Anda di halaman 1dari 15

Membangun Karakter kuat anak melalui jiwa Entrepreneurship

March 10, 2008 at 9:25 am (Uncategorized)

PENGEMBANGAN JIWA ENTREPRENEURSHIP BAGI ANAK: Kapan dan Bagaimana


memulainya? Sylvi DewajaniFakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada

Berbagai sumber menyatakan bahwa kesuksesan seseorang lebih dipengaruhi dari


karakter yang dimiliki dibandingkan kecerdasan intelektualnya. Mitshubisi Research
Institute (2000) menyatakan bahwa keberhasilan seseorang 40% bergantung pada
soft skills yang dimilikinya, 30% tergantung pada kemampuan networking dan 20%
tergantung pada kecerdasannya, baru 10% diantaranya ditentukan dari uang yang
dimilikinya. Selain itu, sebagian besar keberhasilan seseorang dalam mencari
pekerjaan bukan dipengaruhi oleh kecerdasan intelektual, melainkan kemampuan
seseorang di dalam mengelola diri. Sebagian besar direktur SDM dari perusahaan
besar di Indonesia, maupun perusahaan multinasional akan sepakat dengan
pernyataan di atas. Oleh karena kesuksesan seseorang yang nyata-nyata
dipengaruhi oleh kemampuan untuk mengelola diri, maka sekolah diharapkan dapat
memenuhi kebutuhan tersebut, bukan hanya menghasilkan lulusan didik yang
cerdas intelektual saja.

Pada dasarnya pendidikan dimulai semenjak janin mulai terbentuk di dalam rahim
sang ibu. Orang tua adalah “primary educator”, pendidik pertama dan yang utama
bagi anak-anaknya. Namun demikian, di dalam perkembangannya, pendidikan perlu
dibantu oleh satu lembaga yang dapat secara intensif memberikan stimulasi yang
terstruktur dalam usaha menguasai suatu kompetensi tertentu, sebagai modal di
masa depannya. Lembaga tersebut kemudian dikenal dengan nama “sekolah”. Jika
ditilik dari tujuannya, maka sekolah semestinya memiliki tujuan untuk baik
mencerdaskan sisi intelektual, maupun karakter anak. Untuk itu, sekolah sebagai
lembaga pendidikan semestinya tidak hanya mengarahkan kurikulumnya pada
tujuan kecerdasan intelektual, namun terlebih dari itu mengembangkan karakter
anak didiknya.
Pada saat ini, masyarakat mulai menyadari pentingnya lembaga pendidikan
semenjak usia dini. Bahkan dikenal dengan pendidikan di masa “golden age”,
karena di dalam konsep perkembangannya, usia 2-5 tahun adalah usia ideal
pembentukan “pribadi” anak, sebagai investasi psikologis masa depannya.
Pendidian Anak Usia Dini, seharusnya lebih banyak menekankan pada aspek
“karakter” dibandingkan aspek kecerdasan intelektualnya. Kurikulum yang
dikembangkan selayaknya berkisar pada pendidikan karakter.

Melalui konsep pengembangan karakter yang disampaikan oleh Lickona (1991;


1997); Berkowitz (1995; 1998; 2004) dan Lee In-Jan (2001) teradapat beberapa hal
yang dapat dipelajari di dalam usaha mewujudkan karakter. Hal pertama adalah
bahwa pendidikan karakter harus terintegrasi di dalam suatu kurikulum. Di dalam
usaha pengembangan karakter, tidak dapat hanya dilakukan melalui satu ranah
saja, terutama ranah kognitif. Pengalaman program P4 merupakan satu hal yang
sangat baik untuk dipelajari. Bahwa pengembangan karakter harus dilakukan
secara terintegrasi di dalam kandungan kurikulum tertulis, hidden curriculum, serta
kegiatan ko-kurikulum dan ekstrakurikuler. Artinya, karakter yang ingin
dikembangkan harus terwujud di dalam kandungan setiap mata ajaran melalui
tugas dan bahan kajian, juga terwujud di dalam norma serta aturan akademik.
Selain itu, sekolah perlu mengembangkan kurikulum yang selama ini selalu
dianggap tersier, yaitu kegiatan ko-kurikuler dan ekstra kurikuler.

Hal kedua yang dipelajari adalah bahwa pendidikan karakter tidak dapat terjadi
dalam waktu yang singkat, dalam bentuk spot mata ajaran di awal, di tengah
ataupun di akhir saja. Namun pendidikan karakter harus menyeluruh dan
berkelanjutan. Selama kurikulum tersebut diterapkan, kandungan dan muatan
pendidikan karakter akan juga tetap dilaksanakan. Pendidikan karakter yang hanya
menekankan pada satu atau dua mata ajaran tidak akan dapat menjamin
tercapainya karakter siswa yang diinginkan.
Ketiga adalah bahwa pendidikan karakter menuntut peran guru secara optimal.
Tanpa adanya role model, karakter tidak akan dapat dikembangkan dengan baik.
Peran model yang berkarakter, merupakan kunci utama di dalam pendidikan
karakter. Di sekolah, role model siswa adalah guru. Oleh karena itu, di dalam proses
pendidikan karakter, terlebih dahulu perlu dikembangkan guru-guru yang
berkarakter. Selain sebagai role model, guru juga harus dapat menciptakan
’teachable moment’ bagi karakter yang akan dikembangkan, sehingga tercipta iklim
yang kondusif untuk mengembangkan karakter.

