Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, menuntut manusia
untuk mengembangkan sarana dan prasarana penunjang kehidupan manusia.
Logam adalah salah satu kebutuhan manusia yang cukup penting, salah satu
logam yang memiliki nilai jual yang tinggi dan relative stabil untuk investasi
adalah emas. Di Indonesia sendiri potensi adanya logam mulia cukup tinggi
karena kondisi geologi Indonesia yang dilewati oleh busur magmatic dunia.
Dan karena letak Indonesia yang berada pada lingkungan tropis
menyebabkan tingginya tingkat pelapukan termasuk pelapukan pada batuan.
Karena hal tersebut banyak berkembang potensi endapan - endapan placer
yang mengandung logam mulia, salah satunya adalah emas.
Sebagai usaha dalam memanfaatkan potensi endapan placer emas di
Indonesia, maka diperlukan adanya eksplorasi tambang jenis endapan placer
ini. Dikarenakan kondisi lapangan eksplorasi yang intensif dengan pelapukan
dan sedikit ditemukannya outcrop yang segar, maka perlu dilakukan
pendekatan terhadap metode yang cocok untuk eksplorasi.
Metode yang cocok salah satunya adalah metode eksplorasi geokimia.
Metode jenis ini dilakukan sebagai salah satu bagian survey awal dari sebuah
eksplorasi. Hal ini disarkan pada tujuannya yang mempersempit wilayah
eksplorasi guna mencari lokasi yang dapat dilakukan penambangan.

1.2. Maksud dan Tujuan


1.2.1. Maksud
Maksud dari penulisan laporan seminar ini adalah menjelaskan
mengenai karakteristik endapan placer emas, metode eksplorasi
geokimia, dan metode geokimia yang cocok dalam eksplorasi endapan
emas placer.

1.2.2. Tujuan

Mengetahui proses terbentuknya endapan placer emas

Mengetahui konsep dasar dalam eksplorasi geokimia

Mengetahui metode geokimia yang digunakan dalam eksplorasi


endapan emas placer

1.3. Ruang Lingkup


Ruang lingkup dari penulisan seminar ini adalah karakteristik dari
endapan placer emas, konsep dasar dari eksplorasi geokimia, dan metode
geokimia yang digunakan dalam eksplorasi endapan emas placer.

1.4. Metodologi Penulisan


Metode penulisan karya tulis ilmiah seminar ini dilakuakan dengan
metode studi pustaka atau literature dari buku maupun jurnal atau laporan
penelitian dari beberapa penulis. Metode penulisan dengan studi literature
dilakukan dengan pengumpulan data yang ada untuk kemudian dibuat suatu
kesimpulan.

1.5. Sistematika Penulisan


Adapun sistematika penulisan laporan seminar yaitu :
BAB I

PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan, ruang lingkup,
metode penelitian dan sistematika penelitian

BAB II KARAKTERISTIK ENDAPAN PLACER EMAS


Berisi tentang genesa endapan emas sekunder (placer), jenis dan
proses transportasi dan pengendapan, dan faktor konsentrasi emas.
BAB III KONSEP DASAR EKSPLORASI GEOKIMIA
Berisi tentang konsep dasar geokimia dan kegunaannya dalam
eksplorasi mineral logam

BAB IV METODE

EKSPLORASI

GEOKIMIA

PADA

ENDAPAN

PLACER EMAS
Berisi tentang metode geokimia apa saja yang digunakan dalam
eksplorasi endapan placer emas
BAB V KESIMPULAN

1.6. Kerangka Alur Penulisan

Eksplorasi Endapan
placer emas

Karakteristik
endapan placer emas

Konsep dasar metode geokimia


eksplorasi

Metode ekplorasi geokimia


Dalam eksplorasi endapan placer emas
Survei tanah

Metode Percontohan
Batuan

Sedimen sungai
aktif (stream
sedimen)
Konsentrat dulang
Bulk Leach
Extractable Gold
Tahapan Eksplorasi Lebih Lanjut

