Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
Mania ditandai dengan aktivitas fisik yang berlebihan dan perasaan
gembira yang luar biasa yang secara keseluruhan tidak sebanding dengan
peristiwa positif yang terjadi. Obat yang digunakan untuk mengobati mania
disebut mood modulators, mood stabilizer atau anti manics.1,2 Penderita mania
mengalami elasi (suasana perasaan yang meningkat) disertai dengan energi yang
meningkat, sehingga terjadi aktivitas yang berlebihan, percepatan, kebanyakan
bicara dan berkurangnya kebutuhan tidur. Pengendalian yang normal dalam
kelakuan sosial terlepas, perhatian terpusat tidak dapat dipertahankan dan sering
kali perhatian sangat mudah dialihkan. Kadang juga dapat ditemukan harga diri
yang membumbung, pemikiran yang serba hebat dan terlalu optimistis dinyatakan
dengan bebas.3 Tujuan dari penatalaksanaan mania adalah menekan secara
menyeluruh semua gejala-gejala yang muncul dan mengembalikan pasien ke
keadaaan dan status mental sebelumnya (keadaan paling baik). Mood, pikiran, dan
kebiasaan harus dikembalikan ke kondisi normal, meskipun beberapa gejala
mempunyai tingkat keparahan yang berbeda.4
Antimania dikenal sebagai mood stabilizer karena kerjanya terutama
mencegah naik turunnya mood pada pasien dengan gangguan bipolar (manik
depresif). Obat acuan utama adalah litium kabonat. Obat antimania tentunya
memiliki efek samping yang perlu diketahui agar pengobatan klinis bisa efisien
dan sesuai dengan proporsi dan tentunya agar mencapai target terapi. Untuk itu

kita harus mengenali obat antimania ini terlebih dahulu, karena selain manfaatnya,
antipsikotik juga mempunyai kerugian yang menyertainya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian
Mania merupakan gangguan mood atau perasaan ditandai dengan aktivitas
fisik yang berlebihan dan perasaan gembira yang luar biasa yang secara keseluruhan
tidak sebanding dengan peristiwa positif yang terjadi. Hal ini terjadi dalam jangka
waktu paling sedikit satu minggu hampir setiap hari terdapat keadaan afek (mood,
suasana perasaan) yang meningkat ekspresif atau iritabel.

1,2

Sindroma mania

disebabkan oleh tingginya kadar serotonin dalam celah sinaps neuron, khususnya
pada sistem limbik, yang berdampak terhadap dopamine receptor supersensitivity.
Lithium karbonat merupakan obat pilihan utama untuk meredakan sindroma mania
akut dan profilaksis terhadap serangan sindroma mania yang kambuh pada gangguan
afektif bipolar.2 Bentuk mania yang lebih ringan adalah hipomania. Mania seringkali
merupakan bagian dari kelainan bipolar (penyakit manik-depresif). Beberapa orang
yang tampaknya hanya menderita mania, mungkin sesungguhnya mengalami episode
depresi yang ringan atau singkat. Baik mania maupun hipomania lebih jarang terjadi
dibandingkan dengan depresi. Mania dan hipomania agak sulit dikenali, kesedihan
yang berat dan berkelanjutan akan mendorong seseorang untuk berobat ke dokter,
2

sedangkan kegembiraan jarang mendorong seseorang untuk berobat ke dokter karena


penderita mania tidak menyadari adanya sesuatu yang salah dalam keadaan maupun
perilaku mentalnya.

Tabel 1. Sediaan Obat Anti Mania dan Dosis Anjuran


No.
1
2

Nama
Generik
Lithium
Carbonate
Haloperidol

Carbamazepine

4
5

Valproic Acid
Natrium
Divalproex

Nama Dagang

Sediaan

Dosis
Anjuran

FRIMANIA

Tab. 200-300-400-500 mg

250-500 mg/h

HALOPERIDOL

Tab. 0,5 - 1,5 - 5 mg

4,5 15 mg/h

HALDOL

Tab. 0,5 2 - 5 mg

SERENACE

Tab. 0,5 - 1,5 - 5 mg


Liq. 2 mg/ml
Amp. 5 mg/cc

TEGRETOL

Tab. 200 mg

BAMGETOL
DEPAKENE
DEPAKOTE

Caplet 200 mg
Syr. 250 mg/5ml
Tab. 250 mg

5 mg (IM)
setiap 2 jam,
maks 100
mg/h
400-600 mg/h
2-3x per hari
3 x 250 mg/h
3 x 250 mg/h

B. Sejarah
Lithium pertama kali digunakan pada abad ke-19 sebagai pengobatan
untuk gout setelah ilmuwan menemukan, setidaknya di laboratorium, lithium bisa
melarutkan kristal asam urat diisolasi dari ginjal. Tingkat lithium yang dibutuhkan
untuk melarutkan asam urat dalam tubuh, namun, yang beracun. Karena teori
umum menghubungkan kelebihan asam urat untuk berbagai gangguan, termasuk
depresi dan gangguan manik, Carl Lange di Denmark dan William Alexander
Hammond di New York digunakan lithium untuk mengobati mania dari tahun
3

