Anda di halaman 1dari 24

KARYA TULIS ILMIAH Bidang IPS

(Dibuat dalam rangka ajang Mahasiswa Berprestasi tingkat Fakultas 2007)

Dengan Judul:
KURSUS PIJAT FISIOTERAPI ARTHRITIS SEBAGAI STRATEGI
PEMBERDAYAAN KELUARGA MISKIN NELAYAN

Oleh :
Darundiyo Pandupitoyo 070417391

JURUSAN ANTROPOLOGI SOSIAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2007
LEMBAR PENGESAHAN
Setuju untuk diikutkan dalam Lomba Karya Tulis Mahasiswa, tulisan berjudul:

KURSUS PIJAT FISIOTERAPI ARTHRITIS SEBAGAI STRATEGI


PEMBERDAYAAN KELUARGA MISKIN NELAYAN

Oleh:
Darundiyo Pandupitoyo 070417391
Surabaya, 7 Mei 2007

Dosen Pembimbing,

Dra. Retno Andriati, MA.


--------------------------------------------
NIP. 131 570 347
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan
Kata Pengantar
Bab I Pendahuluan
1.1 latar Belakang Masalah 1
1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan Penulisan 4
1.4 Manfaat Penulisan 4

Bab II Telaah Pustaka


2.1 Keadaan Sosial Budaya Membentuk Arthritis 5

Bab III Metode Penulisan


3.1 Pemilihan Masalah 7
3.2 Pengumpulan Data 7
3.3 Pengolahan Data 7
3.4 Teknik analisis 9
3.5 Rekomendasi 9

Bab IV Analisa Data


4.1 Arthritis : Deskripsi dan Faktor Penyebabnya 10
4.2 Arthritis di Kalangan Nelayan 12
4.3 Kursus Fisioterapi model aplikatif 14
4.3.1 Pengaturan Tempat Kegiatan 15
4.3.2 Pengaturan Jumlah Siswa 16
4.3.3 Pengaturan Penyaringan Siswa 16
4.3.4 Pengaturan Tata Pelaksanaan Kursus 17
Bermodel Aplikatif
4.3.5Pengaturan Penempatan Kerja Setelah 18
Lulus Kursus
Bab V Penutup
5.1 Simpulan 19
5.2 Saran 20
Daftar Pustaka
Lampiran
Daftar Bagan

Bagan 1.1 Metode Pengumpulan dan pengolahan data 8


Bagan 1.2 Analisis Sintesis permasalahan dalam penulisan 9
Bagan 1.3 Model kerjasama antar elemen dalam terlaksananya 15
kursus pijat fisioterapi

Daftar Tabel

Tabel 1.1 Jenis penyakit yang paling banyak diderita warga 13


kecamatan Tambakboyo dan kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban,
Jawa Timur.

Daftar Gambar
Gambar 1.1 Rematik pada pinggul dan rematik pada lutut 10
Gambar 1.2 Contoh pijat fisioterapi pada penderita rematik 11
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah


Budaya sehat nasional merupakan salah satu prioritas utama dalam pembangunan
di Indonesia, karena merupakan langkah awal bagi pengembangan sumber daya
manusia. Namun kesadaran diri dan wawasan masyarakat tentang lingkungan hidup yang
lebih berperan peran penting dalam membentuk budaya sehat nasional tersebut.
Pemerintah belum maksimal untuk mengatasi masalah lingkungan dan kesehatan
masyarakat, karena kendala intern dan kendala dari masyarakat sendiri, khususnya
kesehatan lingkungan kampung dan keluarga nelayan di Indonesia. Contoh kurangnya
perhatian pemerintah pada kampung nelayan nampak pada Kelurahan Sukabumi dan
Mayangan, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, kampung nelayan Kenjeran,
Kotamadya Surabaya masih terlihat kumuh seperti dalam artikel ‘Kampung Nelayan
Tidak Sehat’ & ‘Kenjeran, Pantai sampah’ (Kompas, 2005).
Kesehatan para nelayan masih banyak yang luput dari perhatian pemerintah,
khususnya para nelayan yang menderita suatu penyakit dalam kategori tidak terlalu
populer namun mempunyai efek yang cukup signifikan bagi kehidupan para nelayan.
Salah satu contohnya penyakit arthritis, yang terdiri dari berbagai macam penyakit
seperti rematik, encok, pegal linu, nyeri pada punggung bagian bawah dll. pekerjaan
nelayan melaut yang menjadi salah satu penyebab nelayan menderita penyakit ini.
Salah satu hal yang menyebabkan Pemerintah Daerah tidak bisa mengatasi
permasalahan kesehatan tersebut, karena kurangnya anggaran. Beberapa studi District
Health Account (DHA) pada 83 Kabupaten/ kota menunjukkan daerah-daerah belum
cukup mengalokasikan anggaran untuk kesehatan. Ketidakcukupan ini nampak dari
kinerja para Pemerintah Daerah yang belum memenuhi ukuran makro seperti
rekomendasi Bank Dunia 1999 dengan Rp 42.000/ kapita/tahun untuk layanan kesehatan
masyarakat dan orang miskin serta 7,8 dollar AS/kapita/tahun untuk pelayanan kuratif 1.
Demikian juga dengan proporsi alokasi anggaran kesehatan antara 3-8 persen dari APBD,
sementara komitmen bupati seluruh Indonesia adalah 15 persen dari APBD. Keterbatasan
1 Penyembuhan suatu penyakit
anggaran juga menyebabkan tidak cukupnya pendanaan. Sekitar 50-70% anggaran
kesehatan daerah habis untuk biaya rutin (gaji, perjalanan, administrasi) dan sekitar 8-14
persen untuk operasional Puskesmas seperti tertulis dalam ‘Resentralisasi Layanan
Kesehatan?’ (Kompas, 2005).
Dengan anggaran yang terbatas tersebut, Pemerintah Daerah akan sangat sulit
membuka pos-pos kesehatan di banyak titik. Untuk itu diharapkan masyarakat mampu
secara mandiri memiliki pengetahuan pengobatan, khususnya yang berkaitan dengan
penyakit-penyakit yang banyak menjangkiti masyarakat. Pengobatan yang murah dan
cukup mempunyai efek kuratif adalah pijat fisioterapi dengan cara yang benar menurut
medis tentunya. Namun ahli fisioterapi, jumlahnya sangat minim di Indonesia tercatat
hanya sekitar 2.000 orang. Jika jumlah tersebut dibandingkan dengan penduduk
Indonesia yang mencapai kurang lebih 220 juta orang, maka ada 1 orang fisioterapis dari
100 .000 orang. Sementara di Thailand satu orang fisioterapis dibanding 15.000 orang,
lihat Repubilka online ‘Fisioterapi Mulai Bayi Sampai Orangtua’ (Republika, 25 Februari
2003).
Berdasarkan fenomena kesehatan lingkungan dan kesehatan keluarga neelayan
ini, perlu pekerjaan alternatif sebagai fisioterapis mandiri bagi nelayan. Dalam karya
ilmiah ini penulis mencoba memberikan alternatif dalam menangani penyakit arthritis
secara mandiri, yakni pemberdayaan keluarga nelayan yang tidak ikut melaut melalui
kursus pijat fisioterapi2 arthritis. Penulis mengharapkan kursus ini bisa mencetak
individu-individu yang mampu mengobati penyakit arthritis. Penulis juga berusaha agar
alternatif ini bisa membantu permasalahan ekonomi penduduk di kampung nelayan,
karena Kusnadi dalam Andriati (2004:15) menggolongkan penduduk kampung nelayan
sebagai penduduk miskin dan menurut penelitian Sutawi dan Hermawan (2003), 70 %
nelayan masih dalam kodisi miskin apalagi Kebanyakan keluarga nelayan hanya
menggantungkan kehidupannya dengan melaut.
Keluarga nelayan yang mendapatkan keahlian dari kursus tersebut bisa
menggunakannya untuk mengatasi penyakit arthritis yang diderita oleh keluarganya yang
berprofesi sebagai nelayan. Strategi ini juga berfungsi membentuk pendapatan alternatif
dengan membuka praktek pijat sendiri atau cara lainnya adalah pemerintah sebagai
2 Fisioterapi adalah metode penyembuhan dari luar tubuh, biasanya dipakai untuk pengobatan
gangguan pada saraf, tulang dsb.
penyelenggara kursus menyalurkan mereka ke panti pijat yang dikelola oleh Dinas Sosial.
Strategi tersebut akan memberikan pekerjaan alternatif bagi keluarga nelayan
yang selama ini belum banyak diberdayakan, menurut hasil penelitian Andriati (2005:27)
pada saat musim-musim tertentu mengharuskan para nelayan tidak melaut, seperti musim
badai laut pada bulan November sampai dengan Januari di Kelurahan Kingking dan
Karangsari, Kecamatan Tuban. Sementara nelayan di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan
Tuban, Kabupaten Tuban yang sengaja tidak melaut saat musim angin barat, karena ikan
teri yang menjadi buruan utama mereka tidak muncul pada musim tersebut, mereka
masih bisa mendapatkan uang dari hasil memijat.
Penulis memfokuskan pada pelestarian fungsi lingkungan hidup khususnya fungsi
lingkungan sosial, yaitu bagaimana menciptakan simbiosis mutualisme antara rakyat,
pemerintah dan swasta serta pelestarian fungsi keluarga dalam kehidupan bermasyarakat.

I.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan
masalah sebagai berikut:

1. Strategi apakah yang tepat untuk mengatasi problem penyakit arthritis di


kalangan nelayan?
2. Bagaimana proses mekanisme kerja dan strategi tersebut agar memberikan
sumber pendapatan alternatif bagi keluarga nelayan?
3.
I.3 Tujuan Penulisan
Penulisan ini bertujuan untuk:

1. Mendeskripsikan kehidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat nelayan


2. Memahami strategi alternatif yang efektif dalam mengatasi penyakit arthtritis
secara mandiri dan peningkatan kehidupan sosial ekonomi nelayan.

