Anda di halaman 1dari 11

Halaman Muka | Kontak Kami | Tentang Kami | Iklan | Arsip Edisi Rabu, 30 Desember 2009

Politik dan Keamanan Kecelakaan Kerja


Ekonomi dan Keuangan [Assalamu'alaikum]
Metropolitan
Opini Kecelakaan Kerja
Agama dan Pendidikan
Nusantara KECELAKAAN kerja kembali merenggut nyawa para buruh tambang tradisional,
di tambang batubara di Provinsi Sumatera Barat, hari Selasa (16/6). Kecelakaan
Olah Raga
terjadi akibat adanya suatu ledakan di lubang tambang batubara.
Luar Negeri Dampak ledakan itu tidak saja menimpa para pekerja tambang di dalam lubang,
Assalamu'alaikum tetapi juga pekerja yang berada di luar, akibat semburan material dan hawa panas
Derap TNI-POLRI dari api yang keluar dari lubang.
Hallo Bogor Hingga kemarin jumlah korban meninggal dunia sudah puluhan orang dan
beberapa buruh tambang lainnya diperkirakan masih berada di dalam lubang
tambang yang meledak. Kasus kecelakaan kerja di pertambangan batubara itu
hampir sama dengan musibah yang kerap terjadi di China.
Cari
Upaya pertolongan terhadap para korban yang masih berada di pertambangan itu
terus dilakukan oleh aparat gabungan. Pihak kepolisian juga dipastikan
menyiapkan diri untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kenapa tambang
barubara itu meledak.
Kasus kecelakaan kerja di pertambangan di Sumatera Barat dapat dipastikan
bukan yang pertama-kali terjadi. Kecelakaan seperti itu juga pernah terjadi di
Login beberapa daerah di Indonesia. Tidak saja tambang batubara yang merenggut
nyawa para petambangnya, di pertambangan emas pun kecelakaan kerja pernah
terjadi. Apalagi pada pertambangan-pertambangan tradisional.
Password
Masyarakat selalu antusias ketika mendengar adanya kandungan bahan tambang
seperti batubara atau emas. Bahkan batu kapur pun mereka keruk. Di beberapa
Submit daerah masyarakat tak terkendali berbondong-bondong datang untuk mengadu
nasib dan berharap memperoleh bahan tambang tersebut. Terkadang mereka
melalaikan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Padahal pada daerah-daerah
Dunia Tasawuf pertambangan, selain kerusakan alam yang ditimbulkan; maut sewaktu-waktu
Forum Berbangsa dan mengancam jiwa masyarakat.
Bernegara Karena itulah, sudah saatnya pemerintah melakukan pengawasan ketat terhadap
Swadaya Mandiri pertambangan-pertambangan tradisional, sehingga kerusakan lingkungan dapat
Forum Mahasiswa direm sekaligus kecelakaan kerja dapat dihindari. Jangan karena bisa menambah
Lingkaran Hidup pundi-pundi kas daerah, kegiatan itu dibiarkan tanpa suatu pengawasan sedikit
Pemahaman Keagamaan pun. Sebab, seperti biasanya, masalah-masalah itu mengemuka setelah terjadi
Otonomi Daerah kecelakaan kerja.
Kecelakaan kerja yang terjadi dipastikan hanya menyisakan kepedihan bagi
Lemb Anak Indonesia
Parlementaria keluarga yang ditinggalkan. Apalagi jika korban yang meninggal dunia tersebut
Budaya merupakan tulang punggung bagi keluarga. Kepedihan itu agak bisa terobati jika
Kesehatan para korban musibah dijamin oleh asuransi kecelakaan kerja. Tapi bukan suatu
Pariwisata rahasia, sampai kini-pun asuransi kecelakaan kerja di Indonesia belum menjadi
sesuatu yang memasyarakat.
Hiburan
Walau asuransi kecelakaan --termasuk kecelakaan kerja-- penyelenggaraannya
Pelita Hati bukan dimaksudkan untuk mengganti nyawa para korban kecelakaan, tapi
..
setidaknya jika ada jaminan asuransi, maka dana santunannya akan sangat
membantu keluarga atau ahli waris yang ditinggalkan.
.. Kami berharap mudah-mudahan musibah kecelakaan kerja di Sumatera Barat itu
tidak serta-merta dijadikan komoditi kampanye menjelang Pilpres 2009 oleh
NILAI TUKAR RUPIAH Capres/Cawapres beserta tim kampanyenya. Tapi mungkinkah?****
Source : www.klikbca.com
Jual Beli
USD 9200.00 9100.00
Baca Komentar Beri Komentar
SGD 6325.65 6236.65
HKD 1187.90 1173.10
CHF 7874.45 7769.45 Kirimkan Artikel Cetak Artikel
GBP 18868.05 18609.05
AUD 8331.10 8203.10 Artikel sebelumnya
JPY 80.82 79.36
SEK 1437.75 1407.65
DKK 1776.20 1737.00 • Palestina, Setapak Maju Lagi
CAD 9530.55 9376.55 • Masalah Utang LN
EUR 13145.74 12975.74 • Memilih Pemimpin
SAR 2466.00 2426.00 • Kosmetik Berbahaya
25-Okt-2007 / 15:41 WIB • Kasus Siti Hajar

