Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Kejahatan seksual merupakan suatu masalah serius, terutama bagi kaum

perempuan, walaupun laki-laki baik anak maupun dewasa juga beresiko menjadi
korbannya.1 Kekerasan seksual merupakan kejahatan yang universal. Kejahatan ini
dapat ditemukan di seluruh dunia, pada tiap tingkatan masyarakat, tidak memandang
usia maupun jenis kelamin. Besarnya insiden yang dilaporkan di setiap negara
berbeda-beda. Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada tahun 2006 (National
Violence against Women Survey/NVAWS) melaporkan bahwa 17,6% dari responden
wanita dan 3% dari responden pria pernah mengalami kekerasan seksual, beberapa di
antaranya bahkan lebih dari satu kali sepanjang hidup mereka. Dari jumlah tersebut
hanya sekitar 25% yang pernah membuat laporan polisi.2
Disinyalir pelaporan kasus-kasus kejahatan seksual lebih sedikit dibandingkan
kenyataan sebenarnya, dengan alasan takut, atau korban merasa kejahatan seksual
adalah aib, atau rasa tidak percaya dengan penyidik atau penyedia jasa pelayanan
kesehatan. Ditambah

pelaku kejahatan seksual pun dapat berasal dari berbagai

kalangan, bahkan orang-orang yang di masyarakat dianggap tidak akan mungkin


menjadi pelaku seperti pemuka agama atau tokoh masyarakat tertentu.1
Di Indonesia, menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
(Komnas Perempuan) sejak tahun 1998 sampai 2011 tercatat 93.960 kasus kekerasan
seksual terhadap perempuan di seluruh Indonesia. Dengan demikian rata-rata ada 20
perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual tiap harinya. Hal yang lebih
mengejutkan adalah bahwa lebih dari 3/4 dari jumlah kasus tersebut (70,11%)
dilakukan oleh orang yang masih memiliki hubungan dengan korban.2 Kejahatan
seksual yang diatur dalam undangundang diantaranya adalah perkosaaan dan
pencabulan. 3

Usaha-usaha yang dilakukan oleh para penegak hukum untuk mencari


kebenaran materiil suatu perkara pidana dimaksudkan untuk menghindari adanya
kekeliruan dalam penjatuhan pidana terhadap diri seseorang diperlukan guna
kepentingan pemeriksaan suatu perkara pidana, seringkali para penegak hukum
dihadapkan pada suatu masalah atau hal-hal tertentu yang tidak dapat diselesaikan
sendiri dikarenakan masalah tersebut berada di luar kemampuan atau keahliannya,
sehingga dibutuhkan bantuan keterangan ahli dalam penyidikannya. Dalam kasuskasus tertentu, bahkan penyidik sangat bergantung terhadap keterangan ahli untuk
mengungkap lebih jauh suatu peristiwa pidana yang sedang ditanganinya. Kasus-kasus
tindak pidana seperti pembunuhan, penganiayaan dan pemerkosaan merupakan contoh
kasus penyidik membutuhkan bantuan tenaga ahli seperti, dokter ahli forensik atau dokter
ahli lainnya, untuk memberikan keterangan medis tentang kondisi korban yang
selanjutnya berpengaruh bagi tindakan penyidik dalam mengungkap lebih lanjut kasus
tersebut. 4

Mengingat pentingnya peran dokter dalam pembuktian kasus kejahatan


seksual, penulis tertarik mengetahui pemeriksaan forensik yang diperlukan pada
kasus kejahatan seksual, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam membuat
keterangan medis untuk kasus tersebut.
1.2

Tujuan Penulisan
Refrat ini bertujuan membahas pemeriksaan forensik pada kasus perkosaan

dan pencabulan
1.3

Metode Penulisan
Metode penulisan refrat ini adalah metode kepustakaan dengan merujuk pada