Pada masa krisis global sebagaimana yang dihadapi manusia saat ini, diperlukan
karakter yang kuat untuk bertahan di dalamnya. Salah satu karakter yang dipilih
adalah jiwa entrepreuner (entrepreneurship). Mengapa karakter ini yang dipilih?
Sebagaimana kita pahami bersama makna dari entrepreneurship sendiri menurut
ahli pendidik entrepreneurship, Hindle and Anghern (1998) adalah jiwa yang
memiliki motivasi tinggi, toleransi terhadap resiko yang cukup tinggi, selalu ingin
berprestasi, pantang menyerah, mampu menciptakan peluang, kreatif, serta
memiliki kepercayaan diri dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Karakter
entrepreneurship tersebut sangat cocok sebagai modal untuk dapat sukses di era
global seperti saat ini. Mengembangkan karakter entepreneurship, bukan berarti
menciptakan pedagang atau wira usaha, namun terlebih dari itu, jiwa
kewirausahaan (entrepreneurship) ini dipandang sebagai satu ciri karakter yang
memiliki kekuatan pribadi dalam menghadapi tantangan dunia. Seorang dengan
karakter entrepreneurship ini, diharapkan mampu menjadi penggerak kemajuan
bangsa.

Dengan menggunakan prinsip pendidikan karakter di atas, sikap dan karakter


entrepreneurship akan dapat dikembangkan dengan baik. Langkah yang dapat
dilakukan untuk mengembangkan karakter ’entrepreneurship adalah sebagai
berikut:1) Menetapkan karakter ’entrepreunership’ sebagai satu visi lembaga
pendidikan kita, dan melakukan persamaan persepsi tentang deskripsi operasional
tersebut. 2) Mensosialisasikan sikap dan nilai ’entrepreneurship’ kepada seluruh
sivitas akademika sekolah, termasuk orang tua dan stakeholder3) Menurukan
visi ’entrepreneurship’ ke dalam praktik kehidupan sehari-hari di sekolah, melalui:
(a) penetapan aturan berserta sanksi yang berkait dengan karakter
entrepreneurship dan diterapkan pada setiap anggota sekolah kita; (b)
mengembangkan poster, banner dan berbagai atribut yang dapat mengingatkan
anggota sekolah akan karakter entrepreneurship; (c) mengembangkan aktivitas
sekolah yang mengandung nilai ’entrepreneurship’, baik dalam aktivitas protokoler
maupun kegiatan penunjang lainnya4) Mengembangkan ’role model’ dari
karakter entrepreneurship dimulai dari Kepala Sekolah dan Manajer Sekolah lain,
Guru dan Pegawai administrasi. Role model harus selalu mempraktekkannya pada
setiap kesempatan, sehingga dapat terlihat dan dimaknai oleh siswa.5)
Mendesain proses pembelajaran dan penugasan yang memiliki kandungan nilai dan
karakter entrepreneurship. Setelah tugas dikumpulkan, disediakan sesi refleksi
untuk menginternalisasikan proses yang telah terjadi.6) Mengembangkan
aktivitas yang melibatkan orang tua siswa dalam proses peningkatan nilai dan
karakter entrepreneurship.

Perlahan namun pasti, proses peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia
pun akan terwujud, dimulai dari pendidikan yang paling dini. Tentu saja di akhir
paper ini, masihlah perlu disampaikan bahwa kualitas generasi suatu bangsa,
sangat bergantung pada keterpaduan 3 institusi, yaitu institusi keluarga, sekolah
(pendidikan) dan masyarakat. Dengan demikian, optimisme ke arah Indonesia yang
lebih aman, nyaman, damai dan sejahtera dapat terwujud, karena memiliki SDM
yang handal.

Leave a Comment

Mendidik Anak Menghormati Orang Lain: modal perdamaian bangsa

March 10, 2008 at 9:09 am (Uncategorized)

MENDIDIK ANAK MENGHORMATI ORANG LAIN (the heart of peaceful world):


BAGAIMANA DAN KAPAN MEMULAINYA? Sylvi Dewajani*)Faculty of
PsychologyGadjah Mada University

Menghormati orang lain adalah inti nilai hidup yang dapat membentuk dunia yang
aman dan damai, jauh dari peperangan dan kebencian. Menghormati orang lain
adalah karakter yang perlu dikembangkan kepada anak. Makalah ini akan
membahas kapan waktu terbaik memulai mengembangkan karakter dan
bagaimana cara mengembangkannya. Dengan mengadakan beberapa studi
literatur pada beberapa konsep mengenai pengembangan karakter, paper ini
diharapkan dapat menyumbangkan satu alternatif bagi bangsa lembaga
pendidikan, keluarga maupun masyarakat Indonesia, strategi untuk
mengembangkan karakter.

