Anda di halaman 1dari 2

Teks dan Perjanjian Primordial Manusia

Januari 27, 2007

Oleh : Wulan
Artikel ini hasil Workshop Pemikir Muda Islam di Yayasan Paramadina.
Manusia pada awal penciptaan telah melakukan perjanjian primordial dengan Tuhan bahwa tidak ada
tuhan apapun selain Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki kemutlakan dan kemahakuasaan. Melalui
perjanjian primordial ini setiap diri manusia berada dalam kesaksian mengenai suatu wujud yang
mengatur segala tatanan sebab dan akibat, yang menjadi Tuhan bagi setiap manusia, hingga jiwa
manusia berada dalam ketundukan, ketaatan serta terus menerus menyembah dan mencintai Sang
Wujud kekal. Hasrat untuk tunduk dan taat ini menjadi naluri asasi dalam jiwa manusia.
Dari awal penciptaan tersebut manusia dianugerahi cukup ketajaman naluri untuk mengetahui mana
yang baik dan mana yang buruk melalui logika dan pemikiran yang dengannya menjadi istimewa dari
segi penciptaan begitupun manusia memiliki hasrat religius yang tak dimiliki makhluk manapun. Akan
tetapi Tuhan memahami kelemahan-kelemahan manusia akan ketidak mampuannya untuk menyalurkan
hasrat mendasarnya menyembah Tuhan, dalam perjalanan hidupnya manusia bisa melupakan perjanjian
primordial yang telah tertanam.
Tuhan dengan sifat bercakap-cakapnya yang kekal dan tak terbatas ruang waktu ( Al
Mutakallim)memberikan jalan kepada manusia untuk mengurangi kelemahan-kelemahannya itu berupa
bimbingan kepada jiwa-jiwa manusia yang memiliki keinginan besar untuk senantiasa mencari jalan
menyalurkan naluri penyembahan, melalui wahyu-wahyu yang diturunkan kepada nabi-nabi sebagai
penyampai sekaligus teladan untuk diikuti. Wahyu-wahyu ini dalam perkembangannya kemudian
menjadi teks-teks suci.
Wahyu yang berupa teks diturunkan secara bertahap sesuai dengan tingkat perkembangan peradaban,
tatanan sosial maupun tingkat evolusi intelektual manusia pada tempat dan zamannya. Mulai dari Nabi
Adam hingga Nabi Muhammad, menunjukan ciri khas teks yang terus dinamis. Teks Al Quran sendiri
menawarkan keberadaan teksnya lebih lengkap karena menampung teks-teks suci yang ada
sebelumnya.
Akan tetapi keberadaan teks Al Quran “yang lebih lengkap” pada masa awal perkembangan Islam, tetap
tidak melupakan kedinamisan Tuhan (Al Hadi / Maha Pemberi Petunjuk) dalam membimbing umat-Nya
mengatasi kelemahan-kelemahan. Salah satunya kelemahan dalam menginterpretasikan makna dari
teks tersebut. Hingga diperlukan teladan dan contoh nyata dari hamba yang Dia kehendaki (Rasulullah)
yang menjelma menjadi teks lain, yakni hadits. Hal ini menunjukan pada masa permulaan Islam pun,
manusia tak luput dari kelemahan memahami makna Al Quran untuk proses pengimplementasian dalam
kehidupan sehari-hari.
Hasil dari ketepatan interpretasi teks pada masa permulaan tersebut dibuktikan dengan kemajuan
peradaban yang terbelakang (jahiliyah) menjadi peradaban maju yang ditandai dengan berkembangnya
ilmu-ilmu sains serta ilmu-ilmu lain yang merupakan pembebasan dari keterbelakangan penggunakan
akal. Tentunya interpretasi teks masa itu dengan sudut pandang yang sama pada waktu sekarang akan
menjadi timpang karena perbedaan situasi dan kondisi, baik politik, budaya, perkembangan
intelektualitas, pengetahuan, dsb.
Meluruhkan Penguncian Teks
Sejarah panjang munculnya teks-teks suci, yang tak lepas dari sifat Al Hadi (Maha Pemberi Petunjuk)
dan Al Mutakallim (Maha Berbicara) Tuhan yang dinamis dalam memberikan petunjuk kepada umat-
Nya, namun di era modern seperti saat ini manusia cenderung memposisikan diri pada penghambaan
terhadap teks suci (bibliolatri) bukan pada essensinya. Keberadaan teks telah menggeser perjanjian
primordial manusia untuk menyembah hanya Tuhan. Pemahaman terhadap teks
(interpretasi/penafsiran) cenderung literal, ortodoktif, dogmatis dan sebagainya.
