Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai dasar negara, Pancasila kembali diuji ketahanannya dalam era
\reformasi sekarang. Merekahnya matahari bulan Juni 1945, 63 tahun yang lalu
disambut dengan lahirnya sebuah konsepsi kenengaraan yang sangat bersejarah bagi
bangsa Indonesia, yaitu lahirnya Pancasila.
Pancasila telah ada dalam segala bentuk kehidupan rakyat Indonesia,
terkecuali bagi mereka yang tidak Pancasilais. Pancasila lahir 1 Juni 1945, ditetapkan
pada 18 Agustus 1945 bersama-sama dengan UUD 1945. Bunyi dan ucapan Pancasila
yang benar berdasarkan Inpres Nomor 12 tahun 1968 adalah satu, Ketuhanan Yang
Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga, Persatuan Indonesia.
Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan. Dan kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.
Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa di antara tokoh perumus Pancasila
itu ialah, Mr Mohammad Yamin, Prof Mr Soepomo, dan Ir Soekarno. Dapat
dikemukakan mengapa Pancasila itu sakti dan selalu dapat bertahan dari guncangan
kisruh politik di negara ini, yaitu pertama ialah karena secara intrinsik dalam
Pancasila itu mengandung toleransi, dan siapa yang menantang Pancasila berarti dia
menentang toleransi.
Kedua, Pancasila merupakan wadah yang cukup fleksibel, yang dapat
mencakup faham-faham positif yang dianut oleh bangsa Indonesia, dan faham lain
yang positif tersebut mempunyai keleluasaan yang cukup untuk memperkembangkan

diri. Yang ketiga, karena sila-sila dari Pancasila itu terdiri dari nilai-nilai dan normanorma yang positif sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia, dan nilai serta
norma yang bertentangan, pasti akan ditolak oleh Pancasila, misalnya Atheisme dan
segala bentuk kekafiran tak beragama akan ditolak oleh bangsa Indonesia yang
bertuhan dan ber-agama.
Dengan demikian bahwa falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara
Indonesia yang harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia agar
menghormati, menghargai, menjaga dan menjalankan apa-apa yang telah dilakukan
oleh para pahlawan khususnya pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk
kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap
meyakini Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna
memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.
1.2 Perumusan Masalah
Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, agar dalam penulisan ini penulis
memperoleh hasil yang diinginkan, maka penulis mengemukakan bebe-rapa
rumusan masalah. Rumusan masalah itu adalah:
1. Bagaimana peran pancasila terhadap otonomisasi Daerah?
2. Faktor-faktor apa yang menghambat peran pancasila terhadap
otonomisasi daerah?

BAB II
PEMBAHASAN
PANCASILA DAN OTONOMISASI DAERAH
A. PENGERTIA PANCASILA
Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri
dari dua kata dari Sanskerta: paca berarti lima dan la berarti prinsip atau
asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan
bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.
Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa,
kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4 Preambule
(Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.
Meskipun terjadi perubahan kandungan dan urutan lima sila Pancasila yang
berlangsung dalam beberapa tahap selama masa perumusan Pancasila pada tahun
1945, tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.
B. ARTI PENTING PANCASILA SEBAGA IDEOLOGI INDONESIA

Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara Indonesia. Pancasila pertama


kali dicetuskan oleh Ir. Soekarno melalui pidatonya dalam sidang BPUPKI
tanggal 1 Juni 1945 (Somantri, 2006 : 5). Ada beberapa alasan yang melatar
belakangi pancasila tersebut dijadikan sebagai ideologi bangsa Indonesia,
yang akan dibahas oleh penulis dalam tulisan ini. Selain itu, penulis juga akan

membahas mengenai arti penting pancasila bagi Indonesia serta dinamika dan
perkembangan interpretasinya.
Dalam pidatonya di sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno
mengatakan bahwa sebuah negara harus memiliki sebuah prinsip, seperti
Tiongkok yang memiliki San Min Chu I sebagai dasar negaranya (Soekarno,
2007 : 37). Dalam sidang tersebut, Ir. Soekarno mengusulkan lima prinsip
dasar

yang

berisi

kebangsaan

Indonesia,

internasionalisme

atau

perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial, dan yang


terakhir ialah menyusun Indonesia Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Ir. Soekarno menyebutnya dengan pancasila yang berasal
dari kata sila yang artinya asas atau dasar yang kemudian di atas dasar itulah
didirikannya Indonesia sebagai sebuah negara yang kekal dan abadi
(Soekarno, 2007 : 51).
Pada tanggal 22 Juni 1945, rapat oleh panita sembilan menghasilkan
rancangan dasar negara yang disebut Piagam Jakarta (Somantri, 2006 :5).
Lima sila di dalam Piagam Jakarta tersebut hampir sama seperti pancasila
yang kita kenal sekarang namun berbeda untuk sila pertama yang berbunyi
Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya.

