Anda di halaman 1dari 62

1.

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara kepulauan. Luas pantai di Indonesia


berpotensi membentuk ekosistem dengan keanekaragamannya. Ekosistem
terpenting yang ada di perairan laut, yaitu ekosistem mangrove, ekosistem
terumbu karang dan ekosistem lamun. Keberadaan ketiga ekosistem
tersebut menjadi habitat berbagai biota laut. Biota laut yang ada di
dalamnya merupakan kekayaan laut pesisir.
Banyaknya pulau yang dimiliki Indonesia , sehingga Indonesia
disebut negara kepulauan. Keberadan pulau-pulau tersebut tersebar di
seluruh wilayah di Indonesia. Bahkan wilayah pesisir mempunyai
keunggulan wilayah yang berbeda diantara wilayah yang lain. Keunggulan
suatu wilayah dapat terlihat dari keunggulan sumberdaya alamnya,
misalnya mangrove, terumbu karang,dan lamun. Sumberdaya tersebut
saling keterkaitan serta mempunyai karakteristik kultur yang khas.
Keberadaan sumberdaya alam juga berhubungan dan salaing keterkaitan
dengan masyarakat.
Ekosistem di perairan laut dipengaruhi oleh berbagai aspek yang
berkaitan

dengan

kehidupannya.

ekosistem darat. Ekosistem laut

Ekosistem

laut

akan dapat

berbeda

dengan

beradaptasi dengan

lingkungan hidup yang ekstrim, suhu yang rendah serta tekanan yang
tinggi. Pada laut dalam yang lingkungannya ekstrim banyak terdapat
aktivitas thermal vents. Hal itu dikarenakan cahaya matahri tidak dapat
menembus perairan. Oleh karena itu, di perairan dalam proses fotosintesis
tidak terjadi secara optimal.
Kompleksnya suatu struktur di perairan menunjukan diversity
spesies. Akan terjadi siklus materi dan arus energi pada komponenkomponen yang ada. Segala aktivitas yang terjadi juga dipengaruhi
beberapa faktor, diantaranya faktor kimia,fisika dan biologi. Hubungan yang
terjadi di dalam ekosistem merupakan satu kesatuan komunitas perairan.
Komponen tersebut terdiri atas komponen biotik (mahluk hidup) dan
abiotik(mahluk tak hidup).

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud diadakannya praktikum ekologi laut tropis di Pantai Kondang


Merak Kabupaten Malang adalah agar para praktikan dapat mengamati
keadaan ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang di Pantai
Kondang Merak.selain itu,praktikan dapat melihat secara langsung jenisjenis individu yang terdapat di ketiga ekosistem tersebut.

Tujuan diadakannya praktikum ekologi laut tropis di Pantai Kondang


Merak Kabupaten Malang adalah untuk mengetahui presentase penutupan
ekosistem lamun, terumbu karang, dan mangrove di Pantai Kondang
Merak Kabupaten Malang (Malang Selatan). Selain itu, mengetahui kondisi
perairan di daerah tersebut.

1.3 MANFAAT DAN KEGUNAAN

Manfaat dari praktikum ekologi laut tropis tentang mangrove, lamun,


dan terumbu karang adalah agar praktikan dapat memahami tentang
habitat dan ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang.

Kegunaan dari praktikum ekologi laut tropis tentang mangrove,


lamun, dan terumbu karang adalah agar praktikan dapat memahami dan
dapat mengetahui keanekaragaman hayati yang ada di ekosistem
mangrove, lamun, dan terumbu karang pada setiap transek.

1.4 TEMPAT DAN WAKTU

Praktikum ekologi laut tropis dilaksanakan

di Pantai Kondang

Merak,Kabupaten Malang pada hari sabtu tanggal 25Oktober 2014, pada


pukul 04.30 WIBsampai selesai.

2.TINJAUAN PUSTAKA
2.1 EKOLOGI LAUT TROPIS
2.1.1. MANGROVE

Hutan bakau (mangrove) adalah tipe hutan yang ditumbuhi


dengan pohon bakau (mangrove) yang khas terdapat disepanjang
pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Hutan bakau ini sering juga disebut sebagai hutan pantai atau hutan
pasut. Hutan bakau umumnya tumbuh berbatasan dengan darat pada
jangkauan air pasang tertinggi, sehingga ekosistem ini merupakan
daerah transisi yang eksistensinya juga dipengaruhi oleh faktorfaktor
darat dan laut (Hogarth, 1999; Tomlinson, 1986; Nontji, 1987).

Gambar 1. Mangrove (Sumber: Google Image, 2014)


Hutan bakau mempunyai fungsi ganda dan merupakan mata rantai
yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di
suatu perairan. Fungsi fisik hutan bakau yaitu menjaga keseimbangan
ekosistem perairan pantai, melindungi pantai dan tebing sungai
terhadap pengikisan atau erosi pantai, menahan dan mengendapkan
lumpur serta menyaring bahan tercemar. Fungsi lainnya adalah sebagai
penghasil bahan organik yang merupakan sumber makanan biota,
tempat berlindung dan memijah berbagai jenis udang, ikan, dan

berbagai biota lainnya (Bosire et al., 2005; Bowen et al., 2001; Bengen,
2000)

2.1.2. LAMUN

Padang Lamun merupakan salah satu ekosistem yang berada di


perairan pesisir yang memiliki Produktivitas tertinggi setelah terumbu
karang. Tingginya Produktivitas Lamun tak Lepas dari peranannya
sebagai habitat dan naungan berbagai biota. Di daerah Padang lamun
hidup berbagai jenis biota laut seperti ikan, crustacean, molluska dan
Echinodermata. Mereka membentuk jarring jarring makanan yang
sangat kompleks, sehingga terjadi aliran energy dan siklus materi yang
sangat kompleks pula. Ada biota yang hidup menetap danada pula
sebagai pengunjung setia di padang lamun tersebut (Ira et.al, 2012 ).

Gambar 2. Lamun (Sumber: Google Image, 2014)

Komunitas lamun merupakan komponen kunci dalam ekosistem


pesisir di seluruh dunia (Hutomo& Peristiwadi, 1990). Selain nilai secara
hakiki tersebut, lamun sebagai penyedia makanan, sebagai tempat
berlindung beberapa jenis ikan dan krustase komersial penting (GRAY
et al. 1996). Namun keberadaan komunitas lamun hampir di setiap
pesisir bervariasi, hal ini diduga karena perbedaan karakteristik
lingkungan perairan ( Supriyadi, 2010 ).

2.1.3. TERUMBU KARANG

Ekosistem terumbu karang menempati barisan terdepan, disusul


ekosistem lamun dan mangrove. Ekosistem terumbu karang memiliki
karakteristik yang spesifik dan sangat bergantung pada kondisi perairan
disekitarnya. Terumbu karang membutuhkanperairan dengan kecerahan
tinggi dan intensitas cahaya yang memadai, yang biasanya berada pada
daerah paparan yang dangkal. Wilayah Indonesia memiliki perairan
pantai sepanjang lebih dari 81.000 km. Perairan ini sebagian besar
merupakan

perairan

berkembangnya

dangkal

ekosistem

yang

terumbu

sangat
karang.

potensial
Terumbu

bagi
karang

merupakan ekosistem yang khas di daerah tropis (Sunarto, 2006).

Gambar 3. Terumbu Karang ( Sumber : Google.image. 2014 )


Terumbu karang di perairan Sanur mempunyai beberapa fungsi
diantaranya fungsi konservasi yakni tempat berlangsungnya prosesproses

ekologis

dan

sistem

penyangga

kehidupan

laut

serta

Pengawetan keanekaragaman hayati dan plasma nutfah.

Fungsi fisik, sebagai pelindung pantai dari abrasi dengan


meredam gelombang sehingga energi gelombang sampai ke bibir pantai
melemah, penghasil pasir putih, perluasan daratan saat surut. Fungsi
produksi, yakni sebagai lahan utama bagi nelayan untuk mendapatkan
bahan makanan baik untuk konsumsi sendiri ataupun dijual seperti ikan,

udang,

kepiting,

lobster,

kerang-kerangan,

gurita,

produk

ornamental/akuarium, ikan hias, karang hias, kerang hias, souvenir,


bahan baku industri farmasi kosmetika serta bahan bangunan di masa
lalu (Prasetyo, dkk. 2011).

