Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI ANALITIK 1

IDENTIFIKASI ASAM, BARBITAL DAN SULFONAMIDA


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah kimia farmasi analitik 1

Oleh :
HUTRI AGUSTIN
31112139
Farmasi 3C

PRODI S1 FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2014

1. TINJAUAN PUSTAKA
1.1 GOLONGAN ASAM
Asam Karboksilat merupakan senyawa organik yang dicirikan oleh gugus
karboksil. Asam Karbosilat tergolong asam karena dalam larutan, menghasilkan
karbosilat dan proton.
RCOOH RCOO- + H+
Asam Karboksilat melimpah dan tersebar luas di alam. Anggota deret asam
karboksilat alifatik BM rendah tidak berwarna, mudah menguap, baunya tajam,
dan tidak sedap. Contoh asam karboksilat ialah asam formiat, asam asetat, asam
propionat, asam butirat, asam fumarat, dan lain lain.
Asam (yang sering diwakili dengan rumus umum HA) secara umum
merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan
larutan dengan pH lebih kecil dari 7. Dalam definisi modern, asam adalah suatu
zat yang dapat memberi protein (ion H+) kepada zat lain (yang disebut basa), atau
dapat menerima pasangan elektron bebas dari suatu basa. Suatu asam bereaksi
dengan suatu basa dalam reaksi penetralan untuk membentuk garam. Contoh asam
adalah asam asetat (ditemukan dalam cuka) dan asam sulfat (digunakan dalam
baterai). Asam umumnya berasa masam, walaupun demikian, mencicipi rasa
asam, terutama asam pekat, dapat berbahaya dan tidak dianjurkan.(Anonim.2011)
Terdapat tiga definisi asam yang umum diterima dalam kimia, yaitu definisi
Arrhenius, Bronsted-Lowry dan Lewis:
1. Arrhenius : menurut definisi ini, asam adalah suatu zat yang meningkatkan
konsentrasi ion hidronium (H3O+) ketika dilarutkan dalam air. Definisi yang
pertama kali dekemukakan oleh Svante Arrhenius ini membatasi asam dan basa
untuk zat-zat yang dapat larut dalam air.
2. Bronsted-Lowry : asam adalah pemberi proton kepada basa. Asam dan basa
bersangkutan desebut sebagai pasangan asam-basa konjugat. Bronsted dan Lowry
secara terpisah mengemukakan definisi ini, yang mencakup zat-zat yang tak larut
dalam air.
3.Lewis : asam adalah penerima pasangan electron dari basa. Definisi ini dapat
mencakup asam yang tidak mengandung hydrogen atau proton yang dapat
dipindahkan, seperti besi (III) klorida. Definisi Lewis dapat pula dijelaskan
dengan teori orbital molekul. Secara umum, suatu asam dapat menerima pasangan
electron pada orbital kosongnya yang paling rendah dari orbital terisi yang
tertinggi dari suatu basa.
Adapun sifat umum yang dimiliki senyawa kimia glongan ini adalah :
1.Dapat membentuk garam dengan NaOH dan NaHCO3 sedang fenol hanya
membentuk garam dengan NaOH.
2.Berdasarkan rantai ikatan, maka golongan ini terdapat dalam bentuk alifatis
dan aromatis.

