Anda di halaman 1dari 5

Apr 21, '09 2:29 AM

TANZHIM DAKWAH BUKAN BID'AH


for everyone
Dalil Disyariatkannya Tanzhim dalam Dakwah Islam Kontemporer
Raddusy Syubuhat
10/1/2007 | 20 Dhul-Hijjah 1427 H |

Oleh: Abi AbduLLAAH

MASYRU’IYYATU AT-TANZHIM FI AD-DA’WAH AL-ISLAMIYYAH AL-


MU’ASHIRAH

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar [217]; merekalah orang-
orang yang beruntung.” (QS Aali Imraan, 3/104)
[217] Ma’ruf: segala perbuatan yang mendekatkan kita kepada Allah, sedangkan munkar
ialah segala perbuatan yang menjauhkan kita dari pada-Nya.

MUQADDIMMAH

Salah satu dakwaan aneh dari para tokoh kaum Zhahiriyyah dari ummat ini, di antaranya
adalah bahwa Islam tidak membenarkan tanzhim (struktur organisasi) dalam berdakwah,
membuat tanzhim menurut mereka adalah adalah bid’ah yang tidak dikenal oleh generasi
As-Salafus Shalih, maka oleh karena ia tidak ada dimasa As-Salafus Shalih, maka
menurut mereka ia harus ditolak sejauh-jauhnya & para pelakunya yang menggunakan
tanzhim dalam dakwah mereka dianggap Ahli Bid’ah sehingga harus di-tahdzir. Inna
liLLAAHi wa inna ilaihi raaji’uun..

Tentunya dakwaan ini keluar tiada lain karena telah menyimpangnya mereka dari Al-
Haqq dan karena sikap ekstrem (ghuluww) yang telah berurat berakar di antara mereka.
Padahal Nabi Muhammad -semoga shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi
Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri beliau- telah mengingatkan kita semua dari
sikap ekstremitas ini dalam sabdanya: “Wahai sekalian manusia berhati-hatilah kalian
pada sikap ekstrem dalam beragama, karena sesungguhnya yang telah mencelakakan
ummat sebelum kalian adalah sikap ekstrem dalam beragama [1].”

Tanzhim dalam aktifitas dakwah adalah merupakan sebuah hal yang bersifat dharuriy
(tidak bisa tidak) dalam fiqh, berdasarkan kaidah ushul-fiqh: Maa laa yatimmul waajib
illa bihi fahuwa waajib (suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu
yang lain, maka yang lain itu menjadi wajib pula hukumnya), jangankan untuk
berdakwah, sedangkan untuk memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut kita saja, tidak
mungkin tercapai tanpa adanya tanzhim, coba anda bayangkan jika tidak ada pabrik
pupuk, perusahaan cangkul, perusahaan pestisida, pasar, dsb. Apakah mungkin nasi itu
bisa mencukupi untuk seluruh bangsa Indonesia ini?! Jika sekedar untuk urusan perut saja
membutuhkan sebuah tanzhim, maka apatah lagi dalam urusan iqamatuddin dan
ustadziyyatul-’alam!
Kebodohan macam apa lagi yang menimpa ummat ini, sehingga mereka bisa melahirkan
orang-orang yang berfikir sepicik mereka itu?! Tetapi kita memang tidak perlu heran,
karena mereka memang telah memunculkan banyak fatwa yang menggelikan & sekaligus
membingungkan ummat, di antaranya bahwa kata mereka di dunia sekarang ini tidak ada
ulama mujtahid kecuali hanya 3 orang saja, yaitu Ibni Baaz, Al-Albani & Ibnu Utsaimin.
Terlepas dari pengakuan kita pada kapasitas keulamaan ketiga ulama tersebut, tapi
adakah seorang yang berilmu membatasi ulama mujtahid hanya 3 orang saja? Lalu coba
antum tanyakan kepada mereka: Lalu siapa yang bisa membatasi ulama cuma 3 orang itu
saja?! Antum?! Fa man antum?!

Ikhwah wa akhwat rahimakumuLLAAH, membuat tanzhim dalam gerakan dakwah


merupakan sebuah kemestian (hatmiyyah) yang tidak bisa ditawar-tawar & ditunda-tunda
lagi, baik berdasarkan dharuriyyah-fiqhiyyah di atas, juga berdasarkan sunnah-kauniyyah
(yaitu bahwa alam semesta ini merupakan sebuah nizham-’alamiyy, yang semuanya
menempati posisi & fungsi yang berbeda-beda dan telah tetap & ditentukan), juga
berdasarkan ihtiyajaat-basyariyyah (kebutuhan kemanusiaan, dalam segala hal dalam
kemanusiaan kita memerlukan pengorganisasian yang rapi & terstruktur) serta
dharuriyyah-harakiyyah (kebutuhan mendesak kebangkitan Islam kontemporer).