1870 dan seterusnya, meskipun digunakan dalam bentuk mata air untuk
mengobati mania dilaporkan pada zaman Romawi dan Yunani kuno. Pada
pergantian abad ke-20, ini penggunaan lithium sebagian besar ditinggalkan,
menurut Susan Greenfield, karena keengganan dari industri farmasi untuk
berinvestasi dalam obat yang tidak bisa dipatenkan.
Seperti mengumpulkan pengetahuan menunjukkan peran asupan sodium
berlebih dalam hipertensi dan penyakit jantung, garam lithium yang diresepkan
untuk pasien untuk digunakan sebagai pengganti garam meja diet (natrium
klorida). Praktek ini dihentikan pada tahun 1949 ketika laporan efek samping dan
kematian diterbitkan, menyebabkan larangan penjualan lithium. 5,3
Penggunaan garam lithium untuk mengobati mania ditemukan kembali
oleh psikiater Australia John Cade pada tahun 1949. Cade menyuntikkan tikus
dengan ekstrak urin yang diambil dari pasien skizofrenia, dalam upaya untuk
mengisolasi senyawa metabolik yang mungkin menyebabkan gejala-gejala
mental. Karena asam urat dalam gout dikenal sangat psikoaktif (reseptor adenosin
pada neuron dirangsang oleh itu, kafein blok mereka), Cade diperlukan urat larut
untuk kontrol. Dia menggunakan lithium urat, sudah dikenal sebagai senyawa urat
yang paling larut, dan mengamati hal ini menyebabkan tikus untuk ditenangkan.
Cade ditelusuri efek pada ion lithium itu sendiri. Segera, Cade mengusulkan
garam lithium sebagai obat penenang, dan segera berhasil mengendalikan mania
pada pasien kronis dirawat di rumah sakit dengan mereka. Ini adalah salah satu
aplikasi yang berhasil pertama dari obat untuk mengobati penyakit mental, dan

membuka pintu bagi pengembangan obat-obatan untuk masalah mental lainnya


dalam dekade mendatang.
Pada tahun 1843, lithium karbonat digunakan sebagai pelarut baru untuk
batu di kandung kemih. Pada tahun 1859, beberapa dokter merekomendasikan
terapi dengan garam lithium untuk sejumlah penyakit, termasuk asam urat, batu
urine, rematik, mania, depresi, dan sakit kepala. Pada tahun 1949, John Cade
menemukan efek anti-manik ion lithium. Temuan ini dipimpin lithium, khususnya
lithium karbonat, yang akan digunakan untuk mengobati mania terkait dengan
gangguan bipolar.
Lithium karbonat digunakan untuk mengobati mania, fase peningkatan
gangguan bipolar. Ion Lithium mengganggu proses transportasi ion (lihat
"natrium pompa") yang menyampaikan pesan dan memperkuat dibawa ke sel-sel
otak Mania dikaitkan dengan peningkatan teratur dalam protein kinase C (PKC)
aktivitas di dalam otak. Lithium karbonat dan natrium valproate, obat lain
tradisional digunakan untuk mengobati gangguan, bertindak di otak dengan
menghambat aktivitas PKC dan membantu menghasilkan senyawa lain yang juga
menghambat PKC tombol. 6 Meskipun temuan ini, banyak hal yang masih belum
diketahui tentang suasana hati lithium ini mengendalikan sifat.
Beberapa studi telah menyarankan manfaat terapeutik dari lithium
karbonat dalam kondisi neuromuskuler tertentu seperti amyotrophic lateral
sclerosis (ALS) dan atrofi otot tulang belakang.

7,8,9

Sebuah uji coba terkontrol

2.010 lithium karbonat di ALS tidak mengkonfirmasi saran sebelumnya,


menemukan senyawa yang tidak efektif dan mungkin beracun pada pasien ALS.

Carbamazepine ditemukan oleh kimiawan Walter Schindler di JR Geigy


AG (sekarang bagian dari Novartis) di Basel, Swiss, pada tahun 1953. [27]
Schindler kemudian disintesis obat pada tahun 1960, sebelum sifat anti-epilepsi
yang telah ditemukan.
Carbamazepine pertama kali dipasarkan sebagai obat untuk mengobati
trigeminal neuralgia (sebelumnya dikenal sebagai tic douloureux) pada tahun
1962. Telah digunakan sebagai antikonvulsan dan antiepilepsi di Inggris sejak
tahun 1965, dan telah disetujui di AS sejak tahun 1974.
Pada tahun 1971, Drs. Takezaki dan Hanaoka pertama kali digunakan
carbamazepine untuk mengontrol mania pada pasien refrakter terhadap
antipsikotik (lithium tidak tersedia di Jepang pada waktu itu). Dr Okuma, bekerja
secara mandiri, melakukan hal yang sama dengan sukses. Karena mereka juga
epileptologists, mereka memiliki beberapa keakraban dengan efek anti-agresi obat
ini. Carbamazepine akan dipelajari untuk gangguan bipolar sepanjang tahun 1970an.
Asam valproik pertama kali disintesis pada tahun 1882 oleh BS Burton
sebagai analog dari asam valeric, ditemukan secara alami dalam valerian.

