Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Amonium Sulfat
Amonium sulfat biasa disebut pupuk ZA (Zwuafel Amonium) banyak

dimanfaatkan sebagai pupuk nitrogen, terutama untuk tanaman industri dan


perkebunan diantaranya tebu, tembakau, cengkeh, kopi, lada, kelapa sawit, dan teh.
Sebagai pupuk, amonium sulfat merupakan jenis pupuk anorganik tunggal yang
terdiri dari unsur sulfur (24% berat) dalam bentuk ion sulfat dan unsur nitrogen (21%
berat) dalam bentuk ion amonium (Speight, 2002).
Negara Indonesia merupakan negara agraris yang selalu membutuhkan
amonium sulfat sebagai pupuk nitrogen. Keuntungan penggunaan amonium sulfat
(pupuk ZA) dibandingkan pupuk nitrogen lainnya yaitu (Setyamidjaja, 1986):
1. Mengandung unsur nitrogen dan sulfur sedangkan unsur sulfur ini tidak dimiliki
pupuk nitrogen lainnya, misal urea (CO(NH2 )2), amonium nitrat (NH4NO 3 ) dan
senyawa chili (NaNO3). Kedua unsur ini merupakan jenis unsur hara yang
dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar atau disebut makronutrient.
2. NH4+ dapat diserap secara langsung oleh tanaman sehingga tidak membutuhkan
mikroorganisme tanah untuk mengurai senyawa NH4 + menjadi unsur nitrogen,
seperti pada pupuk urea (CO(NH2 )2).
Selain sebagai pupuk, senyawa amonium sulfat juga digunakan dalam bidang
industri antara lain:
1. Dalam industri penyamakan digunakan untuk proses deliming ataupun
menghilangkan zat kapur dari kulit (ISTT, 2010).
2. Dalam industri makanan digunakan dalam bumbu, penyedap rasa, isolasi protein,
makanan ringan, selai, jeli, dan minuman non-alkohol (IFICF, 2009).
3. Dalam industri tekstil digunakan sebagai aditif pada proses pewarnaan (Martin
Resources, 2008).
4. Dalam bidang mikrobiologi digunakan sebagai nutrisi pada kultur bakteri dan
mikroorganisme penghasil enzim (Martin Resources, 2008).

Universitas Sumatera Utara

2.2

Sifat-Sifat Fisis dan Kimia Bahan Baku dan Produk

2.2.1

Bahan baku

2.2.1.1 Gypsum FGD/ Gypsum Sintetik (CaSO4 .2H2O)


Gypsum sintetik diproduksi dari unit Flue Gas Desulfurization (FGD) pada
pembakaran batu bara (PLTU). Gypsum sintetik memiliki kemurnian yang lebih
tinggi diatas (96 %) dari gypsum alami (80 %) (Euro Gypsum, 2007).
Batubara yang dibakar di boiler akan menghasilkan tenaga listrik serta
menghasilkan emisi seperti partikel SO2 , NOx, dan CO2. Emisi tersebut dapat
dikurangi dengan menggunakan teknologi seperti denitrifikasi, desulfurisasi,
electrostratic precipitator (penyaring debu), dan separator CO2.
Teknologi FGD digunakan untuk mengurangi emisi SO2 yang dapat
mencemari air hujan menjadi hujan asam. Ada dua tipe FGD yaitu FGD basah (Wet
Limestone Scrubbing) dan FGD kering (Dry Limestone Scrubbing). Pada FGD basah,
campuran air dan gamping (batu kapur) disemprotkan dalam gas buang. Cara ini
dapat mengurangi emisi SO2 sampai 70-95 %. Kalsium karbonat (CaCO 3) dalam
batu kapur diubah terlebih dahulu menjadi kalsium sulfit (CaSO3). SO2 yang diserap
kemudian direaksikan dengan CaSO3 membentuk senyawa baru yaitu kalsium sulfat
(CaSO4) atau gypsum. FGD kering menggunakan campuran air dan batu kapur atau
gamping yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar. Cara ini dapat mengurangi emisi
SO2 sampai 70-97 %. FGD kering menghasilkan produk sampingan gypsum yang
bercampur dengan limbah lainnya (Sugiono, 2000).
Gypsum alami merupakan mineral yang umumnya ditemukan di lapisan
sedimen yang mengendap dan bersatu dengan halite, anhydrite, sulfur, calcite dan
dolomite. Gypsum merupakan mineral yang tidak larut dalam air dalam waktu yang
lama, sehingga gypsum alami jarang ditemukan dalam bentuk butiran atau pasir.
Gypsum yang paling umum ditemukan adalah jenis hidrat kalsium sulfat dengan
rumus kimia CaSO4.2H2O. Gypsum terbentuk dalam kondisi berbagai kemurnian dan
ketebalan yang bervariasi. Gypsum merupakan garam yang pertama kali mengendap
akibat proses evaporasi air laut diikuti oleh anhidrit dan halit, ketika salinitas makin
bertambah (Suhada, 2011).
Gypsum sintetik dan gypsum alami memiliki rumus kimia yang sama yaitu
CaSO4.2H2O. Tetapi keduanya memiliki perbedaan komposisi penyusun. Berikut ini
merupakan tabel perbedaan antara gypsum sintetik dan gypsum alami:

