Anda di halaman 1dari 141

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertumbuhan penduduk yang pesat, menimbulkan peningkatan terhadap
kebutuhan masyarakat dan dibarengi oleh perkembangan teknologi menjadikan suatu
tantangan yang ada dalam rangka peningkatan dan pengembanngan sumber daya
manusia di segala bidang pada umumnya dan pada bidang perekonomian pada
khususnya.
Wilayah Kabupaten Buton Utara merupakan bagian dari wilayah Propinsi
Sulawesi Tenggara dan diakui secara administratif. Wilayah Kabupaten Buton Utara
terdiri atas dua bagian penting. Wilayah pertama yaitu daerah pedalaman yang kaya
akan hasil alam yang berupa hasil pertanian, perkebunan, industri dan bahan baku,
sedangkan bagian kedua yaitu wilayah pesisir dan pantainya yang kaya akan hasil laut
yang beberapa jenis ikan dan rumput laut, serta didukung oleh pelabuhan yang sangat
strategis. Pelabuhan lautnya digunakan sebagai sentral keluar masuknya barang dan
jasa. Untuk mendukung dari kedua kegiatan tersebut maka perlu adanya tempat yang
dapat mewadahi kegiatan ini yaitu dengan adanya pasar.
Perencanaan dalam suatu kawasan/wilayah sangatlah penting. Pasar merupakan
sarana atau tempat interaksi antara penjual dan pembeli dalam menawarkan barang
dan jasa. Pasar pula merupakan salah satu komponen pendukung dari sebuah kota.

Pasar memegang peran penting dalam pertumbuhan ekonomi dan peningkatan taraf
hidup masyarakat.
Upaya peningkatan aktifitas dalam pasar sangat dibutuhkan, agar kegiatan jual
beli dapat berjalan dengan baik. Kegiatan ini harus pula didukung dengan konsep yang
baik dalam penataannya. Pasar sentral modern ini lebih ditekankan pada bentuk
bangunan yeng direncanakan, sedangkan aktifitas jual belinya masih terjadi interaksi
tawar menawar antara pembeli dan penjual dengan perantara uang sebagai alat
pembayaran. Penyediaan wadah/bangunan pasar sentral modern yang lebih
dprioritaskan guna meningkatkan aktifitas jual beli.
Sektor penjualan yang merupakan kerangka dasar dalam pengembangan dunia
perekonomian bangsa karena memberikan konstribusi timbal balik yang besar baik
kepada masyarakat maupun kepada pemerintah. Oleh sebab itu maka pemerintah
mencanangkan program pembangunan pasar sentral modern di setiap provinsi/daerah.
Kecamatan Wakorut adalah Kecamatan dari Kota Kabupaten Buton Utara dan
merupakan pusat dari pada perekonomian kabupaten, di mana pada saat sekarang ini
pemerintahanya sedang menjalankan program pengembangan ekonomi pada usahausaha kecil dan menengah.
Untuk menjawab permasalahan di atas maka penulis mencoba membrikan
solusi dengan tujuan dapat membantu pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan
program dan usaha mereka, dengan mengangkat judul Perencanaan Pasar Sentral
Modern di Kecamatan Wakorut Kabupaten Buton Utara.
B. Rumusan Masalah
2

Pasar sentral merupakan salah satu penunjang kebutuhan masyarakat untuk


mempertemukan penjual dan pembeli. Di Kecamatan Wakorut belum memiliki pasar
sentral yang mewadahi semua aktifitas tersebut. Adapun permasalahan latar belakang
diatas, maka masalah yang akan dibahas dalam penulisan ini adalah sebagai berikut:
1.

Bagaimana menciptakan pasar sentral Modern yang biasa mewadahi semua


aktifitas dan kebutuhan di Kecamatan Wakorut dimasa depan.

2.

Bagaimana menentukan lokasi dan tapak yang tepat bagi peruntukan gedung
sebuah pasar sentral modern yang sesuai Rencana Umum Tata Ruang Kota Buton
Utara?

3.

Bagaimana merencanakan gambar bestek bangunan?

4.

Bagaimana menyusun RAB dan RKS?

C. Lingkup Pembahasan Dan Batasan Masalah


1.

Lingkup Pembahasan
Lingkup pembahasan dalam penulisan ini lebih dititik beratkan kepada
disiplin ilmu Arsitektur, terutama yang menyangkut dengan bangunan modern
yang akan direncanakan. Sedangkan hal-hal lain yang jauh atau diluar dari disiplin
ilmu yang dimaksud apabila dianggap penting dalam perencanaan akan dibahas
sesuai dengan permasalahanya.

2. Batasan Masalah
3

Mengingat luasnya lingkup pembahasan maka perlu batasan masalah


yakni pada perencanaan Pasar Sentral modern Kecamatan Wakorut Kabupaten
Buton Utara yakni terbatas pada desain fisik bangunan dan desain yang dikaitkan
dengan fungsi dan kegunaan suatu perancangan.

D. Tujuan Dan Sasaran Pembahasan


1.

Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembahasan ini yaitu untuk menyusun landasan konseptual
dalam perencanaan fisik yang diarahkan sebagai acuan perancangan dan untuk
mendapatkan faktor-faktor penentu serta persyaratan-persyaratan yang dibutuhkan
dalam perencanaan suatu gedung pelayanan jasa dan komersial, serta keinginan
untuk menghadirkan wadah baru untuk mengakomodasikan kegiatan perdagangan
dan komersial yang mengarah pada pertumbuhan perekonomian suatu daerah
dikawasan Kecamatan Buton Utara. Dengan adanya Pusat Perdagangan dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat untuk pengadaan fasilitas hiburan yang
menawarkan kemudahan, kenyamanan dan keluasan dalam menikmati sajian
hiburan dan menunjang peran Kecamatan Wakorut Kabupaten Buton Utara.
Pengadaan Pasar Sentral modern di Kecamatan Wakorut kemungkinan
cukup signifikan dimana kita dapat melihat berbagai aspek pertimbangan seperti
sosial ekonomi, kepadatan penduduk dalam hal ini jumlah masyarakat semakin
meningkat ditiap tahunnya dan animo masyarakat terhadap kebutuhan yang lebih
lengkap.
4

2. Sasaran Pembahasan
Sasaran perancangan Pasar Sentral modern yaitu mengarah pada fungsi
bangunan tersebut dimana sebagai wadah perbelanjaan serta sebagai faktor
pendukung dalam memepercepat pertumbuhan wilayah kota dan sebagai symbol
fisik dalam mendukung perekonomian di wilayah Kabupaten Buton Utara.
E. Metode dan Sistematika Penulisan
1. Metode Pembahasan
a.

Pengumpulan data-data melalui studi perbandingan dan wawancara langsung


dilapangan dengan pihak-pihak yang berkepentingan sebagai bahan
perbandingan yang digunakan untuk mendapatkan keterkaitan dengan
masalah yang akan diaplikasikan dalam perencanaan fisik bangunan.

b.

Studi literatur yang menyangkut masalah perencanaan dan perancangan suatu


pasar Sentral modern Kota sebagai pedoman dalam menyusun acuan
perencanaan yang didasarkan pada literatur yang dikembangkan dari berbagai
buku atau skripsi dan bahan bacaan lainya.

c.

Pengamatan langsung dilapangan terdiri dari studi banding terhadap objekobjek yang telah ada dan pengamatan objek perencanaan. Pengamatan
dilapangan bertujuan untuk memperoleh kawasan yang dijadikan lokasi
perencanaan yang baik dan sesuai dengan anallisa rancangan.

2. Sistematika Penulisan

Untuk mencapai sasaran pembahasan, maka sistematika penulisan


dilakukan dengan pendekatan terhadap beberapa masalah pokok, yaitu :
BAB I PENDAHULUAN
Membahas penjelasan secara umum tentang penulisan yang menguraikan hal-hal
yang melatarbelakangi penulisan, rumusan masalah, tujuan dan sasaran
pembahasan, lingkup pembahasan

dan batasan masalah, serta metode dan

sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
PASAR SENTRAL KOTA
Mengemukakan pengertian yang terkait dengan judul, serta membahas studi kasus
yang terkait dengan judul dan kemudian disimpulkan.
BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI
Membahas tentang tujuan khusus Buton Utara yang mencakup kondisi wilayah,
Rencana Tata Ruang Kota dan perkembangan penduduk, serta Potensi Kecamatan
Wakorut dalam perencanaan dan perancangan Pasar Sentral dan tinjauan lokasi
tapak bangunan yang akan didirikan.

BAB IV ACUAN PERANCANGAN PASAR SENTRAL KOTA


Membahas tentang konsep perancangan bangunan, gubahan masa bangunan,
Zoning dan organisasi ruang, serta sirkulasi dan utilitas.
6

BAB V PENUTUP
Berisikan kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Arsitektur Modern
7

Sesudah perang dunia ke II perkembangan jumlah penduduk, budaya dan


teknologi sangat cepat, demikian pula perkembangan arsitektur modern yang
merupakan ungkapan fisik dari budaya. Pola pikir dan pola hidup suatu masyarakat.
Tokoh- tokoh arsitektur modern seperti Frank Lioyd Wright, Le Corbuiser, Mies Van
der Rohe, Alvar Alto, Kenzo Tange, merupakan pelopor arsitektur modern. Mies masih
konsisten dengan konsep minimalism, menggunakan konstruksi baja dan kaca untuk
bidang, pintu dan jendela. Sementara itu Le Corbuiser cenderung merancang dalam
bentuk-bentuk Sculptura yang sensasional, yang menerapkan konsep lima butir dalam
arsitektur baru dan matahari baru, Wright masih sangat produktif berkarya dengan
gaya arsitektur yang spektakuler.
Kemudian arsitektur modern berkembang lebih jauh lagi dipelopori oleh para
arsitek generasi berikut, teutama yang pernah menjadi murid dari tokoh-tokoh
arsitektur modern pada masa sebelumnya. Teknologi konstruksi, bahan bangunan dan
kebutuhan akan fasilitas ruang atau arsitektur dari masyarakat yang secara kualitas dan
kuantitas semakin meningkat membuat perkembangan arsitektur modern semakin
kompleks.

1.

Le Corbuser
Le Corbuser berkonsentrasi pada masalah-masalah perumahan dan
perkantoran. Adapun konsep-konsep yang diterapkan adalah:
a. Unite dhabitation yakni pemukiman dalam sebuah unit tunggal yang
mendapat inspirasi dari system perumahan dengan penggunaan lahan yang
luas.

b.

Penerapan konsep Ville Randiuese (kota bersinar ) yakni seluruh bangunan

c.

mendapar sinar matahari dan aliran udara alami secara ideal.


Konsep Le Modular (sistem Modul) adalah pengambilan standar dari ukuran

d.

harmoni kebagian-bagian dari susunan kontras ditiap-tiap unit elamennya.


Pengangkatan unit dari atas tanah dengan kolom dan atap serta teras yang
datar dengan ukuran yang cukup luas.

adapun cirri-ciri yang disajikan adalah :


a. Penggunaan kolom yang terbentuk dari kolom-kolom dan lantai kosong.
b. Penggunaan bidang horizontal dan vertikal pada permukaan bentuk salah satu
hasil karyanya adalah kota Candigarah di India.

2.

Frank Lioyd Wright


Dalam menghasilkan karya arsitektur modern Wright menerapkan
beberapa ciri sebagai berikut :
a.
b.

Mengutamakan pemusatan terhadap ruang.


Penonjolan bentuk-bentuk hasil karyanya kearah luar dengan bentuk

c.

melingkar.
Penampialan tanpa tekstur tetapi rata dan halus mengambil ide kelembutan

d.

kulit manusia.
Menggunakan konsep arsitektur organik dimana ruang dan bentuk terpadu.
9

e.

Karya-karyanya tampil dalam bentuk yang dihasilkan dari prinsip. Prinsip


Wright yakni arsitektur merupakan penghubung antara manusia dengan
lingkunganya.

3.

Hugo Alvar Henrik Alto


Beliau dalam konsep medernnya menitik beratkan pada:
a. Penggunaan bata eksposed.
b. Penonjolan elemen struktur (kolom, balok dan lain-lain).
c. Bentuk bangunan aneh tapi juga praktis yang mengacu pada fungsi dan
d.

kebutuhan ruang sesuai dengan kegiatannya.


Kesederhanaan bentuk tanpa ornamen maupun penonjolan elemen-elemen
bangunan.

4.

Eero Saarinen
Konsep modern yang beliau terapkan adalah:
a. From follow function, yakni pengacuan terhadap fungsi, ruang dan bengunan,
b.
c.
d.

tanpa hiasan atau elemen lain yang tidak fungsional.


Penggunaan beton bertulang.
Peniruan kerang atau telur.
Arsitektur scuptualisme disebabkan karena bentuknya yang aneh, unik dan
plastis.

5.

Ludwing Mies van der Rohe


Karya Mies van der Rohe mempunyai cirri sebagai berikut:
a. Ekspresif, yaitu dengan kesederhanaan yang komposisi bidang dan garis-garis
b.
c.

6.

Lucio Costa Oscar Niemeyer


Konsep yang mereka terapkan adalah:
a. Karya-karya mereka banyak dipengaruhi oleh Le Corbusier.
b. Bentuk yang mereka sajikan memberikan kesan melayang ringan dari lantai
c.

7.

lurus dan vertikal dari elemen-elemen fungsional atau struktural.


Menggunakan konsep arsitektur dengan konstruksi baja.
Penggunaan dinding kaca dalam komposisi diagonal.

yang diangkat.
Pemberian garis-garis diagonal dan horizontal ditunjang oleh kontruksi beton

yang eksposed.
Pier Luigi Nervi
10

a.

Ciri dominan yang ditampilkan adalah:


Menampilkan kesatuan antara bentuk, konstruksi, struktur dan bahan

b.

bangunan.
Memberikan perhatian besar pada studi mengenai bentuk atap dalam suatu
sistem jaringan dengan melakukan penelitian yang mendalam yang bertujuan
untuk dapat membentuk suatu unit yang tidak lebar, dengan seluruh
permukaan sisi luar dapat terbuka.

8.

Louis I. Khan
Louis I. Khan menggunakan konsep medernnya dengan:
a. Menggunakan struktur kolom dan atap datar dari beton bertulang dengan
b.

9.

sistem struktur ruang dimana balok dan lantai menyatu.


Penggunaan balok-balok vertikal dari dinding bata eksposed massif.

Ieoh Ming Pei


Hasil karya I. M. Pei banyak dipengaruhi oleh:
a. Arsitektur kubisme dengan rancangan gedung yang tinggi yang sangat banyak
mendapat pengaruh bentuk-bentuk fungsionalisme dari Mies van der Rohe.
b. Mengacu pada kesederhanaan betuk.

c.

Penggunaan sistem struktur ruang dan penggunaan konstruksi beton eksposed


yang bentuk-bentuknya skluptur, abstrak dan monumental.

10. Kenzo Tange


Konsep yang diterapkan adalah:
a. Mengadakan pengolahan elemen konstruksi sehingga menjadi elemen
b.

dekorasi.
Karya-karyanya dipengaruhi oleh arsitektur internasional style, kubisme dan
fungsionalisme.

B. Tinjauan Umum Pasar


1. Pengertian
a. Pasar
11

Pasar berasal dari bahasa jawa yaitu paken yang artinya kumpul karena
mapeken berarti berkumpul.
1) Pasar adalah sebuah tempat bertemunya penjual dan pembeli yang melayani
transaksi jual beli.
2) Pasar merupakan tempat orang menjual dan membeli.
3) Pasar merupakan tempat untuk melakukan aktifitas jual.
4) Pasar merupakan tempat penjual dan pembeli bertemu dalam arti abstrak,
berarti segala faktor yang menentukan tinggi rendahnya harga.
5) Pasar adalah suatu wadah yang menampung kegiatan perdagangan.
6) Pasar adalah lapangan tetentu dengan bangunan disediakan oleh pemerintah
daerah atas ijin Bupati, Kepala Daerah, dan digunakan untuk tempat
berudaha atau jual beli.
7) Pasar adalah suatu peralatan yang sebagian beratap dan sebagian terbuka,
seluruhnya beratap atau seluruhnya terbuka, yang disediakan tempat bagi
pedagang-pedagang

untuk

secara

memperdagangkan barang dan jasa.


Jadi pasar adalah sebuah tempat

teratur

dan

secara

langsung

berkumpulnya komunitas untuk

melakukan transaksi jual beli dengan atau tanpa perantara.


