Anda di halaman 1dari 10

4.

2 Pembahasan
Analisis vegetasi dengan menggunakan metode diagram profil ini dilakukan
di zona tanaman langka Arboretum Universitas Padjadjaran tanggal 28 Oktober
2014 tepatnya pada transek 1, jarak transek 40 meter (plot 4), 50 meter (plot 5),
dan 60 meter (plot 6). Kawasan Arboretum Universitas Padjadjaran merupakan
salah satu contoh hutan sekunder yang dimana proses pembentukannya
dipengaruhi oleh adanya campur tangan manusia. Arboretum Universitas
Padjadjaran ini merupakan kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan sistem
zonasi dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,
menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi alam. Arboretum Universitas
Padjadjaran juga merupakan hutan kampus Universitas Padjadjaran yang secara
dinamis mengalami perubahan. Kondisi lingkungan di masa depan dapat
diprediksi dari komposisi dan struktur tumbuhan pada saat ini. Spesies atau
komunitas tertentu yang interaksinya unik dalam ekosistem dapat digunakan
sebagai bioindikator untuk mengetahui kualitas lingkungan, mengidentifikasi
permasalahan kawasan, dan memberikan peringatan awal berbagai perubahan
yang kemungkinan terjadi pada masa depan. Hal ini sesuai dengan literatur yang
ditulis oleh Aumeeruddy (1994), bahwasannya pengetahuan tentang pola
pertumbuhan berbagai vegetasi hutan saat ini dapat menjadi dasar untuk
memprediksi kemungkinan perubahan lingkungan yang akan terjadi di masa
depan. Oleh karena itu, dianggap perlu untuk memahami komposisi dan struktur
vegetasi suatu hutan sehingga dapat dianalisis mengenai kondisi dari suatu
kawasan hutan. Salah satunya dengan menggunakan analisis vegetasi dengan
menggunakan metode diagram profil.
Diagram profil hutan dibuat dengan meletakkan plot, biasanya dengan
panjang 40-70 m dan lebar 10 m, tergantung densitas pohon. Ditentukan posisi
setiap pohon, digambar arsitekturnya berdasarkan skala tertentu, diukur tinggi,
diameter setinggi dada, tinggi cabang pertama, serta dilakukan pemetaan proyeksi
kanopi ke tanah. Profil hutan menunjukkan situasi nyata posisi pepohonan dalam
hutan, sehingga dapat langsung dilihat ada tidaknya strata hutan secara visual dan
kualitatif. Menurut Grubb et al (1963) dan Ashton dan Hall (1992), dalam kasus
tertentu, histogram kelas ketinggian atau biomassa dibuat sebagai pelengkap
diagram profil hutan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diagram profil

vertikal dan horizontal vegetasi hutan Arboretum Universitas Padjadjaran


sehingga dapat dianalisis dengan menggambarkan preferensi habitat, strata
kanopi, dan pengaruh antropogenik terhadap kelestarian ekosistem ini
Menurut Kershaw (1973) dalam Dumbois dan Ellenberg (1974), struktur
vegetasi terdiri dari 3 komponen, yaitu:
1. Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan diagram
profil yang melukiskan lapisan pohon, tiang, sapling, semai, dan herba
penyusun vegetasi.
2. Sebaran, horizontal jenis-jenis penyusun yang menggambarkan letak dari
suatu individu terhadap individu lain.
3. Kelimpahan (abudance) setiap jenis dalam suatu komunitas.
Menurut Kusmana (1997), model arsitektur pohon adalah bangunan suatu
pohon

sebagai

hasil

pertumbuhan

meristematik

yang

dikontrol

secara

morfogenetik. Bangunan pohon ini berhubungan dengan pola pertumbuhan


batang, percabangan dan pembentukan pucuk terminal. Model arsitektur suatu
pohon mempengaruhi besarnya aliran batang dan curahan tajuk, selanjutnya aliran
batang dan curahan tajuk menentukan besarnya aliran permukaan dan erosi tanah.
Pohon-pohon yang terdapat di dalam hutan hujan tropika berdasarkan arsitektur
dan dimensi pohonnya digolongkan menjadi tiga kategori pohon, yaitu:
1. Pohon masa depan (trees of the future), yaitu pohon yang masih muda dan
mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang di masa datang,
pohon tersebut pada saat ini merupakan pohon kodominan (lapisan B dan
C).
2. Pohon masa kini (trees of the present), yaitu pohon yang saat ini sudah
tumbuh dan berkembang secara penuh dan merupakan pohon yang paling
dominan (lapisan A).
3. Pohon masa lampau (trees of the past), yaitu pohon-pohon yang sudah tua
dan mulai mengalami kerusakan dan akan mati.
Penggambaran dalam diagram profil adalah struktur vegetasi secara vertikal
dan horizontal yang telah digunakan secara luas untuk mendeskripsikan suatu
hutan. Pada praktikum mengenai diagram profil ini, setiap tanaman yang
ditemukan dibedakan berdasarkan stratifikasinya. Menurut Indriyanto (2006),
stratifikasi adalah distribusi tumbuhan dalam ruang vertikal dimana tumbuhantumbuhan tersebut dibedakan karena tumbuhan - tumbuhan tersebut memiliki

