Anda di halaman 1dari 10

Kasus penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan

kerapu. Sedangkan kasus penyakit pada ikan bandeng selama ini jarang ditemukan.

Penyakitbakterial
Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu, diantaranya adalah penyakit
borok pangkal strip ekor (Gambar 1), dan penyakit mulut merah. Hasil isolasi dan
identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan
kasus penyakit bakterial, yaitu Vibrio alginolyticus, V algosus, V anguillarum dan V
fuscus. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan
jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus.
1.Vibrioa lginolyticusVibrio alginolyticus dicirikan dengan pertumbuhannya yang bersifat

swarm (Gambar 2) pada media padat non selektif. Ciri lain adalah gram negatif, motil, bentuk
batang, fermentasi glukosa, laktosa, sukrosa dan maltosa, membentuk kolom berukuran 0.8-1.2
cm yang berwarna kuning pada media TCBS. Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang paling
patogen pada ikan kerapu tikus dibandingkan jenis bakteri lainnya. Nilai konsentrasi letal
median (LC50) adalah sebesar 106.6 pada ikan dengan berat antara 5-10 gram. Kematian masal
pada benih diduga disebabkan oleh infeksi bakteri V alginolyticus. Pengendalian penyakit dapat
dilakukan dengan penggunaan berbagai jenis antibiotika seperti Chloramfenikol, eritromisina
dan oksitetrasiklin. Sifat lain yang tidak kalah penting adalah sifat proteolitik yang berkaitan
dengan mekanisme infeksi bakteri.
2. Vibrio anguillarumDibandingkan dengan V alginolyticus, V anguillarum merupakan spesies

yang kurang patogen terhadap ikan air payau. Pada uji patogenisitas ikan kerapu tikus ukuran 5
gram yang diinfeksi bakteri dengan kepadatan tinggi hingga 10 8 CFU/ikan hanya
mengakibatkan mortalitas 20%.
Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan melakukan isolasi dan identifikasi bakteri.
Penumbuhan bakteri pada media selektif TCBS akan didapatkan koloni yang kekuningan
dengan ukuran yang hampir sama dengan koloni V alginolyticus akan tetapi bakteri ini tidak
tumbuh swarm pada media padat non-selektif seperti NA.
Penyakit protozoa
1.Cryptocaryonosis
Penyakit ini sering ditemukan pada ikan kerapu bebek dan macan, dengan tanda ikan yang
tersering terlihat bercak putih. Stadia parasit yang menginfeksi ikan dan menimbulkan penyakit
adalah disebut trophont berbentuk seperti kantong atau genta (Gambar 3) berukuran antara 0.30.5 mm, dan dilengkapi dengan silia.
Tanda klinis ikan yang terserang adalah ikan seperti ada gangguan pernafasan, bercak putih
pada kulit, produksi mukus yang berlebihan, kadang disertai dengan hemoragi, kehilangan nafsu
makan sehingga ikan menjadi kurus. Erosi (borok) dapat terjadi karena infeksi sekunder dari
bakteri.
Diagnosis dapat dilakukan dengan melihat gejala seperti adanya bercak putih, tetapi untuk lebih
memantapkan (diagnosis definitif) perlu dilakukan pengamatan secara mikroskopis dengan cara
memotong insang, mengerok dari lendir.
Serangan penyakit dapat diatasi dengan penjagaan kualitas air. Perlakuan bahan kimia
pengendali parasit dapat dilakukan seperti perendaman dalam larutan formalin 25 ppm,

