Anda di halaman 1dari 16

KIMIA AIR

Dan PEMETAAN MUKA AIR TANAH

Disusun Oleh :

:: Assisten hidrogeologi

Air hujan yang meresap ke bawah


permukaan
tanah
dalam
bentuk
penerusan maupun peresapan, dalam
perjalanannya membawa unsur-unsur
kimia.
Kondisi kimia air tanah juga dipengaruhi
oleh kombinasi antara air yang masuk
dalam akuifer dan proses alam yang
terjadi didalamanya, proses tersebut yang
mengontrol kualitas airtanah karena
dapat mengubah kualitas air tanah.

PEMBAHASAN

Proses-Proses Kimia Yang Mempengaruhi Kualitas Airtanah


Pada saat airtanah bergerak melalui pori-pori
atau rongga atau rekahan di dalam tanah atau
batuan, maka terjadilah proses pelarutan
mineral-mineral yang ada pada tanah atau
batuan yang dilewatinya.
Dimana prosesnya akan berakhir hingga
tercapainya kesetimbangan konsentrasi unsurunsur dalam airtanah atau sampai mineralmineral tersebut terlarut seluruhnya.

Unsur-unsur kimia yang terlarut di dalam airtanah dapat


dibagi menjadi 3 kelompok : mayor element , minor element
serta trace element.
1.

Kelompok mayor element.


a. Kation Ca2+, Mg2+, Na+, K+
b. Anion HCO3-,SO42-, Cl-, dan NO3-

2.

Kelompok minor element terdiri dari Fe, Al, Cu,


Ag, PO4, NO2

3.

kelompok trace element terdiri dari Hg, Pb, Zn,


Ni, As, dll.

Hasil
analisis
kimia
air
tanah sering disajikan dalam
bentuk diagram, disesuaikan
dengan maksud dari analisis
kimia tersebut. Misalnya untuk
mengetahui pemberian nama
jenis
air
tanah,
biasanya
digunakan Diagram Segitiga
trilinier Piper. Untuk memetakan
wilayah yang mempunyai jenis air
tanah sama,

digunakan Diagram Stiff, juga


dikenal Diagram Bar Vertikal,
Diagram Vertikal, Diagram
Vector, Diagram Lingkaran,
Diagram
Schoeller
semilog, yang masing-masing
mempunyai kelebihan sendirisendiri
di
dalam
menggambarkan
hasil
analisisnya untuk maksud
tertentu (Hadipurwo, 2006).

penggunaan diagram trilinier Piper untuk


klasifikasi air tanah berdasarkan kandungan ion
(Morgan & Winner, 1962; Back, 1966 dalam
Freeze & Cherry, 1979).

Keterangan Area klasifikasi trilinear diagram.

Area 1. Berarti kandungan alkali tanah melebihi kandungan alkalinya.


Area 2. Berarti kandungan alkali melebihi kandungan alkali tanahnya.
Area 3. Berarti kandungan asam lemah melebihi asam kuatnya.
Area 4. Berarti kandungan asam kuat melebihi asam lemahnya.
Area 5. Berarti kekerasan karbonat (alkalinitas sekunder) > 50%, sifat kimia airtanah
didominasi oleh alkali tanah dan asam lemah.
Area 6. Berarti kekerasan non-karbonat (kegaraman sekunder) > 50%.
Area 7. Berarti non-karbonat alkali (kegaraman primer) > 50%, sifat kimia airtanah didominasi
oleh alkali dan asam kuat.
Area 8. Berarti karbonat alkali (alkalinitas primer) > 50%.
Area 9.Berarti pasangan kation dan anion seimbang tidak ada yang > 50%.

Tujuan

Alat & Bahan

Jaring Aliran (FLOW NET)


Flownet merupakan peta
yang berisikan kontur
airtanah dan arah aliran
airtanah

Terdiri Oleh :
Garis garis Equipotensial
Garis garis arah aliran
Saling berpotongan dan tegak lurus
Garis Aliran :
Garis yang menghubnkan titik titik
yg mempunyai arah pergerakan yg
sama
Garis Equipotensial :
Garis yg menghubungkan titik titik
yg mempunyai total head yg sama

Kegunaan Jaring Aliran :


Mengetahui arah aliran
Meng estimasi volume air yang mengalir
pada suatu akuifer
Mengetahui daerah tangkapan (recharge)
dan daerah pemanfaatan (discharge)

Secara teori, arah aliran (flow line)


airtanah dianggap tegak lurus dengan
kontur airtanah atau garis equipotensial.
kombinasi dari keduanya, yaitu
garis kontur airtanah
(equipotensial) dan arah aliran airtanah
(flow line) akan menghasilkan
suatu jaring-jaring dari aliran airtanah atau
disebut
| flow net |
Garis Equipotensial adalah
merupakan garis imajiner / khayal yang
menghubungkan titik-titik head yang
mempunyai ketinggian yang sama
di bawah permukaan.

Jaring-jaring aliran airtanah terdiri


dari garis equipotensial dan garis
aliran yang saling berpotongan tegak
lurus, dalam suatu jaring-jaring
aliran, garis garis aliran berjumlah tak
terhingga, namun dalam
penggambarannya hanya sebagian saja
yang ditampilkan.

Prosedur Kerja
1.
2.

Mencari titik sumur gali di


lapangan dan plotkan posisinya
pada peta topografi.
Ukur elevasi titik-titik sumur,
kedalaman airtanah di sumur
dari permukaan tanah dan
hitung tinggi muka airtanah dari
permukaan air laut.

Prosedur Kerja
Cara :
a). Mengukur tinggi bibir sumur
(elevasi bibir sumur terhadap
datum).
b). Mengukur muka airtanah di
sumur tersebut dengan meteran
(kedalaman m.a.t dari bibir
sumur).

C=ab

a = Kedalaman air sumur dari bibir


sumur
b = Ketinggian bibir sumur dari
permukaan tanah
c = Kedalam muka air tanah

Ketinggian MAT = Nilai tinggi Elevasi


(Z) Kedalaman MAT (c)
Ketinggian MAT = Z - C

Prosedur Kerja
2. Hubungkan titik-titik yang
memiliki nilai TMA sehingga
diperoleh
kontur
TMA
(equipotensial line). Pembuatan
kontur TMA dapat menggunakan
metode

Three Point Problem


Metode Three Point Problem ini
didasarkan
pada
data-data
ketinggian muka airtanah yang
diperoleh dari hasil pengolahan
data kedalaman muka airtanah.
Titik-titik yang mempunyai nilai
TMA
sama
selanjutnya
dihubungkan dengan garis yang
kemudian
disebut
dengan
Equipotensial line atau garis
kontur.

Prosedur Kerja
3. Membuat garis arah aliran airtanah,
yaitu dengan menarik garis dari daerah
dengan TMA tinggi menuju daerah
dengan TMA rendah dengan membentuk
sudut 900 , pada setiap perpotongan
dengan garis kontur yang dilaluinya.
Konsep ini merujuk pada sifat air yang
mengalir dari tempat tinggi menuju
ketempat rendah.
Apabila arah aliran telah terbentuk,
maka flownet airtanah telah siap untuk
digunakan sebagai dasar analisis potensi
airtanah suatu daerah.