Namun dalam proses pematangan rancangan UUD 1945, para tokoh kristen
dan katolik menuntut perubahan pada sila pertama pancasila di dalam
rancangan tersebut karena bagi mereka, bunyi sila pertama tersebut
menyiratkan makna konsekuensi mengenai konsistensi bahwa presiden
Indonesia adalah orang Indonesia yang beragama islam, padahal Indonesia
adalah negara yang beragam agama. (Somantri, 2006 : 6-7).
Hatta mengatakan bahwa jika Piagam Jakarta tersebut tidak diubah, maka
kemerdekaan akan sulit dicapai dan kalaupun tercapai justru akan menyulut
perpecahan (Somantri, 2006 : 7). Kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945,
PPKI mengesahkan UUD dengan lima sila di dalam pembukaannya yang
4

urutannya sama seperti Piagam Jakarta akan tetapi sila pertama diubah
bunyinya. Isi kelima sila tersebut adalah Ketuhanan Yang Maha Esa,
Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan,
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Somantri, 2006 : 7).

Ada tiga hal yang menjadi esensi dari pemikiran pancasila (Kroef,
1954 : 226). Pertama, ideologi komunalime tradisional yang nilai
komunalismenya adalah pengembangan sifat khas bangsa Indonesia seperti
gotong-royong. Kedua, ideologi islam yang menegaskan Indonesia bukan
negara sekuler dan bukan juga negara yang berasaskan pada satu agama
tertentu atau disebut teokrasi. Ketiga, campuran antara ideologi liberalisme
historis dan ideologi marxis. Dalam hal ini, kebebasan rakyat ditekankan oleh
liberalis sedangkan marxis lebih menekankan pada nilai-nilai kebersamaan.

Hal inilah yang kemudian turut melatar belakangi dipilihnya pancasila sebagai
ideologi dan dasar negara Indonesia. Alasan lainnya ialah Pancasila berasal
dari nilai religius, budaya dan orientasi nilai masyarakat Indonesia itu sendiri
sehingga diharapkan mampu menjadi nilai luhur dari rangkaian sejarah dan
kebudayaan Indonesia (Somantri, 2006 : 20). Hal ini menunjukan bahwa
pancasila sesuai dengan karakter dan kepribadian bangsa Indonesia.

Pancasila pada dasarnya bukan hanya sekedar semboyan kosong yang


muncul ditengah-tengah malaise-spiritual bangsa Indonesia, akan tetapi
memiliki arti penting yang mencoba untuk mempertemukan nilai-nilai
universal dengan kearifan lokal yang digali oleh para founding fathers sebagai
core values inklusif (Somantri, 2006 : 2). Pancasila merupakan nilai-nilai yang
mampu mewujudkan cita-cita Bhinneka Tunggal Ika. Dalam hal ini, pancasila
5

memiliki arti penting sebagai pemersatu bangsa Indonesia dalam kondisi


heterogenitasnya yang tinggi. Somantri (2006 : 22) juga menegaskan bahwa
Pancasila dibutuhkan untuk masyarakat yang sangat terfragmentasi oleh suku,
agama, bahasa dan identitas-identitas lokal.
Selain itu, Mulder (2005 : 124) mengatakan bahwa pancasila adalah
takdir bagi bangsa Indonesia yang menggabungkan antara identitas nasional
dengan sebuah filosofi yang terkait dengan kehidupan, sehingga pancasila
juga memiliki arti penting sebagai identitas nasional. Identitas nasional
tersebutlah yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia yang kemudian
membedakan dari bangsa yang lainnya.
Meski demikian, Ir. Soekarno tidak ingin apabila bangsa Indonesia
adalah bangsa yang satu dengan paham chauvinisme yang kemudian
menganggap bangsanya paling mulia dan memandang rendah bangsa lainnya.
Dalam pidatonya, beliau menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus menuju
persatuan dunia, persaudaraaan dunia (Soekarno, 2007 : 45).
Setelah dipilihnya menjadi ideologi Indonesia, pancasila mengalami
dinamika dan perkembangan interpretasi dari masa ke masa. Pada awalnya,
para tokoh kemerdekaan dari kalangan islam terpaksa untuk menerima
rumusan dasar negara dan diantara mereka menganggap bahwa perdebatan
mengenai lima sila pancasila khususnya sila pertama masih dapat dilakukan
setelah perang benar-benar telah selesai. Namun mereka menyadari bahwa
pengorbanan semacam ini perlu dilakukan untuk mencapai kemerdekaan
Indonesia dan menyatukan bangsa Indonesia (Somantri, 2006 : 7).
Pada era demokrasi terpimpin, Ir. Soekarno lebih memilih
mengaplikasikan ortodoksi ideologi Soekarno karena Pancasila dipandang
tidak mampu memainkan bidak catur politknya pada masa darurat (Somantri,
2006 : 12). Memasuki era Soeharto, kepemimpinan Soeharto otoriter dan pada
masa ini pancasila diinterpretasikan sebagai asas tunggal yang menjadi dasar
dalam kehidupan berpolitik termasuk partai politik (Somantri, 2006 : 18).
6