Karakter manusia tidak hanya dilahirkan, namun dikembangkan. Karakter


dikembangkan melalui proses pengenalan ”nilai hidup” dan budaya melalui tiga
lembaga utama, yaitu (1) keluarga; (2) lembaga pendidikan dan (3) masyarakat.
Ketiga lembaga inilah yang akan bertanggung jawab akan terbentuknya karakter
generasi suatu bangsa. Karakter merupakan satu penanda mengenai siapa diri kita
sesungguhnya, bagaimana cara kita berpikir dan berperilaku. Karakter sangat
ditentukan oleh apa yang kita lakukan, kita katakan, dan kita yakini (Boyatzis, et.al.
1995). Karakter dapat ditunjukkan dari tingkah laku kita saat tidak ada seorangpun
yang melihat. Lebih jauh, pakar pendidikan karakter, Lickona (1991) mendefinisikan
bahwa karakter yang positif terdiri atas bagaimana seseorang dapat mengetahu
kebaikan, memiliki keinginan untuk berbuat baik dan juga melakukan hal-hal yang
baik. Menurut Lickona (1991) terdapat beberapa karakter yang penting di dalam
kehidupan kita, yaitu: tanggung jawab, kejujuran, menghormati orang lain, berlaku
adil, kerjasama, toleransi, dan lain-lain. Bagi bangsa Indonesia yang terdiri dari
multikultur dan multi religi, maka karakter ”menghormati orang lain” akan sangat
penting. Karakter ”menghormati orang lain” perlu untuk dimiliki sebagai dasar
perilaku dan sikap hidup bangsa Indonesia. Karakter mulai berkembang semenjak
bayi dilahirkan, atau bahkan lebih awal sebelum itu saat pre-natal. Pada setahun
pertama kehidupan bayi, telah berkembang kemampuan untuk memahami orang
lain. Bayi pada masa tersebut telah dapat mengembangkan rasa empathy yang
sederhana (Damon, 1998). Kemampuan empathy ini merupakan modal dasar bagi
pengembangan karakter ”menghormati orang lain”. Menurut Damon (1998),
kemampuan empathy ini sangat dipengaruhi oleh kelekatan anak dengan orang tua
atau figur lekat yang lain, yang dapat memenuhi tugas perkembangan membentuk
”basic trust” yaitu kepercayaan bahwa dunia di luar dirinya aman dan bermafaat
untuk dirinya (Erickson, 1968). Selanjutnya pada masa kanak-kanak sekolah, anak
akan mengembangkan ketrampilan untuk melakukan ”perspective taking”
(Berkowitz, 1998). Dan akhirnya pada masa remaja telah dimulai perkembangan
moral reasoning dan moral identity. Sebagaimana disebutkan di dalam paragraf di
atas, sekolah merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab akan
pengembangan karakter generasi bangsa. Apakah hal ini juga dapat diartikan
bahwa sekolah harus mengajarkan karakter ”menghormati orang lain” melalui
berbagai kegiatan ekstrakurikuler? Ataukah melalui pendidikan moral yang
diajarkan di kelas, karakter telah dapat terbentuk? Atau diperlukan cara lain untuk
mengembangkan karakter anak. Secara khusus pada konvensi UNESCO tahun 1999
menetapkan bahwa pendidikan harus mengarah kepada pendidikan yang paripurna.
UNESCO (1999) menetapkan 4 pilar pendidikan yang terdiri atas: (1) learning to
know; (2) learning to do; (3) learning to be; dan (4) learning to live together. Aspek
pertama dan kedua di dalam keputusan konvensi UNESCO (1999) ini sarat dengan
domain kognitif dan ketrampilan. Namun pada aspek ke tiga dan keempat lebih
mengarah kepada domain afeksi yang mengarah pada pembentukan karakter. Di
Indonesia, tahun 2003 ditetapkan UU SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) No.
20 tahun 2003 yang menyebutkan bahwa visi pendidikan Indonesia adalah: (1)
mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan
yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; (2) membantu dan memfasilitasi
pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia dini sampai akhir hayat
dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; (3) meningkatkan kesiapan
masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan
kepribadian yang bermoral; (4) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas
lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan,
pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan (5)
memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI.Berdasarkan visi
dan misi pendidikan nasional tersebut, pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.(dikutip dari UU No. 20/2003 tentang SISDIKNAS INDONESIA halaman 25)
Dengan kedua dasar hukum tersebut, sekolah dirasa perlu untuk mengembangkan
model pendidikan yang dapat mengarah pada lulusan yang berkarakter. Tidak
hanya memiliki kecerdasan secara kognitif saja. Pada tingkat Perguruan Tinggi,
yang dituangkan di dalam Higher Education Long Term Strategy (2003 – 2010)
dinyatakan secara tegas bahwa tujuan pendidikan adalah untuk membentuk Insan
Cerdas dan Kompetitif. Maksud dari dari kalimat tersebut adalah bahwa selain
mengembangkan lulusan yang cerdas, juga membentuk kepribadian kuat yang
mampu berkompetisi di lingkup di lingkup internasional. Perlu dipikirkan, model
pendidikan yang mampu mewujudkan visi dan tujuan pendidikan Indonesia
tersebut. Pada intinya, menurut Lickona (1998) anak akan dapat mengembangkan
pemahaman mengenai karakter, dengan cara mempelajari dan mendiskusikan
karakter tersebut, mengamati perilaku model yang memiliki karakter positif dan
memecahkan permasalahan yang memiliki kandungan moral dan karakter yang
cukup tinggi. Pada saat anak berusaha belajar untuk memiliki karakter
menghormati orang lain, anak perlu untuk dapat memiliki model yang secara jelas
menunjukkan perilaku menghormati orang lain. Kemudian juga diikuti dengan
melatih karakter tersebut di dalam aktivitas nyata. Dan terakhir, anak memiliki
kesempatan untuk mendikusikannya dengan orang yang memiliki karakter
tersebut, secara lebih intensif. Peran dan pengaruh orang tua melalui pola asuh
yang dipilih, peran sekolah dalam membentuk insan yang cerdas dan
berkepribadian, serta peran masyarakat dalam menyaring dan menyediakan model
karakter akan dibahas secara detail dan bertahap di dalam makalah ini. Daftar
Pustaka:

Berkowitz, M. & Bier, M. (2004). What works in character education: A research


driven guide for teachers. Washington DC: Character Education Partnership

Boyatzis, R.E; Cowen, S.S; Kolb, D.A; and Associates; 1995 Innovation in
Professional Education: Step on a Journey from Teaching to Learning; San
Fransisco : Jossey-Bass Publishers Erickson, E.H. (1968). Identity: Youth and Crisis.
New York: Norton

Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and
responsibility. New York: Bantam Books