Halaman Muka | Politik dan Keamanan | Ekonomi dan Keuangan | Metropolitan | Opini | Agama dan Pendidikan
| Nusantara | Olah Raga | Luar Negeri | Assalamu'alaikum | Derap TNI-POLRI | Hallo Bogor | Dunia Tasawuf
| Forum Berbangsa dan Bernegara | Swadaya Mandiri | Forum Mahasiswa | Lingkaran Hidup | Pemahaman
Keagamaan | Otonomi Daerah | Lemb Anak Indonesia | Parlementaria | Budaya | Kesehatan | Pariwisata | Hiburan
| Pelita Hati

DATABASE: Rumah Sakit | Puskesmas

Redaksi Harian PELITA: redaksi@pelita.or.id


Copyright © 2003 pelita.or.id
design by gemari.or.id
PELEDAKAN JARAK DEKA

Baru-baru ini kita membaca di media bahwa telah terjadi kecelakan kerja yang berhubungan
dengan proses peledakan di PT Adaro, sebuah tambang batu bara di Kalimantan Selatan. Memang
kasusnya tidak terlalu menyita perhatian masyarakat di Indoensia, tapi kecelakaan kerja yang
mengakibatkan kematian merupakan suatu kecelakaan yang sangat serius di industri pertambangan.
Kasusnya adalah seorang juru ledak meninggal dunia akibat terkena batuan oleh suatu peledakan dari
hasil peledakan yang dikelolanya. Tragis memang, sebuah gambaran begitu tidak sempurnanya apa yang
telah direncanakan dan apa yang mereka ingin hasilkan dari rencana yang telah dibuatnya. Selain dari itu,
Dinas Pertambangan dan Energi Kalimantan Selatan saat ini meminta PT Adaro untuk menghentikan
aktivitas yang berhubungan dengan peledakan sampai dalam batas waktu yang belum ditentukan. Ini
berarti aktivitas pertambangan batubara di Adaro secara tidak langsung mengalami gangguan yang
tentunya akan berpengaruh pada produksi batubara yang hendak dicapai.

