Anda di halaman 1dari 8

SEMANGAAAT!!!!

Menyusui
1.

Bagaimana cara menyusui bayi yang benar


The American Academy of Pediatrics merekomendasikan ASI eksklusif selama 6

bulan

pertama

dan

selanjutnya

minimal

selama

tahun.

WHO

dan

UNICEF

merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan, menyusui dalam 1 jam pertama


setelah melahirkan, menyusui setiap kali bayi mau, tidak menggunakan botol dan dot.
Menyusui sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah melahirkan. Bayi dan ibu yang
melakukan proses menyusui dalam 1 jam pertama setelah melahirkan memiliki
keberhasilan yang lebih besar dari mereka yang menundanya. Bayi baru lahir sebaiknya
disusui setiap 2-3 jam sampai bayi merasa puas. Menyusui minimal 5 menit pada
masing-masing payudara pada hari pertama setelah melahirkan dan semakin meningkat
frekuensinya setiap hari sehingga dapat meningkatkan produksi ASI optimal. Waktu
menyusui 20 menit pada masing-masing payudara cukup untuk bayi. Tidak perlu
membatasi waktu menyusui. Frekuensi menyusui yang sering dapat meningkatkan
produksi

ASI,

mencegah

payudara

nyeri

dan

sakit

karena

penumpukan

dan

penggumpalan ASI, dan meminimalkan kemungkinan bayi menjadi kuning.


Jumlah ASI yang normal diproduksi pada akhir minggu pertama setelah
melahirkan adalah 550 ml per hari. Dalam 2-3 minggu, produksi ASI meningkat sampai
800 ml per hari. Jumlah produksi ASI dapat mencapai 1,5-2 L per harinya. Jumlah
produksi ASI tergantung dari berapa banyak bayi menyusu. Semakin sering bayi
menyusu, semakin banyak hormon prolaktin dilepaskan, dan semakin banyak produksi
ASI. Menyusui dapat berkaitan dengan ketidaknyamanan pada payudara. Nyeri pada
puting dapat diberikan krim vaselin. Perubahan posisi menyusui untuk memutar titik
stres pada puting juga sebaiknya dilakukan. Sebaiknya bayi berhenti dahulu menghisap
puting sebelum mengangkatnya dari payudara.
Wanita yang menyusui membutuhkan 500-1000 kalori lebih banyak dari wanita
yang tidak menyusui. Wanita menyusui rentan terhadap kekurangan magnesium,
vitamin B6, folat, kalsium, dan seng. ASI tidak memiliki suplai zat besi yang cukup untuk
bayi prematur atau bayi berusia lebih dari 6 bulan. Karena itu suplementasi zat besi
sebaiknya diberikan pada ibu menyusui dengan bayi prematur. Nutrisi yang tidak
adekuat dan stres dapat menurunkan jumlah produksi ASI.
Terdapat berbagai posisi untuk menyusui namun posisi yang baik adalah dimana
posisi kepala dan badan bayi berada pada garis yang lurus sehingga bayi dapat
menyusui dengan nyaman. Selain itu posisi ibu pun harus nyaman. Cara menyusui yang
benar adalah :
1.

Cobalah untuk menyangga punggung, bahu, dan leher bayi. Bayi sebaiknya

dapat menggerakkan kepalanya ke depan dan ke belakang dengan mudah


2.

Letakkan bayi dengan posisi hidungnya setara dengan puting sehingga bayi

akan melekat sempurna dengan payudara

3.

Tunggu sampai bayi membuka mulut lebar dengan lidah di bawah, ibu dapat

membuat bayi dalam posisi ini dengan merangsang bibir bagian atas bayi dengan
jari ibu
4.

Bayi anda akan mendekatkan kepalanya ke payudara dengan dahi terlebih

dahulu
5.

Bayi akan membuka mulutnya lebar untuk mencakup putting dan lingkaran

gelap di sekitar puting, puting ibu sebaiknya berada pada langit-langit mulut bayi
6.

Untuk merangsang bayi melepaskan mulutnya dari puting, dengan lembut

letakkan ujung jari ibu pada sudut mulut bayi dan bayi akan secara otomatis
membuka mulutnya. Jangan menarik secara paksa karena akan menimbulkan luka
pada putting
2.