perendaman ikan dalam air bersalinitas 8 ppt selama beberapa jam dan memindahkan ikan yang
sudah diperlakukan ke dalam wadah barn bebas parasit.
2.InfestasiTrichodina
Penempelan Trichodina (Gambar 4) pada tubuh ikan sebenarnya hanya sebagai tempat
pelekatan (substrat), sementara parasit ini mengambil partikel organik dan bakteri yang
menempel di kulit ikan. Tetapi karena pelekatan yang kuat dan terdapatnya kait pada cakram,
mengakibatkan seringkali timbul luka, terutama pada benih dan ikan muda. Pelekatan pada
insang juga seringkali disertai luka dan sering ditemukan set darah merah dalam vakuola
makanan Trichodina. Pada kondisi ini maka Trichodina merupakan ektoparasit sejati.
Trichodina yang merupakan ektoparasit pada ikan air laut mempakan spesies yang bersifat
sebetulnya lebih bersifat komensal daripada ektoparasit. Trichodina spp. yang didapatkan pada
ikan air payau merupakan spesies yang memiliki toleransi yang luas terhadap kisaran salinitas.
Trichodina yang menempel di insang umunmya berukuran lebih kecil dibandingkan yang hidup
di kulit, contohnya adalah Trichodinella.
Ikan yang terserang Trichodina biasanya warna tubuhnya terlihat pucat, produksi lendir yang
berlebihan dan terlihat kurus. Diagnosis dapat dilakukan dengan cara melakukan pengerokan
(scraping) pada kulit, atau mengambil lembaran insang dan melakukan pemeriksaan secara
mikroskopis.
Pencegahan terhadap wabah penyakit adalah dengan cara pengendalian kualitas lingkungan,
karena mewabahnya penyakit berkaitan dengan rendahnya kualitas lingkungan. Perlakuan
terhadap ikan yang terinfeksi oleh parasit adalah dengan cara perendaman dalam larutan
formalin 200-300 ppm.
3.Caligussp.,parasitgolonganCrustacea
Parasit jenis ini sering, ditemukan baik pada induk ikan maupun di tambak. Penempelan
ektoparasit ini dapat menimbulkan luka, dan akan lebih parah lagi karena ikan yang terinfeksi
dengan parasit sering menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding bak atau substrat keras
lainnya. Timbulnya luka akan diikuti dengan infeksi bakteri.
Caligus sp. berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan tanpa bantuan mikroskop.
Perlakuan ikan terserang parasit cukup mudah, yaitu hanya merendamnya dalam air tawar
selama beberapa menit. Perlakuan dengan formalin 200-250 ppm juga cukup efektif.
Penggunaan bahan seperti Triclorvon (Dyvon 95 SP) hiingga 2 ppm dapat mematikan parasit.

Definisi penyakit dalam patologi ikan


Penyakit didefinisikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi, dan atau fungsi yang mengalami
perubahan dari kondisi normal karena beberapa penyebab, dan terbagi atas dua kelompok
yaitu penyebab dari dalam (internal) dan luar (eksternal). Penyakit ikan umumnya adalah
eksternal. Penyakit internal : genetik, sekresi internal, imunodefisiensi, saraf dan metabolik.
Penyakit
eksternal
:
1). Non patogen

Penyakit lingkungan :suhu dan kualitas air lainnya (pH, kelarutan gas, zat beracun).
Penyakit nutrisi : kekurangan nutrisi, gejala keracunan bahan pakan.

2). Patogen; bersifat parasit dan terdiri atas empat kelompok yaitu :
Penyakit viral
Penyakit jamur
Penyakit bakterial

Tabel 1. Karakteristik setiap kelompok patogen


Karakteristik

Virus

Ukuran
(Penyaring
0,45m)

Besar
dari Besar
dari
0,6-30 m (tidak
25-350 nm (dapat
beberapa mikron ebberapa
mikron
dapat
melalui
melalui penyaring)
(tidak
dapat (tidak dapat melalui
penyaring)
melalui penyaring) penyaring)

Reproduksi

Bakteri

Transkripsi/reproduksi
pada inang DNA atau
Segmentasi
RNA

Pada media

Jamur

Parasit

Produksi spora

Produksi
telur/spora

Pada media

Pada
umumnya
membutuhkan
inang hidup

Kultur

Pada sel

Deteksi

- Kultur pada
PCR
agar
Kultur
sel
- Kultur pada agar
Mikroskop
Mikroskop
- Secara imunologi
- Mikroskop
Secara
- Mikroskop elektron
imunologi

Identifikasi

Secara
biokimia
Secara
genetik
Secara Secara morfologi
- Secara morfologi
morfologi
- Secara genetik

Secara morfologi

Karakteristik penyakit infeksi pada ikan


Ikan merupakan salah satu hewan air yang selalu bersentuhan dengan lingkungan perairan
sehingga mudah terinfeksi patogen melalui air. Infeksi bakteri dan parasit tidak terjadi pada
hewan darat melalui perantara udara, namun pada ikan sering terjadi melalui air. Pada
budidaya, air tidak hanya sebagai tempat hidup bagi ikan, tapi juga sebagai perantara bagi
patogen.
Istilah penting penyakit infeksi pada ikan
Istilah penting yang seringkali digunakan dalam penyakit infeksi ikan adalah sebagai berikut :