2.2 CIRI EKOSISTEM LAUT TROPIS

Menurut Satino, (2011) ekosistem laut mempunyai ciri ciri yaitu ;

1. Bersifat contimnental
2. Luas dan dalam
3. Asin
4. Memiliki arus dan gelombang
5. Pasang-surut dan dihuni oleh organisme baik plankton, neuston
maupun bentos

Menurut Regional, (2008) dalam ekosistem pesisir dan laut,


ekosistem laut meliputi beberapa ekosistem khas seperti padang lamun,
terumbu karang, laut dalam dan samudra, dimana seluruh jenis
organisme saling berhubungan dan ekosistem pesisir dimana organisme
penghuninya berbaur antara organisme dari darat dan dari laut. Seperti
pantai berbatu, pantai berpasir, hutan mangrove, padang lamun dan
terumbu karang.
2.3 RANTAI MAKANAN

Secara ekologis, ekosistem mangrove merupakan tempat siklus


rantai makanan karena tersedianya sumber unsur hara yang kaya raya.
Sedangkan daun-daun mangrove yang telah gugur dan jatuh ke dalam
air akan menjadi substrat yang baik bagi jamur dan bakteri dan
sekaligus mempercepat proses pembentukan detritus dan mineralisasi.
Dengan demikian tersedia makanan bagi hewan avertebrata, yang
selanjutnya terbentuk sistem jaringan makanan kompleks, sehingga
ekosistem mangrove merupakan habitat, nursery ground, feeding
ground, spawning ground bagi fauna diperaira. Lebih kurang 2.000

spesies fauna ikan, udang, maluska, vertebrata dan invertebrata lainnya,


sehingga ekosistem mangrove adalah merupakan lumbung benih
kehidupan dilaut( kamal, 2006 ).

Dalam mekanisme rantai makanan di dalam laut pencemaran


akibat kegiatan industry sangatlah merugikan bagi rantai makanan di
daerah laut tersebut karena pada umumny buangan atau lmbah
mengandung zat beravun yang termasuk adalah logam berat. Logam
berat akan masuk ke dalam tubuh organisme laut srbagian besar
melalui rantai makanan yang akan dimangsa oleh zooplankton,
zooplankton dimangsa oleh ikan-ikan kecil, ikan kecil akan dimangsa
oleh ikan besar dan akhirnya ikan besar dikonsumsi oleh manusia.
Proses ini berlangsung secara terus menerus maka jumlah dari logam
yang terkonsumsi juga semakin banya dan termasuk terakumulasi ke
dalam tubuh manusia ( Darmono, 2011 ).
2.4 FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKOLOGI LAUT
2.4.1. FAKTOR FISIKA

Cukup banyak faktor-faktor fisika yang mempengaruhi kelimpahan


fitoplankton seperti suhu, pergerakan air dan cahaya, akan tetapi faktor
fisika utama yang menentukan produktivitas primer adalah cahaya.
Suhu merupakan faktor turunan dari keberadaan cahaya. Selain faktor
cahaya, suhu juga sangat mendukung pergerakannya secara vertikal.
Hal ini sangat berhubungan dengan densitas air laut yang mampu
menahan plankton untuk tidak tenggelam. Perpindahan secara vertikal
ini juga dipengaruhi oleh kemampuannya bergerak atau lebih tepat
mengadakan adaptasi fisiologis sehingga terus melayang pada kolom
air.

Perpaduan

kondisi

fisika

air

dan

mekanisme

mengapung

menyebabkan plankton mampu bermigrasi secara vertikal sehingga


distribusinya berbeda (Sunarto, 2008).

Kecerahan perairan adalah suatu kondisi yang menunjukkan


kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman
tertentu. Pada perairan alami kecerahan sangat penting karena erat

kaitannya dengan aktifitas fotosintesa. Kecerahan merupakan faktor


penting bagi proses fotosintesa dan produksi primerdalam suatu
perairan (sari, dkk. 2012 ).

2.4.2. FAKTOR KIMIA

Salinitas disamping suhu, adalah merupakan faktor abiotik yang


sangat menentukan penyebaran biota laut. Perairan dengan salinitas
lebih rendah atau lebih tinggi dari pada pergoyangan normal air laut
merupakan faktor penghambat (limiting factor) untuk penyebaran biota
laut tertentu (aziz, 1994).

Faktor kimia utama adalah ketersediaan nutrien atau zat


anorganik. Sebagai organisme autotrop maka fitoplankton mendapatkan
sumber energinya dari bahan anorganik yang akan dirubah menjadi
bahan

organik

melalui

proses

fotosintesis

dengan

bantuan

cahaya.Sebagai organissme autotrop fitoplankton berperan sebagai


produser primer yang mampu mentransfer energi cahaya menjadi energi
kimia berupa bahan organik pada selnya yang dapat dimanfaatkan oleh
organisme lain pada tingkat tropis diatasnya. Fitoplankton merupakan
produser terbesar pada ekosistem laut (Sunarto, 2008).

2.4.3. FAKTOR AKTIVITAS MANUSIA

Kerusakan lingkungan di wilayah pantai/pesisir Indonesia sampai


saat ini belum bisa ditanggulangi dengan optimal. Bahkan yang terjadi
saat ini, berbagai kerusakan lingkungan di wilayah pesisir semakin
meluas. Penyebab kerusakan lingkungan di wilayah pesisir tersebut
lebih didominasi oleh pencemaran minyak, sampah, dan lain-lain,
abrasi pantai, kerusakan mangrove dan terumbu karang. Dengan
melihat penyebab kerusakan tersebut terlihat bahwa aktivitas manusia
lah yang menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan di wilayah
pesisir dan laut. Padahal kalau dilihat dari dampak kerusakan tersebut

sebagai besar akan berdampak kepada aktivitas manusia dan


lingkungan, seperti rusaknya biota laut, terancamnya pemukiman
nelayan, terancamnya mata pencaharian nelayan dan sebagainya. Oleh
sebab itu apabila hal ini tidak secepatnya ditanggulangi dengan optimal
maka dikhawatirkan sumber daya pesisir dan laut akan semakin
terdegradasi. Selain itu juga aktivitas masyarakat pesisir akan semakin
terancam (Vitria, 2010).

Salah satu penyebab tekanan berlangsung terus menerus


terhadap ekosistem terumbu karang serta biota yang beasosiasi
dengannya adalah aktivitas masyarakat nelayan yang menggunakan
jarring muromi, bubu ( perangkap tradisional ) panah, tombak, dan
bahan peledak serta racun ikan diwilayah perairan ekosistem terumbu
karang. Factor lain yang menyebabkan tekanan pada ekosistem adalah
kegiatan pengambilan batu karang untuk berbagai peruntukan seperti
pengerasan jalan, fondasi rumah, pengeingan pantai, penghalang
ombak, dan lainnya yang secara tidak langsung berdampak negative
bagi pertumbuhan dan perkembangan karang (haruddin, et. Al, 2011).

2.5

HUBUNGAN ANTARA EKOSISTEM MANGROVE, LAMUN,

RUMPUT LAUT, DAN TERUMBU KARANG

Hubungan antar ekosistem mangrove dengan ekosistem terumbu


karang dan lamun diantaranya dapat dillihat dari perpindahan hewanhewan (khususnya hewan air) dari ekosistem mangrove dan terumbu
karang maupun lamun. Banyak ikan maupun udang sebagian siklus
hidupnya berpindah dari ekosistem mangrove ke ekosistem terumbu
karang dan lamun. Hubungan lainnya dapat dilihat dari aliran air dimana
dinamika pasang-surut dan arus membawa nutrient dari dan ke
ekosistem-ekosistem tersebut (Lovelock, 1964).
Ekosistem Terumbu Karang, ekosistem Padang Lamun dan
ekosistem Mangrove merupakan ekosistem yang paling menentukan
dalam pengayan dan pemulihan ketersedian sumberdaya ikan di laut.
Semua ekosistem tersebut merupakan tempat aktifitas ikan dan kaya

akan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh ikan dalam aktifitas hidup.


Berfungsi sebagai daerah Pemijahan (Spawning Ground), daerah
asuhan atau pembesaran (Nursery Ground) dan daerah mencari makan
(Feeding Ground) (Warman, 2013).

2.6 MANFAAT
2.6.1. EKOSISTEM MANGROVE

Hutan mangrove dengan Vegetasi Hutan bakau memiliki peranan


yang tidak dapat tergantikan oleh ekosistem lain, yaitu kedudukannya
sebagai mata rantai yang mengaitkan ekosistem laut dan ekosistem
darat ( Saraswati,2004 ).

Hutan mangrove memiliki fungsi dan manfaat diantaranya adalah ,


sebagai daerah asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan
(feeding grounds), dan daerah pemijahan (spawning grounds) berbagai
jenis ikan, udang, dan biota laut lainnya. Penghasil sejumlah besar
detritus (hara) bagi plankton, pemasok larva (nener) ikan, udang, dan
biota laut lainnya, dan juga sebagai tempat wisata (Nontji, 2005)

2.6.2. EKOSISTEM LAMUN

Telah diketahui bahwa sejumlah avertebrata memakan lamun


sedikit sekali. Tetapi jika lamun tersebut hanyut dan terdampar di pantai
mulai terjadi dekompoisi sehingga lamun akan dimakan oleh beberapa
larvae dan Talitridae (Amphipoda). Selanjutnya telah diketahui bahwa
makanan yang diproduksi oleh lamun yang berguna untuk fauna dasar
melalui bentuk detritus. Hanya sedikit sekali pengetahuan tentang
proses dekomposisi lamun (MENZIES et al. 1967).