berbagai literatur

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Perkosaan
2.1.1 Definisi
Perkosaan (rape) berasal dari bahasa latin rapere yang berarti mencuri,
memaksa, merampas, atau membawa pergi.7 Tindak perkosaan dalam kosa kata
bahasa Indonesia berasal dari kata perkosaan yang berarti menundukkan dengan
kekerasan, memaksa dengan kekerasan atau menggagahi. Pengertian tindak pidana
perkosaan tersebut mempunyai makna yang luas yang tidak hanya terjadi pada
hubungan sexual (sexual intercouse) tetapi dapat terjadi dalam bentuk lain seperti
pelanggaran hak asasi manusia yang lainnya.4
Menurut Soetardjo Wignjo Soebroto, yang dimaksud dengan perkosaan adalah
suatu usaha melampiaskan nafsu seksual seorang laki-laki terhadap seorang
perempuan yang menurut moral atau hukum yang berlaku adalah melanggar. Dalam
pengertian demikian bahwa apa yang dimaksud perkosaan di satu pihak dapat dilihat
sebagai suatu perbuatan (yaitu perbuatan seorang secara paksa hendak melampiaskan
nafsu seksualnya) dan di lain pihak dapat dilihat sebagai suatu peristiwa pelanggaran
norma serta tertib sosial.4
Berdasarkan pengertian Pemerkosaan tersebut diatas, menunjukkan bahwa
Pemerkosaan merupakan bentuk perbuatan pemaksaan kehendak laki-laki terhadap
perempuan yang berkaitan atau ditujukan pada pelampiasan nafsu seksual. Perbuatan
ini dengan sendirinya baik secara moral maupun hukum melanggar norma kesopanan
dan norma kesusilaan di masyarakat.4
2.1.2 Pengaturan Tindak Pidana Perkosaan Dalam KUHP

Mengenai tindak pidana Perkosaan atau verkrachting, ketentuan yang


mengatur mengenai bentuk perbuatan dan pemidanaannya terdapat dalam pasal 285
KUHP. Dirumuskan dalam pasal tersebut : Barangsiapa dengan kekerasan atau
ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar

pernikahan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling


lama dua belas tahun.
Berdasarkan rumusan tindak pidana Perkosaan dalam pasal 285 KUHP
tersebut, dapat diuraikan unsur-unsur tindak pidana perkosaan adalah sebagai berikut:
a. Perbuatannya : memaksa
Yang dimaksud dengan perbuatan memaksa (dwingen) adalah perbuatan yang
ditujukan pada orang lain dengan menekan kehendak orang lain itu, agar orang
tersebut menerima kehendak orang yang menekan atau sama dengan kehendaknya
sendiri. Berdasarkan pengertian ini pada intinya bahwa memaksa berarti di luar
kehendak dari seseorang atau bertentangan dengan kehendak seseorang tersebut.
Memaksa dapat dilakukan dengan perbuatan dan dapat juga dilakukan dengan
ucapan. (Syamsuddin Rahman)
b. Caranya : 1) dengan kekerasan 2) dengan ancaman kekerasan
Dalam Pasal 89 KUHP yang merumuskan tentang perluasan arti dari
kekerasan. Disebutkan: Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan
dengan menggunakan kekerasan. Dalam arrest Hoge Raad tanggal 5 Januari
1914 dan tanggal 18 Oktober 1915 mengenai ancaman kekerasan
disyaratkan :
- Ancaman harus diucapkan dalam suatu keadaan yang demikian rupa,
sehingga dapat menimbulkan kesan pada orang yang diancam, bahwa
yang diancamkan tersebut benar-benar akan merugikan kebebasan
pribadinya
- Pelaku memang telah ditujukan untuk menimbulkan kesan seperti
yang diancamkan

Antara kekerasan dengan ketidakberdayaan perempuan terdapat hubungan


kausal, dan karena tidak berdaya inilah maka persetubuhan dapat terjadi. Jadi
sebenarnya terjadinya persetubuhan pada dasarnya adalah akibat dari perbuatan
memaksa dengan menggunakan kekerasan dan ancaman kekerasan tersebut.4
c. Seorang wanita bukan istrinya

