Anda di halaman 1dari 10

Roseola Infantum Pada Anak Balita

Pendahuluan
Penyakit merupakan suatu hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Selama kita
hidup tentunya pernah mengalami terserang oleh suatu penyakit, apakah itu penyakit yang
ringan atau yang berat. Penyakit bisa dialami oleh semua kalangan dan semua umur salah
satunya pada anak-anak yaitu

bayi dan balita. Salah satu penyakit yang sering atau

kebanyakan yang di alami oleh anak-anak adalah demam dan timbul ruam-ruam merah pada
kulit. Ruam merah ini juga banyak jenis-jenisnya, seperti ruam pada penyakit campak, cacar
air dan masih banyak jenis yang lainnya lagi. Penulisan makalah ini bertujuan untuk
mengetahui penyakit yang bergejala ruam merah pada kulit, cara pengobatan dan cara
pencegahannya pada skenario yang saya dapat. Metode yang digunakan termasuk metode
kepustakaan dimana buku-buku tersebut didapat dari perpustakaan. Buku-buku tersebut
berhubungan dengan gejala-gejala yang ada pada skenario yang saya dapat.
Pembahasan
Di dalam proses penelusuran suatu penyakit, kita harus mempunyai pengetahuan
mengenai keluhan-keluhan yang dialami pasien serta langkah-langkah dalam mendiagnosa
suatu penyakit.
A. Anamnesis
Anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan
caramelakukan serangkaian wawancara dengan pasien atau keluarga pasien atau dalam
keadaantertentu dengan penolong pasien. Berbeda dengan wawancara biasa, anamnesis
dilakukandengan cara yang khas, berdasarkan pengetahuan tentang penyakit dan dasardasar pengetahuan yang ada di balik terjadinya suatu penyakit serta bertolak dari masalah
yangdikeluhkan oleh pasien. Berdasarkan anamnesis yang baik dokter akan menentukan
beberapahal mengenai hal-hal berikut.Dalam proses anamnesa dilakukan komunikasi
dengan pasien yang berkaitan dengan kondisi kesehatannya. Misalnya sesuai dengan
skenario yang saya dapat, maka kita menanyakan kepada pasien apa keluhannya, sejak
kapan, bagaimana pola demamnya, apakah ada penyakit penyerta, dan asal penderita
serta riwayat timbulnya ruam pada tubuh Pada skenario, kita dapatkan bahwa pasien
mengeluh demam tinggi sejak 4 hari yang lalu. Pola demam pada pasien, demamnya
1

tinggi lalu turun saat ruam muncul dan gejala penyertanya batuk, pilek dan terdapa
macula eritematous di seluruh tubuh, terutama wajah, leher, punggung dan ektremitas
atas.

B. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan hal-hal sebagai berikut. Tanda-tanda vital
didapatkan suhu badan pasien tinggi, di seluruh tubuh, terutama wajah, leher,
punggung dan ektremitas atas terdapat macula eritematous ruam-ruam merah pada
tubuh, ruam-ruam ini merah dan tidak menonjol. Pada pemeriksaan fisik didapat
anak tersebut tampak sakit ringan dengan TTV normal.
2. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang dengan cara pemeriksaan darah standar tidak akan
menunjukkan perubahan yang bermakna. Pemeriksaan pasti adalah dengan
pemeriksaan serologi, dimana kita memeriksa antibodi IgM terhadap HHV-6.
Antibodi ini akan terdeteksi pada hari 5-7 setelah infeksi primer.1 Pemeriksaan
serologi cukup mahal sehingga jarang dilakukan. Dokter lebih sering menegakkan
diagnosis dengan melihat gejala klinis. Pemeriksaan laboratorium pada roseola,
selama beberapa hari pertama demam, angka sel darah putih rata-rata 8.000/mm3,
dengan kenaikan neutrofil pada demam hari 3-4, angka sel darah putih turun
sampai 6.000/mm3, kadang-kadang dengan neutropenia absolut dan limfositosis
yang dapat setinggi 90%. Kadang-kadang jumlah besar monosit ada. Cairan
serebrospinal biasanya normal, walaupun DNA HHV-6 mungkin terdeteksi
dengan reaksi polimerase (RRP) pada cairan serebrospinal dari beberapa bayi
yang jarang dengan ensefalopati yang diperantarai HHV-6. Penderita ini dapat
juga mempunyai pleositosis cairan serebrospinal ringan.

