Anda di halaman 1dari 4

CS Weekend: Hipnoterapis, Yohanis Franz La Kahija

Ramu Teknik Hipnotis Dari Seluruh Dunia

Membaca kata Hipnoterapis, orang mungkin bisa menebak bahwa yang dimaksud adalah
ahli pengobatan yang menggunakan teknik hipnotis. Ya, tidak salah memang. Namun tak
banyak yang tahu bahwa hipnoterapis atau hipnotis terapi adalah asal muasal dari semua
cabang hipnotis.

Hipnosis atau hipnotis adalah keadaan di mana kesadaran kita menjadi terfokus, terkonsentrasi,
dan terserap ke objek tertentu, seperti benda (pendulum, pemandangan), gambar visual (film,
lukisan, foto), atau suara (sugesti). Ini terjadi di saat kita membuka diri secara psikis. Nah, dalam
keadaan itu, kita merasa "seolah-olah" kosong dan mengabaikan lingkungan sekitar kita.

Jika anda suka pada acara the Master dengan salah satu master hipnotis, Romi Rafael, maka
setidaknya anda sudah mengenal salah satu cabang hipnotis, yakni hipnotis panggung. Selain itu,
hipnotis banyak digunakan juga dalam identifikasi pelaku kriminal (hipnotis forensik), dan
penelitian (hipnotis eksperimen).

Namun dari semuanya, hipnotis terapi lah yang pertama kali muncul. Dulu, ketika obat bius
belum ditemukan. Orang yang akan dibedah harus dihipnotis terlebih dahulu agar tidak merasa
sakit. Tapi hipnotis ini tidak serta merta. Si pasien harus belajar dihipnotis dulu setidaknya
selama sebulan agar benar-benar tidak terasa ketika kulit dan dagingnya dibedah.

Dari sinilah istilah hipnoterapi muncul dan menjadi ilmu yang berkembang luas sejak 1900-an.
Termasuk masuk ke Indonesia sejak 1990-an meski tak banyak para ahli hipnoterapi atau
hipnoterapis yang benar-benar mumpuni.

Dari sedikit itu, nama Yohanis Franz La Kahija adalah salah satunya. Ia dikenal bukan saja
karena memiliki ijazah hipnoterapi langsung dari pusatnya di Amerika, yakni CHT (Certificate
Hipnotherapyst ) dan Master Hipnotherapyst (MH). Tapi, La Kahija juga memiliki teknik sendiri
yang berbeda, teknik yang merupakan gabungan dari seluruh dunia.

“Saya banyak baca buku hipnoterapis dari berbagai dunia, karena kebetulan saya menguasai
beberapa bahasa asing. Jadi teknik saya adalah pengembangan sendiri,” tutur staf pengajar pada
Universitas Diponegoro, Fakultas Psikologi tersebut.

Luar biasanya, pria yang menguasai Bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Perancis, Spanyol dan
Italia ini mempelajari hipnotis secara otodidak. Sejak kuliah di fak. Psikologi Undip, ia banyak
membaca buku tentang hipnotis. Dan pada semester VII, keahliannya sudah dipraktekkan untuk
mengobati teman-temannya yang mengalami sakit kepala, migraen, dan penyakit kecil lainnya.

Namun, saat pria kelahiran Malili (Sulawesi Selatan) 26 mei 1977 itu ia belum berani menyebut
teknik pengobatannya menggunakan hipnotis. Sebabnya, masyarakat kala itu masih menganggap
bahwa hipnotis sama dengan gendam yang merupakan produk klenik atau sihir. “Saya biasanya
bilang hanya akan membuatnya rileks, mereka tidak tahu kalau saya hipnotis, setelah tertidur
baru saya coba sembuhkan,” kenang pengajar matakuliah filsafat untuk psikologi, metodologi
penelitian kualitatif, psikologi dalam, dan psikoterapi ini.

Ketika lulus pada 2003, La Kahija langsung terbang ke berbagai Negara. Ia sempat menetap di
Jerman dan bekerja sebagai penerjemah berbagai bahasa ssembari memperdalam hipnoterapinya.
Namun secara umum, ia justru kecewa karena ilmu para pengajar pada program-program
hipnoterapi ternyata di bawahnya.