Lickona, T., (1997). Educating for Character: The School’s Highest Calling. Georgia
Humanities Council. Atlanta, Georgia

Jum'at, 1 Januari 2010


Search

Pendidikan Berbasis Karakter


Senin, 14 Desember 2009 00:01 WIB Berbagai fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini
cukup mengkhawatirkan. Fenomena kekerasan dalam menyelesaikan masalah menjadi hal yang
umum. Pemaksaan kebijakan terjadi hampir pada setiap level institusi. Manipulasi informasi
menjadi hal yang lumrah. Penekanan dan pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap
kelompok lain dianggap biasa. Hukum begitu jeli pada kesalahan, tetapi buta pada keadilan.
Sepertinya karakter masyarakat Indonesia yang santun dalam berperilaku, musyawarah mufakat
dalam menyelesaikan masalah, local wisdom yang kaya dengan pluralitas, toleransi dan gotong
royong, telah berubah wujud menjadi hegemoni kelompok-kelompok baru yang saling
mengalahkan. Apakah pendidikan telah kehilangan sebagian fungsi utamanya? Berkaca pada
kondisi ini, sudah sepantasnya jika kita bertanya secara kritis, inikah hasil dari proses pendidikan
yang seharusnya menjadi alat transformasi nilai-nilai luhur peradaban? Jangan-jangan
pendidikan telah teredusir menjadi alat yang secara mekanik hanya menciptakan anak didik yang
pintar menguasai bahan ajar untuk sekedar lulus ujian nasional. Kalau betul begitu, pendidikan
sedang memperlihatkan sisi gelapnya.
Padahal, pendidikan merupakan proses yang paling bertanggung jawab dalam melahirkan warga
negara Indonesia yang memiliki karakter kuat sebagai modal dalam membangun peradaban
tinggi dan unggul. Karakter bangsa yang kuat merupakan produk dari pendidikan yang bagus dan
mengembangkan karakter. Ketika mayoritas karakter masyarakat kuat, positif, tangguh
peradaban yang tinggi dapat dibangun dengan baik dan sukses. Sebaliknya, jika mayoritas
karakter masyarakat negatif, karakter negatif dan lemah mengakibatkan peradaban yang
dibangun pun menjadi lemah sebab peradaban tersebut dibangun dalam fondasi yang amat
lemah.
Karakter bangsa adalah modal dasar membangun peradaban tingkat tinggi, masyarakat yang
memiliki sifat jujur, mandiri, bekerja-sama, patuh pada peraturan, bisa dipercaya, tangguh dan
memiliki etos kerja tinggi akan menghasilkan sistem kehidupan sosial yang teratur dan baik.
Ketidakteraturan sosial menghasilkan berbagai bentuk tindak kriminal, kekerasan, terorisme dan
lain-lain.
Oleh karena itu, pendidikan harus terus didorong untuk mengembangkan karakter bangsa
Indonesia menjadi bangsa yang kuat sehingga pada gilirannya bangsa Indonesia akan mampu
membangun peradaban yang lebih maju dan modern. Menurut M Dawam Raharjo, peradaban
modern dibangun dalam empat pilar utama, yakni induk budaya (mother culture) agama yang
kuat, sistem pendidikan yang maju, sistem ekonomi yang berkeadilan serta majunya ilmu
pengetahuan dan teknologi yang humanis. Sebenarnya keempat pilar tersebut sudah dimiliki
Indonesia, tinggal bagaimana keempat hal tersebut berjalan secara fungsional melalui
pendidikan.

Mengembangkan karakter
Salah satu poin penting dari tugas pendidikan adalah membangun karakter (character building)
anak didik. Karakter merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai
bentuk kualitas diri. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai
tersebut dan terwujud di dalam perilaku. Bentuk-bentuk karakter yang dikembangkan telah
dirumuskan secara berbeda.
Indonesia Heritage Foundation merumuskan beberapa bentuk karakter yang harus ada dalam
setiap individu bangsa Indonesia di antaranya; cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya,
tanggung jawab, disiplin dan mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerja
sama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik
dan rendah hati, dan toleransi, cinta damai dan persatuan.
Sementara itu, character counts di Amerika mengidentifikasikan bahwa karakter-karakter yang
menjadi pilar adalah; dapat dipercaya (trustworthiness), rasa hormat dan perhatian (respect),
tanggung jawab (responsibility), jujur (fairness), peduli (caring), kewarganegaraan (citizenship),
ketulusan (honesty), berani (courage), tekun (diligence) dan integritas.
Pada intinya bentuk karakter apa pun yang dirumuskan tetap harus berlandaskan pada nilai-nilai
universal. Oleh karena itu, pendidikan yang mengembangkan karakter adalah bentuk pendidikan
yang bisa membantu mengembangkan sikap etika, moral dan tanggung jawab, memberikan kasih
sayang kepada anak didik dengan menunjukkan dan mengajarkan karakter yang bagus. Hal itu
merupakan usaha intensional dan proaktif dari sekolah, masyarakat dan negara untuk mengisi
pola pikir dasar anak didik, yaitu nilai-nilai etika seperti menghargai diri sendiri dan orang lain,
sikap bertanggung jawab, integritas, dan disiplin diri. Hal itu memberikan solusi jangka panjang
yang mengarah pada isu-isu moral, etika dan akademis yang merupakan concern dan sekaligus
kekhawatiran yang terus meningkat di dalam masyarakat.
Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan tersebut seharusnya menjadi dasar dari
kurikulum sekolah yang bertujuan mengembangkan secara berkesinambungan dan sistematis
karakter siswa. Kurikulum yang menekankan pada penyatuan pengembangan kognitif dengan
pengembangan karakter melalui pengambilan perspektif, pertimbangan moral, pembuatan
keputusan yang matang, dan pengetahuan diri tentang moral.
Di samping nilai tersebut diintegrasikan dalam kurikulum, juga yang tidak kalah penting adalah
adanya role model yang baik dalam masyarakat untuk memberikan contoh dan mendorong sifat
baik tertentu atau ciri-ciri karakter yang diinginkan, seperti kejujuran, kesopanan, keberanian,
ketekunan, kesetiaan, pengendalian diri, simpati, toleransi, keadilan, menghormati harga diri
individu, tanggung jawab untuk kebaikan umum dan lain-lain.
Lebih spesifiknya, menurut Dr Thomas Lickona, pendidikan yang mengambangkan karakter
adalah upaya yang dilakukan pendidikan untuk membantu anak didik supaya mengerti,
memedulikan, dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika. Anak didik bisa menilai mana yang
benar, sangat memedulikan tentang yang benar, dan melakukan apa yang mereka yakini sebagai
yang benar--walaupun ada tekanan dari luar dan godaan dari dalam.