Selain itu, pada masa ini pancasila lebih ditekankan sebagai ideologi
negara yang sifatnya kaku dan mutlak pemaknaannya. Pancasila dijadikan
sebagai instrument politik untuk menjaga status quo.Dari penjelasan tersebut
dapat disimpulkan bahwa pancasila merupakan ideology yang sesuai dengan
Indonesia karena mampu mewadahi heterogenitas Indonesia yang tinggi
dengan beragamnya agama, adat, budaya dan lain-lain.
Pancasila memiliki arti penting bagi Indonesia sebagai identitas
nasional yang kemudian menjadi ciri khas dari bangsa Indonesia yang berbeda
dari bangsa yang lainnya namun bukan berarti menganggap rendah bangsa
lain,tetapi

harus

tetap

menjunjung

persaudaraan

dunia.

Dalam

perkembangannya, pancasila juga mengalami berbagai dinamika interpretasi


dari masa ke masa.
Menurut penulis, pada dasarnya tidak ada yang salah dengan nilai-nilai
yang terkandung dengan pancasila. Yang perlu ditekankan adalah
penginterpretasian pancasila tersebut dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Seperti yang dikatakan oleh Eka Dharmaputra (dalam Somantri,
2006 : 22), penginterpretasian pancasila bukan hanya sekedar interpretasi
pada sebuah fase sejarah namun perlu juga adanya pemahaman terhadap
masalah konkret kebangsaan yang bermunculan dari masa ke masa.
Mengingat arti penting pancasila sebagai identitas nasional Indonesia, maka
menurut penulis perlu untuk selalu memegang teguh pancasila, terlebih di era
globalisasi seperti sekarang ini.
C. SEJARAH PERUMUSAN
Artikel utama untuk bagian ini adalah. Rumusan-rumusan Pancasila

Perisai Pancasila menampilkan lima lambang Pancasila.


Dalam upaya merumuskan Pancasila sebagai dasar negara yang resmi, terdapat
usulan-usulan pribadi yang dikemukakan dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Indonesia yaitu:

Lima Dasar oleh Muhammad Yamin, yang berpidato pada tanggal 29 Mei
1945. Yamin merumuskan lima dasar sebagai berikut: Peri Kebangsaan, Peri
Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat.
Dia menyatakan bahwa kelima sila yang dirumuskan itu berakar pada sejarah,
peradaban, agama, dan hidup ketatanegaraan yang telah lama berkembang di
Indonesia. Mohammad Hatta dalam memoarnya meragukan pidato Yamin
tersebut.[1]

Panca Sila oleh Soekarno yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945 dalam
pidato spontannya yang kemudian dikenal dengan judul "Lahirnya Pancasila".
Sukarno

mengemukakan

dasar-dasar

sebagai

berikut:

Kebangsaan;

Internasionalisme; Mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan;


Kesejahteraan; Ketuhanan. Nama Pancasila itu diucapkan oleh Soekarno
dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni itu, katanya:
Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat,
kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca
Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli

bahasa - namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas
kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.
Setelah Rumusan Pancasila diterima sebagai dasar negara secara resmi
beberapa dokumen penetapannya ialah:

Rumusan Pertama: Piagam Jakarta (Jakarta Charter) - tanggal 22 Juni 1945

Rumusan Kedua: Pembukaan Undang-undang Dasar - tanggal 18 Agustus


1945

Rumusan Ketiga: Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat tanggal 27 Desember 1949

Rumusan Keempat: Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara - tanggal


15 Agustus 1950

Rumusan Kelima: Rumusan Kedua yang dijiwai oleh Rumusan Pertama


(merujuk Dekrit Presiden 5 Juli 1959)