Mengenai wanita bukan isterinya, disini persetubuhan dilakukan terhadap


perempuan yang bukan istrinya. Ditentukannya hal tersebut karena perbuatan
bersetubuh dimaksudkan sebagai perbuatan yang hanya dilakukan antara suami isteri
dalam perkawinan.4
d. Bersetubuh
Menurut Kedokteran Forensik, persetubuhan didefinisikan sebagai suatu
peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam vagina, penetrasi tersebut dapat
lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai ejakulasi.4
Sedangkan Persetubuhan dengan Wanita di bawah umur diatur dalam pasal 287
ayat 1 yang berbunyi, Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar
perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umumya
belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya
untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. 2
2.2. Pencabulan anak (child molestation)
2.2.1. Definisi
Child molestation adalah semua perilaku atau aktivitas seksual yang ditujukan
pada anak-anak, termasuk didalamnya meraba-raba, oral sex, intercourse, atau
mengambil atau menyimpan gambar porno anak-anak. (caeti) Di Indonesia, kata
pencabulan digunakan untuk kekerasan seksual dengan korban anak di bawah
umur. Jika berdasarkan pasal pada UU Perkawinan 1974, maka korbannya berumur
kurang dari 15 tahun.5
2.2.2. Pengaturan Tindak Pidana Pencabulan Dalam KUHP
Pada pasal 293 KUHP disebutkan tentang pencabulan :
(1) Barangsiapa dengan hadiah atau perjanjian akan membeir uang atau barang,
dengan salah memakai kekuasaan yang timbul dari pergaulan atau dengan
memperdayakan,dengan sengaja mengajak orang di bawah umur yang tidak
bercacat kelakuannya, yang diketahuinya atau patut dapat disangkanya
dibawah umur, mengerjakan perbuatan cabul dengan dia atau membiarkan
perbuatan cabul itu dengan dia, dihukum dengan hukuman penjara selamalamanya lima tahun.
5

2.2.3 Jenis Pencabulan Anak5


a. Acquaintence molestation yaitu pencabulan yang dilakukan oleh orang yang
dikenal oleh korban, bisa dari anggota keluarga, tetangga, guru sekolah, maupun
pengasuh anak
b. Stranger molestation yaitu pencabulan yang dilakukan oleh orang asing yang tidak
dikenal oleh korban. Namun pencabulan jenis ini jauh lebih berbahaya karena
biasanya tidak hanya pencabulan saja, namun diawali dengan penculikan dan
akhirnya korban dibunuh.
2.3.

Visum et Repertum
Visum et repertum adalah istilah yang dikenal dalam Ilmu Kedokteran

Forensik, biasanya dikenal dengan nama Visum. Visum berasal dari bahasa Latin,
bentuk tunggalnya adalah visa. Dipandang dari arti etimologi atau tata bahasa, kata
visum atau visa berarti tanda melihat atau melihat yang artinya penandatanganan
dari barang bukti tentang segala sesuatu hal yang ditemukan, disetujui, dan disahkan,
sedangkan Repertum berarti melapor yang artinya apa yang telah didapat dari
pemeriksaan dokter terhadap korban. Secara etimologi visum et repertum adalah apa
yang dilihat dan diketemukan.
Berdasarkan ketentuan hukum acara pidana Indonesia, khususnya KUHAP
tidak diberikan pengaturan secara eksplisit mengenai pengertian visum et repertum.
Satu-satunya ketentuan perundangan yang memberikan pengertian mengenai visum
et repertum yaitu Staatsblad Tahun 1937 Nomor 350. Disebutkan dalam ketentuan
Staatsblad tersebut bahwa : Visum et Repertum adalah laporan tertulis untuk
kepentingan peradilan (pro yustisia) atas permintaan yang berwenang, yang dibuat
oleh dokter, terhadap segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan pada pemeriksaan
barang bukti, berdasarkan sumpah pada waktu menerima jabatan, serta berdasarkan
pengetahuannya yang sebaik-baiknya. Abdul Munim Idris memberikan pengertian
visum et repertum sebagai berikut : Suatu laporan tertulis dari dokter yang telah

disumpah tentang apa yang dilihat dan ditemukan pada barang bukti yang
diperiksanya serta memuat pula kesimpulan dari pemeriksaan tersebut guna
kepentingan peradilan.
Dari pengertian visum et repertum tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa
visum et repertum adalah keterangan dokter tentang apa yang dilihat dan ditemukan
dalam melakukan pemeriksaan barang bukti guna kepentingan peradilan. Jadi dalam
hal ini visum et repertum merupakan kesaksian tertulis dalam proses peradilan.
Menurut pendapat Tjan Han Tjong, visum et repertum merupakan suatu hal yang
penting dalam pembuktian karena menggantikan sepenuhnya corpus delicti (tanda
bukti). Seperti diketahui dalam suatu perkara pidana yang menyangkut perusakan
tubuh dan kesehatan serta membinasakan nyawa manusia, maka tubuh si korban
merupakan corpus delicti.
2.4.