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1 Perbedaan Gypsum Sintetik dan Gypsum Alami


Komponen

unit

Gypsum Alami

Gypsum Sintetik

Air

0,38

5,5

CaSO4.2H2O

87

99,6

Insoluble Residue

13

0,4

Kalsium

24,5

24,3

Sulfur

16,1

18,5

Nitrogen

ppm

970

Posfor

ppm

30

<1

Kalium

ppm

3600

< 74

Magnesium

ppm

26900

200

Boron

ppm

99

13

Tembaga

ppm

< 0,6

< 0,38

Besi

ppm

3800

150

Mangan

ppm

225

0,62

Molybdenum

ppm

< 0,6

3.2

Nikel

ppm

< 0,6

<3

Zinc

ppm

8,7

1,2

Mineral Present

Sumber: Chen & Warren, 2011

Adapun sifat fisis dan kimia dari gypsum sintetik adalah (MSDS, 2011):
Sifat fisis:

Calsium sulfat dihidrat

: 90-99 % wt

Spesifik grafity

: 2,3 g/cm3

Titik didih

: > 1000 oC

Padatan berwarna putih

pH di air 5-8
Tidak larut di air

Terdekomposisi menjadi calsium oksida dan sulfur dioksida pada suhu


1450 oC

Universitas Sumatera Utara

Sifat kimia:

Gypsum sintetik harus dihindarkan dari senyawa asam, diazometana,


posfor, logam aluminium dan agen pengoksidasi kuat.

Gypsum sintetik dan air menghasilkan sedikit panas.

2.2.1.2 Amonia (NH3 ) (Othmer, 1998)


Sifat fisis :

Berat molekul

: 17,03 gr/mol

Titik didih

: -33,35 oC

Titik Beku

: -77,7 oC

Temperatur kritis

: 133 oC

Tekanan kritis

: 11,425 kPa

Panas spesifik

0 oC

100 oC

: 2097,2 J/(Kg K)
o

200 C

: 2226,2 J/(Kg K)
: 2105,6 J/(Kg K)

Kelarutan dalam air

0 oC

: 42,8 wt%

20 oC

: 33,1 wt%

40 C

: 23,4 wt%

60 oC

: 14,1 wt%

Spesifik grafity

-40 oC

: 0,69

0 oC

: 0,639

40 C

: 0,58

Sifat kimia:

Amonia sangat dibutuhkan dalam system netralisasi, terutama dalam


produksi pupuk seperti amonium sulfat, amonium nitrat dan amonium
posfat.

Larut dalam air membentuk basa NH4OH

Bersifat menyerap air (higroskopis)

Bereaksi substitusi dengan asam anorganik dan organik

Universitas Sumatera Utara

Bereaksi dengan CO2 lembab membentuk amonium karbonat

Bereaksi dengan larutan NaOCl membentuk hidrazine

Kelarutan amonia dalam air menurun terhadap peningkatan suhu.

Reaksi antara amonia dan air bersifat reversibel


NH3

H2O

NH4+ +

OH-

Dengan bantuan katalis oksidasi berupa katalis platinum rhodium, amonia


akan membentuk asam nitrit dan air dalam waktu singkat pada suhu 650
o

4 NH3

5O2

4NO

2NO

O2

2NO2

3 NO2

H2O

2HNO3 + NO

+ 6 H2O

Amonia cair berperan sebagai precipitate basah dari metalic hydroxide


dari larutan garamnya dan membentuk ion kompleks dalam alur keluaran
amonia
2NH3.H2 O

CuSO4 +
Cu(OH)2

Cu2+

2NH3

Cu(NH3)4 2+

Cu(OH) 2 + (NH4)2SO 4
2OH

2.2.1.3 Karbon Dioksida (CO2) (Othmer, 1998)


Sifat fisis:

Temperatur kritis

: 31,1 oC

Tekanan kritis

: 7383 kPa

Densitas gas pada 273 K dan 101,3 kPa

: 1,976 g/l

Viskositas pada 298 K dan 101,3 kPa

: 0,015 Cp

Panas laten penguapan


triple point

: 353,4 J/g

0 oC

: 231,3 J/g

Panas pembentukan pada 298 K

Kelarutan di air (Perry & Green, 1999)

: 393,7 kJ/mol

0 oC

: 179,7 cc

20 oC

: 90,1 cc

Universitas Sumatera Utara

Sifat kimia:

Karbon dioksida tidak reaktif pada suhu kamar

Karbon dioksida dan air membentuk asam karbonat

Karbon dioksida membentuk karbon monoksida pada suhu 1700 oC

Larut dalam air membentuk asam lemah H2CO 3, HCO3-

Bereaksi dengan air membentuk metana, gas hidrogen, karbon monoksida


pada suhu dan tekanan tinggi dengan bantuan katalis

Bereaksi dengan basa membentuk karbonat

Bereaksi dengan NH3 dalam air membentuk amonium karbonat

Bereaksi dengan NH3 kering membentuk karbamat (intermedit ke urea)

2.2.1.4 Air (H2O) (Othmer, 1998)


Sifat fisis:

Titik beku

: 0 oC

Titik didih

: 100 oC

Viskositas pada 25 oC

: 0,8949 cP

Densitas pada 25 oC

: 0,99987 g/cm3

Panas spesifik pada 25 oC

: 4,17856 J/g K

Konduktivitas termal pada 20 oC

: 0,00598 W/(cm K)

Sifat kimia:

Bereaksi dengan karbon menghasilkan metana, hidrogen, karbon dioksida,


monoksida membentuk gas sintetik (dalam proses gasifikasi batubara)

Bereaksi dengan kalsium, magnesium, natrium dan logam-logam reaktif


lain membebaskan H2

Air bersifat amfoter

Bereaksi dengan kalium oksida, sulfur oksida membentuk basa kalium dan
asam sulfat.

Dengan anhidrid asam karboksilat membentuk asam karboksilat.

Universitas Sumatera Utara

2.2.1.5 Asam Sulfat (H2 SO4) (Othmer, 1998 dan Perry & Green, 1999)

2.2.2

Titik didih

: 270 oC

Terdekomposisi

: 340 oC

Titik leleh

: 10,49 oC

Berat jenis (30 oC)

: 1,8261 gr/cm3

Kerapatan

: 1,84 gr/c

Berat molekul

: 98 gr/mol

Kelarutan tak terhingga pada air dingin dan air panas

Terdekomposisi dalam etil alkohol 95%

Bersifat korosif

Cairan tidak berwarna pada suhu kamar

Produk

2.2.2.1 Amonium Sulfat ((NH4)2SO 4)


Umumnya, amonium sulfat banyak digunakan sebagai pupuk, dengan
pemanfaatan kandungan nitrogen dan sulfur didalamnya. Amonium sulfat merupakan
pupuk yang cocok untuk tanaman padi, citrus, anggur, tanaman merambat serta
khususnya untuk tanah ber-pH tinggi. Selain sebagai pupuk, amonium sulfat juga
digunakan untuk makanan, fire control, pakan ternak dan tanning (penyamak), water
treatment dan proses fermentasi (Othmer, 1998; Speight, 2002).
Sifat-sifat (UNIDO & IFDC, 1979) :

Wujud berupa kristal putih

Berat molekul

: 132,14 gr/mol

Kandungan nitrogen

: 21,2 %

pH

:5

Densitas padatan (20 oC)

: 1,769

Panas kristalisasi (42% (NH4)2 SO4 (aq)) : 11,6 kcal/kg

Kelarutan dalam 100 gr air

0 oC

: 70,6 gr

100 oC

: 103,8 gr

Spesifik grafitasi larutan jenuh


20 oC

: 1,2414

Universitas Sumatera Utara

93oC

: 1,2502

Panas spesifik padatan pada 91oC

: 0,345 cal/g.oC

Panas spesifik larutan jenuh cal/g.oC


20 oC

: 0,67

100oC

: 0,63

Titik lebur

: 512,2 oC

Terdekomposisi

: 280 oC

Pada sistem terbuka mulai terdekomposisi pada suhu 100 oC menghasilkan


NH3 dan amonium bisulfat (NH4HSO4)

Diatas 300 oC terdekomposisi membentuk SO2, SO3 , H2O, N2

2.2.2.2 Kalsium karbonat (CaCO3 ) (Othmer, 1998 dan Perry & Green, 1999)
Kalsium karbonat merupakan salah satu mineral pengisi serbaguna dan
dikonsumsi dalam jumlah besar untuk produksi semen, kertas, cat, plastik, karet,
tekstil, kapur, dan tinta printer. Kalsium karbonat dengan kemurnian tinggi biasanya
digunakan untuk pangan, farmasi, pasta gigi, dan kosmetik.
Sifat-sifat:

Berat molekul

: 100,09 gr/mol

Spesifik grafitasi

: 2,6-2,75

Titik lebur pada 102,5 atm

: 1339 oC

Terdekomposisi

: 900 oC

Kelarutan dalam 100 gr air


25 oC

: 0,0014 gr

100 oC

: 0,002 gr

Universitas Sumatera Utara

2.3

Proses Pembuatan Amonium Sulfat

2.3.1

Proses Netralisasi Langsung


Amonium sulfat dibuat dalam suatu unit netralizer dan crystalizer dengan

mereaksikan langsung gas amonia dengan asam sulfat yang masuk melalui alur
recycle slurry, direaksikan dan dipanaskan di slurry recycle. Slurry kemudian di
flash pada upper chamber dibawah tekanan vakum yaitu sekitar 55 - 58 mmHg.
Panas reaksi yang terjadi dalam reaktor dikontrol dan dihilangkan dengan
penambahan air atau pendinginan dengan udara ke dalam reaktor. Unit netralizer dan
crystalizer dibuat terpisah untuk memudahkan sistem operasi dan control proses.
Kesetimbangan optimum antara energi udara pendingin dengan yield kristal
diperoleh ketika unit crystalizer di- control pada suhu 63 66C.
Pengontrolan pH selama operasional sangat penting dilakukan, yaitu berkisar
3-3,5, untuk menghindarkan yield minimum, dan kristal yang tipis. Kelebihan asam
akan menyebabkan pertumbuhan kristal berlebih terutama di pipa, sehingga
memerlukan pelarutan kembali kristal dengan steam. Sebaliknya, kekurangan asam
menyebabkan mutu kristal yang rendah, sehingga akan menyebabkan sistem
pencucian dan storage sulit, serta kandungan nitrogen juga rendah (Gowariker,dkk.,
2009). Adapun reaksi proses netralisasi adalah sebagai berikut (Othmer, 1998):
2 NH3 (g) + H2 SO4(aq) (NH4)2 SO4(s) H= -274 KJ/mol (-65,5 Kcal/mol)

2.3.2

Proses Karbonasi Batubara


Batubara bituminous digunakan untuk pabrikasi gas dan produksi coke

(arang). Batubara ini mengandung 1-2% nitrogen (N) dan dapat diperoleh 15-20%
NH3, yaitu berkisar 2,5-3 kg NH3 / ton batubara. Gas NH3 yang diperoleh akan
digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan amonium sulfat. Amonium sulfat
dapat diproduksi dari hasil samping pembakaran batubara (coke-oven gas) dengan 3
cara yaitu direct method, indirect method dan semi direct method.
1. Direct Method
Dalam direct method, semua gas yang terbentuk didinginkan terlebih dahulu
untuk menghilangkan sejumlah tar, kemudian dialirkan ke- bubble saturator
spray, dimana kemudian dicuci asam sulfat untuk membentuk slurry amonium
sulfat. Kristal amonium sulfat yang terbentuk dalam cairan turun kemudian
dipisahkan dan dicuci dalam centrifuge lalu dikeringkan. Kristal kering yang

Universitas Sumatera Utara

dihasilkan dikirim lewat conveyor untuk disimpan. Adapun kekurangan dari


metode ini adalah bahwa di dalam kristal yang diperoleh didapati sejumlah tar
dan pyridin, sehingga memerlukan rekristalisasi kembali sebelum dipasarkan,
tingkat korosinya tinggi dan sulit untuk mengatur tingkat optimum asam bebas
yang dibutuhkan untuk menekan impurities dan optimum pH untuk
menaikkan pertumbuhan kristal.
2. Indirect Method
Pada proses ini, gas panas dari oven utama didinginkan dengan resirkulasi
cairan pencuci dan water scrubbing. Campuran cairan kemudian dipanaskan
dengan steam dalam kolom stripper tipe bubble untuk melepaskan amonia
bebas dalam senyawa garam. Steam lewat melalui kolom kedua stripper
kemudian amonia dan cairan dicampur dengan uap sehingga diperoleh amonia
mentah yang selanjutnya didestilasi ulang atau diubah menjadi amonium
sulfat dalam saturator kristaliser. Adapun amonium sulfat yang diperoleh
bebas dari impurities, proses fleksibel. Kekurangan dari metode ini adalah
masalah limbah buangan dan amonia yang hilang besar karena reaksi dan
absorpsi yang tidak sempurna.
3. Semi Direct Method
Metode ini merupakan gabungan dari direct method dan indirect method.
Dalam proses ini gas mula mula didinginkan dan dicuci untuk
menghilangkan sejumlah tar dan untuk memproduksi larutan kondensat yang
banyak mengandung amonia bentuk gas. Kemudian amonia cair dipanaskan
sampai suhu 700C dan diabsorbsi dengan asam sulfat encer 5-6% dan
menghasilkan larutan amonium sulfat jenuh dengan suhu 5070 oC. Semi direct method memproduksi amonium sulfat atau posfat dan amonia dengan
yield yang tinggi.
(Gowariker,dkk., 2009)

Universitas Sumatera Utara

2.3.3

Hasil Samping Industri Caprolactam


Banyak amonium sulfat diproduksi dari berbagai hasil samping proses kimia

antara lain caprolactam, acrylonitrile. Berikut ini merupakan reaksi pembentukan


amonium sulfat sebagai hasil samping caprolactam (Othmer, 1998):
2HON(SO3NH4)2 + 4H2O (NH 2OH) 2.H2 SO4 + 2(NH4)2 SO4 +
Hydroxylamine