D. Hari Kesaktian Pancasila


Pada tanggal 30 September 1965, terjadi insiden yang dinamakan
Gerakan 30 September (G30S). Insiden ini sendiri masih menjadi perdebatan
di tengah lingkungan akademisi mengenai siapa penggiatnya dan apa motif
dibelakangnya. Akan tetapi otoritas militer dan kelompok reliji terbesar saat
itu menyebarkan kabar bahwa insiden tersebut merupakan usaha PKI
mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis, untuk membubarkan
Partai Komunis Indonesia dan membenarkan peristiwa Pembantaian di
Indonesia 19651966.
Pada hari itu, enam Jendral dan 1 Kapten serta berberapa orang
lainnya dibunuh oleh oknum-oknum yang digambarkan pemerintah sebagai
upaya kudeta. Gejolak yang timbul akibat G30S sendiri pada akhirnya
berhasil diredam oleh otoritas militer Indonesia. Pemerintah Orde Baru
kemudian menetapkan 30 September sebagai Hari Peringatan Gerakan 30

September G30S dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian


Pancasila.
E. Butir-butir pengamalan Pancasila
Ketetapan MPR no. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa
menjabarkan kelima asas dalam Pancasila menjadi 36 butir pengamalan
sebagai pedoman praktis bagi pelaksanaan Pancasila.
Ketuhanan Yang Maha Esa
1. Percaya dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan
kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan
beradab.
2. Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama dan penganutpenganut kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.
3. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan
kepercayaannya.
4. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.
Kemanusiaan yang adil dan beradab
1. Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara
sesama manusia.
2. Saling mencintai sesama manusia.
3. Mengembangkan sikap tenggang rasa.
4. Tidak semena-mena terhadap orang lain.
5. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
6. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
7. Berani membela kebenaran dan keadilan.

10

8. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia,
karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerjasama dengan
bangsa lain.

Persatuan Indonesia
1. Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan
negara di atas kepentingan pribadi atau golongan.
2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
3. Cinta Tanah Air dan Bangsa.
4. Bangga sebagai Bangsa Indonesia dan ber-Tanah Air Indonesia.
5. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang berBhinneka Tunggal Ika.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
1. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat.
2. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.
3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan
bersama.
4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan.
5. Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan
hasil musyawarah.
6. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang
luhur.

11

7. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral


kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat
manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
1. Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap
dan suasana kekeluargaan dan gotong-royong.
2. Bersikap adil.
3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4. Menghormati hak-hak orang lain.
5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain.
6. Menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain.
7. Tidak bersifat boros.
8. Tidak bergaya hidup mewah.
9. Tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum.
10. Suka bekerja keras.
11. Menghargai hasil karya orang lain.
12. Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan
sosial.
Ketetapan ini kemudian dicabut dengan Tap MPR no. I/MPR/2003 dengan 45
butir Pancasila.
Sila pertama

12

Bintang.
1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai
dengan

agama

dan

kepercayaannya

masing-masing

menurut

dasar

kemanusiaan yang adil dan beradab.


3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk
agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan
Yang Maha Esa.
4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah
yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah
sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa kepada orang lain.
Sila kedua

Rantai.
1. Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan
martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

13

2. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap


manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis
kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
3. Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4. Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
5. Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7. Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8. Berani membela kebenaran dan keadilan.
9. Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
10. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa
lain.
Sila ketiga

Pohon Beringin.
1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan
bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi
dan golongan.
2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila
diperlukan.
3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
14

5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian


abadi, dan keadilan sosial.
6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sila keempat

Kepala Banteng
1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia
mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan
bersama.
4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai
hasil musyawarah.
6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan
hasil keputusan musyawarah.
7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan
pribadi dan golongan.
8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang
luhur.
15

9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral


kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat
manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan
kesatuan demi kepentingan bersama.
10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk
melaksanakan pemusyawaratan.
Sila kelima

Padi Dan Kapas.


1. Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan
suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2. Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
3. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4. Menghormati hak orang lain.
5. Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
6. Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan
terhadap orang lain.
7. Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan
gaya hidup mewah.
8. Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan
kepentingan umum.
9. Suka bekerja keras.

