (Miliar)
SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN
melakukan
pengolahan dan
analisis data
dari setiap
sektor dan
daerah sehingga
diperoleh status
emisi GRK
tingkat
Nasional dan
daerah (profil
emisi
kota/kabupaten
) menjadi
tindaklanjut
dari Second
National
Communication
Dalam konteks
MRV untuk
mitigasi melalui
SIGN dapat
dikembangkan
dan digunakan
untuk : Melihat
pencapaian
pelaksanaan
(measurable)
reduksi emisi
dengan
diketahuinya

|RAN

154

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

RENCANA
AKSI

NO

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP. (Miliar)
SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN
status emisi
(reportable)
sedangkan
verifiable akan
di lakukan
pengecekan
kembali
tracking back
ke sektor/
sumber emisi
dengan
memperhatikan
: sektor/lokasi,
sumber
anggaran,
teknologi dan
sumber energi

4.

Pengelolaan
ekosistem
gambut
berkelanjutan
a. Pemetaan
kesatuan
hidrologi
gambut
b. Inventarisasi
karakteristik
gambut

2010-2014

15 Juta Ha

2010-2014

Sumut,
Riau,
Jambi,
Sumsel,
Kalbar,

APBN

KLH (PJ)

0,012

APBN

KLH (PJ)

0,345

APBN

KLH (PJ)

|RAN

155

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

RENCANA
AKSI

NO

c. Pemanfaatan
lahan
gambut
secara
berkelanjuta
n melalui
aquaculture

INDIKATOR
SASARAN

Estimasi reduksi
emisi GRK : 604
ton CO2

VOLUME
KEGIATAN

4.000 Ha

PERIODE

2010-2020

LOKASI
Kalteng,
Kalsel
Jambi,
Riau,
Kalteng,
Kalbar

BIAYA
RP. (Miliar)
SUMBER

0,40

APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
KLH

|RAN

KETERANGAN

Dilakukan
kerjasama antar
sektor dan pemda

156

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

KEGIATAN PENDUKUNG KELAUTAN DAN PERIKANAN

NO

RENCANA
AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
SUMBER
(Miliar)
50,0
APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
BRKP-KKP

1.

Riset Karbon
Laut di Indonesia

5 paket
kegiatan

2010-2014

Pesisir Indonesia ,
Kawasan CTI)

2.

Study Marine
Hazard response
to Climate
Change in SEA
Region

2 paket
kegiatan

2010-2012

Laut Cina Selatan


dan Karimata

15,0

APBN

Balitbang KP KKP

3.

Implementasi
Indonesia Global
Ocen Observing
System
(NAGOOS)

2 paket
kegiatan

2010-2014

Jakarta, Bali dan


Perairan Indonesia

45,0

APBN

Balitbang KP-KKP

4.

Implementasi
Indo-China
Ocean and
Climate Reserach
Centre

2 paket
kegiatan

2010-2014

Jakarta, Sumbar,Bali

25,0

APBN

Balitbang KP-KKP

|RAN

KETERANGAN

157

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA
AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

Penyusunan
Masterplan
(Rencana Zonasi
Rinci) Kawasan
Minapolitan dan
Rencana Zonasi
Nasional/Lintas
Wilayah
Provinsi/kabupat
en/Kota
(prov/kab/kota)

100
Masterplan
(Rencana
Zonasi Rinci)
Kawasan
Minapolitan
dan 300
Rencana
Zonasi
Nasional/Lint
as Wilayah
Provinsi/kabu
paten/Kota
(prov/kab/kot
a)

2010-2020

50 Kawasan
Minapolitan, 145
wilayah Lintas
Wilayah
Provinsi/kabupaten/
Kota
(prov/kab/kota)

6.

Rehabilitasi
ekosistem pesisir
(mangrove,
vegatasi pantai,
lamun, terumbu
karang) di
wilayah pesisir

300.000 ha

2010-2020

Kawasan sentra
produksi kelautan
dan perikanan

7.

