Anda di halaman 1dari 14

CASE REPORT

SKIZOFRENIA PARANOID

Disusun Oleh:
Edo Pramana Putra
110.2009.093

Pembimbing
dr. Galianti, Sp. KJ

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT Dr. SOEHARTO HEERDJAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
NOVEMBER 2014

Status Psikiatri
Nomor Rekam Medis

: xx-xx-xx

Nama Pasien

: Tn. MS

Nama dokter yang merawat : dr. Galianti, Sp.KJ


Nama dokter muda

: Edo Pramana Putra

Masuk RS pada tanggal

: 24 Oktober 2014 (diantar oleh kakak ipar)

Usia

: 43 tahun

I IDENTITAS
Nama

: Tn. S

Tempat & tanggal lahir

: 16 Agustus 1971

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Suku Bangsa

: Jawa

Agama

: Islam

Pendidikan

: SLTP

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Status

: Belum menikah

Alamat

: Kalibata RT 05 RW 08 Srengseng Sawah Jagakarsa JakartaSelatan

II RIWAYAT PSIKIATRI
Autoanamnesis

: 31 Oktober 2014 di ruang napza pukul 09.30 WIB

Autoanamnesis

: 7 November 2014 di ruang napza pukul 09.30 WIB

Alloanamnesis

: Dengan Tn. S (kakak ipar pasien) 7 November 2014 pukul


14.00 WIB, via telepon

A. Keluhan Utama

: Pasien ngamuk dan marah marah sejak 1 hari SMRS


(keterangan kakak ipar)

B. Riwayat gangguan sekarang


Pasien dijemput oleh petugas IGD RSJ dr Soeharto Suheerdjan atas permintaan
keluarga karena mengamuk dan marah marah sejak 1 hari SMRS. Keluarga (kakak
ipar) mengaku bahwa pasien tiba-tiba mengamuk dan mengejar orang untuk dipukuli
serta suka membanting barang. Tiga hari sebelumnya keluarga pasien mengeluhkan
bahwa pasien sering terlihat gelisah dan curigaan terhadap semua orang. Keluarga

mengatakan bahwa pasien curiga terhadap semua orang karena pasien merasa ada
seseorang yang hendak mencuri harta bendanya.
Selama ini pasien selalu merasa bahwa ada sepasang suami istri yang selalu
mengambil hartanya perlahan-lahan. Pasien mengakui bahwa mereka ada hubungannya
dengan pekerjaannya. Awalnya mereka mengambil beberapa uang, pakaian, lalu kursi,
meja, lemari, tempat tidur, dan perabotan rumah lainnya pun diambil serta alat-alat
elektronik pasien ikut diambil sehingga pasien merasa kesal. Pasien juga merasa
hidupnya di khianati oleh kakak kandungnya sendiri yang tinggal serumah. Pasien
menganggap bahwa kakaknya sering korupsi dan menzolimi dirinya. Pasien
menambahkan bahwa dirinya sering dipukuli oleh kembaran tetangganya juga.
Pasien mengaku dirinya bekerja sendirian dibidang elektronik khususnya diperalatan
pemancar siaran (radio dan televisi). Tugasnya sehari-hari adalah memberikan nomor
kepada alat-alat tersebut agar dapat tayang tepat waktu. Namun penjelasan dari keluarga
adalah pasien tidak bekerja dan memang kesehariannya adalah mendengarkan radio atau
menonton TV. Dalam kesehariannya pasien merasa dapat berkomunikasi dengan radio,
TV, sound system ataupun monitor baik yang pasien sampaikan ataupun yang akan
disampaikan oleh benda tersebut dapat dimengerti dengan baik. Benda-benda tersebut
sering menyuruh pasien untuk memukul atau menyetrum seseorang yang disampaikan
lewat hati pasien. Pasien menyangkal bila dirinya pernah mendengar bisikan-bisikan atau
suara yang tidak jelas asalnya darimana. Namun pasien percaya bahwa barang-barang
elektronik tersebut dapat mengetahui isi perasaan seseorang.
Pasien menganggap semua orang memiliki kembaran, termasuk dirinya, pemeriksa
dan orang yang mengambil harta bendannya. Namun kembaran tersebut memiliki
kepribadian yang bertolak belakang. Pasien mengaku pernah bertemu dengan pemeriksa
pada tahun 2007 dalam sebuah acara yang bertema mesin. Pasien juga terkadang
menyisipkan ayat-ayat al-Quran mengenai pekerjaan yang ia kerjakan, namun tidak bisa
melafalkan dengan baik.
C. Riwayat Penyakit Sebelumnya
1. Riwayat gangguan psikiatri sebelumnya
Menurut keluarga, pasien telah mengalami gangguan jiwa sejak tahun 2000. Awalnya
keluarga tidak begitu memperhatikan. Pasien mulanya sering tidak nyambung bila diajak
bicara dan sulit menentukan pilihan. Keluarga juga merasa pasien lebih mudah
tersinggung dan terkadang marah.