Pasar merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia
yang merupakan urat nadi perekonomian suatu komunitas. Hampir disetiap desa
memiliki pasar sebagai tempat pertemuan antara produsen, penjual dan pembeli.
Petani debagai salah satu produsen hasil pertanian menjual hasil
panennya yang kemundian dijual kepada pembeli sebagai konsumen. Sehingga
fungsi ekonomi pasar terjadi pada saat jual beli dan fungsi sosial pasar terjadi
pada saat tawar manawar.
Menurut Brian Berry, Pasar adalah suatu tempat dimana terjadi proses
tukar menukar. Proses ini dapat berlangsung jika sejumlah penjual dan pembeli
berkomunikasi satu sama lain, berakhir dengan keputusan untuk memindah
tangankan barang-barang yang diperjual belikan tersebut kepada pembeli.
12

Alice G.Dewey Dalam bukunya Piesan Marketing in Java, menjelaskan


tentang perkembangan pasar dimana menurutnya bahwa perkembangan pasar,
mula-mula berasal dari pertukaran barang antara pihak yang saling
membutuhakan disuatu tempat tertentu dan pada waktu tetentu pula.

b. Sentral
Merupakan sebuah wadah /tempat berlangsungnya kegiatan jual beli
antara pedagang /penjual yang menawarkan barang dagangannya kepada
konsumen, yang karena fungsi, kedudukan dan penyediaan materi dagangan
dalam skala besar, sehingga merupakan pasar sentral (pusat).
c. Modern
Merupakan cara baru, secara baru, model baru, kreasi baru dan
mutakhir. Jadi pasar sentral dengan konsep modern adalah perencanaan pusat
perbelanjaan atau transaksi jual beli dan ditempatkan pada pusat pelayanan
aktifitas masyarakat, yang dilaksanakan dalam satu wadah yang dapat
menampung seluruh aktifitas dengan pengaturan atau penataan yang sifatnya
modern atau baru.
2. Jenis-Jenis Pasar

Secara garis besa pasar dapat dibedakan atas :


a. Pasar tradisisional

13

Menurut A.Bagus P. Wiryo manto pasar tradisional adalah: suatu


kejadian yang berlangsung secara periodik dimana yang menjadi sentral adalah
interaksi sosial dan ekonomi dalam satu peristiwa .
Pasar tradisional adalah pasar yang basis kelembagaannya merupakan
cikal bakal dari sebuah proses evolusi panjang yang tumbuh dari dinamika
ekonomi masyarakat secara historis tumbuh dari perpaduan kebutuhan
kebutuhan konsumen yang bersifat masal, statusnya kini dimiliki oleh
masyarakat setempat, pemerintah daerah, meskipun sedikit yang dikelola oleh
swasta. Dari segi fisik pasar tradisional banyak terdapat pedagang yang bersifat
masal, terdiri atas pedagang besar, sedang dan kecil. Yang termasuk dalam
golongan pasar adalah pasar kabupaten , pasar desa, pasar inpres, dan sejenisnya.
Pasar tradisional biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai yang dibuka
ole penjual. Pasar tradisional kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti
bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telir daging dan lainlain. Selain itu, adapula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnmya.
Pasar seperti ini banyak ditemukan di Indonesia dan umumnya terletak dekat
kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar .
b. Pasar Modern
Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar
jenis ini berada dalam bnagunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri
(swalayan) oleh pembeli. Barang-barang yang dijual, selain bahan makanan
seperti buah, sayur, daging dan sebagian besar barang yang lainnya yang dijual
adalah barang yang dapat bartahan lama. Pasar modern tardiri dari pasar
swalayan dan hypermarket.

14

.
c. Pasar Ekionomi
Dalam ilmu ekonomi, pasar adalah tempat bertemunya penjual dan
pembeli. Transaksi jual beli yang terjadi tidak selalu memerlukan lokasi fisik.
Pasar yang dimaksud bisa merujuk kepada suatu Negara tempat suatu barang
dijual dan dipasarkan.
3. Klasifikasi Pasar
Secara umum klasifikasi pasar sentral dapat dibagi atas beberapa dasar yaitu :
a.

Pasar lingkungan. (Neufer Data Architecture 1993)


1) Pelayanan meliputi kelurahan dengan radius pelayanan 0,8 km.
2) Penduduk pendukung minimum 20.000 jiwa.
3) Lokasi berada pada jalan utama lingkungan, mengelompok dengan pusat
perdagangan lingkungan.
4) Luas area Perbelanjaan berkisar 2.700-9.000 m.

b.

Pasar kawasan wilayah. (Neufer Data Architecture 1993)


1) Radius pelayanan minimum 3,2 km.
2) Penduduk pendukung minimum 120.000 jiwa.
3) Lokasi mengelompok dengan pusat-pusat pelayanan kecamatan.
4) Luas area perbelanjaan berkisar 9.000-25.000 m

c. Pasar berskala kota. (Neufer Data Architecture 1993)


15

1) Jangkauan pelayanan meliputi seluruh wilayah kota dan daerah luar kota.
2) Penduduk pendukung 150.000-400.000 jiwa atau lebih.
3) Lokasi berada pada pusat pelayanan kota.
4) Luas area perbelanjaan berkisar 25.000-90.000 m.

4. Komponen Pasar
Unsur pengisi pada pasar sama halnya dengan unsur pengisi pada pusat
perbelanjaan maupun pusat perdagangan pada umumnya yaitu :
a. Pedagang
Pedagang merupakan suatu lembaga individu yang merupakan usaha
kegiatan yang menjual barang kepada konsumen akhir untuk keperluan pribadi
(non bisnis).
Pedagang ini berfungsi memberikan pelayanan kepada konsumen
agar pembeliannya dapat dilakukan dengan cara yang semudah mungkin. Secara
terperinci fungsi-fungsi dan kegiatan yang dilakukan adalah pengangkutan,
penyimpanan,

pembelanjaan,

mencari

konsumen,

menjalankan

kegiatan

promosi, memberikan promosi dan informasi, malakukan pengepakan dan


pembungkusan serta mengadakan penyortiran.
b. Pembeli atau pengunjung

16

Suatu lembaga atau individu-individu yang melakukan pembelian


untuk memenuhi kebutuhan pribadinya atau konsumsi rumah tangga. Proses
kegiatan individu-individu/lembaga yang didalam suatu proses penentuan
pembeliannya selalu didasarkan atas sifat selektif/rasional untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginannya secara optimal dengan pertimbangan ekonomi yang
minimal.
c. Pengelola
Merupakan orang-orang dari pihak pemerintah yang mengatur urusan
administrasi, yang berhubungan dengan perdagangan. Adapun pengelola disini
adalah berfungsi merencanakan, mengatur dan mengawasi laju perkembangan
dari suatu pasar yang dikelolanya, sehingga proses hubungan intern dan ekstern
dapat berjalan dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengelola terhadap suatu
usaha pasar biasanya lebih banyak dikelola oleh pihak pemerintah atau bekerja
sama dengan pihak lembaga-lembaga tertentu / swasta, misalnya :
1) Pemerintah setempat menyediaakan tempat atau lokasi, sedangkan
pembiayaan pembangunannya oleh pihak swasta atau sebaliknnya. Untuk
pembagian untung rugi ditnggung besama sesuai dengan perjanjian yang
disepakati.
2) Pengelola yang dilakukan oleh pihak swasta, penyediaan tempat/lokasinya

dan pembangunan maupun

operasionalnya

ditanggun sendiri juga

keuntungan dan kerugiannya, sedangkan pemerintah hanya memungut


pajak.
d. Barang

17

Barang merupakan obyek yang diperjual belikan sehingga ada pusat-pusat


perbelanjaan. Pada garis besarnya, barang dalam pengertian diatas dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Barang konsumsi merupakan barang-barang yang dibeli untuk dikonsumsi.
Barang ini dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
a) Barang convenience, yaitu barang yang mudah dipakai dan pada setiap
waktu, misalnya rokok, sabun.
b) Barang shopping, yaitu barang yang harus dibeli dengan mencari dulu
dan mepertimbangkan dengan masak-masak, misalnya tekstil, perabot
rumah tangga.
c) Barang spesial, yaitu barang yang mempunyai ciri khas hanya dapat
dibeli ditempat tetentu.
2) Barang industri merupakan barang

yang dibeli untuk diproses lagi,

dibedakan menjadi 5 bagian yaitu:


a) Bahan baku dan instalasi.
b) Komponen dan barang setengah jadi dan perataan ekstra.
c) Pertengahan operasi (Operting Supplies).

5. Pola Kegiatan
a. Pelaku
Kegiatan yang berlangsung pada suatu pasar, sangat bergantung pada
pengelola, pedagang serta pengunjung/pembeli. Aktifitas yang disediakan pada
suatu pasar didasarkan kepada faktor konsumenya karena menyinggung masalah
komersial jual beli.
Pelaku kegiatan pasar adalah unsur-unsur yang terlibat dalam kegiatan
perdagangan dalam pasar yaitu subyek, obyek dan unsur-unsur penunjang.
18

1) Subyek Kegiatan Pasar


a) Konsumen atau pembeli
Konsumen pasar adalah masyarakat yang memebutuhkan pelayanan akan
barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Konsumen dari pasar sentral adalah:
(1) Sebagian besar masyarakat yang berpenghasilan rendah sampai
sedang.
(2) Para pedagang di pasar-pasar yang ada di bawah pengaruhnya.
(3) Golongan pedagang keliling dan pedagang yang mengusahakan
warung-warung.
(4) Toko-toko dilingkungan perumahan.
b) Pedagang atau penjual
Adalah subyek kegiatan yang menyediakan atau memberikan jasa
penjualan materi dagangan. Dalam menjalankan kegiatan, pedagang
menyediakan modal, tenaga, materi/barang yang dalam aktifitas jual beli
adalah untuk memenuhi serta melayani kebutuhan hidup masyarakat.
Dari segi bentuk dan macamnya, pedagang digolongkan dalam :

19

(1) Pedagang retail kecil, yaitu pedagang dengan modal terbatas, mereka
membeli barang dan langsung menjualnya kembali, termasuk
pedagang musiman (kecil) dari luar kota.
(2) Pedagang retail sedang, yaitu pedagang dengan modal sedang,
membeli barang dan selanjutnya menjual kembali.
(3) Pedagang retail kuat, yaitu pedagang pengecer dengan modal besar,
membeli

barang,

menyimpan

sebelum

melepaskan

kepada

konsumen.
(4) Pedagang grosir, yaitu pedagang pengumpul yang membeli barang
dan pengecer atau agen yang selanjutnya menjual kembali kepada
pedagang pengecer.

2) Obyek kegiatan pasar


Yang menjadi obyek dalam kegiatan perdagangan adalah materi
perdagangan:
a) Materi real atau komoditi.
b) Materi tidak real atau jasa.

20

3) Unsur-unsur penunjang
Adalah pihak-pihak yang berperan dalam mengawasi terlaksananya
aktifitas pasar:
a) Pengelola pasar
Adalah pihak yang mengurus dan mengawasi aktifitas pelayanan
yang berlangsung di pasar antara lain :
(1) Pemeliharaan kebersihan pasar.
(2) Pemeliharaan keamanan dan ketertiban.
(3) Penarikan pajak.
b) Pihak-pihak penunjang lainya
(1) Pemerintah.
(2) Bank dan produsen.
(3) Hubungan antar pelaku kegiatan.
Hubungan antara pihak ataupun pelaku kegiatan dipasar dapat
dikemukakan:
1) Hubungan antara penjual dan pembeli, dalam hal jual beli.
2) Hubungan antara penjual dan pengelola dalam hal pemilikan ruang,
pemeliharaan gedung, kebersihan gedung.

21

3) Hubungan pengelola dan pemerintah dalam hal pajak, kestabilan harga


dan keamanan.
4) Hubungan antara produsen dengan penjual dalam hal pemasaran.
5) Hubungan pengelola, penjual dan Bank dalam hal pemodalan.

Skeme Pola Hubungan Pelaku Kegiatan


Pemerintah

Pengelola

Bank

Pedagang/ Penjual

Konsumen/
Konsumen/ Pembeli
Pembeli

22

Distributor/
Distributor/ Produsen
Produser

Gambar II. 1

: Skema Pola Hubungan Pelaku Kegiatan Pasar

(sumber

: Nurhidayah : 2001)

b. Identifikasi kegiatan.
1) Kegiatan jual beli
Kegiatan utama yang berlangsung di pasar sentral adalah kegiatan
jual beli di mana terjadi komunikasi langsung antara pihak pembeli dan
penjual transaksi ataupun tawar menawar.

a) Kegiatan pembeli :
(1) Melihat.
(2) Mengganti dan memilih barang.
(3) Mengadakan tawar menawar.
(4) Membawa barang.
23

b) Kegiatan penjual:
(1) Menawar barang.
(2) Melayani transaksi.
(3) Pengemasan barang.
2) Kegiatan Sirkulasi
Kegiatan sirkulasi yang dominan berlangsung adalah kegiatan
sirkulasi pembelian dan barang akibat adanya keinginan pembeli dan
penjual untuk mengadakan transaksi langsung. Hal ini berimplikasi pada
sistem sirkulasi, agar kesemua unit penjualan dapat di jangkau dengan
mudah dan lancar oleh pembeli.
3) Kegiatan Dropping dan Distribusi barang
Kegiatan ini merupakan usaha menyuplai barang dari tempat asal kelokasi
dropping tersebut kemasing-masing unit penjualan.
Sistem distribusi yang terjadi dibedakan menurut sifat dan jumlahnya
(besaran) barang dagangan, sebagai berikut:
a) Untuk barang dagangan yang mudah rusak/busuk seperti daging, sayur
mayur, buah-buahan, dan ikan langsung ke unit penjualan
b) Untuk baranng yang tidak mudah rusak dan dalam jumlah yang besar,
pendistribusian dapat langsung keunit penjualan atau penyimpanan
(gudang) sebelum keunit penjualan.
24

Skema Kegiatan Droping Barang

Unit Penjualan

Dropping
Droping Barang
Barang
Gudang

Gambar II. 2

: Skema Kegiatan Dropping Barang

(Sumber

: Nurdin : 2003)

4) Kegiatan pengolahan barang


Adanya kegiatan penyimpangan dan penyajian barang, yang
akhirnya di lepas kembali. kegiatan ini dibedakan sesuai dengan
pelayananya:
a) Pelayanan grosir

25

Dengan pertimbangan dimensi barang yang besar keamananya,


penyimpanan barang perlu suatu tempat yang khusus, untuk penyajian
cukup dipasang contonya saja.
b) Pelayanan retail
Untuk jenis kebutuhan sehari-hari, satuan volume masih dapat kategori
tidak besar yaitu: Perbiji, perkilo, perlembar, dan sebagainya.maka
penyajian barang tidak memerlukan ruang dengan pembatas-pembatas
khusus. Jadi masih disatukan dengan dalam ruang aktifitas jual beli
yang dapat pula dilihat langsung oleh konsumen dan dapat memilih dan
melihat barang-barang yang dibutuhkan pada penyajian inilah yang
merupakan media hubungan aktifitas pedagang dan konsumen.
5) Kegiatan Pelengkap
Sebagai kegiatan pelengkap dan kegitan penunjang dari kegitan
utama, yang termasuk kegiatan ini adalah:
a) Kegiatan transportasi.
Berupa angkutan umum :
(1) Mikrolet: Jalur saran angkutan umum melalui rute jalan yang ada.
(2) Becak/ojek: sebagai sarana angkutan penunjang/pembantu dalam
kota yang melayani angkutan sampai ke lingkungn perumahan.
b) Kegiatan servis.
26

Adanya kegitan pendukung terlakasananya kegiatan utama yang


meliputi:
(1) Kegiatn pemeliharaan barang.
(2) Kegiatan Droppin barang dan parker.
6) Kegiatan unsure penunjang
Adanya kegiatan yang menunjang terlaksananya dengan lancar
kegiatan jual beli meliputi:
a) Kegiatan unsure pengelola.
b) Kegiatan Bank Pasar.
c) Kegiatan keamanan.
d) Kegiatan istirahat.

6. Klasifikasi Materi Dagangan


Sebagai fungsi pasar sentral yang menyediakan segala macam kebutuhan,
materi dagangan yang diperjual belikan dibedakan atas:
a) Berdasarkan kebutuhan akan barang dan pelayanan jasa dapat dibedakan atas:
1) Barang kebutuhan harian (Demand Good) Terdiri atas:
27

a) Hasil pertanian / perkebunan.


b) Sayuran dan buah-buahan.
c) Bumbu-bumbu.
d) Bahan makanan yang diproses.
2) Barang kebutuhan berkala (Convinience Good) Terdri dari:
a) Bahan sandang berupa kain dan pakaian jadi.
b) Barang-barang keperluan rumah tangga untuk keperluan dapur dan
sebagainya.
c) Sandal dan Sepatu.
d) Buku, majalah dan obat-obatan.
3) Barang kebutuhan khusus (Impulse Good) Terdiri dari:
a) Alat-alat kosmetika.
b) Alat-alat elektronika.
c) Barang-barang kerajinan.
d) Mainan anak-anak.
e) Perhiasan mewah, dan lain-lain.
4) Pelayanan jasa Terdiri dari:
a) Reparasi alat elektronik.
28

b) Tukang jahit.
c) Tukang cukur, salon dan semacamnya.
d) Warung makanan dan sebagainya.
b) Berdasarkan karakteristik materi dagang.
Apabila ditinjau dari segi karakterisrik atau sifat materi dagangan dapat
dikelompokkan menjadi:
1) Kelompok bersih.
2) Kelompok berbau.
3) Kelompok tak berbau.
4) Kelompok basah.
5) Kelompok kering.