Meminjam istilah M. Guntur Romli (dalam artikelnya “Memaknai Kembali Jihad”), ada “penguncian”
interpretasi tekstual dengan melupakan konteksnya yang sesuai dengan dinamika sosial. Munculnya
gejala fundamentalisme pun disebabkan penafsiran yang literal. Asumsi penafsiran seperti ini telah
melepaskan tafsiran kontekstual yang telah dilakukan Tuhan. Padahal Tuhan sendiri mengatakan akan
membangkitkan pembaharu (mujaddid) untuk tiap-tiap 1000 tahun, kedatangan pembaharu ini
membawa paradigma baru penafsiran teks dan mendobrak “penguncian” teks di zamannya. Termasuk
salah satunya, fungsi kedatangan mujaddid adalah untuk menjadi penafsir pesan teks Al Quran yang
terilhami dan pembawa pesan lahirnya kembali serta pembaharuan atas satu agama yang hakiki.
Mau tak mau, munculnya mujaddid di tiap-tiap zaman mempengaruhi pemikiran manusia secara
universal terhadap teks. Kadangkala nubuatan-nubuatan dan penafsiran terhadap teks dianggap tidak
lazim dengan mainstream. Milsanya seperti yang dibawa Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hz. Mirza Ghulam
Ahmad, tentang pendakwaannya sebagai nabi atau penafsirannya mengenai jihad dan masalah-masalah
kontemporer.
Interpretasi Ulang Teks
Reinterpretasi teks jelas diperlukan, perubahan dinamika sosial di suatu zaman dengan zaman lain
tentulah tidak bisa disamakan. Apalagi interpretasi yang hanya mengacu pada satu agama saja, dalam
hal ini Islam. Padahal dunia telah begitu universal, batas-batas lokal kian bias. Dunia telah mengarah
dan menjadi Desa Global. Manusia tak bisa melarikan diri dari kenyataan untuk berinteraksi dengan
pemahaman-pemahaman baru (baik itu budaya, kepercayaan, ilmu pengetahuan, dsb) yang bisa saja
lain dari pemahaman selama ini. Dan keberadaan itu harus tetap disikapi tanpa harus melepaskan
kemuliaan sebagai makhluk yang memiliki akal dan pemikiran, juga eksistensi manusia lainnya.
Perjanjian primordial manusia dengan Tuhan secara asasi bisa dijadikan titik temu manusia-manusia
secara lebih global. Fitrah manusia yang mencintai kebenaran, ketundukan dan ketaatan pada Tuhan,
terangkum dalam makna “islam” (sikap pasrah total kepada Pencipta). Atau dengan kata lain, Allah
telah menciptakan manusia dalam keadaan “islam” serta telah menciptakannya untuk Islam.
Mengambil penegasan Cak Nur maupun Fathi Osman, Islam adalah agama alam semesta. Itulah
mengapa agama Islam pun menamakan diri agama fitrah, karena ajaran-ajarannya yang tidak
bertentangan dengan sifat dasar manusia (naluri).
Bila penafsiran teks mengacu pada fitrah manusia (al islam) tentunya dapat segera mewujudkan
eksistensi islam sebagai pembawa rahmat (rahmatan lil alamin). Tak perlu lagi risau dengan sifat
sektarian, rasial maupun fundamentalisme yang identik dengan teror dan kekerasan, sebab penafsiran
teks lebih pada pemuliaan sifat dasar manusia yang tunduk dan patuh pada Penciptanya.
Al Quran telah mengalami reinterpretasi berulang-ulang, seiring dengan munculnya pembaharu-
pembaharu di tiap-tiap abad yang membawa pencerahan dari Tuhan berupa kasyaf/wahyu mengenai
makna teks yang terkadang bersifat “mendobrak” habit lama. Disinilah sifat Tuhan, Maha Pemberi
Petunjuk dan sifat kekal Tuhan untuk senantiasa bercakap-cakap dengan umatnya sampai kapanpun (Al
Mutakallim) berperan. Meskipun manusia mampu menggunakan logika sampai taraf maksimal, akan
tetapi kekuatan rasionalitas saja tanpa sentuhan Illahi tidaklah sempurna, bagaimanapun manusia
memiliki keterbatasan-keterbatasan. Oleh karena itu hanya umat yang Dia kehendaki saja yang mampu
menguraikan teks suci dengan interpretasi baru. Akhirnya bagaikan cahaya mentari yang menerangi
kegelapan, reinterpretasi ini menjadi cahaya di kepala-kepala manusia terhadap berbagai hal, seolah
ilmu-ilmu baru ditemukan. ***