Diceritakan, ketika mengikuti program hipnoterapi di Amerika, salah satu staf pengajar justru
melakukan kesalahan hingga membuat pasien berkepribadian ganda. Si pasien terus berteriak-
teriak seperti orang kesurupan, sebelum akhirnya disembuhkan oleh Kahija.

“Karena kecewa itulah, gelar dari barat tidak pernah saya gunakan. Apalagi, ilmu hipnotis barat
tidak bisa digunakan untuk menghipnotis orang Indonesia. Karena hipnotis bagi saya adalah ilmu
berkomunikasi jadi kuncinya pada bahasa,” terang putra dari Kahija dan Theresia ini.

Saat ini, Kahija sedang menyelesaikan proses pengurusan dokumennya untuk mengambil gelar
master di Universitas of Liverpool, Inggris. Pihak universitas tertari dnegan disiplin ilmu Kahija
dan bersedia mendukung pendalaman ilmunya.

Tahun 2004, anak ketiga dari lima bersaudara itu ditarik menjadi dosen di almamternya sendiri.
Sejak itu, ia bergabung dengan Divisi Klinis Fakultas Psikologi Undip ia menerapkan
hipnoterapi dalam membantu baik mahasiswa maupun masyarakat.

Ruang prakteknya juga di kampus yang terletak di Tembalang itu. Ia buka praktek tiga hari
seminggu (Rabu,kamis, Jumat) sejak pukul 16-18.30 dan 19.30 sampai 21.00. setidaknya dalam
sehari ada dua hingga pasien yang sebelumnya membuat janji terlebih dahulu. Sedikit sekali?
Masalahnya dibutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menangani satu pasien. Sekitar 1-1,5
jam per pasien sehingga Kahija harus membatasi jumlah pasiennya.

Dijelaskannya, hipnoterapinya bisa menerapi banyak gangguan psikologis-organis, seperti


histeria, stres, fobia, gangguan kecemasan, depresi, perilaku merokok, sakit kepala dan migren,
gangguan makan, alkoholisme, anorgasmia, impotensi, peningkatan konsentrasi, dan
kepercayaan diri.

Selain itu juga bermanfaat untuk meningkatkan kreativitas, pengganti obat bius atau alat bantu
bagi prosedur medis, mengurangi kecemasan menghadapi persalinan, pemberdayan potensi diri,
regresi (perjalanan berbalik ke pengalaman masa lalu), pengontrolan berat badan, dan
pengembangan kehidupan spiritual.

Dalam hipnoterapi, Kahija pertama kali akan mewawancara pasiennya. Baik soal keluhan
penyakit maupun diri pasien hingga sedetil-detilnya. Ini perlu, agar terapis tidak salah dalam
mendiagnosa kejiwaan pasien dan dapat memberi sugesti yang tepat.

Kata-kata atau sugesti itulah yang mempengaruhi pasien agar tertidur. Kata-kata itu diucapkan
dalam ritme, intonasi dan alunan tertentu sehingga pasien terbantu untuk santai dan nyaman
ketika harus berhadapan dengan bawah-sadar. Dalam hipnoterapi, alam bawah- sadar itulah yang
diberdayakan.

Kahija mengatakan bahwa selain penyakit, hal-hal seperti motivasi diri dan kemampuan diri bisa
dibangkitkan melalui Hipnoterapi. Ia mencontohkan, pernah menghipnotis 500 orang atlet Jawa
tnegah yang akan berangkat ke PON Kaltim.

“ratusan orang se hall itu saya buat tertidur semua, lalu saya bicara dnegan alam bawah sadarnya
agar motivasi bertandingnya muncul,” katanya.

Dalam keadaan terhipnosis, seseorang tidak bisa sepenuhnya hilang kesadaran dan bisa
diperintah apa saja. Dia masih bisa bicara dan merasakan apa yang terjadi meski memejamkan
mata. Bahkan, dalam keadaan tertentu, bisa sadar atau bangun sendiri. Misalnya, jika diusurh
membuka baju dan telanjang bulat. Maka tubuh akan berontak dan membangunkannya.