Peranan lingkungan
Sementara itu, upaya pendidikan yang dilakukan di sekolah oleh para guru seperti membuat
'istana pasir di tepi pantai'. Sekolah dengan sekuat tenaga membangun istana yang cantik, tetapi
begitu anak keluar dari lingkungan sekolah, ombak besar meluluhlantakkan istana yang telah
dibangun di sekolah. Oleh karena itu, perlu pendekatan yang komprehensif dari sekolah,
keluarga, dan masyarakat dalam mengembangkan karakter anak didik yang kuat, baik, dan
positif secara konsisten.
Lingkungan masyarakat, para pemimpin, pembuat kebijakan, pemegang otoritas di masyarakat,
orang tua harus menjadi role model yang baik dalam menanamkan karakter yang baik kepada
anaknya. Berbagai prilaku ambigu dan inkonsistensi yang diperlihatkan dalam masyarakat akan
memberi kontribusi yang buruk yang secara signifikan dapat melemahkan karakter siswa.
Banyak kebijakan dalam pendidikan yang justru kontraproduktif terhadap pengembangan
karakter siswa. Sebut saja misalnya kebijakan ujian nasional (UN) yang dipercaya dapat
menggenjot motivasi siswa untuk belajar supaya lulus UN. Kebijakan tersebut justru mengarah
pada praksis pendidikan yang melahirkan peraturan dan sistem yang berbasis pada model reward
and punishment. Model seperti itu hanya akan menghasilkan perubahan tingkah laku yang
bersifat sementara dan terbatas, tapi hanya sedikit bahkan tidak memberikan pengaruh pada
pembentukan karakter anak untuk jangka panjang.
Bahkan kalau kita amati pada tataran pelaksanaan UN di lapangan, begitu banyak praktik
penyelewengan dan kecurangan yang bertentangan dengan prinsip pendidikan itu sendiri. Hal itu
justru yang akan merusak karakter anak didik yang sudah sekian lama diusahakan dibangun
dalam lingkungan sekolah. Hilangnya nilai-nilai kejujuran, integritas, dapat dipercaya adalah
harga yang harus dibayar dalam praksis pendidikan yang menegasikan karakter positif anak
didik.
Saya sepakat dengan character education quality standards yang merekomendasikan bahwa
pendidikan akan secara efektif mengembangkan karakter anak didik ketika nilai-nilai dasar etika
dijadikan sebagai basis pendidikan, menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif
dalam membangun dan mengembangkan karakter anak didik serta menciptakan komunitas yang
peduli, baik di keluarga, sekolah maupun masyarakat sebagai komunitas moral yang berbagi
tanggung jawab untuk pendidikan yang mengembangkan karakter dan setia dan konsisten kepada
nilai dasar yang diusung bersama-sama.

http://mathedu-unila.blogspot.com/2009/11/membangun-karakter.html

Membangun karakter

Kita tidak perlu mengingkari bahwa rusaknya karakter bangsa mungkin secara tidak
langsung disebabkan oleh krisis, tetapi bahwa akar permasalahannya ada pada diri
manusia Indonesia itu sendiri. Bukan tidak mungkin apa yang telah kita lakukan
selama ini juga merupakan penunjang dari "hilang"-nya jati diri dan rusaknya
karakter bangsa. Apabila kita cermati, ternyata sejak 60 tahun terakhir, di Indonesia
tidak lagi dilakukan apa yang disebut membangun karakter, bahkan cenderung
diabaikan.

Ada suatu premis di dalam character building yang mengatakan bahwa character
building is a never ending process, yang artinya bahwa pembangunan karakter
dilakukan sejak kita masih berupa janin di dalam kandungan sampai saat kita
menutup usia. Oleh karena itu, pembangunan karakter dalam kehidupan kita dapat
dibagi dalam tiga tahapan pembangunan karakter, yaitu pada usia dini (tahap
pembentukan), usia remaja (tahap pengembangan), dan saat dewasa (tahap
pemantapan).

Pembentukan karakter pada usia dini sangat krusial dan berarti sangat fundamental
karena di sinilah paling tidak ada empat koridor yang perlu dilakukan, yaitu
menanam tata nilai, menanam yang "boleh dan tidak boleh" (the does and the
don’t), menanam kebiasaan, serta memberi teladan.