10

Ia

memiliki dua kelompok propil, maka nama "val.pro ~ ic". Asam valproik adalah
asam karboksilat, cairan bening pada suhu kamar. Untuk beberapa dekade, hanya
penggunaannya berada di laboratorium sebagai "metabolik lembam" pelarut untuk
senyawa organik. Pada tahun 1962, peneliti Perancis Pierre Eymard kebetulan
menemukan sifat antikonvulsan asam valproik saat menggunakannya sebagai
kendaraan untuk sejumlah senyawa lain yang sedang diperiksa untuk kegiatan anti

kejang. Dia menemukan itu mencegah pentylenetetrazol-induced kejang pada


tikus laboratorium. 11 Hal ini disetujui sebagai obat antiepilepsi pada tahun 1967 di
Perancis dan telah menjadi yang paling banyak diresepkan di seluruh dunia obat
antiepilepsi Asam valproat juga telah digunakan untuk profilaksis migrain dan
gangguan bipolar.12
Haloperidol itu disintesis pada 11 Feb 1958 di Laboratories Janssen, di
Belgia. Segera setelah sintesis dan studi hewan, yang menyarankan untuk Paul
Janssen dan rekan-rekannya bahwa obat butyrophenone ini akan menjadi sangat
menarik karena aksinya itu serupa tapi jauh lebih kuat daripada klorpromazin,
haloperidol diberikan kepada manusia di rumah sakit Liege. Studi klinis
selanjutnya mengkonfirmasi bahwa ini obat baru terutama aktif terhadap delusi
dan halusinasi. Pengenalan haloperidol di Amerika Serikat of America adalah sulit
bagi alasan klinis dan legal. Selama bertahun-tahun, haloperidol telah banyak
digunakan di negara-negara Barat, sampai pengenalan "antipsikotik baru."

C. Indikasi Penggunaan
Gejala sasaran (target syndrome) : SINDROM MANIA
Butir-butir diagnostik Sindrom Mania 4

Dalam jangka waktu paling sedikit satu minggu hampir setiap hari terdapat
keadaan afek (mood, suasana perasaan) yang meningkat, ekspresif atau

iritabel.
Keadaan tersebut disertai paling sedikit 4 gejala berikut:

1. Peningkatan aktivitas (di tempat kerja, dalam hubungan social atau


seksual) atau ketidak-tenangan fisik.
2. Lebih banyak berbicara dari lazimnya atau adanya dorongan untuk
berbicara terus-menerus.
3. Lompat gagasan (flight of ideas) atau penghayalan subjektif bahwa
pikirannya sedang berlomba.
4. Rasa harga diri yang melambung (grandiositas, yang dapat bertaraf
sampai waham/delusi).
5. Berkurangnya kebutuhan tidur.
6. Mudah teralih perhatian, yaitu perhatiannya terlalu cepat tertarik kepada
stimulus luar yang penting atau yang tidak berarti.
7. Keterlibatan berlebih dalam aktivitas-aktivitas yang mengandung
kemungkinan risiko tinggi dengan akibat yang merugikan apabila tidak
diperhitungkan secara bijaksana, misalnya berbelanja berlebihan,
tingkah laku seksual secara terbuka, penanaman modal secara bodoh,
mengemudi kendaraan (mengebut) secara tidak bertanggung jawab dan

tanpa perhitungan.
Hendaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanisfestasi dalam
gejala: tidak mampu bekerja, menjalin hubugan sosial, dan melakukan
kegiatan rutin.

D. Jenis-Jenis Antimania
1. Lithium Karbonat
Lithium karbonat adalah jenis garam lithium yang paling sering digunakan
untuk mengatasi gangguan bipolar, menyusul kemudian lithium sitrat. Sejak
disahkan oleh Food and Drug Administration (FDA) pada tahun 1970 untuk
mengatasi mania akut, lithium masih efektif dalam menstabilkan mood pasien
8

dengan gangguan bipolar. Efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan


lithium hampir serupa dengan efek mengonsumsi banyak garam, yakni tekanan
darah tinggi, retensi air, dan konstipasi. Oleh karena itu, selama penggunan obat
ini harus dilakukan tes darah secara teratur untuk menentukan kadar lithium
mengingat dosis terapeutik lithium berdekatan dengan dosis toksik. Bagaimana
kerja lithium sebenarnya dalam mengatasi mania belum diketahui secara pasti,
diduga ion lithium menimbulkan efek menstabilkan mood dengan menghambat
inositol monophosphatase (IMPase) dengan subsitusi satu dari dua ion
magnesium pada sisi aktif IMPase. IMPase merupakan enzim yang diyakini
sebagai penyebab beberapa gangguan bipolar.5,6 Pendapat lain mengatakan bahwa
efek antimania lithium disebabkan oleh kemampuannya mengurangi dopamine
receptor supersensitivity dengan meningkatkan cholinergic-muscarinic activity
dan menghambat Cyclic AMP.2
a. Indikasi
Mengatasi episode mania. Gejala hilang dalam jangka waktu 1-3 minggu
setelah minum obat. Lithium juga digunakan untuk mencegah atau mengurangi
intensitas serangan ulang pasien bipolar dengan riwayat mania.5
b. Dosis
Dosis lithium tergantung pada kebutuhan medis pasien, umur, berat badan
dan fungsi ginjal. Dosis dari lithium berkisar antara 600-2400 mg per hari,
meskipun sebagian besar pasien akan stabil pada 600-1200 mg per hari. Untuk
tablet atau kapsul immediate release biasa diberikan 3 dan 4 kali sehari.
Sedangkan tablet controlled release diberikan dua kali sehari, interval 12 jam.

