Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Ikan dapat memiliki ekonomis tinggi tergantung terhadap keinginan
konsumen dan daya tarik ikan itu sendiri baik ikan konsumsi maupun ikan hias.
Ikan hias akan memiliki nilai jual tinggi ketika ikan tersebut dapat menghasilkan
warna dan bentuk yang menarik dan biasanya pada ikan hias yang dapat
menghasilkan warna dan bentuk yang menarik adalah ikan jantan. Sedangkan,
untuk ikan konsumsi yang memiliki nilai jual yang tinggi adalah ikan betina. Hal
ini dikarenakan ikan betina memiliki pertumbuhan yang cepat dibandingkan
dengan ikan jantan.
Penerapan sex reversal dapat menghasilkan populasi monosex (kelamin
tunggal). Kegiatan budidaya secara monosex (monoculture) akan bermanfaat
dalam mempercepat pertumbuhan ikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan
tingkat pertumbuhan antara ikan berjenis jantan dengan betina. Beberapa ikan
yang berjenis jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada jenis betina misalkan ikan
nila dan ikan lele Amerika. Untuk mencegah pemijahan liar dapat dilakukan
melalui teknik ini. Pemijahan liar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan
kolam cepat penuh dengan berbagai ukuran ikan. Total biomass ikan tinggi
namun kualitasnya rendah.
Hormon yang digunakan untuk membelokan jenis kelamin jantan menjadi
betina adalah estradiol-17, esteron, estriol, dan ethynil estradiol. Hormone yang
digunakan untuk membelokan jenis kelamin betina menjadi jantan adalah
testoteron, 117--methyl testoteron, dan androstendion.

1.2. Tujuan
Paper ini dibuat dengan tujuan agar pembaca dapat mengerti dan
memahami lebih jelas mengenai tehnik sex reversal (menghasilkan kelamin
tunggal).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sex Reversal
Sex reversal merupakan teknik buatan yang dimaksudkan untuk
pembalikan arah perkembangan kelamin ikan yang seharusnya berkelamin jantan
menjadi kelamin betina atau sebaliknya. Teknik ini dilakukan sebelum
terdiferensiasinya gonad ikan secara jelas antara jantang dan betina pada waktu
menetas. Sex reversal merubah fenotif ikan tetapi tidak merubah genotifnya.
2.2 kegunaan
untuk memperoleh jenis kelamin jantan secara dini,dimana benih ikan
jantan spesifikasi ikan nila lebih cepat tumbuh dan bereproduksi,tidak tergantung
dengan faktor alam,lain halnya dengan betina. Selain fungsi diatas,sex reversal
juga berfungsi untuk pengendalian pemijahan liar,mendapatkan jenis kelamin
yang bernilai ekonomis tinggi.
2.3 manfaat
Penerapan sex reversal dapat menghasilkan populasi monosex (kelamin
tunggal). Kegiatan budidaya secara monosex (monoculture) akan bermanfaat
dalam mempercepat pertumbuhan ikan. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan
tingkat pertumbuhan antara ikan berjenis jantan dengan betina. Beberapa ikan
yang berjenis jantan dapat tumbuh lebih cepat daripada jenis betina misalkan ikan
nila dan ikan lele Amerika. Untuk mencegah pemijahan liar dapat dilakukan
melalui teknik ini. Pemijahan liar yang tidak terkontrol dapat menyebabkan
kolam cepat penuh dengan berbagai ukuran ikan. Total biomass ikan tinggi
namun kualitasnya rendah. Pemeliharaan ikan monoseks akan mencegah
perkawinan dan pemijahan liar sehingga kolam tidak cepat dipenuhi ikan. Selain
itu ikan yang dihasilkan akan berukuran besar dan seragam. Contoh ikan yang
cepat berkembangbiak yaitu ikan nila dan mujair.Pada beberapa jenis ikan hias
seperti cupang, guppy, kongo dan rainbow akan memiliki penampilan tubuh yang
lebih baik pada jantan daripada ikan betina. Dengan demikian nilai jual ikan
jantan lebih tinggi ketimbang ikan betina.