Padang lamun merupakan daerah asuhan untuk beberapa


organisme. Sejumlah jenis fauna tergantung pada padang lamun,
walaupun mereka tidak mempunyai hubungan dengan lamun itu sendiri.
Banyak dari organisme tersebut mempunyai kontribusi terhadap

10

keragaman pada komunitas, tetapi tidak berhubungan langsung dengan


kepentingan ekonomi (azkab, 2000).

2.6.3. EKOSISTEM TERUMBU KARANG

Terumbu karang merupakan salah satu dari beberapa ekosistem


yang ada di laut yang kaya akan keanekaragaman hayati dan memiliki
manfaat yang besar di sektor perikanan. Berbagai jenis hewan dan
tumbuhan yang hidup di ekosistem terumbu karang. Ada sekitar 350
jenis karang batu, >2000 jenis ikan, 1500 jenis

moluska, 10 jenis

teripang ekonomis dan 555 jenis alga yang hidup di ekosistem ini
(Nontji, 1993).

Caesar (1996) menyatakan bahwa terumbu karang yang termasuk


dalam kategori sangat baik dapat menyumbangkan 18 ton ikan per km2
per tahun, sedangkan yang termasuk dalam kategori baik dan cukup
adalah sebesar 13 ton/km2 /tahun dan 8 ton/km2 /tahun. Apabila
dikalkulasikan secara ekonomi, nilai terumbu karang yang ada di
perairan Indonesia adalah sebesar

4,2 milyar $US dari aspek

perikanan, wisata dan perlindungan laut. Nilai ini belum termasuk nilai
manfaat terumbu karang sebagai pelindung pantai, bahan bangunan,
sumber pangan serta obat-obatan.

11

3.METODE PRAKTIKUM
3.1 MANGROVE
3.1.1. ALAT DAN BAHAN

Adapun alat yang digunakan pada saat praktikum ekologi laut


tropis mengenai ekosistemmangrove, yaitu :
No
1

Nama Alat
Rool Meter
(100m)
Kamera
Digital
Kantong
sampel
Buku
identifikasi
Alat tulis

Jumlah
1 buah

1 buah

secukupnya

1 buah

1 set

Kegunaan
Mengukur luasan area
praktek
Mendokumentasikan
kegiatan dan organisme
Untuk menyimpan spesimen
Untuk membantu
mengidentifikasi
Untuk mencatat hasil
identifikasi

Table 1 Alat dan Bahan Mangrove


Bahan yang digunakan pada saat praktikum ekologi laut tropis,
yaitu mangrove.

Mangrove akan diamati kepadatan,keragaman, dan


homogenitasnya.

12

3.1.2. PROSEDUR KERJA


Mangrove
Mengunjungi stasiun mangrove yang telah ditentukan
Dalam stasiun mangrove terdapat 2 stasiun yang terdiri dari 9
transek. Dimana pada setiap transek terdiri dari3 plot, yaitu
1010, 5 5 , dan 1 1m
Dipilih minimal 3 transek untuk identifikasi
Diidentifikasi genus dari mangrove di setiap transek
Diamati jenis substrat dan kondisi lingkungan serta biota yang
ada disetiap stasiun
Diambil foto mangrove secara keseluruhan dan bagianbagiannya (bunga, susunan bunga, buah, daun, susunan daun,
letak daun, dan akar).
Diidentifikasi sample (bagian tumbuhan mangrove)
Dihitung indeks keragaman, kelimpahan dan homogenitas.
Hasil

13

3.2 LAMUN
3.2.1. ALAT DAN BAHAN

Alat yang digunakan pada saat praktikum ekologi laut tropis


pengamatan ekosiste lamun, yaitu:
No

Nama Alat

FUNGSI

Roll meter (100m)

Untuk Transek

Sabak dan Pensil

Mencatat data

Buku identifikasi lamun

Skin dive tools

Transek kuadran 1x1m

Digunakan membantu
identifikasi lamun
Masker, snorkle dan fin
Dibagi menjadi 100 bagian
(100 cm2)

Table 2. Alat dan Bahan Lamun

Sedangkan bahan yang di gunakan pada saat praktikum yaitu


lamun. Lamun akan dihitung keragaman,kelimpahan dan homogenitas.
3.2.2. PROSEDUR KERJA
LAMUN
Dibuat line transek sepanjang 30 m kearah laut (vertikal dari
garis pantai)
Transek kuadran diletakan dalam setiap line transek dengan
jarak 10 m
Dilakukan pengulangan beberapa kali pada transek kuadran
disetiap stasiun untuk mendapatkan hasil yang akurat
Diamati dan dicatat jenis-jenis lamun
Diambil Gambar hewan yang ditemukan didalam transek
Dicatat hasil indentifikasi
Dihitung indeks keragaman, kelimpahan dan homogenitas.
Hasil
14

3.3. TERUMBU KARANG


3.3.1 ALAT DAN BAHAN
Perlengkapan Pengukuran Parameter Lingkungan:
NO

NAMA ALAT

Termometer digital

Salinometer

DO meter

pH meter

FUNGSI
Mengukur temperatur
perairan
Mengukur salinitas
Mengukur kandugan oksigen
terlarut
Mengetahui pH suatu
perairan

Table 3. Alat Dan Bahan Terumbu Karang


Perlengkapan Praktikum:
NO

NAMA ALAT

FUNGSI

Role meter 100 m

Untuk transek

Sabak dan pensil

Mencatat data

Buku identifikasi

Digunakan untuk membantu

karang

mengidentifikasi karang

Skin dive tools

Masker,snorkel ,dan fin

Table 4. Alat dan Bahan Terumbu Karang


Sedangkan bahan yang di gunakan pada saat praktikum yaitu terumbu karang.

15

3.3.2

PROSEDUR KERJA

Disiapkan Alat dan Bahan


- Menarik line transek sepanjang 50 m sejajar garis pantai
- Mencatat kategori atau bentuk pertumbuhan karang yang
berada tepat di bawah garis transek dengan jarak 0,5 cm
- Mengidentifikasi jenis karang yang berada di bawah transek
- Mencatat dalam form data lapang terumbu karang
- Mengambil gambar invertebrata dan vertebrata yang ditemukan
- Menghitung index keragaman, kelimpahan dan homogenitas
- Mencatat hasil identifikasi

Hasil

16

4. DATA HASIL PENGAMATAN


4. 1. DATA PENGAMATAN
4.1.1. MANGROVE
Transek B
Ukuran

Jenis mangrove

Jumlah

Diameter rata-rata

pohon

(cm)

22,29

Xylocarpus rumphii

16,56

Bruguiera gymnorhiza

5,09

Xylocarpus rumphii

4,95

transek

10 10

Xylocarpus
moluccensis

55

Table 5. Mangrove Transek B


Biota yang ditemukan adalah semut, nyamuk dan serangga.
Transek F
Ukuran

Jenis mangrove

Jumlah pohon

transek
10 10

Diameter ratarata (cm)

Nypa fruticans

16,02

Xylocarpus

64,49

moluccensis
55

Xylocarpus rumphii

36,63

1 1

Bruguiera gymnorhiza

0,92

Xylocarphus rumphii

0,98

Table 6. Mangrove Transek F


Biota yang ditemukan adalah semut, ulat, kepiting , bekicot , nyamuk dan labalaba.

