Anda di halaman 1dari 3

KLOROFIL DAN KAROTEN

LATAR BELAKANG
Spektrofotometer merupakan alat yang memiliki harga yang sangat mahal dan dalam penggunaannya
harus dilakukan secara hati-hati. Untuk itulah praktikan perlu menguasai cara penggunaan alat tersebut
dengan baik. Salah satu kegunaan dari alat ini yaitu untuk penentuan kadar klorofil dan kadar karotenoid.
Kadar klorofil dan kadar karotenoid setiap jenis tumbuhan berbeda-beda. Bahkan dalam tumbuhan satu
spesies pun memiliki kadar klorofil dan kadar karotenoid yang berbeda. Perbedaan kadar klorofil ini salah
satunya dipengaruhi oleh umur suatu jenis spesies. Kadar klorofil yang optimal dalam suatu tumbuhan
sangat baik untuk memperlancar kelangsungan proses fotosintesis. Pada praktikum kali ini digunakan biji
kelengkeng dengan bantuan alat spektrofotometer untuk menentukan kadar klorofil dan kadar karotenoid.
Klorofil
Klorofil adalah pigmen hijau fotosintetis yang terdapat dalam tanaman, Algae dan Cynobacteria.
nama "chlorophyll" berasal dari bahasa Yunani kuno : choloros = green (hijau), and phyllon= leaf (daun).
Fungsi krolofil pada tanaman adalah menyerap energi dari sinar matahari untuk digunakan dalam proses
fotosintetis yaitu suatu proses biokimia dimana tanaman mensintesis karbohidrat (gula menjadi pati), dari
gas karbon dioksida dan air dengan bantuan sinar matahari. Warna daun berasal dari klorofil, pigmen
warna hijau yang terdapat di dalam kloroplas. Energi cahaya yang diserap klorofil inilah yang
menggerakkan sitesis molekul makanan dalam kloroplas. Kloroplas ditemukan terutama dalam sel
mesofil, yaitu jaringan yang terdapat di bagian dalam daun. Karbon dioksida masuk ke dalam daun, dan
oksigen keluar, melalui pori mikroskopik yang di sebut stomata.
Klorofil merupakan zat hijau daun yang terdapat pada semua tumbuhan hijau yang
berfotosintesis. Berdasarkan penelitian, klorofil ternyata tidak hanya berperan sebagai pigmen
fotosintesis. Proses fotosintesis membutuhkan klorofil, maka klorofil umumnya disintesis pada daun
untuk menangkap cahaya matahari yang jumlahnya berbeda pada tiap spesies tergantung dari faktor
lingkungan dan genetiknya. Faktor-faktor yang mempengaruhi sintesis klorofilmeliputi: cahaya, gula atau
karbohidrat, air, temperatur, faktor genetik dan unsur-unsur nitrogen, magnesium, besi, mangan, Cu, Zn,
sulfur, dan oksigen. Faktor utama pembentuk klorofil adalah nitrogen (N). Unsur N merupakan unsur hara
makro. Unsur ini diperlukan oleh tanaman dalam jumlah banyak. Unsur N diperlukan oleh tanaman, salah
satunya sebagai penyusun klorofil. Tanaman yang kekurangan unsur N akan menunjukkan gejala antara
lain klorosis pada daun. Tanaman tidak dapat menggunakan N2secara langsung. Gas N2 tersebut harus
difiksasi oleh bakteri menjadi amonia (NH3).
Klorofil pada tumbuhan ada dua macam, yaitu klorofil a dan klorofil b. perbedaan kecil antara
struktur kedua klorofil pada sel keduanya terikat pada protein. Sedangkan perbedaan utama antar klorofil
dan heme ialah karena adanya atom magnesium (sebagai pengganti besi) di tengah cincin profirin, serta
samping hidrokarbon yang panjang, yaitu rantai fitol. Antara klorofil a dan klorofil b mempunyai struktur
dan fungsi yang berbeda, dimana klorofil a di samping bisa menyerap energi cahaya, klorofil ini juga
bisa merubah energi cahaya dan tidak bisa merubahnya menjadi energi kimia dan energi itu akan
ditransfer dari klorofil b ke klorofil a. Klorofil b ini tidak larut dalam etanol tapi dapat larut dalam ester,
dan kedua jenis klorofil ini larut dalam senyawa aseton. Semua tanaman hijau mengandung klorofil a dan
krolofil b. Krolofil a terdapat sekitar 75 % dari total klorofil. Kandungan klorofil pada tanaman adalah
sekitar 1% basis kering. Dalam daun klorofil banyak terdapat bersama-sama dengan protein dan lemak
yang bergabung satu dengan yang lain. Dengan lipid, klorofil berikatan melalui gugus fitol-nya
sedangkan dengan protein melalui gugus hidrofobik dari cincin porifin-nya. Rumus empiris klorofil
adalah C55H72O5N4Mg (klorofil a) dan C55H70O6N4Mg (klorofil b).