Air

Disulfonate
2C6H11O +
Phenol

Hydroxylamine

Amonium

Sulfonate

Sulfonate

Amonia

Asam Sulfat

Sulfat

(NH2OH)2 .H2SO4 + 2NH3 2C6H11NO


Hydroxylamine

H2 SO4

+ (NH4)2 SO4 + 2H2O

Cyclohexanone
Oxime

Amonium

Air

Sulfat

Cyclohexanone Oxime dikonversi menjadi caprolactam dengan penyusunan


kembali dengan penambahan oleum. Reaksi ini dilangsungkan dengan suhu tinggi
(400 oC). Sedangkan amonium sulfat dari reaksi pembentukan caprolaktam dari
oksidasi toluena dengan udara menjadi asam benzoic dan dilanjutkan dengan proses
hidrogenasi dilangsungkan pada tekanan 10 atm dan suhu 160-170 oC (Speight,
2002). Amonium sulfat yang dihasilkan dipanaskan secara kontinu dan 40% mother
liquour disirkulasi melalui draft tube-buffle crystallizer pada temperatur 77-82 oC
dan tekanan 660 mmHg (12,8 psia). Uap air dilepas dari crystallizer dan
dikondensasi melalui satu atau lebih heat exchanger. Amonium sulfat dikeluarkan
dari crystallizer menuju settling tank, disentrifuse, dikeringkan sebelum disimpan.
Kelemahan dari proses ini adalah terdapat sisa caprolactam cair dalam produk kristal
amonium sulfat, sehingga perlu ditambahkan senyawa anti caking amonium sulfat
(EPA, 1985). Selain itu proses ini tidak ekonomis karena konsentrasi amonium
sulfatnya rendah, diperoleh 1,8- 4,0 ton amonium sulfat per ton caprolactam
(Gowariker, dkk., 2009).
2.3.4

Reaksi antara Amonium Karbonat dengan Gypsum


Reaksi antara amonium karbonat dengan Gypsum dikenal dengan proses

Merseburg. Metode ini didasarkan pada penggabungan amonia dan karbon dioksida
untuk menghasilkan larutan amonium karbonat. Kemudian larutan amonium

Universitas Sumatera Utara

karbonat direaksikan dengan gypsum (CaSO4 .2H2O) sehingga diperoleh amonium


sulfat dan kalsium karbonat. Adapun reaksinya sebagai berikut:
NH3 + H2O NH 4OH
2NH4OH + CO2 (NH4)2CO 3 + H2 O
CaSO4.2H2O + (NH4 )2CO3

(NH4) 2 SO4 + CaCO3 + 2 H 2O

Reaksi-reaksi di atas bersifat eksotermik. Proses ini memiliki banyak keuntungan


seperti kalsium karbonat sebagai hasil samping yang dapat digunakan untuk produksi
semen, pupuk, proses ini juga tidak membutuhkan supply sulfur (Gowariker,dkk.,
2009). Larutan amonium sulfat dievaporasi dalam kondisi vakum, kemudian
dikristalisasi, disentrifuge dan dikeringkan (Cheremisinoff, 1995). Proses pembuatan
amonium sulfat dari gypsum sintetik (hasil unit FGD) menghasilkan konversi 83%
dan kemurnian hingga 99% (Chou, 1995).
2.4

Pemilihan Proses
Dari beberapa uraian proses pembuatan amonium sulfat

dirancang pabrik amonium sulfat dengan

diatas, maka akan

proses Merseburg. Adapun pertimbangannya

adalah:
1. Proses menggunakan bahan baku gypsum (Gypsum FGD) dari buangan PLTU batu bara
yang berharga murah.
2. Proses reaksi pada suhu dan tekanan rendah.
3. Proses ini sangat cocok untuk negara yang tidak memiliki supply sulfur alam, sehingga
gypsum baik dari alam yang ditambang langsung atau gypsum byproduct FGD dapat
digunakan sebagai bahan baku tanpa harus mengimpor dari luar.

2.5

Deskripsi Proses
Proses pembuatan amonium sulfat dari gypsum dan amonium karbonat

dilakukan dalam reaktor CSTR dengan volume besar dengan pertimbangan karena
reaksi ammonium sulphate memerlukan waktu reaksi yang lama. Salah satu metode
dalam memproduksi amonium sulfat adalah dengan mereaksikan amonium karbonat
dengan gypsum dengan reaksi sebagai berikut:
(NH4)2CO3 + CaSO4.2H2O

(NH 4) 2SO4 + CaCO3 + 2H2O

Reaksi ini dijalankan pada fase cair padat dan merupakan reaksi yang
irreversibel. Gypsum yang digunakan adalah gypsum hasil samping dari unit FGD.