17

DATA HASIL PERHITUNGAN


Stasiun 1
Tran

Je

sek

nis

1 (A)

2 (B)

3 (C)

4 (D)

Pohon

ind

ind/

Rata-

/10

ha

m2

(Di)

Belta

semai

ind

ind/h

Rata

ind/

ind/ha

Rata

rata d

/5

-rata

m2

(Di)

-rata

(cm)

m2

(Di)

(cm)

(cm)

20

13,69

4000

0.5

80

6,2

2000

0.24

60

16,85

160

8,73

60

15,58

160

7,64

12000

0,9

60

12,4

240

6,1

2000

1,4

80

15.4

80

8,4

20

12.34

18

5 (E)

320

5,6

4000

1,9

40

36

2000

0,9

40

11,6

80

4,8

40

12,3

20

10,8

2000

1,8

20

11,1

160

5,1

Table 7. Stasiun
Tabel
luas area

100

jumlah transek
5

luasan

0,01

Ha

Pohon

Ha

Belta

Ha

semai

Ha

1010

0,05

55

0,0125

11

0,0005

Perhitungan luas area (A) dengan total transek = 5


A

1. Pohon
A

= 0,05 ha

= 0,0125ha

= 0,0005 ha

2. Belta
A
3. Semai
A

Kerapatan Jenis (Di)


Rumus :Di =
dengan : Di = kerapatan jenis i
ni = Jumlah total tegakan dari jenis i
A = Luas total area pengambilan sampel

19

Tingkat Pohon

Tingkat Belta

Tingkat Semai

Jenis (A)

180

Jenis (A)

160

Jenis (A)

Jenis (B)

60

Jenis (B)

Jenis (B)

Jenis (C)

10

Jenis (C)

Jenis (C)

Jenis (D)

80

Jenis (D)

Jenis (D)

Jenis (E)

Jenis (E)

160

Jenis (E)

Jenis (F)

80

Jenis (F)

720

Jenis (F)

22000

Jenis
Jenis (G)

80

Jenis (G)

240

(G)

6000

460

1280

28000

Table 8. Kerapatan Jenis


Kerapatan jenis pohon :
1. Jenis (A)
Di =

5. Jenis (E)
= 180

Di =

2. Jenis (B)
Di =

6. Jenis (F)
= 60

Di =

3. Jenis (C)
Di =

=0

= 80
7. Jenis (G)

=0

Di =

= 60

4. Jenis (D)
Di =

= 80

Total kerapatan jenis pohon adalah 180 + 60 + 0 + 80 + 0 + 80 + 60 =


460

Kerapatan Jenis Belta

1. Jenis (A)
Di =

5. Jenis (E)
= 160

2. Jenis (B)
Di =
3. Jenis (C)

Di =

= 160
6. Jenis (F)

=0

Di =

= 720

7. Jenis (G)

20

Di =

=0

Di =

= 240

4. Jenis (D)
Di =

=0

Total kerapatan jenis belta adalah 160 + 0+ 0+ 0 + 160+ 720 + 240= 1280
Kerapatan Jenis Semai
1. Jenis (A)
Di =

5. Jenis (E)
=0

Di =

2. Jenis (B)
Di =

6. Jenis (F)
=0

Di =

3. Jenis (C)
Di =

=0

= 22000
7. Jenis (G)

=0

Di =

= 6000

4. Jenis (D)
Di =

=0

Total kerapatan jenis semai adalah 0+ 0 + 0 + 0 + 0 + 22000 + 6000 =


28000

Kerapatan Relatif Jenis (Rdi) (%)


Rumus :
Dengan : Di = Kerapatan jenis i
Di= Total kerapatan seluruh jenis

21

Tingkat Pohon

Tingkat Belta

Tingkat Semai

Jenis
(A)

Jenis
39,1304

Jenis (A)

12,5

Jenis
(B)

13,04347

Jenis (B)

(B)

Jenis

(C)

Jenis (C)

Jenis

(C)

Jenis
17,3913

Jenis (D)

Jenis

(D)

Jenis

(E)

Jenis (E)

12,5

Jenis
(F)

Jenis

Jenis

(D)

(A)

(E)

Jenis
17,3913

Jenis (F)

56,25

Jenis

(F)

78,57

Jenis

(G)

13,04347

Jenis (G)

100

18,75

(G)

21,428

100

100

Table 9. Kerapatan Relatif Jenis


Kerapatan relatif jenis pohon :
1. Jenis (A)
RDi =

5. Jenis (E)
= 39,1304%

2. Jenis (B)
RDi =

RDi =

=0%

6. Jenis (F)
= 13,04347 %

RDi =

= 17,3913

%
3. Jenis (C)
RDi =

7. Jenis (G)
=0%

RDi =

= 13,04347 %

4. Jenis (D)
RDi =

= 17,3913 %

Total kerapatan relatif jenis pohon adalah (39,13 + 13,04 + 0 + 17,39 + 0


+ 17,39 + 13,04 ) % = 100 %

22

Kerapatan relatif jenis belta :


1. Jenis (A)
RDi =

5. Jenis (E)
= 12,5 %

2. Jenis (B)
RDi =

= 12,5 %

6. Jenis (F)
= 0 % RDi =

3. Jenis (C)
RDi =

RDi =

= 56,25 %

7. Jenis (G)
= 0 % RDi =

= 18,75 %

4. Jenis (D)
RDi =

= 0%

Total kerapatan relatif jenis belta adalah (12,5 + 0+ 0+ 0 + 12,5 + 56,25 +


18,75 ) % = 100 %

Kerapatan relatif jenis semai :


1. Jenis (A)
RDi =

5. Jenis (E)
=0%

2. Jenis (B)
RDi =

=0%

6. Jenis (F)
= 0 % RDi =

3. Jenis (C)
RDi =

RDi =

= 78,57 %

7. Jenis (G)
=0%

RDi =

= 21,428 %

4. Jenis (D)
RDi =

=0%

Total kerapatan relatif jenis semai adalah (0 + 0 + 0 + 0 + 0 + 78,57 +


21,428) % = 100 %
Frekuensi Jenis (Fi)
Rumus : Fi =

23

Tingkat Pohon

Tingkat Belta

Tingkat Semai

Jenis (A)

0,6

Jenis (A)

0,4

Jenis (A)

Jenis (B)

0,2

Jenis (B)

Jenis (B)

Jenis (C)

Jenis (C)

Jenis (C)

Jenis (D)

0,6

Jenis (D)

Jenis (D)

Jenis (E)

Jenis (E)

0,2

Jenis (E)

Jenis (F)

0,4

Jenis (F)

0,4

Jenis (F)

0,8

Jenis (G)

0,4

Jenis (G)

0,2

Jenis (G)

0,6

2,2

1,2

1,4

Table 10. Frekuensi Jenis


Frekuensi jenis pohon
1. Jenis (A)

5. Jenis (E)

Fi = = 0,6

Fi = = 0

2. Jenis (B)

6. Jenis (F)

Fi = = 0,2

Fi = = 0,4

3. Jenis (C)

7. Jenis (G)

Fi = = 0

Fi = = 0,4

4. Jenis (D)
Fi = = 0,6
Total frekuensi jenis pohon adalah 0,6 + 0,2 + 0+ 0,6 + 0+ 0,4 + 0,4 = 2,2

Frekuensi Jenis Belta


1. Jenis (A)

5. Jenis (E)

Fi = = 0,4

Fi = = 0,2

2. Jenis (B)
Fi =
3. Jenis (C)
Fi = = 0

6. Jenis (F)
=0

Fi = = 0,4
7. Jenis (G)
Fi = = 0,2

4. Jenis (D)
Fi = = 0
Total frekuensi jenis belta adalah 0,4+ 0+ 0 + 0 + 0,2 + 0,4 + 0,2= 1,2

24

Frekuensi Jenis Semai


1. Jenis (A)

5. Jenis (E)

Fi = = 0

Fi = = 0

2. Jenis (B)

6. Jenis (F)

Fi = = 0

Fi = = 0,8

3. Jenis (C)

7. Jenis (G)

Fi = = 0

Fi = = 0,6

4. Jenis (D)
Fi = = 0
Total frekuensi jenis semai adalah 0+ 0+ 0 + 0 + 0+ 0,8 + 0,6= 1,4
Frekuensi Relatif Jenis (Rfi) (%)
Rumus : Rfi =

Tingkat Pohon

Tingkat Belta

Tingkat Semai

Jenis
Jenis (A)

27,273

(A)

33,33

Jenis (A)

Jenis (B)

Jenis (C)

Jenis (D)

16,67

Jenis (E)

33,33

Jenis (F)

57,143

Jenis
Jenis (B)

9,091

(B)
Jenis

Jenis (C)

(C)
Jenis

Jenis (D)

27,273

(D)
Jenis

Jenis (E)

(E)
Jenis

Jenis (F)

18,182

(F)
Jenis

Jenis (G)

18,182

(G)

16,67

Jenis (G)

42,837

100

100

100

Table 11. Frekuensi Relatif Jenis

25

Frekuensi relatif jenis pohon


1. Jenis (A)
Rfi =

5. Jenis (E)
= 27,273 %

2. Jenis (B)
Rfi =

=0%

6. Jenis (F)
= 9,091 %

Rfi =

3. Jenis (C)
Rfi =

Rfi =

= 18,182 %

7. Jenis (G)
=0%

Rfi =

= 18,182 %

4. Jenis (D)
Rfi =

= 27,273 %

Total frekuensi relatif jenis pohon adalah (27,273 + 9,091 + 0 + 27,273 +


0 + 18,182 + 18,182 ) % = 100 %

Frekuensi relatif jenis belta


1. Jenis (A)
Rfi =

5. Jenis (E)
= 33,33 %

Rfi =

2. Jenis (B)
Rfi =

6. Jenis (F)
=0%

Rfi =

3. Jenis (C)
Rfi =

=16,67 %

= 33,33 %
7. Jenis (G)