Pemeriksaan Forensik Pada Perkosaan dan Pencabulan


Pembuktian persetubuhan dilakukan dengan dua cara yaitu membuktikan adanya

penetrasi (penis) kedalam vagina dan atau anus/oral dan membuktikan adanya
ejakulasi atau adanya air mani didalam vagina/anus. Pembuktian ini memerlukan
waktu yang sangat singkat antara kejadian dengan pemeriksaan/pengambilan barang
bukti.3 Setiap pemeriksaan korban perkosaan untuk kepentingan pengadilan harus
berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Korban juga harus
diantar oleh polisi penyidik sehingga keutuhan dan originalitas barang bukti dapat
terjamin.
Secara umum tujuan pemeriksaan korban kekerasan seksual adalah untuk :
-

Melakukan identifikasi
Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan, dan waktu terjadinya, bila

mungkin;
Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan, termasuk tanda intoksikasi

narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA);


Menentukan pantas/tidaknya korban untuk dikawin, termasuk tingkat
perkembangan seksual; dan membantu identifikasi pelaku.

Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan korban kekerasan


seksual :
-

Lakukan pemeriksaan sedini mungkin setelah kejadian, jangan dibiarkan

menunggu terlalu lama.


Pada saat pemeriksaan, dokter harus didampingi perawat yang sama jenis

kelaminnya dengan korban (biasanya wanita) atau bidan.


Pemeriksaan harus dilakukan secara sistematis dan menyeluruh terhadap

seluruh bagian tubuh korban, tidak hanya terhadap daerah kelamin saja.
Catat dan dokumentasikan semua temuan, termasuk temuan negatif

Langkah-langkah pemeriksaan adalah sebagai berikut :2


1. Anamnesis
Pada korban kekerasan seksual, anamnesis harus dilakukan dengan bahasa awam
yang mudah dimengerti oleh korban.Anamnesis dapat dibagi dalam anamnesis umum
dan khusus. Pada anamnesis umum dapat ditanyakan :
-

Umur atau tanggal lahir,


Status pernikahan,
Riwayat paritas dan/atau abortus,
Riwayat haid (menarche, hari pertama haid terakhir, siklus haid),
Riwayat koitus (sudah pernah atau belum, riwayat koitus sebelum dan/atau
setelah kejadian kekerasan seksual, dengan siapa, penggunaan kondom atau

alat kontrasepsi lainnya),


Penggunaan obat-obatan (termasuk NAPZA),
Riwayat penyakit (sekarang dan dahulu), serta
Keluhan atau gejala yang dirasakan pada saat pemeriksaan.
Pada anamnesis khusus mencakup keterangan yang terkait kejadian kekerasan

seksual yang dilaporkan dan dapat menuntun pemeriksaan fisik, seperti:


What & How:
-

Jenis tindakan (pemerkosaan, persetubuhan, pencabulan, dan sebagainya),


Adanya kekerasan dan/atau ancaman kekerasan, serta jenisnya,
Adanya upaya perlawanan,
Apakah korban sadar atau tidak pada saat atau setelah kejadian,
Adanya pemberian minuman, makanan, atau obat oleh pelaku sebelum atau

setelah kejadian,
Adanya penetrasi dan sampai mana (parsial atau komplit),

Apakah ada nyeri di daerah kemaluan,


Apakah ada nyeri saat buang air kecil/besar,
Adanya perdarahan dari daerah kemaluan,
Adanya ejakulasi dan apakah terjadi di luar atau di dalam vagina, penggunaan
kondom, dan tindakan yang dilakukan korban setelah kejadian, misalnya
apakah korban sudah buang air, tindakan membasuh/douching, mandi, ganti
baju, dan sebagainya.

When:
-

Tanggal dan jam kejadian, bandingkan dengan tanggal dan jam melapor, dan
Apakah tindakan tersebut baru satu kali terjadi atau sudah berulang.

Where:
-

Tempat kejadian, dan


Jenis tempat kejadian (untuk mencari kemungkinan trace evidence dari
tempat kejadian yang melekat pada tubuh dan/atau pakaian korban).