BAB II
ENDAPAN PLACER EMAS
1.1. Pengertian Endapan Placer
Endapan placer merupakan hasil erosi dari logam primer yang
kemudian diendapkan di lembah, sungai, dan pantai di dalam sedimen
Kuarter. Yang mana pembentukan logam plaser dimulai dari proses
pelapukan batuan yang mengandung logam primer, kemudian tererosi,
terangkut oleh air, dan terakumulasi pada tempat-tempat yang lebih rendah
dari batuan induknya.
Logam primer terdapat didalam batuan yang keras seperti batuan
beku, metamorf, maupun batuan sedimen. Sedang logam plaser terdapat
didalam sedimen lepas yang belum kompak (Kuarter). Butiran logam yang
terdapat pada sedimen itu mudah untuk digali/ditambang, sehingga biaya
exploitasinya jauh lebih murah dibandingkan dengan exploitasi logam primer
yang terdapat didalam batuan keras, yang prosesnya harus dihancurkan dulu.
1.2. Klasifikasi Placer Berdasarkan Genesanya
Berdasarkan keterkaitan placer dengan teknis eksplorasi dan
penambangannya, Macdonald (1983) membagi lingkungan pengendapan
placer atas: benua, transisi dan laut; dimana yang pertama terdiri atas:
sublingkungan eluvial, koluvial, fluviatil, gurun, dan glasial.
1.2.1. Placer residual
Partikel

mineral/bijih

pembentuk

cebakan

terakumulasi

langsung di atas batuan sumbernya (contoh : urat mengandung emas


atau kasiterit) yang telah mengalami pengrusakan/peng-hancuran
kimiawi dan terpisah dari bahan-bahan batuan yang lebih ringan. Jenis
cebakan ini hanya terbentuk pada permukaan tanah yang hampir rata,
dimana didalamnya dapat juga ditemukan mineral-mineral ringan yang
tahan reaksi kimia.

1.2.2. Placer eluvial


Partikel mineral/bijih pembentuk jenis cebakan ini diendapkan
di atas lereng bukit suatu batuan sumber. Di beberapa daerah
ditemukan placer eluvial dengan bahan-bahan pembentuknya yang
bernilai ekonomis terakumulasi pada kantong-kantong (pockets)
permukaan batuan dasar.
1.2.3. Placer sungai atau aluvial.
Jenis ini paling penting terutama yang berkaitan dengan bijih
emas yang umumnya berasosiasi dengan bijih besi, dimana konfigurasi
lapisan dan berat jenis partikel mineral/bijih menjadi faktor-faktor
penting dalam pembentukannya. Telah dikenal bahwa fraksi mineral
berat dalam cebakan ini berukuran lebih kecil daripada fraksi mineral
ringan, sehubungan : Pertama, mineral berat pada batuan sumber (beku
dan malihan) terbentuk dalam ukuran lebih kecil daripada mineral
utama pembentuk batuan. Kedua, pemilahan dan susunan endapan
sedimen dikendalikan oleh berat jenis dan ukuran partikel (rasio
hidraulik).
1.2.4. Placer pantai
Cebakan ini terbentuk sepanjang garis pantai oleh pemusatan
gelombang dan arus air laut di sepanjang pantai. Gelombang
melemparkan partikel-partikel pembentuk cebakan ke pantai dimana
air yang kembali membawa bahan-bahan ringan untuk dipisahkan dari
mineral

berat.

Bertambah

besar

dan

berat

partikel

akan

diendapkan/terkonsentrasi di pantai, kemudian terakumulasi sebagai


batas yang jelas dan membentuk lapisan. Perlapisan menunjukkan
urutan terbalik dari ukurandan berat partikel, dimana lapisan dasar
berukuran halus dan/ atau kaya akan mineral berat dan ke bagian atas
berangsur menjadi lebih kasar dan/atau sedikit mengandung mineral
berat. Placer pantai (beach placer) terjadi pada kondisi topografi
berbeda yang disebabkan oleh perubahan muka air laut, dimana zona
optimum pemisahan mineral berat berada pada zona pasang-surut dari

suatu

pantai

terbuka.

