Anda di halaman 1dari 5

I.

PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Tingkatan trofik adalah tingkatan atau level yang didalamnya terdapat organismeorganisme yang memiliki peran yang sama dalam tingkat makan memakan.
Menurut Yang

(1982), tingkatan trofik (Throphic Level) pada ikan dapat

dideskripsikan dengan tingkatan konsumsi dan produktivitas mereka dan


membentuk suatu bagian penting dari jaring makanan (Food Web) dalam suatu
ekosistem. Studi tingkatan trofik ikan didasari dari analisa tingkatan trofik ikan
menggunakan studi tentang kebiasaan makan mereka.
Throphic Level menunjukkan posisi organisme di dalam jaring makanan di
ekosistem dan aktivitas anhtrophogenic yang akan menghasilkan variasi Throphic
Level. Oleh karena itu, studi TL tidak hanya mencerminkan hubungan trofik pada
jaring makanan di laut tetapi juga penting sebagai suatu evaluasi dan indeks
monitoring dinamika ekosistem, biodivesitas , status perikanan dan manajemen
(Pauly, et.al., 2001)
Pentingnya mempelajari Trofik level dalam bidang perikanan adalah untuk
mengetahui distribusi biomas berdasarkan trofik level sebagai indicator ekosistem
dan pengkajistok ikan dalam suatu ekosistem.
b. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini diantaranya adalah sebagai berikut :
1.

Mengetahui konsep dasar trofik level pada perairan

2.

Mengetahui tingkatan atau posisi organisme perairan dalam rantai makanan.

II. PEMBAHASAN

Ekosistem perairan alami, trofik level dimulai oleh produser. Produser adalah
organisme autotrop yang mampu mensintesa bahan organik yang berasal dari
bahan anorganik melalui proses fotosintesis dengan bantuan cahaya matahari.
Produser utama pada ekosistem perairan adalah fitoplankton. Fitoplankton adalah
tumbuhan renik yang memiliki produktivitas tinggi dan menempati dasar dari
suatu piramida makanan di laut.Menurut Barus (2004) Fitoplankton adalah
organisme plankton yang bersifat tumbuhan, sedangkan plankton sendiri menurut
Soegianto (2004) dalam Afihandarin (2011)adalah sebuah kata dari bahasa
Yunani yang artinya mengembara kemudian plankton digunakan untuk
mendefinisikan semua organisme air yang geraknya lebih dipengaruhi oleh
pergerakan air daripada kemampuan berenangnya. Hal tersebut diperkuat oleh
Nybakken (1982) dalam Affihandarin (2011) bahwa, kemampuan berenang
organisme

planktonik

demikian

lemah

sehingga

pergerakannya

sangat

dipengaruhi oleh pergerakan air.


Sebagai organisme autotrop, fitoplankton berperan sebagai produser primer yang
mampu mentransfer energi cahaya menjadi energi kimia berupa bahan organik
pada selnya yang dapat dimanfaatkan oleh organisme lain pada tingkat tropis
diatasnya. Fitoplankton merupakan produser terbesar pada ekosistem laut.
Ekosistem akuatik sebagian besar produktivitas primer dilakukan oleh
fitoplankton (Parsons dkk, 1984). Steeman-Nielsen (1975) menyatakan bahwa
kurang lebih 95% produksi primer di laut berasal dari fitoplankton.
Pada tingkat tropik terbawah dimana terjadi proses fotosintesis oleh organisme
autotrop di hasilkan produksi primer. Sedangkan seluruh produksi pada tingkat
konsumer

merupkan

produksi

sekunder.

Odum

(1983),

mendefinisikan

produktivitas primer suatu sistem ekologi sebagai laju penyimpanan energi radiasi
melalui aktivitas fotosintesis dari produser atau organisme (terutama tumbuhan
hijau) dalam bentuk bahan organik yang dapat digunakan sebagai bahan pakan.
Untuk menghasilkan produksi primer, produser melakukan fotosintesis dengan
bantuan cahaya matahari yang ditangkap oleh pigmen-pigmen fotosintesis.
Fotosintesis adalah proses fisiologis dasar yang penting bagi nutrisi tanaman.