Epidemiologi : ilmu yang mempelajari hubungan berbagai faktor yang mempengaruhi


frekuensi dan penyebaran penyakit pada suatu komunitas.
Penyebaran vertikal : penyebaran penyakit dari suatu generasi ke generasi selanjutnya
melalui telur.
Penyebaran horisontal : penyebaran penyakit dari ikan satu ke ikan yang lain pada
kelompok ikan dan waktu yang sama.
Carrier : hewan yang membawa organisme penyebab penyakit dalam tubuhnya, namun
hewan tersebut terlihat sehat sehingga menjadi pembawa atau penyebar infeksi.
Vektor : hewan yang menjadi perantara organisme penyebab penyakit dari inang yang
satu
ke
inang
yang
lain.
Contoh : siput, burung.
Patogenisitas : kemampuan untuk dapat menyebabkan terjadinya penyakit.

Virulensi : derajat patogenisitas suatu mikroorganisme.


Kisaran inang : kisaran hewan-hewan yang dapat diinfeksi oleh patogen.

Tabel 2. Patogen pada ikan budidaya air tawar di Indonesia


Spesies Ikan

Virus

Bakteri

Jamur

Parasit

Virus
Ikan
Mas
Aeromonas
Herpes
(Cyprinus carpio)
flavobacterium
Koi (KHV)

Trichodina , Ichthyophthirius,
Chilodonella,
Myxobolus,
Achiya
Argulus, Lemaea, Dactylogyrus,
Aphanomyces
Gyrodactylus,
Cestoda,
Digenetik, Glochidium

Ikan
Nila
(Oreochromis sp)

Streptococcus
flavobacterium

Achiya

Trichodina
,Chilodonella,
Dactylogyrus, Gyrodactylus

Ikan
Patin
(Pangasius sp)

Edwardsiella
flavobacterium

Achiya

Trichodina,
Ichthyophthirius,
Dactylogyrus

Ikan
Betutu
(Oxyeleotris
marmorata)

Streptococcus

Achiya

Trichodina
Dactylogyrus

Ikan Botia (Botia


macrac anthus)

Flavobacterium

Trichodina
Oodinium

Oodium,
Argulus,
,

Lemaea,

Ichthyophthirius,

Prosedur diagnosa di lapangan

Pengukuran panjang dan berat ikan.


Pengamatan tanda-tanda luar pada permukaan tubuh dan insang.
Gunting lembaran insang dan ambil lendir tubuh untuk mendeteksi parasit di bawah
mikroskop.
Ambil contoh darah dari sirip dada menggunakan jarum suntik untuk pembuatan
preparat apusan darah dengan menggunakan pewarnaan Giemsa.
Isolasi jamur dengan menggunakan agar GY jika diduga terjadi infeksi jamur. vi. Isolasi
bakteri dari sirip atau insang dengan menggunakan agar cytophaga, jika diamati adanya
insang atau sirip yang membusuk.
Isolasi bakteri dari luka dengan menggunakan agar TS atau BHI, jika ikan memiliki
borok atau ada pembengkakan pada permukaan tubuh.
Bedah ikan dengan peralatan bedah yang bersih untuk membuka rongga perut dan
amati tanda-tanda internal.
Isolasi bakteri dari hati, ginjal dan limpa dengan menggunakan agar TS atau BHI. x.
Pembuatan preparat limpa pada kaca preparat dengan pewarnaan Giemsa untuk
mendeteksi infeksi bakteri.
Fiksasi setiap organ dengan larutan formalin 10I berpenyangga fosfat- untuk
histopatologi dan dalam etanol 70% untuk uji PCR.

