Anda di halaman 1dari 3

ENGINEERING ETHICS

Engineer, atau insinyur, adalah sebuah profesi. Sebuah profesi bukan


sebuah pekerjaan biasa, karena ia mensyaratkan paling tidak 3 hal.
Pertama, pendidikan formal yang cukup, setidaknya setara sarjana.
Kedua, mensyaratkan adanya pengalaman yang penuh tanggungjawab di
bidangnya. Ketiga, adanya organisasi profesi yang mengembangkan mutu
layanan jasa profesi tersebut, melalui pendidikan dan pelatihan yang
teratur. Yang keempat, adanya kode etik profesi yang perlu diindahkan
dalam praktek professional. Jika etika berbicara mengenai prinsip-prinsip
moral, maka Kode etik insinyur memberi panduan tentang hal-hal yang
sebaiknya dan tidak sebaiknya dilakukan yang tidak bisa diatur oleh
regulasi, namun akan menentukan kualiti layanan jasa keinsinyuran.
Tugas utama para insinyur adalah mentransformasi bahan-bahan baku
menjadi produk dan jasa yang memiliki manfaat baru (nilai tambah/valueadded). Bijih besi diproses menjadi plat-plat baja, selanjutnya plat baja
diubah menjadi kapal melalui serangkaian proses. Pasir, kapur, batu dan
semen serta tulangan besi diubah menjadi pencakar langit dan jembatan.
Dalam menjalankan tugas profesionalnya, salah satu etika insinyur yang
terpenting adalah integritas/kejujuran. Seorang insinyur tidak boleh
memanipulasi data, dan perhitungan, apalagi untuk sekedar memuaskan
pemberi proyek, namun kemudian membahayakan kepentingan umum.
Oleh karena itu, mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan
pemilik/pemberi proyek adalah salah satu etika insinyur yang terpenting.
Para insinyur juga didorong untuk senantiasa belajar terus menerus
meningkatkan kompetensinya, seiring dengan perkembangan IPTEK,
melalui keikutsertaan dalam seminar, lokakarya, dan pelatihan-pelatihan,
bahkan pendidikan lanjutan. Para insinyur juga diminta untuk senantiasa
melakukan inovasi dalam berkarya sehingga meningkatkan nilai
tambah/manfaat bagi masyarakat.
Para insyur bertanggungjawab atas karya keinsinyurannya. Salah satu
tanggungjawab profesionalnya yang terpenting adalah
keselamatan.
Artinya, setiap insinyur harus memastikan bahwa karya-karyanya aman
untuk dioperasikan, tidak membahayakan bagi para pemakainya. Oleh
karena itu, bagi para insinyur berlaku prinsip Safety first.
Dengan isu pemanasan global dan perubahan iklim saat ini, tanggungjawb
professional insinyur yang penting saat ini adalah untuk melestarikan
lingkungan hidup di mana karya-karyanya dipakai. Ini berarti, dia peduli

pada karya yang hemat energy, menghasilkan sampah/emisi yang


minimal, dan diproduksi dengan proses dan bahan yang ramahlingkungan.
Tanggungjawab professional dan etika insinyur perlu dibiasakan sejak
awal melalui proses belajar yang komprehensif. Oleh karena itu, para
calon insyur perlu mengembangkan budaya belajar yang sehat dan
mendukung tanggungjawab professional dan etika insinyurnya. Mahasiswa
perlu mengembangkan paling tidak enam kebiasaan berikut.
Kebiasaan belajar yang pertama adalah membangun konsep diri yang
jelas dengan mengambil tanggungjawab penuh atas hasil-hasil belajarnya.
Kebiasaan mencontek, mbacem, dan copy and paste pekerjaan orang lain
adalah kebiasaan-kebiasaan yang merusak profesionalisme, Salah satu
sikap
bertanggungjawab
adalah
sikap
proaktif,
tidak
menyerakkmenyalahkan nasibnya pada lingkungan dan sistem, namun
berusaha mengambil tanggungjawab. Nilah yang lazim disebut manjing
in sajroning kahanan.
Jika belajar adalah sebuah proses memaknai pengalaman, maka
kebiasaan yang kedua adalah belajar terus menerus melalui siklus
mengalami-membaca-menulis. Tanpa pengalaman, kegiatan membaca
dan menulis tidak memiliki bobot dan konteks yang memadai. Pembelajar
adalah manusia yang senang mengamati setiap peristiwa, bahkan
pembelajar bersedia melibatkan diri dalam peristiwa-peristiwa penting.
Para calon insinyur perlu memupuk pengalaman, dan memiliki budaya
membaca dan menulis yang kuat. Tanpa ini, sulit diharapkan kelahiran
karya-karya keinsinyuran yang cemerlang. Membaca merupakan cara
menambang pengetahuan baru, sementara menulis merupakan cara
menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru, seringkali setelah
melakukan penelitian atau praktek keinsinyuran. Membaca bahan-bahan
kuliah sebelum kuliah dilaksanakan akan membantu meningkatkan mutu
perkuliahan jika mahasiswa lebih siap untuk bertanya.
Kebiasaan belajar ketiga yang penting adalah orientasi pada tujuan. Kuliah
bisa dipahami sebagai sebuah proyek pribadi. Dia menetapkan tujuan
belajar terlebih dahulu, kemudian menentukan proses yang diperlukan
untuk mencapai tujuan tersebut. Para calon insinyur tidak mudah ikutikutan dan latah, karena ia akan mempertanyakan tujuan dari setiap
kegiatan yang akan dia akan ikuti.
Kebiasaan belajar yang keempat adalah sadar-waktu. Salah satu wujud
sikap sadar waktu ini adalah tahu prioritas (Putting first thing first). Para
insinyur merupakan manusia yang berorientasi efisiensi dan produktifitas,
sehingga disiplin yang terpenting bagi para insinyur adalah disiplin waktu.

Banyaknya kasus mahasiswa ITS yang lulus tidak tepat waktu (60%)
menunjukkan kemampuan mengelola waktu yang buruk.
Kebiasaan yang kelima adalah kebiasaan belajar dalam tim melalui
cooperative learning, Para insinyur dituntut untuk mampu bekerja dalam
sebuah tim multi/lintas disiplin, bahkan memberi kontribusi bagi kemajuan
Tim. Bekerja dalam tim bukan cara untuk menolak bertanggungjawab.
Oleh karena itu, setiap mahasiswa perlu tahu kapasitasnya sendiri, dan
bersedia menghargai kontribusi dan pendapat anggota Tim lainnya.
Kebiasaan keenam, sebagai individu yang belajar mahasiswa perlu
berlatih untuk
mendengarkan dengan penuh empati. Kemampuan
mendengar yang baik akan meningkatkan efektifitas tatap muka
perkuliahan. Kemampuan mendengar ini akan membantu mahasiswa
untuk hadir secara intelektual dan emosional dalam perkuliahan.

REFERENCES
1. Covey, Stephen. The Seven Habits of Highly Effective People.
2. Pedoman Kode Etik Insinyur, Persatuan Insinyur Indonesia (PII)
3. Rosyid, D.M, Sukses Kuliah di Perguruan Tinggi : Siapa Takut ?. Bina
Ilmu, 2008
4. Rendra,
WS
Zaman
Kalabendu
dan
Kalatida,
Pidato
Penganugerahan Gelar DR. HC oleh FIB UGM, 2008