3.Bentuk alifatis umumnya mudah larut dalam air, sedangkan bentuk aromatis
larut dalam petroleum eter.
4. Asam alifatis dan aromatis ada yang ikut dengan uap jika di destilasi uap,
tetapi ada juga tidak larut.(Tim Dosen UIT,2011)
1.2 GOLONGAN BARBITAL
Asam Barbiturat adalah zat induk barbital-barbital yang sendirinya tidak
bersifat hipnotik. Sifat ini baru nampak jika atom-atom hidrogen pada atom C 5
dari inti pirimidinnya digantikan oleh gugusan alkil atau aril. Barbital-barbital
semuanya bersifat lipofil, sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam pelarutpelarut non polar seperti minyak, kloroform dan sebagainya. Sifat lipofil ini
dimiliki oleh kebanyakan obat yang mampu menekan SSP. Dengan meningkatnya
sifat lipofil ini, misaInya dengan mengganti atom oksigen pada atom C 2 menjadi
atom belerang, maka efeknya dan lama kerjanya dipercepat, dan seringkali daya
hipnotiknya diperkuat pula. Barbiturat mempunyai inti hasil kondesasi etilester
dan asam dietilmalonal dengan ureum. Rumus umum: R1, R2, R3, dan R4, adalah
subtitusi-subtitusi yang menentukan struktur Barbiturat. Secara kimia, barbiturat
merupakan derivat asam barbiturat. Asam barbiturat merupakan hasil reaksi
kondensasi antara urea dengan asam malonat
1.3 GOLONGAN SULFONAMIDA
Sulfonamida dan senyawa kuinolin merupakan kelompok obat penting pada
penanganan infeksi saluran kemih ( ISK ). Demi pengertian yang baik pertamatama akan dibicarakan secara singkat beberapa aspek dari ISK, termaksud
penangananya. Kemudian pada bagian berikutnya akan dibahas secara mendalam
kedua kelompok tadi. Antibiotika ISK lainya penisilin atau sefalosforin dan amini
glikosida. (Tjay, 2007).
Sulfonamida
adalah
kemoterapeutik
yang
pertama
digunakan
secara sistematik untuk pengobatan dan pencegahan penyakit infeksi pada
manusia. Penggunaan sulfonamide kemudian terdesak oleh antibiotik.
Pertengahan tahun 1970 penemuan kegunaan sediaan kombinasi trimetoprim dan
sulfametoksazol meningktakan kembali penggunaan sulfonamide untuk
pengobatan penyakit infeksi tertentu.
Sulfonamida merupakan kelompok zat antibakteri dengan rumus dasar yang
sama yaitu H2N-C6H4-SO2NHR dan R adalah pelbagai macam substituen. Pada
prinsipnya senyawa ini dapat digunakan terhadap berbagai infeksi.
Sulfonamida bersifat amfoter artinya dapat membentuk garam dengan asam
maupun dengan basa. Daya larutnya dalam air sangat kecil, garam alkalinya lebih
baik, walaupun larutan ini tidak stabil karena mudah terurai. (Tjay, 2007).
Sulfadiazin adalah sulfonamida antibiotik . Ini menghilangkan bakteri yang
menyebabkan infeksi dengan menghentikan produksi asam folat di dalam sel
bakteri, dan umumnya digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih (ISK).
Dalam kombinasi, sulfadiazin dan pirimetamin , dapat digunakan untuk

mengobati toksoplasmosis , penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii.


(Anonim, 2012).
Sulfanilamide adalah sulfonamida antibakteri . Secara kimia, itu adalah
molekul yang mengandung sulfonamide kelompok fungsional melekat pada anilin
. Sebagai antibiotik sulfonamide, itu berfungsi dengan kompetitif menghambat
(yaitu, dengan bertindak sebagai substrat analog) enzimatik reaksi yang
melibatkan para-aminobenzoic acid (PABA). PABA dibutuhkan dalam reaksi
enzimatik yang menghasilkan asam folat yang bertindak sebagai koenzim dalam
sintesis purin, pirimidin dan asam amino lainnya.

2. ALAT DAN BAHAN


2.1 ALAT
a. Tabung reaksi
b. Rak tabung reaksi
c. Pipet
d. Penjepit
e. Spirtus
f. Kaki tiga
g. Kasa
2.2 BAHAN
a. Asam Benzoate
b. Asam Borat
c. Asam Mefenamat
d. Asam Salililat
e. Asam Folat
f. Asam Pikrat
g. Asam Sulfanilat
h. Asam Asetat
i. Asetosal
j. Asam Oksalat
k. Sulfanilamide
l. Sulfaguanidin
m. Sulfacetamid-Na
n. Sulfadiazine
o. Sulfamerazin
p. Sulfamezatin
q. Luminal