ukuran yang berbeda-beda juga menempati ruang yang berbeda-beda di dalam


suatu komunitas, stratifikasi dari suatu tumbuhan sangat diperlukan untuk
mengetahui dimensi (bentuk) atau struktur vertikal dan horizontal suatu vegetasi
dari hutan yang dipelajari, dimana dengan melihat bentuk profilnya dapat
diketahui proses dari masing-masing pohon dan kemungkinan peranannnya dalam
suatu komunitas. Pembagian stratifikasi menurut Ewusie (1990) antara lain
sebagai berikut :
Tabel 4.1 Pembagian Stratifikasi Pohon Diagram Profil
Stratum
A
B
C
D

Tinggi Pohon
>30 meter
15 30 meter
5 15 meter
< 5 meter
Ditumbuhi oleh tumbuhan herba dan

terna atau tumbuh-tumbuhan penutup

bawah (cover ground)


Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh tumbuhan-tumbuhan yang berasal
dari berbagai macam jenis stratifikasi. Terdapat 4 jenis kategori stratum yang
didapatkan berdasarkan hasil pengamatan yaitu dimulai dari stratum B,C,D,dan E.
Untuk stratum B dan C merupakan tumbuhan jenis pohon, dimana pada stratum B
ditemukan jenis spesies Meisobsis emimii sebanyak satu individu, sedangkan
pada stratum C spesies tumbuhan yang paling banyak ditemukan ialah Bauhinea
purpurea yang ditemukan sebanyak 5 individu. Menurut Kusmana (1997),
tumbuhan yang termasuk kedalam jenis pohon ialah yang mempunyai akar,
batang, dan tajuk yang jelas dengan tinggi minimum 5 meter serta mempunyai
diameter batang lebih dari 35 cm atau keliling batang >110 cm. Pada stratum D
spesies yang paling banyak ditemukan ialah Bauhinea purpurea sebanyak 157
individu, tumbuhan pada stratum D ini digolongkan kedalam kategori pancang
(sapling) dan atau tiang (pole). Menurut Kusmana (1997), pancang (sapling)
merupakan tumbuhan dengan tinggi >1,5 m sampai dengan pohon-pohon muda
dengan diameter batang lebih dari 10 cm sedangkan tiang (pole) adalah pohon
muda, diameter batang 10-35 cm atau keliling batang antara 31,4-110 cm. Untuk
stratum E ditemukan jenis tumbuhan yang merupakan tumbuhan dengan kategori
penutup bawah (cover ground) juga semai (seedling). Menurut Kusmana (1997),

semai (seedling) merupakan tumbuhan permudaan vegetasi mulai dari kecambah


sampai mempunyai tinggi kurang dari 1,5 meter termasuk vegetasi lantai hutan.
Pada stratum E ini tumbuhan yang paling banyak ditemukan ialah spesies Bixa
orellana sebanyak 169 individu.
Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum ini, beberapa jenis tumbuhan
ditemukan pada berbagai macam tipe strata, antara lain Bauhinea purpurea
ditemukan pada strata C-D-E dan

paling banyak ditemukan pada strara D

sehingga dapat diperkirakan dalam jangka waktu kedepan pada lokasi transek
akan ditemui jenis Bauhinea purpurea pada strata C-B-A. Leucaena leucocephala
ditemukan pada strata D-E dan tumbuhan ini paling banyak ditemukan pada strata
E, dapat diperkirakan dalam jangka waktu kedepan akan ditemukan Leucaena
leucocephala pada strata D-C-B-A. Jenis Cinamomum sp. ditemukan pada strata
C-E dn jenis ini