Dari semua radiasi matahari yang dipancarkan, hanya panjang gelombang tertentu yang
dimanfaatkan tumbuhan untuk proses fotosintesis, yaitu panjang gelombang yang berada pada kisaran
cahaya tampak (380-700 nm). Cahaya tampak terbagi atas cahaya merah (610 - 700 nm), hijau kuning
(510 - 600 nm), biru (410 - 500 nm) dan violet (< 400 nm). Masing-masing jenis cahaya berbeda
pengaruhnya terhadap fotosintesis. Hal ini terkait pada sifat pigmen penangkap cahaya yang bekerja
dalam fotosintesis. Pigmen yang terdapat pada membran grana menyerap cahaya yang memiliki panjang
gelombang tertentu. Pigmen yang berbeda menyerap cahaya pada panjang gelombang yang berbeda.
Karotenoid
Pigmen adalah warna yang beredar di masyarakat merupakan zat warna yang dibuat secara
kimia (warna sintetis) dan warna yang dihasilkan oleh makhluk hidup yang biasa. Penentuan bahan
makanan pada umumnya sangat bergantung pada beberapa faktor diantaranya cita rasa, warna, tekstur,
dan nilai gizinya. Tetapi disamping itu masih ada faktor lainnya, yaitu sifat mikrobiologis. Tetapi, sebelum
mempertimbangkan ataupun memperhatikan faktor-faktor lainnya, secara visual faktor warna sangat
menentukan. Pewarna alami kini telah banyak digantikan dengan pewarnabuatan yang memberikan
lebihbanyak kisaran warna yang telahdibakukan. Hal ini karena zatpewarna alami kurang stabil
danmudah mengalami perubahan baik fisik maupun kimiawi. Stabilitaswarna dari zat
pewarnadipengaruhi oleh cahaya, pH, oksidator, reduktor, dan surfaktan. Warna dapat berfungsi
sebagai indicator penentuan terhadap kesegaran dan kematangan sayuran atau buah-buahan.

Beberapa pigmen yang penting yaitu yang tergolong dalam kelompok klorofil,
karotenoid, antosianin, antoxantin, serta tanin. Pigmen-pigmen golongan karoten sangat penting,
yang dilihat dari segi kebutuhan gizi manusia maupun hewan. Hal ini disebabkan karena
sebagian karotenoid dapat diubah menjadi vitamin A. Dimana pigmen-pigmen ini banyak
ditemukan di dalam tanaman bersama-sama dengan klorofil.
Meskipun sekarang ini sudah lebih dari 300 karotenoid yang telah diketahui, tetapi hanya
sedikit yang umumnya terdapat dalam tumbuhan tingkat tinggi. Karotenoid yang terkenal adalah
hidrokarbon tak jenuh turunan likopena atau turunan likopena teroksigenasi, yang dikenal
sebagai xantofil. Xantofil umumnya berupa monohidroksikarotena (lutein, rubixantin),
dihidroksikarotena (zeaxantin), atau dihidroksiepoksikarotena (violaxantin).
Karotenoid adalah pigmen (pewarna alami) organik yang terjadi secara alamiah dalam
tumbuhan dan organisme berfotosintesis lainnya seperti ganggang, beberapa jenis fungi dan
beberapa bakteri. Sekarang terdapat 600 karotenoid yang dikenal, mereka dibagi menjadi dua
kelas, xanthophylls dan karoten. Karotenoid alami (juga dikenal sebagai ekstrak karoten) yang
secara alami dapat memberikan pigmen warna pada berbagai tumbuhan termasuk buah-buahan
dan sayuran. Karotenoid merupakan suatu zat alami yang sangat penting dan mempunyai sifat
larut dalam lemak atau pelarut organik tetapi tidak larut dalam air yang merupakan suatu
kelompok pigmen berwarna orange, merah atau kuning.

Pigmen karotenoid mempunyai struktur alifatik atau alisiklik yang pada umumnya
disusun oleh delapan unit isoprene, dimana kedua gugus metil yang dekat pada molekul pusat
terletak pada posisi C1 dan C6, sedangkan gugus metil lainnya terletak pada posisi C1 dan C5
serta diantarannya terdapat ikatan ganda terkonjugasi. Semua senyawa karotenoid mengandung
sekurang-kurangnya empat gugus metil dan selalu terdapat ikatan ganda terkonjugasi diantara
gugus metil tersebut. Adanya ikatan ganda terkonjugasi dalam ikatan karotenoid menandakan
adanya gugus kromofora yang menyebabkan terbentuknya warna pada karotenoid. Semakin
banyak ikatan ganda terkonjugasi, maka makin pekat warna pada karotenoid tersebut yang
mengarah ke warna merah.
Berdasarkan unsur-unsur penyusunnya karotenoid dapat digolongkan dalam dua
kelompok pigmen yaitu karoten dan xantofil. Karoten mempunyai susunan kimia yang hanya
terdiri dari C dan H seperti alfa, beta gamma karoten. Sedangkan xantofil terdiri dari atom-atom
C, H dan O. Contoh senyawa yang termasuk dalam xantofil antara lain: cantaxanthin,
astaxanthin, rodoxanthin dan torularhodin. Sebenarnya xantofil menurut pengelompokannya
turunan karoten yang mengandung oksigen didalam struktur molekulnya.
METODOLOGI
A. ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipet tetes, pipet ukur, balp, mortar,
alu, cuvet, gelas ukur, kertas saring, cuvet, spektofotometri UV-Vis
Bahan yang digunakan adalah, bji kelengkeng,
B. PROSEDUR KERJA

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Tabel 1. Hubungan antara dengan absorbansi
(nm)
480
464
663

Absorbansi
0.079
0.046
0.144