C. Diagnosis
1. Differential Diagnosis
Dari anamnesa dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan, pasien didiagnosa
menderita penyakit roseola infantum.1 Tetapi, ada juga diagnosa banding atau
penyakit lain yang mempunyai gejala hampir sama, seperti rubelladan morbilli.
a. Roseolla infantum
2

Roseola Infantum adalah suatu penyakit virus menular pada bayi atau anakanak yang sangat muda, yang menyebabkan ruam dan demam tinggi. Roseola
biasanya menyerang anak yang berumur 6 bulan 3 tahun. Penyebabnya adalah
virus herpes tipe 6 dan 7. Virus disebarkan melalui percikan ludah penderita.
Masa inkubasi (masa dari mulai terinfeksi sampai timbulnya gejala) adalah sekitar
5-15 hari. Biasanya penyakit ini berlangsung selama 1 minggu. Gejalanya
demam timbul secara tiba-tiba, mencapai 39,4-40,6 Celsius dan berlangsung
selama 3-5 hari. Meskipun demam tinggi, tetapi anak tetap sadar dan aktif.
Pada saat suhu tubuh mulai tinggi, 5-10% penderita mengalami kejang demam
(kejang akibat demam tinggi).
Bisa terjadi pembengkakan kelenjar getah bening di belakang kepala, leher
sebelah samping dan di belakang telinga. Limpa juga agak membesar. Pada hari
keempat, demam biasanya mulai turun. Sekitar 30% anak memiliki ruam
(kemerahan di kulit), yang mendatar maupun menonjol, terutama di dada dan
perut dan kadang menyebar ke wajah, lengan dan tungkai. Ruam ini tidak
menimbulkan rasa gatal dan berlangsung selama beberapa jam sampai 2 hari.
b. Rubella
Rubella (atau biasa disebut campak jerman) adalah penyakit yang disebabkan
oleh virus. Penderita penyakit rubella kebanyakan anak-anak usia dini, sedangkan
pada usia lanjut relatif jarang ditemukan.1 Bahkan, banyak orang telah terkena
rubella dalam bentuk ringan tidak pernah didiagnosis, hal ini disebut sebagai
infeksi subklinis. Vaksinasi rubella kini memberikan dampak yang cukup baik
karena efektif menurunkan angka penderita terutama bagi anak-anak. Masa
inkubasi virus ini diawali dengan gejala flu ringan hingga muncul bintik-bintik
merah pada kulit.[1]Masa inkubasi dapat terjadi dalam waktu 7-20 hari.
Rubella menyebar melalui tetes mikroskopis dari nafas orang yang terinfeksi
melalui udara, tetesan membawa virus mencapai mulut, tenggorokan dan hidung.
Tanda-tanda yang akan timbul bagi penyakit rubella adalah adanya ruam sebagai
tanda khas. Hal ini biasanya dimulai sekitar telinga menyebar di seluruh tubuh
dalam bintik merah muda kecil. Perubahan ruam hampir dari jam ke jam, dan
akan menghilang lagi setelah sekitar dua sampai tiga hari tanpa pengobatan.

c. Morbilli

Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan
gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam,
scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi. Morbili adalah penyakit infeksi virus
akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium kataral, stadium
erupsi, dan stadium konvalesensi. Penularan terjadi secara droplet dan kontak
langsung dengan pasien. Nama lain penyakit ini adalah campak, measles, atau
rubeola. Campak yang disebut juga dengan measles atau rubeola merupakan suatu
penyakit infeksi akut yang sangat menular, disebabkan oleh paramixovirus yang
pada umumnya menyerang anak-anak. Penyakit ini ditularkan dari orang ke orang
melalui percikan liur (droplet) yang terhirup.
Penyebabnya adalah virus morbili yaitu Rubeola yang terdapat dalam sekret
nasofaring dan darah selama masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul
bercak-bercak.

Virus

ini

berupa

virus

RNA

yang

termasuk

famili

Paramiksoviridae, genus Morbilivirus. virus ini memiliki RNA rantai tunggal,


sampai saat ini hanya ada satu serotipe yang diketahui dapat menimbulkan
penyakit pada manusia. Cara penularan dengan droplet infeksi. Masa
tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari.