=0 %

Rfi =

=16,67 %

4. Jenis (D)
Rfi =

=0%

Total frekuensi relatif jenis belta adalah (33,33 + 0+ 0+ 0 + 16,67 + 33,33


+16,67) %= 100 %

Frekuensi relatif jenis semai


1. Jenis (A)
Rfi =

5. Jenis (E)
= 0%

Rfi =

2. Jenis (B)
Rfi =

6. Jenis (F)
=0%

Rfi =

3. Jenis (C)
Rfi =

=0%

= 57,143%
7. Jenis (G)

=0%

Rfi =

= 42,857 %

26

4. Jenis (D)
Rfi =

=0%

Total frekuensi relatif jenis semai adalah (0+ 0+ 0+ 0+ 0+ 57,143 + 42,857


% = 100 %

Penutupan Jenis (Pji)


(

Rumus : Pji =
Dengan : DBH = diameter pohon jenis i
A

= Luas area (pohon/belta/semai)

Tingkat Pohon

Tingkat Belta

Jenis
(A)

Jenis
24372,052

Jenis
(B)

(B)

Jenis

10942,272

(C)

Jenis

(B)

Jenis

(D)

(C)

(E)

Jenis

(D)

Jenis

(F)

Jenis
4786,170

Jenis
10925,699

Jenis

Jenis

(E)

Jenis

Jenis
23066,266

(A)
Jenis

Jenis

(C)

(F)

Jenis

Jenis
4541,833

(D)

(A)

Tingkat Semai

(E)

Jenis
11855,861

Jenis

(F)

40835,7

Jenis

(G)

21609,637

(G)

8018,932

(G)

10129,012

84515,487

35603,23528

50964,712

Table 12. Penutupan Jenis


Penutupan Jenis Pohon
1. Jenis (A)

5. Jenis (E)
(

Pji =
2. Jenis (B)

( )

= 24372,052

Pji =

=0

6. Jenis (F)

27

Pji =

= 4541,833

Pji =

3. Jenis (C)

=10925,699

7. Jenis (G)
( )

Pji =

=0

Pji =

= 21609,637

4. Jenis (D)
(

Pji =

= 23066,266

Total penutupan jenis pohon adalah 24372,052+ 4541,833 + 0+


23066,266 + 0+ 10925,699+ 21609,637 = 84515,487

Penutupan Jenis Belta


1. Jenis (A)

5. Jenis (E)
(

Pji =

= 10942,272

Pji =

2. Jenis (B)

= 4786,170

6. Jenis (F)
( )

Pji =

=0

Pji =

3. Jenis (C)

=11855,861

7. Jenis (G)
( )

Pji =

=0

Pji =

= 8018,932

4. Jenis (D)
( )

Pji =

=0

Total penutupan relatif jenis belta adalah 10942,272+ 0+0 +0 +4786,170


+11855,861+ 8018,932 = 35603,23528

Penutupan jenis semai


1. Jenis (A)

5. Jenis (E)
( )

Pji =

( )

=0

Pji =

2. Jenis (B)

=0
6. Jenis (F)

( )

Pji =

=0

Pji =

3. Jenis (C)

=40835,7

7. Jenis (G)
( )

Pji =

=0

Pji =

= 10129,012

4. Jenis (D)

28

( )

Pji =

=0

Total penutupan jenis semai adalah 0+ 0 + 0 + 0+ 0+ 40835,7 +


10129,012 = 50964,712

Penutupan Relatif Jenis (RPji) (%)


Rumus : Rpji=

Tingkat Pohon

Tingkat Belta

Tingkat Semai

Jenis
Jenis (A)

28,837

(A)

Jenis
30,73

Jenis
Jenis (B)

5,474

(B)

(B)

27,292

(C)

(C)

(D)

(E)

(D)

12,927

(F)

Jenis
13,44

Jenis
Jenis (F)

Jenis

Jenis
Jenis (E)

Jenis

Jenis
Jenis (D)

Jenis

Jenis
Jenis (C)

(A)

(E)

Jenis
33,30

Jenis

(F)

80,15

Jenis

Jenis (G)

25,568

(G)

22,52

(G)

19,88

100

100

100

Table 13. Penutupan Relatif Jenis


Penutupan relatif jenis pohon :
1. Jenis (A)
Rpji =
2. Jenis (B)

5. Jenis (E)
= 28,837%

Rpji =

= 0%

6. Jenis (F)

29

Rpji =

= 5,474 %

Rpji =

12,927%
3. Jenis (C)
Rpji =

7. Jenis (G)
=0 %

Rpji =

= 25,568%

4. Jenis (D)
Rpji =

= 27,292%

Total penutupan relatif jenis pohon adalah (28,837+ 5,474+ 15,48 + 0 +


27,292+ 0+ 12,927+ 025,568) %= 100 %

Penutupan relatif jenis belta


1. Jenis (A)
Rpji =

5. Jenis (E)
= 30,73 %

Rpji =

=13,44%
2. Jenis (B)
Rpji =

6. Jenis (F)
= 0%

Rpji =

33,30%
3. Jenis (C)
Rpji =

7. Jenis (G)
= 0%

Rpji =

= 22,52

%
4. Jenis (D)
Rpji =

= 0%

Total penutupan relatif jenis belta adalah (30,73+ 0+ 0+ 0 + 13,44 +


33,30+ 22,52) % = 100 %

Penutupan relatif jenis semai


1. Jenis (A)
Rpji =

5. Jenis (E)
=0%

2. Jenis (B)
Rpji =

Rpji =

= 0%

6. Jenis (F)
= 0%

Rpji =

= 80,15%

30

3. Jenis (C)

7. Jenis (G)

Rpji =

=0%

Rpji =

= 19,88%

4. Jenis (D)
Rpji =

= 0%

Total penutupan relatif jenis semai adalah (0+ 0+ 0+ 0+ 0+ 80,15+ 19,88)


% = 100%
Nilai Penting Jenis (INPi)
Rumus : INPi = Rdi + Rfi + RPji

Tingkat Pohon
Jenis
(A)

Jenis
95,2404

Jenis
(B)

27,608

71,956

(D)

(E)

Jenis

(F)

(B)

(C)

Jenis
0

(D)

Jenis
45,6

Jenis
48,500

Jenis

Jenis
0

(A)
Jenis

Jenis

Jenis
(F)

(B)

(C)

Jenis
(E)

76,56

Jenis

Jenis
(D)

(A)

Tingkat Semai
Jenis

Jenis

Jenis
(C)

Tingkat Belta

(E)

Jenis
122,88

Jenis

(F)

215,863

Jenis

(G)

56,793

(G)

57,94

(G)

84,145

300

300

300

Table 14. Nilai Penting Jenis

31

Nilai penting jenis pohon


1. Jenis (A)
INPi = 39,1304 + 27,273+ 28,837 = 95,2404
2. Jenis (B)
INPi = 13,04347 + 9,091 + 5,474 = 27,608
3. Jenis (C)
INPi = 0+ 0+ 0= 0
4. Jenis (D)
INPi = 17,3913+27,273+ 27,292= 71,956
5. Jenis (E)
INPi = 0+ 0+ 0= 0
6. Jenis (F)
INPi = 17,3913+ 18,182+ 12,927 = 48,500
7. Jenis (G)
INPi = 13,04347+ 18,182 + 25,568 = 56,793

Nilai penting jenis belta


1. Jenis (A)
INPi = 12,5 + 33,33 + 30,73= 76,56
2. Jenis (B)
INPi = 0+ 0+ 0= 0
3. Jenis (C)
INPi = 0+ 0+ 0= 0
4. Jenis (D)
INPi = 0 + 0 + 0 = 0
5. Jenis (E)
INPi = 12,5+ 16,66667 + 13,44 = 45,6
6. Jenis (F)
INPi = 56,25+ 33,33+ 33,30= 122,88
7. Jenis (G)
INPi = 18,75+ 16,67 + 22,52 = 57,94

32

Nilai penting jenis semai


1. Jenis (A)
INPi = 0+ 0+ 0= 0
2. Jenis (B)
INPi = 0+ 0+ 0= 0
3. Jenis (C)
INPi = 0+ 0+ 0= 0
4. Jenis (D)
INPi = 0+ 0+ 0=0
5. Jenis (E)
INPi = 0+ 0+ 0= 0
6. Jenis (F)
INPi = 78,57+ 57,143+ 80,15= 215,863
7. Jenis (G)
INPi = 21,428 + 42,837+ 19,88= 84,145