I.4 Manfaat Penulisan

Pemerintah Daerah yang berada di pesisir pantai dan mempunyai beberapa


kampung nelayan dapat menggunakan strategi ini sebagai salah satu program
pembangunan di bidang kesehatan, karena walau terlihat ringan, sebenarnya bila arthritis
terjadi terus menerus dalam jangka waktu yang lama, maka jelas akan mengganggu
aktifitas kerja para nelayan sehingga otomatis pendapatan mereka berkurang.
Nelayan yang mempunyai keluarga dekat dan memiliki keahlian fisioterapi,
maka akan sangat berguna bagi mereka yang mengalami penyakit ini karena tidak perlu
mengeluarkan biaya untuk berobat. Keahlian yang dimiliki oleh keluarga nelayan dapat
dijadikan sebagai penghasilan tambahan, karena mereka akan diberdayakan di panti pijat
milik Pemerintah Daerah. Mekanisme dari strategi ini juga akan meningkatkan hubungan
antar elemen-elemen Pemerintah Daerah, yaitu antara Dinas Sosial, Dinas Kesehatan,
dinas perianan dan kelautan serta masyarakat.

BAB II
TELAAH PUSTAKA
Dalam bab ini penulis menguraikan landasan berpikir yang digunakan untuk
mencari titik permasalahan dan menganalisis temuan data. Bab ini mendeskripsikan
mengenai etiologi dari arthritis dipandang dari persepektif sosial budaya masyarakat
nelayan.
II.1 Keadaan Sosial Budaya Membentuk Arthritis
Nelayan yang menderita arthritis dipengaruhi oleh salah satu dari tujuh unsur
kebudayaan, yaitu sistem mata pencaharian hidup. Foster dan Anderson (2004:3)
mempunyai pemikiran bahwa sebenarnya faktor sosial budaya ikut membentuk kesehatan
dan penyakit seseorang seperti misal jenis gangguan culture bound syndrome pada kasus
psikiatri akibat seseorang tidak mampu mengikuti perubahan budaya yang sangat cepat.
Dalam hal ini budaya menjadi faktor pendukung sekaligus pembentuk gangguan
kesehatan pada seseorang.
Para nelayan, khususnya nelayan buruh melakukan aktifitas melautnya hampir
setiap hari, padahal perlu tenaga yang ekstra untuk terus aktif di dalamnya, karena
melaut menuntut nelayan untuk selalu bekerja keras demi kelangsungan hidup
keluarganya. Hal-hal yang menyangkut sistem mata pencaharian nelayan tersebut bisa
menjadi faktor pendukung bagi munculnya arthritis di kalangan nelayan. Foster dan
Anderson (2004:3) menjelaskan bahwa studi antropologi kesehatan mempelajari
bagaimana budaya mempengaruhi terbentunya kesehatan dan munculnya penyakit pada
diri seseorang:

… memberi perhatian terhadap aspek-aspek biologis dan sosial-budaya dari


tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya
di sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi kesehatan dan
penyakit….

Dalam kajian antropologi kesehatan juga mempelajari beberapa faktor yang


menyebabkan seseorang enggan untuk berobat ke rumah sakit, selain kondisi ekonomi
keluarga. Menurut pemikiran Brown dalam Foster dan Anderson (2004) keengganan
tersebut muncul karena pelayanan yang buruk terhadap pasien, transisi pada budaya baru
yang pasien tidak kenal hingga kelakuan para staf medis yang cenderung menghilangkan
identitas pasien. Kondisi-kondisi ini membuat nelayan melakukan pemijatan-pemijatan
sendiri yang dilakukan oleh orang-orang terdekat, seperti anak atau istri mereka, karena
strategi ini yang dianggap paling efisien dan ekonomis. Tetapi apakah anak dan istri para
nelayan mempunyai pengetahuan fisioterapi yang baik, mengingat bila sampai terjadi
kecelakaan fatal dalam pemijatan akan mengganggu aktifitas nelayan dalam melaut.
Padahal banyak nelayan yang menggantungkan hidupnya hanya dari kegiatan melautnya
saja tanpa usaha alternatif lain, menurut Sutawi dan Hermawan (2003):

Kehidupan nelayan yang miskin juga diliputi oleh kerentanan, misalnya


ditunjukkan oleh terbatasnya anggota keluarga yang secara langsung dapat
ikut dalam kegiatan produksi dan ketergantungan nelayan yang sangat besar
pada satu mata pencaharian, yaitu menangkap ikan

Menurut Acheson dalam Andriati (1996:21) penyebab kemiskinan nelayan adalah


kendala khusus berupa gangguan alam, yaitu hubungan alam dengan lingkungannya
selalu diliputi ketidakpastian. Kehidupan mereka semakin berat dengan adanya kenaikan
harga BBM (Bahan Bakar Minyak), karena sebagian besar nelayan menggunakan motor
yang berbahan bakar solar untuk melaut setiap harinya seperti tertulis dalam artikel
‘BBM Semakin Miskinkan Nelayan: Ada Kecenderungan Jatah Makan Dikurangi’
(Kompas, 2006). Para nelayan harus mengeluarkan biaya minimal Rp. 60.000,- dalam
sekali melaut untuk biaya membeli solar 15 liter walaupun sekarang menurut penelitian
Andriati dkk (2005:27) terdapat beberapa nelayan yang mencampur minyak tanah dengan
oli gardan sehingga mendapatkan harga relatif lebih murah.