Universitas Sumatera Utara

Konversi yang dicapai dari reaksi tersebut sebesar 83 % pada akhir reaksi dan
kemurnian amonium sulfat yang dihasilkan 99% (Chou, 1995).
Selain terdapat reaksi utama, juga terdapat reaksi samping yaitu :
(NH4)2CO3

NH3 + CO2 + H2O

Reaksi samping dapat terjadi karena dalam pembentukan (NH4)2CO3 sendiri


bersifat reversibel dan reaksi berlangsung eksotermis. Karena terjadi kenaikan suhu
maka reaksi dapat bergeser ke arah pereaktan. Gas gas hasil reaksi samping
ditangkap oleh fan dan selanjutnya dimasukkan ke scrubber.
Pada perancangan ini yang digunakan adalah proses gypsum (Merseburg
Process). Kondisi operasi adalah 65 700C dan tekanan 1 atm. Proses pengolahan
sampai produk akhir, melewati beberapa tahap utama yaitu :
1. Tahap Penyiapan Bahan Baku
2. Tahap Karbonasi
3. Tahap Reaksi
4. Tahap Scrubbing
5. Tahap Filtrasi
6. Tahap Netralisasi
7. Tahap Evaporasi
8. Tahap Kristalisasi
9. Tahap Drying

Tahap Penyiapan Bahan Baku


Bahan baku utama dalam proses ini adalah ammonia, karbondioksida dan

gypsum. Amonia yang digunakan merupakan amonia anhidrous, yang disimpan


dalam tangki pada kondisi cair tekanan 5,5 atm dan suhu 273,15 K. Bahan baku
karbon dioksida disimpan pada kondisi suhu 240,15 K dan tekanan 20,5 atm, dengan
kemurnian 99,9 % v/v. Amonia anhidrous dan karbon dioksida diperoleh dari pabrik
amonia. Sedangkan gypsum diambil dari unit FGD PLTU disimpan dalam gudang
penyimpanan.

Tahap karbonasi
Proses karbonasi dilakukan dengan mengalirkan karbon dioksida (CO2), amonia

(NH3) dalam air. Perbandingan amonia (NH3) dan karbon dioksida (CO2) adalah 2:1

Universitas Sumatera Utara

(mol/mol) dalam 1 liter air (H2O). Reaksi karbonasi ini bersifat eksotermik dan
reversibel. Suhu reaksi 44oC, waktu reaksi 1 jam, dan pH 9,1. Adapun reaksi
karbonasi ditunjukkan sebagai berikut:
2NH3 + CO2 + H2O

(NH4)2CO3

Reaksi di atas merupakan reaksi gas-cair yang terjadi dalam Carbonation Tower
yang berisi packing packing. Reaksi tersebut dilangsungkan pada suhu 44oC dan
tekanan 1 atm. Oleh karena kelarutan amonia (NH3) pada suhu tersebut kecil maka
NH3 dibuat exess. Reaksi dilangsungkan selama 1 jam dgn pH

berkisar 9,1.

Pengaturan pH sangat penting dilakukan untuk mengetahui batas reaksi selesai.


CO2 dan NH3 berada pada fase cair sebelum masuk ke Carbonation Tower
dikondisikan terlebih dahulu. Dari tangki penyimpanan dialirkan ke vaporizer sampai
semua komponen menguap lalu tekanannya diturunkan dengan ekspander. Suhu
masuk ke Carbonation Tower 44 oC.
Gas gas sisa yang tidak bereaksi dalam Carbonation Tower, ditangkap oleh fan
untuk selanjutnya diumpankan ke scrubber dan direaksikan dengan make up air
dan membentuk amonium karbonat encer.

Tahap reaksi
Reaksi dijalankan dalam reaktor CSTR dengan tekanan 1 atm dan suhu 70oC

untuk reaktor 1. (NH 4)2CO3 pekat dari Carbonation Tower dipompakan menuju
reaktor dan dicampurkan dengan slurry gypsum yang diangkut dari gudang dengan
belt conveyor dan diumpankan melalui feeder.
Reaksi :
(NH4)2CO3 + CaSO4.2H2O

(NH 4)2 SO4 + CaCO3 + 2H2O

Reaksi pada reaktor dengan konversi yang dihasilkan sebesar 83%. Temperatur
dijaga sebesar 70oC. (NH4)2CO 3 akan dibuat excess ke dalam reaktor (120%) (Abbas,
2011). Gas gas hasil peruraian yang berupa ammonia, karbondioksida dan uap air
pada reaktor ditangkap oleh fan dan diumpankan ke scrubber. Berikut ini merupakan
reaksi samping yang terjadi pada pembentukan amonium sulfat yaitu :
(NH4)2CO3

2NH3 + CO2 + H2O

Universitas Sumatera Utara

Tahap scrubbing
Pada tahap ini terjadi penyerapan gas gas sisa yang tidak bereaksi dari unit

karbonasi dan unit reaksi yang berupa ammonia, karbondioksida dan uap air. Gas
gas sisa ini ditangkap oleh fan dan selanjutnya dimasukkan ke scrubber yang berisi
packing packing tempat terjadinya reaksi cair-gas. Air yang digunakan berasal dari
make-up water. Reaksinya adalah sebagai berikut :
2NH3 + CO2 + H2O

(NH 4)2CO3

Gas gas sisa dari reaktor masuk pada suhu 44oC dan gas sisa dari Carbonation
tower masuk pada suhu 440C. Air yang digunakan untuk make up masuk pada
suhu 300C.
Reaksi berlangsung pada suhu 44oC dan tekanan 1 atm. Amonium karbonat yang
dihasilkan berupa amonium karbonat encer yang kemudian dipompakan menuju
carbonation tower sebagai umpan.