Keuntungan Menyusui bagi Bayi


ASI menyediakan nutrisi lengkap bagi bayi. ASI mengandung protein, mineral,

air, lemak, serta laktosa. ASI memberikan seluruh kebutuhan nutrisi dan energi selama 1
bulan pertama, separuh atau lebih nutrisi selama 6 bulan kedua dalam tahun pertama,
dan 1/3 nutrisi atau lebih selama tahun kedua. ASI juga menyediakan perlindungan
terhadap infeksi dan penyembuhan yang lebih cepat dari infeksi. Imunoglobulin A
terdapat dalam jumlah yang banyak di dalam kolostrum sehingga memberikan bayi
tersebut kekebalan tubuh pasif terhadap infeksi. Terdapat faktor bifidus di dalam air
susu ibu yang menyebabkan pertumbuhan dari Lactobacillus bifidus yang dapat
menurunkan kumpulan bakteri patogen (menyebabkan penyakit pada manusia)
penyebab diare.
Berdasarkan penelitian di negara maju, ASI dapat menurunkan angka infeksi
saluran pernapasan bawah, otitis media (infeksi pada telinga tengah), meningitis bakteri
(radang selaput otak), infeksi saluran kemih, diare, dan necrotizing enterocolitis. Karena
protein yang terdapat pada ASI adalah protein yang spesifik untuk manusia, maka
pengenalan lebih lama terhadap protein asing atau protein lain yang terdapat di dalam
susu formula, dapat mengurangi dan memperlambat terjadinya alergi.
3.

Keuntungan bagi Ibu


Hormon oksitosin dilepaskan selama menyusui yang menyebabkan peningkatan

kontraksi rahim, mencegah involusi rahim, dan menurunkan angka kejadian perdarahan
setelah melahirkan. Wanita yang menyusui, menurunkan angka kejadian kanker indung
telur dan kanker payudara setelah menopause sesuai dengan lamanya waktu dia
menyusui. Wanita yang menyusui juga dapat mengurangi angka kejadian osteoporosis
dan patah tulang panggul setelah menopause, serta menurunkan kejadian obesitas
karena kehamilan. Meyusui dapat menciptakan ikatan antara ibu dengan bayi yang juga
dapat mengurangi biaya dibandingkan dengan pemakaian susu formula. Menyusui
memperlambat ovulasi (keluar dan matangnya sel telur) setelah melahirkan sehingga
menjadi suatu bentuk KB alamiah.

4.

Tanda bahwa bayi menyusu dengan benar

Mulut bayi seluruhnya tertangkup di puting dan payudara

Dahi bayi menyentuh payudara

Payudara tidak nyeri ketika disusui

Apabila ibu dapat melihat daerah gelap di sekitar payudaranya, maka ibu

seharusnya melihat daerah gelap tersebut lebih banyak di atas bibir bayi bagian atas
dibandingkan bibir bagian bawah

Pipi bayi tidak tertekan atau tetap pada posisinya

Bayi anda secara teratur menghisap dan menelan ASI, normal apabila sesekali

bayi berhenti

Apabila bayi sudah selesai menyusu maka dia akan melepaskan puting dengan

sendirinya
5.

Tanda bahwa bayi mendapatkan ASI dalam jumlah cukup adalah :

Bayi akan terlihat puas setelah menyusu

Bayi terlihat sehat dan berat badannya naik setelah 2 minggu pertama (100-200

g setiap minggu)

Puting dan payudara ibu tidak luka

Setelah beberapa hari menyusu, bayi akan buang air kecil minimal 6-8 kali

sehari dan buang air besar berwarna kuning 2 kali sehari

Apabila bayi selalu tidur dan tidak mau menyusui maka sebaiknya bayi

dibangunkan dan dirangsang untuk menyusui setiap 2-3 jam sekali setiap harinya.
6.

Hal yang Harus Diperhatikan ketika Menyusui

Beberapa hal yang membuat menyusui tidak diperkenankan adalah :

Ibu yang menggunakan obat-obatan terlarang atau alkohol dalam jumlah

berlebihan

Bayi dengan galaktosemia

Ibu dengan penyakit HIV/AIDS

Ibu dengan penyakit Tuberkulosis (TBC) yang tidak diobati dan masih aktif.

Wanita tersebut dapat memberikan ASI kepada bayinya apabila pengobatannya


sudah menujukkan keberhasilan terapi

Ibu

dengan

penyakit

varisela

(cacar).