Konsentrasi

partikel

mineral/bijih

juga

dimungkinkan pada terrace hasil bentukan gelombang laut. Mineralmineral terpenting yang dikandung jenis cebakan ini adalah : magnetit,
ilmenit, emas, kasiterit, intan, monazit, rutil, xenotim dan zirkon.
1.2.5. Placer eoulin
Merupakan

bentang

alam

yang

dibentuk

karena

aktivitas angin. Placer ini banyak dijumpai pada daerah gurun pasir.
Gurun pasir sendiri lebih diakibatkan adanya pengaruh iklim. Gurun
pasir diartikan sebagai daerah yang mempunyai curah hujan rata-rata
kurang dari 26 cm/tahun. Sedangkan cara transportasi oleh angin pada
dasarnya sama dengan transportasi oleh air yaitu secara melayang
(suspension) dan menggeser di permukaan (traction). Secara umum
partikel halus (debu) dibawa secara melayang dan yang berukuran
pasir dibawa secara menggeser di permukaan (traction). Pengangkutan
secara traction ini meliputi meloncat (saltation) dan menggelinding
(rolling).Pengendapan oleh angin, Jika kekuatan angin yang membawa
material berkurang atau jika turun hujan, maka material-material (pasir
dan debu) tersebut akan diendapkan.

1.3. Endapan Placer Emas


Pada laporan seminar ini akan dijelaskan pembentukan endapan
placer emas pada sistem sungai atau alluvial.
1.3.1. Asal dari endapan placer emas
Partikel dari emas yang ditemukan dalam endapan placer
berasal dari urat atau zona mineralisai pada bedrock, dimana lepas
karena pelapukan dipermukaan dan proses disintegration dari matriks
batuan (Olaf P. Jenkins, 1964) (gambar 1.1.A). Berdasarkan proses
terbentuknya, tidak semua endapan placer yang terbentuk dapat
dilakukan penambangan, tergantung lama waktu pelapukan yang
menghasilkan separasi yang menghasilkan kuantitas bijih emas yang
banyak dari bedrock. Hal ini juga di ikuti dengan proses erosi yang

lebih aktif pada saat uplift (kondisi tektonik yang aktif). Ini adalah
kondisi yang ideal dimana bijih emas yang lepas akan tersapu oleh
material sedimen sungai kemudian terendapkan pada steram channel
dan terkonsentrasikan kedalam endapan placer yang kaya akan bijih
emas (gambar 1.1.b). Semakin tua umur endapan sungai yang
mengandung bijih emas, maka semakin banyak kandungan emas yang
ada.

Gambar 1.1. a.Sketsa penampang horizontal dari pembentukan endapan emas


placer b. sketsa peta dari perpindahan material yang kaya bijih emas.

1.3.2. Proses lepasnya emas dari batuan induk (bedrock)


Pelapukan yang intensif dalam kurun waktu yang lama adalah
faktor utama yang berperan dalam proses lepasnya bijih emas dari