BAB III
METODE PENULISAN

Bab ini akan mengulas tentang metode penulisan yang dilakukan oleh penulis
dalam menyelesaikan karya tulis ini. Metode penulisan yang dimaksud mencakup
pemilihan masalah, pengumpulan data, pengolahan data dan teknis analisis.
III.1 Pemilihan Masalah
Penulis memilih kasus-kasus gangguan kesehatan yang banyak diderita oleh para
nelayan dari tipe-tipe gangguan kesehatan yang terasa remeh namun berakibat cukup
fatal, karena masyarakat cenderung meremehkan gangguan kesehatan kecil. Penulis
memilih arthritis yang biasa kita ketahui sebagai encok, rematik, pegal linu di kalangan
nelayan khususnya dan masyarakat pada umumnya. Masalah ini penulis anggap serius
karena bila seseorang khususnya nelayan mengalami penyakit ini maka akan mengalami
kelumpuhan fisik maupun perekonomian pada keluarga nelayan.

III.2 Pengumpulan Data


Penulis menggali data dari hasil telaah pustaka, yaitu buku-buku, artikel koran
ataupun web site yang berhubungan dengan fokus masalah. Data kualitatif pendukung
lainnya dari observasi dan interview terhadap beberapa warga kampung nelayan, serta
dari beberapa beberapa puskesmas yang ada di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Penulis
mendatangi beberapa Puskesmas yang ada di kampung nelayan, dan mengambil data
mengenai penyakit apa sajakah yang menduduki peringkat teratas dengan penderita
terbanyak.

III.3 Pengolahan Data


Data yang didapat langsung diolah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan
yang sesuai dengan permasalahan. Penulis tidak hanya terpaku pada pendekatan-
pendekatan yang ada dalam disiplin ilmu yang dipelajari oleh penulis saat ini yaitu
antropologi, namun disini penulis mencoba menggabungkan berbagai pendekatan yang
sekiranya cocok dan paling realistis untuk diaplikasikan dalam mencari solusi
permasalahan.
Bagan 1.1 Metode Pengumpulan dan Pengolahan data

Buku Dikumpulkan

Artikel koran

Data kualitatif
Wawancara
Observasi

III.4 Teknik Analisis


Penulis menggunakan teknik analisis sintesis dalam menganalisa data-data dan
permasalahan yang ada dalam tulisan ini. Analisis sintesis yang ideal sesuai dengan apa
yang ditulis oleh Muhadjir (2000) adalah dengan mengembangkan pertanyaan terus
menerus lalu menyempitkan fokus, tentunya penulis menyesuaikannya dengan tema dan
topik penulisan ini. Berikut adalah bagan dari analisis sintesis dari permasalahan dalam
penulisan ini.

Bagan 1.2 Analisis Sintesis Permasalahan dalam Penulisan


Kesehatan lingkungan hidup
Kesehatan lingkungan pesisir
Kesehatan kalangan nelayan
Penyakit yang banyak muncul, namun dianggap remeh
oleh para nelayan
Bagaimana cara mengatasinya
secara mandiri agar tidak menghabiskan
dana untuk berobat
Bagaimana strategi ini juga dapat
membantu meningkatkan
pendapatan penduduk
Kursus pijat
Fisioterapi

BAB IV
KURSUS PIJAT FISIOTERAPI BAGI KELUARGA
NELAYAN
Bab ini membahas mengenai Arthritis di kalangan nelayan dan solusi pengobatan
mandirinya melalui kursus pijat fisioterapi. Kursus ini menjadi strategi alternatif bagi
penyembuhan arthritis dan sebagai strategi peningkatan ekonomi masyarakat nelayan.
IV.1 Arthritis : Deskripsi dan Faktor Penyebabnya
Arthritis adalah istilah medis untuk penyakit atau kelainan yang menyebabkan
pembengkakan atau kerusakan pada persendian. Penyakit-penyakit yang masuk dalam
golongan arthritis adalah rematik, encok, pegal linu, radang sendi dsb. Faktor
lingkungan, genetis dan biologis sangat mempengaruhi terjadinya arthritis. Pekerjaan dan
aktifitas sehari-hari mewakili faktor lingkungan, faktor keturunan dari orang tua
mewakili faktor genetis dan jenis hormon, umur, jenis kelamin mewakili faktor biologis.
Menurut Iskadarwati (2005) salah satu penyebab penyakit encok dan rematik atau nyeri
sendi, adalah jenis pekerjaan sehari-hari yang menyangkut kegiatan fisik melebihi
kemampuan seseorang, kecelakaan sendi seperti kecetit, kecekluk atau jatuh dari tangga.

