Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum Genetika

Buta Warna dan Peranan Gen yang


Dipengaruhi Sex
Hatif Chanifah (1511 100 029)
Kelas A, Kelompok 6
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
I. PENDAHULUAN
Individu memiliki dua macam kromosom yaitu kromosom autosom dan
kromosom gonosom (seks). Gen yang terdapat pada kromosom kelamin yang sering
disebut rangkaian kelamin. Gen-gen yang terangkai pada kromosom kelamin sering
disebut dengan gen terangkai Y yang teraut pada kromosom Y dan gen yang
terangkai X yang terpaut pada kromosom X (Suryo, 1996).
Gen dominan biasanya memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki
maupun perempuan. Baru dalam keadaan homozigot resesif, pengaruh dominan itu
tidak akan menempatkan diri dalam fenotip. Penyakit buta warna merupakan salah
satu contoh dari gen yang terpaut pada kromosom seks. Buta warna merupakan
keadaan dimana seseorang tidak dapat membedakan warna tertentu yang dapat dilihat
jelas oleh orang dengan mata normal sedangkan gen yang dipengaruhi oleh
kromosom, merupakan gen yang tereksplorasi pada gen autosomnya namun ekspresi
fenotipnya tetap di pengaruhi oleh kromosom seksnya. Sebagai contoh adalah gen
kepala botak dan panjang jari telunjuk. Oleh karena itu dilakukan percobaan ini.
untuk mengetahui apakah seseorang mengalami buta warna atau tidak dan untuk
menetapkan genotip diri sendiri berdasarkan ukuran jari telunjuk.
III. METODOLOGI
Praktikum buta warna dan peranan gen yang dipengaruhi sex dilakukan pada
hari Selasa tanggal 16 April 2013 pada pukul 13.00-17.00 WIB di Laboratorium
Botani Jurusan Biologi, FMIPA ITS, Surabaya. Untuk percobaan buta warna,
pertama disiapkan buku standar internasional (Buku Ishihara test) untuk mengetahui
apakah praktikan yang diuji menderita buta warna atau tidak. Setelah itu, praktikan
diminta menyebutkan angka yang tertera pada Buku Ishihara tes kemudian dicatat
jumlah kesalahannya. Setelah itu, dihitung jumlah persentase kesalahan praktikan,
jika kesalahan kurang dari 50%, maka praktikan dinyatakan normal (tidak buta

warna) dan apabila kesalahan lebih dari 50%, maka praktikan dinyatakan kelainan
buta warna, setelah ditentukan fenotipnya, lalu ditentukan genotipnya. Untuk
percobaan peranan gen yang dipengaruhi sex, yaitu dengan melihat panjang jari
telunjuk. Pertama, dibuat garis horizontal pada kertas lalu tangan kiri diletakkan
diatas kertas tersebut dengan ujung jari telunjuk bersinggungan dengan garis
horizontal, kemudian dibuat pola tangan dan selanjutnya ditentukan genotip dan
fenotipnya.
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Buta Warna
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Nama
Mifta
Hatif
Aida
Boing
Oki
Jay
Isti
Choir
Fafa

Jumlah Kesalahan
1
6
1
2
2
4
2
2
3

% Kesalahan
7,14
42,8
7,14
14,2
14,2
28,5
14,2
14,2
21,4

Fenotip
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Genotip
X XC /XCXc
XCXC /XCXc
XCXC /XCXc
XCXC /XCXc
XCY
C C
X X /XCXc
XCXC /XCXc
XCXC /XCXc
XCXC /XCXc
C

