Anda di halaman 1dari 3

R.M.

Tirto Adhi Soerjo

Sabtu, 11 November 2006M


19 Syawwal 1427H

Memperingati hari Pahlawan 10 November lalu, Presiden menganugerahkan 8 Pahlawan


Nasional kepada 9 tokoh sejarah dari berbagai daerah. Salah satu gerakan perjuangan
kemerdekaan adalah penerbitan koran pribumi di awal abad ke-20. R.M. Tirto Adhi
Soerjo (TAS) diangkat menjadi Pahlawan Nasional karena aktivitasnya sebagai pelopor
pers nasional pribumi pertama di tahun 1907, di Bandung. Anugerah ini diusulkan oleh
warga Jawa Barat.

Alm. R.M. Tirto Adhi Soerjo (1875 – 1918)


R.M. Tirto Adhi Soerjo melakukan perjuangan melalui surat kabar yang dipimpinnya,
Soenda Berita, pers pertama yang terbit di Cianjur. Beliau adalah pioner pers pribumi.
Melalui surat kabar Medan Prijaji, pemikiran beliau menjadi cikal bakal nasionalisme
dengan memperkenalkan istilah Anak Hindia. Beliau juga menyadarkan masyarakat
Indonesia tentang hakekat penjajahan yang sangat merugikan bangsa dan berusaha
melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dilakukan pemerintah kolonial.
Mengingat jasanya beliau dinyatakan sebagai Perintis Pers Indonesia tahun 1973 oleh
Dewan Pers RI. Atas jasa-jasanya itu pula, pemerintah RI menganugerahkan gelar
Pahlawan Nasional dan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putra Adipradana.

TAHUN 2006 Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PPKK) Lembaga


Penelitian Universitas Padjadjaran (Lemlit Unpad) mempelajari tiga calon pahlawan
nasional dari Jawa Barat yaitu R. Soepriadinata, R.M. Tirto Adhi Soerjo, dan K.H. Noer
Ali.

“TAS pelopor pers nasional. Dia mendirikan surat kabar Medan Priyayi pada 1 Januari
1907. Melalui surat kabar tersebut, dia berkiprah di Jabar hingga akhir hayatnya. Bahkan
makamnya pun berada di Bogor.” [Nina H. Lubis]

Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora tahun 1880. TAS yang tak
menyelesaikan sekolahnya di STOVIA Batavia pindah ke Bandung dan menikah. Di
Bandung TAS menerbitkan surat kabar Soenda Berita (1903-1905) dan Medan Prijaji
(1907) dan Putri Hindia (1908). Sebelum menerbitkan “Medan Prijaji”, Januari 1904
TAS mendirikan dulu badan hukum N.V. Javaansche Boekhandel en Drukkerij en handel
in schrijfbehoeften Medan Prijaji. Medan Prijaji beralamat di jalan Naripan Bandung
yaitu di Gedung Kebudayaan (sekarang Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan-YPK).
Medan Prijaji dikenal sebagai surat kabar nasional pertama karena menggunakan bahasa
Melayu (bahasa Indonesia), dan seluruh pekerja mulai dari pengasuhnya, percetakan,
penerbitan dan wartawannya adalah pribumi Indonesia asli. Selain di bidang pers, TAS
juga aktif dalam pergerakan nasional, ia mendirikan Sarikat Dagang Islam di Jakarta
yang kelak berubah menjadi Sarekat Islam bersama H.O.S. Tjokroaminoto, .

Pada tahun 1909, TAS membongkar skandal yang dilakukan Aspiran Kontrolir
Purworejo, A. Simon. Delik pers pun terjadi, TAS dituduh menghina pejabat Belanda,
terkena Drukpersreglement 1856 (ditambah Undang-undang pers tahun 1906). Meskipun
TAS memiliki forum privilegiatum (sebagai ningrat, keturunan Bupati Bojonegoro) ia
dibuang ke Teluk Betung, Lampung, selama dua bulan.

Pada pertengahan kedua tahun 1910, Medan Prijaji diubah menjadi harian ditambah edisi
Mingguan, dan dicetak di percetakan Nix yang beralamat di Jalan Naripan No 1
Bandung. Inilah harian pertama yang benar-benar milik pribumi. Masa kejayaan Medan
Prijaji antara 1909-1911 dengan tiras sebanyak 2000 eksemplar.

Pemberitaan-pemberitaan harian Medan Prijaji sering dianggap menyinggung


pemerintahan Kolonial Hindia Belanda saat itu. Di tahun 1912 Medan Prijaji terkena
delik pers yang dianggap menghina Residen Ravenswaai dan Residen Boissevain yang
dituduh menghalangi putera R. Adipati Djodjodiningrat (suami R.A. Kartini)
menggantikan ayahnya. TAS pun dijatuhi pembuangan ke pulau Bacan, wilayah
Halmahera selama 6 bulan, namun baru diberangkatkan setahun kemudian karena
masalah perekonomian penerbitan Medan Prijaji dengan para krediturnya.

Sekembali dari Ambon, TAS tinggal di Hotel Medan Prijaji (ketika ia sedang di Ambon
namanya diubah menjadi Hotel Samirono oleh Goenawan). Antara tahun 1914-1918,
TAS sakit-sakitan dan akhirnya meninggal pada tanggal 7 Desember 1918. Mula-mula ia
dimakamkan di Mangga Dua Jakarta kemudian dipindahkan ke Bogor pada tahun 1973.
Di nisannya tertulis, Perintis Kemerdekaan; Perintis Pers Indonesia, Layaklah ia disebut
sebagai Bapak Pers Nasional.

Kisah perjuangan TAS diabadikan oleh Pramoedya Ananta Toer (PAT) selepas keluarnya
dari pembuangan pulau Buru awal tahun 1980-an. Ditulis dengan nama Minke dalam
buku Tetralogi Buru, empat buku tebal yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua
Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Selain Tetralogi PAT pun menulis
kekagumannya atas TAS dalam buku Sang Pemula. Entah alasan pemerintah saat itu apa
sehingga karya Tetralogi PAT dilarang terbit dan beredar. Sejak reformasi bergulir buku-
buku PAT banyak dicetak ulang, bahkan hendak diangkat ke film layar lebar.

Karya PAT tentang Minke sebagai Tirto Adhi Surjo ini sudah banyak diterjemahkan di
luar negeri, hingga 33 bahasa, diakui internasional di berbagai negara sebagai sebuah
karya sejarah yang apik. Selain berlatar belakang sejarah yang tentunya lebih menarik
sebagai referensi pelajaran sejarah di sekolah, PAT menggambarkan manusia Indonesia
dengan keadaan feodal dan sistem kolonialnya. Tak hanya kronologi era Kebangkitan
Nasional Indonesia dipaparkan lebih membumi dengan bahasa yang sederhana, PAT juga
menggambarkan kisah cinta seorang manusia yang sederhana, tidak muluk-muluk, saat
Minke bertemu dengan Annelies, sang Bunga Akhir Abad. Kabarnya Garin Nugroho
akan menyutradai dan tokoh Annelies Melemma akan diperankan oleh Mariana Renata.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.


“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
[Dialog di dalam buku Bumi Manusia]