Sebenarnya logika sehat sederhana di atas sudah cukup bagi orang yang berakal untuk
menunjukkan urgensi organisasi (ahamiyyah-tanzhim) dalam dakwah di era modern ini.
Namun sebagaimana biasanya, maka kelompok zhahiriyyun-ghullat (tekstualis-ekstrem)
itu tidak akan mau menerima kecuali bil-lughati qawmihim (hanya dengan bahasa
kaumnya), maka supaya tidak dituduh ‘aqlaniyyin (kelompok yang menuhankan akal),
maka ana akan menunjukkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih tentang
Masyru’iyyatu Tanzhim fid-Dakwah Al-Islamiyyah Al-Mu’ashirah (Dalil-Dalil
disyariatkannya tanzhim dalam Dakwah di Era Modern), supaya liyahlika man halaka ‘an
bayyinah wa yahya man hayya ‘an bayyinah..

TAFSIR AYAT

Berkata Imam Abu Ja’far At-Thabari ketika mengawali tafsirnya atas ayat ini [2]:
Berkata ALLAH Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji: WALTAKUN MINKUM wahai
orang-orang beriman; UMMATUN yaitu Jama’ah [3]; YAD’UNA yaitu pada manusia;
ILAL KHAYRI yaitu pada Islam & syariatnya yang telah ditetapkan-NYA bagi hamba-
hamba-Nya; WA YA’MURUNA BIL MA’RUFI, yaitu memerintahkan manusia untuk
mengikuti Muhammad -semoga shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha
Tinggi senantiasa tercurah pada diri beliau- dan agama yang dibawanya; WA
YANHAUNA ‘ANIL MUNKARI, yaitu mencegah mereka dari kekafiran pada ALLAH
-Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi- dan penentangan pada Nabi Muhammad -semoga
shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada
diri beliau- dan dari agama yang dibawanya, yaitu melalui Jihad di jalan-NYA baik
dengan tangan maupun anggota badan, sehingga mereka mengikuti dengan ketaatan…
(Perhatikanlah bahwa Imam At-Thabari menyebutkan agar ada & terbentuknya suatu
jama’ah di antara ummat ini)..
Imam Jalaluddin As-Suyuthi bahkan lebih maju lagi, beliau dalam tafsirnya [4] setelah
menjelaskan berbagai hadits shahih berkaitan ayat ini, menyebutkan atsar dari Ibnu Abi
Hatim dari Muqatil bin Hayyan: “Bahwa hendaklah ada suatu kaum, baik 1 atau 2 atau 3
kelompok atau lebih dari itu dan itulah baru disebut sebagai ummat.” Kemudian ia
berkata lagi: “Lalu (hendaklah) ada imamnya yang memimpin untuk amar ma’ruf & nahi
munkar.” Lebih jauh beliau menyitir hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari
Abu Dzarr -semoga ALLAH Yang Maha Gagah lagi maha Tinggi meridhoinya-: “Dua
orang lebih baik dari 1 orang, 3 orang lebih baik dari 2 orang, dan 4 orang lebih baik dari
3 orang, maka hendaklah kalian bersama Al-Jama’ah, karena ALLAH tidak akan
mengumpulkan ummatku kecuali atas petunjuk [5].”

Imam -Muhyis Sunnah- Abu Muhammad Al-Baghawi menyebutkan dalam tafsirnya [6]
bahwa huruf “lam” pada kata “waltakun” bermakna kewajiban.. sementara “min” dalam
kata “minkum ummah” bermakna “shilah” dan bukan “lit-tab’idh” (menunjukkan
sebagian) [7] sebagaimana dalam ayat: FAJTANIBUR RIJSA MINAL AWTSANI [8]..
yang maknanya: Hendaklah mereka menjauhi semua berhala & bukan hanya sebagian
berhala saja. Kemudian Imam Al-Baghawi menyebutkan beberapa hadits, di antaranya
dari Umar -semoga ALLAH Yang Maha Suci laga Maha Tinggi meridhoinya- Nabi
Muhammad -semoga shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi
senantiasa tercurah pada diri beliau- bersabda: “Barangsiapa yang menginginkan
puncaknya Jannah maka wajib atasnya menetapi Al-Jama’ah, karena sesungguhnya
Syaithan itu bersama orang yang sendirian, dan terhadap 2 orang ia lebih menjauh [9].”

