Anda di halaman 1dari 3

Abraham bernama asli Abram. Ia adalah anak [Terah], berasal dari [Ur-Kasdim].

Ia dan
istrinya Sarai, [Lot] (anak dari saudara laki-laki Abram, Haran), dan semua
pengikutnya, kemudian pergi ke [Kanaan]. TUHAN memerintahkan Abram untuk pergi
ke “ negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu ", dan berjanji untuk memberkatinya
dan membuatnya bangsa yang besar. Karena percaya akan janji-Nya ini, Abram pergi
ke [Sikhem], dan menerima janji baru bahwa negeri itu akan diberikan pada
keturunannya. Setelah membangun sebuah [mezbah] untuk memperingati perjanjian
ini, ia pergi dan memasang kemah di antara Betel dan Ai, di mana ia membangun
sebuah mezbah lagi dan “ memanggil nama TUHAN."

Di sini ia tinggal untuk beberapa waktu, sampai ketika ada perselisihan antara
gembala-gembalanya dan gembala-gembala Lot. Abram mengusulkan pada Lot bahwa
mereka berpisah, dan mengijinkan keponakannya untuk memilih lebih dahulu.
Lot memilih tanah yang subur di sebelah timur [sungai Yordan], sementara Abram,
setelah menerima janji lagi dari TUHAN, pergi ke Mamre, dekat [Hebron], dan
mendirikan mezbah lagi bagi TUHAN.
Panggilan terhadap Abram berkaitan dengan tujuan semula Allah menciptakan
manusia, yaitu Kej. 1:26, pada saat Allah mengatakan kita diciptakan sebagai gambar-
Nya, yakni menjadi wakil/duta Allah di dunia ini. Jadi panggilan terhadap Abram untuk
menjadi berkat berlaku juga buat kita.

Berdoa untuk Sodom

Mengapa Abraham berdoa dengan "ngotot" untuk Sodom dan Gomora? Karena Tuhan
memanggil Abraham adalah untuk menjadi berkat, bukan hanya bagi bangsanya, tapi
bagi semua bangsa. Tuhan menuntut kita menjadi berkat bukan hanya untuk orang-
orang yang kita kasihi saja, tetapi untuk semua orang; siapapun dia, kenal ataupun
tidak, di gereja atau di luar gereja.Dalam cerita mengenai Lot dan pemusnahan Sodom
dan Gomora, Abram muncul ketika ia memohon pada TUHAN untuk tidak
menghancurkan Sodom, dan dijanjikan bahwa bila ada sepuluh orang benar di kota itu,
kota itu tidak akan dimusnahkan (Kejadian 18:16:33).
Di Mesir

Karena kelaparan yang hebat, Abram dan keluarganya pergi ke Mesir (26:11, 41:57,
42:1), di mana ia takut bahwa kecantikan istrinya akan menawan hati orang-orang
Mesir. Karena itu ia berdusta bahwa Sarai adalah saudara perempuannya. Ini tidak
menyelamatkannya dari Firaun, yang mengambilnya untuk harem pribadinya dan
memberi Abram banyak ternak dan budak. Tapi ketika TUHAN menimpakan tulah yang
hebat pada Firaun, Abram dan Sarai meninggalkan Mesir.

Hagar dan Ismael

Karena Sarai tidak dapat mengandung, janji Tuhan bahwa keturunan Abraham akan
mewarisi tanah perjanjian tampak seperti mustahil. Sarai, sesuai dengan kebiasaan
saat itu, memberi hamba perempuannya yang bernama Hagar kepada Abram. Ketika
Hagar mengandung anak Abram, ia menjadi sombong dan merendahkan Sarai. Sarai
mengusirnya ke padang gurun. Hagar dijanjikan bahwa keturunannya akan menjadi
sangat banyak, "sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya." Maka Hagar kembali
dan anaknya Ismael adalah keturunan Abram yang pertama. Dalam agama Islam,
Ismael adalah pewaris Abram. Hagar dan Ismael kemudian diusir dari Abram oleh Sarai
selamanya (Kejadian 21).

Dalam agama Kristen dan Yahudi disebutkan bahwa yang disebut keturunan Abraham
adalah berasal dari Ishak (Kejadian 21:12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham:
"Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang
dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan
disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.)

Perjanjian sunat

Nama Abraham diberikan pada Abram (dan Sara pada Sarai) pada waktu yang sama
dengan perjanjian sunat (Kejadian 17), yang dipraktikkan dalam agama Yahudi dan
Islam sampai hari ini. Sekarang Abraham dijanjikan bukan saja keturunan yang banyak,
melainkan juga bahwa keturunan ini akan berasal dari Sarai, dan juga bahwa negeri di
mana ia tinggal akan menjadi milik keturunannya. Perjanjian ini dipenuhi lewat Ishak,
walaupun Tuhan berjanji bahwa Ismael akan menjadi bangsa yang besar pula.
Perjanjian sunat (tidak seperti janji-janji lainnya) memiliki dua sisi dan bersyarat: bila
Abraham dan keturunannya memenuhi janji mereka, TUHAN akan menjadi Tuhan
mereka dan memberi mereka negeri tersebut.

Abraham adalah orang pilihan Allah yang dipanggil untuk menjadi berkat bagi bangsa
lain. Abraham diuji kesetiaannya melalui Sarai, istrinya, pada saat Abraham
dan Sarahi pergi ke negara lain. Abraham meminta Sarah untuk tidak
mengatakan pada Abimelekh (raja negeri itu) bahwa Sarai adalah istrinya.
Mereka melakukan hal itu semata-mata karena Abraham takut dicelakai karena
Sarah. Pernyataan seperti ini tentu menyakitkan. Kita juga sering melakukan
hal yang sama kepada Allah. Kita menyangkali Allah hanya karena takut.
Namun, syukur pada Tuhan bahwa Ia adalah setia dan kesetiaan-Nya tidak perlu
diragukan. Manusia bisa ingkar janji, tapi Allah tidak.Ujian iman Abraham

Beberapa waktu setelah kelahiran Ishak, Abraham diperintahkan Tuhan untuk


mengorbankan Ishak di gunung Moria. Sebelum Abraham sempat mematuhi hal ini, ia
dicegah seorang malaikat dan ia mengorbankan seekor domba jantan. Sebagai imbalan
akan kepatuhannya ini ia menerima janji lain bahwa ia akan membuat keturunannya
"sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut", dan bahwa
mereka "akan menduduki kota-kota musuhnya."

Akhir hayat

Sara wafat dalam usia lanjut, dan dimakamkan di gua ladang Makhpela, dekat Hebron,
yang telah dibeli Abraham. Abraham juga dimakamkan di sini. Berabad-abad kemudian
makam ini menjadi tempat kunjungan agama dan umat Islam membangun Masjid
Ibrahim di tempat ini.