3. PROSEDUR
3.1 GOLONGAN ASAM
A. UJI ORGANOLEPTIK
B. UJI KELARUTAN
C. UJI PENGOLONGAN
a. Esterifikasi
1. Zat + 1 ml etanol/methanol + 2 ml H2SO4 pekat, panaskan tercium
bau (etil asetat, etil benzot, metil salisilat)
2. Zat + 1 ml larutan KMnO4 + 2 ml H2SO4 pekat, panaskan bau
asetaldehid
D. UJI PENEGASAN
1. Asam Benzoat
a. Esterifikasi : zat + etanol + H2SO4 pekat, panaskan bau frambosan
b. Zat + CaCO3 + FeCl3 kuning
c. Zat + NaOH + HCl encer Kristal
2. Asam Sitrat
a. Zat + pereaksi Deniges, panaskan + KMnO4 endapan putih
b. Zat + H2SO4 pekat, panaskan, encerkan + NaOH + NH4OH + NH4Cl +
Na Nitripusid merah ungu
c. Zat + reaksi Cufripil : (+) hijau
d. Zat + H2SO4 + resorsin biru hijau
3. Asam Oksalat
a. Zat + pereaksi Carleti ungu
b. Zat + pereaksi Deniges, panaskan endapan putih
c. Zat + resorsin + H2SO4 pekat + gliserin ungu merah
d. Zat + CaCl2 + CH3COOH warna hilang
4. Asam Borat
a. Zat + methanol + H2SO4 pekat bakar, nyala hijau
5. Asam Mefenamat
a. Zat + FeCl dalam etanol ungu
b. Zat + HCl pekat biru kuat
c. Zat + HNO3 pekat kuning hijau
d. Zat + Vanillin merah tua
6. Asam Salisilat
a. Zat + FeCl3 ungu + alkohol ungu tetap
b. Zat + marquis merah rosa
c. Zat + CuSO4 + NaOH hijau tosca
d. Zat + milon ungu
e. Zat + king kuning jingga
f. Zat + fronde ungu
7. Asam Folat
a. Zat + NaOH kuning
b. Zat + Na2CO3 kuning
c. Zat + H2SO4 pekat warna kuning hilang

d. Zat + cuprifil biru kehijauan


e. Zat + marquis sedikit ungu
f. Zat +KMnO4 + NaOH hijau
8. Asam Asetat
a. Zat + FeCl3 merah coklat
b. Zat + KHSO4 bau cuka
c. Zat + vanillin + KOH padat cincin merah tua
9. Asetosal
a. Zat + FeCl3 (-) akan ungu
b. Zat + marquis merah darah
c. Zat + forhde lama-lama warana ungu
d. Zat dalam alkohol + zwiker endapan halus
10. Asam Sulfanilat
a. Zat + roux coklat ungu
b. Zat + KBrO3 ungu coklat
3.2 GOLONGAN BARBITAL
A. UJI ORGANOLEPTIK
B. UJI PENEGASAN
a. Zat + pereaksi parry ungu
b. Dengan a-naftol + H2SO4 pekat amati warna
c. Zat + zwikker hijau tua
3.3 GOLONGAN SULFANOMIDA
A. UJI ORGANOLEPTIK
B. UJI KELARUTAN
C. UJI PENEGASAN
1. Sulfaniamid
a. Zat + DAB-HCl kuning orange
b. Zat + KBrO3 ungu merah coklat
c. Zat + vanillin + H2SO4 pekat kuning hijau
d. Zat + Raux hijau coklat
e. Zat + CuSO4 biru
f. Zat + H2SO4 pekat biru tinta
2. Sulfadiazine
a. Zat + reaksi diazo endapan kuning coklat
b. Zat + NaOH + CuSO4 dipanaskan hijau zaitun
c. Zat + P-DAB HCl kuning jingga
3. Sulfamerazin
a. Zat + DAB-HCl merah hijau
b. Zat + roux kuning hijau
c. Zat + vanillin + H2SO4 pekat merah

4. HASIL PENGAMATAN
Nomor sampel : 76 dan 34
HASIL
PENGAMATAN

NO

PROSEDUR

1.

Uji Organoleptik
a. Bentuk
b. Bau
c. Warna
Uji Kelarutan
Uji dengan kertas lakmus

2.
3.
4.

Uji penegasan
a. Zat + FeCl3
b. Zat + CaCO3 + FeCl3

DUGAAN

Cairan
Menyengat
Bening
Larut dalam air
Lakmus biru jadi
merah

Asam
asetat,
asam pikrat, asam
sitrat
Asam asetat
Golongan asam

Berwarna coklat
Berwarna kuning

Asam asetat
Asam asetat

(Table pengamatan no sampel 34)

HASIL
PENGAMATAN

NO

PROSEDUR

1.

2.

Uji Organoleptik
a. Bentuk
b. Warna
Uji Kelarutan

3.

Uji dengan kertas lakmus

4.