7. Sistem Pelayanan
Adanya berbagai materi dagang yang mempunyai sifat dan karakter yang
berbeda, mempengaruhi pola pelayanan yang selanjutnya mempengaruhi pula
pengungkapan bentuk wadah fisik ruang penjualanya.
Untuk

barang

keperluan

harian

dengan

pertimbangan

sifat

dan

karakteristiknya (berbau, basah, dan kotor) lebih menuntut ruang-ruang dengan pola
pelayanan dan ruang terbuka.
29

Sedangkan untuk barang keperluan berkala, khususnya serta pelayanan jasa


dengan pertimbangan dari segi keamanan dan barang dagangan lebih menuntut
ruang-ruang dengan pola pelayanan dan peruangan tertutup.
8. Faktor-faktor Penunjang
Keberhasilan suatu pasar dalam menarik pengunjung dan pembeli ditunjang
oleh faktor-faktor sebagai berikut:
a. Lokasi
1) Barang dalam daerah perdagangan kota.
2) Memenuhi persyaratan jarak dari pusat konsentrasi penduduk.
3) Dekat dengan jaringan transportasi kota.

b. Area Parkir
Area parkir merupakan ruang pelayanan servis yang disediakan bagi
pengunjung. Area parkir pasar sedapat mungkin:
1) Memenuhi standar luasan yang dibutuhkan.
2) Berada dalam site bangunan.
3) Menjamin kelancaran sirkulasi di dalam bangunan.

30

c. Window display
Window

display

adalah

tempat

memamerkan

contoh

barang

yang

diperdagangakan, Window display berperan menarik perhatian pengunjung. Ini


dapat diciptakan dengan memperhatikan:
1) Sistem penghawaan.
2) Sistem pencahayaan.
3) Sirkulasi dalam bangunan.
4) Sistem penataan barang dagangan.
Ditinjaun dari cara penjualan dalam melakukan pembelian barang-barang, secara
garis besarnya dapat dilakukan dalam beberapa cara yaitu:

a. Personal servis
Pembelian dilayani langsung oleh pelayanan, pada akhir penjualan
pelayanan toko mengambil pembayaran sesuai harga yang tertera kemudian
mengepak barang tersebut. Cara ini cocok untuk barang-barang teknik, butik
khusus, toko makanan, dan lain-lain.
b. Self servis

31

Pembeli berjalan mengitari toko lalu memasukkan barang-barang yang


tersusun diatas rak kedalam keranjang dan membawanya kekasir untuk
dibayar dan dikepak. Ini adalah prinsip perdagangan di supermarket dan
merupakan dasar yang cocok untuk barang-barang convenience.
C. Tinjauan Khusus Sarana Perbelanjaan
1. Perkembangan Sarana Perbelanjaan
Dalam

kegiatan,

perbelanjaan

pada

masa

kini

telah

mengalami

perkembangan fungsi yang semakin kompleks. Yang dulu hanya berfungsi sebagai
sarana jual beli, sekarang berkembang pula menjadi tempat bagi kepentingan
promosi dan rekreasi.
Fungsi dan peran perbelanjaan meliputi berbagai aspek,antara lain :
a. Sebagai fasilitas umum
1. Menyediakan kebutuhan hidup masyarakat.
2. Tempat pertukaran barang dan jasa.
3. Tempat peragaan untuk memasarkan suatu jenis barang kepada konsumen
akhir.
b. Terhadap pereokonomian kota
1. Mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
2. Memberi peluang tenaga kerja.
32

c. Terhadap fungsi kota


1. Menghidupkan suasana dengan aktifitas-akrifitasnya.
2. Menjadi land mark bagi kota tertentu dengan keberadaanya.
Melihat fungsi dan peran sarana perbelanjaan, maka perencanaan pasar sentral
di Wakorut sangat memungkinkan dengan pertimbangan:
a. Kondisi sosial ekonomi, dimana pendapatan daerah sangat menentukan
pola konsumsi dan tinngkat daya beli masyarakat yang berpengaruh
terhadap penentuan tingkat kebutuhan akan pasar sentral dengan tingkat
kuallitas yang relevan dengan pola hidup masyarkat Kecamatan Wakorut.
b. Kepadatan penduduk Kecamatan Wakorut yang memenuhi pengadaan
pasar sentral.
c. Kondisi perdagangan di Kecamatan Wakorut dapat dikategorikan sebagai
berikut:
a) Pasar sentral.
b) Pasar lingkungan.
c) Pertokoan.
Kecamatan Wakorut sebagian pusat pemerintahan Buton Utara, Mempunyai
potensi yang cukup dalam perkembangan dibidang ekonomi, terutama sektor
komersial (perdagangan) yang terus meningkat dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat.
33

Dilihat dari sifat dan karakteristik kegiatan perdagangan dan jasa di


Kecamatan Wakorut lebih menunjukan peranya sebagai pusat distribusi dan pusat
koleksi berbagai jenis komoditi perdagangan. Perannya dalam kegiatan jasa
distribusi didukung pula oleh jenis sarana yang ada, yaitu:
a. Terminal regional untuk masuk ke Buton Utara.
b. Perdagangan yang mempunyai jangkauan pelayanan dalam memasarkan hasil
produksi Kecamatan Wakorut dan wilayah sekitarnya, juga sebagai pusat
distribusi barang sekunder dan tersier ke wilayah sekitarnnya.
2. Pengaruh Terhadap Perkembangan Kota
Penyebaran

penduduk

yang

tidak

merata

akan

mempenngaruhi

perkembangan kota dimana dalam setiap perkembangan kota akan timbul kawasan
permukiman yang mana arah penyebaran penduduknya tidak merata, belum
diimbanngi

penyediaan

fasilitas

perbelanjaan.

Hal

inilah

yang

kurang

menguntungkan dilihat dari segi pencapaian penduduk akan sarana perbelanjaan


yang merata terhadap pola pengeluaran dan kebutuhan penduduk yang semakin
meningkat, demikian pula terhadap pendapatan daerah Kecamatan Wakorut.
D. Study Banding Pasar Sentral Modern
Pasar modern tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun pasar jenis
ini penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung melainkan pembeli melihat
label harga yang tercantum dalam barang, berada dalam bangunan dan pelayananya
dilakukan secara mandiri atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual,
34

selain bahan makanan-makanan seperti: buah, sayuran, daging, sebagian besar barang
lainya yang dijual adalah bahan yang dapat bertahan lama. Contoh dari pasar modern
adalah pasar swalayan dan hypermarket, supermarket, minimarket.
a.

Bogor Trade Mall

Gambar II. 3

: Bogor Trade Mall

(Sumber

: www.tatamulia.co.id

Sentuhan modern minimalis dalam bangunan pusat perbelanjaan. Bogor


trade mall hadir dengan sentuhan modern minimalis, sesuai dengan gaya hidup
masyarakat modern yang cenderung serba praktis.
Wajah bangunan diawali dengan komposisi bentuk lingkaran yang
terbuat dari kaca transparan. Bentuk ini dipadu dengan bidang datar vertikal
yang berfungsi sebagai papan nama mall. Selebihnya adalah massa tunggal
berbentuk segi empat yang simple.
Pengolahan wajah pada masa ini berupa bidang datar yang sederhana.
Arsitek hanya bermain pada bentuk papan reklame pada kulit bangunan yang
dibuat dengan memadukan unsur lengkung dan garis lurus. bidang tersisa diisi
35

dengan garis-garis horizontal yang berbentuk grid sebagai ciri arsitektur bergaya
modern.
b. The Plaza Balikpapan

Gambar II. 4 : The Plaza Balikpapan


(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Bangunan ini dengan gaya bangunan minimalis, Sambungan bidang yang


sempurna, pertemuan dinding dan atap memerlukan penanganan yang rapi.
Mungkin ini yang menjadi pertimbangan biaya desain minimalis mahal.
Penampilan struktur yang elegan, konstruktsi struktural tersusun sederhana dan
lugas tanpa kamuflase elemen arsitektur. Penggunaan cahaya, sebagai elemen
yang mampu memberikan efek dramatis. Permainan cahaya buatan atau alami
menghasilkan efek kedalaman ruang. Atap datar, atau nyaris datar untuk
bangunan di iklim tropis. Ruang terbuka dan jendela yang lebar, ruang terbuka
bermanfaat untuk mengimbangi masa bangunan.
c.

Mall Kelapa Gading

36

Gambar II. 5

: Mall Kelapa Gading

(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Dengan gaya arsitektur Avant Garde yang modern, karakteristik ini sangat

jelas terlihat dalam manifestasi keserbaragaman visual (yaitu visual intensitas


yang sama dari semua pandangan dari komposisi arsitektur). Kesederhanaan,
kekompakan, dan kejelasan formasi.
d. Solo Grand Mall

Gambar II. 6

: Solo Grand Mall

(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Gaya bangunan Art Deco, dengan bentuk-bentuk yang melangsingkan


dan licin; corak-corak geometrik; dan eksperimen-eksperimen dengan materialmaterial industri seperti bahan-bahan metal, plastik, dan kaca.
37

e. Pondok Indah Mall


Pondok Indah Mall (PIM) dengan gedung empat lantai bergaya interior
dan arsitektur kontemporer modern. Tak hanya itu, di setiap pintu masuk mal
memiliki ciri khas dan sentuhan tersendiri seperti halnya di pintu utama,
didominasi nuansa modern kontemporer, pintu utara lebih menonjolkan nuansa
gaya Eropa, sedangkan di pintu selatan pengunjung akan merasa di negeri Tirai
Bambu dengan gaya oriental yang sangat kental. Ditambahkan PIM merupakan
gedung

dengan

desain

"single

corridor",

sehingga

diharapkan

tidak

membingungkan pengunjung untuk berbelanja serta secara otomatis memudahkan


seluruh toko bertransaksi, mengingat bahwa semua toko menghadap ke satu
koridor. Konsep lifestyle & leisure sangat ditonjolkan pada PIM ini.

Gambar II. 7

: Pondok Indah Mall

(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

f. Bandung Trade Mall

38

Gambar II. 8

: Bandung trade Mall

(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Dengan gaya arsitektur Gothic, kombinasi yang unik dari teknologi yang
sudah ada didirikan munculnya gaya bangunan baru. Menekankan vertikalitas dan
cahaya penampilan ini dicapai dengan pengembangan fitur-fitur arsitektur
tertentu, yang bersama-sama memberikan solusi rekayasa.

g. Swalayan Citra

Gambar II. 9

: Swalayan Citra

(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Gaya bangunan Art Deco, dengan bentuk-bentuk yang melangsingkan


dan licin; corak-corak geometrik; dan eksperimen-eksperimen dengan materialmaterial industri seperti bahan-bahan metal, plastik, dan kaca.
39

h. Mangga Dua Mall

Gambar II. 10

: Mangga Dua Mall

(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Dengan gaya arsitektur Baroque dimana bangunannya lebih luas, dan


kadang-kadang melingkar, dramatis penggunaan cahaya, baik-kuat cahaya dan
bayangan-kontras, chiaroscuro efek

atau pencahayaan seragam dengan

menggunakan beberapa jendela mewah penggunaan ornamen ( puttos terbuat


dari kayu (sering disepuh ), plester atau semen , marmer atau imitasi finishing )
skala besar langit-langit lukisan dinding eksternal sering dicirikan oleh proyeksi
pusat dramatis untuk lukisan dan patung (terutama dalam Baroque akhir) ilusi
efek seperti trompe l'oeil dan campuran lukisan dan arsitektur.
i. Mall Kartini

40

Gambar II. 11

: Mall Kartini

(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Gaya arsitektur campuran art nouveau sangat mendominasi bangunan


ini, dimana elemen dekoratif khas meliputi dan motif sulur daun, terjalin bentuk
organik, sebagian besar dalam bentuk montok. Seni dibuat dalam gaya ini
biasanya digambarkan burung mewah, bunga, serangga dan zoomorphs lain,
serta rambut dan tubuh montok perempuan cantik.
j. Carrefour Kiara Condong

Gambar II. 12

: Carrefour Kiara Condong

(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Gaya bangunan Art Deco sangat mendominasi bangunan ini, dengan


bentuk-bentuk yang melangsingkan dan licin, corak-corak geometrik dan
eksperimen-eksperimen dengan material-material industri seperti bahan-bahan
metal, plastik, dan kaca.
k. Mega Bekasi
41

Gambar II. 13

: Mega Bekasi

(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Gaya bangunan Art Deco sangat mendominasi bangunan ini, dengan


bentuk-bentuk yang melangsingkan dan licin, corak-corak geometrik dan
eksperimen-eksperimen dengan material-material industri seperti bahan-bahan
metal, plastik, dan kaca.
l. Giant Hypermarket

Gambar II. 14

: Giant Hypermarket

(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Pada bangunan ini juga dengan desain Art Deco sangat mendominasi,
dengan bentuk-bentuk yang melangsingkan dan licin, corak-corak geometrik dan
42

eksperimen-eksperimen dengan material-material industri seperti bahan-bahan


metal, plastik, dan kaca.

m. Plaza Senayan

Gambar II. 15

: Plaza Senayan

(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Design bangunan ini dengan gaya arsitektur klasik, Menggunakan


struktur dinding masif dengan material batu alam yang dipotong persegi dan
ditumpuk. Di atas kolom, terdapat balok horizontal penyangga atap yang disebut
entablature. Pada hubungan antara kolom dan entablature biasa diberi ornamen
berupa ukiran yang kemudian dikenal dengan gaya Doric. Pada masa Romawi
gaya kolom ini dikembangkan lagi menjadi Ionic dan Corinthian.
43

n. Mall Ciputra

Gambar II. 15 : Mall Ciputra


(Sumber

: www.tatamulia.co.id)

Bagunan ini mengikuti gaya arsitektur Ghotik, dimana bangunan yang


sederhana, baik dari bentuk unit, tata unit, penonjolan bangunan (kolom, balok,
balustrade, dan lain-lain), juga disusun dalam komposisi garis dan bidang-bidang
horizontal searah, seimbang, dan serasi

Hasil Dari Studi Banding Pasar Modern


No

Studi Banding

Bogor Trade Mall

Tampilan

Struktur

Tampilan bangunan

Untuk pondasi

diawali dengan

menggunakan poerplat,

komposisi bentuk

tekstur lantai yaitu tekstur

lingkaran yang dipadu

keramik, dindingnya

dengan bidang datar

menggunakan bahan batu

vertikal

bata dan kaca, dengan


bentuk kolom bundar dan
44

segi empat.

The Plaza Balik Papan

Tampilan

bangunan Untuk pondasi

dengan komposisi segi menggunakan poerplat,


empat

dan

berpadu tekstur lantai yaitu tekstur

dengan bidang datar

keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
segi empat.

Mall Kelapa Gading

Tampilan bangunan

Untuk pondasi

berbentuk segi empat

menggunakan poerplat,
tekstur lantai yaitu tekstur
keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
segi empat.

Solo Grand Mall

Bentuk bangunan yang Untuk pondasi


lansing dengan corak-

menggunakan poerplat,

corak geometrik

tekstur lantai yaitu tekstur


keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
segi empat.

Pondok Indah Mall

Tampilan bangunan

Untuk pondasi
45

diawali dengan bentuk

menggunakan poerplat,

segi empat dan

tekstur lantai yaitu tekstur

lingkaran

keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
segi empat.

Bandung Trade Mall

Tampilan

bangunan Untuk pondasi

diawali dengan bentuk menggunakan poerplat,


segi

empat

lingkaran

dan tekstur lantai yaitu tekstur


keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
segi empat.

Swalayan Citra

Bentuk bangunan yang Untuk pondasi


lansing dengan corak- menggunakan poerplat,
corak geometrik

tekstur lantai yaitu tekstur


keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
segi empat.

Mangga Dua Mall

Bentuk tampilan

Untuk pondasi

bangunan di awali

menggunakan poerplat,

dengan bentuk segi

tekstur lantai yaitu tekstur


46

empat dan segi tiga

keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
segi empat.

Mall Kartini

Bentuk tampilan

Untuk pondasi

dengan motif bentuk

menggunakan poerplat,

daun

tekstur lantai yaitu tekstur


keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
segi empat.

10

Carrefour Kiara

Bentuk bangunan yang Untuk pondasi

Condong

melangsingkan
dengan

menggunakan poerplat,

corak-corak tekstur lantai yaitu tekstur

geometrik

keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
segi empat.