16

10. Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama.
11. Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata
dan berkeadilan sosial.
F. OTONOMISASI DAEARAH
A.PENANGGULANGAN KEMISKINAN
Di dalam pelaksanaan otonomisasi daerah diharapkan kepada pemerintah
kabupaten dan pemerintah desa dapat melakukan pendataan terhadap jumlah
penduduk miskin dan juga pengangguran untuk kemudian dapat dibuatkan program
khusus serta dapat di jadikan tolak ukur keberhasilan pembangunan, sekaligus
sebagai bahan laporan pertanggungjawaban pemerintah.Dalam lembaran penjelasan
Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah, dijelaskan bahwa
pemberian otonomisasi daerah itu luas kepada daerah untuk diarahkan mempercepat
terjadinya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan
dan peran serta masyarakat, dan dalam rangka itu efesiensi dan efektifitas
penyelenggara otonomi daerah-pun perlu mendapat perhatian yang lebih serius.
Sebagaimana digambarkan di atas bahwa kemiskinan masih menjadi
persoalan banyak kabupaten di Indonesia, dan secara khusus di Maluku Utara, angka
kemiskinan tertinggi berada di Kabupaten Halmahera Utara, dan untuk itu sangat
penting perlu ada upaya bagaimana memanfaatkan peluang otonomi daerah untuk
member peranserta orang miskin untuk ikut menentukan apa yang harus dilakukan
mereka untuk keluar dari kemiskinannya.Masalah yang dihadapi dalam rangka
penganggulangan kemisikinan adalah terhadap masalah orang miskin itu sendiri,
Apakah orang miskin dapat menanggulangi kemiskinannya? Apakah memang orang
miskin

tidak

memiliki

kemampuan

sama

sekali

sehingga

penanggulangan kemisikinan terlalu kuat campur tangan pihak luar?

17

dalam

upaya

Apakah ada upaya yang dapat dilakukan agar orang miskin memiliki
keberdayaan untuk mengatasi kemiskinannya? Terhadap pertanyaan-pertanyaan ini
kami berpendapat bahwa tidak ada cara lain untuk mengatasi kemiskinan yang
dilakukan oleh orang miskin

sendiri

adalah dengan melakukan

langkah

pemberdayaan,dan menurut hemat kami otonomi daerah memberikan ruang yang


seluas-luasnya bagi pemerintah daerah untuk mengurus dan mengatur masyarakat
termasuk masyarakatnya yang miskin agar berdaya dan memiliki kemampuan untuk
keluar dari kemiskinannya.

B. PENANGGULANGAN KEMISKINAN DALAM ALAM


OTONOMISASI DAERAH MELALUI PENDEKATAN PEMBERDAYAAN

Penanggulangan Kemiskinan dalam Alam Otonomisasi Daerah Melalui


Pendekatan Pemberdayaan di Kabupaten Halmahera Utara pemerintahan lama sesuai
UU No 5 tahun 1979,dimana kepala desa merupakan tokoh sentral di desa dan
terhadap semua ini kepala desa masih terus mendominasi berbagai tugas-tugas
pembangunan terutama terhadap kebijakan-kebijakan yang lebih bermuara kepada
apa yang didapat oleh pemerintah, yang kadang-kadang juga terjadi tarik menarik
antara pemerintah desa dan BPD-nya. Kondisi ini sangat tidak menolong masyarakat
untuk terjadi perubahan ke arah perubahan positif terutama dalam rangka mengelola
pemerintahan desa yang oleh Undang-Undang Otonomi daerah diberi ruang yang
cukup besar. Karena Otonomi asli berada di desa maka dengan demikian
pemerintahan desa-pun memiliki kewenangan tertentu untuk mengatur dan mengurus
masyarakatnya. Dan untuk itu pula perlu ada penguatan kepada pemerintah desa agar
memiliki kemampuan mengurus otonomi desanya.
Kondisi Masyarakat UU No. 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah yang
mengalami revisi ke UU No. 32 tahun 2004, melakukan penekanan kepada upaya
mengarahkan dan memperkuat masyarakat melalui penigkatan partisipasi, peranserta
dan pemberdayaan masyarakat, tetapi karena sudah sangat lama masyarakat
18

dibesarkan dengan pendekatan pembangunan top down yang diperankan oleh


pemerintah, sehingga telah membentuk sebuah kebiasaan baru di masyarakat, yang
perubahannya memerlukan proses dan waktu. Contoh misalnya bicara soal
pembangunan