Who:
- Apakah pelaku dikenal oleh korban atau tidak,
- Jumlah pelaku,
- Usia pelaku, dan
- Hubungan antara pelaku dengan korban
2. Pemeriksaan Fisik
Saat melakukan pemeriksaan fisik, gunakan prinsip top-to-toe. Artinya,
pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis dari ujung kepala sampai ke
ujung kaki. Pelaksanaan pemeriksaan fisik juga harus memperhatikan keadaan umum
korban. Apabila korban tidak sadar atau keadaan umumnya buruk, maka pemeriksaan
untuk pembuatan visum dapat ditunda dan dokter fokus untuk life-saving terlebih
dahulu.2
Pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan fisik umum dan khusus, pemeriksaan
umum meliputi :
-

Keadaan Umum :

keadaan emosional (tenang, sedih / gelisah)


Tanda vital
Periksa gigi-geligi (pertumbuhan gigi ke 7 & 8)
Pada persetubuhn oral, periksa lecet, bintik perdarahan /memar pada palatum,

Tingkat kesadaran, penampilan secara keseluruhan,

lakukan swab pada laring dan tonsil


9

Gambar 1. Tanda kemerahan, ptekie, dan ekimosi pada palatum6


Perkembangan seks sekunder (pertumbuhan mammae, rambut axilla dan

rambut pubis)
Jika pada baju ada bercak mani (kaku), bila mungkin pakaian diminta,

masukkan dalam amplop


Tanda-tanda intoksikasi NAPZA, serta status lokalis dari luka-luka yang
terdapat pada bagian tubuh selain daerah kemaluan.

Untuk mempermudah pencatatan luka-luka, dapat digunakan diagram tubuh


seperti pada gambar

10

Gambar 2 Diagram tubuh manusia untuk pencatatan luka2

Pemeriksaan fisik khusus bertujuan mencari bukti-bukti fisik yang terkait dengan
tindakan kekerasan seksual yang diakui korban, prosedurnya meliputi : 2,6
-

Posisi litotomi
Periksa daerah pubis (kemaluan bagian luar), yaitu adanya perlukaan pada

jaringan lunak atau bercak cairan mani;


Periksa luka-luka sekitar vulva, perineum dan paha (adanya perlukaan pada

jaringan lunak, bercak cairan mani)


Jika ada bercak, kerok dengan skalpel dan masukkan dalam amplop
Rambut pubis disisir, rambut yang lepas dimasukkan dalam amplop
Jika ada rambut pubis yang menggumpal, gunting dan masukkan dalam
amplop, cabut 3-10 lembar rambut dan masukkan dalam amplop lain

11

Labia mayora dan minora (bibir kemaluan besar dan kecil), apakah ada

perlukaan pada jaringan lunak atau bercak cairan mani;


Vestibulum dan fourchette posterior (pertemuan bibir kemaluan bagian

bawah), apakah ada perlukaan;


Hymen (selaput dara), catat bentuk, diameter ostium, elastisitas atau
ketebalan, adanya perlukaan seperti robekan, memar, lecet, atau hiperemi).
Apabila ditemukan robekan hymen, catat jumlah robekan, lokasi dan arah
robekan (sesuai arah pada jarum jam, dengan korban dalam posisi litotomi),
apakah robekan mencapai dasar (insersio) atau tidak, dan adanya perdarahan

atau tanda penyembuhan pada tepi robekan;


Swab daerah vestibulum, buat sediaan hapus

Gambar 3. Robekan Hymen6

Vagina (liang senggama), cari perlukaan dan adanya cairan atau lendir;
Serviks dan porsio (mulut leher rahim), cari tanda-tanda pernah melahirkan

dan adanya cairan atau lendir;


Uterus (rahim), periksa apakah ada tanda kehamilan;
Anus (lubang dubur) dan daerah perianal, apabila ada indikasi berdasarkan
anamnesis;

12

Gambar 4. Laserasi anal6

Mulut, apabila ada indikasi berdasarkan anamnesis,


Daerah-daerah erogen (leher, payudara, paha, dan lain-lain), untuk mencari

bercak mani atau air liur dari pelaku; serta


Tanda-tanda kehamilan pada payudara dan perut
Tanda kehilangan kesadaran (pemberian obat tidur / bius) needle marks
indikassi pemeriksaan darah dan urin

Kesulitan utama yang umumnya dihadapi oleh dokter pemeriksa adalah


pemeriksaan selaput dara. Bentuk dan karakteristik selaput dara sangat bervariasi. .
Pada jenis-jenis selaput dara tertentu, adanya lipatan-lipatan dapat menyerupai
robekan. Karena itu, pemeriksaan selaput dara dilakukan dengan traksi lateral dari
labia minora secara perlahan, yang diikuti dengan penelusuran tepi selaput dara
dengan lidi kapas yang kecil untuk membedakan lipatan dengan robekan.Pada
penelusuran tersebut, umumnya lipatan akan menghilang, sedangkan robekan tetap
tampak dengan tepi yang tajam.2
Penetrasi penis ke dalam vagina dapat mengakibatkan robekan selaput dara atau
bila dilakukan dengan kasar dapat merusak selaput lendir daerah vulva dan vagina
ataupun laserasi, terutama daerah posterior fourchette. Robekan selaput dara akan
bermakna jika masih baru, masih menunjukan adanya tanda kemerahan disekitar
robekan. Pada beberapa korban ada yang memiliki selaput dara yang elastis sehingga
tidak mudah robek. Pembuktian persetubuhan akan menghadapi kendala jika : korban