Stasiun 2
STASIUN 2
transek jenis

Pohon
Ind/10m2 Ind/ha
(Di)

belta
Rata-

Ind/5m2 Ind/ha

rata

(Di)

d(cm)
6(F)

7(G)

semai
Rata-

Ind/1m2 Ind/ha

rata

Rata-

(Di)

d(cm)

rata
d(cm)

75

15,1

25

13,69 1

400

3,2

2500

0,5

2500

0,2

200

33

8(H)

9(I)

25

53

200

200

6,5

10000

0,75

25

55

100

6,3

100

20

300

7500

0,8

5000

0,4

100

2500

0,7

25

14,3

100

9,8

25

46

100

4.5

2500

0,35

Table 15. Stasiun 2


Tabel
luas area

100

jumlah transek
2

luasan

M2

0,01

ha

Pohon

Ha

belta

ha

semai

Ha

1010

0,04

55

0,01

11

0,0004

Perhitungan luas area (A) dengan total transek = 4


A

4. Pohon
A

= 0,04 ha

= 0,01ha

= 0,0004 ha

5. Belta
A
6. Semai
A

34

Kerapatan Jenis (Di)


Rumus :Di =
dengan : Di = kerapatan jenis i
ni = Jumlah total tegakan dari jenis i
A = Luas total area pengambilan sampel

Tingkat Pohon

Tingkat Belta

Tingkat Semai

Jenis (A)

75

Jenis (A)

Jenis (A)

5000

Jenis (B)

Jenis (B)

100

Jenis (B)

Jenis (C)

Jenis (C)

300

Jenis (C)

Jenis (D)

25

Jenis (D)

Jenis (D)

2500

Jenis (E)

150

Jenis (E)

1000

Jenis (E)

7500

Jenis (F)

25

Jenis (F)

200

Jenis (F)

12500

Jenis
Jenis (G)

25

Jenis (G)

100

(G)

5000

300

1700

32500

Table 16. Kerapatan Jenis


Kerapatan jenis pohon :
5. Jenis (A)
Di =

5. Jenis (E)
= 75

6. Jenis (B)
Di =

= 150
6. Jenis (F)

=0

7. Jenis (C)
Di =

Di =

Di =

= 25

7. Jenis (G)
=0

Di =

= 25

8. Jenis (D)
Di =

= 25

Total kerapatan jenis pohon adalah 75 + 0 + 0 + 25 + 150 + 25 +25= 300

35

Kerapatan Jenis Belta

5. Jenis (A)
Di =

5. Jenis (E)
=0

Di =

6. Jenis (B)
Di =

6. Jenis (F)
= 100

Di =

7. Jenis (C)
Di =

= 1000

= 200
7. Jenis (G)

=300

Di =

= 100

8. Jenis (D)
Di =

=0

Total kerapatan jenis belta adalah 0 + 100+ 300+ 0 + 1000+ 200 + 100=
1700
Kerapatan Jenis Semai
5. Jenis (A)
Di =

5. Jenis (E)
= 5000

Di =

6. Jenis (B)
Di =

6. Jenis (F)
=0

Di =

7. Jenis (C)
Di =

= 7500

= 12500
7. Jenis (G)

=0

Di =

= 5000

8. Jenis (D)
Di =

= 2500

Total kerapatan jenis semai adalah 5000+ 0 + 0 + 2500 +7500 + 12500 +


5000 = 32500

Kerapatan Relatif Jenis (Rdi) (%)


Rumus :
Dengan : Di = Kerapatan jenis i
Di= Total kerapatan seluruh jenis

36

Tingkat Pohon

Tingkat Belta

Tingkat Semai

Jenis
(A)

Jenis
25

Jenis (A)

Jenis
(B)

Jenis (B)

5,88

Jenis (C)

17,65

8,3

Jenis (D)

(C)

(D)

7,09

Jenis
50

Jenis (E)

58,82

Jenis
(F)

Jenis

Jenis
(E)

(B)
Jenis

Jenis
(D)

15,38

Jenis

Jenis
(C)

(A)

(E)

23,08

Jenis
8,3

Jenis (F)

11,76

Jenis

(F)

38,46

Jenis

(G)

8,3

Jenis (G)

100

5,88
100

(G)

15,38

100

Table 17. Kerapatan Relatif Jenis


Kerapatan relatif jenis pohon :
5. Jenis (A)
RDi =

5. Jenis (E)
= 25 % RDi =

6. Jenis (B)
RDi =

6. Jenis (F)
= 0%

7. Jenis (C)
RDi =

= 50 %

RDi =

= 8,3 %

7. Jenis (G)
=0%

RDi =

= 8,3 %

8. Jenis (D)
RDi =

= 8,3%

Total kerapatan relatif jenis pohon adalah


(25+ 0+ 0 + 8,3+ 50 + 8,3 +8,3) % = 100%
Kerapatan relatif jenis belta :
5. Jenis (A)
RDi =
6. Jenis (B)

5. Jenis (E)
= 0%

RDi =

= 58,82 %

6. Jenis (F)
37

RDi =

= 5,88%

RDi =

= 11,76

%
7. Jenis (C)
RDi =

7. Jenis (G)
= 17,65%

RDi =

= 5,88 %

8. Jenis (D)
RDi =

= 0%

Total kerapatan relatif jenis belta adalah (0+ 5,88+ 17,65 + 0 + 58,82+
11,76+ 5,88 ) % = 100 %

Kerapatan relatif jenis semai :


5. Jenis (A)
RDi =

5. Jenis (E)
= 15,38%

6. Jenis (B)
RDi =

= 23,08%

6. Jenis (F)
= 0 % RDi =

7. Jenis (C)
RDi =

RDi =

= 38,46%

7. Jenis (G)
=0%

RDi =

= 15,38%

8. Jenis (D)
RDi =

= 7,69%

Total kerapatan relatif jenis semai adalah (15,38 + 0 + 0 + 7,69 + 23,08 +


38,46 + 15,38) % = 100 %
Frekuensi Jenis (Fi)
Rumus : Fi =

38

Tingkat Pohon

Tingkat Belta

Tingkat Semai

Jenis (A)

0,25

Jenis (A)

Jenis (A)

0,25

Jenis (B)

Jenis (B)

0,25

Jenis (B)

Jenis (C)

Jenis (C)

0,50

Jenis (C)

Jenis (D)

0,25

Jenis (D)

Jenis (D)

0,25

Jenis (E)

0,75

Jenis (E)

Jenis (E)

0,25

Jenis (F)

0,25

Jenis (F)

0,25

Jenis (F)

0,5

Jenis (G)

0,25

Jenis (G)

0,25

Jenis (G)

0,5

1,75

2,25

1,75

Table 18. Frekuensi Jenis


Frekuensi jenis pohon
5. Jenis (A)

5. Jenis (E)

Fi = = 0,25

Fi = = 0,75

6. Jenis (B)

6. Jenis (F)

Fi = = 0

Fi = = 0,25

7. Jenis (C)

7. Jenis (G)

Fi = = 0

Fi = = 0,25

8. Jenis (D)
Fi = = 0,25
Total frekuensi jenis pohon adalah 0,25 + 0+ 0+ 0,25 + ,750+ 0,25 + 0,25
= 1,75

Frekuensi Jenis Belta


5. Jenis (A)

5. Jenis (E)

Fi = = 0

Fi = = 1

6. Jenis (B)
Fi =
7. Jenis (C)
Fi = = 0,50

6. Jenis (F)
= 0,25

Fi = = 0,25
7. Jenis (G)
Fi = = 0,25

8. Jenis (D)
Fi = = 0

39

Total frekuensi jenis belta adalah 0+ 0,25+ 0,50 + 0 + 1 + 0,25 + 0,25=


2,25
Frekuensi Jenis Semai
5. Jenis (A)
Fi = = 0,25
6. Jenis (B)
Fi = = 0
7. Jenis (C)
Fi = = 0

5. Jenis (E)
Fi = = 0,25
6. Jenis (F)
Fi = = 0,5
7. Jenis (G)
Fi = = 0,5

8. Jenis (D)
Fi = = 0,25
Total frekuensi jenis semaiadalah 0,25 + 0+ 0 + 0,25 + 0,25+ 0,5+ 0,5=
1,75
Frekuensi Relatif Jenis (Rfi) (%)
Rumus : Rfi =

40

Tingkat Pohon

Tingkat Belta

Tingkat Semai

Jenis
Jenis (A)

14,29

(A)

Jenis (A)

14,29

11,11

Jenis (B)

22,22

Jenis (C)

Jenis (D)

14,29

44,44

Jenis (E)

14,29

11,11

Jenis (F)

28,57

Jenis
Jenis (B)

(B)
Jenis

Jenis (C)

(C)
Jenis

Jenis (D)

