Anda di halaman 1dari 4

PENELITIAN KANDUNGAN KARBOHIDRAT, PROTEIN DAN MINERAL DALAM

AIR REBUSAN BERAS SEBAGAI MINUMAN PENGGANTI SUSU


RAMA SUPANJI
NIM. 2021411033
FAKULTAS PERTANIAN,PERIKANAN,DAN BIOLOGI
MSP B
ABSTRAK
Telah dilakukan penetuan kandungan karbohidrat, protein dan mineral (kalsium dan
besi) dari air rebusan beras dan dibandingkan dengan kandungan parameter yang sama dari
susu sapi. Karbohidrat ditentukan dengan metode Luff Schorl, protein (total) dengan metode
Kjeldhal dan Mineral (kalsium dan besi) dengan metode Spektroskopi Serapan Atom (SSA).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari Padang Sidimpuan, Sidikalang dan
Medan. Dari tiap 500 gram beras yang direbus dengan 1 liter air diperoleh kandungan
karbohidrat 0.024 gr, protein (gr) 1.78, 1.52, dan 1.12, sementara mineral kalsium (mg): 9.48,
0.06, dan 0.24 dan besi (mg): 0.64, 0.32 dan 0.70
Dari sumber literature disebutkan bahwa kandungan karbohidrat dan protein dalam
beras giling (gr): 78.9 dan 6.8, dalam nasi (gr) 40.6 dan 2.1. Kandungan kalsium 6 mgr dan
masi 5 mg. Kandun gan besi 0.8 mgr dan 0.5 mgr dalam nasi tiap 100 gram.
Bila dibandingkan dengan kandungan karbohidrat, protein dan mineral dalam susu
sapi (gr/100 gr) adalah 4.3 dan 3.2 serta mineral (mgr/100 gr) adalah 143 untuk kalsium dan
1.7 besi. Walaupun ternyata masih jauh lebih kecil dari air rebusan beras tetapi masih
bermanfaat untuk pengganti susu sapi.
Kata kunci: karbohidrat, protein, mineral, susu.
PENDAHULUAN
Yang merupakan Gula Pereduksi, yang berarti bahwa fungsi aldehida bebas dari
bentuk rantai terbuka mampu untuk dioksidasi menjadi gugus asam karboksilat. Katosa tidak
mudah teroksidasikan pada persyaratan lunak yang kalau aldosa teroksidasi. Perbedaan ini
merupakan dasar bagi bermacam-macam uji pengenalan, terutama untuk glukosa, yang
sebagai suatu aldoheksosa merupakan gula pereduksi (Soendoro,1997 :153). Gula pereduksi
memberikan uji positif dengan pereaksi Benedict dan Tollens. Gula non pereduksi adalah
yang tidak memberikan uji positif (Wilbraham, 1992 : 127).
Beras dimasak dengan merebus dalam air atau dengan mengukus dan dimakan
terutama dengan kacang-kacangan, sayur, ikan dan daging (Jussawalla, 2006 : 93). Beras
merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat indonesia. Beras sebagai bahan
makanan mengandung nilai gizi yang cukup tinggi yaitu kandungan karbohidrat sebesar 360
kalori, protein sebesar 6.8 gr dan kandungan mineral seperti Ca dan Fe masing-masing 6 dan
0.8 mg.

Beras dalam proses pemasakannya menjadi nasi menghasilkan sisa air rebusan yang
berlebih dan oleh masyarakat air rebusan ini sering dimanfaatkan untuk dikonsumsi oleh
anak-anak. Mereka beranggapan bahwa air rebusan beras ini memiliki kandungan gizi yang
cukup baik untuk kesehatan sehingga dengan alasan tersebut masyarakat yang tingkat
ekonominya rendah menganggap air rebusan beras ini dapat dimanfaatkan sebagai minuman
alternatif pengganti susu yang harganya relatif mahal.
Kebiasaan masyarakat untuk mengkonsumsi air rebusan beras telah berlangsung
dalam jangka waktu yang lama tanpa mereka mengetahui seberapa besar manfaatnya bagi
kesehatan tubuh, karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kandungan
karbohidrat, protein dan mineral yang terkandung di dalam air rebusan beras.
BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan :

Protein Kjeldahl

Spektrofotometer serapan atom

Tabung reaksi

Penangas air

Beaker glass

Glass elenmeyer

Kompor pemanas.
Bahan yang digunakan :

Selenium

H2SO4

NaOH

H3BO3

Larutan Luff Schorl

HCl

Pb(CH3COO)2

KI

Na2CO3

Na2S203

NH4OH.