Gambar 1.1 rematik pada pinggul


(gambar kiri) dan rematik pada
lutut
Sumber: www.musckids.com

Penyakit golongan arthritis mempunyai jenis lain,


yaitu low back pain atau nyeri pada punggung bagian bawah, salah satu penyebabnya
adalah berdiam diri pada posisi yang statis dalam jangka waktu karena dapat merusak
otot-otot punggung yang penting. Keadaan diam tersebut menyebabkan otot kurang
bergerak, sehingga melemahkan otot-otot penyokong dan pelindung tulang belakang.
Demikian hasil penelitian para ahli yang dituangkan dalam majalah New Scientist dalam
artikel ‘Berdiam Diri Cederai Otot Punggung’. Menurut Bajamal (2004:3) Penyebab lain
dari nyeri punggung bagian bawah adalah hernia nucleous pulposus atau kondisi dimana
saraf tulang belakang terjepit diantara kedua ruas tulang belakang. Penderita akan merasa
kesemutan dari tungkai sampai ke kaki, bahkan bila parah akan menimbulkan
kelumpuhan
Arthritis sangat mengganggu kegiatan nelayan, namun para nelayan masih belum
menganggap penyakit ini dalam prioritas utama dalam penyembuhan. Mereka
menganggap masih bisa mengobatinya dengan pemijatan-pemijatan yang biasa dilakukan
oleh anggota keluarga mereka. Pemijatan-pemijatan yang dilakukan tidak berdasar pada
metode-metode yang disarankan oleh medis modern, akan menambah rasa sakit bagi si
penderita. pemijat yang menangani lewat pemijatan dengan cara yang benar,
kemungkinan akan menimbulkan efek kuratif pada penyakit si penderita.

Gambar 1.2 Contoh pijat fisioterapi pada penderita rematik


Sumber: www.39clinic.com
Sebagian orang mengira manfaat pijat hanya untuk menghilangkan rasa pegal-
pegal pada tubuh, padahal pijat memberi manfaat yang lebih luas pada semua organ
tubuh, dengan syarat menerapkan pijat yang benar pada seluruh tubuh seperti ditulis
dalam artikel ‘Pijat, Tubuh Segar Usai Mudik’ (www.kapanlagi.com, 2006). Selama ini
masyarakat mengobati encok, pegal linu, rematik atau nyeri sendi dengan obat-obatan
jenis analgesik yang mempunyai efek penghilang atau pereda rasa sakit yang ada pada
tubuh. Salah satu merek dagang obat-obatan berjenis analgesik adalah Antalgin, menurut
artikel ‘Mengenal Analgetik Dan Antipiretik’ (www.banjarmasinpost.com, 2005)
gangguan jangka panjang obat jenis analgesik ini mengakibatkan gangguan pada
ginjal.
Penggunaan analgesik sebagai obat rematik atau nyeri sendi, encok dan pegal
linu terbukti dengan banyaknya produk-produk jamu yang beredar di masyarakat
yang mempunyai khasiat mengobati penyakit-penyakit tersebut menggunakan
antalgin di dalam ramuannya seperti misal Jamu Rematik Encok No 2 Prima Jasa
produksi perusahan jamu Prima Jaya, Banyumas atau Jamu Rematik (Pegel Linu) 2
produksi perusahan jamu Sari Alam, Cilacap, seperti ditulis dalam artikel ‘Waspadai
Jamu Berbahan Kimia Obat keras’ (www.jaga-jaga.com, 1999).

IV.2 Arthritis di Kalangan Nelayan


Nelayan yang setiap hari berjibaku dengan pekerjaan berat mereka, menjadi salah
satu faktor pemicu terjadinya Arthritis dan pekerjaan tersebut hampir dilakukan setiap
hari kecuali pada musim-musim tertentu, sehingga penderita akan semakin banyak.
Kegiatan melaut, seperti menjala, memancing, duduk dalam posisi yang statis dalam
waktu lama merupakan penyebab penyakit arthritis. Pekerjaan-pekerjaan tersebut rutin
dilakukan dan merupakan beban yang sangat berat untuk dilakukan setiap hari. Menurut
Raymond Firth dalam Sutawi dan Hermawan (2003), pendapatan para nelayan bersifat
harian (daily increments) dan tubuh mereka tidak bisa menyesuaikan dengan kerja yang
terlalu berat, akhirnya terjadilah gangguan kesehatan tersebut. Salah satu contoh di
Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang di dalamnya terdapat
banyak kampung nelayan.
Tabel 1.1 Jenis penyakit yang paling banyak diderita warga Kecamatan Tambakboyo dan
Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

No. Jenis Penyakit Tambakboyo (%) Tuban (%)


1. Arthritis 18,76 10
2. Penyakit membran periodontal 18,13 6
3. ISPA 10 32
4. Diare 9,6 2
5. Ashma 1 1
Sumber: Diolah kembali dari data yang diperoleh dari Puskesmas Kecamatan Tambakboyo dan Kecamatan
Tuban, Kabupaten Tuban