Sex reversal juga dapat dimanfaatkan untuk teknik pemurnian ras ikan.
Telah lama diketahui ikan dapat dimurnikan dengan teknik ginogenesis yang
produknya adalah semua betina. Menjelang diferensiasi gonad sebagian dari
populasi betina tersebut diambil dan diberi hormon androgen berupa
metiltestosteron sehingga menjadi ikan jantan. Selanjutnya ikan ini dikawinkan
dengan saudaranya dan diulangi beberapa kali sampai diperoleh ikan dengan ras
murni.
2.4 Metodelogi sex reversal
Sex reversal dapat dilakukan melalui terapi hormon (cara langsung) dan
melalui rekayasa kromosom (cara tidak langsung). Pada terapi langsung hormon
androgen dan estrogen mempengaruhi fenotif tetapi tidak mempengaruhi genotif.
Metode langsung dapat diterapkan pada semua jenis ikan apapun sek
kromosomnya. Cara langsung dapat meminimalkan jumlah kematian ikan.
Kelemahan dari cara ini adalah hasilnya tidak bisa seragam dikarenakan
perbandingan alamiah kelamin yang tidak selalu sama. Misalkan pada ikan hias,
nisbah kelamin anakan tidak selalu 1:1 tetapi 50% jantan: 50% betina pada
pemijahan pertama, dan 30% jantan: 50% betina pada pemijahan berikutnya.

B.

ALAT DAN BAHAN

1.

Sex reversal

Alat:

Bahan:

Aquarium

- Indukan ikan guppy

Selang

- Pakan D0

Aerasi

- Koran

Sprayer semprot

- 17- Methyl

testosterone
-

Seser

Penggaris

- Alkohol 70%

Alat tulis

2.

Acetokarmin

Alat:
-

Bahan:
Alat section (gunting, scalpel dan pinset)

- Ikan sampel (ikan

Object glass

- Larutan acetokarmin

Cover glass

Mikroskop

Alat dokumentasi (kamera)

nila)

C.

CARA KERJA

1.

Sex reversal

Metode oral

Disiapkan sepasang indukan ikan guppy

Dipijahkan dalam waktu empat hari

Dihari ke-5, indukan jantan dipisahkan

Larutankan 80 mg 17- methyl testosterone pada 1 L alkohol 70%

Dimasukkan kedalam sprayer, disemprot pakan D0 sebanyak 200 gr

Pakan dikeringkan

Pakan D0 yang telah kering kemudiaan diberikan pada induk betina hingga
beranak
-

Metode rendam

Disiapkan sepasang indukan ikan guppy

Dipijahkan selama empat hari

Dihari ke-5, indukan jantan dipisahkan

Larutankan 20 mg 17- methyl testosterone pada 0,5 ml alkohol 70%

Dimasukkan larutan berhormon kedalam 10 L air

Air pada aquarium indukan betina diganti dengan 10 L air berhormon

Rendam dengan air berhormon selama 24 jam

Pada hari ke-6, air pada aquarium indukan betina diganti dengan air biasa

Dipelihara induk hingga beranak

2.

