Anda di halaman 1dari 5

1. Hubungan GA dengan tektonik ??

Ada tiga jenis batas lempeng yang berbeda dari cara lempengan tersebut bergerak
relatif terhadap satu sama lain. Tiga jenis ini masing-masing berhubungan dengan
fenomena yang berbeda di permukaan. Tiga jenis batas lempeng tersebut adalah:
a. Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan
mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform
(transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang
berlawanan dengan pengamat) ataupun dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan
dengan pengamat). Contoh sesar jenis ini adalah Sesar San Andreas di California.
b. Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi ketika dua
lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona retakan
(rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen
c. Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi jika dua
lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona subduksi
jika salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau tabrakan benua (continental
collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua. Palung laut yang dalam
biasanya berada di zona subduksi, di mana potongan lempeng yang terhunjam
mengandung banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini
dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan
pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh kasus ini dapat kita lihat
di Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan busur pulau Jepang
2. Siklus batuan menggambarkan seluruh proses yang dengannya batuan dibentuk,
dimodifikasi, ditransportasikan, mengalami dekomposisi, dan dibentuk kembali sebagai hasil
dari proses internal dan eksternal Bumi. Siklus batuan ini berjalan secara kontinyu atau
berulang dan tidak pernah berakhir. Siklus ini adalah fenomena yang terjadi di kerak benua
(geosfer) yang berinteraksi dengan atmosfer, hidrosfer, dan biosfer dan digerakkan oleh
energi panas internal atau energi panas dari dalam Bumi dan energi panas yang datang dari
Matahari.
Kerak bumi yang tersingkap ke udara akan mengalami pelapukan dan mengalami
transformasi menjadi regolit melalui proses yang melibatkan atmosfer, hidrosfer dan biosfer.
Selanjutnya, proses erosi mentansportasikan regolit dan kemudian mengendapkannya
sebagai sedimen. Setelah mengalami deposisi, sedimen tertimbun dan mengalami kompaksi
dan kemudian menjadi batuan sedimen. Kemudian, proses-proses tektonik yang
menggerakkan lempeng dan pengangkatan kerak Bumi menyebabkan batuan sedimen
mengalami deformasi. Penimbunan yang lebih dalam membuat batuan sedimen menjadi
batuan metamorik, dan penimbunan yang lebih dalam lagi membuat batuan metamorfik
meleleh membentuk magma yang dari magma ini kemudian terbentuk batuan beku yang
baru. Pada berbagai tahap siklus batuan ini, tektonik dapat mengangkat kerak bumi dan
menyingkapkan batuan sehingga batuan tersebut mengalami pelapukan dan erosi. Dengan
demikian, siklus batuan ini akan terus berlanjut tanpa henti.
Dari kesimpulan diatas, jika kita hubungkan siklus batuan dengan sedimentologi, maka
batuan sedimen itu bisa berasal dari batuan apa saja, baik itu batuan beku, batuan

metamorf, atau pun batuan sedimen itu sendiri, untuk mudah memahami bisa dilihat dari
gambar dibawah ini.

Siklus batuan adalah proses dimana suatu batuan melebur, meleleh, membeku, dan
kemudian menjadi batu kembali. Pada awalnya siklus batuan terbentuk oleh
pergeseran lempengan yang ada di permukaan bumi. Lalu pergeseran ini
menghasilkan magma yang dimana magma tersebut akan mendesak keluar permukaan
bumi dan pada saat magma mencair di permukaan bumi, maka akan menyelimuti
tanah yang dilalui oleh cairan magma. Untuk beberapa waktu magma akan membeku
dan berubah menjadi batuan dingin yang dinamakan "Igneous Rock".
Batuan akan mengalami pelapukan yang disebabkan oleh bebrapa hal diantarnya:
3. Bentuk Gunung Api Berdasarkan tipe letusannya
Bentuk Gunungapi brdasrkan morfologi
Bentuk dan bentang alam gunungapi, terdiri atas:
a.Kerucut
Dibentuk oleh endapan piroklastik atau lava atau keduanya.
b.Kubah Lava
Dibentuk oleh terobosan lava di kawah, membentuk seperti kubah. contohnya gunung
Saint Helens. Akumulasi lava dengan viskositas tinggi pada lubang kawah