Persamaan umum proses fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan hijau adalah
sbb:
6CO2 + 6 H2O +cahaya C6H12O6+ 6 O2
Persamaan ini menunjukkan bahwa proses tersebut adalah sebuah reaksi reduksioksidasi. CO2 direduksi dan H2O dioksidasi (Forti, 1969).
Produktivitas primer akan menentukan jumlah produktivitas sekunder. Apabila
produksi sekunder adalah produksi yang dihasilkan pada tingkat konsumer, maka
produktivitas sekunder sebenarnya meliputi banyak organisme pada tingkat
konsumer yang merupakan hewan atau organisme karnivora.
Sebagai produser primer, fitoplankton memduduki tingkatan terbawah pada
piramida makanan, artinya fitoplankton lah yang mendukung seluruh kehidupan
di laut ataupun perairan. Dengan kata lain fitoplankton menduduki tropik level
paling rendah dan berperan mentransfer energi matahari dan mendistribusikan
energi tersebut pada organisme laut melaui rantai makanan. Apabila dilihat bentuk
piramida makanan maka bisa diartikan bahwa semakin ke atas ukuran individu
bertambah sedangkan jumlah individu menurun. Sebaliknya jumlah fitoplankton
jauh lebih besar dibanding zooplankton dan ikan, tetapi ukurannya jauh lebih
kecil.
Menurut Nontji (2008), dilihat dari urutan tingkat trofiknya (Throphic Level),
maka fitoplankton sebagai produsen primer dianggap sebagai tingkat trofik I,
zooplankton pemakan herbivor pemakan fitoplankton sebagai tingkat trofik II,
karnivor pemakan herbivor sebagai tingkat trofik III, dan seterusnya. Dalam
ekosistem laut, tingkat trofik yang ada hanya sampai tingkat V atau IV. Pada
umumnya, dari trofik tingkat rendah menuju tingkat yang lebih tinggi, ukuran
biotanya semakin membesar tetapi biomassa pada trofik itu semakin mengecil.
Pada trofik level ke tiga diduduki oleh ikan karnivor atau pemakan herbivor. Ikan
ini mendapatkan suplai energi makanan dari zooplankton dan ikan herbivor yang
ukurannya lebih kecil. Di laut contoh ikanya adalah ikan kerapu dan ikan kakap.
Pada trovik level teratas diduduki oleh ikan karnivor berukuran besar, yang
memakan ikan herbivor dan karnivor yang berukuran lebih kecil. Contohnya
adalah ikan hiu.

Di laut terjadi transfer energi antar organisme pada tingkatan tropik yang berbeda
dengan demikian terjadi proses produksi. Hirarki proses produksi membentuk
sebuah rantai yang dikenal dengan rantai makanan. Ada dua kelompok rantai
makanan yang ada di ekosistem laut yaitu rantai makanan grazing (grazing food
chain) dan rantai makanan detrital (detritus food chain). Kedua jenis rantai
makanan tersebut saling melengkapi dan membentuk sebuah siklus yang kontinus.
Rantai makanan grazing dimulai dari proses transfer makanan pertama kali oleh
organisme herbivora melalui proses grazing. Makanan pertama itu berupa
fitoplankton dan herbivor yang memanfatkan fitoplankton adalah zooplankton.
Mata rantai pertama pada rantai makanan ini adalah fitoplankton yang merupakan
sumber pertama bagi seluruh kehidupan di laut. Ujung dari rantai makanan ini
adalah konsumer tingkat tinggi (seperti ikan dan konsumer lainnya) yang apabila
mengalami kematian akan menjadi detritus pada ekosistem laut.
Detritus inilah yang menjadi awal pembentukan rantai makanan detrital yang
banyak dilakukan olehorganisme pengurai atau dekomposer. Hasil dari proses
dekomposisi yang dilakukan dekomposer adalah terbentuknya bahan anorganik
maupun organik. Bahan anorganik akan dimanfaatkan oleh organisme autotrop
seperti fitoplankton sedangkan bahan organik dapat dimanfaatkan langsung oleh
beberapa organisme pemakan detritus (detritus feeder). Pada tiap tingkat tropik
ada produksi (Sunarto, 2008).

III. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah:


1. Tingkat Trofik adalah tingkatan atau level yang di dalamnya terdapat organismorganisme yang memiliki peran yang sama dalam tingkat makan memakan
2. Pada trofik level, produsen yang berupa fitoplankton menduduki trofik terndah
atau pertama, dan sebagai awal sumber energi makanan.
3. Trofik kedua dihuni oleh konsumen tingkat satu yang memakan produsen,
trofik kedua ini berupa zooplankton dan ikan herbivor.

4. Trofik ketiga dihuni oleh konsumen tingkat dua yang memakan zooplankton
dan ikan herbivor yang ukurannya lebih kecil, tofik ketiga ini berupa ikan
karnivor berukuran kecil.
5. Trofik ke empat atau teratas dihuni oleh konsumen tingkat tiga yang memakan
konsumen tingkat dua. Trofik ke empat ini berupa ikan karnivor besar seperti hiu.