13

dengan selaput dara yang sebelumnya telah robek lama, korban diperiksa sudah lama,
korban yang memiliki selaput dara elastis, penetrasi yang tidak lengkap.3

Gambar 5 Beragam jenis selaput dara2

Saat melakukan pemeriksaan fisik, dokumentasi yang baik sangat penting.


Selain melakukan pencatatan dalam rekam medis, perlu dilakukan pemotretan buktibukti fisik yang ditemukan. Foto-foto dapat membantu dokter membuat visum et
repertum. Dengan pemotretan, korban juga tidak perlu diperiksa terlalu lama karena
foto-foto tersebut dapat membantu dokter mendeskripsi temuan secara detil setelah
pemeriksaan selesai.
3. Pemeriksaan Penunjang

14

Pada kasus kekerasan seksual, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang sesuai


indikasi untuk mencari bukti-bukti yang terdapat pada tubuh korban. Sampel untuk
pemeriksaan penunjang dapat diperoleh dari, antara lain:

Pakaian yang dipakai korban saat kejadian; diperiksa lapis demi lapis untuk
mencari adanya trace evidence yang mungkin berasal dari pelaku, seperti
darah dan bercak mani, atau dari tempat kejadian, misalnya bercak tanah atau
daun-daun kering;
Rambut pubis; yaitu dengan menggunting rambut pubis yang menggumpal

atau mengambil rambut pubis yang terlepas pada penyisiran;


Kerokan kuku; apabila korban melakukan perlawanan dengan mencakar
pelaku maka mungkin terdapat sel epitel atau darah pelaku di bawah kuku

korban;
Swab; dapat diambil dari bercak yang diduga bercak mani atau air liur dari
kulit sekitar vulva, vulva, vestibulum, vagina, forniks poste-rior, kulit bekas
gigitan atau ciuman, rongga mulut (pada seks oral), atau lipatan-lipatan anus

(pada sodomi), atau untuk pemeriksaan penyakit menular seksual;


Darah; sebagai sampel pembanding untuk identifi kasi dan untuk mencari

tanda-tanda intoksikasi NAPZA; dan


Urin; untuk mencari tanda kehamilan dan intoksikasi NAPZA.

Pembuktian persetubuhan yang lain adalah dengan memeriksa cairan mani di


dalam liang vagina korban. Dari pemeriksaan cairan mani akan diperiksa sel
spermatozoa dan cairan mani sendiri. 3
a. Menentukan cairan mani
Untuk menentukan adanya cairan mani dalam secret vagina perlu dideteksi
adanya zat-zat yang banyak terdapat dalam cairan mani, beberapa pemeriksaan yang
dapat dilakukan untuk membuktikan hal tersebut adalah :6
1. Reaksi Fosfatase Asam
Fosfatase asam adalah enzim yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat di dalam
cairan semen/mani dan didapatkan pada konsentrasi tertinggi di atas 400 kali dalam
mani dibandingkan yang mengalir dalam tubuh lain. Dengan menentukan secara

15

kuantitatif aktifitas fosfatase asam per 2 cm2 bercak, daapt ditentukan apakah bercak
tersebut mani atau bukan. Aktifitas 25 U.K.A per 1cc ekstrak yang diperoleh 1 cm2
bercak dianggap spesifik sebagai bercak mani
2. Reaksi Berberio
Prinsip reaksi ini adalah menentukan adanya spermin dalam semen. Spermin yang
terkandung pada cairan mani akan beraksi dengan larutan asam pikrat jenuh
membentuk kristal spermin pikrat.Bercak diekstraksi dengan sedikit aquades. Ekstrak
diletakkan pada kaca objek, biarkan mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen
diteteskan dengan pipet di bawah kaca penutup.
Interpretasi : hasil positif memperlihatkan adanya kristal spermin pikrat yang
kekuning-kuningan atau coklat berbentuk jarum dengan ujung tumpul.
3. Reaksi Florence
Dasar reaksi adalah untuk menemukan adanya kholin. Bila terdapat bercak mani,
tampak kristal kholin-peryodida berwarna coklat, berbentuk jarum dengan ujung
terbelah.
b. Pemeriksaan Spermatozoa
1. Tanpa pewarnaan / pemeriksaan langsung
Pemeriksaan ini berguna untuk melihat apakah terdapat spermatozoa yang
bergerak.

