Anda di halaman 1dari 10

Zero Waste

Zero waste pada dasarnya suatu prinsip atau filosofi untuk


merancang siklus suatu sumber daya sehingga memungkinkan
seluruh seluruh dapat digunakan dengan meminimalisasi
produktifitas limbah. Menurut sumber lain bahwa zero waste
mencakup proses untuk memaksimalkan recycling,
meminimalisasi limbah, mengefektifkan konsumsi dan
memastikan suatu produk dapat digunakan kembali, atau
minimal didaur ulang sehingga dapat direduksi oleh alam. Hal
ini merupakan tujuan yang sangat visioner dengan
mengedepankan efesiensi, ekonomis dan sikap etis terhadap
alam. Prinsip ini juga pada dasarnya dapat membimbing orang
dalam mengubah gaya hidup mereka dan praktek untuk meniru
siklus alam yang berkelanjutan, dimana semua bahan yang
telah dibuang, dirancang untuk menjadi sumber daya bagi
orang lain untuk digunakan.

Tapi konsep zero waste ataupun zero emission


dalam arti harfiahnya mustahil terealisasi.
Karena secara umum semua proses akan
menghasilkan zat sisa. Sehingga yang paling
diharapkan dari prinsip ini adalah limbah atau
emisi yang dihasilkan dapat direduksi oleh
secara mudah dan cepat.

Zero waste mencakup seluruh kegiatan


manusia. Sehingga semua bidang kehidupan
dan segala aktifitas manusia dapat
menerapkan prinsip ini. Misalkan untuk
bidang sumberdaya alam, emisi produksi,
aktifitas manusia seperti yang berkaitan
dengan administrasi dan produksi,
transportasi, terutama yang berkaitan dengan
limbah B3. Manfaat yang diharapakan dari
konsepsi zero waste ini adalah mampu
mendukung keberlanjutan ekonomi, daya
dukung lingkungan, dan daya dukung sosial.

Dari penjelasan singkat diatas, sudah bahwa konsep


zero waste sangat berbeda dengan recycling. Zero
waste lebih luas dari pada hanya sekedar recycling,
namun proses recycling tetaplah salah satu metode
utama dalam penerapan prinsip zero waste ini . Pada
konsep Zero Waste limbah sudah diminimalisasi,
ditekan sedemikian mungkin pada seluruh tahapan
produksi, sejak awal proses produksi hingga akhirnya
produk tersebut selesai digunakan sehingga limbah
yang dihasilkan benar-benar mendekati nilai nol.
Produk yang dihasilkan pun dipastikan dapat digunakan
kembali, diperbaiki atau didaur ulang kembali dengan
limbah yang sangat minim atau mendekati nol. Zero
waste mencakup seluruh system pada suatu proses
produksi ataupun aktifitas.

Dalam menerapkan konsep dan strategi zero


waste ini, diperlukan banyak komponen yang
masing-masing berkaitan. Sehingga zero waste ini
akan membentuk system analisis yang
komprehensif. Adapun instrument dalam
menganalisis system zero waste ini yaitu Life Cycle
Analisis (LCA), Full Cost Accounting (FCA), Green
chemistry material, Design for the Environment
(DfE), Extended Product Responsibility (EPR),
Environmental Management System (EMS),
Pollution Prevention (P2), Proses pemetaan dan
keseimbangan massa, fasilitas pemulihan
sumberdaya, Waste-Exchange, Eco-Industrial
Parks.

Konsep Zero Waste Pada Agroindustri


(Industri Pabrik Gula)
Produk limbah yang dihasilkan dari pabrik gula
berupa limbah padat (blotong, ampas tebu
dan abu ampas tebu), limbah cair dan limbah
gas. Termasuk produk samping yang
memberikan potensi ekonomi.
Pemanfaatan Blotong
1.
Bahan pembuatan bata beton
2.
Briket biomassa
3.
Bahan baku kompos

Pemanfaatan Ampas Tebu


1.
Penghasil listrik
2.
Sumber pakan ternak berserat
Pemanfaatan Abu Ampas Tebu
1.
Memperkuat produk keramik
2.
Bata abu tebu
3.
Meningkatkan sifat mekanik dan fisis pada mortar
Mortar sering disebut sebagai plesteran yaitu
campuran semen, pasir dan air yang memiliki
persentase yang berbeda. Mortar berfungsi untuk
melapisi pasangan batu bata, batu kali maupun batako
agar permukannya tidak mudah rusak dan kelihatan
rapi dan bersih (Daryanto dalam Mulyati dkk, tt).

Limbah Cair
Pemberian limbah cair pabrik gula mampu
meningkatkan bulk density dan stabilitas agregat yang
termasuk dalam sifat fisik tanah. Hal ini diperkirakan
karena ada asupan mineral (Ca, Mg dan sebagainya)
dari limbah ke dalam pori-pori koloid tanah melalui
proses pengikatan secara kimia sehingga terjadi
perubahan sifat fisika pada tanah (Russel dalam Anwar
dan Suganda, 2009). Sedangkan sifat kimia tanah yang
meningkat dengan pemberian limbah adalah mineral P.
Pemberian limbah meningkatkan P-total maupun Ptersedia yang berasal dari P yang terlarut dalam limbah
sebagai sumber asupan P ke dalam tanah. Selain itu
limbah mampu meningkatkan kapasitas tukar kation
(KTK) pada tanah.

Limbah Gas
Belerang dioksida (SO2) merupakan limbah gas
yang keluar dari cerobong reaktor sulfitir pada
proses pemurnian nira tebu yang kurang
sempurna sehingga menyebabkan polusi udara
dan pemakaian belerang menjadi lebih tinggi dari
normal. Pemakaian bahan tambahan proses
(kapur dan belerang) yang berlebihan dapat
dikontrol dengan kontrol kondisi proses
pemurnian nira yang efektif melalui optimasi pH,
suhu dan waktu sehingga gas SO2 yang dihasilkan
dapat ditekan (Syahputra dkk, 2011).

Produk Samping
Ampas tebu disebut produk samping karena sebanyak 10,2
juta ton ampas tebu pertahun atau sekitar 97,4 % produksi
ampas digunakan bahan bakar ketel yang mampu
menghasilkan energi. Sedangkan sisanya (sekitar 0,3 juta
ton pertahun) disebut sebagai limbah padat.
Tetes (molasses) termasuk produk samping pabrik gula.
Tetes adalah sisa sirup terakhir dari stasiun masakan yang
telah dipisahkan gulanya melalui kristalisasi berulangkali
sehingga tidak mungkin lagi menghasilkan gula dengan
kristalisasi konvensional. Diproduksi sekitar 4,5% dari tebu.
Tetes dapat digunakan sebagai pupuk, pakan ternak. Juga
sebagai bahan baku fermentasi yang dapat menghasilkan
etanol, asam asetat, asam sitrat, monosodium glutamat
(MSG), asam laktat, dll.