Pekerjaan di laboratorium
Pekerjaan yang paling penting bagi ahli penyakit adalah mendiagnosa penyakit. Jika
diagnosanya salah, maka penanganannya juga akan salah. Bila terlalu lama untuk
mendiagnosa penyakit, ikan mati sebelum pengobatan dilakukan, diagnosa harus tepat dan
cepat. Prosedur diagnosa adalah sebagai berikut : pertama, coba isolasi patogen dari ikan yang
sakit (kecuali untuk infeksi oleh virus); kedua, patogen yang diisolasi diinfeksikan ke ikan yang
sehat. Bila diduga virus, larutan yang sudah disaring dengan menggunakan saringan 0,45 m
homogen, diinfeksikan ke ikan yang sehat. Jika ikan yang sekarat (moribund) dengan gejala
seperti ikan yang sakit tersebut, hal ini membuktikan bahwa yang diisolasikan tersebut
merupakan penyebab penyakit. Dengan demikian, penyebab penyakit teridentifikasi sebagai
spesies yang sama dengan patogen sebelumnya. Diagnosa penyakit ikan dapat menjadi

lengkap dengan adanya identifikasi penyebab penyakit. Metode pemeriksaan untuk konfirmasi
diagnosa berbeda untuk setiap jenis patogen, virus, bakteri, jamur dan parasit.
Tindakan penanganan

Penyakit viral : jika ikan terinfeksi oleh virus sangatlah sulit untuk diobati. Ada dua cara
tindakan pencegahan yaitu membersihkan virus penyebab penyakit dari lingkungan clan
meningkatkan kekebalan ikan terhadap viral. Tindakan pencegahan pertama, desinfeksi
semua wadah clan peralatan, seleksi incluk clan telur bebas virus. Tindakan selanjutnya
bila memungkinkan adalah meningkatkan kualitas telur, penggunaan vaksin clan
immunostimulan atau vitamin. Diantara tindakan penanganan yang ada, vaksin merupakan
tindakan yang paling efektif untuk mencegah penyakit viral. Sampai sekarang, vaksin untuk
beberapa penyakit viral telah dikembangkan sebagai komoditas komersial, tapi untuk virus
herpes koi belum dilakukan. Di masa yang akan datang, vaksin terhadap virus herpes koi
dapat dikembangkan.
Penyakit bakterial : penyakit bakterial dapat diobati dengan antibiotika. Namun,
penggunaan antibiotika yang tidak tepat menghasilkan efek yang negatif. Itulah sebabnya
pemilihan antibiotika yang tepat merupakan pekerjaan yang paling penting untuk masalah
infeksi bakteri. Pemilihan antibiotika dilakukan berdasarkan hasil uji sensitivitas obat.
Antibiotika dapat mengobati dengan cepat ikan yang terinfeksi dengan bakteri, namun
dapat menyebabkan timbulnya bakteri yang resisten terhadap antibiotika. Dari hal tersebut,
pengembangan vaksin terhadap setiap penyakit bakterial sangatlah penting.
Penyakit jamur : sampai sekarang belum dikembangkan tindakan penanganan untuk
infeksi jamur pada hewan air. Jadi pencegahan tindakan yang dapat dilakukan. Spora yang
berenang di air untuk menemukan inang menunjukkan sensitivitas terhadap beberapa zat
kimia.
Penyakit parasitik : pada umumnya ektoparasit dapat ditangani dengan zat kimia.
Namun, telur dan siste memiliki resistensi terhadap zat kimia. Berdasarkan keberadaan
parasit, pengobatan kedua harus dilakukan setelah spora atau oncomiracidium menetas.
Untuk menentukan jadwal pengobatan untuk setiap parasit, studi siklus hidup parasit
sangatlah penting.

Munculnya penyakit pada ikan umumnya merupakan hasil interaksi kompleks/tidak


seimbang antara tiga komponen dalam ekosistem perairan yaitu inang (ikan) yang
lemah, patogen yang ganas serta kulitas lingkungan yang memburuk.
Dalam melakukan usaha budidaya ikan, para pembudidaya melakukannya ada yang
secara intensif, semi intensif atau asal saja. Semakin intensif sistem budidaya yang
diterapkan maka semakin kompleks pula kehadiran penyakit yang akan muncul.
Penyakit yang menyerang ikan banyak macam dan ragamnya. Tetapi secara umum
penyakit ikan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu penyakit infeksius dan non
infeksius. Jenis penyakit infeksius terdiri dari penyakit yang disebabkan oleh parasit,
jamur bakteri dan visrus. Sedangkan jenis penyakit non-infeksius disebabkan oleh
lingkungan, makanan dan genetis.
Penyakit Infeksius.
1. Parasit
Penyakit yang disebabkan oleh parasit secara umum jarang mengakibatkan penyakit
yang sporadis. Tetapi untuk intesitas penyerangan yang sangat tinggi dan areal yang
terbatas dapat berakibat sporadis. Akibat dari penyakit yang disebabkan oleh parasit
secara ekonomis cukup merugikan yaitu dapat menyebabkan kematian, menurunkan
bobot, bentuk serta ketahanan tubuh ikan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai jalan
masuk bagi infeksi sekunder oleh patogen lain seperti jamur, bakteri dan virus.
Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini terdiri dari protozoa dan metazoa. Protozoa