14,29

(D)
Jenis

Jenis (E)

42,86

(E)
Jenis

Jenis (F)

14,29

(F)
Jenis

Jenis (G)

14,29

(G)

11,11

Jenis (G)

28,57

100

100

100

Table 19. Frekuensi Relatif Jenis

Frekuensi relatif jenis pohon


5. Jenis (A)
Rfi =

5. Jenis (E)
= 14,29 %

6. Jenis (B)
Rfi =

= 42,86 %

6. Jenis (F)
= 0%

7. Jenis (C)
Rfi =

Rfi =

Rfi =

= 14,29 %

7. Jenis (G)
=0%

Rfi =

= 14,29 %

8. Jenis (D)
Rfi =

= 14,29%

Total frekuensi relatif jenis pohon adalah (14,29 + 0 + 0 + 14,29 + 42,86 +


14,29 + 14,29) % = 100 %

Frekuensi relatif jenis belta


5. Jenis (A)

5. Jenis (E)

41

Rfi =

= 0%

Rfi =

6. Jenis (B)

=44,44 %

6. Jenis (F)

Rfi =

= 11,11%

Rfi =

7. Jenis (C)

= 11,11%

7. Jenis (G)

Rfi =

= 22,22 %

Rfi =

=11,11 %

8. Jenis (D)
Rfi =

=0%

Total frekuensi relatif jenis belta adalah (0+ 11,11 + 22,22 + 0 + 44,44 +
11,11 +11,11) %= 100 %

Frekuensi relatif jenis semai


5. Jenis (A)

5. Jenis (E)

Rfi =

= 14,29%

Rfi =

6. Jenis (B)

= 14,29%

6. Jenis (F)

Rfi =

= 0%

Rfi =

7. Jenis (C)

= 28,57%
7. Jenis (G)

Rfi =

=0%

Rfi =

= 28,57%

8. Jenis (D)
Rfi =

= 14,29%

Total frekuensi relatif jenis semai adalah (14,29+ 0+ 0+ 14,29+ 14,29+


28,57+ 28,57 % = 100 %

Penutupan Jenis (Pji)


(

Rumus : Pji =
Dengan : DBH = diameter pohon jenis i
A

= Luas area (pohon/belta/semai)

42

Tingkat Pohon

Tingkat Belta

Jenis
(A)

Jenis
4852,196

Jenis
0

(A)

3115,665

(B)

1130,4

(C)

Jenis
3678,041

Jenis

Jenis

(D)

(D)

(E)

41526,5

(E)

1256

Jenis

(F)

Jenis

961,625

Jenis

Jenis
41526,5

Jenis

Jenis
149567,816

Jenis

(C)

Jenis

314

Jenis

Jenis

(C)

(F)

(A)

(B)

Jenis

(E)

Jenis

Jenis

(B)

(D)

Tingkat Semai

3316,625

(F)

Jenis

3320,313

Jenis

(G)

59365,625

(G)

1589,625

(G)

6358,5

258990,18

50678,815

12210,438

Table 20. Penutupan Jenis


Penutupan Jenis Pohon
5. Jenis (A)

5. Jenis (E)
(

Pji =

= 4474,696

Pji =

6. Jenis (B)

= 149567,816

6. Jenis (F)
( )

Pji =

=0

Pji =

7. Jenis (C)

= 41526,5
7. Jenis (G)

( )

Pji =

=0

Pji =

= 59365,625

8. Jenis (D)
(

Pji =

= 3678,04

Total penutupan jenis pohon adalah 4474,696+ 0+ 0+ 3678,04 +


149567,816+ 41526,5+ 59365,625= 258612,677

Penutupan Jenis Belta


5. Jenis (A)

5. Jenis (E)

43

( )

Pji =

=0

Pji =

6. Jenis (B)

= 41526,5

6. Jenis (F)
(

Pji =

=3115,665

Pji =

7. Jenis (C)

=3316,625

7. Jenis (G)
(

Pji =

=1130,4

Pji =

= 1589,625

8. Jenis (D)
( )

Pji =

=0

Total penutupan relatif jenis belta adalah0+ 3115,665+1130,4 +0


+41526,5 +3316,625+ 1589,625= 50678,815

Penutupan jenis semai


5. Jenis (A)

5. Jenis (E)
(

Pji =

=314

Pji =

6. Jenis (B)

=1256

6. Jenis (F)
( )

Pji =

=0

Pji =

7. Jenis (C)

=3320,313

7. Jenis (G)
( )

Pji =

=0

Pji =

= 6358,5

8. Jenis (D)
(

Pji =

=961,625

Total penutupan jenis semai adalah 314+ 0 + 0 + 961,625+ 1256+


3320,313+ 6358,5= 12210,438

44

4.1.2. LAMUN
Lokasi

: Pantai Kondang Merak

Suhu

: 326,50C

Kedalaman :Salinitas

: 36

Tanggal

: 25 Oktober 2014

pH

: 8,6

Waktu

:10.30 WIB

TRANSEK 1
4

Table 21. Lamun Transek 1


Perhitungan Penutupan Lamun
Kelas

Frekuensi(f)

Nilai Tengah (M) (%)

Nilai f M

3,13

25,04

27

9,38

253,26

32

18,75

608

19

37,5

712,55

11

75

82,5

TOTAL

2415,8

Table 22. Perhitungan penutupan Lamun

45

Penutupan lamun di transek 1


C

=
=32,21%
TRANSEK 2
5

Table 23. Lamun transek 2


Perhitungan Penutupan Lamun
Kelas

Frekuensi(f)

Nilai Tengah (M) (%)

Nilai f M

3,13

14

9,38

131,32

24

18,75

450

34

37,5

1275

28

75

2100

TOTAL

3958,32

Table 24. Perhitungan Penutupan Lamun


Penutupan lamun di transek 2
C

=
=

=52,75 %

46

TRANSEK 3
3

Table 25. LamunTransek 3


Perhitungan Penutupan Lamun
Kelas

Frekuensi(f)

Nilai Tengah (M) (%)

Nilai f M

14

3,13

43,82

28

9,38

262,64

41

18,75

768,75

37,5

337,5

75

75

TOTAL

1478,53

Table 26. Perhitungan Penutupan Lamun


Penutupan lamun di transek 3
C

=
=19,71 %

47

4.1.3. TERUMBU KARANG

Lokasi

: Pantai Kondang Merak

Suhu

: 326,50C

Kedalaman :Salinitas

: 36

Tanggal

: 25 Oktober 2014

pH

: 8,6

Waktu

:10.30 WIB

Intercept

Length (l)

Category

TAKSON*

Tawal

Takhir

(m)

(Lifeform)

1,8

1,8

SD

Abiotic

1,8

2,3

0,5

CM

Hard Coral Non-Acropora

2,3

6,7

4,4

SD

Abiotic

6,7

6,8

0,1

CF

Hard Coral Non-Acropora

6,8

10,5

3,7

SD

Abiotic

10,5

10,7

0,2

CM

Hard Coral Non-Acropora

10,7

10,8

0,1

SD

Abiotic

10,8

10,9

0,1

CF

Hard Coral Non-Acropora

10,9

11,3

0,4

SD

Abiotic

11,3

11,5

0,2

ACB

Hard Coral Acropora

11,5

14,8

3,3

SD

Abiotic

14,8

14,9

0,1

CF

Hard Coral Non-Acropora

14,9

22,1

7,2

SD

Abiotic

22,1

22,3

0,2

ACB

Hard Coral Acropora

48

22,3

27,3

SD

Abiotic

27,3

27,5

0,2

CF

Hard Coral Non-Acropora

27,5

27,6

0,1

SD

Abiotic

27,6

27,9

0,3

CF

Hard Coral Non-Acropora

27,9

30

2,1

SD

Abiotic

30

30,1

0,1

CF

Hard Coral Non-Acropora

30,1

30,5

0,4

SD

Abiotic

30,5

30,7

0,2

CM

Hard Coral Non-Acropora

Table 27. Terumbu Karang


ANALISIS DATA
1. Persentase Penutupan

Jadi, persentase terumbu karang di Kondang Merak tergolong kritis


2. Persen Penutupan Bentuk Pertumbuhan

49

3. Kepadatan Relatif

4. Frekuensi Relatif Spesies

5. Indeks Diversitas
(

Jadi, indeks diversitas terumbu karang di Pantai Kondang Merak


tergolong sedang.
6. Indeks Keseragaman

7. Indeks Dominasi

50

Jadi, indeks dominasi terumbu karang di Pantai Kondang Merak tergolong


rendah.