Imam Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya [10] bahwa makna “ummah” adalah jama’ah,
kelompok, sebagaimana dalam ayat yang lain disebutkan: KULLAMAA DAKHALAT
UMMATUN LA’ANAT UKHTAHA [11].. Karena asal kata “ummat” dalam bahasa
Arab adalah sekelompok orang yang memiliki 1 tujuan yang sama, bisa berupa
keturunan, atau agama, atau lainnya, dan kejelasannya diketahui melalui keterkaitannya
(idhafah) dengan kata setelahnya, semisal: Ummatul-’Arab atau Ummatun-Nashara, dll.
Imam Abi AbduLLAH Syamsuddin Al-Qurthubi Al-Anshari Al-Khazraji dalam kitabnya
[12] berpendapat bahwa “min” dalam kata “minkum ummah” bermakna “lit-tab’idh”
(menunjukkan sebagian) [13], karena orang-orang yang memerintahkan yang ma’ruf itu
haruslah berilmu, sementara tidak semua orang berilmu, maka kewajiban ini bersifat
fardhu kifayah, jika sebagian kaum muslimin sudah melakukannya maka yang lain tidak
berdosa [14].

Sayyid Quthb -semoga ALLAH Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi menjadikan beliau
Syahid- menyatakan dalam tafsirnya [15]: “Tidak bisa tidak ayat ini memerintahkan agar
terwujudnya sebuah Jama’ah Islamiyyah yang selalu berdakwah kepada kebaikan,
memerintahkan yang ma’ruf & mencegah yang munkar. Dan hendaklah ada sebuah
pemerintahan yang tegak berdiri di atas bumi ini melakukan hal tersebut, sehingga ayat
ini tidak hanya berbunyi “yad’uuna ” (berdakwah saja) melainkan juga “ya’muruuna”
(memerintah) dan “yanhauna” (melarang) yang keduanya itu tidak akan tegak kecuali
adanya sebuah pemerintahan yang Islami..” Sampai kata beliau -semoga ALLAH Yang
Maha Suci lagi Maha Tinggi menjadikan beliau Syahid- pada akhir penjelasannya atas
ayat tersebut: “…Untuk demi tercapainya hal tersebut di atas, maka tidak dapat tidak
haruslah ada sebuah kelompok/jama’ah yang memiliki 2 kekuatan di atas [16] yaitu
“Iimaanu biLLLAAH” (QS Aali-Imraan, 3/102) dan “Ukhuwwatu-fiLLAAH” (QS Aali-
Imraan, 3/103) baru bisa mewujudkan ayat ini (QS Aali-Imraan, 3/104)…
Demikianlah maka berdasarkan dalil-dalil di atas bahwa tegaknya Al-Jama’ah merupakan
dharurah-syar’iyyah, yang kesemuanya tidak akan dapat tegak dengan kerja infiradiyyah
(sendiri-sendiri) dan hanya mengharapkan dari tarbiyyah & tashfiyyah saja, melainkan
memerlukan suatu tanzhim yang kuat & rapi untuk menggapainya.. Jika dikatakan bahwa
As-Salafus Shalih pasca generasi sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi maha
Tinggi meridhoi mereka semua- tidak membuat tanzhim, maka saya jawab bahwa dimasa
mereka sudah ada Al-Jama’ah & Al-Khilafah, maka haram hukumnya membuat
kelompok baru yang berbeda dari Jama’ah kaum muslimin. Adapun sekarang, maka tidak
ada Khilafah, tidak ada Al-Jama’ah & tidak ada Al-Hukumah, maka tiada jalan lain
kecuali membentuk & mendirikannya.. Dan persoalan ini jauh lebih mendesak & lebih
penting dari mendalami & bertele-tele dalam masalah ibadah-mahdhah, cukuplah sunnah
para sahabat -semoga ALLAH Yang Maha Mulia lagi maha Tinggi meridhoi mereka
semua- yang sampai meninggalkan pengurusan & pemakaman jenazah Nabi Muhammad
-semoga shalawat dan salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa
tercurah pada diri beliau- untuk memilih Khalifah menjadi dalil atas hal tersebut.