11

Mega Bekasi

Bentuk bangunan

Untuk pondasi

corak-corak geometric

menggunakan poerplat,

dan esperimen

tekstur lantai yaitu tekstur


keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
47

bata dan kaca, dengan


bentuk kolom bundar dan
segi empat.

12

Giant Hypermarket

Bentuk bangunan yang Untuk pondasi


melangsingkan
dengan

menggunakan poerplat,

corak-corak tekstur lantai yaitu tekstur


keramik, dindingnya

geometrik

menggunakan bahan batu


bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
segi empat.

13

Plaza Senayan

Tampilan

bangunan Untuk pondasi

yang berbentuk segi menggunakan poerplat,


empat

tekstur lantai yaitu tekstur


keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
segi empat.

14

Mall Ciputra

Bentuk bangunan

Untuk pondasi

berbentuk segi empat

menggunakan poerplat,

dan dikombinasikan

tekstur lantai yaitu tekstur

dendan lingkaran

keramik, dindingnya
menggunakan bahan batu
bata dan kaca, dengan
bentuk kolom bundar dan
48

segi empat.

BAB III
TINJAUAN TERHADAP PASAR
A. Tinjauan Umum Buton Utara

49

1.

Kondisi Wilayah Buton Utara


a. Keadaan Geografis

Gambar III. 1: Peta Kabupaten Buton Utara


(Sumber

: Kabupaten Buton utara Dalam Angka, Tahun 2009)

Kabupaten Buton Utara adalah salah satu kabupaten di provinsi


Sulawesi Tenggara, yaitu wilayahnya meliputi sebagian pulau Buton bagian
utara, serta pulau-pulau kecil yang tersebar di kawasan tersebut.
Kabupaten Buton Utara terletak dibagian selatan khatulistiwa pada garis
lintang 4 06' sampai 5 15' lintang selatan dari barat ketimur 122 59' bujur
timur sampai 123 15' bujur barat. Adapun batasan-batasan wilayah sebagai
berikut:
50

1) Sebelah utara berbatasan dengan Selat Wawonii.


2) Sebelah timur berbatasan dengan Laut Banda.
3) Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Lasalimu dan Kecamatan
Kapontori Kabupaten Buton.
4) Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Pasir Putih, Kecamatan
Wakorumba Selatan dan Kecamatan Maligano Kabupaten Muna.
Secara administratif Wilayah Daerah Kabupaten Buton terdiri atas 6
kecamatan yang dibagi menjadi 59 desa/UPT/kelurahan (51 Desa/UPT dan 8
Kelurahan). Luas wilayah Kabupaten Buton Utara adalah 1.926,03 km dengan
jumlah penduduk 48. 184 jiwa.
b. Keadaan Morfologis
Kabupaten Buton Utara mempunyai morfologi perbukitan landai
dengan kemiringanlereng berkisar antara 15 - 40 %, daya dukung tanah untuk
fondasi termasuk sedang-kuat, terutama pada batuan segarnya atau pada
pelapukan tanah tipis, daerah ini umumnya didominasi oleh sebaran batu
gamping terumbu yang bersifat keras, pejal, dengan pelapukan tanah tipis. Pada
batuan tufa, batupasir, mempunyai daya dukung untuk fondasi sedang.
c. Keadaan Iklim
Pada umumnya Kabupaten Buton Utara memiliki Tipe iklim C, musim
hujan biasanya jatuh pada bulan Januari-Juni dan musim kemarau pada bulan
51

Juli-Desember dengan curah hujan tahunan sebesar 2.286 mm, dengan jumlah
hari hujan rata-rata 106 hari. Suhu tertinggi mencapai 34C, suhu terendah
hingga 22C, dengan kelembaban sebesar 80 %.
d. Kondisi Umum Penduduk
Berdasarkan data penduduk Kabupaten Buton Utara tahun 2003
sebanyak 48.015 jiwa, dan pada tahun 2007 menjadi sebanyak 48.184 jiwa.
Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Buton Utara selama kurun waktu
2004-2008 adalah 0,07% per tahun.
Persebaran penduduk Kabupaten Buton Utara tersebar di 6 kecamatan,
kepadatan penduduk slah satunya tersebar ada di Kecamatan Wakorumba
dengan jumlah penduduk sebesar 16.918 jiwa dengan kepadatan penduduk 81
jiwa per km.

e. Keadaan Ekonomi
Kabupaten Buton Utara adalah kabupaten yang baru terbentuk tahun
2007 hasil pemekaran dari Kabupaten Muna. Sebagai daerah baru Kabupaten
Buton Utara pertumbuhan ekonominya telah menunjukan pertumbuhan yang
signifikasi dan positif. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Buton Utara tahun
2007 tumbuh 5,03 % yang didukung oleh pertumbuhan semua sektor ekonomi.

52

Pada umumnya sumber pendapatan ekonomi masyarakat Kabupaten


Buton Utara adalah sektor pertanian, perikanan, tanaman pangan, kehutanan,
perkebunan dan peternakan.
f. Kondisi Sosial Penjual dan Pembeli
Berdasarkan pendapatan penduduk Buton Utara duperoleh bahwa
tingkat pendapatan masyarakat adalah menengah kebawah. Kondisi ini juga
mempengaruhi tingkat daya beli masyarakat.
Kebiasaan para penjual dan pembeli dalam melakukan transaksi jual
beli juga dipengaruhi oleh tingkat pendapatannya, serta pola perilaku dari
masyarakatnya yang selalu melakukan aktifitas tawar menawar.

2.

Rencana Tata Ruang Buton Utara


a. Rencana Tata Guna Lahan

Penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Buton Utara


sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara serta memperhatikan Rencana
Tata

Ruang

Wilayah

Kabupaten/Kota

disekitarnya.

Konsep

dasar
53

pembangunan Buton Utara

berdasarkan potensi yang sudah ada. Maka

pengembanagan pemanfaatan ruang secara tepat dan kemampuan seluruh


kegiatan yang ada, baik secara internal maupun eksternal, akan dapat
mewujudkan sasaran fungsi dan peran kota. Pelaksanaan dalam proyek
jangka panjang Buton Utara yang mengacu pada rencana induk kota yang
sudah disusun sesuai demensi waktu 20 tahun, yaitu dari tahun 2007 sampai
tahun 2023 diharapkan akan tetap berfungsi hingga masa mendatang
Rencana fungsi pokok-pokok pembangunan kawasan Buton Utara,
yaitu:
1. Mengarahkan pembangunan kota yang lebih tegas dalam rangka upaya
penggendalian, pengawasan dan pelaksanaan pembangunan.
2. Pelaksanaan pembangunan fisik yaitu menata pelaksanaan pembangunan
dan mengendalikan lingkungan agar tetap terjaga kualitas maupun
kuantitasnya.
3. Permbangunan baru yaitu pengadaan sarana dan prasarana yang
dibutuhkan sebagai kawasan kota yang sesuai dengan arah pembangunan
4. Peningkatan rehabilitas yaitu peningkatan sarana dan prasarana yang ada
sehingga dapa berfungsi kembali dan memiliki kinerja seperti semula.

b. Peran dan Fungsi Kota


Rencana Induk Kota Buton Utara berpedoman dalam mengarahkan
perencanaan pengembangan kota dan wilayah, menyangkut aspek fisik kota
54

dan wilayah, serta interaksi sosial, ekonomi masyarakat kota dan wilayah.
Adapun ke dalam skala perencanaan tesusun dalam domensi Rencana Bagian
Wilayah Kota (RBWK), yang lebih difokuskan pada garis besar fungsi ruang
dan masing-masing wilayah kota tersebut.
Secara umum peran Kabupaten buton utara yang ingin dicapai adalah
sebagai berikut:
1.

Mengembangkan Kabupaten Buton Utara sebagai bagian dari wilayah


pengembangan 1 (WP 1) atau sub pusat pengembangan yang meliputi
wilayah Buton Utara.

2.

Pengembangan funsi dan kegiatan Kabupaten Buton Utara Sebagai


pusat pemerintahan.

3.

Mengembangkan Kabupaten Buton Utara sebagai pusat pendidikan dan


jasa.

4.

Mengembangkan Kabupaten Buton Utara sebagai pusat lokasi distribusi


dala skala pelayanan jaringan pusat Sulawesi tenggara.

5.

Mengembangkan Kabupaten Buton Utara sebagai pusat industri dan


mengolah hasil pertanian dalam skala Wilayah Kabupaten.

6.

Mengembangkan Kabupaten Buton Utara sebagai pusat wisata.

7.

Mengembangkan Kabupaten Buton Utara sebagai Kota transit.


Kabupaten Buton Utara telah melakukan pembagian kawasan untuk

setiap kegiatan perkotaan yang sesuai dengan Rencana Induk Kota (RIK)
55

Buton Utara dengan maksud untuk mengetahui peran setiap kegiatan agar
memiliki ruang tertentu disetiap kawasan dengan pembagian Rencana
Bagian Wilayah Kota (RBWK) berdasarkan peran dan fungsi masingmasing.
Sesuai fungsi kota Kota Kabupaten Buton Utara, maka pengembangan
sektoral dipertimbangkan terhadap strategis pengembangan yang utama,
yaitu sektor pengembangan industri perdagangan sektor jasa.
c.

Pembagian Wilayah
Adapun pembagian Wilayah Pengembangan (WP) Kabupaten Buton Utara
yang terdiri atas 3 (tiga) WP, adalah sebagai Berikut:
1. Wilayah Pengembangan I/Buton Utara Bagian Utara dan Timur,
terdiri dari Kecamatan Kulinsusu dan Kecamatan Kulinsusu Utara. Pada
WP I ditandai dengan adanya pusat pemerintahan, pusat perdagangan
dan jasa, pusat pendidikan, pusat industry, dan pusat pemukiman.
2. Wilayah Pengembangan II/Buton Utara Bagian Selatan, terdiri dari
Kecamatan Bonegunu dan Kecamatan Kambowa. Pada WP II ini
ditandai dengan adanya pusat pertanian, pusat perikanan, pusat
peternakan, pusat perkebunan, dan peruntukan lahan didomonasi
kawasan lindung.
3. Wilayah Pengembangan III/Buton Utara Bagian Barat, terdiri dari
Kecamatan Wakorumba dan Kecamatan Kulinsusu Barat. Pada WP III
ini ditandai dengan adanya pusat pengembangan peternakan, pusat
56

perdagangan dan jasa, pusat pendidikan, pengolahan pertanian,


pengolahan perikanan laut, dan peruntukan lahan didominasi oleh
kawasan lindung.

57

Gambar III. 2: Peta Pembagian Wilayah Kabupaten Buton Utara


(Sumber

: Analisa Pembagian Wilayah Kabupaten Buton utara, Tahun 2009)

B. Minat Masyarakat Terhadap Pengadaan Pasar Sentral Modern


Kegiatan sektor ekonomi di Kecamatan Wakorut setiap tahunnya mengalami
peningkatan, hal itu dikarenakan semakin meningkatnya pola kebutuhan akan barang
yang dapat menjangkau kebutuhan masyarakat Kecamatan Wakorut. Keadaan
penduduk dan proyeksi jumlah penduduk di Kecamatan Wakorut relatif meningkat
setiap tahunnya, sehingga potensi pengunjung yang akan datang berkunjung akan
meningkat disetiap tahunnya.
C. Pengembangan Pasar Sentral di Kecamatan Wakorumba
1. Kebutuhan Area Pasar

58

Kebutuhan area pasar pasar didasarkan atas jumlah penduduk yang


dilayani, dengan menggunakan standar kebutuhan area menurun Direktorat
Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum, yaitu 1000 jiwa penduduk
membutuhkan 200 m.
(Pedoman perancangan lingkungan perumahan di Indonesia. Jakarta).
a. Kebutuhan area belanja umum
Berdasarkan jumlah penduduk yang dilayani kebutuhan area
perbelanjaanumum sampai tahun 2018 dapat dikemukakan sebagai berikut:
1) Proyeksi jumlah penduduk tahun 2018 adalah 16.918 jiwa
Standar kebutuhan area perbelanjaan 200 m/1000 jiwa.
(Direktorat Jenderal Cipta Karya Departemen Pekerjaan Umum)
Kebutuhan area perbelanjaan adalah

16.918 jiwa
1000

x 200

m =

3.383,60

b. Kebutuhan area pasar sentral di Kecamatan Wakorumba Utara


Kebutuhan area pasar sentral didasarkan atas besarnya jumlah
penduduk yang dilayani, sedangkan untuk menentukan jumlah populasi
penduduk yang dilayani dipengaruhi oleh kebiasaan konsumen dalm
berbelanja.
59

Tujuan konsumen berbelanja


Dengan adanya berbagai macam tempat pebelanjaan yang mempunyai hirarki
pelayanan yang berbeda-beda. Berpengaruh terhadap kebiasaan konsumen
dalam berbelanja, yang tujuannya dapat dibedakan:
1) Pengaruh jarak capai yang dipertimbangkan terhadap kemudahan dan
kelancaran dalam pencapaiannya.
2) Motivasi da kebutuhan ruang dagangan, yang dipertimbangkan terhadap
kelengkapan materi dagangan pada tempat-tempat perbelanjaan yang ada.
3) Kondisi sosial ekonomi penduduk.
Dalam hal ini sebagian besar konsumen yang tergolong
berpenghasilan menengah dan tinggi lebih menuntut segi-segi praktis dan
kenyamanan dalam berbelanja, sedangkan bagi konsumen masyarakat
berpenghasilan rendah sampai sedang, pertimbangan segi ekonomis
merupakan segi atau pertimbangan yang utama.
Besaran konsumen pusat perbelanjaan
Dalam menetukan besaran area pusat pebelanjaan di Kecamatan Wakorumba,
besaran konsumen diasumsikan sesuai populasi efektif dari pusat pelayanan
sebagai berikut:
1) Berbelanja ke pasar sentral

= 50 %

2) Berbelanja ke pasar wilayah

= 25 %
60

3) Berbelanja ke toko/warung

= 25 %

Untuk tahun 2020 kebutuhan pusat perbelanjaan dapat diproyeksikan sebagai


berikut:
(Analisa Penyusun Bahan Perencanaan Dan Pembangunan daerah)
1) Proyeksi jumlah penduduk pada tahun 2020 adalah 16.918

2) Yang mengunjungi pusat perbelanjaan 50 %, berarti:


50 % x 16. 918 jiwa = 8.459 jiwa

Kebutuhan area pusat perbelanjaan pada tahun 2018 adalah:

8.459 jiwa

x 200

m =

1.691,80

1000

2. Motifasi Pengembangan
a. Memenuhi kebutuhan pengembangan wadah untuk menampung aktifitas
perbelanjaan untuk melayani kebutuhan penduduk akan barang dan jasa.
b. Memenuhi tuntutan pengembangan fasilitas dan menunjang funsi Kecamatan
Wakorumba sebagai pusat distribusi serta jasa untuk wilayah Buton utara.
c. Memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat akan fasilitas yang menawarkan
keleluasaan, kenyamanan dan kemudahan. Hal ini timbul sebagai akibat
61

pertumbuhan penduduk yang semakin cepat, kenaikan pendapatan perkapita


dan pekembangan ekonomi.
3. Tujuan Pengembangan
Pengembangan pasar sentral di Kecamatan Wakorumba sangat memungkinkan
setelah meninjaun fungsi dan penataannya, mempertimbangkan sosial ekonomi,
kepada penduduk serta kondisi bidang usaha yang ada di Kecamatan Wakorumba.
Maka pengembangan pasar sentral ini betujuan untuk:
a. Memperluas pemasaran hasil-hasil produksi kegiatan ekonomi, mengingat
bahwa perkembangan wadah merupakan bagian yang tidak terpisah dari
pembangunan perdagangan nasional. Sesuai laju perkembangan nasional.
Sesuai laju perkembangan jumlah pedagang/konsumen dan laju pertumbuhan
ekonomi yang senantiasa dipengaruhi oleh perkembangan jumlah penduduk.
Pengembangan pasar sentral di Kecamatan Wakorut ditujukan sebagai kegiatan
antisipasi dalam usaha untuk menyelaraskan kebutuhan penduduk akan
fasilitas perbelanjaan berupa pasar dengan penyediaan wadahnya.
b. Pasar adalah salah satu sarana perbelanjaan yang dibutuhkan oleh pedagang
yang melakukan kegiatan jual beli.
Pengembangan pasar sentral di Kecamatan Wakorut ditujukan pula sebagai
usaha untuk memberikan usaha untuk memberikan kesempata kepada para
pedagang dalam mendapatkan sarana pebelanjaan yang baik, sekaligus untuk
mencegah timbilnya pasar-pasar liar di Kecamatan Wakorut.
62

c. Pasar sebagai salah satu unsur kegiatan perekonomian secara keseluruhan.


Merupakan sarana yang dibutuhkan dalam memperlancar distribusi barang.
Pengembangan pasar sentral di Kecamatan Wakorut ditujukan pula sebagai
usaha untuk memperlancar arus distribusi barang dari produsen ketangan
konsumen.