c.Kerucut Sinder
Dibentuk oleh perlapisan material sinder atau skoria.
d.Maar
Biasanya terbentuk pada lereng atau kaki gunungapi utama akibat letusan freatik atau
freatomagmatik.
e.Plateau
Dataran tinggi yang dibentuk oleh pelamparan leleran lava.
f. Kaldera, contohnya gunung Crater Lake. Gunung ini sangatlah eksplosif, dan memiliki lava
berjenis riolith atau asam.
g. Perisai (shield volcano), kebanyakan berupa gunung non eksplosif, memiliki lava basalt,
dan biasanya di daerah hotspot.

4. Komposisi Lava/Magma Komposisi lava yang dimiliki sebuah gunung api sangat
menentukan bentuk dari gunung tersebut
1. Lava Felsic/Asam Lava yang asam mengandung prosentasi silika yang tinggi yaitu
>63%. Lava jenis ini cenderung sangat kental dan dikeluarkan dalam bentuk domes
dan dengan aliran yang pelan. Jenis gunung api yang dibentuk oleh lava biasanya
berupa stratovolkano atau dome. Karena lava ini sangat kental, maka lava ini
cenderung untuk memerangkap gas-gas, yang menyebabkan magma dierupsikan
dengan keras/ sangat violent.
2. Lava Intermediet Apabila magma mengandung silika sebanyak 52-63%, maka
magma jenis ini disebut magma intermediet atau lava andesitik. Kebanyakan, gunung
jenis ini berada di daerah zona subduksi. Contoh gunungnya adalah Gunung Merapi.
3. Lava Mafic Lava mafic merupakan lava yang mengandung komposisi silika 4552%. Lava jenis ini cenderung kurang kental, yang bergantung pada temperaturnya.

Lava ini juga biasanya memiliki temperatur lebih tinggi daripada lava felsik. Lava
seperti ini bisa terbentuk pada daerah-daerah: a. Mid oceanic ridge, b. Shield
vokano/perisai, baik pada kerak samudera maupun kerak benua, c. Continental flood
basalt
5. Tipe gunung api :

a) Tipe hawaii
Letusan berupa letupan dan lelehan
Dapur magma dangkal
Tekanan gas rendah dan lava cair
b) Tipe stromboli
Letusan berupa letupan dan lelehan
Tekanan gas sedang
Meletus secara periodik
Mengeluarkan lava disertai bom dan lapili
Contoh: G. Raung (Jatim), G. Stromboli
c) Tipe vulkano
Vulkano lemah: tekanan gas sedang, dapur magma dangkal, letusan mengeluarkan
material padat. Contoh: G. Bromo, G. Semeru
Vulkano kuat: tekanan gas tinggi, dapur magma dalam, letusan kuat
d) Tipe merapi
Letusan berupa hembusan gas
Lava kental
Dapur magma dangkal
Tekanan gas rendah
e) Tipe st. vincent
Lava cair liat
Letusan hebat
f) Tipe pelle
Sumbat kawah tinggi
Dapur magma dalam
Tekanan gas tinggi
Memancarkan gas pijar bersuhu 2000 C
Contoh: G. Montagna Pelle (Amerika Tengah)
g) Tipe perret
Letusan paling hebat
Dapur magma sangat dalam
Tekanan gas sangat tinggi
Lava kental
Contoh: G. Krakatau (Th. 1883)
Ciri - Ciri Gunung Berapi Akan Meletus :
1.
2.
3.
4.
5.

Suhu disekitar gunung naik


Mata air menjadi kering
sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang - kadang disertai getaran (gempa)
Tumbuhan disekitar gunung layu
Binatang disekitar gunung bermigrasi