Pemberian dosis lithium harus dilakukan hati-hati dan individual, yakni


berdasarkan kadar dalam serum dan respon klinis.5 Pada mania akut, pasien
biasanya memberikan respon optimal terhadap lithium karbonat jika diberikan
dosis 1800 mg per hari, dengan dosis terbagi.
Dosis ini secara normal akan menghasilkan kadar lithium serum yang
diinginkan berkisar antara 1 dan 1,5 mEq/l. Kontrol jangka panjang, kadar serum
lithium yang diinginkan adalah 0,6 -1,2 mEq/l. Dosis bervariasi per individu, tapi
biasanya berkisar 900 - 1200 mg per hari dalam dosis terbagi. Monitor serum
dilakukan setiap dua bulan. Pada pasien yang sangat sensitif biasanya
memperlihatkan tanda toksik pada kadar lithium serum dibawah 1,0 mEq/l.5

c. Interaksi obat
Penggunaan diuretik bersama lithium harus dilakukan hati-hati. Hal ini
dikarenakan diuretik yang menginduksi pengeluaran natrium, bisa mengurangi
klirens renal lithium yang akan menyebabkan kadar lithium serum meningkat dan
risiko toksisitas juga meningkat. Begitu juga pada pemberian bersamaan dengan
beberapa obat lain seperti NSAID dan ACE inhibitor.5 Lithium sebaiknya tidak
diberikan pada pasien jantung dan ginjal. Tapi jika kondisi psikiatri pasien
mengancam jiwa dan pasien tidak berespon dengan obat lain, maka lithium bisa
diberikan dengan pengawasan yang sangat ketat.
Pemeriksaan kadar lithium serum dilakukan tiap hari dan kemudian
dilakukan pengaturan dosis. Lithium sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil
karena diduga bisa mendatangkan efek merugikan bagi janin. Lithium juga

10

disekresikan melalui air susu ibu, sehingga tidak dianjurkan diberikan pada wanita
yang menyusui. Penggunaan lithium pada anak usia dibawah 12 tahun sebaiknya
tidak dilakukan mengingat data keamanan dan keefektifan dari obat ini pada
populasi ini belum ada. Pemberian lithium pada orang tua harus dilakukan
perngaturan dosis.5
2. Karbamazepin
Karbamazepin adalah suatu obat iminodibenzyl yang secara structural
mirip dengan imipramine (tofranil) dan disetujui digunakan di Amerika Serikat
sebagai anti epilepsi. Struktur molekul adalah serupa dengan struk trisiklik dari
imipramin (gambar 2).8 Karbamazepin sering digunakan sebagai terapi alternative
pengganti lithium walaupun efeknya tidak sekuat lithium. Cara kerja
karbamazepin belum diketahui dengan pasti, dapat digunakan sebagai antimania
akut dan terapi profilaksis. Efek sampingnya jauh lebih sedikit dibandingkan
dengan lithium.4
a. Indikasi
Karbamazepin pertama-tama digunakan untuk pengobatan trigeminal
neuralgia, kemudian ternyata bahwa obat ini efektif terhadap bangkitan parsial
kompleks dan bangkitan tonik-klonik (antikonvulsan) dan sebagai mood
modulator. Saat ini karbamazepin merupakan antiepilepsi utama di Amerika
Serikat

untuk

mengatasi

berbagai

bangkitan

kecuali

bangkitan

lena.

Karbamazepin juga dapat digunakan sebagai antimania dan terapi profilaksis.9


Indikasi penggunaan terapeutik penggunaan karbamazepin adalah :8
- Epilepsi

11

- Gangguan bipolar (mania, depresi)


- Skizofrenia dan gangguan skizoafektif
- Gangguan depresif
- Gangguan pengendalian impuls
b. Dosis
Karbamazepin biasanya dimulai dengan dosis 200-400 mg per hari dalam 3
atau 4 dosis dan ditingkatkan menjadi 800-1000 mg per hari pada akhir minggu
pertama pengobatan. Bila kemajuan terapi tidak tercapai pada akhir minggu ke-2
pengobatan dan pasien tidak mempunyai efek intoleransi obat maka dosis
karbamazepin dapat ditingkatkan sampai 1600 mg per hari.4 Dosis Anjuran untuk
karbamazepin adalah 400-600 mg per hari 2-3 kali pemberian.2
Dalam buku Farmakologi dan Terapi FK Universitas Indonesia diterangkan
bahwa dosis untuk anak di bawah 6 tahun adalah 100 mg per hari, anak usia 6-12
tahun adalah 2 kali 100 mg per hari. Dosis awal untuk dewasa 2 kali 200 mg hari
pertama, selanjutnya dosis ditingkatkan secara bertahap. Dosis penunjang berkisar
antara 800-1200 mg per hari untuk dewasa dan 20-30 mg per KgBB untuk anak.
Dengan dosis ini umumnya tercapai kadar terapi dalam serum 6-8 g/ml.9
c. Interaksi Obat
Pemberian bersama lithium, obat anti psikotik, verapamil atau nifedipin
dapat mencetuskan efek merugikan sistem saraf pusat akibat karbamazepin.
Karbamazepin dapat menurunkan kadar kontrasepsi oral dalam darah, dan
menyebabkan perdarahan banyak. Karbamazepin tidak boleh digunakan bersama
monoamin oksidase inhibitor (MOAI) dan MOAI harus dihentikan sekurang12