Keempat koridor ini dimaksudkan untuk mentransformasikan tata nilai dan


membentuk karakter anak pada usia dini sehingga tidak mungkin hanya dilakukan
oleh seorang pembantu. Ironisnya, dalam kehidupan modern ini, pembantu justru
menjadi lingkungan (pengaruh) terdekat selama paling tidak 12 jam sehari dan lima
hari seminggu. Maka, kita tidak perlu sakit hati bila muncul cibiran yang
mengatakan bahwa karakter anak-anak kita justru lebih mirip dengan karakter
pembantu.

Kondisi pendidikan formal di negeri juga tak kalah runyamnya. Anak didik kita lebih
sebagai "kelinci percobaan" bagi berbagai eksperimen kebijakan ketimbang sebagai
anak bangsa yang harus dikembangkan karakternya.

Pembangunan karakter harus dilanjutkan pada tahap pengembangan pada usia


remaja. Sayangnya, lingkungan dan kondisi masyarakat kita sangat tidak kondusif
untuk mencapai tujuan pembangunan karakter. Hal ini dapat kita kaji lewat
keempat koridor tadi.

Koridor tata nilai: berubahnya orientasi tata dari idealisme, harga diri, dan
kebanggaan, menjadi orientasi pada uang, materi, duniawi, dan hal-hal yang
sifatnya hedonistis.

Dalam koridor the does and the don’t belum terdapat adanya good governance dan
good coorporate governance serta law enforcement yang memadai sehingga
terdapat cukup banyak celah yang masih dimungkinkan untuk tidak menuju
pembentukan karakter yang diharapkan. Dalam koridor kebiasaan, masih cukup
banyak dikembangkan kebiasaan-kebiasaan yang salah, seperti tidak menepati
waktu, ingkar janji, saling menyalahkan, dan mengelak tanggung jawab. Dalam
koridor memberi teladan, ternyata dalam kehidupan bermasyarakat kita masih
sangat langka adanya teladan.

Lemahnya kondisi sosial masyarakat yang mendukung tahap pengembangan


menyebabkan terganggunya tahap pemantapan. Apa yang akan dimantapkan jika
dalam tahap pembentukan dan pengembangan yang tumbuh adalah low trust
society (masyarakat yang saling tidak memercayai, tidak ada saling menghargai)
yang menunjukkan tidak terbangunnya karakter secara baik dalam kehidupan kita
berbangsa dan bernegara.

Perlu diingat, sebuah bangsa akan maju dan jaya bukan disebabkan oleh kekayaan
alam, kompetensi, ataupun teknologi canggihnya, tetapi karena dorongan
semangat dan karakter bangsanya. Dalam hal ini contohnya antara lain di Jepang,
Korea Selatan, Inggris, dan sebentar lagi di Vietnam. Atau, dapat disimpulkan
bahwa bangsa yang didorong oleh karakter bangsanya akan menjadi bangsa yang
maju dan jaya. Sementara bangsa yang kehilangan karakter bangsanya akan sirna
dari muka bumi.

SWISS: Internalisasi Karakter


Melalui Pendidikan
Posted by: cindellinastory on: August 20, 2009

• In: Etcetera
• Comment!

Ini adalah tulisan saya saat harus membuat paper untuk mata kuliah perkembangan
karakter satu tahun yang lalu…
Setiap bangsa memiliki karakternya masing-masing yang membedakannya dengan bangsa lain.
Kesuksesan dan kemajuan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh luas tidaknya atau melimpah
tidaknya sumber daya alam dan sumberdaya manusia yang dimiliki oleh negara tersebut. Banyak
negara-negara di dunia dengan kekayaan alam melimpah dan jumlah penduduk yang besar
seperti Filipina, Indonesia, dan negara-negara di Amerika Selatan yang terpuruk secara ekonomi,
politik, maupun sosial. Sedangkan Swiss, salah satu negara terkecil di dunia dengan luas wilayah
hanya 41.285 km2 atau sebesar provinsi Jawa Barat dan Banten, dengan populasi penduduknya
7.581.520 jiwa (tahun 2008) memiliki akreditasi yang sangat baik di mata dunia. Hal ini tentunya
tidak lepas dari karakter yang telah dimiliki bangsa Swiss sejak lama yang membuat dunia
mengenal Swiss sebagai bangsa yang netral, terpercaya, nasionalis, integritas, menghargai
perbedaan agama dan ras penduduknya, mengutamakan pendidikan warganya serta menjunjung
tinggi demokrasi. Karakter inilah yang kemudian membawa bangsa Swiss sebagai negara paling
makmur dan aman di dunia dengan tingkat kriminalitas paling rendah dan tingkat buta huruf
hampir 0%. Internalisasi karakter yang sedang dan telah dilalui bangsa Swiss bukanlah sebuah
proses yang singkat dan mudah. Proses internalisasi ini membutuhkan waktu yang panjang dan
konsistensi sehingga dapat mengakar pada setiap warganya. Salah satu media internalisasi
karakter yang paling efektif yang telah dipilih oleh bangsa Swiss adalah melalui pendidikan.