Saya akhiri penjelasan ini dengan sebuah hadits Nabi Muhammad -semoga shalawat dan
salam ALLAH yang Maha Suci lagi Maha Tinggi senantiasa tercurah pada diri beliau-
berikut: “Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar yang disampaikan di depan
penguasa yang zhalim [17].” ALLAAHu a’lamu bish Shawaab…

Catatan Kaki:
[1] Hadits ini di-takhrij oleh Imam An-Nasa’i, X/83; Ibnu Majah, IX/134; Al-Baihaqi
dalam Al-Kubra, V/85; Al-Hakim, IV/256; At-Thabrani dalam Al-Kubra, X/301 dan
dalam Al-Awsath, V/234; Abu Ya’la, V/481; Shahih Ibnu Habban, XVI/243; Shahih Ibnu
Khuzaimah, X/284. Dan hadits ini shahih. Jangan anda tertipu dengan orang yang
menyatakan hadits ini telah di-dha’if-kan oleh Al-Albani dalam kitab Silsilah Ahaadits
Adh-Dha’ifah; orang tersebut telah berdusta atas nama Al-Albani, bahkan hadits ini
shahih & di-shahih-kan oleh Albani dalam berbagai kitabnya, diantaranya Silsilatu
Ahaadits Ash-Shahihah, III/278 dan V/177; juga dalam kitabnya Shahih wa Dha’if Sunan
An-Nasa’i, VII/129; juga dalam kitabnya Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah, VII/29;
juga dalam kitabnya Shahih wa Dha’if Jami’ Shaghir, X/392.

[2] Jaami’ul Bayaan fi Ta’wiilil Qur’aan, VII/91

[3] Ini juga pendapat Imam Al-Biqa’iy, lih. Tafsirnya Nuzhmud Durar fii Tanaasubil
Aayaati was Suwar, II/94

[4] Ad-Durrul Mantsur fit Ta’wili bil Ma’tsur, II/405

[5] Saya berusaha men-takhrij hadits ini, dan saya menemukannya bukan hanya dalam
Musnad Ahmad (43/297); melainkan jg oleh Ibnu Asakir (38/206); berkata Al-Albani
dalam Fii Zhilalil Jannah (80-84) bahwa hadits ini maudhu’ namun akhir kalimat dalam
hadits ini terdapat syawahid dari hadits shahih.

[6] Ma’alimut Tanzil, II/84

[7] Ini juga pendapat Imam Ibnul Jauzy, lih. Zaadul Masiir, I/391. Tapi beliau juga
menerima pendapat yang menyatakan kewajiban membentuk jama’ah ini fardhu kifayah,
dan beliau menyamakan kedudukannya seperti jihad fi sabiliLLAAH.

[8] Al-Hajj, 22/30

[9] HR Tirmidzi, VI/383-386; Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, I/42 (dan di-shahih-
kan oleh Al-Albani dalam ta’liq-nya atas kitab tersebut); Al-Lalika’i dalam Syarah Ushul
I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah, I/106-107; Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, I/114;
Ahmad dalam Al-Musnad, I/18.

[10] At-Tahriru wat Tanwiru, III/178

[11] QS Al-A’raaf, 7/38

[12] Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an, I/1081

[13] Ini juga pendapat Imam An-Nasafiy, lih. Madrak at-Tanzil wa Haqa’iqu at-Ta’wil,
I/174; demikian juga Al-Khazin, lih. Lubab at-Ta’wil fil Ma’ani at-Tanzil, I/434.

[14] Ini juga pendapat Imam Asy-Syaukani, lih. Fathul Qadir, II/8. Ada baiknya bagi
yang berminat untuk merujuknya, ada ulasan beliau yang amat berharga tentang
masyru’iyyah-nya ikhtilaf dalam masalah2 furu’ dikalangan para ulama salafus-shalih,
dan mereka menamakan ikhtilaf tersebut sbg bentuk ijtihad (demikian pula paparan Imam
Abu Sa’ud dalam kitabnya Irsyadul Aqlis Salim ila Mazayal Qur’anil Kariem, I/432).

[15] Fii Zhilaalil Qur’an, I/413

[16] Maksud beliau -rahimahuLLAAH- adalah penjelasan beliau atas tafsir ayat
sebelumnya (QS Aali-Imraan, III/102-103)

[17] HR Abu Daud, XI/419; Ibnu Majah, XII/15; Ahmad, XXII/261; Hakim, XIX/443;
Thabrani dalam Al-Kabir, VII/327; Al-
Baihaqi, dalam Syu’abul Iman, XVI/120; Abu Ya’la, III/107; Bahkan Imam Tirmidzi
menulis 1 bab khusus tentang tema ini, yaitu : Maa Jaa’a Afdhalul Jihaad Kalimatu
‘Adlin ‘Inda Sulthanin Jaa’ir, VIII/82; Al-Albani men-shahih-kan hadits ini dalam Ash-
Shaahihah, I/490 juga dalam Misykaatul Mashaabiih, II/343.