2. Working Diagnosis
Dari anamnesi dan pemeriksaan fisik diketahui bahwa pasien menderita
penyakit roseolla infantum. Definisi Exanthem subitum

mempunyai nama lain

Roseola infantum, Sixth diseasedan Campak bayi merupakan suatu penyakit jinak
pada anak-anak yang biasanyaterjadi pada usia kurang dari 2 tahun, yang
menyebabkan ruam yang diikutidengan demam selama 3 hari. Roseola adalah
penyakit yang menyerang bayi usia 9-12 bulan yang ditandaidengan demam tinggi
selama 3 hari yang diikuti munculnya ruammakulopapuler. Roseola infantum adalah
suatu penyakit virus menular pada bayi atau anakanakyang sangat muda, yang
menyebabkan ruam dan demam tinggi. Anak dengan roseola datang denam diagnosis
banding demam yang tidak diketahui sebabnya sampai suhu turun dengan cepat dan
ruam tampak.
Manisfestasi prodromal lain dari rubella dan menetapnya demam sesudah
ruam tampak biasanya membedakannya dengan roseolla. Rubell dengan dengue dapat
4

dibedakan terutama dengan waktu penampakan ruamnya dalam hubungan dengan


demam dan tanda-tanda klinis lain. Pada rubeola, walaupun biasanya ada demam
beberapa tingkat selama 3-4 hari tepat sebelum ruam, suhu dengan mendadak naik
sampai 39,4-40oC (103-104oF) pada saat ruam tampak dan tetap tinggi selama 2 hari
berikutnya, ketika ruam menghilang dengan cepat. Tidak ada bercak koplik, koryza
berat, dan konjungtivitus juga membantu membedakan robeola dengan roseola.
Bakteremia pneumokokus dapat datang dengan demam tinggi dan anak tampak sehat.
Angka sel darah putih sering kali naik, dan biakan darah positif untuk pneumococcus.
Membedakan roseola dengan penyakit antero- dan andenovirus dan reaksi obat sukar.
Infeksi HHV-6 merupakan penyebab tidak lazim sindrom mononukleosis infeksiosa
heterofil-negatif dan hepatitis serta harus dibedakan dengan virus lain yang
menyebabkan sindrom ini. Pada hospes terganggu imun penyakit ini merupakan
bagian dari diagnosis banding pneumonitis intertisial dan kegagalan sumsum tulang
bersama dengan sitomegalovirus, pneumocystis carinii dan hospes dari agen yang
kurang lazim.
D. Etiologi
HHV-6 (human herpes virus 6) merupakan salah satu dari tujuh herpes virus manusia.
Virus ini memiliki ukuran 185-200 nm termasuk virus yang besar, berselubung, virus
DNA helai ganda sekitar 170 kilobasa. Pada mulanya diisolasi dari sel darah perifer
manusia, bereplikasi pada sel T manusia (baik sel CD4 maupun CD8), monosit,
megakariosit, sel pebunuh alamiah, sel glia dan sel epitel serta sel salivarius. Virus
menghasilkan pengaruh sitopatik seperti balon dan sel lisis dalam leukosit mononuklear
yang dirangsang mitogen.2 Varian A lebih sering diisolosi dari penderita orang dewasa
denan AIDS atau penyakit limfoproliferatif. Varian B tampak menyebabkan infeksi
HHV-6 primer paling bergejala pada bayi. HHV-6 paling terkait dengan sitomegalovirus
manusia (CMV). Hubungngan molekuler dan antigenik menjelaskan beberapa tingkat
reaktivitas silang serologis dengan CMV.

E. Manifestasi klinik
Roseola infantum (eksantema subitum). HHV-6 adalah agen etiologi pada sekurangkurangnya 80-92% kasus. Beberapa kasus sisa mungkin disebabkan oleh HHV-6.
Sedangkan sedikit kasus disebabkan oleh enterovirus dan patogen lain yang kurang
lazim. Mulanya mendadak, demam setinggi 39,4-41,2