bersifat parasitik terhadap ikan dan jumlahnya lebih dari 2000 jenis. Salah satu jenis
protozoa ang paling sering menjadi kendala dalam budidaya ikan adalah
Ichthyophthirius multifiliis atau ich (penyakit bintik putih). Sifat serangannya sangat
sporadis dan kematian yang diakibatkannya dapat mencapai 100 % populasi dalam
tempo yang relatif singkat.
Secara umum gejala ikan yang terserang protozoa adalah
- ikan tampak pucat
- nafsu makan kurang
- gerakan lambat dan sering menggososk-gosokkan tubuhnya ada dinding kolam
- pada infeksi lanjut ikan megap-megap dan meloncat-loncat ke permukaan air untuk
mengambil oksigen
- adanya bercak-bercak putih pada permukaan tubuh ikan
Parasit dari golongan metazoa antara lain Monogenetic trematod (golongan cacing),
cestoda, nematoda, Cepopoda (Argulus sp, Lernaea sp dan golongan Isopoda. Organ
yang menjadi target serangan parasit ini adalah insang. Penularan terjadi secara
horisontal terutama pada saat cacing dalam fase berenang bebas yang sangat infektif.
Secara umum gejala dari serangan metazoa adalah :
- ikan tampak lemah
- tidak nafsu makan
- pertumbuhan lambat tingkah laku dan berenang tidak normal disertai produksi lendir
yang berlebihan
- ikan sering terlihat berkumpul disekitar air masuk karena kualitas dan kadar oksigen
lebih tinggi
- insang tampak pucat dan membengkak sehingga overculum terbuka
- ikan sulit bernafas seperti gejala kekurangan oksigen
- peradangan pada kulit akan mengakibatkan ikan menggoso-gosok badannya pada
benda sekitar
- badan kemerahan disekitar lokasi penempelan parasit
- pada infeksi berat parasit ini kadang dapat terlihat dengan mata telanjang pada
permukaan kulit ikan.
2. Jamur
Jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur bersifat infeksi sekunder. Semua jenis ikan
air tawar termasuk telurnya rentan terhadap infeksi jamur. Jenis jamur yang sering
menjadi kendala adalah dari famili saprolegniaceae. Beberapa faktor yang sering
memicu terjadinya infeksi jamur adalah penanganan yang kurang baik (transportasi)
sehingga menimbulkan luka pada tubuh ikan, kekurangan gizi, suhu dan oksigen terlarut
yang rendah, bahan organik tinggi, kulaitas telur buruk/tidak terbuahi dan padatnya telur
pada kakaban. Penyakit ini menular terutama melalui spora di air. Gejala-gejalanya
dapat dilihat secara klinis adanya benang-benang halus menyerupai kapas yang
menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal ikan.
3. Bakteri
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah penyakit yang paling banyak
menyebabkan kegagalan pada budidaya ikan air tawar. Penyakit akibat infeksi bakterial
masih sering terjadi dengan intensitas yang variatif. Umumnya pembudidaya masih
mengandalakan antibiotik sebagai magic bullet untuk melawan penyakit bakterial.
Jenis penyakit yang disebabkan oleh bakteri antara lain adalah penyakit merah yang

disebabkan oleh bakteri garam negatif (Aeromonas hydrophila), penyakit columnaris