bedform. Faktor utama dalam lepasnya bijih emas adalah perubahan


temperature, kedalaman muka air tanah, tingkat oksidasi, tingkat curah
hujan, efek grafitasi, kondisi vegatasi, kemiringan topografi dan
material yang menyusun batuan sumber. Pelapukan batuan biasanya
lebih cepat terjadi dibawah water table (muka air tanah) dan kondisi
daerah yang memikliki iklim tropis.
Untuk proses lepasnya bijih logam emas pada urat kuarsa
dijelaskan oleh A.H. Brooks (U.S Geological Survey Bulletin 328
pp.125-127) sebagai berikut : Pada urat kuarsa biasanya mengandung
jenis mineral yang mudah terdekomposisi, sebagai contoh adalah pirit,
oleh karena itu secara intensif akan hancur dan mineral yang resisten
seperti emas akan dapat lepas. Proses ini disebabkan pleh pengaruh
fisik seperti suhu yang cepat berubah.
1.3.3. Asosiasi mineral
Bijih logam yang berat (densitas) dan resisten terhadap
pelapukan kimia dan mekanik ikut menyertai dalam proses transportasi
endapan placer. Sebagai contoh dalam black sand secara umum
tersusun oleh mineral magnetite (United Sates Berau of mines dalam
geology of placer deposit, 1964) selain kandungan mineral magnetit
juga terdapat titanium mineral (ilmenit dan rutite), garnet, zircon,
hematite, cromit, olivine, epidote, pyrite, emas, monazite, limonite,
platinum, galena, metallic chopper, dan nails.
Dalam kasus diatas, banyaknya kuantitas mineral magnetite
yang berasosiasi dengan bijih emas menyebabkan masalah dalam
penerapan ilmu metalurgi. Sedangkan dalam penerapan ilmu geofisika,
keterdapatan mineral magnatit juga berpengaruh terhadap magnometer
yang akan mempengaruhi hasil eksplorasi.
Untuk itu perlu diketahui apakah mineral yang terdeposisi
memiliki umur yang sama ataukah berasal dari aliran yang lebih tua.
Perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai sumber bedrock dari
endapan placer yang ditemukan yang berpengaruh terhadap sumber

dan mineral yang dibawa dan layer dimana mineral tersebut


terendapkan.
1.3.4. Trasportasi dan Deposisi
Proses transportasi dan deposisi dari emas di aliran sungai
tergantung terhadap velocity, dimana nilai velocity tergantung volume
dan banyaknya sedimen yang terangkut (Mr. Brooks).
Prinsip dalam konsentrasi mekanik dilakukan dengan cara
material hasil lapukan batuan dicuci secara perlahan oleh air kearah
downslope. Pergerakan aliran air akan menyapu lebih bersih matrikmatrik tersebut sehingga melepas mineral-mineral dari matriknya,
mineral-mineral yang mempunyai berat jenis lebih besar akan
mengendap lebih dahulu atau bergerak relatif lebih dekat. Demikian
juga untuk gelombang dan arus pantai akan memisahkan minralmineral berat dari mineral yang lebih ringan dan memisahkan butiranbutiran kasar dari butiran yang lebih halus. Laju pengendapan material
selain dipengaruhi oleh kecepatan pergerakan fluida, juga dipengaruhi
oleh perbedaan berat jenis, ukuran dan bentuk partikel.
Karakteristik fisik dan lingkungan pengendapan beberapa
mineral ekonomis endapan placer dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 2.1 Ciri fisik dan lingkungan pengendapan beberapa mineral ekonomis
endapan placer (Evans, 1993).