Ditahun 2013 pasien pernah dirawat di RSJ Duren Sawit karena keluhan yang serupa.
Pasien marah-marah dan mengejar orang untuk dipukuli. Pasien akhirnya dibawa dan
dirawat di RSJ Duren Sawit kira-kira semala satu bulan. Namun setelah lepas dari
perawatan inap pasien jarang control dan minum obat tidak teratur. Akhirnya sekarang
keluhan tersebut muncul lagi dan pasien dibawa ke RSJ dr Soeharto Heerdjan Jakarta
Barat.
2. Riwayat gangguan medik
Riwayat penyakit diabetes, hipertensi, demam tinggi, kejang, trauma kepala,
stroke, dan penurunan kesadaran disangkal. Riwayat gangguan fungsi otak yang
berhubungan dengan kondisi kejiwaan disangkal.
3. Riwayat penggunaan zat psikoaktif
Pasien merokok kurang lebih 1 bungkus per hari. Riwayat minum minuman
keras disangkal. Pasien mengaku pernah mencoba ganja dan ekstasi namun pasien
mengaku tidak sampai ketagihan. Pasien mengaku bahwa mendapatkan barang
tersebut dari seorang teman dan berupa oplosan. Keluarga juga mengakui bahwa
pasien pernah menggunakan barang tersebut semasa pasien duduk di SMK dan
membenarkan bahwa pasien tidak sampai kecanduan.
Tingkat keparahan gangguan

2000

2013

2014

Tahun

Gambar 1. Grafik episode serangan gangguan psikotik


D. Riwayat Kehidupan Pribadi
1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien diakui lahir spontan, normal pervaginam, cukup bulan, ditolong oleh
paraji. Selama kehamilan diakui tidak ditemukan komplikasi, trauma, dan cacat

bawaan. Selama hamil ibu pasien mengakui tidak ada keluhan apapun. Pasien
merupakan anak ke 3 dari 3 bersaudara
2. Riwayat Tumbuh Kembang
Selama tumbuh kembangnya pasien diakui tidak pernah sakit berat, demam
tinggi, kejang, trauma kepala, penurunan kesadaran. Keluarga pasien mengatakan
bahwa pasien tumbuh dan berkembang secara normal sesuai dengan usia, sama
dengan anak seusianya.
3. Riwayat Perkembangan kepribadian
a). Masa kanak kanak
Perkembangan psikomotor, psikososial, kognitif, dan moral diakui normal
sesuai usia. Tidak ditemukan gangguan atau kelainan dengan sikap dan perilaku
pasien saat masih kanak kanak. Pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan
berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
b). Masa Remaja
Pasien mempunyai banyak teman dilingkungan sekolah dan rumahnya, suka
bergaul, akan tetapi sejak SMK pasien mulai menjadi nakal. Pasien sering teribat
perkelahian dan tawuran antar sekolah.. Pasien sering mencontek saat ujian. Saat
SMK pasien mengatakan mulai merokok, dan memakai obat-obatan terlarang (pil
lexotan dan ganja) secara oplosan.
c). Masa dewasa
a. Riwayat Pendidikan
Pasien bersekolah di SDN di daerah Jakarta. Pasien melanjutkan sekolah
di SMP Jakarta Selatan. Prestasi pasien saat SD dan SMP. Setamat SMP
pasien melanjutkan sekolah ke SMK didaerah Jakarta Selatan atas kemauan
pasien sendiri. Setelah itu pasien tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang
yang lebih tinggi.

b. Riwayat Pekerjaan
Pasien pernah bekerja disebuah toko elektronik sebagai teknisi setelah ia
lulus dari SMK. Namun semenjak di PHK pasien tidak bekerja lagi. Pasien
mengaku bekerja dirumah memperbaiki peralatan elektronik yang diminta
oleh tetannga sekitar.