Kasus seorang juru ledak yang tewas memang tidak banyak terjadi di Indonesia, namun kejadian
atau kecelakaan kerja yang berpotensi untuk menjadi kejadian yang lebih serius banyak terjadi di
tambang-tambang di Indonesia. Sebuah makalah yang dibuat oleh peneliti dari US Mine Safety and Health
Administration pada tahun 2001 menunjukkan bahwa terdapat empat kategori utama kecelakaan kerja
yang berhubungan dengan peledakan, yaitu (1) keselematan dan keamanan lokasi peledakan; (2) batu
terbang atau flyrock, (3) peledakan premature (premature blasting) dan (4) misfre (peledakan mangkir).
Kasus yang terjadi di Adaro merupakan salah satu jenis kecelakaan kerja yang ditenggarai disebabkan
oleh arah peledakan (keselamatan peledakan) dan terkena batuan hasil peledakan yang dapat
dikategorikan sebagai flyrock (pada jarak yang dekat). Ini merupakan situasi yang masuk akal karena
seorang juru ledak memang berada di daerah yang paling dekat dengan pusat kegiatan peledakan.

Hal ini merupakan salah satu contoh perlunya pengetahuan yang lebih mendalam dalam hal blasting
management system (system pengaturan atau pengontrolan peledakan) terhadap semua yang terlibat di
dalam kegiatan peledakan. Dalam suatu peledakan terdapat banyak hal-hal yang harus diperhatikan untuk
mendapatkan hasil peledakan sesuai dengan yang diinginkan oleh tambang yang bersangkutan. Batuan
yang diledakkan dalam hal ini bisa berwujud batu bara itu sendiri dan batuan penutup (overburden and
interburden). Dalam tambang emas kita mempunyai istilah waste (sampah) dan ore (bijih emas) yang
harus diledakkan untuk memudahkan pengangkutan dan pencucian atau proses permurnian bahan galian
yang ditambang.

Kegiatan peledakan di tambang merupakan salah satu kegiatan yang dianggap mempunya resiko cukup
tinggi. Tapi bukan berarti kegiatan tersebut tidak dapat dikontrol. Proses pemgontrolan kegiatan ini dapat
dimulai dari proses pencampuran ramuan bahan peledak, proses pengisin bahan peledak ke lubang ledak,
proses perangakain dan proses penembakan. Dalam kasus ini yang memegang peranan penting adalah
kontrol terhadap proses penembakan. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan adalah sebagi berikut

- Desain peledakan. Bagian ini memegang peranan penting dalam mengurangi kecelakaan kerja yang
berhubungan dengan aktivitas peledakan. Rancangan peledakan yang memadai akan mengidentifikasi
jarak aman; jumlah isian bahan peledak per lubang atau dalam setiap peledakan; waktu tunda (delay
period) yang diperlukan untuk setiap lubang ledak atau waktu tunda untuk setiap baris peledakan; serta
arah peledakan yang dikehendaki. Jika arah peledakan sudah dirancang sedemikian rupa, juru ledak dan
blasting engineer harus berkordinasi untuk menentukan titik dimana akan dilakukan penembakan (firing)
dan radius jarak aman yang diperlukan. Ini perlu dilakukan supaya juru ledak memahami potensi bahaya
yang berhubungan dengan broken rock hasil peledakan and batu terbang (flyrock) yang mungkin terjadi.

- Training kepada juru ledak. Hal ini sangat penting dilakukan, karena sumber daya ini memegang
peranan penting untuk menerjemahkan keinginan insinyur tambang yang membuat rancangan peledakan.
Hal ini sudah diatur dalam Keputusan Menteri, yang mengharuskan setiap juru ledak harus mendapatkan
training yang memadai dan hanya petugas yang ditunjuk oleh Kepala Teknik Tambang yang bersangkutan
yang dapat melakukan peledakan. Juru ledak dari tambang tertentu tidak diperbolehkan untuk melakukan
peledakan di tambang yang lain karena karakterisktik suatu tambang yang berbeda-beda.

- Prosedur kerja yang memadai. Prosedur kerja atau biasa disebut SOP (Safe Operating Procedure) ini
memegang peranan penting untuk memastikan semua kegiatan yang berhubungan dengan peledakan
dilakukan dengan aman dan selalu mematuhi peraturan yang berlaku, baik peraturan pemerintah maupun
peraturan di tambang yang bersangkutan. Prosedur ini biasanya dibuat berdasarkan pengujian resiko (risk
assessment) yang dilakukan oleh tambang tersebut sebelum suatu proses kerja dilakukan. Prosedur ini
mencakup keamanan bahan peledak, proses pengisian bahan peledak curah, proses perangakaian bahan
peledak , proses penembakan (firing) termasuk jarak aman dan clearing daerah disekitar lokasi
peledakan.

