Anda di halaman 1dari 4

Daki makan kuku

Matanya menatap kosong ke arah warung nasi di depannya, sesekali ia menggaruk-


garuk kepalanya yang plontos. Kepala itu seakan terkena penyakit pharises yang
cukup akut. Urat-uratnya yang berwarna hijau kebiruan terlihat menonjol berdenyut-
denyut, peluh mengalir di atasnya.
Rupanya ia mulai tak tahan. Apalagi bola api di atas kepalanya terus merangsangnya
untuk mengguyur tenggorokan. Juga suasana di kantin yang amat tak berpihak
padanya.
“Bu air es teh manis, dan ayam bakarnya satu,” teriak seorang wanita yang duduk
bersila di dalam warung nasi. Beralaskan karpet merah tua, wanita itu beranjak,
berjalan menuju kursi di belakang Jono duduk.
Jono menoleh dengan wajah penuh harap ke arah belakang. Namun hanya senyuman
saja yang terlontar dari wanita pemesan. Mereka saling berlempar senyum beberapa
saat.
Dengan senyuman yang sama, Jono merogoh kantong celananya yang sempit, saking
sempitnya hingga Jono harus meregangkan kakinya lurus untuk mempermudah
tangannya masuk. Tangannya yang kering mengobok dalam kantongnya yang kering,
kekeringan amat mewarnai siang yang kering itu.
“Ah kosong,” gerutu Jono.
Begitulah nasib pria yang selalu ditemani pulpen dan kertas putih. Deadline pada hari
minggu tak bisa lagi ditunda, apalagi keterlambatan terbit bulletin yang seharusnya
dua hari lalu. Dan kini tersisa 4 hari lagi.
Mau tak mau, Jono harus mengejar narasumber hingga ke liang lahat kalau bisa.
Namun beruntung, orang yang akan menjadi narasumbernya belum di panggil Tuhan.
”Maaf lama menunggu,” terdengar suara berat dari arah belakang Jono.
Teguran Rektor itu rupanya cukup mengagetkan Jono. Jono yang sedang asik
menggaruk-garuk lehernya yang kumel kecoklatan penuh pasir dan debu itu dengan
cepat memutar badannya hingga 180 derajat
“Oh iya pak,”
“Tidak apa-apa,” kata Rektor
Mereka berdua berlempar pandang, yang satu pandangannya kosong penuh kelaparan,
satunya lagi dengan dasinya yang merah-kuning-hijau, segar melantunkan nyanyian
bahagia.
Jono melemparkan tangannya yang segera disambut cepat oleh pejabat tertinggi
kampus.
“Perkenalkan, saya Jono dari media asal-asalan,”
”Saya ingin mewawancarai Bapak menyangkut dijualnya beberapa bis antar jemput
mahasiswa,”
“Silahkan,” ujarnya sambil menempatkan pantat.
“Begini pak…”
Pembicaraan mereka terus berlanjut. Tangan Jono tak henti mengayunkan pulpennya
ke atas kertas putih, kalimat demi kalimat pun tersusun rapih.
Ayunan goresannya itu diselingi dengan garukkan-garukkan jari di tangan, kaki dan
pipi. Bahkan ketika Rektor itu menoleh memesan makanan, Jono memasukkan jarinya
ke selangkangan lalu digaruknya.
Rupanya hasil dua hari tak kena air sudah terasa di tubuh Jono. Perasaan gerah, gatal,
dipenuhi daki pun kini menyelimuti.
Bagaimana Jono bisa mandi, bisa berpakaian bersih saja sudah bersyukur. Maklum air
dari perusaahaan air di kosannya sudah lama tidak mengalir, mungkin disengaja atau
diiritkan oleh pemilik kos.
Mungkin Jono yang selalu pulang kos malam hari membuat kesal pemilik rumah
singgah itu, dan alasan kepulangan Jono tak pernah diberi tahu olehnya. Mungkin
beberapa alasan lain yang menjadi pertimbangan Jono untuk tidak memberi tau
alasannya, hingga Jono tidur di mushola komplek kosannya.
Jono memahami benar nasibnya itu. Apalagi, minggu-minggu ini Jono belum
mendapat kiriman uang dari kampungnya. Kampung dusun yang menjadi tempat
tinggal kedua orang tuanya itu yang sangat asri dan mengenyangkan.
Ia selalu berpikir, desa tidak sama seperti di kota ini. Kota adalah perkumpulan
manusia yang katanya makhluk sosial namun berjiwa individual.