C. Fontanella anterior
5

mencembung atau kejang-kejang dapat terjadi pada saat ini atau nanti. Bila kejangkejang terjadi (5-35% kasus), merka kejang-kejang pada stadium pra-eruptif roseola.
Walaupun mukosa faring mungkin sedikit meradang dan mungkin sedikit koryza, tidak
ada tanda-tanda diagnostik. Berbagai tanda dan gejala telah secara jelas dihubungkan
dengan infeksi HHV-6. Tanda yang menonjol adalah tidak adanya tanda-tanda fisik yang
cukup untuk menjelaskan demam. Biasanya anak tampak relatif baik maupun ada
demam.
Demam turun dengan krisis pada hari ke 3-4, ketika suhu kembali normal, erupsi
makular atau makulopapukar tampak diseluruh tubuh, mulai pada badan, menyebar ke
lengan dan leher, dan melibatkan muka dan kaki sampai beberapa tingkat. Ruam
menghilang dalam 3 hari.deskuamasi jarang dan biasanya tidak ada pigmentasi. Kasus
tanpa ruam telah diuraikan. Kadang-kadang limfonudi terutama di daerah servikal,
membesar tapi tidak meluas seperti pada rubella. Kurang sering, penyakit mungkin ada
tanpa demam yang khas. Sebelum penurunan demam dan muncul ruam, diagnosis
terkesan dengan mengasampingkan sebab-sebab demam tinggi biasanya yang lain pada
umur ini, seperti otitis media, pielonefritis akut, pneumonia, meningitis dan bakteremia
pneumokokus.2
Demam pada bayi tanpa roseolla khas. Uji diagnostik spesifik untuk HHV-6 telah
memungkinkan untuk HHV-6 telah memungkinkan penegasan jumlah sindrom terkait
HHV-6. Pada penelitian prospektif, diantara 1.792 anak A.S. umur 3 tahun atau lebih
muda dengan sakit demam akut, 10-14% didiagonsis dengan infeksi HHV-6 primer.
Kisaran umur anak ini adalah 9,5-9,9 bulan. Mereka irritabel dan demam rata-rata suhu
39,7oC dan 47-62% mengalami radang membranan timpani dengan beberapa tanda
setempat lain. Tiga belas persen mengalami kejang demam, demam berakhir rata-rata 4
hari. Hanya 9% mempunyai ruam seperti roseolla, walaupun 17-33% mempunyai ruam
selama atau sesudah periode demam. HHV-6 dapat merupakan sebanyak 50% dari sakit
demam pertama dari kehidupan anak.

Tabel 1. Roseolla terkait HHV-6


Tanda-tanda dan gejala-gejala
Demam 98 %
Tingkat maksimum

39-40oC (kisaran 37,5-41,2oC)


6

Lamanya

3-4 hari (kisaran 1-7 hari)

Ruam
Hari kemunculan

3-5 hari sesudah demam

Lamanya

3-4 hari (kisaran 1-6 hari)

Tandanya

Makular, menyatu (seperti campak), 40%;


Papular (sepert rubella), 55%.

Tempat

Leher, perut, badan, punggung, dan tungkai.

Tanda-tanda dan gejala yang lain


Adenopati oksipital atau servikal

30-35%

Tanda-tanda dan gejala-gejala pernapasan

50-55%

Diare ringan

55-70%

Kejang-kejang

5-35%

Palpebra edema

0-30%

Pencembungan fontanella anterior

26-30%

Faringitis papuler

65%

F. Epidemiologi
Infeksi HHV-6 paling banyak ditemukan pada 2 tahun pertama kehidupan.
Diperkirakan Roseola menyerang 30 persen dari semua anak-anak.3 HHV-6
inimempunyai distribusi global, dengan gejala kadang asimtomatik. Morbiditaspenyakit
ini rendah pada bayi dengan imunokompenten karena menyebabkangejala yang ringan,
akan tetapi mortalitas tinggi pada orang dewasa yangmenderita imunodefisiensi karena
dapat menimbulkan beberapa gejala sepertidepresi saluran pernapasan, kejang dan
gangguan multiorgan sehingga dapatmenyebabkan kematian.Insidens Roseola infantum
tidak dipengaruhi oleh ras dan jenis kelamin.

G. Patofisiologis
HHV-6 sering terdeteksi dalam saliva manusia dan kadang pada sekretgenital. Infeksi
primer dapat disertai dengan gejala-gejala atau dapat tidakbergejala. Viremia dapat
dideteksi pada 4-5 hari pertama Roseola klinis denganrata-rata sel terinfeksi 103 per 106
sel mononuklear. Jumlah virus dalam darahdihubungkan secara langsung dengan
keparahan penyakit.Terdapat respon imun kompleks yang tersusun dari induksi
berbagaisitokin (interferon alfa dan gamma, interleukin beta, faktor nekrosis tumor
alfa),respon antibodi, dan reaktivitas sel-T. Hilangnya viremia primer, demam, dan
7

munculnya ruam biasanya dihubungkan dengan munculnya antibodi anti-HHV6neutralisasi serum dan mungkin menaikkan aktivitas sel pembunuh alami.Antibodi
transplasenta melindungi bayi muda dari infeksi. Infeksi sel sumsumtulang in vitro
menekan diferensiasi sel pendahulu dari semua deretan sel. InfeksiHHV-6 in vitro
menghambat respon limfoproliferatif sel mononuklear darahperifer manusia.Kadar
antibodi yang tinggi pada orang dewasa, seiring dengan pelepasanvirus dalam ludah, dan
deteksi asam nukleat virus dalam kelenjar ludah dan selmononuklear darah perifer pada
anak yang seropositif dan orang dewasamendukung keadaan latensi HHV-6 yang hidup
lama. Sifat reaktivasi penyakitdapat terjadi pada anak yang lebih tua dan orang dewasa,
terutama pada merekayang mempunyai defek pada imunitas seluler, seperti pada
penderita transplantasi.