Pemeriksaan

motilitas

spermatozoa

ini

paling

bermakna

untuk

memperkirakan saat terjadinya persetubuhan. Umumnya disepakati bahwa dalam 2-3


jam setelah persetubuhan, masih dapat ditemukan spermatozoa yang bergerak dalam
vagina. Bila tidak ditemukan lagi, belum tentu dalam vagina tidak ada ejakulat.

16

Gambar 6. Sperma pada pewarnaan langsung6

2. Dengan pewarnaan (pulasan Malachite green 1 %)


Interpretasi : pada pengamatan di bawah mikroskop akan terlihat gambaran
sperma dengan kepala sperma tampak berwarna ungu menyala dan lehernya merah
muda, sedangkan ekornya berwarna hijau.

Gambar 7. Sperma dengan pewarnaan Malachite Green6

3. Pewarnaan Baecchi
Prinsip kerja nya yaitu asam fukhsin dan metilen biru merupakan zat warna dasar
dengan kromogen bermuatan positif. Asam nukleat pada kepala spermatozoa dan
komponen sel tertentu pada ekor membawa muatan negatif, maka akan berikatan
secara kuat dengan kromogen kationik tadi. Sehingga terjadi pewarnaan pada kepala
spermatozoa.

17

Interpretasi : Kepala spermatozoa berwarna merah, ekor merah muda, menempel


pada serabut benang
4. Pemeriksaan pria tersangka, meliputi :
- Pemeriksaan golongan darah
- Menentukan adanya sel epitel vagina pada glans penis, menggunakan larutan
-

lugol
Pemeriksaan sekret uretra
Dalam populasi 85% golongan sekretor yang dalam cairan tubuh (cairan
mani, keringat,liur) mengandung golongan darah. Jika bersetubuh dan

ejakulasi maka golongan darah ada pada tubuh korban


Dalam kepala sel sperma terdapat DNA inti (c-DNA) dan dalam leher sel
sperma

ada

DNA mitochondria

mengandung sel sperma,akan

(mt-DNA).

Ketika

ejakulasi

yang

meninggalkan jejak DNA pelaku. Dengan

pemeriksaan DNA akan diketahui siapa dan berapa orang pelaku.


Hal yang harus diperhatikan pada tahap ini adalah keutuhan rantai barang
bukti dari sampel yang diambil (chain of custody). Semua pengambilan, pengemasan,
dan pengiriman sampel

harus disertai dengan pembuatan berita acara sesuai

ketentuan yang berlaku. Hal ini lebih penting apabila sampel akan dikirim ke
laboratorium dan tidak diperiksa oleh dokter sendiri.3
2.5.

Tindak Lanjut 3
Setelah pemeriksaan forensik terhadap korban selesai, dilakukan tindak lanjut

baik dari aspek hukum maupun medis. Dari segi hukum, tindak lanjut pada umumnya
berupa pembuatan visum et repertum sesuai SPV dari penyidik polisi. Bagian-bagian
yang terkandung dalam visum et repertum terdiri dari kata-kata Pro Justisia, bagian
pendahuluan, bagian pemberitaan, kesimpulan, dan penutup. Apabila korban belum
melapor ke polisi sehingga belum ada SPV, hasil pemeriksaan dapat diminta oleh
korban secara tertulis. Hasil pemeriksaan tersebut dapat dituangkan dalam bentuk
surat keterangan medis. Secara umum, surat keterangan medis mengandung bagianbagian yang sama dengan visum et repertum, kecuali bagian Pro Justisia. Dalam
visum maupun surat keterangan medis, semua temuan dipaparkan dalam bahasa