Jarak Aman Peledakan

Menyimak dari kecelakaaan yang terjadi di Adaro, tanpa bermaksud mendahului tim investigasi yang
bekerja di sana, terdapat dua hal yang menjadi penyebab langsung (immediate causes) yang
menyebabkan kejadian tersebut, yaitu, jarak aman dan arah peledakan. Jarak aman pada suatu peledakan
(safe blasting parameter) saat ini memang tidak mempunyai standard yang dibakukan, termasuk
tambang-tambang di Australia. Di dalam Keputusan Menteri-pun, tidak dijelaskan secara detail berapa
jarak yang aman bagi manusia dari lokasi peledakan. Hal ini disebabkan oleh setiap tambang mempunyai
metode peledakan yang berbeda-beda tergantung kondisi daerah yang akan diledakkan dan tentu saja
hasil peledakan yang dikehendaki. Akan tetapi bukan berarti setiap juru ledak boleh menentukan sendiri
jarak aman tersebut. Keputusan mengenai keselamatan khususnya jarak aman tersebut berada pada
seorang Kepala Teknik Tambang yang ditunjuk oleh perusahaan setelah mendapat pengesahan dari Kepala
Pelaksana Inspeksi Tambang.

Di tambang-tambang terbuka di Indonesia, jarak aman terhadap manusia boleh dikatakan hampir
mempunyai kesamaan yaitu dalam kisaran 500 meter. Dari mana jarak ini diperoleh? Jelas seharusnya dari
hasil risk assessment (pengujian terhadap resiko) yang telah dilakukan di tambang-tambang tersebut. Risk
assessment ini tidak saja berbicara secara teknik peledakan dan pelaksaannya, namun perlu juga
dimasukkan contoh-contoh hasil perbandingan dari tambang-tambang yang ada baik di dalam ataupun luar
negeri. Jarak aman dari hasil risk assessment inilah yang seharusnya menjadi acuan bagi pembuatan
prosedur kerja dalam lingkup pekerjaan peledakan di lapangan. Walaupun ada beberapa tambang yang
membuat standard yang lebih kecil dari 500 meter; tapi hal itu diperbolehkan sepanjang risk assessment
sudah dilakukan dan sudah disetujui oleh Kepala Teknik Tambang yang bersangkutan. Biarpun tidak
menutup kemungkinan terjadinya pelanggaran terhadap jarak aman dari peledakan, akan tetapi seorang
juru ledak yang kompeten semestinya akan mentaati aturan dan prosedur kerja. Pelanggaran prosedur
kerja akan berakibat fatal, baik bagi diri dia sendiri, teman kerja maupun ada perusahaan tempat dia
bekerja.

Referensi:

1. Verakis, Harry and Lobb, Thomas, “ Blasting Accident in Surface Mines, Two Decade Summary” ISEE
Conference 2001 page 145.

2. Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 555.K/26/M.PE/1995 mengenai Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di Pertambangan Umum

Verakis, Harry and Lobb, Thomas, “ Blasting Accident in Surface Mines, Two Decade Summary” ISEE
Conference 2001 page 145.

Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 555.K/26/M.PE/1995 mengenai Keselamatan dan Kesehatan
Kerja di Pertambangan Umum

Note: Tulisan ini pernah dimuat di Koran Kaltim Pos tahun 2007, ditulis oleh Agung Wibowo, ST dan saya
sendiri
Tags: peledakan, artikel
Prev: Pencegahan Human Error Misfire pada Sistem Sumbu Nonel
Next: Serangan Tak Diundang

KEBAKARAN DAN LEDAKAN

Secara umum kebakaran dapat terjadi bila dipenuhi tiga unsur pemicu kebakaran itu, yakni adanya api, oksigen
dan bahan bakar (triangle fire). Sedangkan ledakan dapat terjadi jika ada 5 syarat yang terpenuhi, yakni ada
panas (heat), bahan bakar (fuel), udara (oxygen), ruang terisolasi (confinement), dan ada tahanan (suspension).
Untuk jelasnya perhatikan gambar berikut.
Gas yang Dapat Meledak (Explosive Gas)

Kecelakaan kerja pada tambang batubara bawah tanah


berupa kebakaran dan ledakan disebabkan adanya gas
methan (CH4).

Gas methan yang terdapat dari batubara kadarnya bervariasi,


yakni:

1. Batubara coklat dan antrasit (brown coal and


anthracite) umumnya sedikit gas methan,
sedangkan pada batubara bituminous dan sub
bituminous lebih banyak.
Gambar Segilima Ledakan
2. Batubara keras/padat (hard and dense coal) sedikit
gas methan, sedangkan batubara lunak (brittle coal) lebih banyak.
3. Batubara yang pengendapannya terganggu (high volatile matter) mungkin sangat banyak melepaskan gas methan.
4. Lapisan batubara pada patahan (faults) dan lipatan (folds) atau rekahan mungkin banyak melepaskan gas methan.
5. Bagian atas (roof) dan bagian bawah (floor) terbentuk dari serpihan material lempungan yang tahan api
(impermeable clay shale) dapat mengeluarkan banyak gas methan, sedangkan pada lapisan endapan pasir kasar
akan sedikit gas methan yang dilepaskan.
6. Semakin dalam letak lapisan batubara dari permukaan tanah, akan semakin banyak gas methan yang dapat keluar
dari padanya, hal inidisebabkan oleh adanya tekanan dan panas yang semakin tinggi.

Pada umumnya pelepasan gas methan dari lapisan batubara itu dapat berupa pelepasan bebas, pemancaran (emission), dan
keluar dari celah bebatuan (outburst)

Keberadaan Gas Methan (Presence Of Methane)

Gas methan yang keluar dari batubara teremisi ke udara di sekitarnya. Karena gas ini lebih ringan
dari udara, maka dia berada pada bahagian atas (langit-langit terowongan). Gas ini cenderung
berada pada bahagian akhir lobang bukaan tambang bawah tanah (tail gate of the longwall face),
lobang naik (raise end), dan bahagian atap (caved roofs).

Potensi Ledakan Gas Methan dan Debu Batubara

Berikut ini dijelaskan bagaimana komposisi masing-masing bahan tersebut, sehingga terjadi ledakan tambang.
• Konsentrasi gas methan

Gas methan dapat meledak pada konsentrasi antara 5 – 15% di udara sekitarnya pada tekanan
normal. Sedangkan ledakan terbesar dan berbahaya akan terjadi pada konsentrasi 9,5%.

• Pengaruh debu tertahan

Bila debu batubara, yang butirannya sangat halus, dengan konsentrasi 10,3 gram/m3 volume
udara, beterbangan ke udara sekitarnya, membentuk awan debu batubara, dan jika pada saat
bersamaan ada pijaran bunga api, maka akan terjadi ledakan debu batubara itu.

Berdasarkan hasil percobaan, didapatkan bahwa konsentrasi campuran antara debu batubara
dengan gas methan yang dapat meledak adalah sebagai tertera pada tabel.

Tabel. Konsentrasi Minimum campuran Gas Methan dan Debu Batubara yang Dapat Meledak

Jumlah Debu 0,00 10,3 17,4 27,9 37,7 47,8

Batubara(gr/m3

Konsentrasi 4,85 3,70 3,00 1,70 0,60 0,00


Gas Methan
(%)

• Gejala ledakan gas methan

Apabila terjadi campuran antara udara dan gas methan dan di sana terjadi pijaran api, maka
pertama akan terjadi kebakaran. Proses kebakaran ini menghasilkan karbon dioksida (CO2) dan
uap air dengan reaksi kimia : CH4 + 2O2 = CO2 + 2H2O.