Keseluruhan dari 18,76 % penderita penyakit arthritis, 45 % diantaranya adalah


nelayan di kampung-kampung nelayan Kecamatan Tambakboyo. Menurut Sutawi dan
Hermawan (2003) di Indonesia saat ini terdapat sekitar 3,2 juta rumah tangga nelayan.
Jika rata-rata tiap keluarga nelayan beranggota lima orang, maka jumlah masyarakat
nelayan sekitar 16 juta jiwa, di antaranya 1,7 juta jiwa (10,6 persen) berada di Jawa
Timur.
Jumlah nelayan sebesar itu merupakan suatu kekuatan sosial maupun ekonomi
yang harus betul-betul dilestarikan fungsinya terutama fungsi proteksi, sebab keluarga
mempunyai fungsi proteksi terhadap anggota di dalamnya. Metode pijat fisioterapi
merupakan salah satu cara yang tepat untuk pengobatan arthritis yang diderita oleh para
nelayan, seperti ditulis Iskadarwati (2005). Menurut tulisan sebuah artikel yang berjudul
‘Fisioterapi Mulai Bayi Sampai Orang tua’ (Republika, 2001), fisioterapi juga memiliki
efek preventif yaitu untuk memelihara kondisi umum.
Penderita yang mengandalkan obat-obatan jenis analgesik3 hanya bisa
menghilangkan rasa sakitnya saja tanpa menghilangkan permasalahan sebenarnya.
Penggunaan analgesik dalam jangka waktu lama akan menimbulkan gangguan pada
ginjal.
Pijat merupakan pemberian energi lewat sentuhan-sentuhan fisik yang
dimasukkan ke dalam tubuh untuk memperlancar peredaran darah, Sehingga dapat
terhindar dari penyakit atau bahkan mengobati penyakit yang diderita. Pemijatan-
pemijatan yang benar dapat memberikan kenyamanan tersendiri dan efek kuratif pada
arthritis. Jasa pemijatan sebagian besar tidak memiliki keterampilan yang memadai
mengenai pemijatan yang benar secara medis dan benar-benar memiliki efek kuratif,
ditambah lagi dengan biaya pijat yang cukup mahal untuk ukuran seorang nelayan biasa.
Penulis mendapatkan data dari panti pijat yang dikelola langsung oleh Dinas
Sosial, rata-rata biaya satu kali pijat dengan durasi kurang lebih dua jam adalah Rp.
22.500,- .penulis juga mendapat data dari beberapa nelayan di Tuban, rata-rata mendapat
Rp. 75.000,- sampai Rp. 90.000,- dari hasil penjualan ikan sehari, terkadang mereka
harus menjualnya ke tengkulak dengan harga yang sangat murah karena sudah terlanjur
terlilit hutang kepada tengkulaknya dari awal. Padahal biaya untuk sekali melaut minimal
Rp. 60.000,- untuk biaya 15 liter solar belum lagi untuk biaya konsumsi dan keperluan
yang lain saat melaut, sehingga kecil kemungkinan para nelayan datang ke panti pijat
untuk mengobati sakitnya.

IV.3 Kursus Pijat Fisioterapi Model Aplikatif


Pelibatan elemen Pemerintah Daerah merupakan syarat utama strategi ini.
Elemen-elemen tersebut adalah Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Perikanan dan
Kelautan yang bekerjasama mengadakan program kursus pijat fisioterapi bagi keluarga
keluarga nelayan. Pemerintah Daerah menunjuk Dinas Sosial sebagai perancang lapangan

3 Jenis obat-obatan penghilang rasa sakit


Beberapa elemen yang
bekerjasama menghasilkan
: kursus
Dinas pijat
Perikanan dan fisioterapi
Kelautan:
Penyuluhan terhadap nelayan
karena sering mengadakan kursus-kursus pemberdayaan bagi masyarakat menengah
kebawah seperti contoh kursus-kursus pijat atau jahit yang diadakan di balai-balai desa
atau di tempat-tempat rehabilitasi. Berdasar temuan data, maka penulis mengusulkan
model strategi bentuk kerjasama antar elemen Pemerintah Daerah adalah:

Bagan 1.3 Model Kerjasama antar Elemen dalam Terlaksananya Kursus Pijat
Fisioterapi

Pemerintah Daerah

Dinas Kesehatan bertugas mendatangkan dan menyeleksi kru pengajar fisioterapi


dari institusi-intitusi pendidikan yang memiliki program studi atau jurusan fisioterapi
serta memiliki jam terbang tinggi dalam hal mengajar metode fisioterapi. Dinas
Kesehatan setempat diharapkan mempunyai kemampuan menetapkan standardisasi bagi
para pengajar yang layak untuk mengajar.
Dinas Kesehatan bertugas menyiapkan berbagai peralatan yang dibutuhkan terkait
dengan urusan medis. Dinas Perikanan dan Kelautan sebagai lembaga penyosialisasi ke
keluarga nelayan sekaligus sebagai pencari lokasi yang strategis tempat kurus. Siswa
yang lulus nantinya akan ditempatkan di panti pijat Dinas Sosial setempat yang biasanya
seragam di seluruh Indonesia bernama “Tongkat Putih”. Detail pelaksanan kursus pijat
fisioterapi adalah:

4.3.1 PengaturanTempat Kegiatan


Tempat kegiatan kursus harus mudah dijangkau oleh semua siswa dan mereka
tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pergi ke tempat tersebut. Berhubungan dengan hal
ini Pemerintah Daerah harus menunjuk Dinas Perikanan dan Kelautan yang mengetahui
seluk beluk kampung nelayan di daerahnya.
Metode pembelajaran harus menyesuaikan pada tingkat pendidikan penduduk,
karena berhubungan dengan kemudahan penduduk setempat dalam menyerap pelajaran
yang ada dalam kursus, sehingga bisa mengaplikasikan ilmunya dengan baik tanpa
adanya kesalahan yang berarti. Pemerintah Daerah hendaknya menyerahkan tugas ini
kepada Dinas Perikanan dan Kelautan. Lembaga tersebut adalah satu-satunya lembaga
yang mengetahui seluk beluk kampung nelayan dari ketiga lembaga yang bekerjasama.
Pengajar idealnya berada di tengah para siswa pada saat mengajar di kelas agar
memudahkan siswa untuk melihat dan mendengarkan pengajar saat berbicara dan
memberi contoh aksi.