Sebagaimana telah diketahui untuk peoses pengendapan placer


emas terdapat pada system fluvial. Untuk proses pengendapannya
sendiri dimulai dari sifat mineral emas yang memiliki tingkat resisten
yang tinggi, tidak akan hancur dengan mudah selama proses
transportasi dan memiliki masa jenis yang tinggi akan menyebabkan
material ini terendapkan bersamaan dengan residual soil atau
tertransport bersamaan dengan pasir dan kerikil pada material sungai.
Endapan placer mungkin terakumuluasi dekat dengan sumber, sebagai
konsentrasi dari zat sisa, atau tersapu menuju sungai dan terakumulasi
pada sand bar atau sisi dalam dari chanel sungai.
Menurut Matt Thornton (1979) perpindahan dan deposisi
endapan emas diansumsikan seperti gambar dibawah (gambar 1.2).
Dimana pada system fluvial bagian sisi dalam memiliki arus yang
rendah sehingga memungkinkan terjadinya deposisi bijih emas
bersama dengan metrial sungai yang berukuran kerikil (ukuran
tergantung kuat arusnya) yang tidak ikut tertransport.
Cebakan mineral yang terbentuk karena proses alluvial
memiliki bentuk tubuh bijih biasanya perlapisan tidak teratur, lensalensa, dan bentuk tidak teratur lainnya. Sebaran bahan berharga juga
tidak merata. Pola persebaran bijih yang tidak merata didasarkan oleh
tidak selalu sedimen bagian bawah merupakan sedimen yang lebih tua
(gambar 1.3) karena pengaruh arus sungai yang berubah ubah dimana
terkadang terdapat kondisi arus sungai yang besar (banjir) menyapu
material sedimen yang sudah ada (lebih tua) sehingga terbentuk
material sedimen baru diantaranya, sesuai dengan perubahan kondisi
sungai (Matt Thornton, 1979).

Gambar 1.2. Menunjukkan bagian dari sungai yang mengalami erosi dan
deposisi (Hickin : river geomorfology)

Gambar 1.3. Skema penampang yang menunjukkan hubungan umur endapan


alluvial (Geology of Placer deposit, 1964).

BAB III
KONSEP DASAR GEOKIMIA EKSPLORASI
3.1. Definisi Geokimia
Pengertian geokimia secara tradisional adalah deskripsi kimia bumi
yang ditekankan pada distribusi unsur isotopnya pada atmosfir, hidrosfer,
kerak, mantel dan inti bumi (Fyfe, 1974), sedangkan secara modern diartikan
sebagai integrasi pendekatan kimia dan geologi dalam memahami masalah
bumi dan (matahari) sejak pembentukannya (Fyfe, 1974). Menurut
Goldschmidt (dalam Gunter Faure, 1998) Geokimia menekankan pada dua
aspek yaitu:
Distribusi unsur dalam bumi (deskripsi)
Prinsip-prinsip yang mengatur distribusi tersebut di atas (interpretasi)
Pada dasarnya definisi ini menyatakan bahwa geokimia mempelajari
jumlah dan distribusi unsur kimia dalam mineral, bijih, batuan tanah, air, dan
atmosfer. Tidak terbatas pada penyelidikan unsur kimia sebagai unit terkecil
dari material, juga kelimpahan dan distribusi isotop-isotop dan kelimpahan
serta distribusi inti atom.
3.2. Prinsip Dasar Prospeksi/Eksplorasi Geokimia
Pengertian geokimia eksplorasi/prospeksi geokimia diartikan sebagai
penerapan praktis prinsip-prinsip geokimia teoritis pada eksplorasi mineral
(Levinson, 1973 dalam Eego, 1997) dengan tujuan agar mendapatkan
endapan mineral baru dari logam-logam yang dicari dengan metoda kimia.
Metoda tersebut meliputi pengukuran sistematik satu atau lebih unsur kimia
pada batuan, stream sediment, tanah, air, vegetasi dan udara.
Metoda ini dilakukan agar mendapatkan beberapa dispersi unsur di
atas (di bawah) normal yang disebut anomali, dengan harapan menunjukkan
mineralisasi

yang

ekonomis.