Pengamatan praktikum ini dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang buta


warna atau tidak. Indikator yang digunakan yaitu kecocokan angka yang disebutkan
oleh praktikan pada Buku Ishihara Test dengan angka. Hasil yang diperoleh
menunjukkan bahwa semua anggota kelompok normal. Hal ini terbukti karena jumlah
persentase kesalahan kurang dari 50%, berarti seluruh anggota kelompok tidak ada
yang mengalami kelainan buta warna.
Salah satu penyebab kelainan buta warna yaitu gen yang diwariskan dari
orang tua dimana gen yang mengatur buta warna ini terpaut oleh seks pada kromosom
X. hasil menunjukkan semua praktikan perempuan normal dan hal tersebut
menunjukkan bahwa bisa saja praktikan perempuan normal mempunyai genotip
XCXC /XCXc , yaitu normal homozigot atau normal heterozigot (carrier buta warna).
Pada umumnya buta warna disebabkan oleh faktor gen atau keturunan yang
diwariskan dengan cara bersilang. Dimana sifat dari ayah akan diturunkan pada
semua anak yang perempuan (baik carrier atau penderita), dan sifat dari ibu akan
diturunkan pada semua anak yang laki-laki. Laki-laki itu biasanya cenderung terkena
buta warna karena gen yang berfungsi atau bersifat resesif buta warna dibawa oleh
kromosom X, dimana laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Laki-laki juga
tidak bisa sebagai carrier karena laki-laki hanya memiliki satu kromosom X,

sedangkan pada perempuan jarang terkena buta warna karena perempuan memiliki
dua kromosom X. Jika satu kromosom X membawa gen resesif c, maka perempuan
tersebut hanya pembawa atau normal carrier (X CXc). Jika dua kromosom X pada
perempuan terpaut gen resesif c maka disebut pendetita buta warna (XcXc) (Suryo,
2012).
XCXC = perempuan normal

XCXc = perempuan carrier

XcXc = perempuan buta warna


XCY= laki-laki normal

XcY= laki-laki buta warna

Berikut ini adalah berbagai macam kemungkinan pewarisan buta warna:


1.
Perkawinan antara laki-laki normal dengan wanita normal.
P : XCY (normal) >< XCXC (normal)
G:
XC , Y
XC
F1: XCY, XCXC
/ XC
Y
C
C C
X
X X (Normal)
XCY (Normal)
XC
XCXC (Normal)
XCY (Normal)
Dari persilangan diatas, dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita normal
homozigot dengan laki-laki normal akan menghasilkan keturunan XCXC (wanita
normal) dan XCY (laki-laki normal). Perkawinan tersebut mempunyai kemungkinan
semua anaknya normal 100%, anak wanitanya normal homozigotik 50% dan anak
laki-lakinya normal 50%.
2.

Perkawinan antara laki-laki normal (XCY) dengan wanita carrier (XCXc)


P : XCY >< XCXc
G : XC, Y
XC, Xc
F1: XCXC (normal) XCXc (carrier)
XCY (normal) XcY (penderita)
/ XC
Y
C
C C
X
X X (normal)
XCY (normal)
Xc
XCXc (carrier)
XcY (penderita)

Dari persilangan diatas, dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita carrier
kawin dengan laki-laki normal maka akan menghasilkan dua anak normal,satu anak
carrier, dan satu anak penderita buta warna. Jadi dari hasil persilangan diatas, peluang

lahir anak normal 50%, peluang lahir anak perempuan carrier 25% dan peluang anak
buta warna sebersar 25%.
3.
Perkawinan antara laki-laki normal (XCY) dengan wanita buta warna (XcXc)
laki-laki normal (XCY)
P : XCY >< XcXc
G : XC,Y
Xc
F1 XCXc (carrier), XcY (buta warna)
/ XC
Y
c
C c
X
X X (carrier)
XcY (buta warna)
Xc
XCXc (carrier)
XcY (buta warna)
Dari persilangan diatas menunjukkan bahwa bila seorang wanita buta warna
kawin dengan laki-laki normal maka akan menghasilkan keturunan pertama yaitu
wanita normal carrier (XCXc) dan laki-laki buta warna (XcY). Namun pada
kenyataannya, jika seorang penyidap buta warna itu adalah ibunya, maka akan
diwariskan secara silang pada anak laki-lakinya dan dari diagram diatas dapat
diketahui perbandingan rasio fenotipnya sebesar 1:1, yaitu peluang lahir anak
perempuan normal carrier sebesar 50% dan peluang lahir anak laki-laki buta warna
sebesar 50%.
4.