atau luka kulit, sirip dan insang yang disebabkan oleh infeksi bakteri Flavobacterium
columnare, penyakit tubercolosis yang tergolong sangat kronis disebabkan oleh bakteri
gram positif Mycobacterium spp. dan penyakit Streptococciasis yang disebabkan oleh
bakteri gram positif Streptococcus spp.
4. Virus
Patogen virus juga menyebabkan penyakit pada budidaya ikan air tawar. Belum banyak
diketahui penyakit yang disebabkan oleh virus di Indonesia kecuali penyakit
Lymphocystis dan Koi Hervesvirus (KHV). Infeksi lymphoccystis hanya bersifat kronis
dan bila menyerang ikan hias akan mengalami kerugian yang berarti karena merusak
keindahan ikan.
Sampai saat ini KHV merupakan penyakit yang paling serius dan sporadis terutama
untuk komoditi ikan mas dan koi.
Penyakit Non-Infeksi
1. Penyakit akibat lingkungan
Faktor lingkungan dalam kegiatan budidaya ikan air tawar mempunyai pengaruh yang
sangat tinggi. Lingkungan juga dapat mendatangkan penyakit dari kegiatan budidaya
air tawar. Pengaruh dari penyakit yang diakibatkan oleh faktor lingkungan sering
mengakibatkan kerugian yang serius karena kematian yang berlangsung sangat cepat
dan tiba-tiba dan mematikan seluruh populasi ikan. Penyebabnya misalnya ada
upwelling, keracunan akibat peledakan populasi plankton, keracunan pestisida/limbah
industri, bahan kimia dan lainnya.
Faktor lingkungan yang buruk akan menyebabkan ikan menjadi
- tercekik, yaitu kekurangan oksigen yang umumnya terjadi menjelang pagi hari pada
perairan yang punya populasi phytoplankton tinggi.
- Keracunan nitrit, yang sering disebut penyakit darah cokelat karena disebabkan oleh
konsentrasi nitrit yang tinggi di dalam air yang berasal dari hasil metabolisma ikan.
- Keracunan amonia, terjadi hampir sama dengan nitrit tetapi pada umunya karena
pengaruh pemberian pakan yang berlebihan atau bahan organik, sedangkan populasi
bakteri pengurai tidak mencukupi. Yang sangat beracun adalah dalam bentuk NH3
- Fluktuasi air yang ekstrim, dimana perubahan suhu air yang ekstrim akan merusak
keseimbangan hormonoal dan fisiologis tubuh ikan dan pada umumnya ikan tidak
mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan dan mengakibatkan ikan stress bahkan
kematian.
- Limbah pollutan, yang terdiri dari logam-logam berat cukup berbahaya bagi ikan
karena sifat racunnya yaitu Hg, Cd, Cu, Zn, Ni, Pb, Cr, Al dan Co juga dapat
menyebabkan penyakit bagi ikan. Sifat dari masing-masing logam berat tersebut dapat
meningkat apabila komposisi ion-ion di dalam air terdiri dari jenis-jenis ion yang
sinergik. Selain komposisi ion, nilai PH juga berpengaruh terhadap tingkat kelarutan
ion-ion loga. Bila kadarnya tinggi menyebabkan ikan-ikan stress dan bila terus
meningkat dapat menyebabkan kematian.
2. Penyakit Malnutrisi
Pemberian pakan yang berlebihan/kekurangan dan tidak teratur juga dapat
menyebabkan penyakit pada ikan. Penyakit karena malnutrisi jarang menunjukkan
gejala spesifik sehingga agak sulit didiagnosa penyebab utamanya. Tetapi dalam diet

pakan dapat mengakibatkan kelainan fungsi morfologis dan biologis seperti defisiensi
asam pantothenic penyakit jaring insang ikan yang dapat menyebabkan ikan sulit
bernafas yang diikuti dengan kematian, defisiensi vitamin A yang menyebabkan mata
menonjol/buta dan terjadi pendarahan pada kulit juga ginjal, defisiensi vitamin B-1
yang menyebabkan kehilangan nafsu makan, pendarahan dan penyumbatan pembuluh
darah, defisiensi asam lemak essensial yang berakibat infiltrasi lemak pada kulit dan
minimnya pigmentasi pada tubuh ikan. Yang cukup berbahaya adalah karena defisiensi
vitamin C yang merupakan penyakit yang umum terjadi dimana akibat yang paling
populer adalah broken back syndrome seperti scoliosis dan lordosis
3. Penyakit Genetis
Salah satu penyebab penyakit yang kompleks pada kegiatan budidaya ikan air tawar
karena adanya faktor genetik terutama karena adanya perkawinan satu keturunan
(inbreeding). Pemijahan inbreeding yang dilakukan secara terus-menerus akan
menurunkan kualitas ikan berupa variasi genetik dalam tubuh ikan. Akibat dari
pemijahan secara inbreeding adalah :
- pertumbuhan ikan lambat (bantet/kontet) dan ukuran beragam
- lebih sensitif terhadap infeksi patogen
- organ tubuh badan yang tidan sempurna serta kelainan lainnya
Demikain secara garis besar penyakit-penyakit yang biasa menyerang dan dihadapi oleh
pembudiaya ikan. Semoga informasi yang ringkas ini dapat bermanfaat khususnya bagi
para pembudidaya ikan air tawar. Untuk informasi tentang cara pengendalian penyakitpenyakit tersebut akan ditampilkan dalam edisi selanjutnya.
.2.CILIATA