kurangnya dua minggu sebelum terapi karbamzepin dimulai. 9 Fenobarbital dan


Fenitoin

dapat

meningkatkan

kadar

karbamazepin,

dan

biotransformasi

karbamazepin dapat dihambat oleh eritromisin. Konversi primidon menjadi


fenobarbital ditingkatkan oleh karbamazepin, sedangkan pemberian karbamazepin
bersama asam valproat akan menurunkan kadar asam valproat.9
3. Natrium Divalproex
Natrium divalproex adalah obat antikonvulsan, namun juga digunakan
dalam terapi mania dan untuk membantu mencegah sakit kepala migrain. Di
Amerika Serikat dijual dengan berbagai nama dagang seperti Depacon, Depakene,
Depakote dan Depakote sprinkle.10 Obat ini secara kimia dibentuk oleh gabungan
antara natrium valproat dan asam valproat dengan perbandingan 1 : 1. Pertama
kali ditemukan pada tahun 1963 mempunyai efek sebagai antikonvulsan dan pada
tahun 1978 diperbolehkan digunakan di Amerika Serikat. Melalui penelitian yang
dlakukan pada tahun 1995 ditemukan bahwa natrium divalproex juga efektif
sebagai antimania.10

13

a. Indikasi
Obat ini efektif untuk penanganan epilepsi, baik bangkitan sederhana,
kompleks, absen, campuran dan tonik klonik (grand mall). Natrium divalproex ini
juga digunakan untuk penanganan gangguan bipolar episode manik pada dewasa,
dan mencegah sakit kepala migrain.10 Natrium divalproex juga merupakan
alternatif terapi yang penting sebagai pengganti lithium dalam penggunaan dengan
tujuan pemeliharaan untuk kasus kasus gangguan bipolar (terutama pada pasien
dengan siklus berulang), penderita dengan riwayat disforia atau mania campuran,
gangguan anxietas, atau penyakit otak organik.4
b. Dosis
Sedian natrium divalproex tersedia dalam tablet 125 mg, 250 mg, 500 mg,
bentuk kapsul 125 mg dan bentuk sirup 250 mg per 5 ml. Untuk penanganan
mania, terapi diawali dengan dosis harian 750 mg. pada beberapa pasien dosis
harus ditingkatkan sampai 1000 mg per hari.10
c. Interaksi Obat
Natrium divalproex dimetabolisme di hati. Konsentrasi obat lain dalam
tubuh yang dimetabolisme di hati dapat sangat menurun atau sangat meningkat
bila dikombinasikan dengan natrium divalproex. Tingkat konsentrasi natrium
divalproex dapat meningkat apabila dikombinasikan dengan felbamat, isoniazid,
asam salisilat (aspirin), klaritomisin, eritromisin dan troleandomisin. Obat ini juga
meningkatkan kadar karbamazepin, fenitoin, lamotrigin, nimodipin, fenobarbital
dan zidovudin. Penggunaan dengan klonazepam mungkin dapat menimbulkan

14

bangkitan lena. Kolestiramin dan kolestipol dapat mengurangi absorsi dan


konsentrasi natrium divalproex dalam darah.10

4. Haloperidol
Haloperidol adalah turunan butiropenon yang mempunyai aktivitas
sebagai antipsikotik dan efektif untuk pengelolaan hiperaktivitas, agitasi dan
mania. Reaksi ekstrapiramidal timbul pada 80% penderita yang diobati dengan
haloperidol.9
Pada orang normal efek haloperidol mirip fenotiazin piperazin. Haloperidol
memperlihatkan efek antipsikotik yang kuat dan efektif untuk mania dan
skizofrenia. Efek penotiazin piperazin dan butiropenon berbeda secara kuantitatif
karena butiropenon selain menghambat efek dopamin, juga meningkatkan turn
over ratenya.9
Haloperidol cepat diserap dari saluran cerna. Kadar puncaknya dalam
plasma tercapai dalam waktu 2-6 jam sejak obat diminum, menetap sampai 72
jam dan masih dapat ditemukan dalam plasma sampai berminggu-minggu. Obat
ini ditimbun dalam hati dan kira-kira 1% dari dosis yang diberikan dieksresikan
melalui empedu. Eksresi haloperidol lambat melalui ginjal, kira-kira 40% obat
dikeluarkan selama 5 hari sesudah pemberian dosis tunggal.9
a. Indikasi
Haloperidol diindikasikan pada keadaan:
- Psikosis akut dan kronis
- Halusinasi pada skizofrenia

15

- Kelainan sikap dan tingkah laku pada anak


Haloperidol menenangkan dan menyebabkan tidur pada orang yang
mengalami eksitasi. Efek sedatif haloperidol kurang kuat dibanding klorpromazin
(CPZ), sedangkan efek haloperidol terhadap EEG menyerupai CPZ yakni
memperlambat gelombang teta. Haloperidol dan CPZ sama kuat menurunkan
ambang rangsang konvulsif. Haloperidol menghambat sistem dopamin da
hipotalamus, juga menghambat muntah yang ditimbulkan oleh apomorfin. 9 Efek
haloperidol terhadap sistem saraf otonom lebih kecil daripada antipsikotik lain,
walaupun haloperidol dapat menyebabkan pandangan mata menjadi kabur
(Blurring of Vision). Obat ini menghambat aktivitas reseptor alpa yang disebabkan
oleh amin simpatomimetik, tetapi hambatannya tidak sekuat hambatan CPZ.