Uji penegasan
a. Zat + cuprifil
b. Zat + AgNO3
c. Zat + CaCO3 + FeCl3

DUGAAN

Serbuk putih
Asam benzoate
Putih
Tidak larut dalam
air
Larut dalam air
Golongan asam
Lakmus biru jadi
merah
Berwarna biru
Berwarna bening
Berwarna kuning

(Table pengamatan no sampel 34)

Asam Benzoat

5. PEMBAHASAN
Pada pratikum ini bertujuan untuk mengidentifikasi golongan asam,
membedakan sifat asam serta reaksi-reaksi yang terjadi di dalamnya. Identifikasi zat
dilakukan meliputi reaksi warna, uji esterifikasi, dan uji nyala.
Uji esterifikasi dilakukan untuk mengidentifikasi analit. Langkah pertama
dilakukan adalah memasukkan analit secukupnya ke dalam tabung reaksi tambahkan
asam sulfat pekat sebagai katalisator kemudian panaskan dan amati baunya. Nyala
hijau pada reaksi nyala ini menandakan terbentuknya reaksi yang menyebabkan
nyala warna hijau tadi.
Pada praktikum kali ini mengidentifikasi senyawa yang tergolong dalam
golongan asam, golongan barbital, dan golongan sulfanomida. Yang termasuk
kedalam golongan asam diantaranya asam benzoate,asam sitrat, asam borat, asam
mefenamat, asam salisilat, asam oksalat, asam folat, asam asetat, asetosal, dan asam
sulfanilat. Dan yang termasuk golongan barbital yaitu luminal, sedangkan yang
termasuk kedalam golongan sulfanomida diantranya sulfanilamide, sulfadiazine, dan
sulfamerazin. Dalam praktikum terdapat dua sampel yang akan diidentifikasi, dan
sampel tersebut tergolong dalam golongan asam atau barbital atau sulfaniamida
Pada pengujian pertama yaitu uji organoleptik,sampel nomer 34 dan 76.
Sampel nomer 34 di uji dengan uji organoleptik memiliki bentuk cairan, berwarna
bening dan bau menyengat. Sedangkan sampel nomer 76 diuji organoleptik,
berbentuk serbuk, berwarna outih dan tidak berbau. Setelah di uji organoleptik
sampel di uji kelarutannya. Sampel nomer 34 larut dalam air kemungkinan besar
sampel tersebut tergolong dalam golongan asam atau barbital, sedangkan sampel
nomer 76 tidak larut dalam air dan kemungkinan besar sampel tersebut tergolong
dalam golongan sulfanomida. Untuk lebih meyakinkan dugaan dari hasil uji
sebelumnya, maka dilakukan uji keasam basaan dengan menggunakan kertas lakmus,
ketika di uji dengan kertas lakmus kedua sampel tersebut menunjukan bahawa
sampel tersebut bersifat asam, karena setelah diteteskan pada kertas lakmus biru,
kertas lakmus berubah menjadi merah hal ini menandakan bahawa sampel tersebut
bersifat asam. Dan didapat dugaan bahawa sampel nomer 34 masuk kedalam
golongan asam lebih tepat sampel nomer 34 merupakan asam asetat. Sedangkan
nomer 76 merupakan golongan asam yaitu asam Benzoat.
Untuk lebih memastikan dugaan yang didapat maka dilakukan uji penegasan
atau uji identifikasi. Sampel nomer 34 setelah ditambahkan dengan FeCl3
menghasilkan warna coklat dan hasil ini sama dengan yang tertera
diliterature,bahawa asam asetat dila ditambah dengan FeCl3 akan menghasilkan
warna coklat.
Sendangkan pada uji penegasan nomer 76 setelah diuji dengan uji
sebelumnya didapat dugaan bahawasampel tersebut merupakan golongan asam,
namun sebenarnya sampel nomer 76 termasuk kedalam golongan sulfanomida, disini
terjadi kekeliruan saat menyumpulkan dugaan pada saat uji kelarutan, sampel nomer
76 tidak larut dalam air, itu berarti sampel tersebut merupakan golongan
sulfanomida, namun pada saat uji keasaman sampel nomer 76 merubah kertas

lakmus biru menjadi merah, hal ini yang menyebabkan pengambilan kesimpulan
bahawa sampel tersebut merupakan golongan asam, akan tetapi sebenarnya golongan
sulfanomida juga ada yang berifat asam, danuji keasam atau basaan kurang efektif
menentukan hasil dugaan pada praktikum kali ini.
6. KESIMPULAN
a. Sampel nomer 34 adalah asam asetat
b. Sampel nomer 76 adalah sulfamerazin
7. DAFTAR PUSTAKA
1) Gandjar, G.I. Rahman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. PUSTAKA Pelajar :
Yogyakarta.
2) Herman, J.R. 1955. Analisis Farmasi. Gadjah Mada Universitas Press : Yogyakarta.
3) Anonim. 2011. Asam. (online) (http://id.wikipedia.org/wiki/asam) diakses 23
September 2014
4) Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia : Jakarta.
5) Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia : Jakarta.