Apabila

bayi

sudah

diberikan

Imunoglobulin virus varisela zoster, maka bayi tersebut dapat disusui apabila tidak
terdapat luka di puting. Dalam waktu 5 hari setelah lenting-lenting muncul, antibodi
ibu dibentuk, dan menyusui pada saat ini dapat memberikan kekebalan pasif bagi
bayi

7.

Herpes yang aktif pada payudara

Menyusui dapat dilakukan pada keadaan :

Infeksi Cytomegalovirus (CMV) bawaan atau didapat pada bayi yang sehat. Bayi

tersebut sebaiknya disusui karena ASI mengandung antibody

Ibu dengan penyakit Hepatitis B, apabila bayi sudah diberikan Imunoglobulin

Hepatitis B serta vaksin Hepatitis B (wanita dengan Hepatitis B yang sedang aktif
sebaiknya tidak menyusui)

Ibu dengan penyakit Hepatitis A, apabila bayi sudah menerima Imunoglobulin

Hepatitis A serta vaksin Hepatitis A

Masih merupakan kontroversi wanita dengan Hepatitis C dapat menyusui atau

tidak
8.

Obat-obatan selama Menyusui


Penggunaan obat-obatan antikanker, tirotoksik, dan obat imunosupresan

(penurun kekebalan tubuh) tidak diperbolehkan selama menyusui. Menyusui dapat


dilanjutkan apabila ibu sedang dalam terapi antibiotik. Meskipun obat antikejang yang
diminum oleh ibu terdapat juga di dalam ASI, namun obat ini tidak perlu dihentikan
kecuali bayi mengalami sedasi.
9.

Kontrasepsi selama Menyusui


Pada wanita yang tidak menyusui, waktu rata-rata ovulasi berikutnya adalah 45

hari setelah wanita tersebut melahirkan (jangka waktu 25-72 hari). Pada wanita
menyusui, waktu rata-rata ovulasi berikutnya adalah 190 hari.
a.

Metode Amenorea Laktasi. Metode ini dapat menyediakan proteksi sebesar 95-

99% dalam waktu 6 bulan setelah melahirkan apabila persyaratannya dipenuhi.


Menyusui setiap 4 jam di siang hari, dan setiap 6 jam di malam hari. Makanan
tambahan untuk bayi hanya 5-10% dari total
b.

Metode nonhormonal. Dapat dengan menggunakan kondom, spiral, atau

sterilisasi
c.

Kontrasepsi Progestin (minipil, suntik, susuk). Kontrasepsi progestin tidak

mengganggu kualitas dari ASI dan bahkan dapat meningkatkan jumlah dari ASI.
Merupakan metode kontrasepsi pilihan bagi wanita menyusui. Direkomendasikan
oleh ACOG penggunaan pil progestin 2-3 minggu setelah melahirkan, suntikan dan
susuk 6 minggu setelah melahirkan. Harus diingat mengenai penurunan efektivitas
dari kontrasepsi progestin pil apabila tidak diminum di waktu yang sama setiap
harinya
d.

Kontrasepsi kombinasi estrogen-progesteron. Kontrasepsi kombinasi dapat

menurunkan kualitas dan kuantitas dari ASI. WHO menganjurkan penggunaan pil ini
minimal 6 bulan setelah melahirkan
10. Mastitis
Mastitis adalah infeksi pada payudara yang terjadi pada 1-2% wanita yang
menyusui. Mastitis umum terjadi pada minggu 1-5 setelah melahirkan. Mastitis ditandai
dengan nyeri pada payudara, kemerahan, area payudara yang membengkak, demam,
menggigil, dan lemah. Penyebabnya adalah infeksi Stafilokokus aureus. Mastitis
ditangani dengan pemberian antibiotika.

D. Problema Ibu Menyusui Dan Penanganannya


1.

Putting susu datar/tertarik kedalam (Inverted Nipple) Penanganannya:

Dengan pengurutan putting susu, posisi putting susu ini akan menonjol keluar seperti
keadaan normal. Jika dengan pengurutan posisinya tidak menonjol, usaha selanjutnya
adalah dengan memakai Breast Shield atau dengan pompa payudara (Breast Pump). Jika
dengan cara-cara tersebut diatas tidka berhasil (ini merupakan True Inverted Nipple)
maka usaha koreksi selanjutnya adalah dengan tindakan pembedahan (operatif).
2.