4. Kemungkinan-kemungkinan pengembangan

Beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan usaha pengembangan pasar, dapat


dikemukakan sebagi berikut:
a. Dengan cara pemugaran pasar yang ada meliputi perbaikan/rehabilitasi.
b. Perencanaan pasar, dengan cara perencanaan kembali dilokasi yang sama.
c. Dengan pembangunan baru dilokasi yang lain dianggap punya potensi dan
prospek yang baik bagi kebutuhan pelayanan pasar terhadap pola pelayanan
penduduk saat ini dan yang akan datang.
5. Sasaran Pengembangan
Pengaruh pengembangan pasar sentral terhadap perkotaan dan lingkungan sebagai
berikut:
a. Mempercepat pertumbuhan wilayah sekaligus turut merealisasi

rencana

wilayah kota yang dibuat Pemerintah Kota Buton Utara.


63

b. Peningkatan mutu lingkungan/wilayah terutama dengan membangun sentral


dilingkungan baru.
c. Mempercepat proses pembentukan comuniti centre (pusat komunikas) sebagai
tempat berkumpul masyarakat suatu lingkungan.

6. Pengembangan Pasar Sentral Sebagai Usaha Penanggulangan Masalah


a. Dasar pemikiran
1) Kebutuhan area pasar sentral di Kecamatan Wakorut senantiasa
dipengaruhi oleh perkembangan jumlah penduduk.
2) Kondisi pasar sentral yang ada pada saat ini terasa semakin padat dan
berjubel akibat menampung kegiatan diluar batas kapasitasnya yang
normal.
b. Bentuk pengembangan
Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka pengembangan pasar sentral yang
direncanakan adalah pembangunan pasar sentral baru dilokasi baru, yang telah
ditentukan Pemerintahan Kabupaten, untuk memenuhi kebutuhan penduduk
akan pelayanan pasar.
7. Fator-faktor Penentu Perencanaan

64

Beberapa faktor yang cukup mempengaruhi perencanaan pasar sentral di


Kecamatan Wakorut adalah:
a. Non teknis
1) Kebutuhan penduduk akan pasar sentral.
2) Pola penyebaran penduduk dan kecenderungan.
3) Kecenderungan perkembangan kota.
b. Teknis
1) Sifat dan karakter pembeli dan berbelanja.
2) Sifat dan karakter pedagang dan berjualan.
3) Perilaku unsur pengelola dan penunjang
4) Tuntunan suasana ruang, menyambut persyaratan-persyaratan teknis
seperti:
Pencahayaan, penghawaan, keamanan dan sebagainya.
8. Titik Tolak Perencana
a. Merencanakan suatu bangunan pasar sentral sebagai usaha untuk memenuhi
kebutuhan akan pelayanan pasar di Kecamatan Wakorut.
Merencanakan ruang dan tata fisik pasar sentaral yang sesuai dengan kondisi
dan perkembangan Kecamatan Wakorut. Sesuai dengan fungsinya sebagai
bangunan pelayanan umum yang bersifat komersial, perencana senantiasa
65

dikaitkan dengan faktor-faktor efisiensi dan efektifitas dengan tujuan


mendapatkan unit-unit perencanaan yang optimal.
b. Sinkronisasi antara kebutuhan dimensi-dimensi ruang terhadap elemen-elemen
bangunan lainnya seperti: system dan pola peruangan, system dan pola
struktur, serta system dan pola sirkulasi.

D. Pendekatan Konsep Dasar


1.

Pendekatan Penetuan Lokasi


a. Dasar pertimbangan
Sebagai fungsi pasar sentral di Wakorumba yang mempunyai pelayanan
meliputi wilayah KecamatanWakorumba dan sekitarnya, pemilihan lokasi
senantiasa diikuti dengan faktor-faktor kondisi dan perkembanagn kota.
b. Pendekatan penetuan lokasi
1) Berada pada pusat pelayanan kota berdasarkan arah pengembangan kota
dan rencana induk Kecamatan Wakorumba.
2) Adanya potensi pemasaran yang dapat menunjang pengadaan fungsi
komersial.
3) Potensi penduduk dan tingkat sisial ekonomi.

66

4) Kecenderungan perkembangan kota, dengan memperhatikan radius


pencapaian yang cukup merata terhadap kawasan yang dilayani.
5) Kehadiran pasar sentral yang direncanakan sedapat mungkin saling
menunjang dengan fungsi elemen kota lainnya seperti terminal, pusatpusat kegiatan perdagangan baik yang telah ada, maupun yang akan
direncanakan.
6) Luas dan kondisi lokasi yang ditetapkan cukup memenuhi persyaratan
kebutuhan tanah dengan area parker dan open space.
2.

Pendekatan Penataan Tapak


Dalam pemilihan tapak pasar sentral di Kecamatan Wakorumba didasarkan atas
pertimbangan:
a.

Untuk mengatasi kemungkinan pengembangan sekitas site menjadi pusat


pertokoan yang padat, perlu dipertimbangkan area-area terbuka (open
space). Yang dapat berfunsi sebagai berikut:
1) Space pengikat lingkungan
2) Unsur penyegaran
3) Land mark lingkungan

b.

Memudahkan pencapaian dari segala arah serta mendapatkan view yang


baik dari luar ke site atau kebangunan maupun dari bangunan ke luar site.

c.

Tersedianya utilitas kota berupa jaringan listrik, telepon, roil kota.


67

d.

Kemudahan pembebasan atau pengalihan hak milik atas tanah dan luas
lahan yang cukup untuk menampung kegiatan serta pengembangan dimasa
yang akan datang.

e.

Tersedia jaringan jalan yang memadai untuk kemudahan pencapaian


langsung ke tapak dan bangunan (kemudahan memperoleh main entrance
dan site entrance) dari berbagi arah, baik bagi sirkulasi manusia maupun
barang.

f.

Memiliki daya dukung tanah yang memungkinkan untuk pelaksanaan


struktur bangunan, topografi tanah yang relativ datar, serta bebas banjir.

g.

Berada pada lingkungan yang cukup aman serta menunjang berlangsungnya


kegiatan perdagangan.

3. Pola Tata Lingkungan


Pola tata lingkungan yang akan dicapai dapat didekati dengan beberapa faktor
yang sangat berpengaruh yaitu:
a.

Arah pencapaian konsumen yang lebih besar merupakan area yang paling
refrensentatif, dimanfaatkan sebagai entrence utama (main entrance).

b.

Arah pencapaian konsumen yang besar dan cukup besar merupakan area
yang cukup refrensentatif, dimanfaatkan sebagai side entrance.

68

c.

Area pencapaian konsumen yang paling sedikit merupakan area yang


kurang refrensentatif, dimanfaafkan sebagai pencapaian sevis.

4. Kebutuhan Ruang
a. Dasar Pertimbangan
1) Macam dan sifat unsur-unsur serta aktifitas yang terjadi dipasar.
2) Memungkinkan pola-pola pengelompokan aktifitas berdasarkan
berdasarkan sifat dan karakter unsurnya.
3) Berdasarkan tinkatan pelayanan masing-masing aktifitas
b.

Pendekatan Kebutuhan Ruang


Berdasarkan aktifitas yang diwadahi, kebutuhan ruang dapat dibedakan atas:
1) Kebutuhan ruang untuk kegiatan jual beli berupa ruang-ruang penjualan
dan pelayan jasa.
2) Kebutuhan ruang untuk kegiatan sirkulasi berupa ruang-ruang
penerima, selasar, koridor ataupun ruang-ruang terbuka untuk istrahat.
3) Kebutuhan ruang untuk kegiatan penunjang berupa kantor pengelola
pasar, ruang untuk keamanan dan musholah.
69

4) Kebutuhan ruang untuk kegiatan sevis berupa ruang untuk kegiatan


pemeliharaan, lavatory, gudang, ruang mekanikal dan ruang dropping
barang.
5) Kebutuhan ruang untuk kegiatan parker, landscaping dan sirkulasi
aksternal.
5. Besaran Ruang
Beberapa pertimbangan dalam pendekatan besaran ruang adalah:
a.

Menjamin kemungkinan ruang gerak bagi aktifitas yang diwadahi.

b.

Memungkinkan terhadap flow/sirkulasi dan pencapaian yang efisien.

c.

Memungkinkan untuk lay out/pengaturan prabot dan peralatan penunjang


lainnya.

Kebutuhan-kebutuhan ruang:
a. Kebutuhan ruang gerak perbelanjaan, studi kebutuhan ruang didasarkan pada
aktifitas konsumen, aktifitas pedagang, serta dimensi dan lay out prabot.
1) Kebutuhan ruang berdasarkan kebutuhan konsumen, meliputi:
a)

Kebutuhan ruang gerak untuk aktifitas melayani, mengambil,


menyimpan dan mengemas barang.

b) Kebutuhan ruang gerak dalam melakukan transaksi (pembayaran).


2) Kebutuhan ruang berdasarkan dimensi dan lay out prabot meliputi:
70

a)

Kebutuhan untuk perabot yaitu show casser/counter display (meja


peraga) Back ficture (lemari penjamu), racks (rak-rak) dan cash
register counter (meja pembayaran).

b) Kebutuhan ruang untuk lay out perabot disesuaikan dengan bentuk


dasar ruang dan arah pencapaian.
b. Kebutuhan lebar minimum unit penjualan untuk mendapatkan besaran ruang
memenuhi persyaratan, maka hal-hal yang harus diperhatikan adalah:
1) Keleluasaan gerak.
2) Efisiensi dan efektifitas pencapaian.
3) Keamanan dan kemudahan pengontrolan.
4) Kemudahan main entrance.
c. Kebutuhan tinggi plafond unit penjualan
Tinggi plafond untuk unit penjualan diperhitungkan dari pengamatan
pembeli terhadap barang yang diperdagangkan dan pengamatan penjual
terhadap barang dagangan.
Kemudahan disesuaikan dengan lebar minimum unit penjualan. Tinggi
manusia diambil unit penjualan adalah 300 cm. sidut 60.
(Neufert Data Architecture, 1993).

71

d. Penentuan luas unit pertokoan.


Standar dimensi ruang yang dapat diterapkan dalam perencanaan pertokoan
diambil standar tipe unit toko minimal menurut literatur dengan
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: (Neufert Data Architecture,
1993).
1) Perilaku ruang gerak pedagang berdasarkan standar ruang pengunjung
100 240 cm.
2) Kebutuhan ruang gerak pedagang berdasarkan standar 70 150 cm.
(Neufert Data Architecture, 1993).
3) Kebutuhan untuk perabot seperti gambar yang terlampir.
Setelah diadakan penyesuaian dengan standar kelipatan modul dasar 30
cm dan kebutuhan lebar minimum untuk satu unit toko adalah 360 cm.
(Neufert Data Architecture, 1993).
Dengan mengambil panjang minimum unit ruang dua kali lipat lebar
minimum unit ruang, maka besaran dua dimensi unit pertokoan tipe
kecil.
= 360 x 720
72

= 259.200 cm

Luas penjualan tipe kecil ini di ambil sebagai patokan dasar untuk tipe
ruang toko lain. Dengan demikian dapat ditentukan tipe unit pertokoan.

Gambar III. 3

: Lay Out Toko Type Kecil

(Sumber

: Neufert Ernst)

Gambar III. 4

: Lay Out Toko Type Sedang

(Sumber

: Neufert Ernst)

73

Gambar III. 5

: Lay Out Toko Type Besar

(Sumber : Neufert Ernst)

6. Pola Tata Pencapaian Ruang


Pola ruang terbentuk dari sistem pencapaian yang digunakan pada unitunit ruang penjualan. Pola peruangan yang menjadi alternatif pada pertokoan
adalah pola peruangan dengan pencapaian satu arah, dua arah, tiga arah, dan

74

empat arah yang kemudian dianalisa untuk mendapatkan mana yang dipakai
dalam penerapan secara optimal.

a.

Pencapaian satu arah

1) Dari segi pelayanan


a)

Pencapaian bagi pengunjung cukup mudah.

b) Pencapaian lebih sederhana, dimana kemungkinan kontak langsung


dengan pengunjung hanya dari satu arah.
2) Dari segi penggunaan ruang
a) Pemanfaatan ruang lebih optimal.
b) Pengontrolan barang lebih mudah.
c) Privacy dan keamanan cukup baik.
3) Dari segi penggunaan material
Kurang ekonomis karena menggunakan dinding material lebih banyak.
4) Dari segi jaringan sirkulasi
75

Cukup ekonomis karena dibutuhkan daerah sirkulasi yang tidak banyak.


5) Dari segi teknis
a) Fleksibilitas ruang cukup baik.
b) Kemungkinan pengembangan cukup baik.
b. Pencapaian dua arah

1) Dari segi pelayanan


a) Pencapaian bagi pengunjung dua arah.
b) Kontak langsung dengan pengujung memungkinkan dan lebih
sederhana.
2) Dari segi penggunaan ruang
a) Pemanfaatan ruang lebih optimal.
b) Pengontrolan lebih mudah.
c) Privacy dan keamanan lebih terjamin.
3) Dari segi penggunaan material
76

Cukup ekonomis karena menggunakan sedikit dinding vertical.


4) Dari segi jaringan sirkulasi
Lebih ekonomis karena dibutuhkan daerah sirkulasi lebih sedikit.
5) Dari segi teknis
a) Fleksibilitas ruang cukup baik.
b) Kemungkinan pengembangan cukup baik.

b. Pencapaian tiga arah

1) Dari segi pelayanan


a) Pencapaian bagi pengunjung cukup mudah.
b) Kontak langsung dari pengunjung tiga arah.
2) Dari segi penggunaan ruang
a)

Pemanfaatan ruang cukup baik.

77

b) Pengontrolan cukup mudah.


c)

Privacy dan keamanan cukup terjamin.

3) Dari segi penggunaan material


Cukup ekonomi karena menggunakan dinding vertical sedikit.
4) Dari segi jaringan sirkulasi
Cukup ekonomis karena dibutuhkan daerah sirkulasi lebih sedikit.
5) Dari segi teknis
a) Fleksibilitas ruang cukup baik.
b) Kemungkinan pengembangan cukup baik.
7.

Sirkulasi Dalam Bangunan


Sirkulasi dalam bangunan berfungsi sebagai fasilitas penghubung antar
unit-unit kegiatan dalam bangunan.
Bentuk pola sirkulasi yang efektif dan efisien adalah sistem yang dapat
berintegrasi dengan pola-pola lay out system peruangan dan pola-pola struktur
dari bangunan tersebut.
Pola sirkulasi dapat digunakan menjadi dua penggunaan sistem yaitu:
a. Sistem sirkulasi horizontal

78

Pada umumnya sistem sirkulasi horizontral yang digunakan dalam


bangunan

adalah

selaras.

Hal

ini

perlu

dipertimbangkan

perlu

dipertimbangkan dalam perencanaan ruang sirkulasi adalah kejelasan


sirkulasi. Sirkulasi yang merata, keamanan pemakai dan besaran jalur
sirkulasi.
Pola sirkulasi yang digunakan adalah pola sirkulasi linear, pola
mengelilingi bangunan dengan pertimbangan sesuai dengan pola ruangan
yang digunakan, efisien dan efektif.
b. Sistem sirkulasi vertical

Tujuan pencapaian sirkulasi vertical adalah sebagai penghubung


antara lantai satu dengan lantai lainnya.
Hal ini yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan sirkulasi
vertical adalah kelancaran arus pengunjung, pelayanan yang merata, dapat
dilihat dengan langsung (jelas) aman dan nyaman untuk dilalaui.
8.

Pengkondisian Ruang
a.

Pencahayaan
Fungsi pencahayaan adalah sebagai penerangan dan unsur dekoratif
interior yang turut menunjang aktifitas perbelanjaan.
Menurut sumbernya sistem penerangan dapat dibedakan dalam dua
macam, yaitu:
79

1) Sistem pencahayaan alami


Pencahayaan alami hanya boleh didapat pada siang hari dari sinar
matahari. Sistem pencahayaan pada siang hari dari sinar matahari dapat
menimbulkan panas dan silau dalam ruangan untuk itu perlu dihindari
pencahayaan langsung kedalam ruangan. Dengan demikian perlu
dinding atau material yang dapat memantulkan atau mereduksi panas.
2) Sistem pencahayaaan buatan
Penggunaan cahaya buatan yaitu dari listrik baik dari PLN maupun dari
Gengset.
Penggunaan cahaya buatan untuk menerangi bagian yang perlu terdiri
atas beberapa bagian tergantung intensitas cahaya yang dibutuhkan,
yaitu:
(Neufer Data Architecture,1993)
a) Penerapan langsung, 90%-100% cahaya diarahkan ke permukaan
yang diterangi.
b) Penerapan semi langsung, 60%-90% cahaya diarahkan ke
permukaan yang diterangi.
c) Penerapan diffuse, 40%-60% cahay diarahkan ke permukaan yang
diterangi.
80

d) Penerapan semi tak langsung, 0%-10% cahaya di arahkan ke


permukaan yang diterangi.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam sistem pencahayaan adalah :
(1) Sesuai dengan fungsi dan karakter ruang.
(2) Tidak menganggu penglihatan (menyilaukan).
(3) Dapat memperindah interior ruang.
(4) Intensitas cahaya sesuai dengan kebutuhan
b. Penghawaan
Sistem penghawaan yang direncanakan adalah sistem penghawaan
alami dan sistem penghawaan buatan.
1) Penghawaan
Sistem ini dapat dengan membuat bukaan pada dinding.untuk
memperlancar aliran udara dalam ruangan digunakan fasilitas silang.
2) Sistem penghawaan buatan
Sistem penghawaan buatan yaitu dengan sisten AC window dengan
pertimbangan:
a) Dapat mengatur temperatur dalam ruangan.
b) Mudah dalam pemeliharaan.