Parasit tersebut bisasanya bergerak dengan menggunakan bulu-bulu getar (cilia). Parasit
tersebut biasanya menginfeksi kulit, sirip dan insang ikan. Adapun beberapa penyakit yang
diakibatkan oleh ciliate antara lainadalah
1.lchthyophthiriasis
Penyebabnya adalah lchthyophthirius multifiliis. Penyakit ini sering disebut dengan penyakit
bintik butih sesuai dengan gejala klinis yang ditimbulkannya. Jenis ikan yang dapat terinfeksi
oleh penyakit ini adalah hampir semua jenis ikan air tawar. termasuk ikan hias. Ukuran ikan
yang banyak terinfeksi adalah ikan benih atau kalau pada ikan Mas ukuran dewasapun akan
dapat terinfeksi. Gejala klinisnya mudah diamati yaitu dengan adanya bintik-bintik putih pada
bagian tubuh yang terinfeksi. ikan yang terinfeksi menggosok-gosokkan tubuhnya pada
dasar/dinding wadahbudidaya.
Ikan terlihat megap-megap terutama apabila parasit tersebut menginfeksi insang. Pada keadaan
demikian biasanya kematian ikan akan tingggi, karena ikan mengalami gangguan penyerapan
oksigen akibat dari terinfeksinya insang ikan tersebut.
Pencegahan penyakit ini yaitu antara lain
- Penggunaan air yang kualitasnya balk
- Peralatan yang digunakan hendaknya didesinfeksi terlebih dahulu
- Pertahankan suhu air pada level 28C.
Pengobatan ikan yang terinfeksi dapat dilakukan dengan cara: merendam ikan yang terinfeksi
dengan campuran formalin 25 ppm selama 24 jam. Memindah ikan ke air dengan suhu 28C

akan membantu merontokkan parasit tersebut.


Tricodiniasis
Penyebabnyua adalah : Trichodina sp dan Trichodinella sp. Trichodina sp. menginfeksi kulit
dan sirip insang, sedangkan Trichodinella sp. Menginfeksi insang ikan. Namun pada keadaan
infeksi berat maka Trichodina pun dapat kita jumpai menginfeksi insang. Parasit ini
menginfeksi hampir semua jenis ikan baik ikan air tawar maupun ikan laut, terutama pada
stadium benih. Gejala klinis ikan yang terinfeksi adalah ikan lemah, warna tubuh tidak cerah/
kusam dan sering menggosok-gosokkan tubuhnya pada bagian dinding atau dasar kolam.
Kualitas air yang kurang baik terutama kandungan oksigen yang rendah, kepadatan ikan yang
terlalu tinggi akan mendukung timbulnya penyakit tersebut.
Penularan penyakit ini bisa melalui air atau kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi.
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan cara perbaikan mutua air, serta mengurangi
kepadatan ikan. Pengobatan bagi ikan yang terinfeksi dapat dilakukan dengan merendam ikan
tersebut pada larutan formali 40 ppm selama 12-24 jam.
3. Tetrahymena sp.
Penyakit ini terutama pada ikan hias dan ikan lele pada awal stadium kehidupannya (benih), dan
merupakan parasit fakultatif hanya terdapat pada air tawar. Terdapat pada kulit dan sirip tapi
kadang-kadang ditemukan padainsang. Gejala klinis yang dapat diamati yaitu warna ikan agak
kusam, gerakan ikan lamban, dan kalau parasit ini menginfeksi insang maka ikan akan kelihatan
megap-megap. Kondisi yang memicu infeksi parasit ini adalah kualitas air yang buruk, serta
kepadatan ikan yang terlalu tinggi.
Pencegahan : perbaikan kualitas air dan lingkungan serta mengurangkan kepadatan ikan. Obat
yang dapat digunakan untuk mengobati ikan yang terinfeksi adalah sama dengan yang
digunakan untuk mengobati penyakit Ichthyophthiriasis.
4. Epistylis spp.
Parasit ini merupakan parasit yang umum terdapat di Asia Tenggara. Ikan yang terinfeksi
terutama ikan air tawar seperti ikan lele-lelean, ikan mas, gurame, ikan tawes dan umumnya
banyak ditemukan pada ikan hias air tawar. Gejala klinis : ikan kurus, makan terlihat mengapmegap terlebih apabila parasit tersebut menginfeksi tutup insang. Bisa menimbulkan kematian
masal di panti benih apabila diperburuk oleh kondisi lingkungan, terjadi terutama pada ikan
benih. Pencegahan: perbaikan kualitas air, menjaga kebersihan wadah budidaya dan
mengurangkan kepadatan.
Pengobatan bagi ikan yang terinfeksi antara lain dapat menggunakan obat yang biasanya
digunakan untuk pemberantasan penyakit akibat infeksi Ichthyophthirius multifiliis.
5. Oodinium sp.
Parasit ini memiliki bangunan khas yaitu berupa tonjolan cytoplasam yang menyerupai akar,
yang berfungsi sebagai alat penempel. Cytoplasmanya kelihatan seperti busa yang dilengkapi
dengan partikei kecil (granul). Intinya berbentuk oval atau sperical. Pada stadium ini parasit
tersebut tidak memiliki banyak flagela dan tidak berenang. Parasit ini terutama menginfeksi
ikan hias air tawar dan ikan air tawar lainnya. Sedangkan yang terdapat pada ikan air laut adalah
Amyloodinium sp.
Dapat mematikan ikan dalam jangka waktu yang