18

Indonesia yang sederhana dan dapat dimengerti orang awam, hindari penggunaan
terminologi medis.
Seorang korban kekerasan seksual sering tidak hanya membutuhkan layanan
pemeriksaan untuk pembuatan visum et repertum, tapi juga tindak lanjut medis.
Tindak lanjut medis dapat mencakup penatalaksanaan psikiatrik dan penatalaksanaan
bidang obstetri-ginekologi. Tidak jarang seorang korban kekerasan seksual
mengalami trauma psikis sehingga membutuhkan terapi atau konseling psikiatrik.
Terapi tersebut dapat membantu korban mengatasi trauma psikis yang dialaminya
sehingga tidak berkepanjangan dan korban dapat melanjutkan hidupnya seoptimal
mungkin. Dalam bidang obstetri-ginekologi, korban kekerasan seksual mungkin
memerlukan tindakan pencegahan kehamilan serta pencegahan atau terapi penyakit
menular seksual. Apabila sudah terjadi kehamilan, korban mungkin membutuhkan
perawatan kehamilan atau terminasi kehamil-an sesuai ketentuan undang-undang.
Sangat penting bagi dokter untuk melakukan koordinasi dengan pihak-pihak
terkait. Koordinasi yang baik diperlukan antara dokter pemeriksa dengan dokter yang
memberikan tata laksana lanjutan agar korban mendapatkan perawatan yang
diperlukan. Selain itu, dokter juga harus menjalin kerjasama yang baik dengan pihak
polisi penyidik agar hasil pemeriksaan dokter dapat bermanfaat bagi pengungkapan
kasus.

DAFTAR PUSTAKA
1. Syaifuddin, M. Ardhian Syaifuddin , Yuli Budningsih. An Overview Of
Sexual Violance Victims Based On A Consensual Actat The Integrated Crisis

19

2.

3.
4.
5.

6.

Center Cipto Mangunkusumo Hospital April 2012 - March 2013. Indonesian


Journal of Legal and Forensic Sciences 2012; 2(2): 31-33
Meilia, Putri Dianita Ika. Prinsip Pemeriksaan dan Penatalaksanaan Korban
(P3K) Kekerasan Seksual. Cermin Dunia Kedokteran-196. 2012; 39(8); 579583
Susanti, Rika. Paradigma Baru Peran Dokter Dalam Pelayanan Kedokteran
Forensik. Majalah Kedokteran Andalas.2012; 36(2); 146-152
Syamsuddin, Rahman. Peranan Visum et Repertum di Pengadilan. AlRisalah. 2011; 11(1); 187-200
Caeti, Tory J. Sex Crime, Part 2 : Child MolestationLETN-164-0103.2009.
Diunduh dari http://www.twlk.com/law/tests/LETN1640103.PDF. Diakses
pada tanggal 29 September 2014
Nofiandi, Rifki. Pemeriksaan forensic pada perkosaan. Diunduh dari
http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 29 September 2014

Lampiran 1: form VeR kejahatan seksual


PRO JUSTITIA

Padang, ____________ 20

VISUM ET REPERTUM
No : ___________________________

20

Yang bertandatangan di bawah ini adalah _______________________, dokter pada


________________________________, berdasarkan surat permintaan visum et repertum
Kepala Kepolisian
Sektor
/
Resort_____________________________________________________________________
Nomor____________________tertanggal_________________________________________
______________________________,dengan ini menerangkan bahwa pada tanggal
______________________________________________________________pukul________
____________________________ bertempat di ____________________ telah melakukan
pemeriksaan atas korban yang menurut surat permintaan visum et repertum tersebut adalah :
Nama : ___________________________________________________
Tempat / tgl.lahir : ___________________________________________________
Alamat : ___________________________________________________
___________________________________________________
HASIL PEMERIKSAAN :
1. Korban datang dalam keadaan _________ dengan keadaan umum
______________
Penampilan umum / sikap ___________________ pakaian _____________________
2. Korban mengaku diperkosa / _______________ pada tanggal
__________________ pukul ________
Pada saat itu ia mengalami (rincian peristiwa):
3. Riwayat haid : normal / _______; riwayat perkembangan seksual : normal /
________
Persetubuhan terakhir tanggal : dengan / tanpa kondom
4. Pada tubuh korban ditemukan luka-luka sebagai berikut :
5. Pada pemeriksaan genitalia :
Bagian luar :
Selaput dara :
Bagian dalam :
KESIMPULAN
Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan sesungguhnya, berdasarkan keilmuan saya
yang sebaik-baiknya dan dengan mengingat sumpah jabatan, serta sesuai dengan UndangUndang No 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

Dokter pemeriksa

21