Anomali

geokimia

merupakan

suatu

conto/kelompok conto yang mengandung satu atau lebih unsur dalam


konsentrasi di atas/ di bawah normal dari populasi tersampling, dimana

karakter geokimia dan ruangnya dapat menunjukkan adany mineralisasi


(Joyce, 1984).
Prospeksi/eksplorasi geokimia pada dasarnya terdiri dari dua metode:
a. Metode yang menggunakan pola dispersi mekanis diterapkan pada mineral
yang relatif stabil pada kondisi permukaan bumi (seperti: emas, platina,
kasiterit, kromit, mineral tanah jarang). Cocok digunakan di daerah yang
kondisi iklimnya membatasi pelapukan kimiawi.
b. Metode yang didasarkan pada pengenalan pola dispersi kimiawi. Pola ini
dapat diperoleh baik pada endapan bijih yang tererosi ataupun yang tidak
tererosi, baik yang lapuk ataupun yang tidak lapuk. Pola ini kurang terlihat
seperti pada pola dispersi mekanis, karena unsur-unsurnya yang
membentuk pola dispersi bisa:
memiliki mineralogi yang berbeda pada endapan bijihnya (contohnya:
serussit dan anglesit terbentuk akibat pelapukan endapan galena)
dapat terdispersi dalam larutan (ion Cu2+ dalam airtanah berasal dari
endapan kalkopirit)
bisa tersembunyi dalam mineral lain (contohnya Ni dalam serpentin dan
empung yang berdekatan dengan sutu endapan pentlandit)
bisa teradsorbsi (contohnya Cu teradsosbsi pada lempung atau material
organik pada aliran sungai bisa dipasok oleh airtanah yang melewati
endapan kalkopirit)
bisa bergabung dengan material organik (contohnya Cu dalam umbuhan
atau khewan)
3.2.1. Dispersi
Dispersi geokimia adalah proses menyeluruh tentang transpor
dan atau fraksinasi unsur-unsur. Dispersi dapat terjadi secara mekanis
(contohnya pergerakan pasir di sungai) dan kimiawi (contohnya
disolusi, difusi dan pengendapan dalam larutan).
Tipe dispersi ini mempengaruhi pemilihan metode pengambilan
conto, pemilihan lokasi conto, pemilihan fraksi ukuran dsb. Contohnya
dalam survey drainage pertanyaan muncul apakah conto diambil dari

air atau sedimen ; jika sedimen yang dipilih, haris diketahui apakah
pengendapan unsur yang dicari sensitif terhadap variasi pH (contohnya
adsorpsi Cu oleh lempung) atau kecepatan aliran sungai (contohnya
dispersi Sn sebagai butiran detrital dari kasiterit). Jika adsorpsi dari
ion-ion yang ikut diendapkan dicari dalam tanah atau sedimen, maka
fraksi yang halus yang diutamakan; jika unsur yang dicari hadir dalam
mineral yang resisten, maka fraksi yang kasar kemungkinan
mengandung unsur yang dicari.
3.2.2. Lingkungan Geokimia
Lingkungan geokimia primer adalah lingkungan di bawah zona
pelapukan yang dicirikan oleh tekanan dan temperatur yang besar,
sirkulasi fluida yang terbatas, dan oksigen bebas yang rendah.
Sebaliknya, lingkungan geokimia sekunder adalah lingkungan
pelapukan, erosi, dan sedimentasi, yang dicirikan oleh temperatur
rendah, tekanan rendah, sirkulasi fluida bebas, dan melimpahnya O2,
H2O dan CO2. Pola geokimia primer menjadi dasar dari survey batuan
sedangkan pola geokimia sekunder merupakan target bagi survey tanah
dan sedimen.
3.2.3. Mobilitas Unsur
Mobilitas unsur adalah kemudahan unsur bergerak dalam
lingkungan geokimia tertentu. Beberapa unsur dalam proses dispersi
dapat terpindahkan jauh dari asalnya, ini disebut mudah bergerak atau
mobilitasnya besar, contohnya: unsur gas mulia seperti radon. Rn
dipakai sebagai petunjuk dalam prospeksi endapan Uranium.
Mobilias unsur akan berbeda dalam lingkungan yang berbeda,
contohnya: F bersifat sangat mobil dalam proses pembekuan magma
(pembentukan batuan beku), cebakan pneumatolitik dan hidrotermal,
namun akan sangat tidak mobil (stabil sekali) dalam proses
metamorfose dan pembentukan tanah. Bila F masuk ke air akan
menjadi sangat mobil kembali.