H. Penatalaksanaan
Terapi profilaksismenggunakan Gansiklovir dapat digunakan untuk mencegah
reaktivasi HHV-6. Pada pasien yang mendapat transplantasi sumsum tulang. Terapi
yang direkomendasikan adalah terapi suportif.3 Antipiretik dapatmembantu dalam
mengurangi demam. Dapat menggunakan asetaminofen atauibuprofen. Pada bayi dan
anak muda yang cenderung untuk konvulsi, pemberiansedatif ketika mulai muncul
demam mungkin efektif sebagai profilaksis terhadapkejang. Setelah demam turun,
sebaiknya anak dikompres dengan menggunakanhanduk atau lap yang telah dibasahi
dengan air hangat (suam-suam kuku) gunamenjaga tidak terjadinya demam kembali.
Jangan menggunakan es batu, airdingin, alkohol maupun kipas angin. Untuk
pencegahan terjadinya dehidrasi akibat demam, anjurkan anak untuk minum banyak
air putih dengan potongan es gula, larutan elektrolit, air jahedengan soda, air jeruk
limun atau air kaldu.

I. Prognosis
Prognosis roseola adalah baik kecuali pada penderita yang jarang menderita
hiperpireksia ekstrem, kejang-kejang menetap, ensefalitis berat, atau hepatitis
mematikan.4 Indikasi pendahuluan pada hospes terganggu imum memberi kesan
bahwa pneumonia intertisial akibat HHV-6 mempunyai prognosis lebih baik daripada
pneumonia interstisial yang disebakan oleh CMV.

J. Kompilikasi
8

Beberapa komplikasi dari roseola infantum yaitu.


1.

Kejang

demam.Suhu

tubuh

anak

dapat

dengan

cepat

meningkat

sehinggamenyebabkan kejang.
2.

Encephalitis.Apabila infeksi sampai menuju otak dapat menyebabkan ensefalitis.

3.

Meningitis.Menurut Yoshikawa dan Asano, meningitis dapat terjadi pada 3dari 8


anak dengan kejang demam dan 3 dari 3 anak dengan ensefalitis karena adanya
HHV-6 pada cairan serebrospinal.4

K. Pencegahan
Mencegah terjadinya penyakit ini,dapat dilakukan dengan menjaga daya tahan
tubuh karena penyakit ini disebabkan oleh virus. Saat ini vaksinasi telah dapat
menekan angka kejadian exantema subitum. MMR merupakan vaksinasi wajib.
Sehingga apabila daya tahan tubuh kita lemah maka virus akan denganmudah
menyerang.5 Selain itu hendaknya menghindari kontak dengan penderitakarena
penularan penyakit ini melalui droplet dan dahak yang keluar saat merekabicara,
tertawa, bersin atau batuk sehingga dapat terhirup oleh kita. Untukmencegah
penularan Roseola infantum pada lingkungan, anak yang sakit diberiizin tidak masuk
sekolah selama 10 hari.

Penutup
Kesimpulan
Bayi sangat rentan terhadap beberapa penyakit. Pada skenario yang saya dapat suhu
badan pasien tinggi, di seluruh tubuh, terutama wajah, leher, punggung dan ektremitas atas
terdapat macula eritematous ruam-ruam merah pada tubuh, ruam-ruam ini merah dan tidak
menonjol gejala tersebut adalah gejala dari penyakit Roseolla infantum yang menyerang anak
di usia 6 bulan-3 tahun.

Daftar Pustaka
1. Arvin BK. Nelson ilmu kesehatan anak. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2003. h.
1094-7.
2. Newell S. Pediatrika. Jakarta: Erlangga; 2005. h. 239-42.
9

3. Djojodibroto RD. Seluk beluk pemeriksaan kesehatan. Jakarta: Pustaka Populer Obor;
2003. h. 69-71.
4. Johnston DI. Dasar-dasar pediatrik. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2008. h. 97-8.
5. Insley J. Vede mecum pediatri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2005. 127-31.

10