Haloperidol menyebabkan hipotensi, tetapi tidak sesering dan sehebat hipotensi


akibat CPZ. Haloperidol menyebabkan takikardi meskipun kelainan EKG belum
pernah dilaporkan. Seperti halnya CPZ, haloperidol menyebabkan galaktore.9
b. Dosis
Sedian haloperidol terdapat dalam bentuk tablet : 0,5 mg, 1,5 mg dan 5 mg,
serta dalam bentuk likuor (injeksi) : 2 mg/ml dan 5 mg/ml. Besarnya dosis
tergantung kepada umur, keadaan fisik dan derajat kehebatan gejalanya.
Untuk dewasa dan anak-anak di atas 12 tahun :
- Dosis awal bila gejala sedang : 0,5 mg 2 mg pemberian 2-3 kali per hari.
- Dosis awal bila gejala berat : 3 mg 5 mg pemberian 2-3 kali per hari.

16

Untuk anak 3 -12 tahun : 0,05 mg 0,15 mg per KgBB per hari terbagi dalam 2-3
dosis pemberian. Selanjutnya dosis secara bertahap disesuaikan dengan kebutuhan
dan toleransi tubuh.
c. Interaksi Obat
Pemberian haloperidol dengan lithium akan mengurangi metabolisme
masing-masing obat, sehingga konsentrasi plasma kedua obat tidak akan
meningkat.

Pemberian

haloperidol

bersama

dengan

methyldopa

akan

menimbulkan efek aditif hipotensif. Pemberian haloperidol bersamaan dengan


antikonvulsan, alkohol, depresan sistem saraf pusat dan golongan opioid dapat
menimbulkan efek potensiasi. Amfetamin dapat menurunkan efek haloperido.
Pembeian dengan epinefrin akan menimbulkan hipotensi berat.

5. Asam Valproat
Valproat (depakene) juga disebut asam valproat karena obat ini dengan
cepat diubah menjadi bentuk asam di dalam lambung. Pertama kali diperkenalkan
sebagai obat anti epileptik yang efektif di tahun 1963. Di samping itu valproat dan
karbamazepin telah terbukti efektif dalam terapi gangguan bipolar.8
Pemberian valproat per oral cepat diabsorsi dan kadar maksimal serum
tercapai setelah 1 sampai 3 jam. Dengan masa paruh 8-10 jam kadar dalam darah
stabil setelah 48 jam terapi.. Dari suatu uji klinik terkendali, dosis valproat 1200
mg sehari, hanya menyebabkan kantuk, ataksia, dan mual selintas. Terlalu dini
untuk mengatakan bahwa obat ini aman untuk digunakan karena penggunaannya

17

masih terbatas.8 Sebelum penggunaan asam valproat dianjurkan untuk melakukan


uji darah komplit dan pemeriksaan faal hepar.4
a. Indikasi
Indikasi pemberian asam valproat adalah :
- Epilepsi
- Gangguan bipolar
- Gangguan skizoafektif
- Gangguan mental lain : gangguan depresif berat, gangguan panik, gangguan
stres pasca trauma, gangguan bulimia nervosa, putus alkohol, dan hipnotik atau
ansiolitik dan gangguan eksplosif intermiten. 8
b. Dosis
Asam valproat tersedia dalam bentuk kapsul 250 mg dan bentuk sirup 250
per 5 ml. Dosis hari pertama adalah 250 mg diberikan bersama makanan. Dosis
dapat dinaikkan sampai 250 mg per oral 3 kali per hari selama 3 sampai 6 hari.
Kadar plasma teraputik untuk mengendalikan kejang adalah 50 dan 100 mg per ml
bila obat ditoleransi dengan baik. Dosis anak yang disarankan berkisar antara 2030 mg per KgBB per hari.8,9
c. Interaksi Obat
Asam valproat akan meningkatkan kadar fenobarbital 40% karena terjadi
penghambatan hidroksi fenobarbital. Sedangkan interaksinya dengan fenitoin
terjadi melalui mekanisme yang lebih kompleks. Fenitoin total dalam plasma akan
turun, karena biotransformasinya yang meningkat dan pergeseran fenitoin dari

18

ikatan protein plasma, sedangkan fenitoin bebas dalam darah mungkin tidak
dipengaruhi.9

E. PROFIL EFEK SAMPING


Efek samping pada obat anti-mania (lithium) berhubungan erat dengan dosis dan
kondisi fisik pasien. GEjala efek samping yang dini (kadar serum lithium 0,8-1,2
mEq/L) : 5

Mulut kering
Haus
Gastrointestinal distress (mual, muntah, diare, feses lunak)
Kelemahan otot
Poli-uria
Tremor halus (fine tremor, lebih nyata pada pasien usia lanjut dan

penggunaan bersamaan dengan neuroleptika dan antidepresan)


Tidak ada efek sedasi dan gangguan ekstrapiramidal
Hipotiroidisme
Peningkatan berat badan
Perubahan fungsi tiroid (penurunan kadar tiroksin dan peningkatan TSH)
Edema pada tungkai
Metalic taste
Leukositosis
Gangguan daya ingat dan konsentrasi pikiran

Gejala intoksikasi: (kadar serum Lithium >1,5 mEq/L)