Pengintegrasian
adapatasi dan
mitigasi
perubahan iklim
ke dalam
perencanaan,

2010-2014

11 Wilayah
Pengelolaan
perikanan

BIAYA
RP.
(Miliar)
150,0

30,0

SUMBER
APBN

APBN dan
APBD

APBN

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA
KP3K-KKP

KP3K-KKP

DitjenPerikanan
Tangkap,
Kementrian
Kelautan dan
Perikanan

|RAN

KETERANGAN

158

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA
AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
(Miliar)

SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

regulasi,
kapasitas
kelembagaan dan
pengelolaan
perikanan
tangkap
8.

2010-2020

Pengembangan
budidaya rumput
laut

1. Pangkep, Sulsel;

APBN

DitjenKelautan
Pesisir dan PulauPulau kecil,
Kementrian
Kelautan dan
Perikanan

2. Gorontalo;
3. T. Tomini Sulteng;
4. Mamuju, Sulbar

9.

Pengelolaan
kawasan
konservasi
perairan

9.000.000 ha

2010-2020

Riau, Padang,
Pontianak, Kupang,
Makasar, Bali,
Sorong, Jakarta

150,0

APBN

DitjenKelautan
Pesisir dan PulauPulau kecil,
Kementrian
Kelautan dan
Perikanan

10.

Rehabilitasi di
Kawasan
Konservasi
Perairan

9.000.000 ha

2010-2020

Sumatra Barat,
Mentawai, Sumatra
Utara, Nias Barat/
Utara, Tapanuli
Tengah, Nias
Selatan, Kepulauan
Riau, Bintan, Batam,

170,0

APBN

DitjenKelautan
Pesisir dan PulauPulau kecil,
Kementrian
Kelautan dan
Perikanan

|RAN

159

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

NO

RENCANA
AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

BIAYA
RP.
(Miliar)

SUMBER

PENANGGUNG
JAWAB (PJ)/
PELAKSANA

KETERANGAN

Lingga, Natuna,
Sulawesi Selatan,
Pangkajene
Kepulauan, Selayar,
Sulawesi Tenggara,
Buton, Wakatobi,
NTT, Sikka, Papua
Barat, Raja Ampat,
Papua, Biak

|RAN

160

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

KEGIATAN PENDUKUNG LINTAS BIDANG

NO

RENCANA AKSI

INDIKATOR
SASARAN

VOLUME
KEGIATAN

PERIODE

LOKASI

Penyusunan National
Appropriate
Mitigation Actions

Tersusunnya
konsep NAMAs
yang komprehensif

1 Konsep

2010-2014

Jakarta

Penyusunan Strategi
Pembangunan Rendah
Karbon (Green
Economic)
Penyusunan National
Strategy for REDD+

Tersusunnya
kebijakan Mitigasi
dan Adaptasi
Perubahan Iklim
Tersusunnya
Strategi Nasional
REDD+
Terbentuknya
Badan Koordinasi
Nasional REDD+
Terbentuknya
Lembaga
independen MRV
REDD+
a. Terbentuknya
skema
pembiayaan
b. Terbentuknya
lembaga
pembiayaan

1 Paket
Kebijakan

2010-2014

1 Kebijakan

2010

1 Badan

3
4
5

Pembentukan Badan
Koordinasi Nasional
REDD+
Pembentukan lembaga
independen MRV
untuk REDD+
Pembentukan
instrumen pembiayaan
REDD+

BIAYA
RP.
(Miliar)

SUMBER
APBN +

800.000
Jakarta

GTz
(Hibah)

PENANGGUN
GJAWAB (PJ)/
PELAKSANA
Bappenas dan
K/L terkait

APBN +
JICA
(Hibah)

Bappenas

Jakarta

APBN
+Hibah

Bappenas

2010

Jakarta

Hibah

Menko Ekon/
UKP4

1 Lembaga

2010

Jakarta

Hibah

UKP4, KLH

1 Lembaga

2010

Jakarta

APBN

Bappenas,
Kemenkeu, UKP4

4.000.000 $

|RAN

KETERANGAN

161

LAMPIRANMATRIKSKEGIATANPENDUKUNG
KEGIATANPENDUKUNG

RANCANGANPERPRESRENCANAAKSINASIONALPENURUNANEMISIGASRUMAHKACA(RANGRK)

|RAN

162