Perkawinan antara laki-laki buta warna (XcY) dengan wanita normal (XCXC)
P : XcY >< XCXC
G : Xc,Y
XC
F1: XCXc (carrier), XCY (normal)
/ Xc
Y
C
C c
X
X X (carrier)
XCY (normal)
XC
XCXc (carrier)
XCY (normal)

Dari persilangan diatas dapat diketahui bahwa bila ada seorang wanita normal
kawin dengan laki-laki buta warna kana menghasilkan keturunan XCXc(carrier) dan
XCY (normal). Perkawinan tersebut mempunyai perbandingan rasio fenotip sebesar
1:1, peluang anak laki-laki normal sebesar 50% dan anak perempuan carrier sebesar
50%. Adapun yang menurunkan sifat buta warna adalah gen dari ayah.

5.

Perkawinan antara laki-laki buta warna (XcY) dengan wanita carrier (XCXc)
P : XcY >< XCXc
G : Xc, Y
XC, Xc
F1: XCXc (carrier), XcXc (buta warna)
XCY(normal) XcY(buta warna)
/ Xc
Y
C
C c
X
X X (carrier)
XCY (normal)
Xc
XcXc (buta warna)
XcY(buta warna)

Dari persilangan diatas menunjukkan bahwa bila ada seorang wanita carrier
menikah dengan laki-laki buta warna maka akan menghasilkan keturunan pertama
(F1) wanita carrier (XCXc), laki-laki normal (XCY), wanita buta warna (XcXc), dan
laki-laki buta warna (XcY).
6.

Perkawinan antara laki-laki buta warna (XcY) dengan wanita buta warna (XcXc)
P : XcY >< XcXc
G : Xc,Y
Xc
F1: XcXc (buta warna) , XcY (buta warna)
/ Xc
Y
c
c c
X
X X (buta warna)
XcY (buta warna)
Xc
XcXc (buta warna)
XcY(buta warna)

Dari hasil persilangan diatas dapat diketahui apabila ada seorang wanita buta
warna menikah dengan laki-laki buta warna maka semua keturunannya buta warna.
4.2 Peranan Gen yang Dipengaruhi Sex
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Nama
Mifta
Hatif
Aida
Boing
Oki
Jay
Isti
Choir
Fafa

Fenotip
Jari Telunjuk Pendek
Jari Telunjuk Pendek
Jari Telunjuk Pendek
Jari Telunjuk Pendek
Jari Telunjuk Pendek
Jari Telunjuk Pendek
Jari Telunjuk Pendek
Jari Telunjuk Pendek
Jari Telunjuk Pendek

Genotip
TT
TT
TT
TT
TT/Tt
TT
TT
TT
TT

No. Nama
1.

Mifta

2.

Hatif

3.

Aida

4.

Boing

5.

Oki

Foto

6.

Jay

7.

Isti

8.

Choir

9.

Fafa

Berdasarkan hasil pengamatan, diketahu bahwa jari telunjuk semua anggota


kelompok 6A adalah pendek. Hal tersebut menunjukkan bahwa genotip pada
perempuan adalah TT, sedangkan pada laki-laki adalah TT atau Tt. Jari telunjuk
pendek disebabkan oleh gen yang dominan pada laki-laki, tetapi resesif pada
perempuan. Misalnya seorang laki-laki dengan jari telunjuk pendek menikah dengan
perempuan dengan jari telunjuk panjang, maka semua anak laki-laki akan memiliki
jari telunjuk pendek, sedangkan semua anak perempuan akan berjari pendek (Suryo,
2012).