Menurut keluarga pasien, pasien saat ini tidak bekerja. Kesehariannya di


rumah adalah mendengarkan radio dan menonton TV seharian.

c. Kehidupan Beragama
Pasien dibesarkan dalam lingkungan agama Islam. Saat masih tinggal
dengan orangtua pasien taat menjalankan ibadahnya. Tetapi ketika pasien
mulai bekerja mulai sering meninggalkan ibadah dengan alasan pekerjaannya.

d. Kehidupan Perkawinan/psikososial
Selama tinggal di rumah kakak iparnya pasien jarang mengikuti kegiatan
sosial atau kemasyarakatan. Pasien hanya berkumpul dengan teman-teman
kerjanya untuk mengobrol dan merokok bersama. Walaupun demikian pasien
mengatakan tidak memiliki teman akrab.

e. Riwayat Pelanggaran Hukum


Pasien belum pernah menjalani hukuman atau melakukan tindakan yang
melanggar hukum.
f. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak ke tiga dari lima bersaudara. Pasien merasa lebih dekat
dengan ibu dibandingkan dengan ayah karena menurut pasien, ibu lebih jarang
marah dan kadang membela pasien.. Orang tua pasien cukup disiplin dan keras
dalam mendidik anak-anaknya.
Setelah ayah dan ibu pasien meninggal, pasien diasuh oleh kakak kandung
kedua dan kakak iparnya. Menurut pasien, ia paling dekat dengan kakak
iparnya.
Tidak ada anggota keluarga pasien lainnya yang mengalami gangguan
jiwa. Pasien merupakan anak ke 3 dari 5 bersaudara. Riwayat keluarga dengan
keluhan yang sama disangkal.

= Laki Laki

= Perempuan
= Meninggal

= Menikah
= Keturunan
= Tinggal
Serumah

= Pasien

F. Situasi Kehidupan Sosial Ekonomi Sekarang


Pasien saat ini tinggal bersama kakak ke dua di daerah Kalibata Jakarta
Selatan. Kakak pasien sudah berkeluarga memiliki 3 orang anak. Kedua anaknya
yang pertama telah bekerja dan tidak tinggal serumah lagi. Sehari-hari kakak dan
istrinya bekerja sebagai wirausaha. Saat ini kakak ipar pasien sedang mengalami
kesulitan ekonomi karena orangtuanya sedang sakit keras dan dirawat di Rumah
Sakit.

III PEMERIKSAAN STATUS MENTAL


1. Kesadaran

: Komposmentis

2. Penampilan
a) Deskripsi Umum
Pasien laki laki berusia 43 tahun, tubuh agak gemuk, kulit sawo matang, rambut
agak botak berwarna keputihan. Saat wawancara pasien menggunakan baju RSJ bewarna
coklat keabu-abuan dan celana pendek selutut. Pasien tidak menggunakan alas kaki. Kuku
kaki dan tangan pendek, tangan tidak kotor. Kebersihan dan kerapihan diri cukup.

b) Identifikasi personal
Pasien tampak tenang, kooperatif, menjawab semua pertanyaan dengan baik. Tidak
tampak perilaku agitasi ataupun hostilitas. Sebelum melakukan wawancara pasien tampak
sedang duduk sendiri menonton TV. Saat proses wawancara pasien menjawab, pasien
berbicara secara spontan. Setelah proses wawancara pasien tetap tenang dan kemudian
kembali melanjutkan kegiatannya.
c) Sikap dan aktivitas psikomotor.
Sikap dan aktivitas pasien sebelum, selama, dan setelah wawancara tampak normal.
Tidak tampak perilaku agitasi, hostilitas, maupun gangguan perilaku dan aktivitas piskomotor
lainnya.
3. Pembicaraan
Pasien berbicara spontan, dengan intonasi dan kecepatan yang normal. Kuantitas
cukup. Volume bicara normal. Tidak ditemukan adanya gangguan bicara.
4. Mood dan Afek
a) Mood

: Euthym

b) Afek

: Terbatas

c) Keserasian

: Serasi

5. Pikiran dan persepsi


a) Proses pikir

: assosiasi longgar inkoheren.

b) Isi pikir

: ditemukan adanya gangguan isi pikir berupa waham curiga terhadap


keluarga dan seseorang yang ingin mencuri harta bendanya. Though of
Insertion (+).

c) Persepsi

Tidak ditemukan depersonalisasi ataupun derealisasi. Halusinasi dan


Ilusi tidak ditemukan.