4.3.2 Pengaturan Jumlah Siswa


Jumlah siswa keseluruhan sebaiknya dibatasi maksimal 40 siswa dan dibagi
menjadi dua kelompok besar pertemuan, masing-masing kelompok berjumlah 20 siswa
agar lebih efektif dalam proses pengajaran. Jumlah siswa yang terlalu banyak membuat
pengajaran tidak efektif dan kelas cenderung gaduh membuat siswa tidak fokus ke
pelajaran. Mekanisme pelaksanaan penting untuk dikontrol, sesuai dengan kondisi
lapangan

4.3.3 Pengaturan Penyaringan Siswa


Siswa yang mendaftar berjenis kelamin pria ataupun wanita berasal dari keluarga
nelayan, berumur minimal 20 tahun. Siswa minimal berusia 20 tahun sebab tubuh
manusia biasanya telah mencapai fase remaja dan seterusnya telah menginjak fase
dewasa, menurut Glinka (1994:65) di usia tersebut bagian-bagian badan dalam
pertumbuhannya telah mencapai proporsi final dan sudah mulai proses pematangan
secara fisik maupun mental, sehingga memudahkan siswa belajar sesuatu yang baru.
Siswa yang masuk bukan seorang nelayan yang aktif membantu orang tua atau
keluarganya dalam melaut, justru kita harus mengutamakan keluarga nelayan yang
banyak menganggur di rumah, biasanya ibu-ibu atau anak-anak wanita yang beranjak
dewasa tidak ikut melaut karena keluarga nelayan biasanya mengandalkan seorang figur
ayah (nelayan) untuk menjalankan roda kehidupan keluarga. Keahlian sang ayah juga
akan diturunkan kepada anak laki-laki saat anak tersebut beranjak dewasa, namun
menurut penelitian Andriati dkk (2005) sekarang hal tersebut mengalami penurunan
jumlah karena anak laki-laki semakin malu untuk diajak melaut oleh orang tuanya.

4.3.4 Pengaturan Tata Pelaksanaan Kursus Bermodel Aplikatif


Kursus dilaksanakan intensif 6 hari dalam seminggu, 3 hari untuk kelompok
pertama dan 3 hari kemudian untuk kelompok kedua. Satu kali pertemuan kurang lebih
dilaksanakan selama 2 sampai 3 jam, hal ini untuk menghindari kebosanan dalam proses
belajar mengajar, sebab apabila pengajar atau yang diajar mengalami kebosanan, maka
proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan lancar dan efektif. Pelaksanaan kursus
idealnya dilakukan pada siang atau sore hari, karena beberapa anggota keluarga nelayan
beraktifitas pada pagi harinya, seperti menjual ikan di pasar, mengolah ikan dsb.
Pengajaran dibuat dengan porsi aplikasi (praktek) dan diskusi lebih dominan dari
pelajaran yang bersifat teoritis, karena pengajaran dengan metode diskusi dan praktek
akan lebih mudah dicerna oleh para siswa. Penduduk kampung nelayan digolongkan
sebagai penduduk yang miskin, sehingga tingkat pendidikan mereka juga rendah karena
ketiadaan biaya melanjutkan sekolah ke jenjang yang tinggi. Hal tersebut nampak pada
hasil penelitian yang dilakukan oleh Andriati dkk terhadap 124 orang dari 64 pasangan
suami-istri nelayan pada tiga Kecamatan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur (2005:24).
Dari jumlah tersebut 19 orang lulus SLTP, 98 orang lulus SD, dan 11 orang sisanya buta
huruf atau tidak pernah sekolah.
Pengajaran lebih efektif apabila siswa dibagikan hand out sebagai panduan untuk
belajar di rumah. Para pengajar diharapkan menghindari istilah yang sekiranya sulit untuk
dimengerti dan dipahami penduduk, seperti istilah-istilah di bidang medis misalnya.
Masalah materi pengajaran diserahkan pada para pengajar fisioterapi.

4.3.5 Pengaturan Penempatan Kerja Setelah Lulus Kursus


Pemerintah Daerah akan mempekerjakan para siswa yang lulus kursus sebagai
ahli pijat di panti pijat Dinas Sosial yang mempunyai keseragaman nama yaitu Tongkat
Putih. Dinas Sosial mendapat keuntungan dengan mendapat tambahan tenaga ektra untuk
pemijat di panti pijatnya. Keluarga nelayan yang tadinya tidak begitu produktif dapat
menambah penghasilan keluarganya serta dapat mengobati sang suami yang berprofesi
sebagai nelayan dari penyakit arthritis. Namun penulis tidak ingin memberikan form
baku agar semua lulusan bisa dipekerjakan, karena hal tersebut terserah pada kebijakan
pelaksana.