81

c) Efisiensi dalam penggunaan daya listrik.


d) Handal dan biaya investasi lebih rendah
c. Akustik
Sistem akustik adalah sistem yang mengatur dan mengendalikan
bunyi, baik bunyi yang dinikmati maupun bunyi yang mengacaukan
Dasar pertimbangan :
1) Mengatasi/mengatur suara-suara yang mengganggu baik dari dalam
maupun dari luar bangunan.
2) Memberi kenyamanan bagi pelaku aktifitas
9.

Tata Masa dan Penampilan Bangunan


a. Tata Masa
Pertimbangan penentuan masa :
1) Kondisi tapak.
2) Bentuk dan fungsi banguna yang berbeda.
3)

Effektifitas pencapaian.

82

b. Penampilan bangunan
Dasar pertimbangan dalam menentukan arsitektur bangunan adalah sebagai
berikut :
1) Berpenampilan

tradisional

dan

modern

sesuai

dengan

fungsi

bangunanya namun tidak bertolak belakang dengan ciri arsitektur lokal.


2) Skala bangunan sesuai dengan komposisi bangunan dilingkungnya.
3)

Dinamis dan estetis.

10. Sistem Struktur dan Material


a. Sistem struktur
Pemilihan sistem struktur yang digunakan dipertimbangkan terhadap:
1) Fungsi bangunan
Tuntunan dari kegiatan banguna terhadap fleksibilitas dan efisiensi
ruang.
2) Keadaan fisik setempat
Daya dukung tanah, ketinggian air tanah dan keadaan tanah keras.
3) Faktor teknis
Struktur harus kuat,kaku dan stabil.
4) Faktor estetis
83

Berpengaruh pada penampilan bangunan


b. Material struktur
Dasar pertimbangan pemilihan material struktur :
Tahan terhadap bahaya kebakaran, bencana, pencemaran dan dengan
keadaan keawetan relativ tinggi.

BAB IV
84

ACUAN PERANCANGAN
A. Konsep Dasar Mikro
1.

Penentuan Lokasi
Penentuan lokasi pasar berskala kota atau wilayah, maka perlu
dipertimbangkan adalah lokasi yang ada. Lokasi pasar yang direncanakan adalah
lokasi yang telah ditentukan oleh Pemerintahan Kabupaten Buton Utara, yang
terletak di Kecamatan Wakorut.

Gambar IV. 1 : Peta Wilayah Lokasi Pasar Sentral

Dasar pertimbangan dalam penentuan lokasi pasar sentral yaitu :


a. Berada pada pasar sentral berdasarkan arah perkembangan kota dan rencana
induk tata ruang kota Kabupaten Buton Utara.
b. Berada pada area strategis yang nantinya dapat menjadi land mark Kecamatan
Wakorumba.
c. Mudah diakses, berada pada jalur utama transportasi dan dapat diakses dari
berbagai arah.
d. Luasan dan daya dukung tanah yang memadai.
85

e. Adanya unsur-unsur penunjang infrastruktur kota.


2. Pentuan Site
Lokasi site perencanaan pasar adalah pada lokasi yang telah ditentukan
oleh Pemerintahan Kabupaten Buton Utara. Pada site yang telah ada serta menjadi
dasar dalam penentuan site (tapak), ditentukan atas:
a. Rencana peruntukan lahan, terletak di kawasan pusat perdagangan.
b. Luasan site mencukupi untuk dilakukan peningkatan vitalitas pasar dan dapat
dijadikan sebagi wadah perbelanjaan yang berskala kota/wilayah.
c. Berada pada jalur arteri yang dilalui kendaraan umum dan terdapat sarana
d.
e.
f.
g.
h.
i.

transportasi laut.
Dekat dengan lembaga pendukung, seperti keamanan bank biro jasa lainnya.
Tingkat askes baik, dengan pencapaian langsung kearah site.
Kondisi site yang strategis serta dapat memberikan estetika visual.
Kondisi lingkungan dan masyarakat mendukung.
Adanya jaringan utilitas kota.
Berada pada daerah yang memenuhi persaratan tekno ekonomi.
Site untuk pasar sentral ini berada pada pusat perdagangan dan terdapat

berbagai infrastruktur laninya. Data-data mengenai tapak adalah sebagai berikut:


a. Peruntukan tapak
: Pasar Sentral.
b. Luas Tapak
: Panjang 250 m dan Lebar 150 m
c. Ketinggian bangunan
: Tiga Lantai Lantai
d. Kondisi tapak
: Relatif datar dan tidak berkontur.

3. Kondisi Exiting

86

Gambar IV. 2

: Site Pasar Sentral

Site perencanaan pasar sentral ini berada di Desa Wantulasi, dengan


batasan-batasan sebagai berikut:
a. Bagian utara site, berbatasan dengan laut.
b. Bagian timur site, berbatasan dengan kantor polsek dan pemukiman.
c. Bagian selatan site, berbatasan pemukiman.
d. Bagian barat site, berbatan dengan pemukiman
4. Penentuan Entrance
a. Main entrance

Main entrance adalah jalan masuk utama bagi pengunjung kedalam


site. Main entrance dipusatkan pada jalan yang mudah dijangkau, sedangkan
jalan keluar ditempatkan pada jalan yang tingkat pemakaiannya rendah.
87

Pemisahan perletakan untuk jalan keluar dam masuk kendaraan


didasarkan atas beberapa pertimbangan, seperti:
1) Jalan yang dilalui tranportasi umum merupakan arah masuknya
pengunjung terdapat.
2) Dengan pemisahan jalur masuk keluarnya kendaraan pada jalan yang
berbeda, hal ini akan memperlancar sikulasi kendaraan dari tapak.

b. Side entrance

Side entrance merupakan jalan alternatif untuk masuk bagi para


pengunjung yang difungsikan sebagai jalan dari dalm dan luar site. Side
entrence ditempatkan pada jalan yang askesnya sedang.
c.

Sevice entrance
Service entrance adalah jalur alternatif untuk kegiatan servis seperti
pelayanan bangunan, kegiatan persiapan pameran, sirkulasi pemadam
kebakaran dan lain sebagainya.
Service entrence ditempatkan pada bagian dengan jalan tingkat
askesnya lebih rendah.

88

Keterangan:
= Main Entrance
= Side Entrance
= Service Entrance

Gambar IV. 3 : Penempatan Entrance Pada Site Pasar sentral

5. Sistem Sirkulasi Pada Site


a. Sirkulasi kendaraan
Sikulasi kendaraan dalam tapak terbagi atas:
a.

Sirkulasi kendaraan barang (loading unloading)


89

b.

Sirkulasi kendaraan pengunjung.

c.

Sikulasi kendaraan umum.


Dari ketiga jalur sirkulasi diatas, masing-masing sitem sikulasi

diberikan kejelasan agar sirkulasi dalam tapak dapat berjalan dengan lancar
dan memberikan kemudahan, kenyamanan serta keamanan.

b. Sirkulasi pejalan kaki (pedestrian)


Sirkulasi untuk pejalan kaki diusahakan agar lebih manusiawi, aman,
terarah dan jelas, sehingga dapat mungkin menghindari terjadinya persilangan
(croassing) dengan kendaraan.
Sirkulasi menuju site dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Sirkulasi kendaraan pribadi.
b. Sirkulasi kendaraan umum.
c. Sirkulasi pejalan kaki dan penyandang cacat.

90

Keterangan:
= Sirkulasi Kendaraan
= Sirkulasi Pejalan Kaki

Gambar IV. 4

: Sistem Sirkulasi Pada Site

Kendaraan Masuk

Kendaraan Keluar

91

Kendaraan Berputar

Kendaraan Menuju
Site

Gambar IV. 5

: Sistem Sirkulasi Menuju Sit

Khusus untuk pejalan kaki, pedestrian di kedua sisi jalan direncanakan


cukup lebar dan nyaman. Pola sirkulasi dalam site dipilih sirkulasi grid, Karena
lebih mudah pengaturannya dan dapat menimbulkan kesan modern.
Sirkulasi dalam tapak dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Sirkulasi kendaraan.
b. Sirkulasi pejalan kaki.
c. Sirkulasi kendaraan serfis.

Sistem Sirkulasi Dalam Site 92


(Menggunakan Pola Grid)

Gambar IV. 6 : Sistem Sirkulasi Dalam Site

Untuk merencanakan sirkulasi dalam site harus dapat memperhatikan


dasar pertimbangan berikut:
a. Surkulasi kendaraan
1) Menuntut kejelasan dan kemudahan.
2) Membutuhkan penampungan kendaraan dalam bentuk parkiran.
3) Tidak mengganggu pejalan kaki dan penyandang cacat.
4) Mudah untuk menaikan dan menurunkan penumpang.
b. Sirkulasi pejalan kaki dan penyandang cacat
1) Hindari cross sirkulasi dengan kendaraan.
2) Kemungkinan pejalan kaki untuk menikmati pemandangan.

93

3) Mempertahankan kelancaran, keamanan dan kenyamanan pejalan kaki,


seperti batas kelelakahan berjalan kaki maksimum 30 meter.
4) Askes langsung ke fasilitas transportasi umum.
5) Khusus bagi penyandang cacat, untuk mengatasi perbedaan jalan
digunakan ramp dan jalur pemandu.

Gambar IV. 7 : Ramp Bagi Penyandang Cacat


Dimensi jalur:
1) Permukaan tidak halus dan licin.
2) Tanpa hambatan atau lubang > 2 cm
3) Lebar eksterior jalur > 90 cm.
94

Gambar IV. 8

: Jalur Pemandu Bagi Penyandang Cacat

6. Orientasi dan View pada Site


a. Hal-hal yang mempengaruhi dan menjadi pertimbangan orientasi pada tapak
yaitu:
1) Orientasi matahari.
2) Orientasi terhadap jalan.
3) Orientasi terhadap bangunan.
b. Orientasi pada site
1) Orientasi kejalan utama yang mudah dilihat dan dapat diaskes oleh
kendaraan bermotor menuju tapak.
2) Menyesuaikan faktor klimatologi terutama sinar matahari.

95

3) Berdasarkan arah terbit tenggelamnya matahari, untuk itu orientasi pada


bangunan lebi banyak kearah utara-selatan sebagai penerangan alami pada
siang hari namun meminimalkan cahaya sinar mataharilangsung pada
toko-toko atau peralatan sefrta pengunjung pasar.

4) Orientasi kearah utara tapak.

Penyinaran Sore

Puncak Penyinaran
Orietasi Arah Bangunan

Penyinaran Pagi

Gambar IV. 9

: Orientasi Matahari Pada Site

c. View pada site


96

1) View kedalam site


View Baik

View Baik

View Dari
Arah Laut

View Baik

Gambar IV. 10

: View Keadalam Site

2) View ke luar site

View Kearah
Pemukiman

View Kearah
Pemukiman

View KeArah
Laut

View Kearah
Perkantoran

97

Gambar IV. 11

: View Keluar Site

7. Kebisingan
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebisingan tapak:
1) Kebisingan tertinggi berada ditepi jalan .
2) Kebisingan sedang terdapat di jalan.
3) Kebisingan kurang berada didaerah pemukiman penduduk.
4) Daerah tenang pada daerah laut.
b. Hal-hal yang dapat mengatasi kebisingan:
1) Memasang bahan/material yang dapat menyerap bunyi.
2) Pemanfaatan fegetasi sebagai peredam kebisingan.
3) Letak antara jalan dan bangunan harus disesuaikan.

Kebisingan Tinggi
Daerah Tenang
Kebisingan Sedang
Kebisingan Tinggi

98

Gambar IV. 12

: Tingkat Kebisingan pada Site

8. Penzoningan pada Site


Pertimbangan penentuan pengelompokan kegiatan pendaerahan pada site
yaitu:
a. Fungsi-fungsi bangunan yang direncanakan keberadaannya dalam site.
b. Kebutuhan ruang yang diperlukan berdasarkan fungsi dan sifat kegiatan.
c. Sistem pencapaian dan jalur sirkulasi yang lansung, mudah dan aman.
Zoning dalam tapak
a. Zoning bangunan tediri dari area public, semi publik, privat dan servis.
b. Zoning taman dan penghijauan.

Sevis

Privat

Semi Publik

99

Publik

Penghijauan

Gambar IV. 13

: Penzoningan pada Site

9. Bentuk dan Penampilan Bangunan


a. Bentuk dasar bangunan
Bentuk dasar bangunan pasar ini adalah segi empat yang merupakan
variasi dari bentuk bujur sangkar, dimana menunjukan suatu yang murni dan
orisinil, merupakan bentuk yang stabil, netral dan tidak mempunyai arah
tertentu.
Seperti segi tiga, bujur sangkar tampak stabil jika berdiri pada salah
satu sisinya dan dinamis jika berdiri pada salah satunya dengan kemungkinan
pengembangan dan modifikasi penambahan bentuk geometris lain
Tabel IV. 1. Pemilihan Bentuk Masa Bangunan

100

b. Penampilan bangunan
Sebagai fasilitas yang menunjang kebutuhan masyarakat, pasar harus memiliki
karakter tersendiri:
1) Bentuk bangunan modern dengan konsep arsitektur modern.
2) Sistem sirkulasi tidak mengganggu lingkungan.
3) Mempunyai area pelayanan tersendiri.
B. Konsep Dasar Mikro
1. Kebutuhan ruang
a. Aktifitas jual beli, terdiri atas:
1) Melihat, menikmati show window.
2) Melihat counter display/ show cases.
3) Mengadakan perbandingan-perbandingan.
4) Mencoba dan menguji kualitas barang.
101

5) Transaksi.
6) Pengepakan.
b. Aktifitas dari pengelola dan staf terdiri atas:
1) Kegiatan administrasi.
2) Kegiatan pengawasan dan pemeliharaan.
a) Sifat aktifitas
1. Aktifitas public terdiri dari:
a. Aktifitas pengadaan barang.

b. Aktifitas pengadaan jasa hiburan.