6. Sensorium dan Kognitif


a). Perhatian

: Baik

b). Orientasi

: Orientasi waktu terganggu, pasien menyebutkan hari, tanggal, bulan,


tahun yang benar menurutnya.
Orientasi tempat terganggu, pasien mengetahui bahwa dirinya ada di
RSJSH di daerah Cawang.
Orientasi Orang baik, pasien mengetahui dan dapat mengingat nama
pemeriksa, mengetahui nama beberapa orang yang ada di lingkungan
sekitar.

c). Konsentrasi dan perhitungan

: Baik, pasien dapat menyelesaikan soal perhitungan

sederhana.
d). Daya ingat

: Jangka panjang, pasien ingat tempat dan tanggal lahir


Jangka pendek, pasien dapat menyebutkan kembali aktivitasnya sejak
kemarin dan nama pemeriksa (dokter muda)
Ingatan segera, pasien dapat menyebutkan seluruh aktvitas yang dia
lakukan seharian

e). Tingkat Pendidikan


f). Pikiran abstrak

: Sesuai dengan SMK.

: Baik, pasien tahu perbedaan dan persamaan buah apel dan jeruk serta
tahu arti peribahasa berakit rakit dahulu, bersenang senang
kemudian

g). Daya Nilai

: Daya Nilai sosial baik, pasien tahu bahwa mengamuk dan melempar
barang tidak baik
Uji Daya Nilai baik, pasien tahu bahwa bila menemukan dompet
beserta uang dan alamat pemilik pasien akan mengirimkan dompet
beserta isinya melalui kantor pos.
Daya nilai realita terganggu dengan adanya waham dan gangguan
orientasi.

h). Tilikan

: derajat 1, pasien menganggap dirinya tidak sakit dan dia tidak


seharusnya di RSJSH.

IV. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Internus
1. Keadaan umum

: Baik

2. Kesadaran

: Compos Mentis

3. Tensi

: 120/80 mmHg

4. Nadi

: 88x/menit

5. Suhu badan

: 36,8C

6. Frekuensi pernapasan

: 22x/menit

7. Bentuk tubuh

: Overweight

8. Sistem kardiovaskular

: BJ I-II reguler, murmur - , gallop -

9. Sistem respiratorius

: Suara napas Vesikuler, Ronki -/- , Wheezing -/-

10. Sistem gastro-intestinal

: BU +, Nyeri tekan (-)

11. Ekstremitas (Atas)

: Akral hangat, CRT < 2 detik, sianosis (-), edema (-),


deformitas (-).

(Bawah)

: Akral hangat, sianosis (-), edema (-), deformitas (-).

B. Status neurologis
1. Saraf kranial (I-XII)

: Baik

2. Tanda rangsang meningeal

: Tidak ada

3. Refleks fisiologis

: (+) normal

4. Refleks patologis

: Tidak ada

5. Motorik

: Baik

6. Sensorik

: Baik

7. Fungsi luhur

: Baik

8. Gangguan khusus

: Tidak ada

9. Gejala EPS

: akatisia (-), bradikinesia (-), rigiditas (-), tonus otot


(N), resting tremor (-), distonia (-).

V PEMERIKSAAN PENUNJANG
Data Hasil pemeriksaan penunjang tanggal 24 Oktober 2014, ditemukan seluruh pemeriksaan
dalam batas normal.
HB

: 13,0 g/dl

GDS

: 111 mg/dl

Leukosit

: 13400 mm3

SGOT

: 18 u/l

Trombosit

: 229.000/dl

SGPT

: 16 u/l

HT

: 38%

Ureum

: 20 mg/dl

Kreatinin

: 1.0 mg/dl

Pemeriksaan Rontgen Thorax : Cor dan Pulmo dalam batas normal.