Putting susu lecet (Abraded and or cracked nipple) Penyebabnya:

Tehnik menyusui yang kurang tepat.

Pembengkakan payudara

Iritasi dari bahan kimia, misalnya sabun

Moniliasis (infeksi jamur)

Penanganan:

Posisi bayi sewaktu menyusu harus baik

Hindari pembengkakan payudara dengan lebih seringnya bayi disusui, atau

mengeluarkan air susu dengan urutan (massage)

3.

Payudara dianginkan di udara terbuka

Putting susu diolesi dengan lanolin

Jika penyebabnya monilia, diberi pengobatan dengan tablet Nystatin.

Untuk mengurangi rasa sakit, diberi pengobatan dengan tablet analgetika.

Pembengkakan payudara (Engorgement)

Penyebab:
Pengeluaran air susu tidak lancar oleh karena putting susu jarang diisap.
Penanganan:

payudara dikompres dengan air hangat

payudara diurut sehingga air susu mengalir keluar, atu dengan pompa

payudara.

4.

Bayi disusui lebih sering

Untuk menghilangkan rasa sakit, diberi pengobatan dengan tablet analgetika

Saluran air susu tersumbat (Obstructed Duct)

Penyebab:
1.

Air susu mengental hingga menyumbat lumen saluran. Hal ini terjadi sebagai

akibat air susu jarang dikeluarkan.


2.

Adanya penekanan saluran air susu dari luar.

Penanganan:

5.

Payudara dikompres dengan air hangat, setelah itu bayi disusui

Payudara siurut (massage), setelah itu bayi disusui

Bayi disusui lebih sering

Bayi disusui mulai dengan payudara yang salurannya tersumbat.

Mastitis (peradangan payudara)

Penyebab:

Umumnya didahului dengan: putting susu lecet, saluran air susu tersumbat atau
pembengkakan payudara.
Penanganan:

Payudara dikompres dengan air hangat

Untuk mengurangi rasa sakit diberi pengobatan dengan tablet analgetika

Untuk mengatasi infeksi diberi pengobatan dengan antibiotika.

Bayi disusui mulai dengan payudara yang mengalami peradangan, dan ibu

jangan dianjurkan menghentikan menyusui bayinya.

6.

Istirahat yang cukup.]

Sekresi dan pengeluaran air susu kurang

Penyebabnya:

Isapan pada putting susu jarang, atau diisap terlalu singkat

Metode isapan bayi kurang efektif

Bayi sudah mendapat makanan tambahan hingga keinginan untuk menyusu

berkurang.

7.

Nutrisi (makanan) ibu kurang sempurna

Adanya hambatan atas lets down reflex, misalnya oleh karena stress atu cemas

Obat-obatan yang menghambat sekresi air susu

Kelainan hormonal

Kelainan parenchym payudara.

Abses payudara

Penyebab: Infeksi bakterial, khususnya staphylococcus virulent


Penanganan:

Kultur pus atau sekresi dari putting susu, untuk menentukan antibiotika yang

ampuh

Pus dikeluarkan dengan pompa payudara.

Atau kalau ada indikasi untuk tindakan operatif, dibuat pengeluaran (drainage)

pus

Jika penyebabnya bukan bakteri virulent, bayi dapat diberi air susu ibunya asal

saja si ibu sudah diberi antiobiotika 12 jam sebelumnya

Ibu dengan keadaan penyakitnya berat dan keadaan umum tidak baik, bayi

diberi ASI donor.


8.

Tumor Payudara

Tumor payudara yang dijumpai pada masa laktasi, sebaiknya dilakukan pemeriksaan
biopsi tanpa menghentikan laktasi. Dari pemeriksaan patologi sediaan biopsi ini, sikap
tentang laktasi diputuskan. Laktasi dapat dilanjutkan jika tumor jinak, kemudian tumor
dieksterpasi (dibuang).Jika ibu mendesak untuk segera dilakukan ekstirpasi, maka
permintaan ini dikabulkan tanpa menghentikan laktasi. Jika ternyata jenis tumor ganas
(kanker), maka laktasi segera dihentikan (bayi disapih). Kanker payudara lebih sering
dijumpai pada kelompok ibu yang tidakmenyusui bayinya dibandingkan dengan
kelompok ibu yang menyusui bayi.
9.