desa,

sudah

terbangun

pemahaman

di

masyarakat

bahwa

itutanggungjawab pemerintah, atas dasar pemahaman itu maka segala hal


menyangkut

dengan

pembangunan

desa

masyarakat

selalu

menunggu

pemerintahnya, kalau pemerintah tidak menggerakan maka berbagai upaya


pembangunan di tingkat desa tidakdapat terlaksana.
Kondisi ini membuat masyarakat memiliki kecenderungan untuk tergantung
pada banyak pihak terutama para pihak dari luar yang dinilai oleh masyarakat
memiliki kekuatan dan kemampuan tertentu. Ada banyak program yang secara
konseptual sangat baik untuk penguatan dan pemberdayaan masyarakat, tetapi dalam
prakteknya tidak diterapkan sebagaimana konsep yang dibangun. Alasannya
sederhana karena masyarakat tidak siap untuk diberdayakan. Demikian kadangkadang pernyataan yang ditemui di masyarakat ketika para petugas berhadapan
dengan konteks masyarakat desa yang lamban, tidak proaktif, lemah, bodoh, dst.
Tetapi fakta lain,menunjukan bahwa ada sebagian kelompok kecil masyarakat yang
sebenarnya memiliki kemampuan dan pengalaman dalam upaya menggerakan
partisipasi masyarakat melalui kelompok-kelompok kecil. Di sana sangat kelihatan
kemajuan dalam hal peningkatan kemampuan, keterampilan dan kemandiriannya.
Pengalaman ini seharusnya menjadi menarik bagi pembangunan masyarakat ke depan
dengan memperhitungkan bahwa semua pengalaman itu merupakan sebuah kekuatan,
sakligus dapat sebagai modal untuk pengembangan kelompok masyarakat yang
lain.Proses Pembangunan Proses perencanaan pembangunan Proses perencanaan
sebagaimana diatur oleh Undang-Undang Nomor 25 tahun 2004 tentang sistem
perencanaan pembangunan nasional, mengamanatkan pembangunan dilaksanakan
secara partisipatif yang penjaringan kebutuhan pembangunan dilaksanakan secara
bertahap

dan

berjenjang

yang

dikenal

dengan

Musyawarah

Perencanaan

Pembangunan (MUSREMBANG) Konsep perencanaan partis patif benar-benar


19

memberikan ruang bagi masyarakat untuk ikut dalam proses pembangunan sejak
perencanaan tetapi dalam prakteknya tidak dilakukan sebagaimana yang disyaratkan.
Tentunya ini harus menjadi pengalaman sekaligus merupakan sebuah catatan
penting dalam rangka membangun keberdayaan masyarakat, terutama dalam rangka
membangun partisipasi dan peranserta masyarakat dalam proses pembangunan
melalui refleksi terhadap; Kenapa prosesnya tidak berjalan sebagaimana yang
diharapkan? Apakah memang benar masyarakat tidak memiliki kemampuan itu?
Ataukah juga karena niat yang kuat dari pembuat rencana yang belum memberikan
ruang bagi rakyat untuk terlibat karena berbagai alasan? Apapun alasan dari para
perencana, bila pola perencanaan lama masih tetap diberlakukan menurut hemat kami
itu merupakan kesalahan yang sangat fatal dan sangat menyimpang dari hakekat
otonomi daerah.
Proses pelaksanaan pembangunan Dalam pelaksanaan pembangunan, masih
sangat kuat terbangun pemahaman, baik di kalangan birokrat pemerintah, juga di
masyarakat, terhadap kurang pentingnya proses terhadap pelaksanaan sebuah
program, dan juga terhadap hasil-hasilnya,sehingga proses tidak menjadi hal yang
utama, tetapi lebih banyak terarahkan untuk kepentingan terlaksananya proyek,
sedangkan dampak dari proyek terhadap masyarakat (terutama keberlanjutannya)
tidak menjadi perhatian yang serius. Masyarakat selalu hanya merupakan objek, dan
kadang-kadang ada cukup banyak proyek tertentu yang tidak pernah melibatkan
masyarakat tetapi melibatkan pihak ketiga, hal ini memang sangat tidak menolong
untuk mendidik masyarakat agar semakin merasa bertanggung jawab terhadap
pembangunan yang dilaksanakan. Yang menarik juga yang perlu dicermati adalah
pelaksanaan pembangunan melalui tiap-tiap sektor yang terkesan tidak memiliki
saling hubungan dan keterkaitan antar sektor, padahal dalam banyak hal program
yang dilaksanakan satu sektor memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan sektor
yang lain di kala orientasi yang digunakan adalah orientasi proses, hasil dan out come
pembangunan. Apakah ke depan koordinasi perencanaan dapat dilakukan agar
terhadap program-program tertentu yang difasilitasi oleh dinas tertentu yang tidak
20