Pemeriksaan yang dianjurkan dari keluhan fisik pasien : -

VI IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pasien laki laki berusia 43 tahun, tidak bekerja, pendidikan SMK. Berpenampilan
sesuai usia, perawakan agak gemuk, tidak menggunakan alasa kaki. Kerapihan dan
keberishan diri cukup baik. Pasien tampak tenang dan cukup kooperatif selama wawancara.
Setiap pertanyaan dijawab dengan baik namun terkadang sulit dipahami.

Pasien dijemput dari rumahnya dan dibawa ke RSJSH atas permintaan keluarga karena
suka marah-marah dan mengejar-ngejar orang untuk dipukuli sejak 1 hari SMRS. Keluarga
(kakak ipar) mengaku bahwa pasien tiba-tiba mengamuk dan mengejar orang untuk dipukuli
serta suka membanting barang. Tiga hari sebelumnya keluarga pasien mengeluhkan bahwa
pasien sering terlihat gelisah dan curigaan terhadap semua orang seakan-akan hartanya ingin
dicuri. Selama ini pasien selalu merasa bahwa ada sepasang suami istri yang selalu
mengambil hartanya perlahan-lahan. Pasien juga merasa hidupnya di khianati oleh kakak
kandungnya sendiri yang tinggal serumah.
Pasien merasa dapat berkomunikasi dengan radio, TV, sound system ataupun monitor
baik yang pasien sampaikan ataupun yang akan disampaikan oleh benda tersebut dapat
dimengerti dengan baik. Benda-benda tersebut sering menyuruh pasien untuk memukul atau
menyetrum seseorang yang disampaikan lewat hati pasien. Pasien percaya bahwa barangbarang elektronik tersebut dapat mengetahui isi perasaan seseorang.
Pasien menganggap semua orang memiliki kembaran, termasuk dirinya, pemeriksa dan
orang yang mengambil harta bendannya. Pasien mengaku pernah bertemu dengan pemeriksa
pada tahun 2007 dalam sebuah acara yang bertema mesin. Pasien juga terkadang
menyisipkan ayat-ayat al-Quran mengenai pekerjaan yang ia kerjakan, namun tidak bisa
melafalkan dengan baik.
Dari peeriksaan status mental ditemukan kesadaran komposmentis. Pasien tenang,
kooperatif, berbicara spontan, dan menjawab pertanyaan dengan baik namun terkadang sulit
dipahami. Mood euthym, afek terbatas, serasi. Terdapat gangguan proses pikir berupa
assosiasi longgar hingga inkoheren. Waham curiga (+), Thought of Insertion (+). Terdapat
gangguan orientasi waktu dan tempat. Daya nilai realita terganggu, tilikan derajat 1.
Pemeriksaan status internus, neurologis, dan penunjang dalam batas normal.

VII FORMULASI DIAGNOSTIK PASIEN


AKSIS I

Aksis I: Gangguan Klinis dan Kondisi Klinis yang Menjadi Fokus Perhatian Khusus
Berdasarkan ikhtisar penemuan bermakna, maka kasus ini:
i.

Termasuk gangguan kejiwaan karena adanya :


- Gangguan fungsi / hendaya dan disabilitas: gangguan dalam fungsi sosial
- Distress / penderitaan: marah-marah, mengamuk dan mengejar orang untuk dipukuli
sehingga mengganggu ketenangan orang- orang disekelilingnya

ii.

Gangguan jiwa ini sebagai GMNO, karena :


- Tidak ada gangguan kesadaran neurologik.
- Tidak ada gangguan defisit kognitif.
- Terdapat riwayat penyalahgunaan obat terlarang dan zat adiktif terdahulu namun hal
tersebut tidak berhubungan langsung dengan penyakitnya sekarang.
- Tidak ada penyakit organik spesifik yang diduga berkaitan dengan gangguan jiwanya.

iii.

Gangguan psikotik, karena adanya hendaya dalam menilai realita yang dibuktikan
dengan adanya :
Waham curiga (+), Thought of Insertion (+). Terdapat gangguan orientasi waktu dan
tempat. Daya nilai realita terganggu, tilikan derajat 1. Pemeriksaan status internus,
neurologis, dan penunjang dalam batas normal.