Karakter Bangsa Swiss

Swiss adalah negara kecil dengan luas wilayah 41.285 km2 atau sebesar provinsi Jawa Barat dan
Banten, dengan populasi penduduknya 7.581.520 jiwa (tahun 2008). Ibukota negara ini adalah
Bern. Sebagian besar wilayah Swiss ditutupi oleh pegunungan Alpen. Swiss diapit oleh negara-
negara besar di Eropa, yaitu Perancis di bagian barat, Jerman di utara, Austria di sebelah timur,
dan Italia di bagian selatan. Letak Swiss yang diapit oleh berbagai negara tersebut membuat
Swiss menjadi bangsa yang majemuk dengan ¾ warganya adalah asli Swiss sementara ¼ warga
negaranya adalah pendatang yang sebagian besar berasal dari negara-negara Eropa di sekitarnya.
Swiss memiliki empat bahasa resmi, yakni bahasa jerman yang digunakan oleh 64%
penduduknya, bahasa perancis (19%), bahasa italia (8%), dan bahasa roman (kurang dari 1%)
(Heatwole 2008). Kemajemukan ini tidak membuat bangsa Swiss terpecah belah. Isu rasial
pernah meneror sebagian besar warga asli Swiss dengan kampanye politik yang dilakukan oleh
Christoph Blocher, pemimpin Partai Rakyat Swiss. Blocher gencar menyebarkan isu-isu anti-
imigran, anti-islam, anti orang-orang asing, yang dianggapnya sebagai faktor penyebab utama
meningkatnya masalah kriminalitas dan sosial di Swiss. Bahkan, Blocher memasang poster
bergambarkan domba hitam yang sedang ditendang oleh domba putih di perbatasan Swiss.
Tetapi saat hasil akhir pemilu Swiss, Blocher kalah dengan hanya perolehan suara 29%.
Meskipun sempat resah dengan isu yang disebarkan, warga Swiss lebih resah akan kehilangan
kekeluargaan dan keharmonisan yang telah mereka bangun selama ini. Swiss sangat melindungi
keutuhan tetap terjaga dalam keragaman mereka.

Penghormatan terhadap keberagaman bangsa Swiss juga tercermin dalam politik negara yang
terkenal sebagai negara paling demokratis itu. Setiap petunjuk atau pengarahan di parlemen
selalu disediakan dalam empat bahasa. Tidak ada keberpihakan terhadap kaum mayoritas atau
minoritas tertentu. Semua bahasa dipakai demi tersampaikannya setiap aspirasi. Penentuan
keputusan atau penyelesaian masalah dilakukan melalui musyawarah untuk mendapatkan kata
sepakat. Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan tidak mutlak sebagai
pengambil keputusan utama. Seluruh keputusan diambil secara demokratis dengan melibatkan
partisipasi rakyat secara langsung. Swiss telah menjalankan demokrasi yang seutuhnya: rakyat
adalah negara, dan negara adalah rakyat. Kedaulatan adalah di tangan rakyat dibuktikan oleh
negara yang memiliki indek anti-KKN terendah di dunia ini.

Demokrasi pun tetap berjalan saat Swiss harus menentukan keberpihakannya pada Jerman atau
Perancis ketika perang dunia II. Sebagian berpikir agar Swiss berpihak pada Jerman. Sebagian
lain yang berbahasa Perancis, Italia, dan Roman menginginkan agar Swiss tidak berpihak pada
negara manapun. Tetapi pada akhirnya diputuskan Swiss tidak berpihak pada Jerman ataupun
Perancis. Swiss memutuskan untuk netral. Sejak 1815, Swiss tidak pernah terlibat dalam perang
dengan pemerintahan asing lain. Kenetralan Swiss membuat banyak organisasi internasional
membangun markasnya di Swiss, seperti WHO, ILO, dan UNHCR yang bermarkas di Jenewa.
Bahkan, PBB membangun sebagian besar kantornya di negara ini meskipun pusat PBB berada di
New York.

Swiss bukan negara yang kaya akan sumberdaya alam. Penduduk Swiss memiliki kesempatan
mengolah tanahnya hanya selama enam bulan sekali dan sisanya mereka habiskan di dalam
rumah karena cuaca dingin yang membeku. Waktu enam bulan ini disiapkan pula untuk
persediaan selama satu tahun.Tetapi, Swiss mampu menjadi negara yang paling makmur di
Eropa dan dunia dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia, yaitu $ 50.781 (2006)
(Heatwole 2008). Swiss yang tidak memiliki kekayaan hasil bumi mengandalkan sektor
perbankan dan pariwisata untuk memajukan perekonomiannya. Integritas, loyalitas, kejujuran,
dan tanggung jawab ditawarkan oleh bank-bank di Swiss. Stabilitas politik dan ekonomi selalu
terjaga dengan tingkat inflasi rendah dan hukum perbankan yang jelas. Hasilnya, bank-bank di
Swiss menjadi tempat yang paling dipercaya oleh orang-orang dari berbagai negara untuk
menyimpan uangnya. Swiss juga dipercaya sebagai pusat finansial dunia. Keberhasilan Swiss di
bidang ekonomi didukung pula oleh sektor pariwisatanya.

Pegunungan Alpen yang indah yang menutupi sebagian besar wilayah Swiss dan sering disebut
sebagai surga dunia dijadikan sebagai daya tarik di sektor pariwisata. Pariwisata menjadi penting
di Swiss sejak masa enlightenment saat para penulis, seniman, dan ilmuwan menemukan
inspirasinya di pegunungan Alpen. Kota-kota di tepi danau Picturesque, termasuk di dalamnya
Interlaken, Lausanne, Lucerne, Montreux, dan Vevey, adalah pusat pariwisata di Swiss. Sektor
ini mulai tumbuh sejak berakhirnya Perang Dunia II. Ada sekitar sepuluh juta turis setiap
tahunnya yang mengunjungi Swiss. Daya dukung dari keberhasilan di sektor pariwisata ini juga
berasal dari warga Swiss yang memiliki sifat ramah, berpikiran terbuka, jujur, dan selalu
menghindari konflik.

Swiss menjamin setiap bidang kehidupan yang baik bagi warganya, baik di bidang sosial,
ekonomi, politik, teknologi, transportasi, dan pendidikan. Pendidikan selalu menjadi prioritas
utama pemerintah Swiss.