Jika Jono tinggal di kampung yang menghampar padang hijau padi menguning itu,
perutnya tak pernah tersentuh rasa lapar. Walaupun jika ia berada di sekumpulan
orang yang tak ia kenal di desanya.
Pernah suatu ketika, sewaktu Jono kehabisan ongkos pulang dari pasar, seseorang
memberikan uang dan makan siang. Jono senang dan orang yang memberi makanan
dan uang pun senang, meski hanya seseruput senyuman Jono yang terhirup oleh
ikhlasnya.
Namun kabar dari kampung dusun itu sepertinya sedang tidak baik akhir-akhir ini.
Sepucuk surat yang dikirim dua minggu oleh Ibu Jono mengabari bahwa desa sedang
dilanda paceklik. Mau tak mau, ia harus bertahan di kota dengan keyakinan bahwa ia
adalah orang desa yang tangguh. Tangguh menghadapi kenyataan yang terus
menggerus keyakinannya
Jono akan malu sama kambing gembalaannya, sama sapi, temannya bermain di
sawah, apalagi sama blacky, ayam katek yang bulunya tidak hitam, jika ia melanggar
janjinya. Janji bahwa Jono akan selalu memegang keyakinannya itu.
“Pembicaraan ini sebaiknya kamu susun di berita nanti baik-baik, jangan sampai
menimbulkan fitnah, ya” ujar pria bertubuh gempal itu perlahan namun meyakinkan.
“Iya,” jawab Jono singkat.
Rektor itu mengobok air dalam kaleng alumunium. Kemudian diciprat-cipratkan ke
arah kucing yang melongok di bawah kolong meja mereka. Meong!
Perut Jono seakan mulai mendeteksi bau makanan yang ada di hadapannya itu, perut
kembung itu pun terdengar kencang berkeriuk. Namun apa boleh buat ia tak memiliki
uang, hanya air liur saja yang bisa ia nikmati.
“Kamu sudah makan?”
“Kebetulan hari ini saya ulang tahun, loh” kalimat yang keluar dari mulut berjendela
kumis itu sambil mengunyah segenggam nasi.
Seperti melihat reruntuhan berlian membanjiri bumi, Jono tersenyum menimpali.
Namun banjir itu tiba-tiba surut seketika, ketika ia merasa bahwa bukan makanan
yang akan membuatnya kenyang.
“Sebelumnya terimakasih pak, sebelum berangkat ke sini saya sudah makan banyak,
lihat nih perut saya terlihat besar kan?,” sambil tertawa, Jono dengan bangganya
menunjuk-nunjukkan perutnya ke arah Rector.
“Ha-ha-ha, kamu bisa saja,” tawa Rektor itu lebar meluap. Semakin lebar, semakin
banyak pula nasi bercampur ayam bakar itu terlihat.
Kedua mata Jono tak lepas-lepasnya memelototi nasi yang keluar berloncat-loncatan
itu. Kepalanya terus mengikuti gerakan dimana nasi itu mendarat, sambil mangap,
mulutnya berharap.
“Sudah, pesan saja nasinya, hari ini saya ulang tahun,” sekali lagi Rektor itu seakan
ingin diberi kado.
“Terimakasih pak,” jawab Jono singkat, sambil terus menggaruk tangannnya yang
sudah tidak gatal ke kepala. Garukan itu terus mengiringi waktu yang berputar,
berputar seperti kepala plontos Jono ketika melihat Rector menyuapkan nasinya ke
arah mulut.
“A-aduh,” erang Jono perlahan. Terlihat kepalanya lecet, rupanya garukan tadi sangat
lama dan kencang hingga seluruh elemennya terbawa di balik kuku-kuku jarinya yang
sangat panjang.
“Kamu sudah berapa lama tidak mandi Jono?” tanya Rector itu peduli.
“Baru saja mandi pak,”
“Tapi kok kuku-kuku jari kamu hitam-hitam sih?” heran Rector.
“Iya nih pak, saya iseng menggaruk, habisnya saya cukup lama menanti Bapak
makan,” sambil tersenyum kuda, Jono membungkuk-bungkukkan badannya.
Sepertinya, Jono cukup berani bercampur segan mengatakan itu.
“Oh maaf, telah lama menunggu saya makan, apa ada yang mau ditanyakan lagi?”
tanya Rector itu rada menyesal kesal. Ia tuangkan air dingin ke tenggorokannya,
memperlancar nasi biar ke lambung.
“Glek, I-iya pak,” ujar Jono, sambil tersenyum pasrah menelan ludah.