Menurut PPDGJ III, GMNO psikosis ini termasuk skizofrenia karena memenuhi kriteria
skizofrenia seperti:
-

Terdapatnya thought of insertion (isi pikirannya dipengaruhi oleh sesuatu dari luar)

Minimal 1 gejala khas dari kelompok 1 yang jelas atau 2 gejala yang kurang jelas :

Arus pikir terputus, inkoherensi, gejala negatif seperti respon emosional yang menumpul atau
tidak wajar, mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja
sosial, dan bukan disebabkan karena depresi.
-

Gejala berlangsung terus menerus paling sedikit 1 bulan.

Tidak disebabkan oleh penyakit otak dan atau intoksikasi atau putus zat

Skizofrenia ini termasuk skizofrenia paranoid karena memenuhi kriteria diagnostik sebagai
berikut:
-

Memenuhi kriteria umum skizofrenia

Adanya waham curiga

Onset lebih dari 1 bulan


AKSIS II

Aksis II : Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental


Tidak terdapat gangguan kepribadian dan retardasi mental.
AKSIS III

Aksis III ; Kondisi Medis Umum


Dari anamnesa, hasil pemeriksaan fisik tidak ditemukan adanya gangguan medis

AKSIS IV

Aksis IV : Problem Psikososial dan Lingkungan


Terdapat masalah pada pola dukungan keluarga, karena pasien belum menikah sehingga tidak
memiliki primary support group / keluarga yang mendukung sepenuhnya untuk kesembuhan
pasien. Pasien tinggal bersama dengan kakak iparnya semenjak kedua orangtuanya
meninggal. Kakak iparnya dan kakak kandungnya kadang sibuk bekerja sehingga pasien
tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Pasien juga jarang kontrol secara teratur setelah
lepas rawat dari RSJ Duren Sawit.

AKSIS V

Penilaian Fungsi secara Global

Global Assessment of Function (GAF) Scale


-

GAF current

: 50-41 (gejala berat/serious, disabilitas berat)

GAF HLPY

: 50-41 (gejala berat/serious, disabilitas berat)

VIII EVALUASI MULTITAKSIAL


AKSIS I

: F.20.0 Skizofrenia Paranoid

AKSIS II

: Tidak terdapat gangguan kepribadian dan retardasi mental

AKSIS III

: Tidak ada diagnosis

AKSIS IV

: Terdapat masalah dengan primary support group

AKSIS V

: Global Assessment of Function (GAF)


GAF current : 50-41
GAF HLPY

: 50-41

IX DAFTAR MASALAH

Organobiologik

: Tidak ada

Psikologi / psikiatrik

: Waham curiga, Thought of Insertion, gangguan

orientasi waktu dan tempat, daya nilai realita terganggu.

Sosial / keluarga
sendiri.

: Tidak memiliki pendamping hidup dan keluarga

X PROGNOSIS
Prognosis ad vitam

: dubia ad bonam

Prognosis ad fungsionam

: dubia ad bonam

Prognosis ad sanationam

: dubia ad bonam

XI TATALAKSANA
-

Psikofarmaka

: Risperidon 2 x 3 mg

Risperidon adalah salah satu first-line treatment pada pasien dengan skizofrenia.
Risperidon merupakan obat anti psikotik generasi 2, yang bekerja pada reseptor D2,
5HT2A, dengan efek samping yang relatif lebih rendah daripada obat antipsikotik
generasi pertama. Dosis optimal sebagai dosis terapi adalah 2-4mg per hari, dan pada
pasien ini di berikan 2x3mg = 6mg per hari
-

Psikoterapi
Memotivasi pasien untuk rajin minum obat secara teratur dan memberikan
dukungan kepada pasien bahwa ia dapat kembali seperti sebelum sakit.
Memotivasi keluarga untuk bisa berperan dalam pengawasan pasien, memberikan
pengertian bahwa dukungan keluarga terhadap pasien akan membantu
kesembuhan pasien secara optimal.

Terapi Sosial
Melibatkan pasien dalam kegiatan di RSJSH seperti kegiatan terapi kelompok.
Memberikan pengertian kepada keluarga pasien agar dapat memahami keadaan
pasien sekarang ini dengan memberikan dukungan.
Memberikan aktivitas sesuai dengan kemampuan pasien di RSJSH.