Panjang jari telunjuk dibandingkan dengan jari manis tersebut merupakan gen
yang dipengaruhi oleh jenis kelamin. Gen T menentukan jari telunjuk pendek,
dominan terhadap gen t yang menentukan jari telunjuk panjang. Gen dominan
memperlihatkan pengaruhnya pada individu laki-laki maupun perempuan. Akan
tetapi, dalam keadaan homozigot resesif, pengaruh dominan itu tidak akan
menampakkan diri dalam fenotip pada perempuan, artinya gen dominan T hanya
dominan pada laki-laki dan resesif pada perempuan. Jari telunjuk pendek pada lakilaki (genotip TT atau Tt) dan telunjuk panjang adalah gen resesifnya (genotip tt),
tetapi pada perempuan telunjuk pendek memiliki genotip hanya TT sedangkan
telunjuk panjang geontipnya Tt atau tt (Suryo, 2012).
Berikut ini adalah berbagai macam kemungkinan pewarisan gen yang
mempengaruhi panjang jari telunjuk:
1. TT >< TT
/
T
T
T
TT
TT
T
TT
TT
Dari hasil persilangan diatas, diketahui rasio genotip adalah 100% TT
2. Tt >< Tt
/
T
t
T
TT
Tt
t
Tt
tt
Dari hasil persilangan diatas, diketahui rasio genotip adalah 25% TT : 50% Tt :
25% tt
3. TT >< tt
/
T
T
t
Tt
Tt
t
Tt
Tt
Dari hasil persilangan diatas, diketahui rasio genotip adalah 100% Tt
4. Tt >< tt
/
T
t
t
Tt
tt
t
Tt
tt
Dari hasil persilangan diatas, diketahui rasio genotip adalah 50% Tt : 50% tt
5. tt >< TT
/
t
t
T
Tt
Tt
T
Tt
Tt
Dari hasil persilangan diatas, diketahui rasio genotip adalah 100% Tt

6. tt >< Tt
/
t
t
T
Tt
Tt
t
tt
tt
Dari hasil persilangan diatas, diketahui rasio genotip adalah 50% Tt : 50% tt
7. tt >< tt
/
t
t
t
tt
tt
t
tt
tt
Dari hasil persilangan diatas, diketahui rasio genotip adalah 100% tt
8. TT >< Tt
/
T
T
T
TT
TT
t
Tt
Tt
Dari hasil persilangan diatas, diketahui rasio genotip adalah 50% TT : 50% Tt
9. Tt >< TT
/
T
t
T
TT
Tt
T
TT
Tt
Dari hasil persilangan diatas, diketahui rasio genotip adalah 50% TT : 50% Tt
V. KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari praktikum buta warna dan peranan gen yang
dipengaruhi sex adalah semua anggota kelompok 6A normal atau tidak buta warna.
Dan genotip saya adalah TT.
DAFTAR PUSTAKA
Suryo. 1996. Genetika Manusia. Gajah Mada University Press: Yogyakata
Suryo. 2012. Genetika Strata 1. UGM Press: Yogyakarta

LAMPIRAN
1. Buta Warna
Laki-laki buta warna ( Xc Y) menikah dengan perempuan buta warna (Xc Xc)
P1 : Xc Y >< Xc Xc
F1 : Xc Xc , Xc Xc , XcY , XcY
/
Xc
Xc

Xc
Xc Xc (buta warna)
Xc Xc (buta warna)

Y
XcY (buta warna)
XcY (buta warna)

P2 : XcY (buta warna) >< XC XC (normal)


F2 : XC Xc (carrier), XC Xc (carrier), XC Y (normal), XC Y (normal)
/
XC
XC

Xc
XC Xc (carrier)
XC Xc (carrier)

Y
XC Y (normal)
XC Y (normal)

2. Botak
Laki-laki normal (bb) menikah dengan perempuan normal heterozigot (Bb)
P1 : bb >< Bb
F1 : Bb, Bb, bb, bb
/
B
b

b
Bb
bb

P2 : BB (botak) >< bb (normal)


F2 : Bb, Bb, Bb, Bb

b
Bb
bb

/
b
b

B
Bb
Bb

B
Bb
Bb

3. Panjang Jari Telunjuk


Laki-laki dengan jari telunjuk panjang (tt) menikah dengan perempuan dengan
jari telunjuk panjang (tt)
P1 : tt >< tt
F1 : 100% tt
/
t
t

t
tt
tt

t
tt
tt

P2 : tt (jari telunjuk panjang) >< TT (jari telunjuk pendek)


F2 : 100% Tt
/
T
T

t
Tt
Tt

t
Tt
Tt