Unsur yang berbeda yang ditemukan dalam suatu endapan bisa


memiliki

mobilitas

yang

sangat

berbeda,

sehingga

mungkin

tidak memberikan anomali yang sama secara spasial. Misalnya: Pb dan


Zn sangat sering terdapat bersama-sama (berasosiasi) di dalam
endapan bijih (di dalam lingkungan siliko-alumina), sedangkan dalam
lingkungan pelapukan Zn yang jauh lebih mobil daripada Pb akan
mudah mengalami pelindian, sehingga Pb yang tertinggal akan
memberikan anomali pada zona mineralisasinya. Contoh lainnya:
Emas yang tahan terhadap larutan akan tertinggal dalam gossan,
Galena terurai perlahan dan menghasilkan serusit dan anglesit yang
relatif tidak larut. oleh karena itu Pb cenderung tahan dalam gossan
3.2.4. Unsur Penunjuk
Karena unsur-unsur memperlihatkan mobilitas yang berbeda
(dikontrol oleh perbedaan stabilitas dan oleh lingkungan tempat
mereka bermigrasi) sering dilakukan penggunaan unsur penunjuk
dalam prospeksi suatu unsur. Unsur penunjuk adalah suatu unsur yang
jumlahnya atau pola penyebarannya dapat dipakai sebagai petunjuk
adanya mineralisasi. Alasan penggunaan unsur penunjuk antara lain:
Unsur ekonomis yang diinginkan sulit dideteksi atau dianalisis
Unsur yang diinginkan deteksinya mahal
Unsur yang diinginkan tidak terdapat dalam materi yang diambil
(akibat perbedaan mobilitas)
Contohnya : Emas kelimpahannya kecil dalam bijih, oleh karena
itu pola dispersinya hanya mengadung kadar emas yang sangat rendah,
kurang dari batas minimal yang dapat dianalisis. Di lain pihak, Cu, As,
atau Sb dapat berasosiasi dengan emas dalam kelimpahan yang relatif
besar.
3.2.5. Anomali Geokimia
Bijih mewakili akumulasi dari satu unsur atau lebih diatas
kelimpahan yang kita anggap normal. Kelimpahan dari unsur khusus di
dalam batuan barren disebut background. Penting untuk disadari

bahwa tak ada unsur yang memilikibackground yang seragam,


beberapa unsur memiliki variasi yang besar bahkan dalam jenis batuan
yang sama. Contohnya background nikel:
dalam granitoid kira-kira 8 ppm dan relatif seragam
dalam shale berkisar antara 20 - 100 ppm
dalam batuan beku mafik Ni rata-rata sekitar 160 ppm dan relatif
tidak seragam
dalam batuan beku ultramafik Ni rata-rata sekitar 1200 ppm dengan
variasi yang besar.
Tujuan mencari nilai background adalah untuk mendapatkan
anomali geokimia, yaitu nilai di atasbackground yang sangat
diharapkan berhubungan dengan endapan bijih. Karena sejumlah besar
conto bisa sajamemiliki nilai di atas background, maka ada nilai
ambang/nilai batas yang digunakan untuk menentukan anomali, yang
dikenal dengan sebutan threshold, yaitu nilai rata-rata plus dua standar
deviasi dalam suatu populasi normal. Semua nilai di atas nilai
threshold didefinisikan sebagai anomali.
3.2.6. Metode Geokimia dalam eksplorasi
Beberapa macam metoda geokimia yang dapat dilakukan dalam
eksplorasi mineral logam adalah :
1. Lithogeochemistry
Sedimen sungai
Tanah / soil
Batuan
2. Hydrogeochemistry
3. Biochemistry/Geobotany
4. Atmogeochemistry/Gas Surveys

BAB IV
METODE GEOKIMIA DALAM EKSPLORASI ENDAPAN
EMAS PLACER
4.1. Pendahuluan