Ledakan akan timbul bila pada lokasi tersebut sedang ada awan debu batubara (debu batubara
yang sedang beterbangan. Ledakan pada suatu lokasi akan memberikan getaran ke daerah
tetangganya sehingga debu batubara yang tadinya terendapkan akan berhamburan pula, dan
untuk selanjutnya akan terjadi lagi ledakan beruntun sampai semua bahan potensial ledakan
habis terbakar dan meledak.

Bila jumlah oksigen berkurang, gas akan terbakar secara tidak sempurna menghasilkan karbon
monoksida (CO) yang sangat beracun, hydrogen (H), dan air (H2O). Reaksi kimianya: CH4 + O2 =
CO + H2 + H2O

• Statistik Ledakan Gas Dan Debu Batubara


Tabel 4 dan 5 memperlihatkan rekapitulasi kejadian kecelakaan ledakan tambang di Jepang antara tahun 1950 sampai
dengan tahun 1984.

Tabel 4. Statistik Kecelakaan Ledakan Tambang Berdasarkan Penyebabnya


Penyebab Jumlah Kejadian Persentase
Peledakan (blasting) 80 23,2

Swabakar (spontaneous 22 6,4


combustion)
103 29,9
Peralatan listrik
(Electricity) 100 29,1

Nyala api (naked flame) 15 4,4

Gesekan (friction) 24 7,0

Tidak diketahui
(unknown)
Total 344 100,0

Tabel 5. Statistik Kecelakaan Ledakan Tambang Berdasarkan Lokasi Kejadian di Jepang


Lokasi Jumlah Kejadian Persentase
Lubang naik (raise) 114 33,2

Daerah kerja (working face) 70 20,4

Lapisan batubara (coal seam) 64 18,6

Terowongan silang (main 21 6,1


crosscut)
16 4,7
Kemiringan (slop)
13 3,8
Jalur keluar tambang (mined out
area) 12 3,5

Ruang fasilitas mekanik 8 2,3

Lubang masuk (main entry) 6 1,7

Lubang miring (inclined shaft) 6 1,7

Terowongan silang (crosscut) 6 1,7

Lubang vertikal (vertical shaft) 6 1,7

Lainnya
Total 344 100,0

• Teknik Pencegahan Ledakan

Guna menghindari berbagai kecelakaan kerja pada tambang batubara bawah tanah, terutama
dalam bentuk ledakan gas dan debu batubara, perlu dilakukan tindakan
pencegahan. Tindakan pencegahan ledakan ini harus dilakukan oleh segenap pihak
yang terkait dengan pekerjaan pada tambang bawah tanah tersebut.

Beberapa hal yang perlu dipelajari dalam rangka pencegahan ledakan batubara ini adalah:

• Pengetahuan dasar-dasar terjadinya ledakan, membahas:


o Gas-gas dan debu batubara yang mudah terbakar/meledak
o Karakteristik gas dan debu batubara
o Sumber pemicu kebakaran/ledakan
• Metoda eliminasi penyebab ledakan, antara lain:
o Pengukuran konsentrasi gas dan debu batubara
o Pengontrolan sistem ventilasi tambang
o Pengaliran gas (gas drainage)
o Penggunaan alat ukur gas dan debu batubara yang handal
o Penyiraman air (sprinkling water)
o Pengontrolan sumber-sumber api penyebab kebakaran dan ledakan
• Teknik pencegahan ledakan tambang
o Penyiraman air (water sprinkling)
o Penaburan debu batu (rock dusting)
o Pemakaian alat-alat pencegahan standar.
• Fasilitas pencegahan penyebaran kebakaran dan ledakan, antara lain:
o Lokalisasi penambangan dengan penebaran debu batuan
o Pengaliran air ke lokasi potensi kebakaran atau ledakan
o Penebaran debu batuan agak lebih tebal pada lokasi rawan
• Tindakan pencegahan kerusakan akibat kebakaran dan ledakan:
o Pemisahan rute (jalur) ventilasi
o Evakuasi, proteksi diri, sistemperingatandini, dan penyelamatansecara tim.