51

5. PENUTUP
5.1 KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum Ekologi Laut Tropis adalah :
Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis
dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae.
Terumbu karang (coral reef) merupakan ekosistem yang khas terdapat di
daerah tropis
Secara umum hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe
ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah pasang surut (pantai,
laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air
laut surut dan komunitas tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap
garam (salinity) air laut.
Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai pantai
yang datar.
Lamun

adalah

tumbuhan

berbunga

yang

sudah

sepenuhnya

menyesuaikan diri untuk hidup terbenam dalam laut.

5.2 SARAN

Adapun saran yang didapat dari praktikum Ekologi Laut Tropis


adalah diharapkan para praktikan agar dapat mengidentifikasi jenis
mangrove

dengan

tepat

agar

tidak

terjadi

kesalahan

dalam

pengidentifikasian. Serta dalam meneliti karang dan lamun diharapkan


agar berhati-hati supaya tidak merusak ekosistem dari karang dan
lamun tersebut. Serta diharapkan tidak telat dalam memberikan
informasi baik tentang laporan maupun praktikum.

52

DAFTAR PUSTAKA

Atmadja, Wanda S. 1992.Rumput Laut Sebagai Obat.


Aziz, Aznam. 1994. Pengaruh Salinitas terhadap Sebaran Fauna Echinodermata.
Jurnal Oseana, vol. XIX, no. 2, hal. 23 - 32
Azkab, Muhammad Husni. 2000. Struktur dan Fungsi pada Komunitas Lamun.
Berhimpon,

S.

2001.

Industri

Pangan

Hasil

Bernilai

Tinggi

(Valuable

Commodities) Salah Satu Unggulan Agroindustri Sulawesi Utara.


Manado: PATPI
Caesar, H. 1996. Economic Analysis of Indonesian Coral Reef. Working Paper
Series Work in Progress. World Bank, Washington DC: 97 pp.
Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran Hubungannya dengan
Toksikologi Senyawa Logam. Jakarta: UI Press
Gray, C.A., D.J. McElligott and R.C. Chick. 1996. Intra and Inter Estuary
Differences in AAssemblages of Fishes Associated with Shallow
Seagrass and Bare Sand. Marine Freshwater Res, vol. 47, hal. 723735
Haruddin, dkk. 2011.Dampak Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang Terhadap
Hasil Penangkapan Ikan Oleh Nelayan Secara Tradisional di Pulau
Siompu

Kabupaten

Buton

Propinsi

Sulawesi

Tenggara.

Surakarta:Universitas Sebelas MaretPress


Hogarth, P.J. 1999. The Biology of Mangroves. Oxford: Oxford University Press
-

OxfordTomlinson,

P.B.

1986.

The

Botany

of

Mangroves.

Cambridge: Cambridge University Press


Hutomo, M. dan T. Peristiwady. 1990. Diversity, Abundance and Diet of Fish in
the Seagrass Beds of Lombok Island, Indonesia.
-

J. Kuo, R.C. Phillips, D.I. Walker and H. Kirkman. Seagrass


Biology:

Proceedings of an International Workshop. Perth:

University of Western Australia


Ira, dkk. 2012. Kerapatandan Penutupan Lamunpada Daerah TanggulOmbakDI
Perairan Desa Terebino Provinsi Sulawesi Tengah. Universitas
Haluoleo
Kamal,

Eni.

2006.

Potensidan

Pelestarian Sumberdaya

Pesisir:

Hutan

Mangrovedan Terumbu Karangdi Sumatera Barat. Universitas Bung


Hatta

53

Kordi, M. Ghufran H. 2010. A to Z Budidaya Biota Akuatik untuk Pangan,


Kosmetik, dan Obat-Obatan.Yogjakarta: Andi Offset
Kusumastanto T. 2006. Ekonomi Kelautan (Ocean Economics Oceanomics).
Bogor: Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian
Bogor
Lovelock, Catherine, 1964. Field Guide to the Mangrove of Queensland.
Menzies, F., J.S. Zaneveld and R.M. Pratt. 1967. Transported Turtle Grass as A
Sources Organic Enrichment of Abysal Sediments of North Carolina.
Deep-Sea Research, no.14, hal. 111-112
Nontji, Anugerah. 1987. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan
Nontji, Anugerah. 1993. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan
Nontji, Anugerah. 2005. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan
Nganro,Noorsalam Rahman. 2009.Pendidikan dan Penelitian di Sekolah ilmu
Teknologi Hayati. Bandung: Institut Teknologi Bandung
Nursanto Iman. 2004. Pembuatan Minuman sebagai Usaha Diversifikasi Rumput
Laut Eucheuma cottoni. Bogor: IPB
Prasetyo, dkk. 2011. Kajian Potensi Kerusakan Terumbu Karang dan Alternatif
Pemecahannya di Perairan Sanur
Regional. 2008. Ekosistem Pesisir dan Laut dalam regional.coramap.or.id
Saraswati, A.A. 2004. Peranan Serasah Mangrove pada Wilayah Pesisir. Jurnal
Penelitian Perairan Jakarta.
Sari, dkk. Sudi Parameter Fisikadan Kimia Daerah Penangkapan Ikan Perairan
Selat Asam Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau. Riau:
Universitas Riau Press
Satino. 2011. Materi Kuliah Biologi Luat. http://staff.uny.ac.id.
Souhoka. 2009. Kondisi Karang Batudi Perairan Pulau Tanajampea, Kabupaten
Selayar. UPT Loka Konservasi Biota Laut Bitung-LIPI
Sunarto. 2006. Keanekaragaman Hayatidan Degradasi Ekosistem Terumbu
Karang. Universitas Pajajaran Press
Sunarto. 2008 . Karakteristik Biologidan Peranan Planktonbagi Ekosistem Laut.
Universitas PajajaranPress
Supriyadi, Indarto Happy. 2010.Pemetaan Padang Lamun di Perairan Teluk Toli
Toli

dan

Pulau

Sekitarnya,

Sulawesi

Barat.

Pusat

Penelitian

Oceanografi.

54

Vitria, Belvi. 2010. Berbagai Kegiatan Manusia yang Dapat Menyebabkan


Terjadinya

Degradasi

Ekosistem

Pantai

serta

Dampak

yang

Ditimbulkannya. Pontianak: Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan


Politeknik Negeri Pontianak Press
Warman. 2013. Kerusakan Terumbu Karang, Mangrovedan Padang Lamun
Ancamanterhadap Sumberdaya Ikan, Apartemen Ikan Solusinya.

55

LAMPIRAN

56

NO

FOTO DAN NAMA

PESAN DAN KESAN


PESAN
SEMANGAT

KESAN
ADHIMAS HARYO P
2

SANTAI DAN SERIUS


PESAN
SEMANGAT

KESAN
HARDI BAGUS
3

SANTAI DAN RAMAH


PESAN
SEMANGAT

ZAKIYATUL FARIDA

KESAN
ENAK DAN RAMAH

PESAN
SEMANGAT

KESAN
NADILA FITALAYA

ENAK DAN SIPP

57

PESAN
SEMANGAT

KESAN
BAIK
PUTRI M BARBARA
6

PESAN
SEMANGAT

NETRO HANDARU

KESAN
ENAK SUDAH

PESAN
SEMANGAT

KESAN
SRI RAHMADHANI
8

BAIK DAN ENAK


PESAN
SEMANGAT

KESAN
AKBAR WICAKSONO

BAIK

58

PESAN
SEMANGAT

KESAN
TAUFIK R IRKHAMI
10

ENAK
PESAN
SEMANGAT

KESAN
NURUL MUKHLIS
11

BAIK ENAK
PESAN
SEMANGAT

KESAN
TIDAK PERNAH KELIHATAN
BURHANY RESMANA
12

PESAN
SEMANGAT

KESAN
TIDAK PERNAH KELIHATAN
FATIN KURNIA LAILI

59

13

PESAN
SEMANGAT

KESAN
LUH NYOMAN DIDIK TRI U
14

ENAK RAMAH
PESAN
SEMANGAT

RENARDHI ABYAN P

KESAN
ENAK BAIK

15

PESAN
SEMANGAT

DHEA AYU BATAMIA

KESAN
BAIK

16

PESAN
SEMANGAT

KESAN
CANDRA WIJAYA

ENAK

60

17

PESAN
SEMANGAT

KESAN
BAIK DAN ENAK
GUSTIAR BAYU ANGGANIE
18

ANTHON ANDRIMIDA

PESAN
SEMANGAT

KESAN
ENAK

19

PESAN
SEMANGAT

KESAN
SAIFUL RIZAL F

ENAK DAN SIPP

61

20

PESAN
SEMANGAT

KESAN
ENAK
MAHENDRA AHMAD
21

PESAN
SEMANGAT

KESAN
ENAK BAIK
FATATIN NURYANA
22

SITI ANIKOTUL MUNAMAZEH

PESAN
SEMANGAT

KESAN
BAIK

62