memiliki keahlian secara fungsional, dapat tersiasati juga oleh dinas yang
bersangkutan terutama dalam hal pembiayaan pendampingan teknis atau juga dapat
terakomodir dalam rencana dinas tertentu yang punya kompetensi untuk itu untuk
mendukung program yang dicanangkan oleh dinas lain, sehingga dalam penerapan
dilapangan benar-benar berbagai persoalan telah terantisipasi sejak dini. Perlu
dicermati dan disikapi adalah terhadap peranan pihak ke tiga sebagai pelaksana
proyek.
Realitas d imasyarakat pada umumnya terhadap pelaksana proyek yang
dilaksanakan oleh pihak ke tiga sangatlah tidak efisien dan sangat tidak
memberdayakan masyarakat terutama terhadap proyek-proyek yang sasarannya
diperuntukkan bagi masyarakat di desa. Kenapa tidak efisien karena pihak ketiga
selalu berorientasi untung, dan umumnya sudah ada hitungan-hitungan 10 30 %
bahkan sampai dengan 40%. Terhadap cara kerja seperti ini kualitas hasil perlu
dipertanyakan. Apakah kedepan mungkin bisa melibatkan masyarakat dalam
pelaksanaan proyek terutama proyek fisik yang masuk ke desa? Tentunya kalau itu
dilakukan dalam rangka pemberdayaan masyarakat sangat mungkin dilakukan. Hal
lain yang juga menurut hemat kami perlu dikedepankan adalah menyangkut dengan
pelaksanaan proyek yang pelaksananya dari instansi dan pihak ke 3 dari Propinsi.
Proyek pengembangan tanaman jagung misalnya yang dilaksanakan di beberapa
kecamatan di Halmahera Utara yang langsung ditangani oleh Propinsi. Pertanyaan
kritisnya adalah untuk apa dinas pertanian di kabupaten diadakan bila itu dapat
dilaksanakan oleh Propinsi.

Padahal hakekat dari Otonomi Daerah adalah supaya

rentang kendali

pelayanan kepada masyarakat semakin diperpendek. Kondisi ini harusnya juga


menjadi perhatian bersama untuk membangun otonomisasi daerah ke depan.evaluasi
terhadap proses pembangunan Evaluasi terhadap proses pembangunan sering
dilakukan, tetapi pelaksanaannya lebih banyak diarahkan untuk memenuhi aturan saja
dan tidak ada kepentingan kuat untuk memperbaiki terhadap semua temuan hasil
21

evaluasi. Padahal temuan-temuan ini menurut hemat kami akan sangat membantu
untuk memperbaiki terhadap apa yang seharusnya ditindaklanjuti dalam upaya
perbaikan proses pembangunan selanjutnya. Evaluasi yang dilakukan, juga kurang
melibatkan masyarakat secara aktif, padahal evaluasi merupakan salah satu aspek
yang sangat penting untuk mengukur dan menilai seberapa jauh pencapaian
pembangunan sebagaimana yang telah ditetapkan dan seberapa jauh tingkat
keterlibatan masyarakat. Terkesan evaluasi yang dilakukan selama ini adalah dalam
rangka memenuhi persyaratan saja, dan tidak dipakai sebagai alat untuk memperoleh
informasi untuk kajian proses selanjutnya, tetapi untuk memenuhi perlaporan saja.
Proses penguatan dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang
dilaksanakan selama ini melalui tahapan-tahapan sebagai berikut :
1. Sosialisasi tentang proyek yang akan dilakukan.
2. Pembentukan kelompok oleh masyarakat bukan oleh SANRO atau orang
kunci di desa tetapi bersama masyarakat.
3. Penguatan kelompok; dilakukan sebagai langkah persiapan sosial bagi
masyarakat sebelum program / proyek dikucurkan.
4. Memfasilitasi diskusi untuk mengidentifikasi dan menginventarisir masalahmasalah yang sering dihadapi oleh masyarakat terhadap proyek yang akan
dilaksanakan, dan juga diupayakan untuk menggali pengalaman pelaksanaan
proyek yang pernah dilaksanakan masyarakat selama ini, terutama diarahkan
untuk menggali keberhasilan dan kegagalannya.
5. Membuat rencana kegiatan tahunan, semesteran, tribulanan dan bulanan.
6. Mendiskusikan tentang bagaimana rencana akan dioperasionalkan, (siapa
mengerjakan apa, kapan siapa mengerjakan apa, dari mana sumber
pembiayaan, dll)
7. Mengevaluasi hasil kerja selama satu bulan
8. Mengevaluasi pencapaian hasil kerja tribulanan, dengan melibatkan semua
kelompok dan para pihak untuk membantu mendis kusikan sekaligus