Gejala dini: muntah, diare, tremor kasar, mengantuk, konsentrasi pikiran
menurun, bicara sulit, pengucapan kata tidak jelas, dan gaya berjalan tidak
stabil.
Dengan semakin beratnya intoksikasi terdapat gejala: kesadaran menurun
(confusional state) dapat sampai coma dengan hipertoni otot dan kedutan,
oliguria, kejang-kejang.
Penting sekali monitoring kadar Lithium dalam darah (mEq/L)

19

Faktor predisposisi terjadinya intoksikasi lithium:


Demam (berkeringat berlebihan)
Diet rendah garam (pasien dengan hipertensi)
Diare dan muntah-muntah
Diet untuk menurunkan berat badan
Pemakaian bersama diuretika, antirematika NSAID

Tindakan mengatasi intoksikasi Lithium:


Mengurangi factor predisposisi
Forced dieresis dengan garam fisiologis (NaCl 0,9%) diberikan i.v
sebanyak 10 cc (1 ampul), bila perlu hemodialisis.
Tindakan pencegahan intoksikasi Lithium dengna edukasi tentang faktor
predisposisi, minum secukupnya (sekitar 2500 cc per hari), bila berkeringat dan
diuresis banyak harus diimbangi minum lebih banyak, mengenal gejala dini
intoksikasi, kontrol rutin kadar serum Lithium.
F. INTERAKSI OBAT 5
Lithium + diuretika Thiazide = dapat meningkatkan konsentrasi serum
Lithium sebanyak 50% risiko intoksikasi menjadi besar, sehingga dosis
Lithium harus dikurangi 50% agar tidak terjadi intoksikasi. Sedangkan
loop diuretics, seperti Furosemid, kurang mempengaruhi konsentrasi

Lithium).
ACE inhibitors + Lithium = dapat meningkatkan konsentrasi serum

Lithium sehingga menimbulkan gejala intoksikasi.


Haloperidol + Lithium = efek neurotoksis bertambah (dyskinesia, ataksia),
tetapi efek neurotoksis tidak tampak pada penggunaan kombinasi Lithium
dengan haloperidol dosis rendah (kurang dari 20 mg/h). Keadaan yang

sama untuk Lithium + Carbamazepine.


NSAID (e.g. Indometasin, ibuprofen) + Lithium = dapat meningkatkan

konsentrasi serum lithium, sehingga risiko intoksikasi menjadi besar.


Aspirin dan paracetamol (analgesics) tidak ada interaksi dengan lithium.
20

G. CARA PENGGUNAAN
Pemilihan Obat

Pada Mania akut diberikan: Haloperidol (IM) plus tablet lithium


karbonat. Haloperidol (IM) untuk mengatasi hiperaktivitas, impulsivitas,
iritabilitas, dengan onset of action yang cepat (kalau perlu dengan rapit
enuroleptization).5
Lithium karbonat efek anti-mania baru muncul stelah penggunaan 7-10

hari.
Pada gangguan afektif bipolar (manic-depressive disorder) dengan
serangan-serangan episodic mania/depresi: Lithium karbonat sebagai obat
profilaksis terhadap srangan sindrom mania/depresi dapat mengurangi

frekuensi, berat, dan lamanya suatu kekambuhan.


Bila oleh karena sesuatu hal (efek samping yang tidak mampu ditolerir
dengan baik, atau kondisi fisik yang kontra indikatif tidak menggunakan
obat alternative : Carbamazepine, Valproic Acid, Divalproex Na, yang
terbukti juga ampuh untuk meredakna sindrom mania akut dan

profilaksis serangan sindrom mania/depresi pada gangguan afektif bipolar.


Pada gangguan afektif unipolar (recurrent unipolar depression),
pencegahan kekambuhan dapat juga dengan obat anti depresi SSRI (e.g.
Fluoxetine, Sertraline) yang lebih ampuh dari Lithium karbonat).

Pengaturan Dosis
Dalam pengaturan dosis perlu dipertimbangkan : 5
Onset efek primer (efek klinis)
: 7-10 hari (1-2 minggu)
Rentang kadar serum terapeutik = 0,8 1,2 mEq/L (dicapai dengan dosis

sekitar 2 atau 3 x 500 mg per hari).


Kadar serum toksik di atas 1,5 mEq/L.
21

Biasanya preparat Lithium yang digunakan adalah Lithium


Carbonate mulai dengan dosis 250-500 mg/h diberikan 1-2 kali sehari,
dinaikkan 250 mg/h setiap minggu, diukur serum lithium setiap minggu
sampai diketahui kadar serum lithium berefek klinlis terapeutik (0,8 1,2
mEq/L). biasanya dosis efektif dan optimal berkisar 1000-1500 mg/h.
dipertahankan sekitar 2-3 bulan, kemudian diturunkan menjadi dosis
maintenance, konsentrasi serum Lithium yang dianjurkna untuk
mencegah kekambuhan (profilaksis) berkisar antara 0,5 0,8 mEq/L ini
sama efektifnya bahkan elebih efektif dari kadar 0,8 1,2 mEq/L dan juga
untuk mengurangi insidensi dari efek samping dan risiko intoksikasi.
Dosis awal harus lebih rendah pada pasien usia lanjut atau pasien dengan
gangguan fisik, yang mempengaruhi fungsi ginjal.
Pengukuran serum dilakukan dengan mengambil sampel darah pada
pagi hari, yaitu: sebelum makan obat dosis pagi dan sekitar 12 jam setelah
dosis petang (hari sebelumnya). Untuk mengurangi efek samping pada
saluran makanan (mual, muntah, diare), Lithium karbonat dapat diberikan
setelah makan.
Lama Pemberian
Pada penggunaan untuk Sindrom Mania Akut, setelah gejala-gejala
mereda, Lithium carbonate harus diteruskan sampai lebih dari 6 bulan, dihentikan
secara gradual (tapering off) bila memang tidak ada indikasi lagi.
Pada Gangguan Afektif Bipolar dan Unipolar penggunaan harus
diteruskan sampai beberapa tahun ,sesuai dengan indikasi profilaksis serangan
Sindrom Mania/Depresi. Penggunaan jangka panjang ini sebaiknya dalam dosis