BAB V
PENUTUP

V.1 Simpulan
Penyimpulan dari semua deskripsi dan analisa diatas adalah:
1. Kursus pijat fisioterapi model aplikatif untuk keluarga nelayan merupakan cara
yang efektif untuk mencetak individu-individu dengan hasil keahlian untuk
mengobati Arthritis atau biasa kita kenal dengan encok, rematik dan pegal linu
secara mandiri. Tingkat kesembuhan penderita atau paling tidak berkurangnya
keluhan tentang penyakit ini di puskesmas dan rumah sakit di daerah tersebut
menjadi parameter keefektifan program ini saat diaplikasikan. Metode aplikasi
yang mendominasi kursus ini membuat para siswa dengan mudah memahami isi
pelajaran serta mengetahui cara penerapan yang sesuai standart medis.
Jadi, selain membantu meningkatkan perekonomian nelayan dan membantu
elemen-elemen pemerintah daerah, strategi ini juga mempunyai nilai guna dalam
pelestarian fungsi lingkungan hidup dalam hal ini terlihat pada pelestarian fungsi
lingkungan sosial, yaitu menciptakan simbiosis mutualisme antara rakyat dan pemerintah.
Pelestarian fungsi lingkungan sosial ini juga fokus pada pelestarian fungsi keluarga
dalam kehidupan sosial. Pemberdayaan keluarga harus dilakukan karena merupakan
bentuk terkecil dari organisasi sosial dalam masyarakat agar keluarga tidak kehilangan
perannya dalam lingkungan sosial. Keluarga sebagai organisasi sosial mempunyai banyak
sekali fungsi, salah satunya adalah fungsi proteksi. fungsi tersebut harus tetap lestari
karena akan sangat merugikan bila sampai hilang dalam sebuah keluarga.

2. Strategi yang penulis tawarkan ini bisa membentuk keahlian pijat fisioterapi
mandiri bagi keluarga nelayan sekaligus memberi memberdayakan keluarga
nelayan yang tidak ikut melaut dengan memberi sumber penghasilan alternatif
baru bagi mereka yaitu dengan menjadi fisioterapis arthritis. Strategi ini bila
diterapkan akan menghasilkan para lulusan yang mempunyai keahlian memijat
yang sesuai dengan standart medis. kelanjutan dari strategi ini adalah penempatan
para lulusan ke panti pijat komersil yang dikelola olah Dinas Sosial daerah
masing-masing. Para lulusan akan mendapatkan pembagian hasil memijat dari
panti pijat tersebut, sehingga keluarga nelayan yang tadinya kurang produktif
bisa membantu menghasilkan uang bagi kelanjutan hidup.
Para Ahli Antropologi Maritim berasumsi bahwa nelayan yang sukses adalah
nelayan yang memiliki kemampuan untuk mengektensifikasikan lahan pekerjaan mereka.
Nelayan sukses mampu mencari bidang pekerjaan lain selain melaut, sehingga tidak
terlalu menggantungkan diri pada hasil pencarian ikan yang selalu fluktuatif, baik dari
segi jumlah ikan maupun kondisi cuaca di laut. Akumulasi modal juga merupakan syarat
utama bagi para nelayan yang ingin menjadi sukses. Nelayan yang dianggap gagal adalah
nelayan yang hanya menggantungkan diri pada hasil melautnya dan tidak mau
bereksperimen untuk mengekstensifikasikan lahan pekerjaan mereka. Mereka selalu
terbelit hutang pada para tengkulak atau para juragan kapal, sehingga sepanjang hidup
mereka hanya menjadi buruh nelayan turun temurun.

V.2 Saran
Strategi kursus pijat fisioterapi arthritis untuk keluarga nelayan mempunyai
banyak kegunaan bila diterapkan menjadi suatu program Pemerintah Daerah lebih lanjut.
Kursus pijat fisioterapi dapat menjadi suatu solusi permasalahan bagi dua hal yang
dianggap krusial, yaitu masalah kesehatan dan masalah ekonomi di daerah nelayan.
Strategi ini adalah suatu solusi permasalahan bagi banyaknya kasus arthritis yang
diderita oleh para nelayan khususnya dan masyarakat umumnya, sekaligus solusi untuk
memberikan penghasilan alternatif bagi keluarga nelayan. Penerapan strategi ini dapat
membantu Pemerintah Daerah masing-masing karena dapat merekatkan hubungan antara
masyarakat kampung nelayan dan juga Pemerintah Daerah.
Dinas Sosial juga mendapatkan keuntungan berupa tenaga ahli pijat tambahan
dan Dinas Kesehatan merasa lebih ringan tugasnya dalam sosialisasi kesehatan ke
masyarakat. Keuntungan yang didapat Dinas Perikanan dan Kelautan pengokohan
eksistensinya sebagai pelindung bagi nelayan beserta komoditas laut. Pemerintah Daerah
diharapkan lebih jeli melihat benang merah antara permasalahan kesehatan dan
permasalahan ekonomi, serta harus lebih memrioritaskan kesehatan penduduk karena
kesehatan adalah gerbang awal menuju kemajuan sejati.