Ibu menderita hepatitis atau pembawa kuman (carrier)

Ibu yang darahnya mengandung hepatitis B antigen dapat menularkannya ke bayi


semasa hamil (transplacental), pada waktu persalinan, dan akibat hubungan (kontak)
yang berlangsung lama antara ibu-bayi. Penularan dari ibu kepada bayi ini dikenal
dengan istilah Vertical Transmission. Beberapa peneliti melaporkan bahwa air susu
penderita Hepatitis B mengandung hepatitis B antigen, tetapi penularan melalui ASI
belum dapat dipastikan. Bayi yang lahir harus diberi Hepatitis B immunoglobulin. Ibu
yang dalam keadaan infeksi aktif tidak dianjurkan untuk menyusui bayinya.
10. Herpes
Ibu yang mendapat infeksi CMV dapat menularkannya melalui ASI. Untuk mencegah
penularan, laktai dihentikan.
11. Persalinan operatif (seksio sesarea)
Seksio sesarea tanpa komplikasi berat, ibu dapat menyusui bayinya 12 jam pasca
persalinan. Sebaiknya obat-obatan untuk si ibu diberikan setelah bayi disusui. Bayi yang
dilahirkan dengan seksio sasarea dan belum dapat disusui, ASI harus dipompa dan
diberikan kepada bayinya dengan menggunakan sendok teh.
12. Toksemia
Persalinan pada ibu yang menderita pre eklampsia/eklampsia yang masih mendapat
pengobatan diuretik, antihipertensi ataupun sedativa, sebaiknya bayi jangan diberi ASI.
ASI dipompa dan dibuang, dan bayi diberi air susu ibu dari donor. Setelah kondisi ibu
pulih dan obat-obatan dihentikan, ibu dianjurkan menyusui bayinya.
13. Tuberkulosis
Ibu yang menderita TBC boleh menyusui bayinya. Si Ibu diberi pengobatan dan bayi
diberi INH atau divaksinasi dengan BCG dari jenis INH resistant straint. Ibu yang
menderita TBC payudara TBC payudara tidka dianjurkan menyusui bayinya.
14. Lepra Ibu penderita lepra dibolehkan menyusui bayinya. Ibu dan bayi berhubungan
hanya waktu menyusui, setelah selesai, dipisah kembali. Ibu dan bayi diberi pengobatan
oral diaminodiphenyl sulfone.
15. Diare oleh sebab infeksi bacterial Ibu yang menderita diare oleh bakteri boleh
menyusui bayinya setelah lebih dahulu si Ibu diberi pengobatan.
16. Diabetes mellitus
Penderita diabetes mellitus dibolehkan menyusui bayinya.
17. Hypertyroidisme
Ibu penderita hypertyroidisme boleh menyusui bayinya, asal saja kadar T4 dan TSH
dalam darah bayi diukur secara berkala.
18. Psikosis
Ibu

yang

menderita

psikosis

tidak

dianjurkan

menyusui

bayinya

oleh

karena

dikhawatirkan bayi mendapat perlakuan buruk.


19. Ibu bekerja
Penyebab utama penyapihan bayi adalah ibu yang aktif bekerja. Sebaiknya diberi
kesempatan pada si Ibu untuk menyusui bayinya ditempat ia bekerja.
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian diatas kita tahu bahwa, bila ditinjau menurut ilmu kesehatan
khususnya ilmu kebidanan yang mempelajari tentang bagaimana proses pertama
kehamilan sampai bayi lahir bahwa kadang kala sang ibu mengambil tindakan yang
kurang tepat dalam merawat bayinya baik masih dalam kandungan maupun setelah
melahirkan. Jadi makalah ini membahas tentang bagaimana cara sang ibu merawat
bayinya, merawat dirinya demi kesehatan sang bayi.
Pada saat menyusui sangat dilarang untuk memberikan susu selain ASI kepada
sang bayi. Karena ASI sangat baik untuk kesehatan sang bayi, kecuali disebabkan oleh
hal seperti sakitnya sang ibu yang ASI nya tidak bisa di minum oleh bayinya.
Makalah ini juga membahas tentang problema menyusui dan penanganannya.
B. Saran

Keberhasilan program laktasi harus didukung oleh kemauan dan adanya pengetahuan ibu,
petugas kesehatan, dan kelonggaran dari instansi tempat bekerja bagi ibu yang bekerja. Problema
yang timbul harus diatasi bersama dalam rangka mendapatkan generasi mendatang yang
sempurna fisik dan mental.