singkat tanpa menunjukkan gejala klinis yang khas. Parasit bisa menginfeksi kulit, sirip, insang,
rongga mulut dan bahkan mata. Gejala klinis antara lain : pendarahan pada kulit ikan berwarna
kusam oleh karena itu maka penyakit ini terkenal dengan Hama "velvet disease". Apabila
parasit ini menginfeksi insang maka ikan akan kelihatan megap-megap.
Pencegahan : mengontrol pemasukan air yaitu antara lain dengan penggunaan filter, serta
melaksanakan tindak karantina bagi ikan yang baru datang selama minimal 14 hari.
Pemberantasan parasit ini dapat dilakukan dengan cara menempatkan ikan yang terinfeksi pada
suhu 24-27C dalam keadaan agak gelap. NaCI dengan dosis 30.000 ppm dengan cara
perendaman selama 5-15 menit dapat memberantas parasit tersebut. Acriflavin padakonsentrasi
0.2-0.4 ppm untuk perendaman jangka lama. Untuk Amyloodinium sp pemberantasan dapat
dilakukan dengan cara merendam ikan dalam air tawar.
6. Chilodonella spp.
Chilodonella spp. Telah banyak dilaporkan dari Malaysia, Pilippina dan Indonesia. Menginfeksi
ikan air tawar terutama ikan lele-lelean, gurame dan menginfeksi 50 jenis ikan hias. Parasit ini
menginfeksi kulit, sirip dan insang ikan dan kadang-kadang dalam jumlah yang banyak. Faktor
yang mendukung infeksi parasit ini adalah temperatur yang rendah yang dibantu dengan kurang
bagusnya kondisi ikan. Parasit ini menempel pada tubuh inang dengan bantuan bulu getar (cilia)
yang berada pada tubuh bagian ventral.
Sedangkan pergerakannya didukung oleh adanya sederetan bulu getar pada tubuhnya. Gejala
klinis : ikan yang terinfeksi menunjukkan gejala gerakan yang iritatif, meloncat kepermukaan
air, tidak bereaksi atas stimulus rengsangan dan akhirnya ikan akan lemah. Ikan diselimuti
lendir yang berwarna biru keabu-abuan.
Apabila menginfeksi insang maka insang mengalami hyperplasia, sehingga ikan akan terlihat
megap-megap. Pencegahan: menjaga kondisi/kualitas air sepaya tetap baik, meminimalisir
kandungan bahan organik, dan mengurangkan kepadatan ikan. Pengobatan dapat dilakukan
dengan menggunakan obat yang biasa digunakan untuk Ichthyophthirius multifiliis.