Anda di halaman 1dari 3

Maryane Anugerah Putri/0806331714/Kelompok 15

Aplikasi Uji Impak pada Pipeline di Industri Migas

Pipa minyak dibuat dari pipa baja atau plastik dengan ukuran diameter
bagian dalamnya sekitar 4 hingga 48 inci (100 sampai 1200 mm). Kebanyakan
pipa ini dipendam di dalam tanah dengan kedalaman sekitar 3 sampai 6 kaki (0.91
sampai 1.8 m). Minyak ini digerakkan oleh pump station yang berada di
sepanjang saluran.
Untuk gas alam, pipanya dibuat dari baja karbon dan ukurannya bervariasi
dari 2 sampai 60 inci (51 sampai 1500 mm) untuk diameternya, tergantung dari
jenis pipanya. Gas alam dijalankan pada tekanan yang tinggi, yaitu dari 200
sampai 1500 psi yang dapat menurunkan volume gas alam yang ditransfer hingga
600 kali.
Pipa migas diuji secara tidak merusak (nondestructive), yaitu dengan
tekanan. Biasanya, pipa migas ditekan secara hidrostatis hingga di atas tekanan
kerjanya dan mendekati kekuatan luluh minimum spesifiknya. Tekanan ini
ditahan hingga beberapa jam untuk memastikan bahwa pipa tersebut tidak
memiliki cacat yang dapat menyebabkan kegagalan saat digunakan. Uji
pembuktian ini memberikan keyakinan yang lebih tinggi terhadap kualitas pipa
yang dihasilkan.
Selain uji tekanan, dilakukan juga uji merusak, yaitu uji impak. Uji impak
dilakukan untuk mengukur ketahanan bahan terhadap beban kejut, dengan prinsip
penyerapan energi potensial dari beban tertentu yang menumbuk benda uji hingga
benda tersebut mengalami deformasi maksimum hingga patah. Ada dua metode
uji impak, yaitu dengan metode Charpy (ASTM E23, ISO 148-1, atau EN 100451) dan metode Izod (ASTM D256 atau ISO 180).

Maryane Anugerah Putri/0806331714/Kelompok 15

Gambar 1
Uji impak
dengan metode Charpy

Gambar 2
Uji impak
dengan metode Izod

Ada dua hasil yang didapat dari uji impak, yaitu hasil kuantitatif dan hasil
kualitatif. Hasil kuantitatif dari uji impak adalah berupa energi yang dibutuhkan
untuk mematahkan material. Hasil ini dapat digunakan untuk mengukur
ketangguhan dari material dan kekuatan luluhnya. Untuk hasil kualitatifnya dapat
digunakan untuk mengukur keuletan dari material yang dipakai untuk pipa ini.
Karena ketangguhan sangat dipengaruhi oleh temperatur, uji impak
biasanya diuji berulang kali dengan temperatur yang berbeda, sehingga
menghasilkan suatu grafik ketangguhan impak dari material sebagai fungsi
temperatur.

Gambar 3
Grafik
ketangguhan impak sebagai
fungsi temperatur dari baja

Dari grafik di atas, dapat dinyatakan bahwa pada temperatur yang rendah,
material akan menjadi lebih getas dan ketangguhan impaknya rendah. Sedangkan

Maryane Anugerah Putri/0806331714/Kelompok 15

pada temperatur tinggi, material cenderung lebih ulet dan ketangguhannya lebih
tinggi. Temperatur transisi merupakan batas antara perilaku getas dan ulet dan
temperatur ini biasanya menjadi pertimbangan yang penting dalam pemilihan
material.

Gambar 4
Jalur pipa migas

Jalur pipa migas biasanya berkontak dengan tanah atau daratan sangat
beresiko mengalami beban impak. Bencana alam seperti angin topan atau gempa
bumi dapat menghasilkan beban impak yang cukup tinggi. Jika material yang
dipilih tidak cukup tangguh, maka dapat mengakibatkan dampak serius pada
saluran pipa.

Referensi:

http://www.materialsengineer.com/CA-pipeline-failure.htm

http://www.matweb.com/reference/izod-impact.aspx

http://en.wikipedia.org/wiki/Charpy_impact_test

Modul

Praktikum

Karakterisasi

Material

1,

Pengujian

Merusak

(Destructive Testing), 2010

ASM Metals Handbook Volume 08: Mechanical Testing and Evaluation

Anda mungkin juga menyukai