“Silahkan ditanyakan, Dek Jono”
“Ini pak…,”
Pembicaraan mereka kembali berlanjut. Beberapa patah pertanyaan terus Jono
lemparkan kepada Rektor, lemparannya itu terus berdialektika dengan jawaban yang
terus Jono kertaskan.
“Terimakasih banyak Pak, sepertinya data ini sudah cukup, saya akan mencari
narasumber lain untuk dimintai informasi,” ujar Jono. Tak lepas-lepas senyumannya
reda dari wajah Jono, pun begitu, tangannya tak reda menggaruk-garuk tangannya.
Rupanya Jono sangat puas dengan informasi yang didapat.
“Kamu yakin tidak mau makan,”
“Oh, terimakasih banyak pak,”
“Ya sudah, ini bakal ongkos,” tangan Rector itu dijulurkan ke Jono. Terlihat
gumpalan berwarna merah jambu bergambar gedung MPR/DPR menyembul diantara
telunjuk dan jari tengahnya.
“Terimakasih pak, saya sudah ada ongkos,”
”Ya sudah, beritainnya yang benar ya,” ujar Rector itu terus mengingatkan.
“Iya deh pak,” ujar Jono singkat.
Tangan Jono kembali dijulurkan, saling bergenggaman, mereka bersalaman.
“Besok gunting kuku,” ujar Rektor yang mengingatkan keberadaan kuku Jono. Kuku
yang begitu pekat padat oleh daki.
Jono tak menjawab, hanya tersenyum.
Suara tepakan sandal jepit Jono terus menghiasi jalan kampus, jalan yang dilalulalangi
beberapa orang yang membawa buku. Kakinya yang berselimut celana jeans biru
melangkah lebar ke arah depan.
Perlahan, sosok Jono terus menembus kepekatan asap ayam bakar. Rupanya keadaan
itu menggembirakan Jono, wewangiannya sangat rugi bila dilewatkan.
Mulut Jono pun dibuka lebar selebar-lebarnya. Seiring Jono melangkah, asap pun ikut
masuk ke dalam tenggorokan. Cacing-cacing diperut Jono pun mengejang ejakulasi,
keenakan, menikmati aroma ayam bakar yang melintas memasuki lambung Jono.
Meski ejakulasi cacing-cacingnya tak meredakan lapar, Jono tetap senang, karena bisa
merasakan cacing diperutnya senang.
Langkah terus Jono ayunkan dengan lantunan keroncongan. Di payungi terik raja
silau, perut Jono tak henti-hentinya bersuara rintih. Dililit rasa pelit, Jono terus
menahan keadaan yang sulit.
Di jalan, sambil mengusapkan keringatnya ke kaos putih hingga menjadi coklat, Jono
mengingat-ingat banyak hal tentang cara bertahan hidup manusia yang beragam. Ia
menganalogikan dirinya dengan mereka.
Ketika itu, Jono pernah menonton orang-orang Papua yang amat doyan memakan ulat
sagu, juga orang-orang pedalaman Australia yang sering memakan madu semut, yang
lebih extreme ia mengingat pernah menonton video wanita memakan tahi pacarnya.
“Heh,” Jono tersenyum dalam keanehannya.
“Meraka makan makanan yang tidak wajar, hingga mereka mampu bertahan hidup,”
gerutu Jono pelan.
Sambil terus memikirkan kehidupan orang pedalaman tadi, Jono yang lapar
meneruskan perjalanan.
Di lorong jalan sempit, yang di kiri kanannya berdiri tembok, diatapi angkasa, beribu-
ribu tatapan ratapan aneh dipenuhi rasa mual terus menggerus pribadi Jono, sampai-
sampai ada wanita yang menutupi mulutnya dengan telapak tangan, mau muntah.
“Hai Jono, bagaimana wawancara dengan Rektor,” ujar Lian, pimpinan redaksi, yang
sedang asik menikmati secangkir teh sambil duduk di kursi kayu memegangi Koran.
“Mmmmh, yah, mmm sudah selesai,” Jono memberikan telapak kanannya pada Lian,
mereka bersalaman.
“Tumben, bersih sekali tangan dan jari kuku kamu,” ujar Lian bangga. Lian bangga
melihat temannya itu yang memperhatikan kebersihan.
“Begitulah, sehat kan?” ujar Jono.
“Tapi yang digunting cuman sebelah?” Lian keheranan. Matanya bergantian menatap
tangan dan mulut Jono. Sambil memuntahkan kehampaan, Lian menutup mulutnya.
Kemudian, Jono menambahkannya dengan sendawa yang cukup keras.