2. Aktifitas semi publik, adalah aktifitas yang berhubungan langsung
dengan publik, terdiri atas:
a. Aktifitas parker kendaraan.
b. Aktifitas pengunjung dan arus sirkulasi pengunjung.
c. Aktifitas palayanan jasa sosial.
3. Aktifitas prifat adalah aktifitas yang tidak berkaitan langsung
dengan publik yang umumnya terdiri atas:
a. Aktifitas bongkar muat barang.
b. Aktifitas yang bersifat administratif.
102

c. Aktifitas pengontrolan.
d. Aktifitas keamanan.

e. Aktifitas penyimpan barang.

b) Jenis perbelanjaan dan fasilitas yang ditampung


Berdasarkan jenis dan aktifitas yang telah diuraikan diatas, maka
jenis perbelanjaan dan fasilitas ditampung adalah:
1. Jenis usaha pertokoan
a. Pertokoan
Pembeli mendapatkan jasa pelayanan dan kemungkinan terjadi
proses tawar- menawar harga barang.
b. Jenis usah kios
Sama

halnya

dengan

jenis

usaha

pertokoan,

pembeli

mendapatkan jasa transaksi tawar menawar, tetapi kemungkinan


besar harga dapat dikurangi, biasanya usaha kios ini digunakan
oleh pedagang barang-barang kerajinan, mainan anak-anak,
barang-barang keperluan rumah tangga dan lain-lain.
c. Jenis usaha peralatan

103

Jenis usaha ini biasanya terjadi proses tawar menawar sangat


besar, jenis usaha ini biasanya oleh pedagang sayur dan buagbuahan, bahan makanan yang diproses, bumbu-bumbu makan,
hasil laut, hasil ternak dan lain-lain.

d. Jenis usaha jasa


Jenis usaha ini adalah pemberian jasa jasa terhadap pemakai
misalnya, warung kmakan, reparasi elektronik, tukang cukur
(salon) , dan lain-lain.
2. Funsi pelengkap
a. Restoran
Restoran yang direncanakan adalah bersifat tertutup, dan
berpisah dari pasar dan menyediakan beberapa jenis masakan
serta makanan.
b. Billiyard
Merupakan tempat untuk mendapatkan hiburan dan dapat pula
dijadikan tempat bersantai.
c. Bank
d. Musallah

104

3. Funsi-fungsi penunjang, yang terbagi atas:


a. Fasilitas parkir
Merupakan tempat penyimpanan kendaraan pengunjung dan
servis. Fasilitas parker menurt rencana akan dialokasikan
disekitar tapak (site) bangunan.
b. Kantor pengelola
Kantor pengelola direncanakan untuk memudahkan pelaksanaan
teknis, pengawasan, administrasian, pemeliharaan.
c. Kantor keamanan
Kantor keamanan direncanakan guna mendukung kondisi yang
kondusif

didalam

dan

diluar

pasar

serta

memudahkan

pengawasan.
d. Ruang service dan sirkulasi
Ruang sevice dan sirkulasi merupakan ruang yang direncanakan
dengan pertimbangan untuk kenyamanan dan keamanan, baik
oleh pengunjung maupun pihak pengelola, yang termasuk dalam
ruangan ini adalah:
1. Tangga service
2. Pintu darurat

105

3. Gudang
4. Ruang mekanikal eletrikal
5. Shaf (sampah, air bersih, air kotor, telepon, dan lain-lain).
6. Hall
7. Ruang informasi
2. Besaran Ruang
a. Perkiraan kebutuhan luas lantai bangunan
1) Standar kebutuhan luas tanah untuk bangunan pasar sentral, adalah 0,2 m/
orang.
2) Jumlah penduduk yang dilayani sampai tahun 2020 adalah 16.389 jiwa.
Kerapatan bengunan/ BC (Building Coverege) adalah 60% : 40%, dimana
60% dari luas tapak merupakan luas bangunan, yang sisanya sebesar 40%
untuk ruang terbuka (open space).
3) Perhitungan luas lantai bangunan:
= 0,2 m/orang x 16.389 orang
= 3.277,8 m

= 3,278 m

b. Besaran ruang
1) Besaran ruang perdagangan barang dan jasa

106

a) Pertokoan
Penentuan luas/dimensi unit pertokoan, standar dimensi yang
tepat direncanakan dalam perencanaan pertokoan (standar ruang gerak
dan prabot), yaitu dengna mengambil panjang minimum ruang (lebar
minimum unit ruang berdasarkan kelipatan modul dasar 30cm adalah
360cm) atau seluas 3,60m x 7,20m = 25,95 m
(Sumber : Neufert Data Arsitecture, 1993).
Patokan dasar luas unit pertokoan:
-

Type besar (A)

= 7,20m x 14,40m = 103,69m untuk 1 unit

Type sedang (B)

= 7,20m x 7,20m

Type kecil (C)

= 3,60m x 7,20m = 25,92 m untuk 1 unit

Kebutuhan

ruang

pertokoan

= 51,84 m untuk 1 unit

dapat

diproyeksikan

pekembangannya dari tahun ketahun diasumsikan dibutuhkan sebanyak


100 buah untuk memudahkan perhitungan terdiri atas type besar (A) :
20%, type sedang (B) : 30% dan sisanya type kecil (C) : 50%.
Jumlah dan besaran ruang pertokoan berdasarkan typenya:
-

Tipe A

= 20% x 100 x 103,68 m

= 2.076,6 m

Type B

= 30% x 100 x 51,84 m

= 1.555,2 m

Type C

= 50% x 100 x 25,92 m

= 1.296 m
107

Luas pertokoan

= 4.924,8 m

Sirkulasi : 20% dari luas pertokoan


= 0,2 x 4.924,8 m
Total

= 984,96 m
= 5.909,76 m

b) Kios
Kios diasumsikan dibutuhkan sebanyak 100 buah.
-

Ukuran 4,00 x 3,00 = 12,00 m x 40 buah


= 480 m
Sirkulasi 20%

= 576 m

c) Peralatan
Peralatan diasumsikan dibutuhksn sebanyak 40 buah
-

Shelter ukuran 1,5 x 1,5 = 2.25 m x 40 buah


= 90 m
Sirkulasi 20%

= 108 m

2. Besaran ruang untuk kegiatan pelengkap


a) Restoran

108

Besaran ruang diambil berdasarkan standar data dari Neufert Architect


Data. Asumsi daya tampung restoran adalah 200 orang dengan
perincian:
-

Ruang restoran (kapasitas 200 orang)


Standar : 2,00 m/ orang
= 2,00 m/ orang x 200 orang = 400 m

Ruang servis
Standar 30% dari luas restoran
= 0,3 x 400 m

= 120 m

Ruang administrasi (asumsi 5 orang)


Standar : 4,5 8,00 m/ orang
= 5 orang x 5,00 m/ orang

=25 m

Toilet (asumsi 4 unit)


Standar : 25 m/ orang
= 4 unit x 25 m/ unit

= 100 m

Ruang karyawan (asumsi 40 orang)


Standar : 1,20 2,00 m/ orang
= 1,50 m/ orang x 40 orang

= 60 m
109

Luas resturan
-

= 705 m

Sirkulasi
Standar : 20% dari luas ruang restoran
= 0,2 x 705 m

= 141 m

Total

= 864 m

b) Billiyard
Standar besaran ruang gerak diperoleh dari Neufert Arcitect Data,
dengan perincian:
-

Ruang untuk bermain (kapasitas 10 meja)


Standar : panjang 2,00 3,00 m dan lebar 4,00 6,00 m
= 2,00 m x 5,00 m x 10 meja = 100 m

Ruang pengelola (asumsi 10 orang)


Standar 1,20 2,00 m/ orang
= 1,5 m/ orang x 10 orang

= 15 m

Ruang administrasi (asumsi 3 orang)


Standar : 4,5 8,00 m/ orang
= 3 orang x 5,00 m/ orang

= 15 m

Toile (asumsi 2 unit)


110

Standar : 25 m/ orang

= 2 unit x 25 m/ unit

= 15 m

Luas ruangan billiyard

= 180 m

Sirkulasi
Standar : 20% dari luas area restoran
= 0,2 x 180 m

= 36 m

Total

= 216 m

c) Bank / Atm Bersama


Standar besaran ruang gerak diperoleh dari Neufert Arcitect Data,
dengan perincian:
-

Ruang kerja fungsional diasumsikan = 200 m

Sirkulasi dan sevis

= 60 m

Total

= 260 m

d) Musallah
Standar besaran ruang gerak diperoleh dari Neufert Arcitect Data,
dengan perincian:
-

Ruang ibadah/musallah (kapasitas 75orang)


111

Standar : 2,00 m/ orang


= 75 orang x 2,00 m/ orang

= 150 m

Sirkulasi
Standar : 20% dari luas ruang ibadah
= 0,2 x 150 m

= 30 m

Total

= 180 m

3. Besarang ruang untuk kegiatan penunjang


a) Fasilitas parkir
Standar kebutuhan parkir untuk kendaraan:
-

Bis dan sejenisnya (mobil Box)

= 21.975 m

Mobil

= 6.25 m

Motor

= 4.00 m

Kendaraan penunjang

= 21 m

Kendaraan barang

= 96 m

Besaran ruang parkir dan droping barang:

112

Kebutuhan area parkir diperhitungkan dengan asumsi:


-

Setiap 100 m luas lantai bangunan, dibutuhkan 1 unit parkir mobil


@ 25 m

Setiap 100 m luas lantai bangunan, dibutuhkan 3 unit parkir motor


@ 2,5 m.

Dengan demikian kebutuhan luas area parkir dapat dihitung sebagai


berikut:

25.316 m
-

Untuk mobil:

x 25 m

= 6.329 m

100
25.316
-

Untuk motor:

x 2,5 m x 3

= 1.898,7 m

100
Sub total area parkir
-

= 8.227,7 m

Untuk kegiatan droping barang:


Di asumsikan 30% dari luas lantai parkir

= 0,30 x 8.227,7 m

= 2.468,31 m

Luar area parkir dan droping barang

= 10.696,01 m

Sirkulasi 20%
0,20 X 10.696,01 m

= 2.139,2 m

Total

= 12.835,2 m
113

Pola untuk ruang luar (landscaping) 30%


30% x 12.835,2 m

= 3.850,56 m

b) Kantor pengelola (PD. Pasar)


Standar besaran ruang gerak diperoleh dari Neufert Arcitect Data.
-

Ruang kepala pasar


Ruang kerja (asumsi 2orang)
= 2 x (5,4 x 1,8) m

= 19,44 m

Ruang tamu (asumsi 4 orang)


= 4 x (5,4 x 1,8) m

= 14,40 m

Wc (1 unit)
= 1 x (2,00 x 1,5) m
Luas ruang kepala pasar
-

= 3,00 m
= 36,84 m

Ruang defisi pasar


Ruang kerja (asumsi 3 orang)
= 3 x (5,4 x 1,8)

= 29,16 m

114

Ruang asisten (asumsi 3 orang)


= 3 x (5,4 x 1,8) m

= 29,16 m

Ruang staf (asumsi 15 orang)


= 15 x (1,5 x 2,16) m
Luas ruang defisi pasar
-

= 38,81 m

Wc (asumsi 4 unit)
= 4 x (2,00 x 1,5)

= 8,00 m

Ruang makan (asumsi 10 orang)


= 10 x (2,52 x 1,54)

= 106,92 m

Ruang arsip (2 unit)


= 2 x (2,00 x 2,00)

= 48,60 m

= 12,00 m

Urinoir (asumsi 8 orang)


= 8 x (1,44 x 0,89)

Total luas ruang pengelola

= 10,25 m
= 212,82 m

c) Kantor keamanan
-

Ruang kerja (asumsi 5 orang)


= 5 x (5,4 x 1,8) m

= 48.60 m

115

Ruang staf (asumsi 5 orang)


= 5 x (1,5 x 2,1) m
Total luas ruang keamanan

= 15,75 m
= 64,35 m

d) Ruang serfis dan sirkulasi


- Ruang informasi dan telepon (asumsi 15 orang)
Standar : 2,00 3,00 m/ orang
= 15 orang x 3,00 m/ orang
-

= 40,00 m

Ruang mekanikal eletrikal dan sistem komunikasi (luas diasumsi)


= 30,00 m

Ruang studio sound sistem (asumsi 3 orang)


= 3 orang x (3,6 m x 2,00 m)

= 19,44 m

Ruang control security/ kamera pengintai (asumsi 4 orang)


Standar : 2,00 m/ orang
= 4 orang x (7,5 m x 2,00 m)

= 6,00 m

Ruang pemeliharaan (asumsi)


= 40,00 m

116

Lavatory
Ruang untuk toilet umumnya diperhitungkan dengan asumsi waktu
(peak Hour) kerapatan pengunjung 5 m/ orang .

Berarti orang dalam gedung pada waktu padat adalah


3.278
= 655,6 orang

= 656 orang

5
Asumsi menggunakan toilet secara bersama 30% berarti:
= 30% x 656

= 196,8 orang = 197 orang

Perbandingan pemakaian fasilitas antara pria dan wanita adalah


sebesar 40 : 60
Kebutuhan luas lavatory diperhitungkan terhadap pemakai:
1 Wc

untuk 30 orang

@ 1,8 m

1 Westafel

untuk 50 orang

@ 0,82 m

1 Urinior

untuk 25 orang

@ 0,72 m

Kebutuhan toilet pria


40% x 197
Wc

= 2,63 unit atau 3 unit


30
40% x 197

Westavel

= 1,58 unit atau 2 unit


117

50
40% x 197
Urinior

= 3,15 unit atau 3 unit


24

Kebutuhan toilet wanita


60% x 197
Wc

= 3,94 unit atau 4 unit


30
60% x 197

Wastafel

= 2,36 unit atau 2 unit


50

Kebutuhan luas area untuk lafatory:


Wc

= (3 + 4) x 1,8 m

= 12,60 m

Wastafel

= (2 + 2) x 0,82 m

= 3,28 m

Urinoir

= 3 x o,72 m

= 2,16 m

Sub total

= 18,04 m

Flow (sirkulasi) 30% x 18,04 m

= 5,41 m

Total

= 23,45 m

Total luas ruang pelayanan

= 196,41 m

Rekapitulasi
a. Kelompok ruang perdagangan barang dan jasa = 4713,13 m
b. Kelompok ruang kegiatan pelengkap

= 1520 m
118

c. Kelompok kegiatan penunjang


Total Luasan

= 4467,91 m
= 10701,04 m

Luas area perencanaan


Rasio terbangun : tak terbangun 40% : 60%
10701,04 m
Luas area =

x 60 % = 16051,56 m
40 %

Jadi luas area perencanaan yang dibutuhkan adalah 16051,56 m

3. Pengelompokan Ruang
Dasar pengelompokan dan pola ruang pada bangunan dipertimbangkan:
a. Pengelompokan ruang berdasarkan fungsinya masing-masing. Untuk area
pasar yang menimbulkan suasana ramai dan suara bising ditempatkan pada
area utama.
b. Pengelompokan jenis aktifitas berdasarkan penggolongan jenis barang
dagangan dan sifat kegiatannya.
c. Strategi dan pemasaran, menyangkut prioritas urutan, penempatan jenis
kegiatan, frekuensi pengunjung dan kontinuitas hubungan.
Berdasarkan pertimbangan penggolongan aktifitas dan pola ruang diatas, maka
ruang dapat dikelompokan:
119

a. Pengelompokan ruang penjualan


Kelompok ruang penjualan barang kebutuhan harian, dibedakan menurut
sifatnya dan karasteristik barang dagangan yaitu:
1) Kelompok barang basah dan berbau.
2) Kelompok barang basah dan tidak berbau.
3) Kelompok barang kering dan tidak berbau.

Basah dan Berbau

Kering dan Tidak Berbau


Basah dan Tidak
Berbau

Keterangan
= Hubungan kontinyu
= Hubungan temporer

120

Gambar IV. 14

: Skema Hubungan Ruang Penjualan

b. Pengelompokan ruang pelengkap


Terdiri dari:
1) Restoran
2) Billyard
3) Bank
4) Musallah

Restoran

Bank

Security

Billiyard

Musallah

Keterangan
= Hubungan kontinyu
= Hubungan temporer
121

Gambar IV. 15

: Skema Hubungan Ruang Pelengkap

c. Pengelompokan ruang sevis


Terdiri dari:
1) Ruang untuk kebersihan
2) Lavatory
3) Ruang makanikal eletrikal
4) Gudang
5) Ruang untuk dropping barang

Kebersihan

Lavatory

Gudang

Dropping Barang

Mekanikal

Keterangan
= Hubungan kontinyu
= Hubungan temporer
122

Gambar IV. 16 : Skema Hubungan Ruang Servis

d. Pengelompokan tata ruang luar


1) Parkir
2) Sirkulasi eksternal berupa jalan mobil angkutan barang dan pemadam
kebakaran
3) Ruang untuk landscaping.

Parkir

Sirkulasi

Lanscaping

Eksternal

Keterangan
= Hubungan kontinyu
= Hubungan temporer

Gambar IV. 17 : Skema Pola Tata Ruang Luar

123

Pola hubungan makro

Kelompok
Rg. Pelengkap

Rg. Sirkulasi
Umum

Kelompok
Rg. Penjualan

Kelompok
Rg. Luar

Kelompok
Rg. Servis

Keterangan
= Hubungan kontinyu
= Hubungan temporer

Gambar IV. 18

: Skema Pola Hubungan Makro

4. Penataan Ruang
a. Perencanaan ruang dalam
Penataan interior

ditekankan pada ruang/unit penjualan dan ruang

penjualan, sehingga dapat memberikan kesan yang estetis tapi modern sesuai
124

dengan konsepnya yaitu dengan memberikan penambahan permainan bentuk


serta garis-garis pada desain interiornya.
Elemen-elemen ruang dalam yang digunakan diusahakan berkesan
estetis indah, semarak serta modern. Penyelesaian interior dapat diuraikan
sebagai berikut:
1) Penutup lantai utamanya untuk unit-unit penjualan digunakan bahan tegel,
kramik dan keramik serta pemasangannya disesuaikan dengan pola desain.
2) Kolom-kolom/pilar diberikan penutup dari panel kalsium berbentuk plat
dengan desain yang disesuaikan. Pada kolom-kolom tersebut dibungkus
dengan stainless steel.
3) Menggunakan pipa stainless steel dengan penutup temperet glass.
4) Untuk melindungi bahan baja dari kebakaran pada rangka digunakan
mineral fiber yang disemprotkan pada elemen rangka luar, untuk
mengurangi panas yang ditimbulkan oleh matahari maka menggunakan
bahan polycarbonate resin shell.
5) Penyelesaian interior pada bagian selasar dan daerah penjualan, adalah
dengan menggunakan keramik yang berwarna terang pada lantai, sesuai
dengan pola desain dan pada setiap unit penjualan disediakan boks untuk
neon sigh yang dilapisi oleh acrilit.