6. Dampak Negative Akibat Gunung Merapi


1. Dampak dari abu gunung merapi yaitu berbagai jenis gas seperti Sulfur Dioksida
(SO2), gas Hidrogen Sulfida (H2S), Nitrogen Dioksida (NO2), serta debu dalam bentuk
partikel debu (Total Suspended Particulate atau Particulate Matter).
2. Kecelakaan lalu lintas akibat jalan berdebu licin, jatuh karena panik, serta makanan
yang terkontaminasi, dan lain-lain.
3. Banyak dari penduduk, terutama sekitar Gunung Merapi yang kehilangan pekerjaan
rutin kesehariannya.
4. timbulnya penyakit pada korban seperti ISPA
5. 64 desa di Sleman dan puluhan desa di Magelang serta Klaten porak poranda.
Bahkan, desa tersebut dinyatakan tertutup karena berada di zona yang tidak aman.
Sebagian desa sudah tertutup debu vulkanik dengan ketebalan hingga satu meter.
5. Hujan debu dari Merapi juga meluas dan membatasi jarak pandang. Lalu lintas, baik
darat maupun udara, mulai terganggu. Bahkan, penerbangan dari dan ke Yogyakarta
ditutup sementara waktu.
6. Dan terjadi pula kebakaran hutan karena terkena laharnya.
7. Banyak dalam sektor pertanian terganggu akibat bencana ini yang menyebabkan
pendapatan bisnis para petani menurun drastis.
8. Di sektor perikanan terjadi kerugian sekitar 1.272 ton.
9. Di sektor pariwisata, kunjungan wisatawan berkurang sehingga menyebabkan
tingkat hunian hotel yang tadinya 70 persen turun menjadi 30 persen.
Dampak positive :
1. Penambang pasir mendapat pekerjaan baru yaitu bekerja untuk mendapat pasir di
pinggiran aliran lahar dingin.
2. Hasil muntahan vulkanik bagi lahan pertanian dapat menyuburkan tanah, namun
dampak ini hanya dirasakan oleh penduduk sekitar gunung.
3. Bahan material vulkanik berupa pasir dan batu dapat digunakan sebagai bahan
material yang berfungsi untuk bahan bangunan, dan lain-lain.
Mitigasi Bencana meletusnya Gunung api :
1. Sebelum terjadi letusan dilakukan :

Pemantaun dan pengamatan kegiatan pada semua gunungapi aktif,

Pembuatan dan penyediaan Peta Kawasan Rawan Bencana dan Peta Zona Resiko Bahaya
Gunungapi yang didukung dengan dengan Peta Geologi Gunungapi,

Melaksanakan prosedur tetap penanggulangan bencana letusan gunungapi,

Melakukan pembimbingan dan pemeberian informasi gunungapi,

Melakukan penyelidikan dan penelitian geologi, geofisika dan geokimia di gunungapi,

Melakukan peningkatan sumberdaya manusia dan pendukungnya seperti peningkatan sarana


dan prasarananya.

2. Setelah terjadi letusan :

Menginventarisir data, mencakup sebaran dan volume hasil letusan,

Mengidentifikasi daerah yang terancam bahaya,

Memberikan saran penanggulangan bahaya,

Memberikan penataan kawasan jangka pendek dan jangka panjang,

Memperbaiki fasilitas pemantauan yang rusak,

Menurunkan status kegiatan, bila keadaan sudah menurun,

Melanjutkan memantauan rutin.

7. Energi panas Bumi adalah energi yang diekstraksi dari panas yang tersimpan di dalam
bumi. Energi panas Bumi ini berasal dari aktivitas tektonik di dalam bumi yang terjadi
sejak planet ini diciptakan. Panas ini juga berasal dari panas matahari yang diserap oleh
permukaan Bumi. Energi ini telah dipergunakan untuk memanaskan (ruangan ketika
musim dingin atau air) sejak peradaban Romawi, namun sekarang lebih populer untuk
menghasilkan energi listrik. Sekitar 10 Giga Watt pembangkit listrik tenaga panas Bumi
telah dipasang di seluruh dunia pada tahun 2007, dan menyumbang sekitar 0.3% total
energi listrik dunia.

Energi panas Bumi cukup ekonomis dan ramah lingkungan, namun terbatas hanya pada
dekat area perbatasan lapisan tektonik.
Potensi panas bumi di Indonesia terdapat dalam berbagai tipe sistem panas bumi.
Pengelompokan tipe sistem panas bumi ini dapat memberikan estimasi awal besarnya
potensi energi yang terkandung dalam suatu daerah panas bumi, dan barangkali dapat
digunakan sebagai pedoman awal dalam memilih lokasi-lokasi panas bumi untuk
dilakukan penyelidikan selanjutnya bagi pemangku kepentingan.