“Nilai-nilai moral dan etika yang Anda miliki tetap bekerja dalam bawah-sadar dan selalu
melindungi Anda dari perbuatan tidak etis. Jika, moralitas Anda mengatakan bahwa telanjang di
depan umum itu tidak etis, maka Anda akan terjaga ketika diminta telanjang,” kata kolumnis
yang tulisannya banyak dimuat di berbagai media nasional itu.

Tapi mengapa Romi Rafael bisa membuat orang seolah-olah seperti robot? Kahija menyebut,
orang-orang seperti Romi lah yang membuat citra hipnotis buruk. Kesannya, Hipnotis bukan lagi
ilmiah tapi klenik. Padahal, Romi lebih banyak menggunakan trik untuk memboohongi penonton
TV. Menurutnya orang terhipnosis di layar kaca atau pertunjukan panggung, bukan pilihan acak.
Mereka sudah diincar. Dalam tayangan langsung, sang hipnotis memilih mana yang membuka
diri dan mana yang menutup diri untuk dihipnosis.

Jadi, orang yang berpartisipasi sudah menunjukkan kesediaan dihipnosis ketika ia diajak untuk
berpartisipasi. “Dalam tayangan tunda, orang yang dihipnosis sudah diberi perlakuan sebelum
kamera dihidupkan untuk menangkap gambar. Ini disebut anchoring. Dengan teknik ini, hipnosis
terkesan berjalan sangat cepat sehingga penonton tercengang. Perasaan tercengang dibutuhkan
penghipnotis untuk membuat suasana menjadi lebih hidup,” jelasnya.

Bahkan orang terhipnosis tidak akan lupa ketika ia bangun, seperti yang terjadi pada hipnotis ala
Romi Rafael. Pasien hipnotis akan mengingat semua yang terjadi selama dalam keadaan
terhipnosis. “Ketika Anda selesai menjalani satu sesi terapi, terapis biasanya mengajak Anda
berbagi pengalaman lewat wawancara. Anda akan mengingat semuanya dengan santai dan
nyaman. Anda bahkan bisa menulisnya kembali bila Anda ingin,” terang pria yang memiliki
ratusan teknik hipnotis ini.
Hipnoterapi juga bisa dilakukan sendiri, tentunya oleh orang yang ahli hipnoterapi. Menurut
Kahija, istilah teknisnya adalah hipnosis-diri (self-hypnosis). Sebab setiap hipnosis pada
dasarnya adalah hipnosis-diri. Pasienlah yang menghipnosis dirinya sendiri, bukan terapis.
Terapis hanyalah fasilitator.

Agar lebih banyak orang yang memahami Hipnoterapi, kahija pun menulsikan segala hak yang
diketahuinya dalam sebuah buku berjudul HIPNOTERAPI: Prinsip-prinsip Dasar Praktik
Psikoterapi (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta).

Namun meski buku itu sempat mencapai best seller pada penerbitannya pertama kali, Kahija
belum juga puas. Masih banyaknya orang yang menganggap Hipnotis sebagai klenik,
membuatnya gerah. Ia ingin mengajarkan Hipnoterapi pada banyak dokter dan ahli psikologi
atau psikoterapis. “Agar mereka bisa meneliti dan menjelaskan peristiwa dan proses hipnotis
secara ilmiah,” ujar pengelola situs www.lakahija.com itu.

Belajar hipnotis, menurut Kahija bisa belajar secara pribadi atau bersama orang lain dalam
kelompok. seorang pemula akan dibimbing langkah demi langkah. Memahami dunia bawah-
sadar yang sangat luas itu butuh pengetahuan yang dalam. Ada beberapa pemikiran psikologis
yang perlu diperkenalkan terlebih dahulu. Tanpa dasar ini, terapi kurang memiliki dasar yang
kokoh.

Dengan keinginan untuk memahami diri sendiri dan membantu orang lain, Kahija yakin semua
orang bisa memahami hipnosis dan menggunakannya untuk membantu orang lain. “Saya kerap
mengatakan, "Mencintai orang lain butuh pengetahuan dan pengetahuan adalah alat untuk
mencintai orang lain",” katanya.(antonsudibyo)