125

b. Perencanaan ruang luar


Adapun elemen-elemen ruang yang direncanakan adalah:
1) Pepohonan dengan jenis dan fungsinya masing-masing untuk nilai estetis
serta mengurangi intensitas angin laut.
2) Taman sebagai pengarah sirkulasi dan sebagai pelindung dari efek bising
yang ditimbulkan oleh aktifitas kendaraan dari luar site.
3) Taman befungsi sebagai penyaring udara dan member kesan artistic.
4) Elemen penunjang lampu jalan yang berfungsi sebagai unsure dekoratif dan
penerangan eksterior.
5) Ramp penghubung yang menghubungka zona basah dan kering digunakan
juga sebagai tapak pedagang kaki lima dan dapat pula dijadikan sbagai
sculpture.
5. Persyaratan Ruang
a. Sistem pencahayaan
Pencahayaan ditunjukan agar terdapat penerangan didalam dan diluar
bangunan atau ruang. Sistem pencahayaan yang digunakan dalam bangunan
dibagi atas 2 (dua) bagian yaitu:

1) Sistem pencahayaan alami


126

Pada sisi bagian luar atau belakang bangunan diberikan bukaan-bukaan


sehingga cahaya matahari dapat merembes masuk. Untuk mengurangi
intensitas cahaya yang masuk secara berlebihan dapat ditanggulangi dengan
cara:
a) Penempatan pohon pelindung
b) Penempatan overstek dan sunscreen pada sisi luar bangunan
2) Sistem pencahayaan buatan
Sistem pencahayaan buatan yang dimaksudkan adalah penggunaan material
lampu yang sumbernya berasal dari listrik.
Dengan penggunaan pencahayaan buatan dimaksudkan agar dapat member
kesan suasana yang terang, aman dan menyenangkan dalam berbelanja.
Semua penerangan dalam bangunan di kontrol melalui komputer yang
berada diruang kontrol.
Sistem pencahayaan sedapat mungkin dapat dikontrol dan dalam
pengaturannya menggunakan sistem mekanis.
b. Sistem penghawaan
Sistem penghawaan yang digunakan dalam ruangan adalah:

1) Sistem penghawaan alami


127

Dalam perencanaan pasar sentral, untuk memperlancar sistem penghawaan


maka dibuatkan bukaan-bukaan/jendela untuk memungkinkan udara
masuk.
2) Sistem penghawaan buatan
Penghawaan buatan yang digunakan adalah Air conditioner, penggunaan
AC window pada ruangan dimaksudkan agar:
a) Temperatur ruang dapat terkontrol
b) Kelembapan udara dapat diatur
c) Dapat mengatur sirkulasi dalam ruang
d) Efisiensi dalam penggunaan listrik
c. Sistem akustik
Untuk mencegah kemungkinan terjadinya kegaduhan khususnya pada ruang
yang membutuhkan tingkat ketenangan seperti pada ruang kerja.
Sistem pencegahannya dilakukan:
1) Penempatan fungsi-fungsi bangunan secara vetikal bagi ruang-ruang yang
membutuhkan ketenangan lebih tinggi ditempatkan lebih diatas.
2) Bising (sumber bunyi) yang berasal dari luar bangunan dengan
menggunakan pohon-pohon pelindung sebagai barier.

128

6. Penampilan Bangunan
Penampilan bangunan mencerminkan fungsi sebagai bangunan sarana
interaksi jual beli dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a. Unit-unit penjualan seperti toko dan kios diberikan aksen modern, seperti
permainan garis, tekstur dan warna.
b. Pada bangunan penunjang kesan modern pun ditampilkan pada fasat
bangunan.
c. Keserasian proposional bangunan terhadap tapak dan kondisi lingkunagan.
d. Mencerminkan sarana pelayanan umum yang berfungsi sebagai tempat
interaksi jual beli, dan informasi sehingga harus menampakan penampilan
yang memberi kesan menarik dan mengundang tapi modern.
e. Bersifat sarana jual beli yang tidak terlepas dari suasana ramai, sehingga
penampilan bangunan sedapat mungkin member kesan terbuka dengan konsep
awal yaitu modern.
f. Mampu meningkatkan

kualitas lingkungan sehingga menjadi ciri bagi

lingkungan, juga sebagai daya tarik bagi pengunjung dalam hal ini pembeli.

Adapun pendekatan penampilan bangunan:


a. Orientasi bangunan sedapat mungkin dapat dicapai dari segala arah.
129

b. Kesan modern harus lebih ditonjolkan melalui pengungkapan arsitektural,


yaitu bentuk bangunan dengan aktifitas pasar pada umumnya.
c. Adapun unsure estetika seperti keseimbangan, skala, proporsi dan klimaks.
d. Pemberian aksen pada bagian tertentu pada bangunan seperti pemberian garisgaris fertikal agar bangunan berkesan tinggi dan sebaliknya pemberian garisgaris horizontal agar bangunan berkesan panjang.
e. Penggunaan bahan dan seperti material kaca dan bahan pabrikasi juga
mempengaruhi penampilan bangunan.
7. Sistem Jaringan Utilitas
a. Sistem plambing
1) Sistem jarigan air bersih
Sistem jaringan air bersih yang dipergunakan banguan berasal dari
Perusahaan Air Minum (PAM). Sumber mata air utamanya adalah PAM
karena pasokan air dari PAM sangat memadai.
Sistem distribusi air bersih yaitu air yang berasal dari PAM ditampung pada
bak utama (main reservoir) yang berada pada bagian atas dengan sistem
tangki atas kemudian disalurkan keunit-unit yang membutuhkan.
Untuk pendistribusian air, dipakai 2 (dua) tangki yaitu:
a) Tangki pertama digunakan untuk suplai air bersih.
130

b) Tangki kedua digunakan untuk fire hydrant apabila terjadi kebakaran.


Sistem penyaluran air bersih ke unit-unit yang membutuhkan dengan
cara pemompaan air secara otomatis. Unit yang membutuhan air bersih akan
teraliri dengan sendirinya, utamanya pada unit penjualan yang sifatnya basah.
2) Sistem pembuangan air kotor
Jaringan air kotor dari water Closet (C) dengan jaringan air bekas dari
lavatory dan floor-drain digabungkan. Setiap plambing fixtures yang
terpasang dilengkapi dengan U-trapdan pada awal saluran Clain Out (CO)
untuk maintenance. Air buangan dari jaringan pipa induk pembuangan
menuju sistem pengolahan akhir.
Pada bangunan ini direncanakan menggunakan sistem sentral swage
Treatment Plant untuk pengolahan akhir. Material penampungan terbuat
dari beberapa bagian yang merupakan tahap proses untuk mendapatkan
kualitas air buangan yang disaratkan.
Adapun proses Swage Treatment Plant ini adalah sebagai berikut:
a) Equalization Tank yaitu proses penstabilan kualitas maupun kuantitas
air banguan dengan menggunakan alat sceen communitor dan air
blower yang berfungsi untuk menyaring, mwnghancurkan dan
mengaduk raw material.

131

b) Aeration Compaterment yaitu proses oksidasi dan mikro organism


untuk menguraikan kandungan-kandungan organic yang berada dalam
air bangunan.
c) Sedimentation Compartement

yaitu proses pemisahan antara liquid

dengan endapan lumpur organik dimana air yang mengalir dari bak
pengendapan sudah baik kualitasnya.
d) Disinfection Compartement yaitu proses pembubukan chloor untuk
disinfection effluent yang masih mengandung bakteri.
Dengan melalui bebrapa proses tersebut diatas kwalitas air limbah yang
akan dibuang sudah memenuhi persaratan air buangan. Pada unit penjualan
seperti pada penjualan ikan dan pembuangan limbah sedapat munkin tidak
terlihat oleh pembeli dan air limbah tidak menggenangi tempat penjualan,
dengan cara membuat sebuah pipa buangan air kotor langsung kepengolahan
limbah.
b. Sistem kominikasi
Sistem komunikasi yang digunakan pada bangunan, terdiri dari:
1) Komunikasi Internal
2) Komunikasi Eksternal

a) Interkom, digunakan untuk komunikasi antar ruang pada bangunan.

132

b) Sound system call, digunakan untuk komunikasi satu arah untuk


pemberitahuan atau panggilan.
c) Close Circuit Television (CCTV), monitor kegiatan diarea tertentu
dipasar.
Sistem komunikasi digunakan pada saat terjadi kebekaran atau
panggilan darurat dalam pasar, serta otomatis alarm berbunyi dan
disambungkan langsung keunit pemadam kebakaran.
c. Sistem jaringan elektrikal
Dalam perencanaan sumber listrik pada pasar sentral ini berasal dari
Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang langsung didistribusikan ke unit-unit
penjualan dan semua ruangan yang membutuhkan penerangan.
Sumber penerangan yang digunakan selain PLN, adalah Genset sebagai
sumber penerangan cadangan jika sewaktu-waktu aliran listrik padam, maka
Genset ini akan bekerja secara otomatis.
Sebelum listrik didistribusikan disetiap unit-unit pemasaran, maka
untuk setiap masa bangunan digunakan sentral sub distribusi penyaluran listrik,
tiap unit dari distrubusi melewati kotak control listrik lain kemudian dapat
dikonsumsikan pada unit tersebut.
Sistem jaringan listrik juga dihubungkan dengan sistem fire alarm. Jika
terjadi kebakaran secara otomatis dalam waktu yang telah ditentukan hubungan
133

listrik untuk bangunan akan terputus,kecuali untuk unit pompa pemadam


kebakaran (pompa hydrant dan pompa deep weel)
d. Sitem pembuangan sampah
Penanggulangan masalah sampah dilakukan dengan pengumpulan
sampah :
1) Penyediaan wadah yang telah di desain pada unit-unit penjualan untuk
selanjutnya ditampung pada tangki untuk kemudian di angkut.
2) Pada kelompok ruang penjualan basah dan berbau, disediakan bak
penampung sampah yang dibedakan menurut jenisnya (basah, berbau dan
kering)
Sistem pembuangan sampah yang direncanakan yaitu, dengan cara
mekanis, yakni pengguna pasar tidak lagi membuang sampahnya pada bak
sampah, akan tetapi tinggal menyimpan sampah mereka berdasarkan jenisnya
pada wadah yang telah disediakan. Secara otomatis sampah-sampah akan
tertarik kebak penampungan induk. Sampah yang dibedakan atas jenisnya
dapat diolah sebelum dibuang, untuk kemudian diangkut oleh mobil
pengangkut sampah.
e. Sistem keamanan bangunan
1) Pengamanan terhadap tindak kejahatan
Pengamanan terhadap kemungkinan tindak kejahatan diupayakan dengan :
134

a) Membuat bukaan pada bangunan sesedikit mungkin.


b) Melengkapi unit-unit dengan tombol rahasia
c) Melengkapi etalase unit penjualan dengan pintu rollinh door
transparent
d) Membuat sambungan langsung dari tombol rahasia keruang control dan
pos jaga diluar bangunan
e) Perencanaan lampu-lampu luar bangunan yang akan tetap menyala
pada malam hari.
2) Pengamanan terhadap bahaya petir
Pemilihan sitem dikaitkan terhadap :
a) Ketinggian bangunan
b) Penampilan bangunan dari segi estetika
c) Pemeliharaan
Sehingga digunakan sitem sangkar faraday yang terdiri dari alat penerima ,
lewat mendatar dan pertahanan sampai ketanah yang basah /air tanah
karena :
a) Sistem ini terdiri dari tiang-tiang yang tidak lebih dari 30 cm pada atap,
dan dihubungkan satu sama lainya dengan kawat tembaga.

135

b) Tidak menimbulkan dampak pada bangunan sekitarnya


c) Pemasangan dilakukan pada titik tertinggi bangunan
f. Sistem pencegahan kebakaran
Sistem pencegahan dan penanggulangan dari bahaya kebakaran terdiri
atas :
1) Fire Protection
Alat pemadam kebakaran yang bekerja secara aktif, dapat bekerja dengan
sistem mekanis dan elektronik. Sitem ini bekerja secara otomatis jika
terjadi kebakaran dengan sistem pencegahan sprinkler

dan detector

sistem, yang dihubungkan dengan alarm. Sprinkler head yang dipasang


pada detector bekerja secara otomatis membunyikan alarm keseluruh
ruangan.sebuah Sprinkler head dapat mengatasi area seluas 100 sq ft
atau kira-kira 9,3 m .
2) Hidran box
Ditempatkan pada setiap masa bangunan dengan jarak 25-30 m
3) Tabung portable
Ditempatkan pada daerah yang mudah dijangkau pada setiap massa
bangunan
4) Hidrant pillar
136

Ditempatkan di luar bangunan atau pada halaman atau parkir dengan jarak
antara 30-50 m.
5) Smoke Detektor
Sebagai pendeteksi asap dengan toleransi tertentu
Sedangkan alat bantu untuk penyelamatan terdiri atas:
1) Sumber daya listrik darurat, untuk mengatifkan semua peralatan bantu
evakuasi.
2) Lampu daruat, dipergunakan untuk mempermudah penglihatan pada saat
kebakaran.
3) Pintu kebakaran.
4) Pintu darurat, sebagai pencapaian langsung kemasa bangunan dan dapat
dilalui oleh kendaraan pemadam kebakaran.
8. Sistem Struktur, Modiul dan material
a. Struktur
Faktor penentu sistem struktur:
1) Kemungkinan dalam mewujudkan bentuk besaran yang ingin dicapai/.
2) Kesesuian dengan sistem peruangan yang diterapkan dalam pasar sentral.
3) Ketahanan terhadap pengaruh alam dan geografis.
137

4) Tidak sulit dalam pelaksanaan.


5) Adaptasi terhadap bentuk ruang yang dipilih.
Perencanaan sistem struktur bangunan meliputi:
1) Upper struktur
Merupakan struktur atap dengan penggunaan atap dag dan pelana serta
limas an dengan pertimbangan kondisi lingkungan , dengan jenis atap sun
roof.
2) Super struktur
Sistem struktur yang digunakan adalah struktur beton bertulang yang terdiri
dari kolom-kolom. Kolom-kolom ini memikul struktur atap yang ada
diatasnya.
3) Sub struktur
Sub struktur merupakan struktur yang berada dibawah permukaan tanah.
Sub struktur harus mampu menerima gaya yang disalurkan dari super
struktur untuk disalurkan ketanah, sebagai tuntutan kestabilan bangunan.
Selain itu, sub struktur harus pula mempertimbangkan reaksi gaya-gaya
yang ditimbilkan oleh tanah akibat gaya aksi beban dari sistem struktu.
Jenis sub struktur yang digunakan adalah pondasi batu gunung dan pondasi
poer plat sebagai pendukung dan menyalurkan gaya-gaya kedalam tanah.
138

b. Modul
Beberapa pertimbangan dalam menentukan modul struktur:
1) Dimensi gerak pemakai
2) Dimensi perabot
3) Material dan perabot
4) Lay out ruang.
Sistem modul yang digunakan:
1) Modul dasar
Modul yang didasarkan pada ukuran tubuh area gerak tubuh, untuk
mendapatkan besarnya terlebih dahulu diketahui unit dasar kemudian
diterapkan dimensi yang dapat mewakilinya.
2) Modul fungsi
Modul yang di dasarkan pada fungsi ruang yang direncanakan, dengan
terlebih dahulu diketahui unit fungsi, selanjutnya ditetapkan dimensi yang
mewakili.
Dari luas unit terkecil, angka 30 cm merupakan kelipatan terkecil yang
dapat menjadi interval dari besaran 60, 90, 120, 150, 180 dan seterusnya.
3) Modul perancangan
139

Merupakan kelipatan fungsi, dimana harga dasarnya ditetapkan dengan


satuan m (meter). Bentuk kelipatannya biasanya mencapai 0,9 m, 1,8 m,
2,7 m, 8,4 m, 9 m, 12 m, dan seterusnya.
c. Material
Pemakaian material struktur didasarkan terhadap kriteria-kriteria:
1) Kemudahan memperoleh material
2) Kemudahan dalam pelaksanaan
3) Daya tahan tehadap pengaruh kelembapan korosi
4) Biaya pemeliharaan yang relatif mudah
5) Daya tahan terhadap gaya lateral/gempa
6) Kesesuaian material dengan struktur
7) Daya tahan terhadap api.
Adapun material yang digunakan untuk komponen struktur adalah sebagai
berikut:
1) Beton bertulang digunakan untuk pondasi, super strukttur, yaitu kolom,
sloef, beton dan ringbalk.

140

2) Struktur pengisi dinding merupakan bahan tembok batu bata eksposed, ada
yang tanpa dinding atau setengah dinding serta dinding penuh. Unit
penjualan seperti pada toko atau penjualan ikan digunakan material kaca.
3) Struktur penutup sebagian menggunakan rangka baja ringan dan
menggunakan atap multi roof dan jenis atap seng. Material penutup lantai
menggunakan keramik, tegel dan sebagian granit.

141