Pendidikan di Swiss

Swiss sudah sejak lama menjadi pusat pendidikan. Sistem pendidikan modern Swiss menjadi
yang terbaik di dunia. Angka buta huruf di Swiss adalah 0%. Pendidikan di Swiss banyak
dipengaruhi oleh sejarahnya. Pendidikan agama yang diterapkan di Swiss dipengaruhi oleh John
Calvin yang datang ke negara ini tahun 1536. Pendidikan Swiss yang mengutamakan ekspresi
individu (individual self expression) murid-muridnya dipengaruhi oleh seorang filsuf ternama di
Swiss pada abad pertengahan 18, Jean Jacques Rousseau. Johann Pestalozzi, seorang yang
merupakan pejuang pendidikan, turut memberikan pengaruh besar bagi sistem pendidikan Swiss.
Johann Pestalozzi menekankan bahwa anak-anak sebaiknya belajar dari pengalaman mereka
sendiri. Seorang psikolog Swiss, Jean Piaget, turut berperan dalam menerapkan konsep
kemampuan belajar dan kebiasaan anak-anak dalam sistem pendidikan di Swiss.

Pemerintah Swiss sangat mengutamakan pendidikan warganya. Jika ada enam orang warganya
yang mengajukan untuk sekolah, pemerintah Swiss akan membangun sekolah dan menyediakan
guru untuk mereka beserta fasilitas lengkap. Hal ini berlaku bagi setiap warga negaranya, tidak
peduli ras atau agama mereka. Sekolah-sekolah negara di Swiss tidak dikenakan biaya. Setiap
sekolah di masing-masing canton (wilayah bagian negara) menggunakan bahasa resmi yang
biasa digunakan warga setempat. Siswa juga diwajibkan mempelajari bahasa negara kedua untuk
meningkatkan rasa kebangsaan mereka.

Peran Pendidikan dalam Internalisasi Karakter

Swiss berhasil menjadi sebuah bangsa yang berkarakter. Swiss sedang dan telah menghasilkan
sumberdaya manusia yang berkualitas yang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang
tinggi, tidak hanya kecerdasan otak kiri semata. Hasilnya adalah manusia-manusia berkarakter
yang diakui dunia.

Karakter dibentuk tidak melalui suatu proses yang singkat dan mudah. Karakter dibentuk melalui
proses panjang yang membutuhkan konsistensi dan kesinambungan, yang didukung oleh aspek
internal dan eksternal (keluarga, sekolah, dan lingkungan). Sekolah yang merupakan bagian
utama dari sistem pendidikan dijadikan Swiss sebagai media utama untuk menanamkan nilai-
nilai kepada warganya. Proses penanaman nilai-nilai ke dalam individu ini disebut sebagai
internalisasi. Swiss dengan jeli memanfaatkan usia emas anak, yaitu antara 0-5 tahun, untuk
memulai enkulturasi (pengenalan nilai-nilai), internalisasi, dan sosialisasi (penerapan) nilai-nilai
kehidupan. Pengaruh pendidikan pada masa ini sangat besar sehingga enkulturasi, internalisasi,
dan sosialisasi yang dilakukan pada masa ini akan mempermudah dan membuka jalan yang lebar
bagi pembentukan karakter anak di fase-fase kehidupan selanjutnya.

Internalisasi nilai-nilai dan etika yang berhasil adalah ketika terjadi perubahan. Perubahan ini
diwujudkan dalam bentuk perilaku individu tersebut yang akan menghasilkan individu yang
berkarakter. Perubahan dimulai dengan suatu proses pembelajaran. Konsep pembelajaran yang
diterapkan pada sistem pendidikan bangsa Swiss adalah konsep pengalaman. Sekolah tidak
hanya mengajarkan teori-teori tentang nilai-nilai atau etika kepada murid-muridnya, tetapi juga
aplikasi dari nilai-nilai itu ke dalam kehidupan sehari-hari.

”Character cannot be developed in ease and quite. Only through experience of trial and
suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”

(Hellen Keller)
Karakter hanya akan terbentuk melalui pengalaman. Sekolah-sekolah di Swiss mengajarkan
murid-muridnya tidak hanya sekadar mengetahui hal-hal baik (knowing the good) tetapi juga
merasakan dan menerapkannya pada perilaku di kehidupan (feeling and acting the good). Ada
sebuah peribahasa yang mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik. Ilmu dan
pengetahuan yang diimplementasikan ke dalam sebuah bentuk pengalaman akan sangat
membekas pada individu tersebut dan akan mengena ke alam bawah sadarnya. Pendidikan
karakter yang diperoleh siswa di sekolah dibantu oleh pengalamannya di lingkungan tempat
tinggal dan keluarga. Peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam membangun karakter
seorang individu.

Proses pembelajaran melalui pengalaman secara konsisten akan membentuk pribadi yang
berkarakter. Setelah melalui proses internalisasi karakter yang panjang dan sulit, Swiss
membuktikan keberhasilan hasil pendidikannya pada dunia sebagai bangsa yang berkarakter.
Karakter bangsa Swiss telah membawa Swiss sebagai negara makmur, aman, dan tentram. Hal
ini membuktikan bahwa betapa pendidikan memiliki peran yang besar dalam internalisasi
karakter.

Swiss telah menunjukkan bahwa sebuah negara yang terdiri atas individu-individu yang
berkarakter dapat membentuk sebuah bangsa yang berkarakter. Dunia yang terdiri atas bangsa-
bangsa yang berkarakter akan menciptakan tempat tinggal dan kehidupan yang jauh lebih baik.

Daftar Pustaka

Heatwole, Charles. 2008. Encarta Encyclopedia: Switzerland. Redmond, WA: Microsoft


Corporation

Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter: Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa.
Depok: Indonesia Heritage Foundation