paling banyak ditemukan pada strata E, sehingga dapat

diperkirakan dalam jangka waktu kedepan akan ditemui jenis Cinamomum sp.
pada strata D-C-B-A pada lokasi transek.
Bixa oreliana ditemukan pada strata D-E dan jenis ini paling banyak ditemui
pada strata E, dapat diperkirakan dalam jangka waktu kedepan pada lokasi transek
akan ditemui jenis ini pada strata D-C-B-A. Syzygium jambos ditemukan pada
strata D-E dan paling banyak ditemukan pada strata D, dapat diketahui dalam
jangka waktu kedepan pada lokasi transek akan ditemui jenis ini pada strata C-BA. Jenis Spathodea campanulata ditemukan pada strata D-E, jenis ini paling
banyak ditemukan pada strata E, dapat diketahui dalam jangka waktu kedepan
akan ditemukan Spathodea campanulata pada strata D-C-B-A, dan jenis
Sweetenia mahagoni ditemukan pada strata D-E dan paling banyak ditemukan
pada strata E, sehingga dapat diperkirakan dalam jangka waktu ke depan pada
lokasi transek akan ditemui jenis Sweetenia mahagoni pada strata D-C-B-A.
Pada stratum B, hanya didominasi oleh 1 jenis tumbuhan, sehiggga pada
distribusi spesies tidak dapat dikategorikan distribusi spesies merata atau
distribusi spesies terpusat. Pada stratum C, terdapat 5 jenis tumbuhan dengan
Bauhinea purpurea sebagai tumbuhan dengan jumlah terbanyak, yaitu sebanyak
5 individu yang menandakan bahwa distribusi spesies pada stratum C terpusat
pada spesies Bauhinea purpurea. Sedangkan, stratum D terdiri dari 7 jenis
tumbuhan dengan jumlah terbanyak sebanyak sebesar 157 individu dari jenis

Bauhinea purpurea, hal ini menandakan bahwa distribusi spesies pada stratum D
terpusat pada spesies Bauhinea purpurea. Stratum terakhir, yaitu stratum E terdiri
dari 19 jenis spesies dengan spesies yang paling mendominasi adalah Bixa
oreliana, yaitu sebanyak 169 individu, hal tersebut menndakan distribusi spesies
pada stratum E terpusat pada spesies Bixa oreliana karena jumlah spesies tersebut
paling mendominasi.
Adapun data fisik yang diperoleh dari lokasi transek ini adalah pada plot 4
diketahui memiliki temperatur udara sebesar 29,60C dengan kelembaban udara
41%. Plot 5 memiliki temperatur udara sebesar 30,20C dengan kelembaban udara
sebesar 48%. Plot 6 memiliki temperatur udara sebesar 30,10C dengan
kelembaban udara 50%.
Selain itu, setelah mengetahui jumlah persebaran atau distribusi tumbuhan
tersebut di atas maka akan diketahui pula indeks kesamaan dan keragamannya.
Indeks kesamaan atau indeks Sorensen merupakan suatu indeks yang digunakan
untuk mengetahui adanya perubahan di antara anggota komunitas tumbuhan
dengan membandingkan komunitas tumbuhan dari dua komunitas yang
diperkirakan berbeda. Indeks Sorensen dapat diartikan pula sebagai indeks
pembanding untuk menentukan derajat kesamaan sesies pada dua komunitas yang
berbeda. Berdasarkan hasil analisis data, nilai indeks Sorensen tertinggi pada
stratum D-E dengan nilai 46,5%. Sedangkan stratum B-C, B-D, B-E, C-D, dan CE memiliki nilai yang tidak cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pada
stratum D-E memiliki banyak spesies yang sama dibandingkan perbandingan
antara dua stratum yang lain. Selain itu, pada grafik jelas terlihat bahwa stratum
ini memiliki nilai indeks Sorensen terbesar. Nilai indeks Sorensen juga dapat
menentukan homogenitas suatu vegetasi. Berdasarkan hasil pengamatan dan
analisis data, lokasi pengamatan cukup heterogen karena tumbuhan yang sama
(pada stratum D-E yang nilai indeks Sorensennya terbesar) tidak begitu banyak,
yaitu hanya 5 jenis dari 25 tumbuhan yang ditemukan. Jenis yang sama ditemukan
pada stratum ini adalah spesies Bauhinea purpurea, Leucaena leucocephala,
Syzygium jambos, Bixsa orellana, dan Mangifera indica.
Indeks Shannon-Wiener merupakan indeks keanekaragaman spesies pada
suatu

vegetasi.

Indeks

keanekaragaman

Shannon-Wiener

(H)

dapat

menggambarkan keanekaragaman spesies, produktivitas ekosistem, tekanan pada

ekosistem,

dan

keanekaragaman,

kestabilan
maka

ekosistem.

semakin

Semakin

tinggi

pula

tinggi

nilai

keanekaragaman

indeks
spesies,

produktivitas ekosistem, tekanan pada ekosistem, dan kestabilan ekosistem.


