Anda di halaman 1dari 2

Sebuah Pertimbangan…

Ada sebuah kisah menarik dari seorang sufi ternama Ibrahim bin
Adham, pada suatu hari ada seorang pemuda yang kepengen
sekali melakukan maksiat dengan pacarnya. Ia datang kepada
Ibrahim untuk meminta pertimbangan Beliau. “Kyai…saya sudah
berhari-hari ingin melakukan maksiat tapi masih dalam tahap
rencana. Bagaimana menurut Kyai kalau saya mewujudkan
keinginan saya ini ?”, kata anak muda.

“Silahkan kalau itu memang keinginanmu, saya bukan Tuhan


yang bisa melarangmu”.

“Tapi saya hanya ingin memberikan 5 nasehat saja untukmu jika


kau benar-benar tidak mampu untuk menahan hasratmu”.

“ Okelah…sebutkan nasehat Kyai itu!”, pintanya.

Lalu Ibrahim menyebutkan nasehat yang pertama, “Jika kau ingin


melakukan maksiat kepada Tuhan, jangan sekali-kali memakan
rezekinya”.

“ Mana mungkin aku tidak memakan rezekinya, semua


mahluk hidup di dunia ini memakan dari anugerah
rezekinya”, jawabnya sambil melotot.

“Lalu, pantaskah seseorang yang sudah dikasih rezeki tiap detik,


menit bahkan hari dan mengingkari perintah yang memberi,
pantas tidak ?!”.

“ Oke…I Know.. sebutkan lagi nasehat Kyai yang kedua”.

“Bila kamu tetap ngotot ingin maksiat, jangan sekali-kali


melakukan maksiat itu di tanahNya !”.

“ Ini lebih parah Kyai…semua tanah di bumi ini kan


miliknya, mana mungkin saya menemukan tanah yang
tidak milik Tuhan. Ada- ada saja nasehat Kyai ini”, sambil
tertawa kecut.

“Menurutmu etis tidak jika seseorang yang hidupnya ditanggung


atas rezekiNya dan numpang hidup di tanahNya lalu maksiat
kepadaNya?!”.

“ Sebutkan yang ketiga”.

“Jika kamu masih ingin juga untuk mengingkari perintahNya,


silahkan lakukan maksiat itu, asal Allah SWT tidak mengetahui
apa yang kamu lakukan”.

“ Mana mungkin dia tidak tahu apa yang saya lakukan,


Dia kan maha mengetahui yang terlihat dan tidak.
Seperti yang diajarkan Kyai dulu ya’ lamu fis srri wal
‘alaniyyah“.

“Itu kamu udah tahu..masih nanya lagi”.

“ ya udah…sebutkan nasehat yang ke empat Kyai!”.

“Nanti kalau ada malaikat pencabut nyawa datang kepadamu


untuk mencabut ruhmu pada waktu dirimu sedang asyik-
asyiknya maksiat, bilang saja padanya, aku belum mau mati Om
Malaikat, nyabutnya nanti saja ya kalo aku udah bener-bener
tobat“.

“ Yang ini lebih dahsyat Kyai, setahu saya yang namanya


malaikat itu tidak mau diajak kompromi. Kata Kyai dulu
ajal termasuk taqdir Tuhan yang tidak bisa diganggu
gugat”.

“ Oke deh…nasehat terakhiir”.

“Jika nanti kamu sudah di akhirat dan ada malaikat Zabaniyyah


(bidang penyiksaan urusan perzinahan) datang menjemputmu,
kamu bilang saja ga’ mau ah, aku ingin ke surga aja”.

“ Cukup Kyai…cukup Kyai, lima nasehat ini sudah cukup


untuk diriku sebagai pengingat kebesaran Tuhanku. Mulai
saat ini aku bertaubat dan tidak akan mengingkari
Tuhanku”.

Lalu Ibrahim mendoakan anak muda dengan doa yang sangat


indah “Allohumma amnahahu imanal ‘ajaiz, Ya Rabb…
anugerahkan kepadanya iman orang-orang yang lanjut usia“.
Karena kita tahu, iman seseorang yang lanjut sangat murni, ia
sudah tidak peduli dengan glamournya dunia ini.

Berkat kebijaksanaan Ibrahim dalam berdakwah, seorang pemuda


yang sedang menggebu hasratnya untuk menjalankan maksiat
menjadi sadar. Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah
sederhana ini yakni bagaimana kita menyikapi seseorang yang
ingin melakukan keburukan dengan kepala dingin dan bijak.

Jadi Intinya engkau tidak peduli lelaki ataupun perempuan,


pilihan hidup ada ditangan kamu, apa kamu memilih nafsumu
(yang kau sebut cinta), yang membuatmu terhina didunia
sekaligus terhina di akhirat, ataukah kamu memilih hidup dengan
ajaran Islam yakni dengan melaksanakan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya sehingga kamu diberi kemuliaan oleh
Allah Swt. Mulia di Dunia, Mulia Di Akhirat......sebuah
pertimbangan yang sebenarnya sangat MUDAH....