LANGKAH PERCOBAAN
a. Penentuan Karbohidrat
10 gr rebusan beras ditambah 50 ml aquadest, Pb asetat, diencerkan hingga 100 ml dan
disaring. Filtratnya ditambah Na2CO3, diencerkan hingga 250 ml, dikocok dan disaring.
Filtratnya dipipet 25 ml dan dimasukkan ke dalam elenmeyer, ditambah larutan Luff Schorl,
di didihkan selama 10 menit, dinginkan dan ditambah 15 ml KI 20%, 25 ml H2SO425 % dan
dititrasi dengan Na2S203 0.1 N hingga berwarna kuning pucat, ditambah indikator amilum
dan dititrasi hingga berwarna putih susu, dicatat volume Na2S203.
b. Penentuan Protein
5 gr air rebusan beras dimasukkan dalam labu Kjeldahl, ditambah 0.5 gr Se dan 35 H2SO4
Dideduksi selama 2 jam. Setelah 2 jam didinginkan, diencerkan dengan aquadest hingga 250
ml dan ditambah NaOH 45% hingga larutan bersifat basa dan didestilasi. Destilat ditampung
dalam 25 ml H3BO3 3% yang telah ditambah indikator campuran (metil biru dan metil merah)
dan dititrasi dengan HCl 0.1 N.
c.

Penentuan Kadar Mineral Ca dan Fe


50 gr air rebusan beras dimasukkan dalam cawan porselin dan dikeringkan dalam oven
pada suhu 100-150C dan didinginkan dalam desikator selama 30 menit. Sampel kering
dimasukkan dalam funace pada suhu 450C selama 5 jam dan abunya ditambah 10 ml HNO3,
dipanaskan pada hot plate selama 15 menit dan disaring. Filtrat diencerkan dalam labu takar
50 ml, diatur pH 2-3 dengan NH4OH dan dianalisis dengan Spektrofotometer serapan atom
(SAA).
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Hasil pengujian karbohidrat, protein dan mineral dari air rebusan beras adalah sebagai
berikut :
Tabel 1. Data pengujian karbohidrat, protein dan mineral.
Parameter Asal

Karbohidrat (g)

Protein (g)

Sampel

Mineral (g)
Ca (mg)

Fe (mg)

Sumbersari

0.024

1.78

0.48

0.68

Silo

0.024

1.52

0.64

0.36

Sukorambi

0.024

1.12

0.24

0.70

Dari data yang diperoleh terlihat bahwa kadar karbohidrat, protein dan mineral yang
terdapat dalam air rebusan beras dapai menyamai susu sapi. Kandungan karbohidrat, protein
dan mineral dalam air rebusan beras memang jauh lebih kecil dibandingkan dengan susu sapi.
Meskipun begitu masih bermanfaat digunakan sebagai penggantisusu dan ada beberapa
keunggulan

dari air rebusan beras diantaranya bahwa air rebusan diperoleh dari hasil

pemasakan beras yang didalamnya tidak ada penambahan bahan pengawet, sehingga terbebas
dari kemungkinan zat-zat kimia yang tidak diinginkan masuk ke dalam tubuh (dibanding
dengan susu yang di dalamnya ditambahkan bahan pengawaet).
Selain itu air rebusan beras dapat diperoleh sebagai hasil samping yang seharusnya
dibuang justru dimanfaatkan. Jadi secara ekonomi tidak merugikan, bahkan menguntungkan
karena mampu memberikan asupan nutrisi tanpa mengeluarkan dana. Dalam penelitian ini
kandungan protein dihitung sebagai total protein dan karbohidrat total sementara dalam susu
biasanya karbohdrat sebagai laktosa.

KESIMPULAN
Air rebusan beras memiliki kandungan karbohidrat, protein dan mineral yang tidak
terlalu tinggi, namun iar rebusan beras ini dapat dimanfaatkan sebagai minuman tambahan
yang relatif lebih aman dikonsumsi karena bebas dari bhan pengawet dan tidak perlu
mengeluarkan dana.

PENUTUP
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga
penulis dapat meyelesaikan artikel ini.
Artikel ini disusun dengan maksud untuk memberikan informasi kepada masyarakat
bahwa air rebusan beras dapat digunakan sebagai minuman yang bergizi karena mengandung
karbohidrat, protein dan mineral yang setara dengan susu.
Penulis menyadari bahwa di dalam artikel ini terdapat banyak kekurangan dan masih
perlu penyempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan saran-saran yang
membangun dari pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Jussawalla. 2006. Cara Natual. Jakarta : Prestasi Pustaka
Soendoro, R. 1997. Prinsip-prinsip Biokimia Edisi kedua. Jakarta : Erlangga
Wilbraham, C. Antony. 1992. Kimia Organik dan Hayati. Bandung : Penerbit ITB