22

mencarikan pemecahan atas masalah yang tidak dapat terpecahkan oleh


kelompok tertentu.
9. Membuat rencana operasional 3 bulanan berikutnya berdasarkan hasil
pemecahan masalah.
10. Melakukan evaluasi pencapaian hasil kerja semesteran, tahunan dan sekaligus
membuat rencana kerja tahun berikutnya, yang diikuti oleh semua wakil
kelompok, para pihak yang terkait dalam upaya pemberhasilan program yang
sementara dilaksanakan.Dalam proses pelaksanaan kegiatan pendampingan
harus secara terus-menerus dilakukan untuk mendampingi kelompok
masyarakat terhadap perkembangan kelompok terutama terhadap masalahmasalah yang dihadapi dalam proses pelaksanaan kegiatan. Dalam banyak hal
keterlibatan masyarakat kadang-kadang dilatarbelakangi oleh motivasi
tertentu, dan pada saat proses kegiatan berjalan dan belum dirasakan
manfaatnya, akan ada kecenderungan untuk mengundurkan diri dari kelompok
tersebut, atau bisa saja terjadi, ada orang-orang tertentu dalam kelompok,
yang dalam perjalanan kegiatan mulai berpikir untuk kepentingan pribadi
yang kemudian dapat berdampak terhadap perkembangan dan keberlanjutan
kelompok tersebut menjadi terganggu. Terhadap semua itulah sebenarnya
pendampingan harus dilakukan, dan peranan pendamping lebih banyak dalam
rangka pelaksanaan tugas konsultatifterhadap semua perkembangan yang oleh
masyarakat dirasa perlu mendapatkan input dari para petugas atau
pendamping. Dari hasil pendampingan itu kemudian juga dapat diperoleh
informasi

tentang

kebutuhan-kebutuhan

kelompok

masyarakat

untuk

penguatan kemampuan dan keterampilan mereka dalam bentuk pelatihan,


kunjungan-kunjungan dan atau dalam bentuk kegiatan yang lain.

23

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam pancasila dan otonomisasi daerah terdapat banyak kejadian
yanh terjadi perubahan kandungan dan urutan lima sila Pancasila yang
berlangsung dalam beberapa tahap selama masa perumusan Pancasila pada
tahun 1945, tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.
Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara Indonesia. Pancasila pertama
kali dicetuskan oleh Ir. Soekarno melalui pidatonya dalam sidang BPUPKI
tanggal 1 Juni 1945 (Somantri, 2006 : 5). Selain itu, penulis juga akan
membahas mengenai arti penting pancasila bagi Indonesia serta dinamika dan
perkembangan interpretasinya.
Di dalam pelaksanaan otonomisasi daerah diharapkan kepada
pemerintah kabupaten dan pemerintah desa dapat melakukan pendataan
terhadap jumlah penduduk miskin dan juga pengangguran untuk kemudian
dapat dibuatkan program khusus serta dapat di jadikan tolak ukur
keberhasilan.
B. SARAN
Sebagaimana digambarkan di atas bahwa kemiskinan masih menjadi
persoalan banyak

kabupaten di Indonesia, dan secara khusus di Maluku

Utara, angka kemiskinan tertinggi berada di Kabupaten Halmahera Utara, dan


untuk itu sangat penting perlu ada upaya bagaimana memanfaatkan peluang
otonomi daerah untuk member

peranserta orang miskin untuk ikut

menentukan apa yang harus dilakukan mereka untuk keluar dari kemiskinan.

24

DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. 1980. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: PT.
Gramedia.
Mulders, Niels, 2005. Pancasila Philosphy and Society, dalam Mysticism in
Java: Ideology in Indonesia, Yogyakarta: Kanisius Publishing House, pp.
124-132.
Nopirin. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta:
Pancoran Tujuh.
Salam, H. Burhanuddin, 1998. Filsafat Pancasilaisme. Jakarta: Rineka Cipta
Somantri, Gumilar Rusliwa, 2006. Pancasila dalam Perubahan Sosial-Politik
Indonesia Modern, dalam Restorasi Pancasila: Mendamaikan Politik Identitas
dan Modernitas, Jakarta: Brighten Press, pp. 1-32.
Sukarno, Ir., 2007. Lahirnya Pancasila: Pidato dihadapan Sidang BPUPKI 1
Juni 1945, dalam Revolusi Indonesia: Nasionalisme, Marhaen dan Pancasila,
Yogyakarta: Galang Press, pp. 27-55.
Van der Kroef, Justus M., 1954. Pantjasila; the National Ideology of the New
Indonesia, Philosophy East and West, Vol. 4 No. 3, pp.225-251.
http://regional.kompasiana.com/2013/06/09/pemekaran-maluku-utara567198.html Jam 4, 11 oktober 2014
http://wanda-prescilia-fisip13.web.unair.ac.id/artikel_detail-99324-SOH205Arti%20Penting%20Pancasila%20sebagai%20Ideologi%20Indonesia.html
Jam 5, 11 oktober 2014

25