Tahap filtrasi
Pada tahap ini terjadi penyaringan slurry yang terbentuk pada seksi reaksi

dengan menggunakan Rotary Drum Vacum Filter. Slurry yang terbentuk di


reaktor dipompakan menuju filter. Hasil filtrasi berupa filtrat yang terdiri dari larutan
(NH4)2SO4 dan sisa (NH4)2 CO3. Sedangkan cake berupa CaCO3 dan sisa gypsum.
Suhu keluar filtrasi sebesar 70C.

Tahap netralisasi
Pada tahap ini terjadi reaksi netralisasi antara amonium karbonat yang tidak

bereaksi pada reaktor dengan asam sulfat sehingga membentuk amonium sulfat
tambahan. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
(NH4)2CO3 + H2SO4

(NH4)2SO 4 + H2O + CO2

Asam sulfat yang digunakan dengan kadar 98 % masuk pada suhu 65oC. Reaksi
terjadi pada tekanan 1 atm dan suhu 65oC. Hasil reaksi yang berupa karbondioksida
dibuang langsung ke udara.

Tahap evaporasi
Pada tahap evaporasi terjadi pemekatan larutan amonium sulfat. Evaporator

bekerja pada kondisi vakum tekanan 0,57 bar dan suhu 85oC. Sebagai tenaga

Universitas Sumatera Utara

pemanas digunakan steam. Air yang menguap ditangkap oleh barometric condensor.
Alasan digunakannya sistem vakum yaitu karena pada suhu tinggi senyawa sulfat
pada amonium sulfat akan terdekomposisi menjadi sulfit. Larutan pekat keluar pada
suhu 85oC.

Tahap kristalisasi
Crystalizer beroperasi pada suhu 65 oC dan tekanan 0,57 bar. Larutan jenuh

yang berasal dari evaporator didinginkan secara tiba-tiba dengan air pendingin. Uap
air dialirkan menuju barometric condenser. Suspensi kristal masuk ke centrifuge
dimana kristal dipisahkan dari mother liquor. Kristal basah masuk ke dryer dan
mother liquor dialirkan kembali ke netralizer pada suhu 65oC.

Tahap Pengeringan
Kristal basah dari centrifuge dengan kandungan air 5% diangkut oleh screw

conveyor untuk dimasukkan ke dryer. Dryer yang digunakan adalah jenis rotary
dryer. Proses pengeringan dilangsungkan pada suhu 100oC (Gowariker, dkk., 2009).
Sebagai tenaga pemanas adalah udara panas dan kering yang dipanaskan dengan
menggunakan saturated steam dari unit utilitas. Kristal kering dengan kadar air tidak
lebih dari 1 % (BSN, 2012) dan bebas dari asam bebas keluar dari rotary drier
kemudian dimasukkan ke feed bin dengan menggunakan belt elevator. Produk
selanjutnya siap dikirim ke bagian penyimpanan atau didistribusikan.

Universitas Sumatera Utara

Saturated steam

TK-101
TK-102
G-101
AB-101
AB-102
M-101
E-101
E-102
D-101
D-102
E-103
P-101
P-102
P-103
JB-101
C-101
C-102
SC-101
BE-101
FB-101
TK-201
R-201
R-202
JB-201
JB-202
EV-201
FL-201
E-201
E-202
E-203
E-204
P-201
P-202
P-203
P-204
P-205
CR-301
E-301
CF-301
RD-301
P-301
P-302
SC-301
BE-301
FB-301
BC-301
G-301