Sesungguhnya kebakaran tambang dan ledakan gas atau debu batubara tidak akan terjadi jika
sistem ventilasi tambang batubara bawah tanah itu cukup baik.

Balai Diklat Tambang Bawah Tanah@ Copyright BDTBT 2004 Pusdiklat Teknologi Mineral & Batubara

Possibly related posts: (automatically generated)




~ by alde tamka on 28/11/2009.


Posted in Batubara
Tags: Batubara, Debu Batubara, gas methan, Kecelakaan kerja pada tamb

LEDAKAN GAS

Kecelakaan kerja kembali terjadi di pertambangan di China. Sebuah ledakan di pertambangan batubara di China
menewaskan 42 orang. Sedangkan 82 orang lainnya masih terjebak yang berada hampir 500 meter di bawah
tanah. Ledakan ini terjadi sekitar pukul 02.30 waktu China, Sabtu (21/11). Seperti dikutip AFP, ledakan ini
terjadi di pertambangan batubara di provinsi Heilongjiang.
Total ada 528 petambang yang sedang bekerja di terowongan saat ledakan terjadi. Namun, sebagian besar
mereka bisa menyelamatkan diri. Data sementara 42 pekerja tewas dan 82 pekerja lainnya masih terjebak. China
Central Television melaporkan ledakan itu disebabkan gas.
Pertambangan ini dimiliki oleh Heilongjiang Longmay Mining Holding Group, yang bermarkas di Harbin.
Perusahaan ini merupakan perusahaan yang memiliki peringkat 12 dari 100 perusahaan pertambangan ternama
di China. Wakil Perdana Menteri (PM) China Zhang Dejiang sedang menuju lokasi untuk melihat proses
evakuasi. Presiden China Hu Jintao dan PM China Wen Jiabao telah memberikan perintah untuk segera
melakukan evakuasi.
Ledakan itu suatu pukulan keras bagi pemerintah China, yang sebagian besar tambang batu bara milik
pemerintah umumnya dianggap lebih aman dibandingkan tambang milik swasta. Pertambangan di China masih
tetap yang paling mematikan di dunia, meski Beijing telah berusaha menutup atau mengawasi ratusan tambang.
China tergantung pada batubara untuk keperluan sekitar sepertiga kebutuhan listrik. Pemeirntah telah
memperketat peraturan operasi pertambangan yang berjumlah 16.000 tambang. Penutupan sekitar 1.000
pertambangan kecil yang berbahaya tahun lalu ikut membantu berkurangnya jumlah tewasnya petambang, di
mana dalam satu hari enam petambang tewas.
Ledakan gas masih tetap masalah utama di perusahaan pertambangan, walau jumlah kecelakaan dan korban
tewas tiap tahun menurun, ungkap kepala State Administration of Work Safety, Luo Lin, dalam jumpa pers
September silam.
Dalam enam bulan pertama tahun 2009, telah terjadi 11 kali kecelakaan di pertambangan China dengan 303
tewas. Kebanyakan kecelakaan disebabkan ledakan gas. Namun ledakan pada umumnya disebabkan kegagalan
mematuhi peraturan keselamatan termasuk kurangnya ventiliasi untuk peralatan pemadam kebakaran. Ledakan
di tambang batubara di Tunlan, utara provinsi Shanxi, Februari lalu menewaskan 77 orang. (AP/WH/m)

This entry was posted on Minggu, November 22nd, 2009 at 02:02 and is filed under Luar Negeri. You can follow any responses to this
entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.