Acetokarmin

Dimatikan ikan

Disectio ikan, ambil bagian gonad

Diletakkan gonad pada object glass

Ditetesi gonad dengan larutan acetokarmin hingga menggenangi sampel

Dicacah gonad hingga halus

Ditutup sampel dengan cover glass

Diamati dengan mikroskop

Didokumentasikan

Hormon Steroid
Salah satu teknik reversal adalah dengan memberikan hormon steroid
pada fase labil kelamin. Pada beberapa spesies iakn teleost gonochoristic,
fisiologo kelamin dapat dengan mudah dimanipulasi melalui pemberian
hormone steroid.
(piferrer et al. 1994). Nagy et al. (1981) menjelaskan bahwa keberhasilan
manipulasi kelamin pada ikan menggunakan hormn dipengaruhi oleh
beberapa factor antara lain : jenis dan umur ikan, dosis hormon, lama
waktu, dan cara pemberian hormon serta lingkungan tempat pemberian
hormon dilakukan
Ditekankan oleh Hunter dan Donaldson (1983), bahwa keberhasilan
pemberian hormone sangat tergantung pada interval waktu
perkembangan gonad, yaitu pada saat gonad dalam keadaan labil sehingga
mudah dipengaruhi oleh hormon. Hrmon steroid yang dihasilkan oleh
jaringan steroidogenik pada gonad terdiri atas hormone androgen untuk
maskulinasi, esterogen untuk feminisasi dan progestin yang berhubungan
dengan proses kehamilan (Hadley 1992).
Namun pada tahap perkembangan gonad belum terdeferensiasi menjadi
jantan atau betina, hormone steroid belum terbentuk sehingga
pembentukan gonad dapat diarahkan dengan menggunakan hormone
steroid sintetik (Hunter & Donaldson 1983).
Salah satu jenis hrmon steroid sintetik yang banyak digunakan untuk
proses sex reversal pada ikan (khususnya ikan nila) adalah hormon 17amethyltestosterone(mt).
Hormon 17a-methyltestosterone(mt) merupakan hormone androgen yang
bersifat stabil dan mudah dalam penanganan (Yamazaki 1983).
Pemberiannya dapat dilakukan secara oral (Misnawati 1997), perendaman
embrio alevin maupun larva (Laining 1995) maupun implantasi dan
injeksi (Mirza & Shelton 1988).
2. Aromatase dan Aromatase Inhibitor
Selain dengan hormn steroid, diferensiasi kelamin juga dipengaruhi oleh
ekspresi dari gen yang menghasilkan enzim aromatase (Patino 1997).
Aromatase adalah enzim cytochrome P-450 yang mengkatalis perubahan
dari androgen menjadi esterogen. Aktivitas enzim aromatase terbatas
pada daerah dengan target estradiol dan berfungsi untuk mengatur jenis
kelamin, reproduksi dan tingah laku (Callard et al. 1990). Ada 2 bentuk
gen aromatsae pada ikan yaitu : aromatase otak dan armatase ovari.
Aromatase ota berperan sebagai pengatur perilaku sex spesifik pada
mamalia dan burung (Schlinger & Callard 1990, diacu dalam Melo &
Ramsdell 2001) dan juga mengatur reproduksi pada ikan (Pasmanik et al.
1988, diacu dalam Melo & Ramsdell 2001).
Aktivitas enzim aromatase pada otak teleostei 100-1000 kali lebih tinggi
disbanding pada mamalia. Aktivitas enzim aromatase ovary kurang dari
1/10 kali aktivitas enzim aromatase otak. Fungsi cytocrome P-450 pada

determinasi jenis kelamin telah teruji Karen merupakan enzim yang


bertanggung jawab dalam proses aromatisasi dari androstenedinione
menjadi estrone atau testosterone menjadi estradiol 17. Aktivitas enzim
aromatase berkorelasi dengan struktur gonad, yaitu larva dengan
aktivitas aromatase rendah akan mengarah pada terbentuknya testis,
sedangkan aktivitas aromatase yang tinggi akan mengarah pada
terbentuknya ovary.
Aromatase inhibitor berfungsi untuk menghambat kerja enzim aromatase
dalam sintesis estrogen. Adanya penghambatan ini mengakibatkan
terjadinya penurunan konsentrasi estrogen yang mengarah kepada tidak
aktifnya transkripsi gen aromatasenya sebagai feedbacknya (Server et al.
1999). Penurunan rasio estrogen terhadap androgen menyebabkan
terjadinya perubahan penampakan dari betina menjadi menyerupai
jantan (terjadi maskulinasi karakteristik seksual sekunder). Secara
umum, aromatase inhibitor menghambat aktivitas enzim melalui 2 cara,
yaitu dengan menghambat proses transkripsi gen aromatase sehingga
mRNA tidak terbentuk dan sebagai konsekuensinya enzim aromatase
tidak ada (Server et al 1999). Cara kedua adalah melalui cara bersaing
dengan substrat selain testosterone sehingga aktivitas enzim aromatase
tidak berjalan (Brodie 1991).