Air Pendingin, 30 C

Air Proses, 30oC

Udara
13

24
1

Gypsum FGD

FB-101
15

G-101

20

TC
21
LI

SC-101
BE-101

D-102

TC

P-101

M-101

TC

16

FC

PC

FC

11

17

CO2

FC
TC

FC

FC

FC

TC

JB-101

E-202

29
E-204

E-301
35

TC

TC
8

BE-301

TC
EV-201

FL-201

19
TC

D-101

12

27

FC

FC

14

37

FC

31

FC

23

34

Pengemasan
BC-301

P-301

AB-102

AB-101

RD-301

28

FC

FC

10

E-101

R
D

CR-301

R-202

R-201
C-101

TC

FB-301

CF-301
SC-301

P-102
NH3

TC

36

TC

TK-102

PC

33

PC

JB-201

E-102

TC

PC

JB-202
PC

TC
C-102
2

PC

PC

E-203

22

26

P-202

FC

P-204

P-203

FC
30

TK-101

G-301

FC

32

TC

H2SO4
18

FC

P-102

25

P-205

P-302

TC
FC

LI

E-103

P-103

E-201
TK-201

P-201

=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

Keterangan Gambar
Tangki amonia (NH3)
Tangki karbon dioksida (CO2)
Gudang Gypsum FGD
Absorber
Absorber
Tangki pengenceran Gypsum FGD
Vaporizer amonia
Vaporizer (CO2)
Drum
Drum
Heater amonium karbonat
Pompa rotary
Pompa sentrifugal
Pompa sentrifugal
Blower
Ekspander
Ekspander
Screw conveyor
Bucket Elevator
Feed Bin
Tangki asam sulfat (H2SO4)
Reaktor
Reaktor netralisasi
Blower
Blower
Evaporator
Rotary Vakum Filter
heater
Cooler
Cooler
Barometic Condenser
Pompa sentrifugal
Pompa sentrifugal
Pompa sentrifugal
Pompa sentrifugal
Pompa sentrifugal
Cristaliser
Barometic Condenser
Sentrifuge
Rotary Dryer
Pompa sentrifugal
Pompa sentrifugal
Screw conveyor
Bucket Elevator
Feed Bin
Belt conveyor
Gudang amonium sulfat

CaCO3

Kondensat bekas

Air Pendingin bekas

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
DIAGRAM ALIR PABRIK
PRA RANCANGAN PABRIK PEMBUATAN PUPUK AMONIUM SULFAT DARI GYPSUM SINTETIK HASIL
PENGOLAHAN UNIT FLUE GAS DESULFURIZATION PLTU
DENGAN KAPASITAS 30000 TON/TAHUN

Skala : Tanpa Skala


Digambar
Diperiksa /
Disetujui

Komponen
NH3 (Amonia)
H2O (Air)
CO2 (Karbon dioksida)
(NH4)2CO3 (Amonium karbonat)
CaSO4.2H2O (FGD Gypsum)
(NH4)2SO4 (Amonium sulfat) (s)
(NH4)2SO4 (Amonium sulfat) (l)
CaCO3 (Kalsium karbonat)
H2SO4 (Asam sulfat)
Total (kg/jam)
Tekanan (atm)
Temperatur (K)

3
980.652
0.928
4.903
926.980

6
7
8
9
10
11
12
13
14
1222.119
1222.119 241.467
985.580
15.202
1.856
9.856
1.856
0.928
9.856
4.928
1404.074
1158.030
1158.030 231.049
927.908
1262.352

15

16

17
29.635

5797.527 1404.074

18

19

20

21
10.126

5398.943 107.505 129.487


25.247

4472.236
1.00
303.15

4472.236

744.897
927.908 985.555 760.099 1159.885 1231.974 1159.885 231.977 1231.974 246.395 927.908 985.580 1404.074 1262.352
20.50
5.50
1.00
20.50
5.50
20.50
20.50
5.50
5.50
5.50
5.50
1.00
1.00
240.15 273.15 303.15
240.15
273.15
319.15 319.15
319.15 319.15 319.15 319.15
303.15
317.15

5797.527 5876.310
1.00
1.00
303.15
343.15

23

24

7568.284 2808.226

25

54.882 8215.319 224.743 129.487 10.126


1.00
1.00
1.00
1.00
1.00
317.15
317.15 317.15 303.15 317.15

26

518.826

28.487
2816.376 117.238

4472.236

22
22.013

27

28

29

30

Nama
NIM

Tanggal

Tanda Tangan

: Krisma Yessi Sianturi


: 070405004

1. Nama : Dr. Ir. Iriany, MSi


NIP : 196406131990032001
2. Nama : Ir. Renita Manurung, MT
NIP : 196812141997022002

31

32

33

34

35

36

9857.685 10009.704 6074.762 3934.942 48718.379 44783.437 2786.649 45931.730 1148.293 1110.414

37
37.879

334.444
744.587
871.639

14.892
871.639

729.695

2763.249
2093.370

16.579
2093.370

2746.669

3750.000

3750.000 44169.922 40419.922

3750.000 3750.000
40419.922

3750.000

50.500 14041.129 2808.226 3515.306 334.444 13334.049 13759.704 6074.762 7684.942 92888.301 85203.359 2786.649 90101.652 4898.293 1110.414 3787.879
1.00
1.00
1.00
1.00
1.00
1.00
1.00
0.56
0.56
1.00
1.00
0.56
0.56
1.00
1.00
1.00
343.15
343.15
303.15
334.27 338.15
334.27
338.15
358.15
358.15
348.15
338.15
338.15
338.15
338.15
373.15
373.15

Universitas Sumatera Utara