Dengan kriteria (Odum, 1993) :
Tabel 4.2 Kriteria Indeks Shannon Wiener
Nilai Indeks Shannon Wiener

Kriteria Keanekaragaman

H < 1

Keanekaragaman rendah

1 < H < 3

Keanekaragaman sedang

H > 3

Keanekaragaman tinggi

Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan hasil bahwa tumbuhan yang


tergolong dalam stratum E memiliki nilai Indeks Shannon-Wiener terbesar
dibandingkan dengan stratum lain yang ditemukan. Besar nilai tersebut, yaitu
2,11. Sedangkan pada stratum C menempati urutan kedua terbesar dengan besar
nilai 1,36. Pada tumbuhan yang tergolong stratum stratum D menempati urutan
ketiga dengan besar nilai 0,79. Kemudian, pada stratum B merupakan stratum
dengan nilai Indeks Shannon-Wiener terendah, yaitu sebesar 0,00. Berdasarkan
kriteria indeks Shannon-Wiener, stratum C, D, dan E tergolong sedang nilai
indeks Shannon-Wienernya (1< H<3). Sedangkan, stratum B tergolong rendah
(H<1). Hal ini terjadi karena pada stratum B hanya ditemukan satu spesies.
Sehingga nilai keanekaragamannya bernilai 0 atau dapat dikatakan bahwa stratum
B tidak memiliki keanekaragaman jenis.
Berdasarkan hasil pengamatan, pada dasarnya lokasi pengamatan lebih
banyak didominasi oleh tumbuhan yang bersifat coverground dan seedling yang
ukuran tingginya kurang dari 1 meter dan 1-5 meter. Sehingga saat dilakukan
analisis data, tingkat keanekaragaman jenisnya (indeks Shannon-Wiener) terbesar
pada golongan tumbuhan stratum E (dengan kriteria tinggi tumbuhan kurang dari
1 meter). Selain itu, pada indeks Sorensen, stratum D-E memiliki nilai kesamaan
jenis yang tinggi dibandingkan dengan stratum lain (stratum B-C, B-D, B-E, C-D,
dan C-E).
Jadi, berdasarkan hasil yang didapatkan di atas, karena kebanyakan
tumbuhan atau pohon yang teridentifikasi masuk ke dalam statum B dan C maka
pohon pada transek ini termasuk dalam jenis pohon masa depan dimana terdiri
atas pohon-pohon yang masih muda dan masih mempunyai kemampuan untuk
tumbuh dan berkembang di masa mendatang.

BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data yang telah dianalisis, dapat
disimpulkan bahwa terdapat 4 stratum pada plot 4, 5, dan 6 yaitu stratum B, C, D,
dan E. Stratum E merupakan stratum yang paling mendominasi. Dalam jangka
waktu yang akan datang, diprediksikan terdapat stratum A, B, C, dan terutama
stratum D di daerah transek pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA
Ashton, P.S., and P. Hall. 1992. Comparisons of Structure Among Mixed
Dipterocarp Forests of North-Western Borneo. Journal of Ecology 80: 459481.
Aumeeruddy, Y. 1994. Local Representations and Management of Agroforests on
the Periphery of Kerinci Seblat National Park, Sumatra, Indonesia, People
and Plants Working Paper 3. UNESCO. Paris.
Ellenberg, H & D. Mueller-Dumbois. 1974. Aims and Methods of Vegetation
Ecology. John Willey and Sons. Toronto.
Ewusie, J. Y. 1990. Ekologi Tropika. Penerbit ITB. Bandung.
Grubb, P.J., J.R. Lloyd, T.D. Pennington, and T.C. Whitmore. 1963. A Comparison
of Mountain and Lower Rain Forest in Ecuador I. The Forest Structure,
Physiognomy and Floristics. Journal of Ecology 51: 567-601.
Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. PT Bumi Aksara. Jakarta.
Kusmana, C., 1997. Metode Survei Vegetasi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

LAMPIRAN

1) Diagram Profil Struktur Vertikal dan Horizontal Plot 4, 5, dan 6


Transek 1 Zona Tanaman Langka Arboretum Universitas
Padjadjaran

2) Aktivitas di Lapangan

Gambar 1 dan 2. Pengukuran jarak kanopi pohon di plot 4

Gambar 3. Pencatatan data lapangan

Gambar 4. Pengukuran jarak kanopi seedling di plot 5

Gambar 5 dan 6. Pengukuran jarak kanopi pohon di plot 6