22

minimum, dengan kadar serum Lithium terendah yang masih efektif untuk
terapi profilaksis (kadar serum Lithium diukur setiap hari).
H. PERHATIAN KHUSUS
Sebelum dan selama penggunaan obat anti-mania Lithium Carbonate perlu
dilakukan pemeriksaan laboratorium secara periodik
- Kadar serum Na dan K (Li dan Na saling mempengaruhi di tubulus
proximalis renalis). Kadar ini merendah pada pasien diet garam dan
menggunakan diuretika.
- Tes fungsin ginjal (serum kreatinin). Hampir semua kadar Lithium
dalam darah diekskresi melalui ginjal.
- Tes fungsi kelenjar tiorid (serum T3 dan T4). Lithium merendahkan
kadar serum yodium.
- Pemeriksaan EKG (lithium mempengaruhi cardiac repolarization).

Wanita hamil adalah kontraindikasi penggunaan Lithium karena bersifat


teratogenik. Lithium dapat melalui plasenta dan masuk ke peredaran darah
janin, khususnya mempengaruhi kelenjar tiroid.
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
a. Mania merupakan gangguan mood atau perasaan yang ditandai dengan
aktivitas fisik yang berlebihan dan perasaan gembira yang luar biasa yang
secara keseluruhan tidak sebanding dengan peristiwa positif yang terjadi.
b. Obat yang digunakan untuk mengobati mania disebut mood modulators,
mood stabilizier atau anti manics.

23

c. Obat anti mania yang ada diantaranya adalah lithium karbonat,


karbamazepin, asam valproat, haloperidol dan natrium divalproex.
d. Obat anti mania yang paling sering digunakan adalah lithium karbonat.
e. Pada penggunaan lithium perlu pengawasan khusus agar bila terjadi efek
samping obat dapat segera diatasi.
f. Karbamazepin, asam valproat dan natrium divalproex adalah obat
antiepileptik yang juga mempunyai efek anti mania.
g. Haloperidol mempunyai aktivitas sebagai antipsikotik dan efektif untuk
pengelolaan hiperaktivitas, agitasi dan mania.
B. Saran
a. Diperlukan pengawasan ketat pada penggunaan obat anti mania,
khususnya lithium karbonat mengingat efek samping yang akan terjadi.
b. Tenaga kesehatan meningkatkan kompetensinya mengenai obat-obat
penanganan mania, sehingga penatalaksanaan mania dan penanganan efek
sampingnya dapat dilaksanakan dengan baik.

24

DAFTAR PUSTAKA

1.

Esa, Emy. Antipsikotik. [online]. Scribd 2010 [cited 2010 Okt 15]; [1].
Available from:URL:http://www.scribd.com/doc/39228424/Refer-At

2.

Anonymous. Antipsychotic Medications. [online] Available from:URL:


http://www.namigc.org/content/fact_sheets/medicationinfo/Antipsychotics/A
NTIPSYCHOTIC_MEDS_0106.pdf

3.

Anonymous. Penggunaan Obat Antipsikotik Atipikal Lebih Efektif. [online]


curhatkita

2009

[cited

2009

Feb

09];

Available

from:URL:http://curhatkita.blogspot.com/2009/02/penggunaan-obatantipsikotik-atipikal.html
4.

Sinaga,RB. Skizofrenia dan Diagnosis Banding. Jakarta: Balai Penerbit


FKUI. 2007

5.

Maslim,Rusdi. Panduan Praktis Penggunaan Obat Psikotropik. Edisi Ketiga.


Jakarta. 2007

6.

Ganiswarna,Sulistia. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4. Jakarta: Bagian


Farmakologi Fakultas Kedokteran UI. 1995

7.

Abidin, Taufik. Obat Psikotropik. Fakultas Kedokteran Mataram. [online].


Scribd

2010

[cited

2009

Agustus

26];

Available

from:

URL:http://scribd.com/doc/19110482/Obat-Psikotropik
8.

Ramirez, Monica. Antipsychotic Treatment. Medical Chemistry [cited 2005


March 06]; Available from;URL: faculty.smu.edu/jbuynak/images/Antipsychotics.ppt
25

9.

Anonymous. Psikotropik. [online]. [cited 2008 Okt 24]. Psikofarmaka Mental


Health Nursing Eight Club-Universitas Padjadjaran. Available from:
URL:http://antipsikotik-psikofarmaka.blogspot.com/

10. Widayati, E. Obat Antipsikotik Tingkatkan Resiko Penggumpalan Darah.


[online]. mentalhealth 2010 [cited 2010 Sept 22]; Available from:URL:
http://www.go4healthylife.com/articles/2434/1/Obat-AntipsikotikTingkatkan-Risiko-Penggumpalan-Darah/Page1.html

26

Anda mungkin juga menyukai